Selasa, 03 November 2009

Teknik Mencairkan Perselisihan Dengan Cepat

Perselisihan dalam suatu kelompok seringkali kita dapati dalam lingkungan tempat tinggal kita. Perselisihan dapat terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Adakalanya dalam menyelesaikan perselisihan itu kita dihadapkan pada kepribadian yang berbeda dan saling berbenturan antara orang yang sedang berselisih. Lantas bagaimana kita menghadapi orang-orang seperti ini?

Menurut David J.Lieberman,Ph,D, ada tiga aturan yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Aturlah agar dua pihak yang berlawanan duduk bersebelahan, bukan berhadapan. Ketika kita saling berhadapan secara fisik,sikap kita semakin kian berkubu karena kita mulai mengembangkan mentalistas ” kami dan mereka “.Duduk bersebelahan dapat menciptakan suasana persatuan dan kerjasama yang lebih kondusif

2. Hubungan dan kedekatan:Upayakan agar kedua pihak terus berdekatan dan saling berhubungan satu sama lain. Seperti yang di tunjukkan oleh berbagai penelitian yang dikutip, kedekatan meningkatkan rasa suka.Tingkat kedekatan tertentu sangat dibutuhkan dalam menciptakan kerja sama yang optimal. Tetapi, jagalah agar yang satu tidak mengungguli yang lain.

3. Sentuhan: Jangan pernah meremehkan pengaruh sentuhan manusia. Jika memungkinkan, cobalah menciptakan situasi di mana para anggota bisa saling berjabat tangan atau saling berkontak fisik.Sentuhan sangat meningkatkan keakraban. Kita merasa lebih dekat secara psikologis dengan orang-orang yang kita sentuh secara fisik.

Dengan demikian kita dapat mencairkan perselisihan dengan cepat sehingga kedamaian, persatuan, dan kerjasama dapat tercipta.

2009@http://www.blogpopuler.com

Dalang Pembantaian 7000 Muslim Bosnia Ditangkap

Mantan Presiden Serbia Bosnia Radovan Karadzic yang dituduh sebagai dalang pembantaian etnis Muslim Bosnia dan Kroasia kemarin ditangkap, setelah buron 13 tahun.

Ia memboikot pengadilan kejahatan perang Persatuan Bangsa Bangsa di Den Haag.

Karadzic ditangkap karena pembantaian lebih dari 7.000 pria dan anak laki-laki Muslim di Srebrenica, selama ia menjabat Presiden Serbia Bosnia. "Radovan Karadzic bertanggung jawab secara pribadi atas kejahatan kemanusiaan tersebut," ujar Alan Tieger, jaksa PBB.


Alan menambahakan, Karadzic menyesal karena beberapa pria muslim berhasil lolos dari operasi pembataian yang ia jalankan. Penyelidik kejahatan perang telah mengumpulkan bukti bahwa terdakwa yang telah mengeluarkan dan menandatangani perintah agar pasukan Republik Srpska untuk mengusir warga Muslim di Bosnia timur di wilayah Srebrenica, antara tahun 1992 dan 1995.

Radovan Karadzic lahir di RS Montenegro, RFS Yugoslavia, 19 Juni 1945. Karadzic adalah mantan politikus, psikiater Bosnia dari suku Serbia. Pada bulan Maret 1995, ia menugaskan Jenderal Ratko Mladic yang terkenal dengan Korps Drina untuk menghabisi semua umat Muslim di Sebrenica. "Kejahatan ini adalah puncak dari tekadnya untuk membersihkan Bosnia bagian timur dan memastikan negara Serbia seperti yang ia bayangkan," kata Tieger.

Hakim PBB mendapatkan bukti-bukti berupa rekaman video pembunuhan dan foto-foto forensik kuburan massal, tentang bagaimana kejinya pasukan Serbia Bosnia yang mengumpulkan kelompok muslim laki-laki dan anak laki-laki untuk dibantai di Srebrenica.

Pada 6 Agustus 1995, kurang dari tiga minggu setelah pembantaian Srebrenica, Karadzic kemudian menjadi presiden Serbia Bosnia. Dia langsung menghukum bawahannya karena gagal untuk "menghabisi" 9.000 warga Muslim yang melarikan diri.

"Kami tidak dapat mengepung dan menghancurkan musuh karena kita sedang terburu-buru dan kami menugaskan dua jenderal untuk buang-buang waktu selama 15 hari dalam negosiasi dengan para bajingan dan idiot," katanya pongah.

Karadzic membantah 11 dakwaan kejahatan perang, termasuk genosida untuk pembantaian di Srebrenica dan kampanye pembersihan etnis yang lebih luas dalam perang Bosnia tahun 1990-an.

Karadzic justru menantang jaksa PBB dengan menolak untuk menghadiri persidangan, kecuali jika diberikan lebih banyak waktu bagi tim hukumnya untuk mempersiapkan pembelaannya. (tmp/wkp/jko - www.esqmagazine.com)

http://esqmagazine.com/internasional/2009/11/03/727/dalang-pembantaian-7000-muslim-bosnia-ditangkap.html

Kisah Muhammad akan Difilmkan Produser Hollywood


HOLLYWOOD--Islam dan Nabi Muhammad selalu saja menjadi daya tarik besar buat 'orang Barat'. Jika tak ada aral melintang, persepsi yang mungkin selama ini kerap keliru dalam menyikapi Islam dan Muhammad bakal dapat diluruskan.

Seperti dilansir dari laman Reuters, produser dari film "The Lord of the Rings" dan "The Matrix" dikabarkan tengah menyiapkan sebuah film epic tentang Nabi Muhammad. Diharapkan rencana pembuatan film ini dapat menjadi semacam 'jembatan kebudayaan' dalam menyikapi Islam dan Muhammad yang selama ini kerap disalah-artikan.

Untuk mewujudkan rencana film epic ini, Reuters menyebutkan, nantinya suntikan dana diberikan dari sebuah perusahaan asal Qatar, Alnoor Holding. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa hiburan ini mengungkapkan, pihaknya menyiapkan dana sekitar 150 juta dolar AS dengan subtittle utamanya menggunakan bahasa Inggris.

Film ini rencananya dimulai pada 2011 dengan menggandeng produser asal Amerika, Barrie Osborne, yang pernah sukses menelurkan film "The Lord of the Rings" dan "The Matrix". "Film ini nantinya tidak akan menampilkan gambar dari Nabi Muhammad karena ini mrujuk pada ketentuan Islam,'' demikian pernyataan dari pihak Alnoor yang dilansir dari laman Reuters.

''Saat ini film sedang dikembangkan dan tengah melakukan sejumlah pembicaraan dengan beberapa pihak studio film, agensi pencari bakat, dan distributor film di Amerika Serikat serta Britania.''

Sementara itu Osborne menjelaskan film ini nantinya akan menjadi sebuah 'produksi film epic berskala internasional yang diarahkan untuk bisa menjadi jembatan kebudayaan'. ''Film ini nantinya diharapkan dapat mengedukasi orang tentang makna sebenarnya dari Islam,'' kata Osborne.

Namun seperti apa pemaknaan tentang Islam dalam sudut pandang Osbourne tersebut tidak dirinci lebih detail. Yang pasti, Osbourne sendiri sejauh ini tercatat sebagai salah satu produser kondang yang telah cukup banyak menghasilkan film-film Hollywood berkualitas dan laris dalam penjualan.

Lebih lanjut Alnoor juga menyatakan, pihaknya berusaha untuk memikat bintang-bintang berbakat internasional dalam memerankan peran film ini. Raja Sharif, wakil presiden dari proyek internasional Alnoor, berharap sejumlah kesepakatan yang sudah dirintis bisa terwujud pada tahun depan.

Dia mengatakan, pihaknya tidak terlalu berambisi dan berminat untuk menggandeng perusahaan film besar. Namun Sharif hanya menargetkan, film yang digarapnya nanti bisa mendapatkan distributor dengan akses jaringan yang luas, agen-agen penjualan, dan fasilitas pendukung yang lengkap terhadap kemungkinan proses pascaproduksi maupun produksinya.

Bukan yang Pertama

Alnoor sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di sektor hiburan. Perusahaan ini mempunyai fokus dalam produksi film internasional, produksi film Arab, dan animasi. Mereka juga membidik untuk memperoleh penekanan asetnya di industri film Hollywood maupun Inggris.

Sedangkan Qatar--salah satu kota terbesar di dunia yang menjadi pengekspor gas alam cair--saat ini terus membenahi diri agar dapat menjadi penghubung dalam menjembatani perbedaan kebudayaan di kawasan kawasan regional. Awal pekan ini, untuk kali pertama Tribeca Doha Film Festival dihadiri oleh para pembuat film, bintang film, agen, dan distributir berskala regional maupun internasional.

Sementara itu film yang mencoban mengangkat cerita tentang Muhammad ini bukanlah kali pertama dilakukan. Pada 1976, sutradara kelahiran Siria, Moustapha Akkad, pernah membuatnya. Saat itu, Akkad memberi judul filmnya Muhammad, Messenger of Allah atau dalam versi Amerika berjudul The Message. Dalam film itu hadir aktor Hollywood n Anthony Quinn yang memerankan diri sebagai Hamza.

Sedangkan pada 2004, Badr International Corporation pernah membuatnya dalam versi animasi dengan judul Muhammad: The Last Prophet. Namun film ini hanya ditayangkan secara terbatas di 37 layar di Amerika Serikat dan Kanada selama sepekan. reuters/mohammad akbar/ahi

By Republika Newsroom
Senin, 02 November 2009 pukul 05:21:00
http://www.republika.co.id/berita/86428/Kisah_Muhammad_akan_Difilmkan_Produser_Hollywood

“ rasa keadilan ” punya sejarah yang rumit..........


Kita kira-kira tahu dari mana datangnya hukum, tapi tahukah kita dari mana datangnya keadilan ?

Hukum memang dimaksudkan sebagai aktualisasi dari “rasa keadilan”. Kata “rasa” di sini sebenarnya lebih dekat ke arah “kesadaran”. Dengan catatan: kesadaran akan keadilan itu tak hanya sebuah produk kognitif, hasil proses pengetahuan, melainkan juga tumbuh melalui proses penghayatan. Dengan kata lain, sebagai aktualisasi, hukum adalah ibarat realisasi dari hasrat yang kita sebut “rasa keadilan” itu.

Tapi “rasa keadilan” punya sejarah yang rumit, separuhnya gelap yang mungkin belum juga selesai.

Ada masanya “keadilan” kurang-lebih sama dengan pembalasan simetris, sesuatu yang kita dapatkan dalam cerita silat Hong Kong abad ke-20 atau riwayat Keris Empu Gandring dari Jawa abad ke-11: Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, dan atas nama keadilan, Ken Arok dibunuh Anusapati, kemudian Anusapati dibunuh Tohjaya. Pendek kata, pelbagai versi lex talionis yang mengharuskan, untuk memakai rumusan Perjanjian Lama, “satu mata dibalas satu mata”.

Tapi jika “keadilan” yang sama artinya dengan dendam itu kita temukan dalam pelbagai cerita, juga dalam Mahabharata, agaknya hanya dalam sebuah karya Aeschylus di Yunani abad ke-5 Sebelum Masehi kita temukan bagaimana “keadilan” itu mengalami transformasi.

Dalam lakon Oresteia yang terdiri dari tiga bagian itu, Agamnenon membunuh anaknya yang perempuan, dan sebagai pembalasan ia dibunuh isterinya sendiri, ibu si gadis. Dalam kisah berikutnya, si ibu dibunuh oleh Orestes, anak kandungnya.

Memang kepada sahabatya, Pylades, ia bertanya: “Apa yang kulakukan? Membunuh ibu sendiri, betapa mengerikan!”. Tapi atas nama hukum Zeus dan Apollo, ia akhirnya melakukan hal yang mengerikan itu juga.

Tak ayal, para dewi pembalasan yang disebut ?????? – yang dalam bahasa Inggris disebut “the furies” – mengejarnya. Orestes harus membayar perbuatannya dengan nyawanya.

Namun trilogi ini berakhir dengan sebuah transformasi yang radikal: lex talionis digantikan dengan sebuah proses peradilan. Dewi Athena datang dan memanggil sebuah dewan juri buat mengambil keputusan dengan pemungutan suara. Athena sendiri memberikan suara untuk membebaskan Orestes. Lalu diubahnya para peri pembalasan jadi peri budi baik, eumenides. Dalam kisah ini, mereka ditanam di bawah gedung pengadilan untuk selama-lamanya.

Boleh dikatakan ini adalah lakon lahirnya hukum yang proses dan sikapnya berbeda sama sekali: prosedur hukum inilah (yang mencoba menterjemahkan “keadilan”) yang agaknya yang jadi tauladan di Eropa dan Amerika kemudian, sampai hari ini

Tapi di situ tampak juga, betapa hukum meringkas dan meringkus. Hukum yang diletakkan dasarnya oleh Athena memotong ingatan; kejahatan masa lampau tak bisa dikenang terus sepenuhnya. Tak ada dendam tujuh turunan.

Hukum itu juga meringkus: ia tak mengijinkan perasaan pribadi seseorang bergejolak jadi pedoman memutuskan “pembalasan”. Inilah awal pandangan yang disebut “positivisme hukum”: para hakim tak boleh menggunakan perasaan dan nilai-niai pribadinya. Mereka hanya harus mengikuti apa yang digariskan undang-undang – biarpun itu dirasakan tak adil.

Dalam sebuah lakon terkenal Sophocles di masa sesudah Aeschylus, Antigone, positivisme itulah yang jadi prinsip Raja Kreon. Ia melarang salah seorang putra Oedipus yang tewas dikuburkan di dalam makam Thebes. Pemuda itu mati dalam peperangan yang melawan tanahairnya sendiri. Ia pengkhanat. Menurut undang-undang yang berlaku, mayatnya harus dibiarkan tergeletak dimakan gagak di luar dinding kota.

Bagi Antigone, saudara sekandung pemuda yang mati itu, hal itu tak bisa diterima. Untuk itu Antigone siap melawan dan mengorbankan diri, karena ia percaya ada hukum yang lebih luhur, yakni hukum dari dewa-dewa. Sebaliknya bagi Kreon, yang baru saja selesai berperang: negara tak akan kukuh hukumnya bila ia guyah -- meskipun putranya sendiri, tunangan Antigone, membela gadis yang membangkang itu.

Tapi dari kedua lakon Yunani kuno itu kita bisa tahu: di dasar hukum, di awal hukum, ada kekerasan yang disembunyikan. Para dewi pembalasan yang tertanam di bawah mahkamah adalah semacam bawah-sadar hukum positif. Dan kita lihat: hukum Kreon adalah kelanjutan dari peperangan.

Bahkan hukum mengandung kekerasan sejak awal, ketika undang-undang mereduksikan hidup seseorang yang unik dan khas jadi oknum yang bisa dikenai hukum yang berlaku umum. Derrida menyebut reduksi ini “kekerasan klasifikasi”.

Dengan kekerasan itu, di manakah keadilan? Jika keadilan telah diubah jadi sesuatu yang tak lagi pembalasan dendam, dari manakah keadilan datang? Antigone berbicara tentang hukum dewa-dewa yang lebih adil, sebab para dewa tahu bahwa seorang manusia tak bisa dianggap sebagai sekedar sebuah kasus legal.

Tapi pada saat yang sama kita tahu para dewa Yunani kuno ikut dalam percaturan yang berdarah antara manusia. Rasanya tak ada mereka digerakkan oleh rasa keadilan. Dalam agama Abrahami, Tuhan disebut maha adil, tapi kita tak paham mengapa, dalam Alkitab, Tuhan menyengsarakan Ayub walaupun lelaki yang baik dan soleh ini tak berbuat aniaya.

Persoalan seperti ini menyebabkan riwayat keadilan tak selamanya jelas, dan mungkin memang tak akan jelas. Tapi tiap kali kita tahu, ketika rasa keadilan kita terkoyak, kita melihat ke sebuah arah, sebuah cakrawala, yang mengimbau kita dan mungkin mengubah kita jadi seseorang yang berteriak: “Keadilan, atau kehancuran!”.

Seakan-akan keadilan punya dewi pembalasan yang tak bisa dibenamkan oleh bangunan mahkamah manapun. Hukum selamanya sebuah kekurangan.

Eumenides
Senin, 02 November 2009
Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/hg/caping//2009/11/02/mbm.20091102.CTP131871.id.html