Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2009

Kerjasama Suami-Istri Mengurus Rumah


Dan apapun kita, hendaknya berangkat dari sebuah negosiai dan kesepakatan secara sadar guna mencapai tujuan bersama.


Budaya kita menempatkan perempuan dengan peran baku sebagai pengelola pekerjaan domestik. Mencuci, memasak, mengurus anak dan tetek bengek pekerjaan rumah tangga lainnya seringkali sianggap sebagai kodrat istri. Para suami? Ada yang tidak mau peduli, ada yang mau membantu tetapi tertekan, tapi ada juga yang bahagia menyingsingkan lengan untuk bersama-sama mengurus pekerjaan rumah tangga.

Ada beberapa gambaran tipologi rumah tangga dalam membagi peran kerja antara suami dan istri. Menurut Ida Ruwaida Noor, dosen Sosiologi Fisip UI, tipologi keluarga Indonesia dalam kaitannya dengan pembagian kerja rumah tangga ada tiga kelompok besar.

Pertama, keluarga yang melakukan pembagian kerja secara baku atau tradisional. Keluarga tipe ini membagi tugas secara absolut dengan memberikan perempuan tugas melahirkan anak, mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga, sedangkan laki-laki hanya khusus mencari nafkah.

Kedua, keluarga yang melakukan pembagian tugas dengan cair, tidak ketat. Prinsipnya, pembagian tugas dilakukan secara situasional atau kondisional. Kalau memang laki-laki sempat memasak, kenapa tidak ? Kalau perempuannya senang melap mobil, kenapa tidak? Bahkan kalau perempuan mau bekerja dan memiliki gaji besar kenapa tidak laki-laki bertugas di rumah?

Ketiga, keluarga dengan tipe antara cair dan baku. Di satu sisi masih memegang bentuk baku, tapi di sisi lain mulai mengarah ke yang cair. Contohnya, kaum perempuan ikhlas saja dengan ketentuan porsi yang lebih besar untuk keluarga, tapi tetap memiliki peluang untuk berperan di sektor publik dengan beban kerja yang disesuaikan dengan beban pekerjaan domestik. Misalnya memilih profesi dosen, yang tidak full time.

Untuk tipe keluarga yang kedua dan ketiga kini mulai banyak bermunculan di kota-kota besar.

Menurut Dr Idris Abdusshomad, pembagian kerja dalam rumah tangga tidak bersifat beku. Artinya, meski secara fitrah perempuan lebih dekat pada tugas memelihara (diri dan kehormatan keluarga, rumah, anak-anak, harta suami) bukan berarti ia tidak boleh melakukan peran publik.

Pembagian peran ini dapat dikompromikan sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam memanage rumah tangga. Dan komunikasi pasutri adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam mengantisipasi timbulnya masalah akibat pembagian tugas rumah tangga. Misalnya, ibu harus pergi, tapi anak-anak tetap harus ada yang menjaga. Bagaimana caranya? Ini perlu dicarikan jalan keluar. Tidak mungkin ayah pergi, ibu pergi dan anak-anak sendirian.

Lebih lanjut Dr Idris Abdusshomad mengatakan, penanganan pekerjaan rumah tangga dijalankan dengan prinsip umum “wata’a wanu ‘alal birri wa taqwa” (saling tolong menolonglah kamu dalam perbuatan kebajikan dan taqwa).

Sebab, secara tekstual tidak ada dalil yang mengharuskan laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah dan sebaliknya juga tidak ada dalil bahwa memasak atau mencuci itu pekerjaan perempuan. Oleh karena itu, secara historis para salafusshalih seperti Luqman, Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan juga Imam Syafei, mengambil peran dalam menangani pendidikan anaknya.

Dalam banyak kisah sejarah digambarkan bagaimana para sahabat itu sempat pergi ke pasar dan mengadoni roti untuk keluarganya, padahal mereka adalah orang-orang yang sangat sibuk dalam berdakwah dan berperang di jalan Allah. Contoh lain, Ali bin Abi Thalib begitu kasih dan perhatiannya pada fatimah yang kelelahan mengurus rumah tangga hingga memberanikan diri datang menghadap Rasulullah guna meminta seorang pelayan untuk membentu istrinya. Dan kala Rasulullah tidak mengabulkan permintaannya, maka Ali langsung turun tangan membantu pekerjaan rumah. Dan bukankah baginda Rasulullah saw. pun ke pasar, belanja, menjahit bajunya yang sobek, memperbaiki sepatunya yang rusak tanpa menunggu istrinya melakukan untuk dirinya?

Karena itu, menanggapi suami dengan tipologi yang pertama, Dr Idris berpendapat, selayaknya para suami tidak enggan mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk mengurus keperluannya sendiri. Sebab, ini sama sekali tidak akanmenurunkan kewibawaan suami di mata istri, justru menimbulkan penghargaan dan penghormatan.

Selain itu, kebiasaan saling menolong dalam urusan rumah tangga akan memberikan kesan psikologis positif pada anak-anak. Mereka akan belajar bahwa ayah dan ibu mereka bekerjasama dengan senang hati dalam menangani pekerjaan rumah. Anak-anak pun akan belajar ketrampilan baru yang bisa jadi berbeda dengan apa yang mereka lihat di luar. Dan yang penting, anak-anak akan memiliki pemahaman bahwa jika berusaha sungguh-sungguh, laki-laki pun bisa mengerjakan pekerjaan yang selama ini dianggap Cuma urusan peermpuan.

Sayangnya, pekerjaan rumah tangga oleh sebagian kalangan masih dianggap sepele dan kurang dihargai. Bagaimana mungkin dianggap sepele jika Rasulullah memberikan penghargaan yang begitu tinggi- setimpal dengan pahala jihad fi sabilillah-untuk para istri yang ‘ikhlas’ dalam menjalani peran dan fungsinya. “Laki-laki mati syahid di medan perang sama dengan seorang ibu yang mati sedang mengiris bawang dalam keadaan ikhlas, suaminya juga ridho, dia juga ridho dengan keberadaan suaminya. Subhanallah.”

Menurut Dr Idris ini adalah persepsi dan paradigma keliru yang harus diubah. Sebab, pekerjaan rumah tangga sebenarnya bukan pekerjaan yang ringan. “Kelihatannya ringan saat dilakukan perempuan, coba laki-laki yang melakukannya. Misalnya menjaga anak. Kaum perempuan mampu menjaga anak selama 5 sampai 6 jam. Laki-laki baru satu jam saja sudah gelisah.”

Kenyataan ini, mengharuskan para suami menghargai istrinya dengan mau berbagi tugas dalam urusan rumah tangga.

Pada dasarnya, pilihan tipe manapun bisa berdampak positif dan negatif tergantung pada kualitas masing-masing elemen. Dan apa pun pilihan kita, hendaknya berangkat dari sebuah negosiai dan kesepakatan secara sadar guna mencapai tujuan bersama. Jika salah satu pihak merasa tertekan karena tidak adanya kesetaraan beban, maka tentu tidak sehat.

Namun Dr Idris mengingatkan agar jangan sampai melanggar rambu-rambu syariah dalam menjalani pembagian peran ini. “Dalam Islam, seorang istri keluar mencari nafkah hanya bersifat anjuran, sunnah. Kalau suami itu wajib. Nah, dahulukan yang wajib.” Artinya, ayo saling bantu dalam urusan rumah tapi bukan berarti tukar peran!


Penulis : Teh Emil
Refrensi : Majalah Ummi No. 9/XIII
Januari-Februari 2002/1422 H
Author : PercikanIman.ORG

Senin, 11 Mei 2009

Rumah, Cermin Kepemimpinan


Saudaraku, kita semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kita pimpin. Mengingat itu, ada pelajaran sangat penting yang diajarkan Rasulullah SAW tentang kepemimpinan. Yakni, Sayidul Qoum (pimpinan suatu kaum) adalah Qodimuhu (pelayan yang berkhidmat untuk kaumnya). Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu menjadi tanda bahwa pemimpin tersebut mulia karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya.

Demikian Sabda Nabi. Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak harta dan segenap kemampuannya. Dia bekerja lebih keras dan berpikir lebih kuat, lebih lama, dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Nabi. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya.

Rasulullah memiliki beberapa tujuan yang hendak dicapai dari misi kepemimpinanya Yaitu, pertama, memimpin peradaban manusia agar terbebas dari kehinaan dan diperbudak dunia. Kedua, Rasulullah berusaha agar manusia yang dipimpinnya bisa berkarya sebagai khalifah yang mampu membangun peradaban yang baik, adil, menyejahterakan diri dan orang lain. Ketiga, Rasullulah berusaha memacu manusia untuk terus memperbaiki kualitas dirinya agar menjadi suri tauladan dan jalan dakwah dalam menegakkan kebenaran. Hal yang sangat menakjubkan adalah bertahannya pengaruh kepemimpinan Rasulullah hingga saat ini. Kita bisa melihat bahwa tidak ada satu pun kegiatan ritual di dunia ini seperti shalat dalam Islam.

Ia wajib dilakukan sebanyak lima kali sehari. Semuanya diawali dengan bersuci (berwudhu). Kemudian membuat barisan dengan tertib, dan seluruh dunia menggunakan bahasa yang sama serta arah yang terpusat, sehingga tidak pernah ada satu sisi dunia pun yang tidak bersujud. Semuanya bergiliran dan berlangsung terus-menerus, tanpa henti. Tidak hanya itu, hal-hal ringan pun berusaha dicontohkan oleh beliau. Mulai dari cuci tangan sampai buang air, semua ada adabnya.

Termasuk cara melangkah, semuanya menggunakan etika. Jiwa kepemimpinan dari Rasulullah inilah yang sepatutnya terus menerus kita kaji karena banyak warisan besar beliau yang kurang diperhatikan, khususnya dalam masalah entrepreunership dan leadership beliau. Padahal, inilah yang menjadi lokomotif penggerak umat. Bila seorang pemimpin kurang baik maka bawahannya cendrung untuk tidak baik pula, karena pada prinsipnya yang dipimpin itu menduplikasi pemimpinnya. Tetapi jika pemimpinnya mulia dan berjiwa seperti Rasul, maka dampak psikologis bagi orang yang dipimpinnya pun akan luar biasa. Konon, negeri ini memiliki penduduk 220 juta jiwa.

Tetapi, tampaknya kita seperti kesulitan dalam mencari sosok pemimpin yang benar-benar bisa diterima oleh banyak kalangan, walaupun memang tidak akan pernah ada pemimpin ideal yang bisa diterima oleh semua. Nabi Muhammad SAW saja yang begitu sempurna, tetap ada yang tidak menerima beliau: ada yang mencaci, memaki bahkan memerangi. Padahal akhlak dan tujuan beliau begitu sempurna dan mulia. Dalam kehidupan manusia selalu ada pihak yang pro maupun kontra. Tetapi, setidaknya kita bisa merenung, "Mengapa kita sulit mencari pemimpin di lingkungan manapun?"

Dari lingkungan Rt, Rw, kecamatan, kabupaten/kota, perusahaan, begitu juga dengan gubernur atau pemimpin di departemen, kita tampaknya menemui kesulitan untuk itu. Semua ini terjadi karena kita belum mentradisikan latihan kepemimpinan yang dimulai dari rumah, sehingga rumah tangga kita tidak menghasilkan kader-kader pemimpin yang bermutu tinggi. Seorang pemimpin itu tidak selalu identik dengan punya kemampuan memimpin, karena ada yang memiliki jabatan pemimpin sebab diangkat, atau ada juga yang diberikan kepercayaan karena kemampuannya. Kita membutuhkan sebuah pergerakan baru dalam tatanan bermasyarakat, yang diawali dari rumah tangga agar bagaimana caranya membangkitkan kemampuan memimpin.

Seorang ayah harus mampu memimpin keluarganya dengan baik. Seorang ibu dan anak-anak pun dilatih untuk memiliki pola kepemimpinan yang baik, sehingga negara kita memiliki aset sumber daya manusia yang unggul. Qullukum ro' in, semua kamu adalah pemimpin. Islam mengajarkan bahwa setiap orang harus memiliki jiwa kepemimpinan. Minimal ada empat hal yang harus dilatih di rumah, yaitu: 1. Memiliki kejelasan visi. Mau dibawa ke mana rumah tangga ini?

Suami istri harus mempunyai visi, begitu juga anak-anak harus dilatih tentang visi kehidupannya. Setiap anggota keluarga harus terlatih memiliki kemampuan berstrategi membuat perencanaan. 2. Bagaimana menggali potensi, karena anak tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Padahal anak-anak didesain oleh Allah berbeda satu sama lain dan belum tentu sama dengan orang tuanya. Kalau tidak hati-hati, potensi anak yang ada bisa hilang akibat keinginan kita yang keliru. 3. Kemampuan memotivasi satu sama lain. Misalnya, ayah mampu memotivasi keluarganya. Begitu juga ibu, sehingga anak-anak bisa menjadi manusia bijak. Kemampuan memotivasi itu merupakan ciri pemimpin yang baik.

Dia mengajari tanpa menggurui. Dia mengajak tanpa memaksa, dan ini keterampilan penting dalam ilmu kepemimpinan. 4. Kalau kita diberi amanah oleh Allah menjadi seorang pemimpin, maka amanah tersebut harus disempurnakan dari awal sampai akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban. Kita harus mencontoh Rasulullah SAW. Misalnya ketika ada tamu, Rasulullah SAW memberikan pelayanan terbaik, bermanis muka, memuliakannya, dan mengantar sang tamu sampai pintu ketika ia pulang. Semua itu memberi gambaran kepada kita tentang kesempurnaan akhlak beliau. Dan, itulah pelajaran yang sangat penting dari ilmu kepemimpinan Rasulullah SAW Wallahu a'lam.

REPUBLIKA - Senin, 18 Agustus 2003

Jumat, 08 Mei 2009

Membangun Keluarga


Berumahtangga bukanlah suatu hal yang mudah seperti halnya membalikan kedua telapak tangan. Jika tidak hati-hati dalam menitinya, ia akan menjadi bagian dari sebuah penderitaan yang tiada bertepi bagi siapa pun yang menjalaninya. Perhatikan firman Allah SWT. berikut: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun [64]:14).

Ayat di atas menjelaskan, bisa jadi pasangan yang telah kita pilih untuk mendampingi hidup kita dan anak-anak yang dilahirkannya menjadi musuh bagi diri kita. Seorang suami yang seharusnya menjadi seorang pemimpin di keluarga, malah menjadi koruptor karena bujukan istrinya. Kehormatan ayah dan ibu hancur karena perilaku dan akhlak buruk anak-anaknya. Untuk itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memohon kepada Allah dengan segala kelemahan diri agar Ia menolong dan mengaruniai kita pendamping terbaik dan anak-anak shalih dan shalihah.

Doa yang diajarkan Allah adalah: "Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)" (QS. Al-Furqan [25]:74). Ciri-ciri dari yang dimaksud oleh doa itu adalah istri yang menyejukkan ketika dipandang; dapat menjadi teladan; tidak pernah memperlihatkan wajah yang muram durja; tidak berbicara ketus dan rona wajahnya tidak menyeramkan. Akhlaknya akan terlihat jauh lebih indah dibanding kecantikan wajah dan tubuhnya.

Akhlaknya akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari, baik terhadap suami maupun orang lain di luar keluarganya (tetangga), seperti senantiasa hormat meski suaminya berumur sama dengannya, atau senantiasa menghargai siapa pun yang ia temui termasuk anak kecil sekalipun. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa menyejukkan, bersih dan tidak pernah ada yang melukai. Oleh karena itu, meski ia terus beranjak tua dan berubah karena perjuangannya dalam melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, namun ia akan tetap kelihatan cerah dan bersinar. Hal itu tiada lain karena cerminan hati yang senantiasa bersih dan bening.

Di samping itu, ia juga akan senantiasa bersyukur, menghadapi setiap kejadian dengan sabar dan yakin akan pelajaran dari Allah. Istri seperti itu tidak pernah meminta hal yang menjadi ketidakmampuan suaminya. Ia juga akan senantiasa memohon izin kepada suaminya untuk melakukan apa pun yang akan ia kerjakan. Hal di atas tidak hanya berlaku bagi para suami atau siapa pun yang berkehendak untuk menjadi suami, melainkan juga buat para istri atau yang berkehendak menjadi seorang istri. Pernikahan bagi mereka harus menjadi sebuah pelatihan guna meningkatkan kehati-hatian.

Siapa pun yang berkehendak menuju momen ini, sangat dianjurkan untuk terus senantiasa berdoa dengan doa termaktub di atas. Calon suami yang baik dan senantiasa dapat membimbingnya harus menjadi bagian dari doa yang dimohonkannya kepada Allah, karena suami seperti itulah yang akan mendatangkan kebahagian yang hakiki bagi seorang istri. Suami demikian akan memperhatikan apa pun yang diinginkan oleh istrinya. Istri akan menjadi orang spesial dalam benak dan kehidupannya. Suami seperti itu akan senantiasa bersih ketika mau berhadapan dengan istri dan memanggil dengan panggilan terbaik.

Jika kondisi istri berubah secara fisik, karena perjuangannya mengurus rumah tangga, ia akan menghiburnya dengan keuntungan-keuntungan di akhirat. Ia juga akan menutup kejelekan-kejelekan yang dimiliki oleh istrinya, serta merasa terus tertuntut untuk melakukan kewajiban yang benar. Derajat suami ditentukan oleh perjuangannya menjadi pemimpin rumah tangga, sehingga ia akan terus menuntut dirinya untuk senantiasa menjadi teladan yang baik bagi keluarga yang dipimpinnya.

Seorang suami pilihan Allah tidak pernah mau jadi beban bagi istrinya. Ia akan senantiasa memuji dan membuat istri senang, menjadikan kekurangan istrinya menjadi ladang amal untuk berlapang hati dan membantunya selalu berjuang untuk memperbaiki diri. Ia juga akan selalu berlapang dada bertukar pikiran membahas masalah-masalah yang ada di keluarganya dengan adil.

Pada malam hari, ia akan mengajak istrinya untuk bermunajat menghadap Allah bersama-sama, meminta kepada Allah sebuah keluarga yang mendapatkan perlindungan-Nya. Yakni, pada saat tiada lagi perlindungan lain selain hanya dari-Nya dan mendapatkan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah, bahagia di dunia dan akhirat. Rahasia dari semua itu adalah perjuangan maksimal memiliki ilmu tersebut. Ilmu inilah yang akan membangun kebahagiaan di rumah tangga. Dengan ilmu ini, seorang suami atau istri akan berbuat apa pun dengan penuh keikhlasan dan merasa ridha dalam melayani dan berkhidmat terhadap pasangannya masing-masing. Waallahu A'lam.

Penulis : Abdullah Gymnastiar
By Republika Newsroom
Selasa, 30 Desember 2008 pukul 13:49:00

Kamis, 07 Mei 2009

Komunikasi, Kunci Rumah Tangga Harmonis



NILAI: Atur ikatan keluarga sebagai nilai yang sudah tertanam dalam diri untuk menjaga kestabilan dan kedamaian spiritual.

JAKARTA-- Kasus perceraian beberapa tahun belakang makin meningkat dengan berbagai alasan, mulai dari perbedaan prinsip hingga pandangan politik. Namun pada dasarnya perceraian yang banyak terjadi dilatari kurangnya komunikasi. Mobilitas tinggi dengan tingkat kesibukan yang berbeda menjadi salah satu faktor pemicu.

Berdasarkan data dari Jagadnita Consulting, perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultasi dan edukasi untuk semua anggota keluarga khususnya perempuan menyebutkan, sejak tahun 2000 hingga 2006 rata-rata terjadi 1,8 juta pernikahan setiap tahun. Dengan angka perceraian 143.000 atau mencapai 8% dari total jumlah pernikahan.

”Semakin tingginya angka perceraian di Indonesia itu terjadi karena berbagai macam sebab,” ungkap Dewi Minangsari salah satu konsultan saat menghadiri acara wawancara ekslusive dengan tema ”Sariwangi Mari Bicara” Jembatani Perbedaan Antar Pasangan Dengan Komunikasi yang diadakan oleh Sariwangi, pekan lalu di Jakarta.

Perselingkuhan tercatat menjadi penyebab paling tinggi pada kasus perceraian. " Pada tahun 2005 tercatat 54.000 kasus perceraian diakibatkan oleh ketidakcocokan atau perselingkuhan," imbuh Dewi.

Perselingkuhan pun bergeser, jika dulu lebih selingkuh lebih akrab pada pria sekarang ini banyak juga wanita yang melakukan perselingkuhan dengan berbagai alasan. Dewi mengatakan, perselingkuhan banyak terjadi karena kurangnya kesiapan sebelum pernikahan.

Tak lancarnya komunikasi kedua belah pihak membuat proses mengenal pribadi masing-masing secara utuh pun menjadi berkurang. Sehingga begitu menjalin pernikahan banyak perbedaan yang sulit dihadapi.

Bisa dibilang komunikasi adalah hal yang terpenting dalam membina rumah tangga. Apapun itu masalah yang menimpa, entah masalah besar ataupun ringan, apabila dikomunikasikan dengan lancar, maka hubungan rumah tangga pun akan terus bersinar guna terciptanya hubungan yang harmonis.

“Cukup dengan berkomunikasi dalam waktu lima menit saja dan dilakukan setiap hari, maka itu akan mendatangkan hal yang positif bagi hubungan yang sedang dijalankan,” jelas Kasandra Putranto.

Kasandra menambahkan, dengan komunikasi dalam hal apapun antar pasangan yang berjalan dengan lancar dan efektif akan menyelamatkan perceraian.

Gunakan waktu minum teh pagi atau sore hari untuk ngobrol atau curhat baik itu dari suami dan istri. Sehingga
keindahan dan kemesraan saat berpacaran dulu akan tetap terjaga dijaga hingga perkawinan.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan dalam terbinanya rumah tangga yang harmonis :

* Komunikasi intesif dengan anggota keluarga. Jangan hanya antara suami istri saja, komunikasi yang erat dan intim juga diperlukan untuk semua anggota keluarga bahkan anggota keluarga dari kedua belah pihak.
* Jujur dan Terbuka. Kejujuran terkadang menyakitkan namun dengan jujur apapun itu masalahnya dapat didiskusikan untk mencari jalan keluar terbaik.
* Hilangkan prasangka buruk. Dalam otak bawah sadar manusia seringkali dipenuhi dengan prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk yang menguat akan menjadi keyakinan dan sangat buruk dampaknya terdapat hubungan terhadap suami-istri dalam keluarga. Sebaliknya ketika seseorang berprasangka baik yang terbentuk adalah kekuatan dasyat untuk menguatkan hubungan harmonis dalam keluarga.
* Buatlah komitmen jangka panjang. Dengan berkomitmen maka tujuan awal dapat tercapai dengan kekuatan baik dari istri maupun suami.
* Saling memberi hadiah pada momen khusus. Anda pasti merasa bahagia apabila pasangan memberikan hadiah pada momen istimewa, hari ulang tahun, ulang tahun perkawinan, promosi dan seterusnya. Hadiah adalah wujud apresiasi terhadap pasangannya dan menjadi penghargaan bagi pasangan.
* Berubah untuk jadi lebih baik. Tidak perlu menunggu pasangan merubah dirinya menjadi lebih baik. Mulailah dari diri sendiri. Dengan bertekad merubah kelakuan buruk diri sendiri maka pasangan juga lambat laun akan merubah kelakuan buruknya karena melihat tekad Anda mempertahan rumah tangga. (cr1/rin)

By Republika Newsroom
Selasa, 05 Mei 2009 pukul 17:32:00

Suami, Pemimpin Bagi Keluarga


By Republika Newsroom
Kamis, 08 Januari 2009 pukul 14:36:00


Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga dimulai dengan ijab kabul. Saat itulah yang halal bisa jadi haram atau sebaliknya yang haram bisa jadi halal. Demikianlah Allah telah menetapkan bahwa ijab kabul walau hanya beberapa patah kata, tapi ternyata bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Saat itu terdapat mempelai pria, mempelai wanita, wali, dan saksi, lalu ijab-kabul dilakukan, sahlah keduanya sebagai suami-istri.

Status keduanya pun berubah, asalnya kenalan biasa tiba-tiba jadi suami, asalnya tetangga rumah tiba-tiba jadi istri. Orang tua pun yang tadinya sepasang, saat itu tambah lagi sepasang. Karenanya, andaikata seseorang berumah tangga dan dia tidak siap, serta tidak mengerti bagaimana memposisikan diri, maka rumah tangganya hanya akan menjadi awal berdatangannya aneka masalah. Ketika seorang suami tidak sadar bahwa dirinya sudah beristri, lalu bersikap seperti seorang yang belum beristri, akan jadi masalah.

Dia juga punya mertua, itupun harus menjadi bagian yang harus disadari oleh seorang suami. Setahun, dua tahun kalau Allah mengijinkan akan punya anak, yang berarti bertambah lagi status sebagai bapak. Bayangkan begitu banyak status yang disandang yang kalau tidak tahu ilmunya justru status ini akan membawa mudharat. Karenanya menikah itu tidak semudah yang diduga, pernikahan yang tanpa ilmu berarti segera bersiaplah untuk mengarungi aneka derita.

Orang yang stres dalam rumah tangganya terjadi karena ilmunya tidak memadai dengan masalah yang dihadapinya. Begitu juga bagi wanita yang menikah, ia akan jadi seorang istri. Tentu saja tidak bisa sembarangan kalau sudah menjadi istri, karena memang sudah ada ikatan tersendiri. Status juga bertambah, jadi anak dari mertua, ketika punya anak jadi ibu. Demikianlah, Allah telah menyetingnya sedemikian rupa sehingga suami dan istri, keduanya mempunyai peran yang berbeda-beda.

Tidak bisa menuntut emansipasi karena memang tidak perlu ada emansipasi, yang diperlukan adalah saling melengkapi. Seperti halnya sebuah bangunan yang menjulang tinggi, ternyata dapat berdiri kokoh karena adanya prinsip saling melengkapi. Ada semen, bata, pasir, kayu, dan bahan-bahan lainnya lalu bergabung dengan tepat sesuai posisi dan proporsinya sehingga kokohlah bangunan itu.

Sebuah rumah tangga juga demikian, jika suami tidak tahu posisi, tidak tahu hak dan kewajiban, begitu juga istri tidak tahu posisi, anak tidak tahu posisi, mertua tidak tahu posisi, maka akan seperti bangunan yang tidak diatur komposisi bahan-bahan pembangunnya, ia akan segera ambruk. Begitu juga jika mertua tidak pandai-pandai jaga diri, misal dengan mengintervensi langsung pada manajemen rumah tangga anak, maka sang mertua sebenarnya tengah mengaduk-aduk rumah tangga anaknya sendiri.

Seorang pemimpin hanya akan jadi pemimpin jika ada yang dipimpin. Artinya, jangan merasa lebih dari yang dipimpin. Seperti halnya presiden tidak usah sombong kepada rakyatnya, karena kalau tidak ada rakyat lalu mengaku jadi presiden, bisa dianggap orang gila. Makanya, presiden jangan merendahkan rakyat karena dengan adanya rakyat dia jadi presiden. Tidak layak seorang pemimpin merasa lebih dari yang dipimpin karena status pemimpin itu ada jikalau ada yang dipimpin.

Misalkan, istrinya bergelar master lulusan luar negeri sedangkan suaminya lulusan SMU, dalam hal kepemimpinan rumah tangga tetap tidak bisa jadi berbalik dengan istri menjadi pemimpin keluarga. Oleh karena itu, bagi para suami jangan sampai kehilangan kewajiban sebagai suami. Suami adalah tulang punggung keluarga, seumpama pilot bagi pesawat terbang, nakhoda bagi kapal laut, masinis bagi kereta api, sopir bagi angkutan kota, atau sais bagi sebuah delman.

Sebagai seorang pemimpin, suami pun harus berpikir bagaimana mengatur bahtera rumah tangga agar mampu berkelok-kelok dalam mengarungi badai gelombang agar bisa mendarat bersama semua awak kapal untuk menepi di pantai harapan, yaitu surga. Karenanya seorang suami harus tahu ilmu bagaimana mengarungi badai, ombak, relung, dan pusaran air, supaya selamat tiba di pantai harapan. Tidak ada salahnya ketika akan menikah kita merenung sejenak, ''Saya ini sudah punya kemampuan atau belum untuk menyelamatkan anak dan istri dalam mengarungi bahtera kehidupan hingga bisa kembali ke pantai pulang nanti?

'' Menikah bukan hanya masalah mampu cari uang, walau ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat, tapi ternyata tidak shalat, sungguh sangat merugi. Ingatlah karena kalau sekedar cari uang, harap tahu saja bahwa garong juga tujuannya cuma cari uang, lalu apa bedanya dengan garong? Hanya beda cara, tapi cita-citanya sama.

Buat kita cari nafkah itu termasuk dalam proses mengendalikan bahtera. Tiada lain supaya makanan yang jadi keringat statusnya halal, supaya baju yang dipakai statusnya halal, atau agar kalau beli buku juga dari rejeki yang statusnya halal. Hati-hatilah, walaupun di kantong terlihat banyak uang, tetap harus pintar-pintar mengendalikan penggunaannya, jangan main comot saja.

Seperti halnya ketika mancing ikan di tengah lautan, walaupun nampak banyak ikan, tetap kita harus hati-hati, siapa tahu yang menyangkut di pancing adalah ikan hiu yang justru bisa mengunyah kita, atau tampak manis gemulai tapi ternyata ikan duyung. Ketika ijab kabul, seorang suami harusnya bertekad, ''Saya harus mampu memimpin rumah tangga ini mengarungi episode hidup yang sebentar di dunia agar seluruh anggota awak kapal dan penumpang bisa selamat sampai tujuan akhir, yaitu surga.

'' Bahkan, jika dalam kapal ikut penumpang lain, misalkan ada pembantu, keponakan, atau yang lainnya, maka sebagai pemimpin tugasnya sama juga, yaitu harus membawa mereka ke tujuan akhir yang sama, yaitu surga. Allah SWT berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu'' (QS At-Tahriim: 6). Semoga kita bisa menjadi pemimpin ideal, yaitu pemimpin yang bersungguh-sungguh mau memajukan setiap orang yang dipimpinnya. Siapapun orangnya didorong agar menjadi lebih maju. Wallahu a'lam bish-shawab. KH Abdullah Gymnastiar/dokrep/Februari 2004

Selasa, 05 Mei 2009

Anakku......


Nak, jauh sebelum kau hadir dalam kehidupan ayah dan ibu, kami senantiasa bermohon kepada Allah Swt agar dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholihah, yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan belajar, serta dapat menjadi penerus dakwah Ilallaah.

Banyak rencana yang kami rancang, agar kelak bila kau hadir, kami sudah siap menjadi orang tua yang baik dan mampu mendidikmu dengan didikan yang sesuai dengan dinnul Islam, tuntunan kita seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah Saw kepada kita.

Ayah dan Ibu ingin, kelak bila Allah mengamanahkan kepada kami seorang putri, maka dia akan berakhlaq seperti akhlaqnya Fatimah putri Rasulullah, dan bila Allah mengamanahkan seorang putra, maka dia akan seperti Ali.


Setelah tanda kehadiranmu mulai tampak, Ibu sering mual, muntah-muntah, sakit kepala dan sering mau pingsan, Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, kami menjagamu sepenuh hati, serta senantiasa berharap, kelak kau lahir sebagai anak yang sehat, sempurna dan menyenangkan.

Sejak dalam rahim, kami mencoba menanamkan kalimat-kalimat tauhid kepadamu dan berupaya mengenalkanmu kepada Sang Pencipta, dengan bacaan ayat-ayat suci-Nya, dengan senandung-senandung shalawat Nabi, dengan nasyid-nasyid yang membangkitkan semangat da’wah dan rasa keimanan kepada Allah yang Esa.

Saat kau akan lahir, Ibu merasakan sakit yang amat sangat, seolah berada antara hidup dan mati, namun Ibu tidak mengeluh dan putus asa, karena bayangan kehadiranmu lebih Ibu rindukan dibanding dengan rasa sakit yang Ibu rasakan. Ibu tak henti-hentinya berdo’ a, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah. Ayahpun tidak tidur beberapa malam untuk memastikan kehadiranmu, menemani dan menguatkan Ibu, agar sanggup melahirkanmu dengan sempurna. Bacaan dzikir dan istighfar, mengiringi kelahiranmu.

Begitu kau lahir, sungguh rasa sakit yang amat sangat sudah terlupakan begitu saja. Setelah tangismu terdengar, seolah kebahagiaan hari itu hanya milik Ibu dan Ayah. Air mata yang tadinya hampir tak henti mengalir karena menahan sakit, berganti menjadi senyum bahagia menyambut kelahiranmu. Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah Swt, kemudian Ayah melantunkan bacaan adzan dan iqomat ditelingamu, agar kalimat yang pertama kali kau dengar adalah kalimat Tauhid yang harus kau yakini dan kau taati selama hidupmu.

Saat pertama kali kau isap air susu Ibu, Ibu merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Ibu ingin memberikan semuanya kepadamu, agar kau segera tumbuh besar dan sehat. Ibu berupaya supaya ASI ini dapat mencukupi kebutuhanmu. Ibu berupaya untuk selalu dekat denganmu, dan selalu mengajakmu kemanapun Ibu pergi, supaya kapanpun kau lapar, Ibu selalu siaga memberikan air surgawi karunia Ilahi itu kepadamu.

Ibu berusaha untuk selalu siap siaga menjagamu, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Saat malam sedang tidur lelap, Ibu akan terjaga bila kau tiba-tiba menangis karena popokmu basah atau karena kau lapar. Saat sedang makan dan kau buang air besar, Ibu dengan rela menghentikan makan dan mengganti popokmu dulu. Dan semuanya, Ibu lakukan dengan senang hati, tanpa rasa risih dan jijik.

Sejak kau masih dalam ayunan, Ibu senantiasa membacakan do'a dalam setiap kegiatan yang akan kau lakukan. Ibu bacakan do'a mau makan ketika kau hendak makan, do’a mau tidur ketika kau mau tidur, dan do’a apa saja yang harus kau tahu dan kau amalkan dalam kehidupan keseharianmu. Ibu bacakan selalu ayat kursi dan surat-surat pendek satu persatu setiap malam, dikala mengantarmu tidur, ayat-per ayat dan Ibu ulang berkali-kali hingga kau sanggup mengingatnya dengan baik, dengan harapan kau besar nanti menjadi penghafal Al Qu’ran.

Ketika kau sudah mampu berbicara, subhanallah, tanpa kami duga, kau telah hafal berbagai macam do’a dan beberapa surat pendek. Ibu bersyukur dan bangga kepadamu. Muncul harapan dalam hati ini, kelak kau tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin belajar.

Tatkala kau mulai belajar sholat, dan usai sholat kau lantunkan do’a untuk orang tua, walau dengan bacaan yang masih belum sempurna, bercucur air mata ibu karena kau telah mampu melafalkan do’a itu. Timbul harapan dihati yang paling dalam, kelak hingga ketika Ibu dan Ayah tiada, kau tetap melantunkan do’a itu, karena do’amu akan memberikan kepada Ibu dan Ayah pahala yang tak henti-hentinya di yaumil-akhir. Kaulah asset masa depan bagi umi dan abi. Kau akan mampu menolong umi dan abi di yaumil-akhir nanti, bila kau menjadi anak yang sholihah.

Nak, kehadiranmupun memberikan kepada Ibu dan Ayah pelajaran yang sangat berharga, kau mengingatkan kami
tatkala masih sepertimu. Mengingatkan dengan lebih kuat lagi, betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh kakek nenekmu kepada kami, hingga Ibu dan Ayah tumbuh dewasa dan bahkan sampai menjadi orang tua seperti mereka.

Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, karena kami ingin kaupun menjadi anak yang penyayang terhadap sesama. Kami hampir selalu menyertakan kata sayang dibelakang namamu saat memanggilmu, supaya hatimu senang dan gembira bersama Ibu dan Ayahi.

Saat kau memasuki usia sekolah, Kami carikan sekolah yang baik untukmu. Sekolah yang memiliki visi pendidikan seperti yang Ibu dan Ayah inginkan. Alhamdulillaah, saat kau mulai sekolah, telah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam Terpadu, sehingga kami tidak kesulitan mencarikan sekolah untukmu. Ayah mengantarmu ke sekolah setiap pagi dan Ibu mendampingimu selalu hingga kau berani ditinggal di sekolah sendiri.

Keperluan sekolahmu selalu kami upayakan, walau kadang harus dengan susah payah, agar kau bisa memperoleh pendidikan yang baik dan layak untuk kehidupanmu dimasa yang akan datang. Kami senantiasa berupaya membimbingmu untuk dapat melakukan segala sesuatu, agar saat besar nanti kau mampu melayani dirimu sendiri.

Bila Ibu dan Ayah tidak mau melayanimu untuk hal-hal yang sudah dapat kau lakukan sendiri, itu bukan berarti kami tidak menyayangimu, tapi justru sebaliknya. Karena Ibu dan Ayah sayang sekali padamu, kau tidak boleh terlalu dimanjakan, hingga saat kau besar nanti, kau jadi anak yang mandiri dan serba bisa.

Maafkan Ibu dan Ayah bila sekali waktu (atau bahkan sering) memarahimu ketika kau membuat kesalahan yang berulang-ulang. Sungguh, sebenarnya Ibu dan Ayah tak ingin memarahimu, namun kamipun sadar bahwa kau harus tahu dan harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar saat kau dewasa dan telah bergaul dengan masyarakat umum nanti, kau bisa memilih untuk selalu melakukan yang haq dan meninggalkan yang bathil. Semoga kau tidak salah sangka.

Maafkan pula bila Ibu dan Ayah selalu membatasi tontonan dan bacaanmu, karena dewasa ini sangat banyak media yang dapat merusak pendidikan yang sudah kami terapkan kepadamu. Itu semua kami lakukan, agar kau terpelihara dari hal-hal negatif yang akan mendangkalkan akhlaq dan perilakumu. Ibu dan Ayah ingin, kau menjadi anak yang faqih dalam hal agama, menjadi generasi Qur’ani, dan menjadi penerus dakwah Ilallaah.

Inilah harapan Ibu dan Ayah kepadamu, sangat banyak dan sangat ideal. Oleh karenanya, kami senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah Yang Esa, yang Berkuasa dan Maha Agung, agar tidak salah langkah dalam mendidikmu.

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a'yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman. Amiin

Kapan Mulai Mendidik Anak ?

Dalam Islam, kita mengenal konsep pendidikan seumur hidup yang terangkum dalam kalimat “minal mahdi ilal lahdi”, dari buaian hingga liang kubur. Konsep long life education ini melibatkan banyak unsur pembentuk kepribadian manusia dari sejak dia terlahir hingga akhirnya meninggal dunia. Di antara unsur-unsur tersebut adalah: orangtua, keluarga, lingkungan, sekolah, dan teman. Jika dilihat dari beberapa unsur tersebut, kita bisa melihat dengan jelas, orangtua merupakan unsur terdekat yang akan sangat mempengaruhi kepribadian seorang anak.

Rasulullah Saw mengingatkan peran penting orangtua ini dengan sabdanya:
“Setiap anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya, hanya kedua orang tuanyalah yang akan membuat dirinya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR Bukhari, Ibnu Hibban, dan Baihaqi)

Tentunya hadits ini tidak dipahami bahwa orangtua sebagai suatu unsur tunggal sebagai penentu masa depan anak. Tapi, harus disadari bahwa orangtua mempunyai peran yang sangat penting bagi masa depannya. Hal ini juga disinggung dalam sebuah peribahasa “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”. Keterlibatan peran orangtua bisa bersifat genetik dan non-genetik. Secara genetik, beberapa sifat yang dipunyai anak cenderung diperoleh dari sifat-sifat orangtuanya. Tapi, secara non genetik beberapa perilaku anak dipengaruhi oleh sikap orangtua. Di sinilah orangtua menjadi unsur yang sangat penting bagi pendidikan anak.

Sampai pada titik ini, kita diingatkan untuk memperhatikan dua hal penting: pertama, pendidikan sebagai suatu proses seumur hidup, dan kedua, peran sentral orangtua dalam membentuk kepribadian anak.

Lalu, kapan waktu yang tepat bagi orangtua memaksimalkan perannya dalam mendidik anak? Inilah pertanyaan yang menjadi tema pembahasan kita kali ini. Mungkin sebagian orang akan berpendapat bahwa sejak lahir anak sudah harus mendapatkan pendidikan yang baik. Atau, bahkan ada yang menyatakan bahwa sejak dari dalam kandungan, anak harus mendapatkan perhatian penuh sebagai bagian dari awal pendidikan pra-natal (sebelum kelahiran) yang mesti diterimanya.

Sekarang, cobalah tanyakan pada diri Anda sendiri, “Sudahkah saya secara total mempersiapkan diri menjadi orangtua? Adakah di dalam hati saya siap menerima amanat Allah ketika pada suatu saat nanti dipercaya menjadi orangtua dengan lahirnya seorang anak? Bagaimana saya harus bersiap diri?”

Dalam beberapa hal, keinginan menikah didasarkan pada harapan tentang hadirnya momongan yang mewarnai kehidupan rumah tangga. Hal tersebut berarti banyak pasangan yang sejak dini merasa suatu saat akan menjadi orangtua bagi putra-putrinya kelak. Bahkan, keinginan memiliki momongan tersebut diingatkan lagi oleh doa yang diajarkan Rasulullah Saw bagi pasangan suami istri yang hendak melakukan hubungan intim.

“Manakala seseorang dii antara kalian sebelum menggauli istrinya terlebih dahulu mengucapkan: Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithan. Wa jannibis syaithana ma razaqtana. (Dengan nama Allah, Ya Allah, hindarkanlah kami dari gangguan setan dan hindarkan pula anak yang Engkau anugerahkan kepada kami dari gangguan setan), kemudian dilahirkanlah dari keduanya seorang anak, niscaya selamanya setan tidak akan dapat mengganggunya.’ (Muttafaq Alaih)

Doa ini mengajarkan bahwa dasar dari pemenuhan kebutuhan biologis sifatnya adalah rabbani, bukan setani. Diharapkan janin yang dihasilkan dari hubungan tersebut memiliki sifat-sifat rabbaniyah dan dijauhkan dari sifat-sifat syaitaniyah. Kesadaran seperti ini dibangkitkan kembali bagi setiap calon orangtua yang melakukan hubungan suami-istri. Ini adalah salah satu bentuk pendidikan awal bagi anak yang diajarkan oleh Rasulullah, bahkan jauh sebelum kita mengetahui adanya janin dalam kantung rahim.

Tunggu dulu, ini belum selesai.
Harus disadari, seorang pendidik yang terbaik adalah dia yang mampu menjadi tauladan bagi lainnya. Orangtua yang terbaik adalah mereka yang bisa menjadikan diri sebagai panutan yang baik bagi anak-anaknya. Bagaimana caranya para orangtua menjadi tauladan bagi anak-anak? Apakah mereka terlebih dulu harus nikah, punya anak, baru kemudian berusaha sekuat tenaga dengan segala daya upaya menjadi orangtua teladan yang baik?

Hhmmm, rasanya kok masih jauh, ya. Terutama, mereka para pemuda dan pemudi yang masih belum punya calon istri atau suami. Mungkin, sebagian berfikir, “Entar aja deh, kalau sudah menikah!”, “Nanti saja, kalau sudah jelas ada janin dalam kandungan!”, atau “Tunggu sampai si jabang bayi brojol keluar dengan selamat!”

Sebenarnya, tidak perlu menunggu selama itu untuk menjadi orangtua yang baik dan memberikan pendidikan terbaik bagi sang anak. Anda bisa melakukannya saat ini. Kalau Anda menginginkan seorang anak yang patuh dan berbudi luhur kepada orangtua, maka cobalah sekarang Anda melakukannya kepada orangtua Anda. Kalau Anda menginginkan anak yang taat beragama dan Muslim yang baik, maka jadikanlah diri Anda seorang Muslim yang baik. Demikian seterusnya. Perbaikan diri secara total akan memperbaiki masa depan anak-anak Anda nantinya.

Ya, Anda bisa memulainya saat ini! Tidak perlu ditunda lagi!

Rahmat dan karunia khusus dari Allah SWT kepada pasangan suami-istri

Rahmat dan karunia khusus dari Allah SWT kepada pasangan suami-istri, Rujukannya adalah Surah ar-Rum (QS. Ar-Rum [30]: 21).

Rahmat ini bersifat khusus karena dalam diri setiap pasangan suami-istri rasa kasih sayang bercampur dengan hasrat yang membara. Itulah rasa kasih Ilahi yang ditanamkan Sang Pencipta alam dalam diri setiap pasangan suami-istri, sehingga keduanya merasakan adanya tali yang mengikat keduanya.
Karena itu, meskipun mereka merasakan perbedaan sifat dan watak, serta menghadapi pelbagai problematika kehidupan, mereka tetap merasakan sentuhan Ilahiah yang menenangkan dan menenteramkan hati mereka setiap kali saling melihat wajah pasangannya. Perasaan ini demikian mendalam sedalam naluri terppendam, sehingga bentuknya tidak dapat diketahui oleh siapapun.
Bagaimanapun juga, rasa kasih sayang yang khusus ini mempunyai hubungan dengan rahmat Sang Pencipta, sehingga perasaan ini sangat tergantung pada seberapa kuat hubungan, ketaqwaan, dan ketaatan pasangan suami-istri itu kepada Allah SWT.

Bila rahmat Allah SWT telah turun pada sepasang suami-istri, maka Anda akan melihat hubungan mereka sangat hangat dan harmonis, saling mengasihi, dan saling memahami kondisi pasangannya.


NB : sumber Ensiklopedia ar-Rahman ar-Rahim