Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2009

Runtuhnya Kristen di Dunia


Di Amerika Serikat, jumlah pemeluk Kristen turun 10 persen dibandingkan dua dekade silam. Di belahan bumi lain pun juga demikian. Tanda-tanda keruntuhan Kristen mulai tampak.

Oleh Chairul Akhmad


Hanya masalah kecil sebenarnya, sebuah angka perbandingan yang tercetak pada halaman 17 –dari 24 halaman– ringkasan survei American Religious Identification Survey (ARIS) tahun 2009. Namun R Albert Mohler Jr, presiden Southern Baptist Theological Seminary –sebuah lembaga seminari terbesar di dunia– kaget bukan kepalang, ketika membaca isinya.

Bagi orang-orang fanatik dan konservatif macam Mohler, hasil survei itu cukup mengganggu: jumlah penduduk AS yang mengklaim diri tidak lagi berafiliasi dengan agama tertentu melonjak dua kali lipat sejak tahun 1990, dari 8 menjadi 15 persen. Bagi Mohler, fondasi historis kultur keberagamaan AS sedang retak. “Ini benar-benar memukul saya,” ujarnya sebagaimana dilansir majalah Newsweek edisi 13 April 2009 lalu.

Menurut Mohler, kontur paling mendasar budaya Amerika telah berubah secara radikal. Apa yang disebut dengan konsensus Yudaisme-Kristen milenium terakhir telah memberikan jalan bagi munculnya kultur post-modern, post-Kristen dan post-Barat yang sangat mengancam pusat budaya AS. “Jelas, ini merupakan kisah baru, kisah post-Kristen yang menjiwai porsi terbesar masyarakat,” jelasnya.

Inilah yang mengemuka di AS kini, sebuah istilah lama dengan urgensi baru, post-Kristen. Istilah keren dari “ateis” alias “Kristen murtad”. Walau penduduk AS tidak menganggap Tuhan mereka telah mati, namun kini pengaruhnya (Tuhan) telah berkurang dalam kultur dan politik AS dibandingkan masa-masa sebelumnya. Yang mengejutkan, kaum liberal yang semula takut dengan kebangkitan teokrasi Evangelis dan mencemaskan konservatisme agama, kini kian berani tampil dalam kehidupan publik. Orang-orang Kristen kini mengalami penurunan persentase dalam masyarakat AS.

Menurut hasil survei ARIS yang menjadi perhatian Mohler tersebut, persentase orang yang mengaku Kristen menurun 10 persen sejak 1990, dari 86 menjadi 76 persen. Populasi Yahudi di angka 1,2 persen, dan Muslim 0,6 persen. Sebuah jajak pendapat terpisah yang digelar Pew Forum, seolah mengulang temuan ARIS. Persentase orang yang mengaku tidak terikat agama dan keyakinan tertentu naik dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir, menjadi 16 persen. Sebelumnya, hanya 5 persen tahun 1982, dan 12 persen di tahun 2008. Dan kini 16 persen pada 2009. Sementara itu, jumlah orang-orang yang mengaku sebagai penganut ateis atau agnostik meningkat empat kali lipat dari 1990-2009; dari sekitar 1 juta orang menjadi 3,6 juta orang.

Berdasarkan jajak pendapat yang digelar sendiri oleh Newsweek, hanya sedikit orang yang menganggap AS adalah “bangsa Kristen”, dibandingkan saat George W Bush menjadi presiden –62 persen di 2009 dan 69 persen di 2008. Dua pertiga warga AS (68 persen) mengatakan agama telah “kehilangan pengaruhnya” dalam sejarah AS. Hanya 19 persen yang menyatakan pengaruh agama (Kristen) tengah meningkat. Proporsi penduduk AS yang menganggap agama “dapat menjawab semua problematika kehidupan” kini berada di titik terendah dalam sejarah, kurang dari 48 persen. Bandingkan dengan saat Bush dan Clinton menjadi presiden. Angka tersebut tidak pernah melorot di bawah 58 persen. Sebagian besar kaum Kristen konservatif percaya bahwa mereka kalah perang dalam isu-isu seperti aborsi, pendidikan sekolah bahkan perkawinan sesama jenis. Itulah kenapa kini AS disebut tengah memasuki fase post-Kristen.

Post-Kristen memiliki beragam makna di waktu yang berbeda. Tahun 1886, majalah bulanan Atlantic Monthly mendeskripsikan orang seperti George Eliot sebagai sosok post-Kristen. Lebih luasnya, post-Kristen dikategorikan sebagai periode waktu yang mengiringi keruntuhan Kristen dalam sebuah wilayah atau masyarakat. Istilah ini dipopulerkan selama periode –yang disebut para sarjana– gerakan “kematian Tuhan” pada pertengahan 1960-an. Dan gerakan ini masih terus berlangsung hingga kini.

Namun, yang paling mengganggu Mohler adalah, istilah post-Kristen yang kini terjadi benar-benar berbeda. Ia menawarkan spiritualitas, namun tak terikat otoritas. “Itu berdasarkan pada pemahaman sejarah yang menganggap masa lalu kurang toleran dan masa kini lebih toleran, dan masa kini adalah sebuah langkah transisi,” kata Mohler.

Kaum Evangelis Kristen sejak lama percaya bahwa AS harus menjadi sebuah bangsa yang kehidupan politiknya berdasarkan dan diatur oleh interpretasi mereka terhadap Bibel dan prinsip-prinsip teologi. Jika gereja percaya bahwa mabuk itu adalah dosa, misalnya, maka undang-undang harus melarang konsumsi alkohol. Jika gereja percaya bahwa teori evolusi bertentangan dengan Alkitab, maka sekolah-sekolah umum harus menyesuaikan pelajaran. Jika gereja percaya bahwa aborsi itu melanggar hukum maka para legislator dan hakim-hakim harus mengikuti aturan tersebut. Namun, semua itu tidak terjadi di AS. Apa yang diatur Bibel terang-terangan dilanggar oleh pengikutnya sendiri.

Walau demikian, memudarnya pamor Kristen di AS mendapatkan banyak pendukung dan penggemar. Mereka berpandangan bahwa AS bukanlah negara berdasarkan agama (Kristen), walau secara eksplisit termaktub dalam Deklarasi Kemerdekaan mereka. Kolumnis Cal Thomas adalah tokoh awal yang melihat gerakan Kristen Amerika sebagai kecacatan parah dalam istilah teologis. “Tak ada negara yang bisa benar-benar “Kristen”, kata Thomas. “Hanya orang yang bisa. Tuhan ada di atas semua bangsa. Nyatanya, Nabi Isa berkata bahwa semua bangsa baginya adalah setetes air dan tidak memiliki apa-apa.”

Seperempat abad lampau, tiga sarjana yang juga penginjil Kristen –Mark A Noll, Nathan O Hatch dan George M Marsden– menerbitkan buku penting namun tidak terkenal berjudul Pencarian Kristen Amerika. Dalam buku itu mereka mengatakan, klaim-klaim kekristenan telah melampaui kondisi politik. Orang Kristen, tulisnya, “Tidak perlu berilusi tentang sifat pemerintahan manusia. Secara pasti mereka berada pada apa yang disebut oleh Augustine, “kota dunia”, dimana kepentingan individu berkuasa…”

Kristen di Eropa Juga Redup
Empat tahun lalu, Eropa sempat digemparkan oleh merosotnya jumlah kaum Kristen di tempat kelahirannya sendiri. Saat hal itu terjadi, kekhawatiran melanda para tokoh gereja, bahwa suatu saat AS akan mengalami hal yang serupa. Dan kini, 2009, negeri Paman Sam itu mewujudkan kekhawatiran tersebut.

Tahun 2005, koran AS, USA Today, menurunkan artikel tentang menurunnya pengikut Kristus di Eropa dan berkembangnya sekularisme. Meningkatnya sekularisasi di Eropa terjadi karena pengaruh sosial, politik dan moral yang mengakibatkan para pengikutnya kehilangan iman. Menurunnya populasi Kristen di Eropa dalam dua dekade terakhir dianggap sebagai kejadian luar biasa. Eropa yang merupakan tempat kelahiran peradaban Kristen, kini lebih berpaling ke sekularisme dan memudarkan tradisi-tradisi Kristen.

