Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 September 2013

Orang Kerdil dan Kelelawar





Dalam buku atau film ”The Lord Of The Rings” yang  cukup fenomenal ada fragmen penyelamatan dunia oleh orang kerdil dari kaum hobbit yang bernama Frodo. Meski diganggu dengan berbagai intrik “seetan” Smeagol saat naik ke pegunungan Mount Doom akhirnya orang kerdil  Frodo yang ditemani Sam ini mampu menjadi pahlawan untuk menghancurkan “Dajjal” bermata satu Sauron dari kerajaan kegelapan Mordor. Cincin (the ring) pun jatuh ke kawah. 

Begitu juga dalam buku “The Hobbit”, Bilbo seorang hobbit kerdil  keturunan keluarga Took yang berjiwa petualang melintasi Bumi Tengah. Kemudian menjadi dewa penyelamat atas kejahatan Smaug sang naga, pencuri harta milik kurcaci. Lalu melawan Troll, Goblin, serigala buas Warg serta makhluk jahat lainnya.
 
Cerita kepahlawanan orang kerdil di atas tentu menarik untuk dibaca dan ditonton. Akan tetapi dalam kenyataan kehidupan kita banyak ceritra “orang kerdil” yang tak enak untuk ditonton atau dibaca.


Rasulullah SAW  bersabda “Dan orang yang kerdil  yaitu orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tetapi ia menginginkan berbagai harapan kepada Allah SWT” (HR Turmudzi).
Orang yang mengikuti hawa nafsu, adalah orang yang lemah pengendalian diri. Berbuat semaunya tak peduli akan risiko dari perbuatan itu. Cuma anehnya meski demikian, ia masih sangat berharap pada kemurahan Allah SWT. Suatu sikap tak tahu diri.

Namun, jika  orang bersalah menyesali perbuatannya kemudian berharap akan rahmat Alllah, maka itu  adalah hal yang baik. Akan tetapi orang bersalah dan berkutat dengan dosa-dosanya tanpa ada penyesalan sedikitpun lalu berharap mendapat rahmat Allah adalah memilukan dan memalukan.

Di sisi lain, orang kerdil adalah orang yang pengecut. Selalu cari selamat sendiri. Bila perlu dengan mengorbankan orang lain. Islam sangat mengecam watak seperti ini. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu berdoa terhindar dari sifat pengecut (al  jubn) “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah (al ajz)  dan malas  (al kasal), pengecut (al jubn) dan bakhil (al bukhl)”  (HR Muslim dan Nasa’i).

Sifat pengecut dan cari selamat sering berwatakkan cari muka, plin plan, ikut arah dan situasi yang dinilai menguntungkan dirinya.

Dalam kisah ada pelajaran. Diceritrakan seekor kelelawar yang mengintip pertarungan burung melawan binatang buas. Semula ia yang sama sama terbang cenderung berada di pihak burung. Namun ketika yang mendapat kemenangan adalah  binatang buas, maka ia menyelinap bergabung dengan hewan buas yang pulang dengan kemenangan.

Kecurigaan salah satu hewan bahwa kelelawar itu tadi ada di kelompok burung dijawabnya “Saya ada di pihak anda, bukankah saya memiliki taring dan cakar serta moncong yang sama dengan kalian?”

Di waktu yang lain dalam pertarungan ulang, ternyata burung mendapat kemenangan. Kelelawar sekarang menyelinap di kelompok burung, seolah-olah ia adalah bagian dari perjuangan kemenangan itu. Burung curiga dan mendakwa bahwa kelelawar tadi ada di pihak binatang buas.

Namun dakwaan itu dibantahnya dengan mengatakan “Saya ada di pihak kalian, bukankah saya sama memiliki dua kaki yang berbeda dengan binatang buas berkaki empat dan saya juga sama dengan kalian bersayap dan dapat terbang?” Sergahnya.

Ketika suatu saat kelompok burung dan binatang buas berdamai, mereka memusyawarahkan posisi kelelawar. Atas dasar sifatnya, mereka lalu sepakat untuk menghukum dengan mengucilkannya. Itulah yang kemudian konon kelelawar hidup soliter dan hanya keluar malam hari.

Manusia yang berhati kerdil menghiasi kehidupan politik, sosial, bisnis, atau lainnya. Mereka tak memiliki pendirian yang ajeg. Berani menghianati teman untuk cari selamat sendiri.  Orang demikian nyatanya berakhir tidak selamat juga.

Orang kerdil Hobbit hanya kecil secara fisik, namun memiliki jiwa dan langkah yang besar. Sebaliknya manusia yang berbadan besar, memiliki jiwa yang kerdil. Seperti seekor kelelawar. 

Allah SWT mengingatkan bahwa buta itu bukan tidak bisa melihat, tapi hati yang tertutup. Tuli bukan tak bisa mendengar, tapi mereka yang tak mau mendengarkan hal-hal yang baik.      




Oleh HM Rizal Fadillah

8 Sikap Hadapi Fitnah dan Tuduhan



Mungkin di antara kita selama hidup pernah difitnah atau dituduh. Ada yang dituduh sebagai pembohong, egois, tidak punya perasaan, pengkhianat, pencuri, dituduh selingkuh, dikatakan zalim, munafik, sesat, atau tuduhan-tuduhan lainnya. Padahal, termasuk zalim, menuduh dan memfitnah orang lain dengan sesuatu yang tidak dilakukannya. Jika Anda dituduh dan difitnah oleh seseorang, padahal Anda yakin tidak bersalah maka ada delapan sikap yang sebaiknya kita lakukan. 

1. Hendaklah kita cek dan kita pelajari lagi jangan-jangan yang dituduhkan orang lain itu benar. Jika ternyata kita salah, jangan malu dan gengsi mengakui kesalahan dan mengikuti kebenaran. Meskipun, cara orang yang menasihati kita kasar atau mungkin bermaksud tidak baik. 

2. Memperbaiki ucapan atau tindakan kita yang menjadi penyebab orang memfitnah kita. Misalnya, bendahara masjid dituduh mencuri uang kas disebabkan tidak transparannya laporan keuangan. Maka, hendaknya dibuat laporan yang rapi dan jelas. Jika seseorang dituduh "nakal" karena sering bergaul dengan orang-orang "nakal", selektiflah dalam memilih sahabat. 

3. Ingatlah akan aib dan dosa kita. Syekh Salim Al Hilali berkata, “Kalau Anda bersih dari kesalahan yang dituduhkan itu, tapi sejatinya Anda tidak selamat dari kesalahan-kesalahan lain karena sesungguhnya manusia itu memiliki banyak kesalahan. Kesalahanmu yang Allah tutupi dari manusia jumlahnya lebih banyak. Ingatlah akan nikmat Allah ini di mana Ia tidak perlihatkan kepada si penuduh kekurangan-kekuranganmu lainnya ….” (Dinukil dari buku Ar Riyaa halaman 68). 

4. Hendaklah kita merenung dan mengevaluasi kesalahan dan dosa-dosa kita. Baik yang berhubungan dengan muamalah antara manusia, maupun dosa-dosa antara kita dengan Allah. Tuduhan dan fitnahan bisa jadi merupakan teguran agar kita kembali dan bertobat kepada Allah. 

5. Jika kita sabar dan ikhlas, semoga tuduhan dan fitnahan ini dapat mengurangi/menghapus dosa, menambah pahala, dan meningkatkan derajat kita di sisi-Nya.

6. Doakanlah si penuduh agar Allah memberi petunjuk. Jika memungkinkan, nasihatilah dia secara langsung maupun melalui sindiran agar dia bisa sadar dan bertobat. Maafkan dia, tapi kita boleh membalas untuk suatu kemaslahatan asalkan tidak melampaui batas. (Lihat surah Asy Syuuraa 40-43). Jika terpaksa, doakanlah keburukan untuk si zalim agar ia menjadi sadar dan bertobat.

7. Shalat istikharah untuk meminta bimbingan Allah cara yang tepat mengklarifikasi atau membela diri. Meladeni dan membantah terkadang justru membuka pintu keburukan untuk kita. Bisa jadi, klarifikasi tanpa menyebutkan tentang tuduhan mengenai dirinya dan tanpa menyebutkan nama penuduh akan banyak memberikan manfaat untuk umat.

8. Yakinlah musibah tuduhan merupakan kebaikan untuk Anda. Si penuduh yang merugi karena dia telah melakukan kejahatan dan berhak memperoleh azab-Nya. Allah berfirman, “…. Janganlah kamu mengira berita (bohong) itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapatkan dosa yang diperbuatnya ….” (Surah an Nuur 11).

“Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar.” (Surah an Nuur 23). Semoga kita menjadi orang yang takut kepada Allah dengan tidak mudah menuduh orang lain tanpa bukti dan dapat menyikapi dengan bijaksana saat mendapat fitnah. 




Empat Ranjau Kemaksiatan





Keimanan otentik dibuktikan dengan kesediaan secara tulus untuk selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Dalam Islam, perintah dilaksanakan sekuat kemampuan, sementara larangan dijauhi tanpa syarat dan tawaran.

Haji, misalnya, hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Demikian pula sedekah, zakat, puasa, dan perintah-perintah agama yang lain. Berbeda dengan zina, judi, konsumsi barang haram, dan lainnya, semua itu berlaku mutlak bagi setiap kaum beriman, kaya atau jelata, alim atau awam, besar atau kecil.

Dalam bidang perintah, Allah tidak akan memaksa seorang hamba untuk melakukan kewajiban di luar kemampuannya. Manusia hanya diseru untuk mempersembahkan yang terbaik. Karena, setiap perintah sejatinya demi kemaslahatan manusia, dan setiap larangan pasti mengandung mudarat dahsyat. Fakta demikian sudah banyak dibuktikan oleh pakar-pakar keilmuan modern.

Jika direnungkan, melaksanakan perintah ternyata lebih ringan ketimbang menjauhi larangan. Banyak orang rajin shalat tetapi gagal mencegah diri dari perbuatan jahat. Tidak sedikit orang berulang kali pulang umrah atau haji dari Tanah Suci tetapi masih bersikap tinggi hati. Juga tidak sedikit orang aktif berpuasa wajib dan sunnah sekaligus berperangai abai terhadap penderitaan sesama.

Benarlah kata pepatah, manusia memang tempat salah dan lupa. Ia terlalu mudah terpukau oleh segala yang mempesona indra. Apalagi bujuk rayu setan dan nafsu kerap menjerumuskannya pada kezaliman dan kebodohan. Perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 34 berikut.

“Dia telah memberikan kepada kalian keperluan kalian dan segala yang kalian mohonkan kepada-Nya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan dapat menghitungnya. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat ingkar.” (QS Ibrahim: 34).

Karena itu, saatnya kaum beriman senantiasa sigap dan waspada. Jangan biarkan segala kebaikan yang susah payah kita usahakan tersapu oleh kezaliman dan kebodohan kita. Sebagaimana pentingnya kita memahami pintu-pintu kebaikan, tidak kalah penting pula mencermati ranjau-ranjau kemaksiatan yang kerap menyeret manusia ke dalam jurang kehinaan dan kehancuran.

Secara umum, ada empat macam ranjau kemaksiatan. Siapa mampu mengantisipasi keempat ranjau itu, maka dia telah menyelamatkan agamanya.


Pertama, pandangan pertama (al-lahazhat). Pandangan mata memang kerap menipu, sehingga menjadi muasal bencana bagi hidup manusia. Pandangan mata wadag melahirkan lintasan dalam pikiran, sementara pikiran akan mengendalikan setiap ucapan dan perbuatan. Islam sangat menekankan agar kita mampu menjaga pandangan.

