Kamis, 09 Juli 2009

Kenapa Ya Wanita Sulit Greng?


Tanpanya, kehidupan perkawinan akan terasa hambar. Namun, kenyataannya hasrat seksual bisa menurun, bahkan padam. Sebabnya antara lain jenuh, stres, ataupun kelelahan. Seperti halnya pada pria, wanita pun bisa kehilangan gairah. Apa saja penyebabnya?

1. Gangguan psikologi
Kurang pede
Hilangnya rasa percaya diri merupakan penyebab utama gairah wanita sulit berkobar. Citra diri yang buruk, utamanya berkaitan dengan perasaan kurang seksi atau kegemukan, adalah hal yang membuat wanita sulit "kesetrum". Rasa kurang percaya diri pada bentuk tubuhnya tadi sering membuat wanita merasa kikuk bila harus bercinta dengan lampu menyala.

Stres dan kecemasan
Stres dan kecemasan, baik soal pekerjaan, anak, finansial, maupun hal lain yang tidak dikomunikasikan bisa menyebabkan seorang wanita malas berintim-intim. Untuk mengatasinya, ajak pasangan berkomunikasi dan beri solusi dari masalah yang dihadapinya. Saat keadaan membaik, normalkan kembali hubungan seksual Anda dan pasangan.

Jenuh
Kejenuhan, baik dengan pasangan, maupun gaya bercinta, sering kali membuat wanita malas diajak berintim-intim. Masalah ini semakin berat bila Anda dan pasangan termasuk dalam orang yang tabu membahas soal seks. Solusinya, jangan segan mencoba variasi posisi bercinta untuk kepuasan berdua.

2. Penyebab fisik
Lelah

Energi yang terkuras sepulang kerja membuat banyak pasangan enggan melakukan hubungan seksual. Jangankan bercinta, bermesraan saja rasanya sudah tak ada tenaga. Tak aneh bila gairah bercinta pun turun. Untuk menyiasatinya, pilihlah waktu bercinta yang pas, yakni saat kondisi fisik Anda berdua sedang fit, misalnya pagi hari setelah bangun tidur.

Kurang olahraga

Penelitian menunjukkan wanita yang rutin berolahraga memiliki dorongan seksual yang lebih tinggi dibanding yang jarang berolahraga. Selain itu, olahraga juga mengurangi gejala post menstrual syndrome (PMS). Tubuh yang bugar juga membuat hormon-hormon dalam tubuh siap menyongsong kehamilan.

Kurang gizi
We are what we eat. Pola makan memegang peran yang penting dalam siklus menstruasi, rasa nyaman, dan kebahagiaan seorang wanita. Makanan yang bernutrisi bukan hanya mencukupi kebutuhan gizi tubuh, tetapi juga meningkatkan energi. Hidup yang berenergi berarti juga energi yang tinggi untuk seks.

Polusi
Bila tubuh kita tak pernah didetoks, racun-racun yang ada dalam tubuh lama-lama menumpuk dan menurunkan level energi, termasuk juga berkurangnya hasrat seksual. Asap rokok, polusi, kurang olahraga, pola makan yang buruk, bisa membuat organ-organ tubuh, termasuk organ reproduksi, tidak sehat.

3. Kontrasepsi
Kontrasepsi berbentuk oral bisa menurunkan libido karena kebanyakan pil kontrasepsi bekerja agar tubuh menghindari ovulasi sebelum masa menstruasi. Akibatnya level sex hormone-binding globulin (SHBG) meningkat, yang berpengaruh pada kadar testosteron.

4. Obat-obatan
Beberapa jenis obat antidepresi bisa menurunkan libido pada perempuan. Demikian juga dengan obat penurun darah tinggi. Obat antidepresi biasanya bertujuan untuk membuat perasaan lebih tenang sehingga seseorang merasa nyaman dengan hidupnya dan lebih berenergi. Sayangnya, obat ini juga membuat seorang wanita sulit mencapai orgasme.

KOMPAS.com — Seks
Kamis, 9 Juli 2009 | 17:03 WIB

**********************************

Menggunakan alat bantu seks tentunya akan menjadi bumbu tersendiri dalam ritual bercinta hingga terasa tak membosankan. Salah satu alat bantu seks yang paling banyak diminati adalah vibrator, paling tidak untuk pasangan di Amerika Serikat.

Hal tersebut terungkap lewat dua buah survei yang dilakukan peneliti dari Universitas Indiana, AS. Dalam survei yang dilakukan oleh Dr Debra Herbenick dan timnya terhadap 2.056 wanita berusia 18-60 tahun terungkap, 52,5 persen wanita menggunakan vibrator.

Mayoritas pengguna vibrator tersebut mengaku mereka belum lama memakai vibrator. Satu dari empat responden baru memakainya sebulan terakhir ini.

Setelah memakai alat bantu seks tersebut, mereka mengaku lebih mudah terangsang dan bergairah, vagina lebih terlubrikasi, mudah mencapai orgasme, dan tidak merasa sakit saat penetrasi. Selain itu, 71,5 persen responden mengatakan tidak mengalami efek samping terkait dengan penggunaan vibrator.

Tak jauh berbeda dengan para wanita, survei yang dilakukan oleh Dr Michele Reece dan timnya terhadap 1.047 pria yang juga berusia 18-60 tahun mengungkapkan, mayoritas pria (44,8 persen) pernah menggunakan vibrator untuk berhubungan seksual, baik sendiri maupun dengan pasangannya.

"Pria yang menggunakan vibrator, terutama yang belum lama memakainya, biasanya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan organ seksualnya, misalnya memeriksa kesehatan testis," kata Reece.

Pria pengguna vibrator tersebut juga mengaku merasa lebih bergairah dan lebih puas dengan hubungan seks dan orgasmenya dibandingkan dengan pria yang tidak memakai vibrator.

"Ternyata vibrator juga banyak dipakai pria, sesuatu yang belum pernah diketahui sebelumnya," kata Reece.

Dalam laporan yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine, para peneliti menyebutkan bahwa penggunaan alat bantu seksual seperti vibrator memiliki dampak positif untuk kesehatan dan kepuasan seksual, terutama memancing gairah dan orgasme.


Selasa, 7 Juli 2009 | 10:33 WIB
KOMPAS.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar