Senin, 04 Mei 2009

Orientasi Ibadah

Oleh: Nawawi Efendi

Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa tujuan diutusnya Rasulullah SAW kepada manusia hanyalah untuk memperbaiki akhlak. Demi tujuan inilah, Rasulullah SAW memperjuangkan Islam dengan berseru kepada manusia untuk berbuat yang baik (ma'ruf) dan melarang perbuatan keji (mungkar).

Shalat, zakat, puasa, dan haji hanyalah ritual ibadah wajib, namun sesungguhnya merupakan sarana menuju perbaikan akhlak sesuai misi Rasulullah SAW di atas. Maka, sungguh naif seorang Muslim yang sudah melaksanakan ibadah tersebut, tapi perilakunya masih jauh dari nilai-nilai Islami.

Berbohong menjadi kebiasaannya. Bahkan, korupsi masih dianggap hal yang sepele. Keislamannya hanya terlihat di dalam masjid. Di luar masjid, setelah melaksanakan shalat, nilai-nilai Islam itu mulai ditinggalkan.

Di sinilah masalahnya. Jika seorang Muslim tidak mempunyai orientasi yang jelas dari semua ibadah yang dilakukan, ia tidak akan pernah merasakan manisnya ibadah itu sendiri. Ia masih menganggap ibadah sebagai formalitas ritual semata. Kalau dikerjakan, ia mendapat pahala dan kalau ditinggalkan, ia mendapat dosa.

Allah SWT berfirman, ''Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.'' (QS Albaqarah [2]: 183).

Bagian terakhir ayat di atas menyebutkan, ''...agar kamu bertakwa.'' Artinya, orientasi sesungguhnya dari ibadah puasa adalah menjadi orang yang bertakwa. Dan, orientasi ini tidak terbatas pada ibadah puasa semata, tapi semua ibadah lainnya.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa perbaikan akhlak dan menjadi orang yang bertakwa adalah dua orientasi utama dari semua ritual ibadah. Sebagai umat Islam, kita harus mengiringi kedua orientasi itu dalam setiap ibadah. Sebab, kalau tidak, motivasi untuk beribadah akan turun dan yang dirasakan hanya keterpaksaan.

Yang juga ditakutkan, manakala mengira telah beribadah kepada Allah SWT dengan sebaik-baiknya, sebenarnya ibadah itu tidak bernilai apa pun di sisi-Nya. Allah berfirman, ''Katakanlah, apakah akan kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.'' (QS Alkahfi [18]: 103-104).
Kesia-siaan ibadah yang dilakukan bisa jadi karena tidak disertai keikhlasan atau karena salah satu rukun dan syaratnya tidak dipenuhi. Semua itu disebabkan oleh satu hal, yaitu tidak adanya orientasi dalam ibadah.

Bila seorang Muslim mempunyai orientasi yang jelas dari semua ibadahnya, pasti akan berusaha keras agar ibadah itu diterima sehingga ibadahnya tidak sia-sia. Dan, sebagai umat yang beriman, tentu akan lebih berbangga jika esensi dari semua ibadah itu dapat terimplementasikan dalam tingkah laku sehari-hari.

Hidup yang Termotivasi

Oleh Rian Hidayat El-Padary

''Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.'' (QS Azzumar [39]: 53).
Alam ini dinamis dan manusia hanya dapat hidup tenteram jika mengikuti kedinamisan alam. Alam ini terus berubah, maka hanya manusia yang ber-harakah, yang bisa bersinergi dengan alam.

Dalam menjalani kedinamisan alam, tentu kita harus memiliki motivasi yang tinggi agar tidak terempas dari peradaban. Jika hamba dikaruniai semangat yang besar, dia akan berjalan di atas jalan keutamaan dan akan menaiki tangga dalam derajat yang tinggi.

Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat rupa-rupa kalian, melainkan Dia hanya melihat amal dan hati kalian.'' (HR Abu Hurairah).

Semangat dan motivasi adalah pusat penggerak, yang membentuk kepribadian, dan yang mengawasi organ-organ tubuh. Semangat adalah bahan bakar jiwa dan kekuatan yang berkobar-kobar, yang akan menggerakkan pemiliknya untuk melompat tinggi dan memburu nilai-nilai kemuliaan.

Motivasi itu terbagi dua. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang lahir dari dalam (intrinsik) tentu jauh lebih besar pengaruhnya jika dibandingkan motivasi buatan yang dibuat-buat dari luar (ekstrinsik).

Setiap perbuatan pasti didasari oleh motivasi tertentu. Teori-teori dasar dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) semuanya mengenai motivasi, mulai dari teori Kebutuhan Maslow, teori Keadilan, teori Harapan, dan sebagainya. Benang merah dari semua itu adalah tak mungkin ada perbuatan yang terjadi tanpa dilandasi motivasi apa pun.

Dalam kaitan ini, karena hidup itu dinamis, tidak selamanya kita berada di puncak motivasi. Tapi bagi para pejuang, dalam letih pun mereka akan tetap tersenyum. Karena, apa yang ditunaikan menjadi jaminan bermaknanya usia dan bermanfaatnya kehidupan. Untuk itu, tiap jerih akan dibalas dengan surga-Nya.

Siapa yang tidak memiliki semangat surgawi, semangat untuk meraih ridha akan keesaan Allah SWT, maka setan akan menyibukkannya dengan aktivitas berpola negatif. Pribadi yang panjang angan serta mengisi usia dengan berfoya, akan menjadi budak hawa nafsu yang tak pernah terpuaskan.

Kalau kita tidak memiliki motivasi yang kuat untuk meraih ridha Allah SWT, maka karunia potensi fisik, akal, dan roh itu terlalu berharga untuk disia-siakan dalam kekufuran atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita.

Ujian Kekuasaan

Oleh Yodi Indrayadi

Rasulullah SAW bersabda, ''Kelak, kalian akan tergila-gila dengan kekuasaan. Padahal, kekuasaan akan membuahkan penyesalan di hari kiamat. Nikmat di awal, sengsara di akhir.'' (HR Bukhari).Hadis tersebut merupakan nubuwat Rasulullah SAW, yang mungkin sekarang terjadi, sekaligus teguran agar sebaiknya orang Mukmin menghindari kekuasaan. Sebab, pada umumnya kekuasaan hanya akan mengakibatkan kesengsaraan, baik itu di dunia maupun akhirat.

Saat kekuasaan ada di genggaman, segala kenikmatan datang: wibawa, kekayaan, penghormatan, pujian, dan sebagainya. Namun, tatkala kekuasaan lenyap, maka lenyap pula segala kenikmatan itu, bahkan mungkin berganti dengan kesengsaraan: dituntut di hadapan manusia atau Tuhan. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW dengan ''Nikmat di awal, sengsara di akhir.''

Namun demikian, bukan berarti kekuasaan tidak boleh didekati. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memberi batasan, ''Sebaik-baik sesuatu adalah kekuasaan bagi orang yang mengambilnya dengan hak. Dan, seburuk-buruk sesuatu adalah kekuasaan bagi orang yang mengambilnya tanpa hak, dan itu akan membuatnya menyesal di akhirat.'' (HR Thabrani).

Suatu ketika Abu Dzar berkata kepada Rasulullah SAW, ''Wahai Rasulullah, tidakkah engkau berniat mengangkatku?'' Rasulullah SAW menjawab, ''Engkau ini lemah. Sedangkan kekuasaan adalah amanah. Kekuasaan akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan melaksanakan kewajibannya.'' (HR Muslim).

Imam Nawawi berkata, ''Ini adalah dasar hukum untuk menjauhi kekuasaan, terutama bagi orang yang lemah, yakni orang yang tidak memiliki kecakapan dan integritas ( 'adl ). Bila ia mendekati kekuasaan, ia akan menyesal dan mendapat kehinaan di akhirat, atas apa yang telah ia sia-siakan (selama memegang kekuasaan). Sedangkan bagi orang yang cakap dan mampu menjaga integritas, maka kekuasaan itu akan menjadi ladang pahala yang besar.''

Kekuasaan memang bisa membuat orang lalai. Siapa pun yang bersentuhan dengannya, jika tidak kuat iman, akan menjadi lupa diri. Yang berhasil meraihnya boleh jadi akan bertindak semena-mena. Dan, yang tidak berhasil meraihnya pun, mungkin bisa menjadi 'gila'.Mungkin, sabda Rasulullah SAW berikut perlu kita renungkan, ''Kekuasaan, pertamanya adalah perebutan, selanjutnya adalah penyesalan, dan akhirnya adalah siksaan akhirat, kecuali bagi orang yang mampu menjaga integritas.'' (HR Bazzar dan Thabrani).

Prof Jeffrey Lang: Hidayah dari Hadiah Alquran


By Republika Newsroom
Minggu, 26 April 2009 pukul 07:14:00

"Adam diturunkan ke bumi bukan karena dosa yang diperbuatnya, melainkan karena Allah SWT menginginkan seorang khalifah di bumi untuk mengatur dan menyejahterakan alam.’’ (Jeffrey Lang).

Prof Dr Jeffrey Lang,nama lengkapnya.Sehari-hari dia bekerja sebagai dosen dan peneliti bidang matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University pada tahun 1981. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut, pada 30 Januari 1954.

Pendidikan dasar hingga menengah ia jalani di sekolah berlatar Katolik Roma selama hampir 18 tahun. Selama itu pula, menurut Lang sebagaimana ditulis dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab dalam dirinya tentang Tuhan dan filosofi ajaran Kristen yang dianutnya selama ini.

‘’Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an, saya melewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya, pada masa itu, saya sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial, maupun keagamaan. Saya bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk para pemuka gereja Katolik,’’ paparnya.

Menginjak usia 18 tahun, Lang remaja memutuskan menjadi seorang atheis.
‘’Jika Tuhan itu ada dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu mengapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Mengapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam surga ? Mengapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?’’ kisah Lang tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun, pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.

Dihadiahi Alquran akhirnya Lang baru mendapat jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut ketika ia bekerja sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Di sanalah, ia menemukan petunjuk bahwa Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Petunjuk itu ia dapatkan dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam.

Saat pertama kali memberi kuliah di Universitas San Francisco, Lang bertemu dengan seorang mahasiswa Muslim yang mengambil mata kuliah matematika. Ia pun langsung akrab dengan mahasiswa itu. Mahmoud Qandeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi.

Mahmoud, kata Lang, telah memberi banyak masukan kepadanya mengenai Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. Salah satu yang pernah didiskusikan Lang dan Qandeel adalah riset kedokteran. Lang dibuat terpana oleh jawaban Qandeel, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi.

Qandeel menjawab semua pertanyaan dengan sempurna sekali dan dengan menggunakan bahasa Inggris yang bagus.

Ketika pihak kampus mengadakan acara perpisahan di luar kampus yang dihadiri oleh semua dosen dan mahasiswa, Qandeel menghadiahi asisten dosen itu sebuah Alquran dan beberapa buku mengenai Islam.

Atas inisiatifnya sendiri, Lang pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan, buku-buku Islam tersebut dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran. Dua juz pertama dari Alquran yang dipelajarinya telah mem buat dia takjub dan bagai terhipnotis.

‘’Tiap malam muncul beraneka ma cam pertanyaan dalam diri saya. Tapi, entah mengapa, jawabannya segera saya temukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiran saya dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Saya seakan menemukan diri saya di tiap halaman Alquran,’’ ungkap Lang.

Telaah Alquran Sebagai seorang pakar dalam bidang matematika dan dikenal sebagai seorang peneliti, penjelasan yang didapatkannya tidak langsung ia percayai begitu saja. Ia meneliti dan menelaah secara lebih mendalam ayatayat Alquran. Beberapa ayat yang membuatnya kagum dan telah membandingkannya dengan ajarannya yang lama adalah ayat 30-39 surah Albaqarah tentang penciptaan Adam.

Dalam bukunya Losing My Religion: A Call for Help, Jeffrey Lang secara lengkap menjelaskan pergulatannya dalam memahami ayat 30-39 surah Albaqarah tersebut.

‘’Saya membaca ayat tersebut beberapa kali, namun tak kunjung sanggup menangkap apa maksud Alquran,’’ ujarnya. ‘’Bagi saya, Alquran sepertinya sedang menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar atau mungkin keliru. Lalu, saya membacanya lagi secara perlahan dan saksama, baris demi baris, untuk memastikan pesan yang di -sampaikan,’’ lanjutnya.

Ketika membaca ayat ke-30 surah Albaqarah, ‘’Dan, ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Malaikat berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, mereka adalah orang-orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Padahal, kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.’’ Menurut Lang, ayat ini sangat mengganggunya. ‘’Saya merasa sangat kesepian. Seakan-akan penulis kitab suci ini telah menarik diri saya ke dalam ruang hampa dan sunyi untuk berbicara langsung dengan saya,’’ ujarnya.

‘’Saya berpikir, keterangan ayat tersebut ada sesuatu yang keliru. Saya protes. Lalu, saya baca lagi. Saya amati dengan saksama. Sebab, menurut ajaran yang pernah saya dapatkan, diturunkannya Adam ke bumi bukan menjadi khalifah, tetapi sebagai hukuman lantaran dosa Adam. Namun, dalam Alquran, tidak ada satu kata pun yang menjelaskan sebab-sebab diturunkan Adam karena perbuatan dosa,’’ jelasnya.

Menurut Lang, pertanyaan yang di utarakannya sama dengan pertanyaan malaikat yang menyatakan bahwa manusia itu berbuat kerusakan.

‘’Tapi, saya merasa ada sesuatu yang lain dari keterangan ayat selanjutnya.

Allah hanya menjawab, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’ Jawaban ini terkesan sederhana dan enteng, namun mengandung makna yang dalam,’’ ungkapnya.

Lang menjelaskan, dalam Alkitab, jawaban Tuhan atas pertanyaan malaikat disampaikan tentang hukuman yang diberikan karena berbuat dosa. ‘’Penjelasan ini berbeda dengan Alquran. Alquran menjawab pertanyaan para malaikat dengan memperlihatkan kemampuan manusia, pilihan moral, dan bimbingan Ilahi.

Allah mengajarkan manusia (Adam) nama-nama benda. ‘’Ayat tersebut menunjukkan kemu liaan dan kemampuan manusia yang tidak diberikan kepada malaikat,’’ ujarnya.

Bahkan, pada ayat ke-39 diterangkan, ‘’Adapun orang-orang yang tidak beriman dan mendustakan ayatayat Kami, mereka adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.’’ ‘’Saya merasa ayat ini makin kuat menyerang saya. Namun, saya semakin percaya akan kebenaran Alquran dan meyakini agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW,’’ jelasnya.

Islam rasional

Sekitar tahun 1980-an, belum banyak pelajar Muslim yang menuntut ilmu di UniversitasSan Francisco. Sehingga, kalau bertemu dengan mahasiswa Muslim di area kampus, menurut Lang, itu merupakan hal yang sangat langka.

Ada cerita menarik tatkala Lang sedang menelusuri kampus. Secara tak terduga, ia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. Ruang tersebut rupanya dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk menunaikan shalat lima waktu.

Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahu. Dia pun memutuskan masuk ke tempat shalat tersebut.

Waktu itu, bertepatan dengan waktu shalat Zuhur. Oleh para mahasiswanya, dia pun diajak untuk ikut shalat. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya.

Dengan para mahasiswa Muslim ini, Lang berdiksusi tentang masalah agama, termasuk semua pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalanya. ‘’Sungguh luar biasa, saya benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata, jawabannya ada dalam ajaran Islam,’’ tuturnya.

Sejak saat itu, Lang pun memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. Dia menjadi seorang mualaf pada awal 1980. Ia mengaku bahwa dengan menjadi seorang Muslim, banyak sekali kepuasan batin yang didapatkannya.

Itulah kisah perjalanan spiritual sang profesor yang juga meraih karier bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika yang menurutnya logis dan berisi faktafakta berupa data riil untuk menda patkan jawaban konkret.

‘’Dengan cara seperti itulah, saya bekerja. Adakalanya, saya frustrasi ketika ingin mencari sesuatu, tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Namun, dengan Islam, semuanya rasional, masuk akal, dan mudah dicerna,’’ tukasnya.

Prof Lang saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Aso siasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar Muslim dengan pihak universitas. Tak hanya itu, dia bah kan ditunjuk untuk memberikan ma ta kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.

Ia menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika pada tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga anak, yakni Jameelah, Sarah, dan Fattin. Selain menulis ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas Muslim Amerika. Even Angels ask: A Journey to Islam in America adalah salah satu buku best seller-nya. Dalam buku itu, dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam.

Beberapa tahun belakangan ini, Lang aktif pada banyak kegiatan Islami dan dia merupakan pembicara inspirasional yang paling terkenal di sebuah organi sasi pendidikan bernama Mecca Centric. Di sana, dia melayani konsultasi segala sesuatu tentang Islam ataupun kegiatan kepemudaan.sya/dia/berbagai sumber/kem