Kedua, lintasan pikiran (al-khatharat). Ranjau ini tidak boleh kita anggap enteng dan merupakan yang paling sulit diantisipasi. Betapa tidak, setiap ucapan dan perbuatan manusia, baik atau jahat, mulia atau hina, sudah pasti pantulan dari segala yang terlintas dalam pikirannya. Pikiran yang diterangi cahaya agama akan melahirkan perilaku mulia, sementara pikiran yang berselimut noda akan menghasilkan perilaku tercela.

Ketiga, ucapan (al-lafazhat). Sejenak mari kita renungkan kisah Muadz bin Jabal yang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan yang dapat memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka. Rasulullah kemudian memegang lidah beliau sendiri dan berkata, “Jagalah olehmu yang satu ini”. Segera Muadz berkata, “Adakah kita semua bisa disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?” Rasulullah menjawab, “Ibumu kehilangan engkau, Muadz. Tidaklah dapat menyungkurkan wajah banyak manusia ke neraka, kecuali ucapan lidah mereka.” (HR Tirmidzi).

Keempat, tindakan kejahatan (al-khathawat). Modus tindakan kejahatan tentu beragam, baik secara samar maupun tampak. Yang pasti, semua itu merupakan bentuk kemaksiatan. Tidak ada ucapan dan perbuatan jahat yang bukan kategori kemaksiatan. Sebaliknya, segala bentuk kemaksiatan pasti akan melahirkan ucapan dan perbuatan jahat. Itulah sebabnya, kemaksiatan sangat dibenci oleh Allah dan manusia.

Kendati demikian, tidak ada manusia yang dapat lepas dari ranjau kemaksiatan. Terlalu naif jika kita menganggap diri tidak pernah melakukan kemaksiatan. Sepanjang dunia ada dan manusia masih bernyawa, ranjau kemaksiatan akan selalu tersedia. Itulah tantangan hidup manusia yang sebenarnya.

Sebagaimana nurani yang selalu suci, fitrah manusia juga memiliki jiwa yang merupakan pintu masuk keburukan dan kebaikan. Bersyukurlah siapa saja yang mampu mensucikan jiwanya dari segala bentuk kemaksiatan.

“Maka Allah telah mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS As-Syams: 8-10).

Mensucikan jiwa dari kemaksiatan jelas bukan perkara mudah. Terlebih di zaman serba modern ini, kemaksiatan selalu tampil memukau dan mempesona. Ghibah alias rerasan keburukan orang dikemas dalam sajian bernama infotainmen. Orang begitu menikmatinya tanpa sadar bahwa dia sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang sangat dilarang agama.

Belum lagi kekerasan, pornografi, pornoaksi, umpatan, kemarahan, pelecehan martabat manusia, dan segudang perilaku sampah lain yang disajikan secara elegan dalam hiburan bernama sinetron dan tontonan musik. TV tidak pernah membatasi pemirsa. Kalangan anak, remaja, dewasa, dan manula di setiap rumah bebas menikmatinya.

Jika tidak kita waspadai dan lawan dengan segenap daya dan doa, ranjau-ranjau kemaksiatan ini jelas akan merontokkan sendi-sendi moralitas dan keberagamaan kita hingga tanpa bersisa. Wallahu a’lam.



Oleh M Husnaini, Penulis Buku “Menemukan Bahagia”. email: hus_surya06@yahoo.co.id


 http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/13/mt1rcb-empat-ranjau-kemaksiatan


Senin, 09 September 2013

Akhirnya Jodoh Datang



Sepasang suami istri tinggal di Jeddah mempunyai satu anak perempuan semata wayang. Gadis itu tumbuh dewasa dan berharap untuk segera menikah.

Ia menginginkan memiliki pendamping hidup seorang laki-laki shalih yang takut kepada Allah, bertanggung jawab, yang dapat membimbing, melindungi dan menyayanginya.

Begitulah impian kebanyakan wanita, tidak muluk-muluk dalam memilih kriteria calon suaminya. Sampai usianya 37 tahun belum ada seorang pun yang melamarnya.

Kedua orang tuanya sudah lanjut usia, mereka berdua gelisah. Para tetangganya memikirkan bagaimana jika kedua orang tuanya wafat, dia akan hidup sebatang kara. Ia tidak memiliki seorang kerabat pun di Jeddah.

Ketika beban terasa semakin berat, hidup terasa semakin sempit datanglah pertolongan Allah. Sesungguhnya bersama kesulitan pasti datang kemudahan.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka. Subhanallah…

Allah Al Fattaah membukakan pintu jodoh untuk gadis tersebut dengan kedatangan seorang pemuda shalih yang berumur lebih muda darinya, ia datang menemui ayahnya dan melamar anak gadisnya.

Akhirnya keduanya menikah dan sekarang hidup bahagia, Allah karuniakan kepada keduanya empat orang anak. Ayah dan ibu wanita tersebut wafat tidak lama setelah anak gadisnya menikah.

Tidak sedikit wanita, baik janda maupun gadis yang telah berumur lebih dari empat puluh tahun, akhirnya mereka menikah. Janganlah kaum wanita yang belum mendapatkan jodoh putus asa dari rahmat Allah.

Dr. Ghazi bin Abdul Aziz Syammari direktur salah satu LSM yang mengurusi permasalahan keluarga di wilayah bagian timur Saudi Arabia berkata, "Saudariku yang kumuliakan, sesungguhnya pernikahan merupakan salah satu dari karunia dari sekian banyak karunia yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba Nya.''

Yakinlah seyakin-yakinnya jika jodoh sudah ditakdirkan menjadi rezekimu maka ia tak akan lari kemana, pasti akan datang kepadamu.

Jodoh itu sudah dicatat dan tersimpan di Lauh Mahfudz. Janganlah keterlambatan dalam menikah menjadikanmu gelisah dan stress sehingga mengganggu kehidupanmu.

Banyak memikirkan masalah jodoh yang belum kunjung tiba membuka pintu masuknya setan ke dalam dirimu sehingga membuatmu merasa adanya jin di kamarmu. Segeralah bertaubat dan beristighfar! Mengadulah kepada Allah dengan banyak berdoa!

Saudariku yang kumuliakan, ketahuilah keterlambatanmu dalam menikah sesungguhnya baik untukmu. Anda mendapatkan limpahan pahala dari Allah, ampunan dari dosa-dosamu, dan derajat yang tinggi di sisi Nya.

Sabarlah menghadapi ujian hidup! Surga itu mahal, penghuninya adalah orang-orang yang sabar dan ikhlas. Bersangka baiklah kepada Allah, optimislah selalu dan yakinlah akan kekuasaan Allah sehingga Anda dapat terus melangkah dan menikmati perjalanan hidup ini. Menikah hanyalah salah satu terminal tapi bukan tujuan dari perjalanan kita.

Saya memohon kepada Allah agar meneguhkan hatimu, mengaruniakan kebahagiaan dunia dan akhirat untukmu. Saya memohon kepada Allah Yang Mahaagung pemilik Arsy Yang Mahamulia agar mengaruniakan jodoh berupa suami yang shalih untukmu. Allahumma amin." (Istisyaaraat Usariyyah halaman 431)

Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Isilah waktu dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat seperti menuntut ilmu Islam, berpuasa sunat, bekerja di rumah atau di tempat yang aman dari fitnah.

Berilah manfaat untuk masyarakat dengan mengajar, berdakwah atau amal-amal sosial lainnya. Boleh jadi Anda tidak menyukai sesuatu tapi itu baik untukmu. Allah Mahamengetahui sedangkan kita tidak mengetahui.



Oleh: Fariq Gasim Anuz

Minggu, 08 September 2013

Jadilah Kesatria Sejati......




Kafir Makkah sedang memeras otak. Abu Jahal, Utbah, Syaibah, Abu Sufyan, Jabir bin Muth’im, Abu Bukhturi, Abu Aswad, Hakim bin Hizam, Umayah bin Khalaf, dan sejumlah dedengkot kafir lain bersidang untuk mengatasi Rasulullah. Abu Bukhturi mengusulkan agar Rasulullah dirantai dan dibui. Abu Aswad menyarankan agar Rasulullah diusir saja dari Makkah. 

Semua usulan itu kandas di ruang sidang. Kesepakatan baru didapat dari ide dedengkot utama, Abu Jahal. Menurutnya, harus dikumpulkan pemuda-pemuda pemberani dari setiap kabilah. Mereka lalu dipersenjatai dan ditugasi untuk mengepung rumah Rasulullah di malam hari, dan mengeroyok beliau sampai mati. Dengan begitu, Bani Hasyim tidak akan mungkin menuntut balas kepada seluruh kabilah. 

Keputusan diketuk. Masing-masing pihak bekerja sesuai tugas. Tetapi, Jibril segera kirim kabar dan memerintahkan Rasulullah untuk hijrah. Sebagian sahabat masih berada di Habasyah dan sebagian lain sudah hijrah ke Madinah. Yang tersisa di Makkah tinggal Rasulullah, Abu Bakar As-Shiddiq, dan Ali bin Abu Thalib. 

Situasi malam itu sungguh mencekam. Berpuluh pemuda utusan kaum kafir Makkah mengintai kamar Rasulullah. Mereka mondar-mandir di depan pintu rumah, bersiap melakukan penyerangan sekiranya beliau keluar rumah. Rasulullah sendiri tidur ditemani Abu Bakar As-Shiddiq dan Ali bin Abu Thalib.

Tepat tengah malam, beliau keluar bersama Abu Bakar, berangkat ke Madinah. Untuk mengelabui musuh, Rasulullah lantas meminta Ali untuk tidur di ranjang beliau. Kepadanya, beliau juga berpesan agar memulangkan semua barang yang selama ini diamanahkan kepada beliau. Subhanallah. Ali patuh tanpa syarat. Padahal dia sadar bahwa nyawanya sedang menjadi taruhan. 

Boleh jadi tidak ada orang tua yang merelakan anaknya menyongsong bahaya. Tetapi Rasulullah jelas tidak hendak menjerumuskan putra asuh kesayangannya itu ke dalam maut. Meminta Ali untuk tidur di ranjang maut itu, beliau justru menanamkan jiwa kesatria kepadanya. Rasulullah pasti sudah berhitung bahwa Ali pasti selamat. Faktanya, tiga hari pasca peristiwa, pemuda 22 tahun itu menyusul Rasulullah ke Madinah. 

Ali memang pemuda pilihan. Selain cerdas, keberaniannya tidak tertandingkan. Dalam usia belia, dia bahkan rela menjadi tebusan nyawa Rasulullah. Keberanian dan kegeniusan itu pasti hasil pendidikan Rasulullah. Kelak, sejarah mencatat Ali sebagai tokoh Islam garda depan. Masuk Islam usia 8 tahun, dan hatinya telah dipenuhi keindahan Al-Qur’an sejak usia 10 tahun. Pantas dia berjuluk Kota Ilmu. 

“Dialah putra Ka’bah yang suci, asuhan wahyu yang mulia, panglima kebebasan, pembela keadilan, penggenggam ketakwaan, orator andal, pejuang gagah berani, dan tidak memiliki seekor unta pun untuk mengarungi lautan pasir mengerikan yang membentang antara Makkah dan Madinah,” tulis Ali Syariati dalam salah satu karyanya. Hasan Al-Basri juga menyatakan, “Ali telah mencurahkan tekad, ilmu, dan amal kepada Al-Qur’an. Baginya, Al-Qur’an ibarat kebun-kebun yang indah dan tanda-tanda yang jelas.”


Pendekar Jihad

Rasulullah telah berhasil mendidik Ali sebagai pribadi mulia. Dia cerdas namun santun, pemberani tetapi rendah hati, tegas sekaligus bijak, miskin nan dermawan. Tidak heran, dia mampu memenangi ‘persaingan’ dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab untuk memperistri putri Rasulullah tercinta, Fatimah Az-Zahrah. 

Dialah pendekar jihad yang membuat musuh-musuh Islam lari tunggang langgang. Kependekaran Ali di medan juang bisa dibuktikan, misalnya, dalam Perang Khaibar (629 M). Ketika itu, benteng Yahudi begitu susah ditembus, bahkan oleh pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Umar. Menyaksikan keadaan itu, Rasulullah akhirnya berkata, “Besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang yang mencintai dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Melalui kedua tangannya, Allah akan memberikan kemenangan.”

Esok harinya, setelah pasukan bersiap, Rasulullah berteriak, “Dimana Ali bin Abu Thalib?” begitu Ali tiba, Rasulullah lalu memberi isyarat dengan tangan kanan beliau agar dia tampil ke depan. Rasulullah mengambil bendera, mengangkatnya, dan mengibarkannya tiga kali, sebelum meletakkan bendera itu di tangan kanan Ali. 

“Ambillah bendera ini,” tutur Rasulullah, “kemudian pergilah dengannya, sampai Allah membukakan kemenangan padamu.” Segera Ali maju memimpin pasukan. Tidak lama, benteng Yahudi yang sudah berhari-hari tidak dapat ditembus itu akhirnya dapat dikalahkan di bawah pimpinan Panglima Ali bin Abu Thalib.

Lain lagi kisah kependekaran Ali dalam Perang Khandak (627 M). Ketika itu, Ali sedang memimpin penggalian parit untuk membendung serangan musuh. Mendadak beberapa pasukan musuh di bawah pimpinan Amr bin Ash dan Ikrimah bin Abu Jahal menyeberangi parit. Amr berkata pongah, “Hai orang Arab, apa yang kalian lakukan? Hadapi aku! Kita duel sampai terbukti siapa yang layak untuk hidup.”

Ali menyuruh anak buahnya terus menggali parit, sementara dia menghampiri Amr dengan ketetapan hati yang bulat. “Aku akan menghadapimu, Hai Amr.” Amr mengangkat dagunya. “Aku tidak suka membunuh orang seperti dirimu. Ayahmu adalah sahabat setia ayahku. Karena itu, pergilah! Engkau masih muda.”

Ali masih menderap, mengabaikan kalimat Amr. Melihat kesungguhan Ali, tidak ada pilihan lain bagi Amr kecuali turun dari kuda. Dia menyiapkan pedang dan menyambut kedatangan Ali. Pertempuran dimulai. Suara logam saling hantam. Debu menghalangi pandangan. Orang-orang menebak bagaimana ujung pertempuran. Ikrimah masih duduk di punggung kuda. Dua orang lagi di belakangnya ikut mendegupkan jantung. 

“Allahu Akbar!” Suara yang mengejutkan Ikrimah. Jelas bukan teriakan Amr. Itu lantang suara Ali. Seketika Ikrimah sadar, nasib buruk sedang menimpa Amr. Alamat buruk juga buat dirinya. Segera dia menarik tali kekang kuda, diikuti dua orang anak buahnya. Ikrimah berhasil selamat. Tetapi dua orang di belakangnya terperosok galian. Beberapa tentara Muslim turun dan menuntaskan tugas perang.

Itulah Ali bin Abu Thalib. Sosok kesatria sejati, yang tumbuh dalam asuhan Panglima Sejati Berhati Suci. 

Oleh M Husnaini