Selama lebih kurang setengah abad, para peneliti telah mengamati perubahan besar dalam budaya Barat. Meningkatnya bentuk-bentuk sekularisme pada peradaban Eropa telah menemukan pembuktian. “Saya tidak pernah ke gereja, dan saya tidak tahu ada orang yang pergi,” kata Brian Kelly, salah seorang mahasiswa di Dublin, Irlandia. “Padahal lima tahun, saya tidak tahu ada orang yang tidak pergi ke gereja,” imbuhnya.

Statistik menunjukkan, sekularisasi Eropa saat ini tak terbantahkan. Irlandia yang merupakan negara sekuler terakhir di Eropa Barat, menunjukkan penurunan jemaat gereja yang sangat drastis dalam tiga dekade terakhir. Hanya 25 persen dari total pemeluk Kristen. Padahal negeri yang termasuk dalam wilayah Inggris Raya ini didominasi oleh penganut Katholik Roma.

Di kalangan Protestan juga demikian, tidak menunjukkan gambaran yang lebih baik. Swiss, Jerman dan Belanda, kini menjadi contoh utama bentuk sekuler Eropa. Di benua Eropa, hanya Islam satu-satunya agama yang mengalami peningkatan jumlah pemeluk. Sejak tahun 2004, populasi penduduk Muslim di Inggris bertambah sebesar 500,000 hingga 2,4 juta orang. Angka pertumbuhan itu 10 kali lipat lebih pesat dibanding pemeluk agama lainnya. Pada periode yang sama, jumlah penduduk Kristen di Negeri Ratu Elizabeth II tersebut menurun hingga 2 juta orang lebih. (Baca: Sabili Edisi 18-XVI). Demikian pula yang terjadi di Perancis, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya.

Berdasarkan data pusat studi Kristen global di Gordon-Conwell Theological Seminary Boston, merosotnya pengaruh Kristen tampak nyata di Perancis, Swedia dan Belanda dimana pengunjung gereja kurang dari 10 persen di pelbagai tempat. Kenapa hal ini terjadi? Menurut Ronald Inglehart, Direktur World Values Survey di Swedia, kekristenan telah menjadi sebuah kenyamanan bagi masyarakat hanya pada saat-saat krisis. “Dalam kebanyakan sejarah, orang-orang telah berada pada garis batas kelangsungan hidup. Hal itu berubah secara dramatis. Kelangsungan hidup adalah kemestian pada hampir semua orang (di Barat). Inilah satu di antara sekian alasan yang menyebabkan kepemelukan agama mengikis,” jelasnya.

Dengan kata lain, Inglehart percaya bahwa agama mengisi sebuah fungsi sosial. Ketika fungsi sosial tersebut tidak dibutuhkan lagi, keseluruhan struktur kepercayaan Kristen menjadi tidak penting. Bentuk reduksionisme ini menjadi gejala umum dalam ilmu-ilmu sosial, dimana keyakinan agama hanya dilihat sebagai sesuatu yang fungsional ketimbang kategori-kategori teologis. Sekularisasi yang menekankan teologi liberalisme dan meningkatkan teknologi masyarakat dan kultur individualisme, merupakan faktor-faktor utama di balik keruntuhan hegemoni Kristen di dunia.

Awal abad 20, mayoritas warganegara Eropa mengaku sebagai pemeluk Kristen, kini hanya tinggal 75 persen. Di Swedia, menurut data pemerintah, 85 persen penduduk negeri itu menjadi jemaat gereja, namun hanya 11 persen wanita dan 7 persen pria yang hadir di gereja.

Anehnya, runtuhnya kepercayaan Kristen dan besarnya transformasi gaya hidup Eropa dan ekspektasi moral sejalan seiring. Sebagai sebuah fakta, sulit untuk menentukan bagaimana trend-trend ini bisa beriringan dengan proses sekularisasi. Begitu keyakinan Kristen menurun, moralitas Kristen memberi jalan bagi etos moral individualisme, kebebasan seks, dan mengikisnya komitmen pernikahan, anak-anak dan keluarga.

Runtuhnya kekristenan Eropa mengundang tanya akan masa depan Kristen di AS. Dalam banyak hal, AS akan mengikuti trend tersebut. Dan prediksi itu kini telah terbukti. Nampaknya, ajaran Kristen kian tidak laku di dunia. Saatnya, Islam bangkit dan kembali meraih kejayaannya yang telah lama hilang.

Selasa, 05 Mei 2009

Kejamnya Israel membombardir bangsa palestina

Sehubungan dengan gencarnya Israel / Yahudi memborbardir Bangsa Palestina di jalur gaza dengan sangat kejamnya, bersama ini saya ingin mencoba memberi info kepada rekans, kenapa bangsa yahudi melakukan kezaliman seperti seperti itu ????

Ada dua Bangsa yang mengaku sebagai keturunan Nabi Ibrahim as, yaitu bangsa Yahudi dan bangsa Arab (suku Quraish).

Pada waktu Nabi Muhammad ( dari suku Quraish) membawa Islam, terjadilah “ledakan bangsa Arab“, yaitu ketika bangsa Arab di bawah bendera Islam dengan kecepatan luar biasa menaklukan “heart land” dunia yang terbentang dari lautan Atlantik di barat sampai Tembok Cina di timur, sementara Yahudi tinggal dikawasan Kanaan dan Mesir.

Sejak tahun 70 Masehi, bangsa Yahudi mengalami diaspora yaitu mengembara terlunta-lunta di muka bumi tanpa tanah air. Sebab Bait al Maqdis atau yerusalem telah dihancurkan oleh Kaisar Titus dari Roma, dan setelah Byzantium menjadi Kristen seluruh Palestina dikuasainya. Dan orang Yahudi dilarang tinggal di sana. Hal tersebut berlangsung terus menerus sampai Yerusalem jatuh ketangan orang-orang Arab muslim zaman “Umar bin al-Kathab.

Kemudian oleh Islam kota suci itu dibuat terbuka juga untuk kaum Yahudi, dan mereka di izinkan tinggal di sana menempati “kaveling” yang telah di tentukan. Kaum Kristen minta agar orang-orang Yahudi itu tetap tidak dibolehkan bercampur dengan kaum Kristen, dan “Umar” memenuhi permintaan itu.

Jadi kaum Yahudi hidup bebas di zaman kekuasaan Islam selama berabad-abad. Mereka menjadi penduduk kosmopolit, artinya dengan penuh kebebasan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk berbagai keperluan. Dan dalam kekuasaan Islam Yahudi bahagia sekali, lebih-lebih jika di bandingkan dengan keadaan mereka di bawah kekuasaan Kristen Eropa.

Jadi sangat ironis bahwa sejak tahun1948 mereka merebut dan menjajah sewenang-wenang tanah Palestina yaitu bangsa yang sejak dulu telah tinggal di situ (walaupun di sebut Bangsa Arab, karena berbahasa Arab). Itulah Kezalimn Yahudi, yaitu kezaliman kaum yang tidak tahu berterima kasih kepada bangsa Arab yang telah menyelamatkan dan melindingi mereka selama ratusan tahun.

Oleh karena itu kezalimannya bangsa Yahudi sebenarnya sedang menggali kuburnya sendiri. Ini sejalan dengan peringatan tersirat dari Allah SWT kepada Nabi Ibrahim pada QS. Al-Baqarah [2] : 124

Dan sekarang ini, kita dapat melihat bagaimana hancurnya konglomerat Yahudi yang tadinya menguasai keuangan di berbagai Bank dan lembaga keuangan dunia.

Salam,
Hilman Muchsin

5 sifat negatif bangsa yahudi

Ada dua Bangsa yang mengaku sebagai keturunan Nabi Ibrahim as, yaitu bangsa Yahudi dan bangsa Arab (suku Quraish).

Pada waktu Nabi Muhammad ( dari suku Quraish) membawa Islam, terjadilah “ledakan bangsa Arab“, yaitu ketika bangsa Arab di bawah bendera Islam dengan kecepatan luar biasa menaklukan “heart land” dunia yang terbentang dari lautan Atlantik di barat sampai Tembok Cina di timur, sementara Yahudi tinggal dikawasan Kanaan dan Mesir.

Sejak tahun 70 Masehi, bangsa Yahudi mengalami diaspora yaitu mengembara terlunta-lunta di muka bumi tanpa tanah air. Sebab Bait al Maqdis atau yerusalem telah dihancurkan oleh Kaisar Titus dari Roma, dan setelah Byzantium menjadi Kristen seluruh Palestina dikuasainya. Dan orang Yahudi dilarang tinggal di sana. Hal tersebut berlangsung terus menerus sampai Yerusalem jatuh ketangan orang-orang Arab muslim zaman “Umar bin al-Kathab.

Kemudian oleh Islam kota suci itu dibuat terbuka juga untuk kaum Yahudi, dan mereka di izinkan tinggal di sana menempati “kaveling” yang telah di tentukan. Kaum Kristen minta agar orang-orang Yahudi itu tetap tidak dibolehkan bercampur dengan kaum Kristen, dan “Umar” memenuhi permintaan itu.

Jadi kaum Yahudi hidup bebas di zaman kekuasaan Islam selama berabad-abad. Mereka menjadi penduduk kosmopolit, artinya dengan penuh kebebasan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk berbagai keperluan. Dan dalam kekuasaan Islam Yahudi bahagia sekali, lebih-lebih jika di bandingkan dengan keadaan mereka di bawah kekuasaan Kristen Eropa.

Jadi sangat ironis bahwa sejak tahun1948 mereka merebut dan menjajah sewenang-wenang tanah Palestina yaitu bangsa yang sejak dulu telah tinggal di situ (walaupun di sebut Bangsa Arab, karena berbahasa Arab). Itulah Kezalimn Yahudi, yaitu kezaliman kaum yang tidak tahu berterima kasih kepada bangsa Arab yang telah menyelamatkan dan melindingi mereka selama ratusan tahun.

Oleh karena itu kezalimannya bangsa Yahudi sebenarnya sedang menggali kuburnya sendiri. Ini sejalan dengan peringatan tersirat dari Allah SWT kepada Nabi Ibrahim pada QS. Al-Baqarah [2] : 124

Dan sekarang bisa kita lihat mulai hancurnya konglomerat Yahudi yang tadinya menguasai keuangan di berbagai Bank dan lembaga keuangan dunia.

Salam,
Hilman Muchsin

Senin, 04 Mei 2009

Zionisme dan yahudi

Zionisme awalnya merupakan gerakan politik Yahudi sekuler yang menginginkan berdirinya negara Yahudi di atas bukit Zion di Palestina dan sekitarnya. Gerakan ini dilatarbelakangi klaim sepihak Yahudi atas Palestina seperti yang tercantum ada kitab iblis Talmud dan kemudian diperkuat oleh ribuan catatan kaki yang memenuhi Injil Scofield dan Injil versi King James yang awalnya banyak dipakai orang Barat. Injil Scofield inilah yang melahirkan kelompok Judeo-Christian, sebuah kelompok Kristen yang mendukung Zionisme.

Zion merupakan nama sebuah bukit yang terletk di barat day Al-Quds (Yerusalem). Kaum Yahudi percaya, pada lokasi tersebut, King Solomon (Nabi Sulaiman a.s.) pernah membangun istananya (haikalnya) dan menyimpan banyak harta karun di bawah tanah tersebut. Harta tersebut bukan hanya banyak sekali, namun memiliki daya magis yang sangat besar sehingga mereka percaya akan bisa menjadi pemimpin dunia jika memilikinya.

