Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2009

Bersabar Dalam Perjalanan Panjang


Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Qs. Al Insyiqaq : 19)

Mencita-citakan berlanjutnya kehidupan islam dengan tegaknya khilafah islamiyyah bukanlah dengan ‘sim salabim’ atau ‘ kun fayakun,’ sekali langsung jadi. Ada jalan panjang yang harus dilewati. Kadang naik di atas tebing, kadang dibelokan tajam, seringkali menanjak dan menurun. Semua rute perjalanan itu harus diikuti dengan sabar, cermat, dan teliti.

Di sini rem harus paten, gas harus lancar, setir harus lincah. Pada saat mendaki perlu tancap gas. Saat menurun awas dengan rem. Kombinasi itulah yang menjadikan perjalanan selamat sampai tujuan.

Ibarat membangun rumah, perlu fondasi dulu, baru tiang, kemudian atap, dan seterusnya. Jangan lompat-lompat, nanti malah merepotkan diri sendiri. Ibarat naik tangga, trap demi trap kita langkahi. Bisa juga dari tangga pertama langsung lompat ke tangga sepuluh, tapi kalau jatuh bisa langsung patah tulang, malah tangga itu sendiri yang menjauhi. Satu hal yang harus dijaga dengan baik dalam menampilkan dan menyodorkan Islam adalah kerapian, keteraturan, ketertiban, dan keseimbangan. Harus menghindari da’wah yang dilakukan secara sembrono, tidak terencana, kacau, bahkan sedikit terkesan nekad.

Hal ini perlu diketahui, sebaba dengan keteraturan dan ketertiban itulah akan tampak keindahan islam dalam perlangkahan. Semua pihak akan merasa senang, sebab Islam ditampilkan pas dengan selera dasar manusia, memenuhi kebutuhan orang-orang normal. Apalagi kalau sudah dilaksanakan dengan baik dan sempurna, dijamin mendatangkan kepuasaan batin dan ruhani yang lebih tinggi lagi.

Dalam upaya menyebarkan islam hal tersebut harus tetap terjaga dengan baik. Berjuang tidak bisa dengan sembrono dan acak-acakan. Apalagi yang kita sodorkan adalah pedoman dan pegangan hidup ummat manusia di dunia, yang merupakan alternatif satu-satunya. Menganggap hal ini sepele berarti membiarkan perjuangan tetap berantakan, tanpa hasil akhir yang memuaskan.

Ketidakteraturan dalam perjuangan sangat potensial mengundang kegagalan. Bisa jadi akan menodai dan merusak misi secara keseluruhan, minimal mengurangi daya pesona. Akibatnya, selera peminat menjadi turun. Pada gilirannya pendukung sebagai kekuatan yang diperlukan akan berkurang jumlahnya.

Secara jujur, tidak bisa disangkal adanya hal-hal yang terjadi pada seluruh episode perjalanan perjuangan rasulullah saw, mulai dari fase persiapan (upaya pengkondidian) sampai pada tegaknya Daulah islam di Madinah. Tercatat di sana fase da’wah secara sembunyi, terbuka, hijrah, perang, fathul makkah, dan fase-fase lainnya. Nampak adanya proses yang indah, tahapan yang menunjukkan ketertiban dan keteraturan yang begitu rapi dan berimbang, sehingga wajar hal tersebut melahirkan rasa asyik dan nyaman bagi pelaku-pelakunya. Ada rasa kagum dan hormat bagi pengamat yang memperhatikan perjalanan ini dengan seksama.
Bila akhirnya perjuangan Rasulullah saw mencapai kemenangan gemlang dalam waktu yang relatif singkat, dalam proses yang begitu mulus, wajar sekali.

Hambatan yang begitu besar ternyata dapat dilewati satu persatu, seolah-olah menurut yang direncanakan dengan begitu indah. Semua menjadi indikasi adanya keteraturan berfikir yang begitu luar biasa, kerapian menyusun langkah-langkah operasi, kemampuan menggunakan waktu dan tenaga secara maksimal dengan hasil yang betul-betul optimal, melahirkan decak kagum dan rasa hormat yang murni dan jujur. Terasa kalau di sana ada kekuatan ekstra dengan nlai tambah yang berhasil dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Justru itu yang paling mengagumkan , kejelian melihat peluang dan manfaatkan segala kemungkinan menjadi kekuatan yang mendukung.

Dengan melihat perjalan perjuangan itu, jelas sekali adaya urut-urutan pekerjaan yang harus diselesakan secara bertahap. Tahapan itu melukiskan sebuah proses yang indah dan mengundang kewajaran kalau proses itu melahirkan dan menghasilkan kemenangan. Bahkan sekaligus juga mengasyikan, sehingga kemenangan yang direbutnya hanya salah satu dari buah dan hasil proses itu. Kepuasan dan hiburan, sekaligus diperoleh di sana. Jadi nampak kalau kemenangan di sana bukan sesuatu yang dipaksakan.

Sepanjang perjalanan Rasul saw sama sekali tidak nampak ada usaha mau melangkah dengan sekali lompatan. Tidak satupun cara beliau gunakan untuk segera tiba lebih cepat pada ujung perjalanan, meraih kemenangan tiba-tiba. Sekali lagi kita perlu tegaskan di sini bahwa tidak kita temukan satu bagian pun dalam perjalanan Rasulullah saw yang sengaja tidak mematuhi tahapan secara wajar dalam menuju kemenangan.
Jejak perjuangan Rasul adalah perjalanan panjang yang alamiyah. Beliau berusaha, berjuang dan kerja keras sambil berdo’a dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Bukan berarti Rasulullah tidak bisa menggunakan kapasitas pribadinya untuk potong kompas mencapai kemenangan. Sebagai seorang pilihan beliau tidak saja mampu membuat lompatan melewati banyak anak tangga dengan sekali lompat, malahan bisa terbang. Itu bisa dilakukan jika mau. Akan tetapi jelas hal itu disamping alami juga tidak mendidik.
Lalu bagaimana ummatnya –yang bukan Nabi dan Rasul- akan melewatinya juga kelak? Juga, pengikut yang besertanya, apakah siap di ajak terbang? Dan apalagi kita, yang tertinggal sekian derajat, apakah bukan menjadi pembayang saja?

* * *
[Ibnu Khaldun Aljabari]
Author : PercikanIman.ORG

Sabtu, 09 Mei 2009

Ajaran Cinta Sejati Jalaluddin ar-Rumi


Ia berkata, "Siapa itu berada di pintu?"
Aku berkata, "Hamba sahaya, Paduka."
Ia berkata, "Mengapa kau ke mari?"
Aku berkata, "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti."
Ia berkata, "Berapa lama kau bisa bertahan?"
Aku berkata, "Sampai ada panggilan."
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa, demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan."
Aku berkata, "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku."
Ia berkata, "Saksi tidak sah, matamu juling."
Aku berkata, "Karena wibawa keadilanmu, mataku terbebas dari dosa."


Bait-bait syair bernuansa religius di atas adalah nukilan dari salah satu puisi karya Jalaluddin ar-Rumi, penyair sufi terbesar dari Persia. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah --kedalaman makna dan keindahan bahasa--yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum atau sesudahnya.

Di kalangan para pecinta sastra tasawuf, nama Jalaluddin ar-Rumi tidak asing lagi. Karya-karyanya tidak hanya diminati oleh masyarkat Muslim, tetapi juga masyarakat Barat. Karena itu, tak mengherankan jika karya sang penyair sufi dari Persia (Iran) yang bernama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi ini berpengaruh besar terhadap perkembangan ajaran tasawuf sesudahnya.

Rumi dilahirkan di Kota Balkh, Afghanistan, pada 30 September 1207 M/604 H dan wafat di Kota Konya, Turki, pada 17 Desember 1273 M/672 H. Sejak kecil, ar-Rumi dan orang tuanya terbiasa hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Keluarganya pernah tinggal di Nisabur (Iran timur laut), Baghdad, Makkah, Malatya (Turki), Laranda (Iran tenggara), dan Konya. Meski hidup berpindah-pindah, sebagian besar hidup ar-Rumi dihabiskan di Konya yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Tarekat Maulawiah--sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indra dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, umat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.

Cinta untuk Tuhan
Ar-Rumi dikenal karena kedalaman ilmu yang dimilikinya serta kemampuan dalam mengungkapkan perasaannya dalam bentuk puisi yang sangat indah dan memiliki makna mistis yang sangat dalam. Ia memilih puisi sebagai salah satu medium untuk mengajarkan cinta sejati (Tuhan). Lirik-lirik puisinya banyak mengedepankan perasaan cinta yang dalam kepada Tuhan. Maka itu, tak mengherankan jika ia mengungguli banyak penyair sufi, baik sebelum maupun sesudahnya.

Karya-karya puisi ar-Rumi juga mengandung filsafat dan gambaran tentang inti tasawuf yang dianutnya. Tasawufnya didasarkan pada paham wahdah al-wujud (penyatuan wujud). Bagi ar-Rumi, Tuhan adalah wujud yang meliputi. Keyakinan ini tidak selalu merupakan keyakinan terhadap kesatuan wujud yang menyatakan bahwa segala seuatu itu adalah Allah atau Allah adalah segala sesuatu. Kesatuan hamba dengan Tuhan, dalam tasawuf ar-Rumi, dipatrikan oleh rasa cinta yang murni.

Pengetahuan mengenai ajaran tasawuf tidak ia pelajari sejak usia dini. Masa kecilnya justru lebih banyak dipergunakan Jalaluddin ar-Rumi untuk menimba ilmu agama, terutama terkait dengan hukum Islam. Pendidikan pertama ar-Rumi diperolehnya dari ayahnya sendiri, Bahauddin Walad Muhammad bin Husin, yang merupakan seorang tokoh dan ahli agama Islam penganut Mazhab Hanafi. Selain itu, ia juga belajar pada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmuzi, seorang tokoh dan sahabat ayahnya. Atas saran gurunya ini, ia kemudian menimba ilmu pengetahuan di negeri Syam (Suriah).

Dengan pengetahuan agama yang luas, ar-Rumi dipercaya untuk menggantikan Burhanuddin sebagai guru di Konya setelah sang guru wafat. Di samping sebagai guru, ia juga menjadi dai dan ahli hukum Islam (fakih).

Perubahan besar dalam hidup ar-Rumi terjadi pada tahun 652 H. Di usianya yang menginjak 48 tahun, ia mengubah jalan hidupnya ke arah kehidupan sufi setelah bertemu dengan seorang penyair sufi pengelana, Syamsuddin at-Tabrizi. Ia sangat terpengaruh oleh ajaran sufi itu sehingga ia meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan mulai menggubah puisi serta memasuki kehidupan sufi.

Rumi telah menjadi sufi berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, Rumi menulis syair-syair yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams Tabriz . Ia juga membukukan wejangan-wejangan gurunya itu yang dikenal dengan nama Diwan Syams Tabriz . Buku ini juga memuat inti ajaran tasawuf ar-Rumi.

Di samping termuat dalam Diwan Syams Tabriz , inti ajaran tasawuf ar-Rumi juga banyak dimuat dalam sebuah karya besarnya yang terkenal, al-Masnawi . Buku ini terdiri atas enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Karyanya ini berpengaruh besar terhadap perkembangan tasawuf sesudahnya. Banyak komentar terhadap buku ini yang ditulis oleh para ahli dalam berbagai bahasa, seperti Persia, Turki, dan Arab.

Al-Masnawi telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pertama kali, buku ini diterjemahkan ke bahasa Jerman pada tahun 1849. Namun, yang diterjemahkan hanya sepertiga bagian dari keseluruhan isi Al-Masnawi . Hasil terjemahan dalam bahasa Jerman ini diterbitkan di Kota Leipzig dan mengalami cetak ulang pada tahun 1913.

Sementara itu, terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Sir James Redhouse pertama kali diterbitkan pada tahun 1881. Kemudian, sebanyak 3.500 baris puisi pilihan dari Al-Masnawi diterjemahkan lagi oleh Whinfield ke dalam bahasa Inggris. Terjemahan puisi pilihan yang terbit di London tahun 1887 ini mendapat perhatian besar dari masyarakat sehingga tahun itu juga dicetak ulang. Volume kedua diterjemahkan oleh Wilson dan diterbitkan di London tahun 1910.

Baru pada tahun 1925 hingga 1950, proses penerjemahan buku Al-Masnawi dilakukan secara menyeluruh oleh Reynold Alleyne Nicholson. Selain menerjemahkan buku ini, Nicholson juga menambahkan uraian serta komentarnya untuk melengkapi terjemahannya. Langkah Nicholson yang menerjemahkan karya ar-Rumi ini diikuti oleh salah seorang muridnya, AJ Arberry, yang menerjemahkan sejumlah kisah pilihan yang diterbitkan di London pada 1961.

Teori kefanaan
Di samping sebagai penyair sufi yang menganut paham wahdad al-wujud , ar-Rumi juga merupakan peletak dasar teori kefanaan. Pendapatnya tentang kefanaan tergambar dari ungkapannya, ''Apakah arti ilmu tauhid? Hendaklah kau bakar dirimu di hadapan Yang Maha Esa. Seandainya kau ingin cemerlang sebagai siang hari, bakarlah eksistensimu (yang gelap) seperti malam; dan luluhkan wujudmu dalam Wujud Pemelihara Wujud, seperti luluhnya tembaga dalam adonannya. Dengan begitu, kau bisa mengendalikan genggamanmu atas 'Aku' dan 'Kita', di mana semua kehancuran ini tidak lain timbul dari dualisme.''

Sementara itu, suasana pada saat sedang fana digambarkan oleh ar-Rumi sebagai berikut. ''Nuh berkata kepada bangsanya, Aku bukanlah aku. Aku bukanlah tiada lain Tuhan itu sendiri. Apabila ke-aku-an lenyap dari identitas insan, tinggallah Tuhan yang bicara, mendengar, dan memahami. Apabila Aku bukanlah aku, adalah aku tiupan napas Tuhan. Adalah dosa melihat kesatuan aku dengan-Nya.''

Dalam pandangannya, setiap peristiwa kefanaan selalu diikuti oleh baqa , yaitu tetapnya kesadaran sufi kepada Tuhan. Pada saat sedang baqa , kesadaran akan Tuhan melandasi kesadaran seorang hamba. Kata ar-Rumi, ''Kesadaran Tuhan lebur dalam kesadaran sufi. Bagaimana si awam meyakininya. Pengetahuan sufi adalah garis dan pengetahuan Tuhan adalah titik. Eksistensi garis amat tergantung pada eksistensi titik.'' sya/dia/berbagai sumber


Tarian berputar sang sufi
Selain dikenal sebagai seorang penyair sufi, Jalaluddin ar-Rumi juga merupakan pendiri Tarekat Maulawiah atau Jalaliah. Tarekat ini ia kembangkan bersama sahabatnya, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad.

Tarekat Maulawiyah atau Jalaliah adalah sebuah tarekat sufi yang terkenal dan banyak dianut di Turki dan Suriah. Di Barat, tarekat ini dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para darwis yang berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar yang diiringi oleh gendang dan suling dalam zikir mereka untuk mencapai ekstase .

Menurut sebuah riwayat, tarian yang dilakukan oleh Ar-Rumi dilakukan tanpa kesengajaan. Tarian itu justru dilakukannya ketika dirinya merasa sedih sepeninggal gurunya, Syamsuddin Tabriz, yang dibunuh oleh warga Konya. Rumi benar-benar merasakan kehilangan sang panutan, laksana kehidupan tanpa sinar matahari. Hingga pada suatu hari, seorang pandai besi yang bernama Shalahuddin membuat Rumi menari-nari berputar-putar sambil melantunkan syair-syair puitis akan kecintaannya kepada Tuhan dan gurunya.

Dari sinilah, Jalaluddin Ar-Rumi menjalin persahabatan dengan Shalahuddin untuk menggantikan kedudukan sang guru. Bersama Shalahuddin yang memukul gendang, Rumi pun menari dan menari untuk mengungkapkan penghambaan dirinya dalam menghibur dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah berhenti menari kerana dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai. Bagian hanya Allah yang layak untuk dicintai.

Dari caranya menemukan hakikat cinta untuk Tuhan, Kota Konya yang sempat sepi menjadi ramai kembali berkat tarian-tarian cinta yang berputar untuk Tuhan. Bahkan, banyak pengikut-pengikutnya di berbagai negara di dunia melakukan hal yang sama sebagai bentuk kecintaan kepada sang guru dalam menemukan Tuhan.

Suatu hari, Rumi pernah berkata kepada anaknya, Sultan Walad, bahwa Kota Konya akan menjadi semarak. ''Akan tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak dan makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita, menggemakan ucapan-ucapan kita.''

Kini, perkataan Rumi itu terbukti. Setelah sekian lama terlelap oleh sejarah, Kota Konya hidup kembali berkat sang sufi. ''Kota Anatolia Tengah ini tetap berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi,'' tulis Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.

Kenyataannya memang demikian. Lebih dari tujuh abad, Rumi bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama kepada pengikutnya, the whirling dervishes , para darwis yang menari. Setiap tahun, pada 2-17 Desember, jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan penjuru angin, mereka berarak untuk memperingati kematian Rumi, 727 tahun silam.

Siapakah sesungguhnya manusia yang telah menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan Islam dan silang sengketa paham? ''Dialah penyair mistik terbesar sepanjang zaman,'' kata orientalis Inggris, Reynold A Nicholson. ''Ia bukan nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci,'' seru Jami, penyair Persia Klasik, tentang karya Rumi, Al-Masnawi .

Bahkan, cucu ar-Rumi, Sulthanul Auliya Maulana Syekh Nazhim Adil al-Haqqani, kagum dengan kakeknya tersebut. Ia berkata sebagai berikut. ''Dia adalah orang yang tidak mempunyai ketiadaan. Saya mencintainya dan saya mengaguminya, saya memilih jalannya, dan saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang saya cintai, dia begitu indah. Oh , dia adalah yang paling sempurna.

Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.''Itulah Jalaluddin a-Rumi, sang sufi penganut cinta sejati untuk Tuhannya. sya/dia/berbagai sumber/taq

By Republika Newsroom
Selasa, 17 Maret 2009 pukul 12:03:00

Umat Islam di AS mencapai enam juta jiwa. Mereka berasal dari berbagai macam suku bangsa.


Islam adalah salah satu agama yang berkembang paling cepat di Amerika Serikat (AS). Sesuai perkiraan yang dimuat dalam lembar fakta Departemen Luar Negeri AS, pada tahun 2010 mendatang, jumlah penduduk Muslim AS diperkirakan akan melampui jumlah kaum Yahudi dan menjadikan Islam sebagai agama terbesar nomor dua di negara itu setelah agama Kristen.

Masyarakat Muslim Amerika merupakan sebuah mosaik kebudayaan. Para anggotanya berasal dari lima benua. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2007 lalu, kebanyakan kaum Muslim di Negeri Paman Sam tersebut adalah imigran yang jumlahnya 77,6 persen berbanding 22,4 persen yang lahir di AS.

Penelitian itu juga menunjukkan asal usul masyarakat Muslim sebagai berikut: 26,2 persen dari Timur Tengah (Arab); 24,7 persen dari Asia Selatan; 23,8 persen Amerika keturunan Afrika; 11,6 persen lain-lain; 10,3 persen Timur Tengah (non-Arab); dan 6,4 persen Asia Timur.

Meskipun di Amerika Serikat tidak ada catatan jumlah penduduk berdasarkan agama, para pakar memperkirakan bahwa kaum Muslim di Amerika berjumlah sekitar enam juta jiwa. Perkiraan-perkiraan lain berkisar antara empat dan delapan juta jiwa. The Britannica Book of the Year memperkirakan bahwa pada pertengahan tahun 2000, terdapat 4.175.000 Muslim di Amerika Serikat dan 1.650.000 di antaranya berasal dari kalangan Amerika keturunan Afrika (Afro-Amerika). Rata-rata 17.500 warga Afro-Amerika ini berpindah ke agama Islam tiap tahun antara 1990 dan 1995.

Kira-kira, sepertiga kaum Muslim Amerika tinggal di kawasan Pantai Timur (32,2 persen), 25,3 persen hidup di kawasan Selatan, 24,3 persen di kawasan Tengah, dan 18,2 persen di kawasan Barat. Saat ini, terdapat sekitar 2.000 bangunan masjid di seluruh penjuru AS serta ratusan sekolah Islam dan organisasi Islam.

Selain itu, Muslim Amerika juga banyak mendirikan pusat-pusat Islam (Islamic Center) di berbagai kota-kota besar, seperti Los Angeles, San Diego, Houston, Ohio, dan New Jersey.

Empat gelombang
Ada dugaan bahwa Islam pertama kali dibawa ke Benua Amerika, termasuk wilayah Amerika Serikat, oleh kaum Muslim yang ikut serta dalam pelayaran pelaut Spanyol dan Portugal ke Benua Amerika. Dalam pelayaran itu, kaum Muslim berperan sebagai pemberi arah bagi kapal. Selain itu, sebagian kaum Muslim Morisco, yaitu kaum Muslim Spanyol yang dikejar-kejar tentara Kristen dan dipaksa masuk Kristen dalam peristiwa penaklukan kembali (reconquista) pada 1492 konon melarikan diri ke benua ini.

Kemudian, diperkirakan bahwa hampir seperlima dari budak-budak yang dibawa ke benua ini dari Afrika antara abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-19 beragama Islam. Merekalah cikal bakal kaum Muslim di Amerika Serikat. Tetapi, karena keadaan yang sulit untuk mengembangkan agama, banyak di antara mereka yang belakangan masuk Kristen.

Namun, terkikisnya jumlah kaum Muslim generasi awal ini tergantikan oleh adanya imigrasi kaum Muslim dalam jumlah besar yang terjadi secara regular ke wilayah Amerika Serikat sejak akhir abad ke-19. Pionirnya sebagian besar adalah orang Arab dari kekhalifahan Turki Usmani.

Para imigran Muslim datang ke Amerika Serikat dengan beragam alasan. Kedatangan para imigran Muslim ini terbagi dalam empat gelombang. Gelombang pertama imigrasi kaum Muslim ke negara ini berlangsung pada sekitar tahun 1875, dari wilayah Libanon, Suriah, Yordania, hingga Palestina. Mereka pada umumnya miskin keterampilan dan tidak cukup terdidik serta sebagian besar merupakan petani yang berharap bisa sukses secara finansial di Amerika Serikat.

Tetapi, karena kesempatan kerja terbatas, mereka terpaksa bekerja sebagai buruh di pabrik, pelabuhan, dan lainnya. Mereka terutama menetap di wilayah Midwest. Pengelanaan mereka kemudian menarik minat rekan-rekan mereka yang lain. Arus imigrasi gelombang pertama ini pun meningkat dan baru terhenti pada akhir Perang Dunia I.

Gelombang kedua menyusul pada 1920-an yang kemudian terhenti karena Perang Dunia II. Hukum-hukum imigrasi pada periode ini agak membatasi. Hanya orang berkulit hitam atau Kaukasia yang boleh masuk ke Amerika Serikat. Orang Arab tidak termasuk dalam dua kategori itu.

Gelombang ketiga terjadi antara pertengahan tahun 1940-an hingga pertengahan tahun 1960-an. Kaum Muslim yang masuk ke AS dalam gelombang ini lebih terdidik. Sebagian mereka hijrah karena penindasan politik. Jumlah terbesar dari mereka adalah orang Palestina yang terusir dengan didirikannya negara Israel pada tahun 1948, orang Mesir yang merasa dirugikan oleh kebijakan Presiden Gamal Abdel Nasser, dan orang Islam Eropa Timur yang mencoba melarikan diri akibat Perang Dunia II dan pemerintahan komunis.

Sementara itu, gelombang imigrasi kaum Muslim keempat bermula sekitar tahun 1967 dan masih berlangsung hingga kini. Mereka umumnya sangat terdidik dan fasih berbahasa Inggris. Mereka berimigrasi karena berbagai alasan, seperti peningkatan kemampuan profesional dan untuk menimba ilmu di universitas-universitas Amerika.

Muslim kulit hitam
Salah satu fenomena yang menonjol dari Islam di Amerika Serikat adalah keberadaan kaum Muslim kulit hitam atau yang kerap disebut dengan istilah Black Muslims dalam jumlah yang cukup besar. Bahkan, beberapa tokoh Black Muslims Amerika cukup dikenal di berbagai negara. Sebut saja Malcolm X dan petinju legendaris dunia Muhammad Ali.

Organisasi Black Muslims yang juga dikenal dengan sebutan Nation of Islam (NOI) pertama kali dibentuk kali di Detroit pada 1931 oleh Wallace D Fard atau yang lebih dikenal dengan beberapa nama lain: Wallace Fard Muhammad, WF Muhammad, Walli Farrad, Farrad Muhammad, dan Prof Ford. Tokoh pendiri NOI ini secara tiba-tiba menghilang untuk alasan yang tidak diketahui pada 1934.

Posisi Wallace D Fard kemudian digantikan oleh Elijah Muhammad yang berhasil memimpin faksi terbesar dari organisasi ini dan membuka markas besarnya di Chicago. Elijah adalah putra seorang pendeta Baptis di Georgia. Di bawah kepemimpinannya, NOI menjadi organisasi kaum Muslim terpenting di AS pada tahun 1950-an.

Organisasi ini bertambah besar gaung dan pengaruhnya dengan keterlibatasn Malcolm Little. Seperti halnya Elijah, Malcolm juga merupakan anak seorang pendeta Baptis yang belakangan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Malcolm X. Inisial X ini menunjukkan bahwa ia adalah eks perokok, eks pemabuk, eks Kristen, dan eks budak.

Bersama dengan Martin Luther King Jr, ia menjadi kritikus paling lantang terhadap ketidakadilan berdasarkan ras di Amerika Serikat. Ia juga aktif menyuarakan hak-hak kulit hitam di negara adidaya tersebut. Namun, karena perbedaan pandangan dengan Elijah, tahun 1964 Malcolm memutuskan mundur dari NOI dan mendirikan organisasinya sendiri, Muslim Mosque Inc. Namun, ia dibunuh tidak lama kemudian.

Jika pada awal didirikan NOI hanya diperuntukkan bagi kaum Muslim Afro-Amerika; ketika dipimpin oleh Waris Deen Muhammad, organisasi ini mulai membuka diri bagi Muslim kulit putih dan mendorong para pengikutnya untuk ambil bagian dalam kehidupan sosial dan politik di AS. Dan, sejak saat itu, nama NOI diganti menjadi World Community of al-Islam in the West (WCI) yang kemudian diganti menjadi American Muslim Mission (AMM).

Akan tetapi, perubahan tersebut ditentang oleh beberapa faksi Muslim kulit hitam lainnya. Di bawah pimpinan Louis Farrakhan, pada tahun 1977, mereka menyatakan mundur dari AMM dan kembali ke ajaran lama Elijah Muhammad. Mereka menuntut keadilan sosial dan ekonomi bagi semua orang berkulit hitam dan memberikan suara kepada Jesse Jackson (seorang Afro-Amerika) dalam pemilu presiden Amerika Serikat tahun 1984 dan 1988.


Perkembangan Islam Usai September Kelabu

Peristiwa serangan 11 September 2001 ke menara kembar World Trade Center (WTC) dan Pentagon telah membawa perubahan besar dalam kehidupan beragama di Amerika Serikat, khususnya kaum Muslim di sana. Usai serangan itu, berbagai tudingan dilontarkan kepada Islam dan umatnya. Banyak serangan yang terjadi tehadap Muslim Amerika setelah kejadian itu walaupun terbatas pada kelompok minoritas kecil.

Menurut survei yang dilakukan pada 2007, sekitar 53 persen Muslim Amerika menganggap bahwa lebih sulit menjadi seorang Muslim di Negeri Paman Sam setelah serangan itu. Wanita Muslim yang menggunakan hijab atau jilbab diganggu sehingga beberapa wanita Muslim lebih memilih untuk tinggal di rumah. Sedangkan, yang lainnya, untuk sementara, meninggalkan aktivitas mereka di tempat kerja.

Namun, menurut Imam Masjid Islamic Center New York, M Syamsi Ali, ada kecenderungan positif warga Amerika sesudah perstiwa September kelabu itu. Sebelum 9/11, mereka acuh tak acuh terhadap agama. ''Jangankan terhadap Islam, terhadap agama kelahiran mereka saja mereka acuhkan. Gereja-gereja kosong. Agama tidak lebih perayaan-perayaan sosial semata, seperti Natal dan lain-lain. Sebaliknya, anak-anak muda mereka semakin antiagama yang dianggap kuno dan menjadi faktor keterbelakangan dan kebodohan,'' paparnya kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Sebelum peristiwa 9/11, lanjut dia, Islam juga tidak terlalu menjadi sorotan. Mayoritas masyarakat tidak tahu apa atau belum pernah mendengar kata Islam itu sendiri. Media-media massa tidak terlalu banyak menyebut Islam, kecuali jika ada hal-hal sensitif yang terjadi di belahan dunia lainnya.

Setelah 9/11, semua ini berubah. Keinginan untuk tahu Islam, ungkap Syamsi, menjadi sangat menonjol, bahkan referensi Islam menjadi jualan paling laris di seantero Amerika Utara. Berbagai kalangan pun berminat untuk mendengarkan secara langsung apa itu Islam dari gereja-gereja, sinagog, ataupun perkantoran-perkantoran swasta, bahkan pemerintahan. ''Maka, dengan sendirinya, para imam memiliki akses lebih luas untuk memperkenalkan Islam kepada publik Amerika,'' ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut Mohammad Kudaimi, anggota Nawawi Foundation (sebuah lembaga pendidikan yang berbasis di Chicago--Red), membuat umat Islam terus bertambah banyak di Amerika Serikat setelah peristiwa 9/11. ''Alhamdulillah, kondisi umat Islam di Amerika Serikat baik-baik saja. Umat Islam terus bertambah banyak di Amerika Serikat, baik sebelum maupun setelah peristiwa 11 September,'' kata dia kepada Republika di sela-sela kunjungannya ke Indonesia pada awal Juli 2007 lalu.

Bagi Kudaimi, sulit untuk memahami fenomena kontradiktif ini. Logikanya, setelah terjadinya peristiwa 11 September lalu, umat Islam banyak merasa tertekan akibat adanya tudingan macam-macam yang menyudutkan mereka. Maka, mereka akan takut masuk Islam. "Tapi, faktanya tidak demikian," tukasnya.

Pesatnya perkembangan Islam di AS itu diakui oleh Dr Umar Faruq Abdullah, ketua Nawawi Foundation. Saat ini, tak kurang dari tujuh juta warga AS yang memeluk agama Islam. Bahkan, lembaganya turut membantu para mualaf mengikrarkan syahadat dan membantu mereka memahami Islam dengan lebih baik. ''Agama Islam terus berkembang di Amerika Serikat dan tetap survive,'' kata Umar.

Umar mengungkapkan, dengan keutamaan dan kelebihannya sendiri, Islam berkembang di wilayah Amerika Serikat. ''Bahkan, hingga umat Islam dalam kondisi yang teramat buruk, tapi semata-mata karena keutamaan dan kelebihan Islam, Islam pun berkembang di Amerika.'' dia/berbagai sumber/taq

By Republika Newsroom
Senin, 06 April 2009 pukul 12:17:00

Jumat, 08 Mei 2009

Kegelisahan Hati Sang Pencari Tuhan


Setelah masuk Islam, semuanya menjadi plong dan tenang.

Berbagai macam ajaran agama yang berkembang di Indonesia pernah dipelajarinya, dari Kristen Protestan hingga Hindu dan Buddha. Namun, itu semua belum membawa ketenangan dalam diri Tatiana SP Basuki.''Dari kecil, saya dididik sebagai seorang Katolik. Tapi, ketika beranjak dewasa dan memasuki dunia kerja, saya mengalami kegelisahan. Kayaknya, saya tidak menemukan sesuatu dalam keyakinan yang saya anut,'' ujarnya.

Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan spiritual perempuan yang biasa disapa Ana ini. Jika sedang beribadah, pikirannya tidak terfokus. Begitu juga ketika datang ke gereja, ia lebih banyak melamun. Sampai suatu ketika, salah seorang teman menawarkan kitab suci umat Islam, Alquran, kepada perempuan kelahiran Klaten, 20 Maret, ini. Ana menerima Tawaran temannya itu meski dalam hatinya timbul keraguan bahwa Alquran bisa mengusir kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Terlebih lagi, ia tidak paham sama sekali bahasa Arab. Kalaupun membaca dari terjemahan Alquran, tetap saja ia kesulitan untuk bisa mencerna makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran.''Alquran itu bahasanya puitis sekali sehingga buat saya susah untuk mencerna,'' tukasnya.

Kegelisahan yang ia rasakan makin membuatnya tidak nyaman. Hingga mencapai puncaknya di pertengahan malam, 5 Juni 1995 silam. Saat itu, menurut Ana, jam di kamarnya menunjukkan pukul 21.00 dan dirinya hendak beranjak tidur. Meski lampu penerangan di kamarnya sudah dipadamkan, hingga pukul 23.30 dirinya tidak juga bisa memejamkan mata.

Rasa gelisah terus menderanya malam itu. Lalu, antara sadar dan tidak sadar, ungkap Ana, ia merasakan ruangan dalam kamarnya yang seharusnya gelap tiba-tiba menjadi terang benderang. ''Padahal, saya tahu bahwa saya mematikan lampu. Tapi, suasana kamar saat itu justru terang sekali,'' tambahnya.

Tidak hanya itu, malam itu ia juga merasakan keanehan yang lain dengan datangnya suara seorang perempuan dalam kamarnya. Mengenai suara tanpa sosok nyata ini, Ana mendengar suara yang sangat lembut. Suara tersebut, menurutnya, mengucapkan serangkaian kalimat. Namun, ada satu perkataan yang disampaikan suara tersebut yang hingga kini masih ia ingat, ''Ya sudah, kalau kamu sudah memutuskan, mengapa harus menunggu.''

''Saat itu, saya berpikir memutuskan apa, ya? Saya pikir, ini mungkin pencarian religi saya. Akhirnya, saya bilang saya harus masuk Islam. Nggak tahu mengapa, pokoknya saat itu saya yakin harus masuk Islam,'' paparnya.Sejurus kemudian, Ana menghubungi salah seorang rekan kantornya. Karena teleponnya tak diangkat, ia pun meninggalkan pesan di mesin penjawab yang isinya meminta bantuan sang teman untuk mengislamkan dirinya.

Keesokan harinya, ketika Ana tiba di kantor, temannya meminta ia naik ke lantai eksekutif. Di ruangan tersebut, ungkapnya, sudah menunggu seorang ibu yang dianggap oleh temannya sebagai seorang ustazah dan siap mengislamkan dirinya. Ibu tersebut banyak memberikan masukan dan ceramah ke Ana sebelum dirinya mengucapkan syahadat di hadapan ustazah tersebut.

Meski sudah mengucapkan syahadat, ia berkata kepada ibu tersebut bahwa dirinya tetap harus bersyahadat di sebuah masjid untuk mendapatkan sertifikat bahwa dirinya sudah masuk Islam. ''Sertifikat ini diperlukan karena saya pastinya harus ganti KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga).''

Tanpa ia ketahui, ternyata salah seorang teman kantornya sudah menghubungi Masjid Sunda Kelapa yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Kejutan lain dari para koleganya di kantor juga terjadi manakala ia tiba di Masjid Sunda Kelapa. ''Ternyata, banyak teman saya, bahkan bos-bos saya di kantor juga ada di masjid itu,'' ujarnya.

Alhasil, ia pun mengucapkan kembali dua kalimat syahadat yang disaksikan teman dan bosnya di Masjid Sunda Kelapa. Akhirnya, ia resmi masuk Islam pada 6 Juni 1995 setelah proses pencarian selama setahun. Entah bagaimana, ketika sudah resmi memeluk Islam, menurut Ana, semua perasaan gelisah yang selama ini menghantuinya hilang begitu saja. ''Tadinya, ada perasaan yang berat dan gelisah. Tetapi, begitu saya berikrar masuk Islam, semuanya jadi plong begitu saja,'' paparnya.

Didatangi penginjil
Begitu tersiar kabar bahwa dirinya masuk Islam, keesokan harinya Ana mendapatkan banyak kecaman dan teror. Teman-temannya yang non-Muslim protes atas keputusannya memeluk Islam.

''Banyak yang menelepon saya. Kok , bisa-bisanya saya ganti agama dan nggak bilang-bilang dulu kalau mau pindah (agama),'' tuturnya. Namun, semua itu ia tanggapi dengan tenang dan lapang dada.

Kecaman dan teror tersebut tidak hanya datang dari teman-teman non-Muslim, tetapi juga dari pihak lain. Menurutnya, setelah ia memutuskan masuk Islam, secara tiba-tiba ada seorang penginjil yang rajin mendatangi kantornya setiap hari. Setiap pagi dan sore, kata Ana, sang penginjil mendatanginya untuk memberikan ceramah tentang agama selama 10 menit. Begitu juga kalau mereka berpapasan di dalam lift. ''Tapi, tekad saya sudah bulat untuk memeluk Islam. Ya, semua itu tidak saya gubris. Akhirnya, lama-lama penginjil tersebut berhenti juga,'' ujarnya.

Meski sudah resmi memeluk Islam, Ana tidak lantas memberitahukan perihal tersebut kepada kedua orang tuanya yang pada saat itu tinggal di luar negeri. Ayahnya merupakan seorang pemeluk Islam, sedangkan ibunya seorang penganut Katolik. Namun, tidak adanya bimbingan agama yang jelas dari kedua orang tuanya membuat Ana harus memutuskan sendiri agamanya. Waktu itu, ia pun mengikuti agama ibunya hingga beranjak dewasa.

Perihal kepindahannya ke Islam, lanjutnya, baru diketahui sang bunda dari salah seorang temannya. ''Saya bilang ke beliau, ini pilihan saya dan ternyata ibu oke-oke saja. Meski orang tua berbeda (keyakinan), mereka mendukung setiap pilihan anaknya. Mereka paham ini sangat pribadi,'' tuturnya.

Dicurigai keluarga
Guna memperdalam pengetahuannya mengenai Islam, selain banyak membaca, ia juga mencari guru yang bisa membimbing dan mengajarinya. Untuk mendapatkan guru yang cocok, ungkapnya, butuh waktu yang cukup lama. Setelah bergonta-ganti guru, baru pada tahun 2001 ia menemukan seseorang yang dianggapnya cocok menjadi guru spiritualnya. ''Pada dasarnya, saya ini orang yang penasaran dan tidak pernah puas dengan satu jawaban.''

Sang guru banyak membimbingnya dan mengajarkannya bahwa kehidupan spiritual Islam laiknya sebuah samudra. ''Ketika menyelami samudra itu, kamu akan melihat betapa banyak yang akan dipelajari. Dan, kamu tidak akan bisa mempelajari semua itu walaupun sepanjang hidup kamu. Jadi, pelan-pelan saja, nikmati dan syukuri apa yang kamu ketahui,'' begitulah petuah sang guru. Falsafah itulah yang hingga kini dijadikan pegangan oleh Ana ketika mendalami Islam.

Kedekatannya dengan sang guru spiritual ini, diakui Ana, sempat membuat hubungannya dengan keluarga menjadi renggang. Hal ini bermula ketika ia kerap mengikuti pengajian sang guru hingga dini hari dan tak jarang pula ia mengikuti pengajian tersebut hingga ke luar kota. Ditambah lagi, pada saat itu sedang merebak isu kelompok NII (Negara Islam Indonesia).

''Karena pengajiannya di daerah tertentu, saya pulang pagi. Kalau pengajiannya di luar kota, pasti diadakan di daerah Puncak, Bogor. Maka itu, kemudian keluarga saya, terutama ibu, mencurigai saya ikut NII,'' ujarnya. Namun, kecurigaan keluarganya tersebut lambat laun sirna.

Kendati sang guru pernah dicurigai keluarga besarnya, ia mensyukuri karena oleh Allah SWT dipertemukan oleh beliau. Pasalnya, dari sang guru inilah ia banyak belajar mengenai arti syukur dan menghargai semua yang telah Allah berikan kepadanya. ''Saya itu dulu tipe orang yang selalu mengeluh dengan apa yang ada di sekeliling saya,'' tukasnya.

Dengan memeluk agama Islam, tambah Ana, ia juga belajar untuk lebih bisa berserah diri dan tawakal. Dengan begitu, menurutnya, ia menjadi jauh lebih tenang dalam menjalani kehidupannya. ''Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya perusahaan yang baru mau saya rintis kok belum mendapat klien. Kalau kita tidak yakin dan tawakal, gelisahnya pasti luar biasa, itu yang saya dapat dari Islam.''

Hingga kini, ia masih terus berusaha untuk bisa memanifestasikan sebagian dari Asmaul Husna (Nama-nama Allh yang baik) dalam dirinya. Selain itu, ia juga masih mempelajari apa tujuan seorang manusia diciptakan di muka bumi ini. ''Kalau dibilang, manusia adalah khalifah di bumi dan mereka punya misi tertentu. Itu yang saya tanyakan apa misi saya dilahirkan di bumi ini.'' nidia zurya


Biodata

Nama : Tatiana SP Basuki
TTL : Klaten, Jawa Tengah, 20 Maret
Masuk Islam : 6 Juni 1995
Pekerjaan
- Direktur dan Psikolog Utama pada Firma Konsultasi Psikologis PT Nuage Personalis Konsultan
- Aktif sebagai psikolog pada Komite Nasional Lansia (Komnas Lansia) sejak November 2008 sampai sekarang
- Aktif sebagai psikolog pada Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YDGI) sejak November 2008 sampai sekarang
- Sebagai Ko-Terapis untuk Dr Adriana Ginanjar sejak Oktober 2008 sampai sekarang

By Republika Newsroom
Senin, 13 April 2009 pukul 11:28:00

Kamis, 07 Mei 2009

Hadja Lahbib Aman dalam Lindungan-Nya di Afganistan


Seorang jurnalis adakalanya harus berada di zona berbahaya untuk meliput atau mengabadikan momen-momen berharga. Itulah yang dijalani seorang jurnalis perempuan asal Belgia keturunan Aljazair, Hadja Lahbib.

Dia sudah 12 kali berkunjung ke Afganistan, keluar masuk daerah perbatasan Pakistan-Afganistan dan pedalaman negeri ini (Afganistan -red). ''Terus berpindah-pindah hingga ke India,'' tuturnya kepada harian Sharq Awsat, Kamis (27/4).

Meskipun Lahbib lahir dan besar di Belgia, berbudaya Belgia, berbicara bahasa Perancis dan Inggris, serta jarang bersentuhan dengan budaya Arab, namun identitas kearaban dan keislamannya masih tetap kental.

Tawa Lahbib langsung lepas ketika ditanya siapa yang melindunginya dari kelompok garis keras yang bisa mengancam jiwanya. Ia menjawab, ''Saudaraku, saya memang tidak dilindungi polisi atau body guard, tetapi Allah selalu melindungiku. Saya telah menjelajah ke berbagai kawasan berbahaya tanpa seorang pengawal-pun. Alhamdulillah, Allah menjaga saya karena saya beriman kepada-Nya,'' urainya.

Sekian lama bersama masyarakat Afganistan, aku Lahbib, dirinya tidak pernah mendapatkan gangguan atau perlakuan buruk. ''Kalaupun suatu saat ada musibah menimpa saya, itu sudah takdir Allah,'' ungkap Lahbib.

Alumnus Universitas Brussel jurusan jurnalistik ini, pertama kali melakukan tugas jurnalistik di Afganistan pada tahun 2001, yakni setelah jatuhnya rezim Taliban. Ia adalah wartawan stasiun televisi Belgia, RBTF.

Profesionalitas kerja dan keberanian Lahbib di area panas diakui oleh para koleganya. Aksi perang yang ia liput selalu membuat jantung berdebar dan darah mengalir kencang. Di usianya yang ke-38 tahun ini, ia telah membuat karya-karya jurnalistik yang luar biasa.

Tugas jurnalistik Lahbib di Afganistan berakhir pada Desember 2001. Akan tetapi, kerinduannya kepada negara itu membawanya kembali dan kembali lagi hingga 12 kali.

Berbagai fenomena di Afganistan berhasil ia abadikan dan publikasikan kepada dunia. Mulai rekonstruksi Afganistan, proses demokratisasi, hingga tradisi dan kebiasaan masyarakat Afganistan ia kemas dalam laporan yang apik.

Karyanya yang cukup fenomenal adalah film dokumenter bertema Afganistan, dan Kebebasan Kaum Perempuan yang dipublikasikan pada 2007. Film ini terpilih sebagai film terbaik dalam festival film Eropa tahun 2007.

Soal bagaimana cara terbaik bisa selamat selama di Afganistan, Lahbib menyerukan khususnya kepada para jurnalis untuk selalu dekat dengan masyarakat dan bersikap sewajarnya. Selama berada di Afganistan, dia tidak menginap di hotel, tetapi di rumah-rumah penduduk.

''Saya pun mendapatkan kemudahan dibandingkan jurnalis lain. Bahkan saya dapat bertemu dengan Bibi Aisyah, panglima perang perempuan ketika melawan Rusia,'' lanjut Lahbib.

Dia masih terkenang pertemuannya dengan Bibi Aisyah. Ceritanya, begitu mendapat cukup informasi tentang Bibi, dia pun meluncur ke ujung utara Afganistan, di daerah Buglan, perbatasan Kunduz dan Barwan.

''Saat sampai di desa yang saya tuju, saya melihat Bibi Aisyah sedang duduk dikelilingi para pejuang yang siap tempur setiap saat. Ia seorang yang sungguh berwibawa. Tokoh yang dimitoskan oleh masyarakat sekitar. Semua yang dia ucapkan diikuti oleh pengikutnya,'' kata Lahbib.

Dari fenomena itu, Lahbib ingin menyajikan tayangan seputar masyarakat Afganistan dari sisi yang lain. Tidak semua perempuan Muslim di negara itu dikekang dari aktivitas sehari-hari.

Bibi Aisyah adalah contoh bagaimana seorang perempuan Muslimah menjadi panglima perang melawan penjajah, di tengah pandangan miring masyarakat Barat terhadap sistem sosial keagamaan di Afganistan yang dinilai mendiskreditkan kaum perempuan. rid/taq


By Republika Newsroom
Senin, 04 Mei 2009 pukul 15:32:00

Aku Akan Menuju Surga


Rabu, 21 Mei 2008 @ 16:18:26
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi


Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,”Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah?” Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.

“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati. Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih.

Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka. Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah ’mukhlishiina lahudiini’ hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.

Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang? Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu.

Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.

Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah.

Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.

Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li’illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad. Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.” Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara.

Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut.

Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan.

Belanda “Kiblat” Islam di Eropa


Minggu, 08 Juni 2008 @ 08:51:05

Hari demi hari, komuitas muslim di Belanda mampu menghadapi beragam tindakan pelecehan dan penodaan terhadap agama Islam dengan dewasa. Boleh jadi kaum muslimin di sana berhak mendapat gelar ”Mujaddid Islam Di Eropa”. Mereka menolak film ”Fitna” dengan cara-cara simpatik dan kerja nyata. Mereka patut menjadi contoh bagi komunitas muslim di Eropa yang lain dalam membela Islam.

Penolakan dengan bukti nyata dan cara yang simpatik dari komunitas muslim di Belanda atas pelecehan itu, menjadikan mayoritas warga Belanda bersimpati terhadap muslim Belanda dan turut membela kesucian agama Islam dan menentang film ”Fitna”.

Ini dibuktikan oleh dua Universitas Di Belanda (Groningen University dan satu Universitas lagi) yang memfasilitasi tempat bagi mahasiswa muslim untuk menunaikan shalat. Managemen dua Universitas ini menegaskan menghormati semua agama. Bahkan dua Universitas ini secara khusus menetapkan waktu bagi mahasiswa muslim untuk melaksanakan shalat Jum’at, mencontoh yang berjalan di negara-negara Islam.

Muslim Belanda mengadakan beragam kegiatan ke-Islaman, seperti diskusi ilmiyah, dialog terbuka dengan ilmuwan, praktisi media Belanda, menjelaskan kepada mereka bahwa Al Qur’an merupakan kitab yang berisi ibadah dan hidayah.

Sebagaimana ”Organisasi Pemimpin” di Belanda menyerukan kepada seluruh umat Islam di Belanda untuk tidak berbuat anarkis dan kriminal atas pelecehan yang ada. Karena respon yang anarkis itulah yang diinginkan oleh pelaku fitnah dan pelesehan.

Sebuah tabloit di Belanda menyebutkan bahwa apa yang dikehendaki pembuat film ”Fitna” tidak terjadi, bahkan umat Islam merespon dengan dewasa, sehingga menjadikan warga Belanda menyerbu perpustakaan dan toko di Amsterdam. Warga Belanda membeli mushhaf Al Qur’an elektronik yang diterjemahkan dalam bahasa Belanda dalam jumlah besar. Bahkan di pasaran stok mushhaf itu habis.

Komunitas Muslim di Belanda menyadari bahwa Belanda adalah ” Negeri Sejuta Muslim”. Di mana jumlah umat Islam di sana terus bertambah dan penganutnya terkenal taat dengan ajaran agamanya secara baik dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya.

Di Belanda, Jumlah muslim yang taat beragama sekitar 30% dari total jumlah penganut ajaran agama yang taat lainnya. Padahal statistik resmi mengisyaratkan bahwa jumlah umat Islam hanya 5% saja dari total jumlah penduduk. Menempati urutan keempat setelah Kristen Protestan 23%, Katolik 32% dan kelompok yang tidak menganut ideolagi apapun sebesar 38%.

Pada tahu 1947 warga negara Indonesia dan Suriname yang beragama Islam masuk ke Belanda. Pada akhir tahun enam puluhan dan awal tahun tujuh puluhan banyak pekerja dari Turki dan Maghrib yang masuk ke Belanda.

Komunitas Turki di Belanda paling besar jumlahnya, mencapai 310 ribu penduduk, berikutnya komunitas Maghrib 277 ribu warga, Suriname 60 ribu. Selebihnya dari Irak, Somalia, Pakistan, Mesir, Suria, Ethiopia, Negeria. Mayoritas mereka menganut ahlus sunnah.

Orang Belanda mengatakan bahwa negeri mereka adalah ”Pintu Gerbang Eropa”, karena posisi strategis dan peranan penting yang dimainkan oleh negeri ini. Banyak gereja-gereja yang dijual kepada umat Islam dan berubah fungsi menjadi masjid dan tempat ibadah.

Di awal komunitas muslim bermukim di Belanda, mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan baik, yang menjadikan warga setempat menghormati keyakinan umat Islam. Umat Islam mulai membangun tempat ibadah, diperbolehkan kumandang Adzan dengan pengeras suara meskipun sekali dalam seminggu.

Sebagaimana juga komunitas muslim mendirikan tempat pemotongan hewan sebanyak lima ratus tempat, praktek penyembelihan dengan cara-cara syariah, terutama pada musim kurban.
Sebagimana perusahaan-perusahaan dan tempat-tempat yang memperkerjakan umat Islam memberi kesempatan ibadah shalat, shaum Ramadhan, liburan khusus hari raya, memfasilitasi tempat shalat dan menjaga makanan yang halal.

Shalat Isya’ bagi warga Belanda terbilang cukup sulit, terutama akhir bulan Mei sampai awal Agustus setiap tahunnya. Di mana Belanda merupakan negeri yang terletak di bagian negara-negara yang matahari tidak tenggelam kecuali hanya sebentar saja. Yaitu jeda antara waktu Shalat Isya’ dan shalat subuh kurang dari empat puluh menit saja. Bahkan kadang fajar sudah terbit sebelum tenggelamnya syafaq (batas selesai waktu shalat Isya’). Hampir mustahil menunaikan shalat Isya’ bagi yang tinggal di ujung Utara.

Tambah sulit ketika ibadah shaum Ramadhan musim Panas. Yaitu sulit menunggu shalat Isya’ kemudian shalat tarawih kemudian langsung sahur pada waktu yang sangat singkat. Kadang kurang dari dua puluh menit saja. Berbeda dengan jeda antara shalat Maghrib dan Isya’ bisa berjam-jam. (it/ut)

Aku Bersama Kitabullah


Minggu, 08 Juni 2008 @ 08:58:53
Oleh: Aidil Heryana, S.Sos


“Aku bukan ulama, aku seorang politisi dan aku melakukan apa yang dilakukan oleh seorang politisi, yaitu mengesahkan undang-undang untuk membantu bangsa ini,” kata Keith mengomentari pernyataan-pernyataan miring terhadap dirinya.

Keputusan Keith Ellison untuk menggunakan kitab suci sesuai agama yang dianutnya menimbulkan kritik dan protes dari banyak pihak yang meyakini tak ada lagi kitab suci lainnya yang dapat digunakan dalam sumpah pelantikan anggota Kongres selain kitab suci agama mayoritas penduduk Amerika (Serikat).

“Inilah kitab suci yang aku baca setiap hari! Kitab yang mengilhamiku,” ujar Keith, yang memeluk agama Islam dari sebelumnya Katolik saat masih mahasiswa. Keinginannya disumpah dengan Al-Qur’an yang diumumkan menyusul kemenangannya pada Nopember lalu memicu kontroversi, terutama dari kalangan konservatif dan sejumlah komentator.

Keith Ellison, seorang muslim Amerika Afrika membuat kejutan dalam kancah perpolitikan Amerika. Di tengah penatnya kebijakan anti-Islam Presiden George W. Bush yang sudah tidak populis di mata rakyatnya sekarang. Rakyat Amerika telah dibuai Bush dengan isu terorisme internasional yang didalangi oleh Islam. Sehingga Islam tersudutkan dengan stigmatisasi agama kekerasan. Di tengah situasi seperti itu, Keith Ellison yang memeluk Islam saat menjadi mahasiswa muncul selaku anggota Kongres AS pertama yang beragama Islam, pada pemilihan anggota Kongres Amerika November lalu.

Kemunculannya pada pemilu kemarin melalui Partai Demokrat telah membuat banyak pihak terperanjat. Betapa tidak! Ellison muncul saat masyarakatnya dibuai propaganda anti Islam yang sangat negatif. Belum pernah terjadi sejak Amerika merdeka 200 tahun lalu, udara phobia Islam menyelubungi negara itu dan dunia dibandingkan dengan saat berkuasanya Bush yang melancarkan perang terhadap Afghanistan dan Iraq.

Seruan Bush untuk menghidupkan ‘crusade’ selepas peristiwa 11 September 2001 memunculkan rasa kebencian terhadap Islam hingga ada kuturunan Sikh di Amerika dibunuh karena disangka Islam lantaran dia bersurban. Berturut-turut terjadi serentetan black propaganda dilancarkan seperti karikatur Nabi Muhammad saw. oleh koran Denmark dan terakhir apa yang ditudingkan Paus Benedict tentang perkataan raja Konstantine prihal Nabi Muhammad saw sebagai pembawa agama kekerasan.

Apakah hal itu disengaja atau kebetulan saja, semuanya yang jelas telah menyulut api phobia orang kulit putih tentang Islam terutama di Amerika. Api kemarahan terhadap upaya memperkaya uranium oleh Iran di kalangan Amerika dan Eropa sebenarnya juga berangkat dari semangat anti-Islam itu.

Dalam suasana campur aduk antara phobia Islam dan kemarahan Bush itulah Keith Ellison tampil dalam kampanye untuk calon bagi Partai Demokrat pada pemilihan anggota Kongres. Dia seorang Amerika Afrika dan beragama Islam. Kemunculannya lebih menonjolkan sosok Islamnya.

Sikap Partai Demokrat sejak semula lebih terbuka dalam isu kelompok dan agama dibandingkan Partai Republik. Walaupun ada orang kulit hitam yang berkiprah di kongres dan politik Amerika, sudah barang tentu itu bukanlah suatu yang mudah. Penerimaan terhadap orang kulit hitam itu lebih mudah jika dibandingkan dengan orang yang beragama Islam.

Berbeda dengan Keith dia berhasil menjadi calon partai itu untuk pemilihan anggota Kongres. Isu Islam kian mengental dalam kampanye pemilihan angota Kongres itu. Anehnya calon dari kalangan Yahudi tidak menjadi isu sejak sekian lama, baru sekali ini seorang Islam menjadi calon, tetapi menimbulkan reaksi yang keras.

Selanjutnya Keith membuat kejutan, dia menjadi muslim pertama dari Partai Demokrat asal Minnesota. “Aku seperti mimpi menjadi salah satu dari 435 anggota Kongres yang baru di sebuah Negara yang mayoritas Nasrani.” Ujar Keith saat usai pelantikan anggota legislatif November lalu.

Kalau Partai Demokrat menerima dia sebagai seorang muslim, maka rakyat Amerikapun di daerah pemilihannya memilihnya meski dia orang Islam. Tidak kecuali warga kulit putih, Protestan, Katholik bahkan Yahudi tidak menghalangi memilih seorang calon beragama Islam.

Hal itu lebih dikarenakan kekesalan rakyat atas kepala batunya Bush, pengaruh antiperang dan kejenuhan atas propaganda yang mengatasnamakan anti terorisme yang sebenarnya anti-Islam. Pengaruh anti-Bush itu lebih menonjol dibanding phobia terhadap Islam.

Sebagai seorang muslim ada keinginan luhur yang terpendam. Sebuah keinginan sederhana yang muncul begitu saja saat dirinya yakin akan tampil sebagai public figure, yakni ingin menyemai Islam di negerinya! Ingin menepis tudingan miring terhadap Islam yang dianutnya. Dia seakan ingin mengatakan kepada Amerika! Kepada dunia internasional tentang Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Inilah kitab suci yang aku baca setiap hari! Kitab yang mengilhamiku,” ujar Keith mantab.

Tidak pernah ada dalam sejarah Kongres sejak merdeka dan sejak Amerika didirikan, seorang angota Kongres menggunakan kitab lain selain Bible sewaktu mengangkat sumpah. Banyak orang Yahudi menjadi anggota Kongres tetapi mereka tidak menggunakan kitab sucinya. Tetapi mengapa ada seorang Islam ini mesti menggunakan Al-Qur’an?

Keith Ellison berdalih, Islam adalah agamanya, maka dia mesti menggunakan kitab suci agamanya. Yahudi tidak menggunakan kitabnya masalahnya adalah ketika Kongres pertama kali didirikan, rakyat masih dipengaruhi rasa anti-Sematik yaitu anti-Yahudi. Baru sesudah usai perang dunia kedua anti-Sematik itu reda.

Bagi Yahudi menyembunyikan isu agama itu jauh lebih penting sebagai upaya untuk mengusai rakyat, ekonomi, politik, militer dan sebagainya. Seandainya mereka ngotot ingin menggunakan kitabnya, boleh jadi memunculkan kembali semangat anti-Sematik.

Meski mengaku sebagai negara paling demokratis dan menghormati hak asasi manusia, pada kenyataannya masih banyak pejabat AS yang kerap melontarkan pernyataan yang tidak demokratis, bahkan terkesan paranoid, khususnya terkait dengan Islam dan umat Islam.

Baru-baru ini, seorang anggota legislatif AS, Virgil Goode mengatakan bahwa terpilihnya Keith Ellison, warga Muslim pertama AS yang berhasil menjadi anggota senat, membahayakan “nilai-nilai dan keyakinan tradisional AS.” Pernyataan itu disampaikan dalam surat Goode kepada seorang rekannya.

Virgil Goode, salah satu anggota Kongres yang menentang permintaan Ellison, mengatakan, keinginan politikus 43 tahun itu tidak sesuai dengan tradisi AS. Karena itu, dia berusaha menggagalkan keinginan Ellison tersebut dengan menggalang dukungan dari anggota-anggota Kongres yang lain. Menurut dia, Ellison tetap harus menjalani upacara pelantikan dan mengikrarkan sumpahnya melalui cara yang sama dengan anggota-anggota Kongres yang lain.

Dalam surat yang ditujukan kepada para konstituennya, Goode menyatakan kekhawatirannya atas pengaruh budaya imigran terhadap nilai-nilai tradisi AS. “Jika kita tidak menerapkan kebijakan imigrasi yang ketat, saya khawatir tradisi AS akan terkikis dengan lebih banyaknya Muslim yang tinggal di negeri ini pada abad mendatang. Karena itu, kita perlu melindungi tradisi yang ada,” papar Goode dalam suratnya.

Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai pernyataan itu merupakan sikap tidak toleran yang seharusnya tidak ditunjukkan oleh orang yang sudah terpilih sebagai perwakilan publik. Dalam pernyataan resminya, Direktur Legislasi Nasional CAIR, Corey Saylor mengatakan, tidak ada alasan yang bisa diterima atas pernyataan tersebut.

“Perwakilan dari Minnesota yang kebetulan seorang Muslim dipilih oleh para pemilih di distrik tersebut. Jika warga Amerika sadar dan tidak mengadopsi sikap Goode terhadap masalah imigrasi, rasanya akan lebih banyak lagi warga Muslim yang akan terpilih dan meminta agar Al-Qur’an digunakan dalam acara pengambilan sumpah,” kata Saylor.

Saylor menyatakan hal itu, karena Goode adalah orang yang menginginkan untuk menghentikan secara total masuknya imigran ilegal dan mengurangi masuknya imigran legal ke AS.

“Saya takut di abad mendatang kita akan memiliki lebih banyak lagi warga Muslim di AS, jika kita tidak memberlakukan kebijakan imigrasi yang ketat. Saya meyakini sangat penting untuk menjaga nilai-nilai dan keyakinan tradisional di AS dan mencegah agar sumber-sumber daya kita tidak tenggelam,” tukas Goode.

Saat ini ada sekitar enam sampai tujuh juta warga Muslim di AS, atau kurang dari 3 persen dari 300 juta jumlah total penduduk AS.

Sebelum Goode, pejabat AS lainnya, anggota United States Holocaust Memorial Council, Dennis Prager, menyebut keinginan Ellison agar disumpah dengan Al-Qur’an dalam acara pelantikannya sebagai anggota senat, sebagai tindakan yang “merongrong peradaban AS.”

Bagaimana mereka bisa menuduhku seperti itu? Padahal aku bukan imigran. Aku adalah orang Amerika-Afrika,” tegas Keith. Ia menyatakan, nenek moyangnya sudah tinggal di AS sejak 1742.

“Aku akan menunjukkan padanya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Faktanya, ada banyak keyakinan yang berbeda-beda, banyak warna yang berbeda dan banyak budaya yang berbeda di AS, menjadi kekuatan yang hebat,” tegas Keith lagi. Dan ternyata sikapku juga banyak yang mendukung tidak kalah dukungan datang dari seorang pengurus Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai pernyataan itu merupakan sikap tidak toleran yang seharusnya tidak ditunjukkan oleh orang yang sudah terpilih sebagai perwakilan publik. Dalam pernyataan resminya, Direktur Legislasi Nasional CAIR, Corey Saylor mengatakan, tidak ada alasan yang bisa diterima atas pernyataan tersebut.