Tepat di hari jatuhnya Yerusalem, Godfroy de Bouillon mendirikan Ordo Sion yang kemudian melahirkan Ordo militer Ksatria Templar. Semua ini balik ke Eropa setelah berhasil dikalahkan Shalahudin Al-Ayyubi (1187). Di Eropa, mereka ditumpas King Philip Le Bell dan Paus Clement pada 13 Oktober 1307.

Dua peneliti Inggris, Knight dan Lomas, di dalam bukunya “The Hiram Key” menulis bahwa mereka telah menemukan sisa-sisa penggalian yang dilakukan Templar di salah satu bagian tanah yang masih masuk dalam markasnya. Apa yang dilakukan para Templar ini terus berjalan selama berabad-abad hingga sekarang, di mana kaum Zionis-Yahudi terus melakukan penggalian di lokasi tersebut.

Seiring dengan perjalanan waktu, istilah ‘Zion’ tidak lagi menjadi nama tempat, namun juga sebuah nama gerakan bagi orang-orang Yahudi Sekuler untuk mendirikan satu negara di Tanah Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Nathan Bernbaum merupakan tokoh Zionis-Yahudi pertama yang ‘menyeret’ istilah yang pada awalnya netral ini menjadi begitu politis. Pada 1 Mei 1776 Nathan mencetuskan Zionisme sebagai gerakan politik bangsa Yahudi untuk mendiami kembali tanah Palestina. Gagasan Bernbaum didukung sejumlah tokoh Yahudi. Salah seorang tokohnya bernama Yahuda Kalaj yang melemparkan gagasan mendirikan ‘negara Israel’ di tanah Palestina. Dalam bukunya berjudul “Derishat Zion” (1826), Izvi Hirsch Kalischer dengan getol mendukung Yahuda Kalaj dan memaparkan kemungkinan-kemungkinannya.

Ide berawal dari Nathan Bernbaum ini kemudian terus dimasak oleh tokoh-tokoh Yahudi sehingga menjadi rencana aksi yang matang. Seorang Yahudi Jerman bernama Moses Hess, menyatakan jika untuk menguasai Palestina, maka kaum Yahudi harus menggandeng orang-orang Barat dan mempengaruhi mereka untuk mau kembali ke Palestina setelah kekalahan yang memalukan dari umat Islam yang dipimpin Salahuddin Al-Ayyubi beberapa abad silam. Gagasan tokoh Yahudi ini akhirnya mendapat dukungan dari sejumlah tokoh kolonialis Barat merasa memiliki irisan kepentingan yang sama, yakni untuk menguasai wilayah Arab yang kaya.

Sejak itu maka mulailah orang-orang Yahudi mengalir ke Palestina dan daerah sekitarnya. Apalagi keberadaan orang Yahudi di Eropa sesungguhnya tidak disukai oleh orang-orang Kristen. Pada 1891 sejumlah pengusaha Palestina dengan nada prihatin mengirim telegram ke Istambul, ibukota kekhalifahan Turki Utsmaniyah di mana kala itu Tanah palestina merupakan bagian dari kekuasaannya. Dengan penuh nada cemas, para pengusaha Palestina menyatakan imigrasi orang-orang Yahudi ke wilayahnya akan benar-benar jadi ancaman jika tidak dihentikan dengan segera.

Lima tahun kemudian, terbit buku “Der Judenstaat” (1896) yang ditulis seorang wartawan Yahudi-Austria bernama Theodore Hertzl. Buku itu secara detil mengajukan konsep tentang upaya pendirian ‘negara Israel’ di Palestina. Hertzl akhirnya dinobatkan sebagai ‘Bapak Zionisme Modern’. Strategi perjuangan Yahudi, oleh Hertzl, secara singkat bisa diungkapkan dalam sebuah kalimat yang singkat namun penuh arti: “Bila kita tenggelam, kita akan menjadi suatu kelas proletariat revolusioner, pemanggul ide dari suatu partai revolusioner; bila kita bangkit, dipastikan akan bangkit juga kekuasaan keuangan kita yang dahsyat.” Sebuah kalimat yang memiliki arti sangat dalam dan sungguh-sungguh dijalankan oleh gerakan Zionisme, karena gerakan inilah yang kemudian melahirkan ide komunisme yang menyatakan sebagai pejuang garda terdepan dalam membebaskan proletariat, dan juga kapitalisme yang merupakan negasi dari ide komunisme. Dan kaum Zionis mengambil keuntungan dari pergolakan kedua kutub tersebut.

Dalam bukunya Hertzl tanpa sungkan menegaskan bahwa untuk mewujudkan satu negara Yahudi di atas tanah Palestina, maka mustahil dengan cara-cara demokratis. Bahkan Hertzl memberikan resep jitu agar Tanah Palestina bisa dikuasai Yahudi yakni dengan jalan memenuhi tanah Palestina dengan orang Yahudi sehingga Yahudi menjadi mayoritas. Untuk memperkecil populasi orang Palestina maka segala cara harus dilakukan seperti teror, perang, pembersihan etnis, penyebaran penyakit, pembukaan lahan kerja di negara tetangga, dan sebagainya. Agar segala yang dilakukan gerakan Zionisme bisa diterima oleh dunia internasional, maka tokoh-tokoh Yahudi seluruh dunia harus bisa memaksakan dunia internasional untuk mensahkan satu undang-undang yang melegitimasi eksistensi Yahudi di Palestina.

Dalam bukunya Hertzl menulis, “Kami akan mengeluarkan kaum tidak berduit (maksudnya bangsa Palestina) dari perbatasan dengan cara membuka lahan-lahan pekerjaan di negara-negara tetangga, dan bersamaan dengan itu mencegah mereka memperoleh pekerjaan di negeri kami. Kedua proses itu harus dilakukan secara rahasia.”

Gerakan ini mengadakan kampanye ke seluruh dunia. Kaum Yahudi mencetak buku-buku yang kelihatannya ilmiah yang menyatakan jika sebenarnya Tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Yahudi. Buku-buku ini disebar ke seluruh negeri. Bahkan kitab suci orang Kristen pun diberi catatan kaki yang banyak yang seluruhnya menjadikan ayat-ayat Injil sebagai dukungan bagi berdirinya negara Israel di Palestina. Scofield adalah orang yang ditugaskan untuk memberi ribuan catatan kaki pro-Zionistik di dalam Injil versi James yang menjadi Injilnya orang-orang Barat. Berbagai kelompok kajian alkitab disusupi dan menjadikan orang-orang Eropa yang tadinya memusuhi Yahudi menjadi kini banyak yang menjadi pendukung negara Israel.

Di dalam masa-masa itulah Hertzl menemui Sultan Abdul Hamid II sebagai Khalifah dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah (1876-1909). Dengan segala bujuk rayu, Hertzl berusaha agar Sultan mengizinkan oarng-orang Yahudi mendirikan negara Israel di Palestina. Jika Sultan bersedia, maka para pemilik modal Yahudi di seluruh Eropa akan memulihkan kas keuangan Turki Utsmani yang sedang kosong. Namun Sultan menolak mentah-mentah hal ini sehingga Zionis-Yahudi menghancurkan Turki Utsmaniyah lewat seorang agen Yahudi dari Tsalonika bernama Mustafa Kamal Pasha.

Hertzl menggelar Kongres Zionis Internasional I di Swiss sebagai upaya penyatuan sikap tokoh Zionis Dunia. Salah satu hasil kongres berbunyi: “Zionisme bertujuan untuk membangun sebuah Tanah Air bagi kaum Yahudi di Palestina yang dilindungi oleh undang-undang.” Theodore Hertzl terpilih sebagai pimpinan gerakan ini dan menulis dalam buku hariannya, “Kalau saya harus menyimpulkan apa hasil dari kongres Bassel itu dalam satu kalimat pendek, yang sungguh tidak berani saya ungkapkan kepada masyarakat, saya akan berkata: ‘Di Bassel saya menciptakan negara Yahudi!’” Protocolat of Zion yang berisi 24 strategi Zionis-Yahudi menguasai dunia juga disahkan menjadi agenda bersama.

Selain menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani, Yahudi Internasional juga bekerja siang-malam mempersiapkan segala hal untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Pada 2 November 1917, Menlu Inggris, Lord Arthur James Balfour, mengirim sebuah surat yang ditujukan kepada Pemimpin Komunitas Yahudi Inggris, Rothschild, untuk diteruskan kepada Federasi Zionis, yang berisi pemberitahuan tentang persetujuan pemerintahan Inggris yang telah menggelar rapat Kabinet tanggal 31 Oktober 1917, atas permintaan bangsa Yahudi untuk bisa mendapatkan tanah Palestina. Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina masih berada di bawah Khilafah Turki Utsmani, hanya saja kekhalifahan ini sudah diambang kehancuran. Batas-batas yang akan menjadi wilayah Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot, 16 Mei 1916, antara Inggris dan Prancis.

Kata-kata Deklarasi ini kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Sèvres dengan Turki Utsmani dan Mandat untuk Palestina. Penyebutan Palestina sebagai satu-satunya nominator tempat berdirinya negara Yahudi sebenarnya memiliki catatan yang panjang. Awalnya ada sejumlah tempat yang dianggap bisa menjadi tempat berdirinya negara Yahudi di Afrika dan Amerika Selatan, seperti Mozambique, Kongo, Afrika, Uganda, bahkan Argentina dicalonkan pada 1897, Cyprus pada 1901, Sinai pada 1902, dan atas usulan pemerintahan Inggris, Uganda diusulkan kembali pada 1903.

Penyebutan tempat-tempat tersebut mendapat tentangan keras dari para Rabbi Yahudi Konservatif. Apa yang digalang oleh Hertzl dan kelompok Zionisnya dianggap sebagai gerakan sekularis yang menunggangi agama Yahudi. Bahkan dalam Kongres Para Rabbi di Philadelphia-AS, pada akhir abad ke-19, salah satu putusannya adalah menentang adanya satu negara Yahudi yang dipaksakan. Menurut kelompok Rabbi Konservatif ini, Zionisme merupakan gerakan sekuler yang berlandaskan Talmud, sebuah kitab iblis, dan bukan Taurat Musa. Bagi para Rabbi, negara Yahudi akan didirikan pada akhir zaman, yakni ketika Sang Messias Yahudi muncul dan memimpin orang-orang Yahudi untuk mendirikan negaranya di Palestina. Bagi kalangan Zionis, berdirinya negara Yahudi tidak harus menunggu kedatangan Messias di akhir zaman, hal ini malah harus dilakukan secepatnya guna menyambut datangnya Messias. Inilah titik tolak perbedaan pandangan antara Yahudi Zionis dengan Yahudi Anti Zionis yang sekarang ini salah satu kelompoknya adalah Neturei Karta dan juga International Jews Anti Zionist (IJAN).

Dr. Chaim Weizmann, jurubicara organisasi Zionisme di Inggris dan pendukung utama Zionisme merupakan seorang pakar kimia yang berhasil mensintesiskan aseton melalui fermentasi. Aseton diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan eksplosif yang sangat berguna dalam semua persenjataan Inggris. Jerman diketahui telah memonopoli ramuan aseton kunci, kalsium asetat. Tanpa kalsium asetat, Inggris tak bisa menciptakan aseton dan tanpa aseton takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite, Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam Perang Dunia I. Sebab itu, Inggris sangat berhutang budi pada Yahudi, khususnya kepada Weismann. Inilah mengapa Inggris begitu mendukung kaum Yahudi untuk mendirikan negara di Palestina.

Pada 14 Mei 1948 Israel sebagai sebuah negara dideklarasikan dan David Ben Gurion diangkat sebagai PM pertama. PBB mensahkan negara Israel. Langkah PBB ini membuktikan kepada dunia jika lembaga internasional tersebut mendukung penjajahan bangsa Palestina yang dilakukan oleh Zionis Israel. Berdirinya Israel didahului upaya teror, pembunuhan, dan pengusiran terhadap bangsa Palestina, pemilik sah atas Tanah Suci tersebut.

Kamis, 22/01/2009 07:17 WIB

eramuslim.com © 2000 - 2008