“Perwakilan dari Minnesota yang kebetulan seorang Muslim dipilih oleh para pemilih di distrik tersebut. Jika warga Amerika sadar dan tidak mengadopsi sikap Goode terhadap masalah imigrasi, rasanya akan lebih banyak lagi warga Muslim yang akan terpilih dan meminta agar Al-Qur’an digunakan dalam acara pengambilan sumpah,” kata Saylor.

Saylor menyatakan hal itu, karena Goode adalah orang yang menginginkan untuk menghentikan secara total masuknya imigran ilegal dan mengurangi masuknya imigran legal ke AS.

Anggota legislatif lainnya, Bill Pascell Jr dalam suratnya pada Goode menyatakan kecewa termasuk pada surat yang ditulis oleh konstituen Goode yang memberikan komentar miring soal keinginan Ellison disumpah dengan Al-Qur’an.

Pascell mengatakan, konstitusi AS melarang menyinggung hal-hal yang berbau agama di antara anggota Kongres. Penggunaan Injil atau Al-Qur’an hanya dilakukan dalam event-event bersifat terbatas yang dilakukan setelah anggota legislatif secara resmi diambil sumpahnya.

“Keith Ellison adalah contoh warga Muslim AS yang paling baik dan dia tidak perlu menjawab pada Anda, pada saya atau siapa pun terkait dengan keyakinannya,” kata Pascell.

Ia meminta Goode untuk merangkul warga Muslim di Virginia, daerah pemilihannya dan belajar untuk “membuang jauh-jauh pandangan-pandangan yang salah daripada mencuatkannya ke permukaan.”

“Saya menunggu untuk bersahabat dengan Goode, atau paling tidak lebih mengenalnya,” sambung Ellison yang sejak terpilih menjadi anggota senat sering menerima pesan dan telepon berisi ancaman akan dibunuh.

“Saya akan menunjukkan padanya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Faktanya, ada banyak keyakinan yang berbeda-beda, banyak warna yang berbeda dan banyak budaya yang berbeda di AS, menjadi kekuatan yang hebat,” tegas Ellison lagi.

Keith Ellison cuma ingin melihat sesuatu yang perlu dilengkapi pada masyarakatnya, pada negaranya yang dicintai. Yaitu sebuah kehidupan religius. Kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan. Selama ini nuansa itu seakan hilang dari kehidupan masyarakatnya. Mereka tenggelam dalam semangat sekularistik.

Keith menilai upacara pelantikan anggota Kongres kurang religius. Biasanya, anggota Kongres yang disumpah bebas memilih untuk menempatkan tangan mereka di atas Alkitab, Kitab Taurat ataupun Kitab Mormon. “Saya rasa, belum pernah ada upacara pengambilan sumpah yang secara serius memperhatikan teks-teks religius yang tertulis dalam kitab tersebut. Karena itu, marilah kita mulai memusatkan perhatian pada teks-teks religius yang bisa mempersatukan kita,” serunya.

Walau bagaimanapun kemauan Keith dapat dibenarkan. Dia tidak menggunakan naskah Al-Qur’an tetapi dia bersumpah dengan terjemahan Al-Qur’an koleksi Thomas Jefferson, Presiden Amerika yang ketiga yang tersimpan dalam perpustakaan Kongres.

“Nanti, dalam upacara pelantikan pribadi, aku akan mengucapkan sumpah sambil meletakkan tanganku di atas kitab suci yang menjadi dasar keyakinanku, yakni Islam. Perbedaan yang ada di negara kita adalah sesuatu yang agung. Kita harus merengkuh perbedaan itu. Tidak perlu takut,” papar tokoh Demokrat asal Minnesota itu. []

Mengingat Mati


By Republika Newsroom
Jumat, 09 Januari 2009 pukul 08:32:00


Rasulullah SAW bersabda, ''Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.''

Ada seorang teman yang sangat rajin beribadah. Shalatnya tak lepas dari linang air mata, tahajud tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya pun diajak pula berjamaah di masjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Di antara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan doa-doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya pun berkenan melunasi utang teman tersebut. Sayangnya, begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kalau kehilangan shalat tahajud ia sedih bukan main. Tapi, lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadwal tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah.

Begitu pun untuk shalat sunah, biasanya ketika masuk masjid shalat sunah tahiyatul masjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. Saat akan shalat sunah rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majelis taklim yang biasanya rutin dilakukan, majelis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang.

Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan kekuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.

Sahabat, sahalus-halus kehinaan di sisi Allah adalah tercerabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada Allah, bahkan justru maksiat pun sudah mulai dilakukan, bahkan yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama Allah Azza wa Jalla. Pantaslah bila Imam Ibnu Athaillah pernah berujar, ''Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tanpa tersisa.'' Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah permainkan nikmat iman di hati ini.

Kalau ibadah sudah tercerabut satu persatu, maka inilah tanda mulai tercerabutnya hidayah dari-Nya. Akibat selanjutnya mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada Allah. Inilah yang disebut su'ul khatimah (jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau berakhir tragis seperti ini.

Bila kita merenungi kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat diambil darinya adalah jika kita sedang berbuat kurang bermanfaat bahkan zalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah mengingat mati. Bagaimana kalau tiba-tiba kita mati, padahal kita sedang maksiat? Tidak takutkah kita mati suul khatimah?. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar dalam memelihara iman di hati. Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah SAW ke luar menuju masjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yang sedang tertawa-tawa. Maka beliau bersabda, ''Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.''

Mengingat mati akan membuat kita seakan punya rem dari berbuat dosa. Akibatnya di mana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. Kalau kita melihat para arifin dan salafus shalih, mengingat mati bagi mereka, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Di mana seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah ra bahwa ketika kematian menjemputnya ia berkata, ''Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu.'' Semoga kita digolongkan Allah SWT menjadi orang yang beroleh karunia khusnul khatimah. Amin. Wallahu a'lam bish-shawab. KH Adullah Gymnasiar/dokrep/Maret 2004

Franck Ribery: Islam Sumber Kekuatan Saya



By Republika Newsroom
Minggu, 03 Mei 2009 pukul 20:23:00


Ia dikenal sebagai pribadi yang santun, rendah hati, dan rajin melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan pada kondisi apa pun.

Bagi penggemar sepak bola dunia, tentu sudah tak asing dengan nama Franck Ribery, gelandang serang asal Prancis yang kini bermain di klub raksasa Bundesliga (Jerman), Bayern Muenchen.

Begitu juga, dengan mantan pemain terbaik dunia asal Prancis, Zinedine Zidane, Nicholas Anelka (Chelsea/Prancis), Frederik Kanoute (Sevilla/Mali), Khalid Bouhlahrouz (Sevilla), Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan/Swedia), Eric Abidal (Barcelona/Prancis), Kolo Toure (Chelsea), dan Yaya Toure (Barcelona). Mereka adalah pemain sepak bola yang beragama Islam dan menjadi andalan klub maupun negaranya masing-masing.

Berbeda dengan pesepak bola Muslim lainnya, yang lebih dulu memeluk Islam, Franck Ribery justru memeluk Islam setelah bermain di klub asal Turki, Galatasaray, pada 2005. Secara singkat, Ribery mengatakan, dia memilih ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini karena menemukan kedamaian dalam Islam.

Baginya, Islam adalah sumber kekuatan dan keselamatan. ''Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepak bola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan dan saya menemukan Islam,'' kata Ribery.

Senantiasa berdoa
Pesepak bola bermata biru yang memperkuat tim Prancis itu memulai karier sepak bolanya, dengan bergabung dengan tim Boulogne di tanah kelahirannya. Kemudian, ia pindah ke tim Ales, Brest and FC Metz.

Kepindahannya ke Olympique Marseille membawanya ke posisi pertama bintang sepak bola Prancis paling populer pada bulan Agustus, Oktober, dan November 2005. Ribery terpilih untuk memperkuat tim Prancis pada Piala Dunia FIFA tahun 2006 yang digelar di Jerman.

Pada 2006 itulah, jati diri Ribery yang telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam terkuak dan menjadi pemberitaan di tengah pertandingan pembukaan antara tim Prancis melawan tim Swiss saat acara Piala Dunia 2006.

Ketika itu, Ribery tersorot publik tengah menengadahkan tangan sebelum pertandingan dimulai. Ribery tengah berdoa, seperti yang dilakukan seorang Muslim. Saat itulah, banyak orang terkaget-kaget dengan sikapnya. Namun, berkat kecemerlangannya dalam bermain bola, publik pun tak menghiraukan perilaku dan kebiasaan Ribery.

Namun, rutinitas berdoa sebelum pertandingan itu akhirnya terkuak juga. Dan, Ribery mengaku sebagai penganut Islam. Ia menemukan kedamaian dalam agama Islam dan menjadi spiritnya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tak terkecuali saat bermain bola.

Kabar Ribery masuk Islam, menyeruak sejak awal tahun 2006. Kabar itu mula-mula dilansir L'Express. Majalah ini menyebut adanya pemain nasional Prancis yang secara teratur beribadah di masjid di selatan Marseille. Mingguan itu tidak menyebut nama secara eksplisit, namun yang dimaksud adalah Ribery.

Kendati aksi berdoanya di lapangan hijau telah menarik perhatian publik Prancis, Ribery tetap enggan mengemukakan keyakinan barunya itu secara terbuka. Gelandang kanan klub Olympique Marseille ini mengatakan, keimanan barunya adalah perkara pribadi, tak perlu publikasi.

Alhasil, sejumlah spekulasi pun bermunculan. Ada yang menyebut perubahan itu terjadi sejak Ribery bermain bersama klub Galatasaray pada 2005. Ia membantu klub raksasa Turki tersebut memenangi Piala Turki pada tahun 2005. Semasa menetap di Turki, pemain kelahiran Boulogne-sur-Mer, Prancis, 7 April 1983, ini dikabarkan kerap berbaur dan berdiskusi dengan komunitas Muslim di sana.

Ada pula yang menyebut istri Ribery, Wahiba Belhami, yang asli Maroko itu memainkan peran penting terhadap perubahan Ribery. Ribery memang setahun tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Di sana, Ribery berkenalan dengan Wahiba yang kemudian ia peristri. Konon Wahiba berperan besar menuntun Ribery mengenal ajaran Islam. Dari pernikahan tersebut, Wahiba memberinya dua anak, Hizsya dan Shahinez.

Kedua versi itu tak pernah dibantah atau dibenarkan oleh Ribery. Namun, kepada majalah Paris Match, ia mengungkapkan, Islam telah membawanya pada keselamatan.

''Islam juga yang menjadi sumber kekuatan saya di dalam maupun di luar lapangan," ujar Ribery kepada majalah Match tanpa menjelaskan sejak kapan memeluk Islam. Ia menambahkan, ''Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Akhirnya, saya menemukan Islam.''

Tidak pernah tinggalkan shalat
Keimanan dan kepribadian Ribery sebagai seorang Muslim tampaknya tak perlu diragukan. Di tengah padatnya jadwal pertandingan, bapak dua anak ini tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai Muslim. Ia senantiasa melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Baginya, shalat merupakan tiang agama yang harus ditegakkan.

Selain rajin melaksanakan shalat, Ribery juga dikenal sebagai pribadi yang santun dan rendah hati. Islam benar-benar telah mengubah perangainya yang keras dan arogan menjadi seorang pribadi yang santun dan memiliki akhlak mulia.

Sifat dan akhlaknya ini tak heran membuat kagum rekan-rekannya di timnas Prancis, FC Bayern Muenchen (tempat ia bermain bola saat ini), maupun kerabatnya.

Steve Bradore dari Organisasi Syuhada, yang melayani para mualaf Prancis, telah mengatakan bahwa muslim Prancis merasa bangga sekali dengan Ribery. ''Dia adalah sumber kebanggaan kami karena penampilannya yang khas dan kerendahhatiannya,'' kata Steve, seperti dikutip dari situs Islamonline.net.

Saat ini, Ribery membela klub sepak bola Jerman, FC Bayern Muenchen. Di Bayern Muenchen, ia menempati posisi sebagai pemain gelandang. Kontrak Ribery bersama 'FC Hollywood'--julukan Bayern Muenchen--akan berakhir pada 2011.

Ribery termasuk pesepak bola sukses. Di usianya yang baru 26 tahun, dia sudah mengoleksi berbagai gelar. Antara lain, satu gelar Fortis Piala Turki bersama Galatasaray di musim 2004/2005, Piala Intertoto bersama Olympique Marseille di tahun 2005, Piala Liga Jerman bersama Bayern Muenchen di tahun 2007, Piala Jerman dan Bundesliga Jerman di tahun 2008. Selain itu, penghargaan Pemain Terbaik Prancis di tahun 2007 dan 2008, juga pesepak bola Jerman terbaik di tahun 2008. sya/dia/berbagai sumber

Franck Ribery yang lahir di Boulogne-sur-Mer, Perancis, 7 April 1983
memiliki tinggi badan 175 cm. Sebelum bermain di FC Bayern Muenchen, Jerman, pemain yang beroperasi sebagai gelandang serang ini berkarir di klub US Boulogne (2001-2002), Olympique Ales (2002-2003), Stade Brestois 29 (2003-2004), FC Metz (2004), Galatasaray (2005), dan Olympique Marseille (2005-2007).

Raja Bavaria

Di lapangan, ia hebat. Dalam kehidupan sosial, ia berkepribadian hangat. Sebagai individu, ia pun rajin salat. Franck Ribery adalah figur kesayangan publik Allianz Arena saat ini.

Bayern Munich selalu dihuni pemain berlabel bintang, tapi yang paling menonjol tergantung waktu dan kesempatan. Duet striker Miroslav Klose dan Luca Toni boleh menyita perhatian lewat produktivitas golnya, tapi Ribery amat menonjol dalam hal kreasi permainan di lapangan tengah.

Tidak salah Bayern memecahkan rekor transfernya untuk memboyong pria berusia 26 tahun itu. Faktanya, dalam tujuh bulan sejak bergabung dengan Bayern Muenchen, Ribery sudah berhasil menancapkan pengaruhnya, baik di klubnya maupun Bundesliga.

Pemain seharga 26 juta euro makin disenangi orang karena pembawaannya yang menyenangkan dan sikapnya selalu profesional. Di saat cuaca dingin bulan Februari masih mengakrabi Munich dan ia tengah berkutat dengan cedera kaki, Ribery tidak malas untuk tetap menghangatkan tubuhnya dengan muncul di kamp latihan.

Ia juga tak pernah menolak fans yang menginginkan tanda tangannya ataupun berfoto bersama, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Dan, itu senantiasa ia lakukan dengan senyum mengembang di bibirnya.

"Mereka mungkin tak pernah melihat seorang pemain, seperti saya yang senang tertawa dan biasa berkelakar," seloroh Ribery. "Saya ini orang yang sederhana dan simpel saja."

Di koridor berbagai fasilitas kamp latihan Bayern, lelaki Prancis ini selalu menyapa orang-orang. "Saya ingin menjadi teman (siapa pun)," ujarnya sambil tersenyum, seperti dikutip AFP. "Dua menit untuk berfoto dan memberi tanda tangan buat fans amatlah penting karena buat mereka hal-hal ini sangat berarti."

Senyum, tawa, dan sikap yang ramah untuk sementara menjadi "andalan" Ribery dalam berkomunikasi dengan penggemarnya, sebelum ia bisa menyempurnakannya dengan bahasa Jerman. Ia masih belum fasih, tapi setiap minggu rajin mengikuti kursus.

Ribery juga merasa bersyukur dirinya telah berhasil dalam kariernya, mengingat di masa kecil ia harus menjalani kehidupan yang sulit bersama keluarganya di daerah Boulogne-sur-Mer.

Namun, ia pun menyadari kesuksesan bukanlah sesuatu yang abadi. Roda nasib dalam kehidupan selalu berputar. "Atas semua yang telah saya alami, saya menyikapinya dengan tenang, tapi saya pun sadar pada semua nasib yang saya miliki."

Yang jelas, Ribery telah menjadi sosok istimewa buat warga Munich. Jangan heran kalau di depan Theatinerkirche, yang ada di pusat kota tersebut, terpampang billboard raksasa bergambarkan Ribery memakai jubah raja, disertai tulisan "Bayern Hat Wieder Einen Konig" alias "Bavaria punya raja lagi". Bavaria adalah julukan lain dari Bayern Muenchen selain FC Hollywood.

Lelaki yang di wajahnya ada bekas luka karena kecelakaan mobil yang dialaminya waktu kecil itu, sudah dianggap sangat penting untuk FC Hollywood. Di sebuah surat kabar, ada sebuah komentar berbunyi: "Bayern Munich tanpa Ribery seperti sekelompok anak-anak tanpa ibu." dtc/sya/kem

Beberapa Pesepak Bola Muslim

- Zinedine Yazid Zidane
- Kolo & Yaya Toure (Arsenal & Barcelona)
- Robin Van Persie (Arsenal)
- Nicholas anelka (Bolton)
- Mohammed 'Momo' Sissoko (Liverpool)
- Ahmed 'Mido' Hossam (Boro)
- Hossam Ghaly (Totteham Hotspurs)
- Franck Riberry (Bayern Muenchen)
- Hamit & Halil Antiltop (Bayern Muenchen & Shalke 04)
- Frederik Kanoute (Sevilla)
- Mahamaddou Diarra (Real Madrid)
- Eric Abidal (Barcelona)
- Nuri Sahin (Feyenoord Rotterdam)
- Sulley Ali Muntari (Pompey)
- Zlatan Ibrahimovic (Inter)
- Hassan "Brazzo" Salihamidzic (Juventus)
- Khalid Boulahrouz (Sevilla)
- Salomon Kalou (Chelsea)
- El-Hadji Diouf (Bolton)
- Diomanssy Kamara (Fulham)
- Mohammed Kallon (Al-Ittihad ext. Inter & Monaco)
- Thiery Henry (Barcelona/Prancis)
- Lilian Thuram (Perancis)
- Lassana Diarra (Real Madrid)
- Karim Benzema (Lyon/Perancis)
- Samir Nasri (Arsenal)
- Hatem Ben Arfa (Lyon)

Pelatih Sepak Bola Muslim
- Bruno Metsu (mantan pelatih Senegal)
- Phillipe 'Omar' Trousier (mantan pelatih Jepang).sya/kem

Harper Masuk Islam karena Banyak Stereotip tentang Islam


By Republika Newsroom
Kamis, 07 Mei 2009 pukul 13:08:00


KAIRO -- Stereotip dan kesalahpahaman tentang Islam yang makain marak sejak peristiwa 11 Semptember justru menjadi berkah dan hidayah bagi Jacquelyn Harper.

"Kamu mendengar banyak hal tentang Islam dan semuanya jelek, Namun karena itu juga laha lasan saya ingin belajar Islam," katanya kepada the American-Statesma, awal pekan ini.

Menurut mantan aktivis gereja Luther konservatif ini, justru karena stereotip itulah yang menggugah keseriusannya untuk mengetahui Islam.

Survei AS baru-baru ini mengungkap bahwa mayoritas masyarakan AS mempunyai opini negatif tentang Muslim dan hanya tahu sedikit tentang Islam.

The Pew Research Center for the People and the Press and the Pew Forum on Religion and Public Life menemukan bahwa pandangan masyarakat AS tentang Islam lebih banyak dipengaruhi oleh media.

Pimpinan the Union for Reform Judaism (URJ), gerakan Yahudi terbesar di AS, menuduh media dan politikus AS lah yang telah membangun image jahat dan melukiskan Islam sebagai "figur iblis."

Cendekiawan terkenal AS, Stephen Schwartz juga mengritik media Barat yang telah gagal memberitakan Islam dan Arab sejak serangan 11 september.

Menjadi lebih baik

Harper, 25 tahun, memeluk Islam di akhir Januari tahun ini dan menurutnya keputusan ini telah memberikan dampak positif pada hidupnya.

"Saya mulai membaca buku (tentang Islam), dan buku yang pertama kubaca tersebut sunggung langsung mengesankan bagi saya," kenangnya.

"Ini benar-benar mengejutkan saya. Saya bilang, 'inilah yang saya rasakan. Inilah yang saya yakini.'"

Karena keingintahuanya yang besar, Harper mampu menyelesaikan kursus 8 minggu untuk muallaf wanita dan non-Muslimah di sebuah pusat komunitas muslim.

Kursus tersebut mencakup berbagai topik penting dan dasar dalamIslam, seperti puasa, sejarah budaya, pakaian muslim, dan nikah.

Saat ini Harper merencanakan mempraktekkan aspek Islam dalam kehiudpannya sehari-hari secara pelan-pelan, termasuk memakai jilbab.

"Saya mersa jauh lebih baik," akunya.

"Ketika kamu melakukan sesuatu yang baik, ini terkait bahwa apa yang kamu lakukan adalah benar dan kamu secara batin juga menjadi pribadi yang lebih baik," imbuhnya.iol/taq

Selasa, 05 Mei 2009

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."

Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.