Selasa, 02 Februari 2010

Anehdot Seputar Emas


Anekdot emas 1

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah seorang Sufi agung sekaligus ahli ilmu kimia. Suatu hari beliau memohon kepada Allah swt, agar diberi petunjuk bagaimana besi bisa jadi emas.
Aklhirnya mendapatkan Ilham dari Allah, agar membakar besi itu, dan setelah itu dikencingi.

Benar, apa yang terjadi, akhirnya besi itu berubah jadi emas. Tidak jelas, kenapa harus dikencingi dan apa kandungan kencing. Apa hubungan air kecing dengan benda-benda besi dan emas?

Akhirnya Syeikh Abul Hasan bermohon kepada Allah. “Ya Allah kenapa proses ini harus melalui najis?”

Lalu dijawab oleh Allah, swt, “Sesuatu yang kotor, prosesnya lewat jalan yang kotor pula…”.

Akhirnya emas itu dikencingi lagi, dan berubah jadi besi sebagaimana semua.

Emas adalah lambang kemewahan dan harta dunia. Dan dunia itu kotor, maka dilambangkan puila dengan proses najis secara kimiawi.

Anekdot emas 2

Ada seorang ahli khalwat di daerah Madura yang luar bisaa. Konon hanya 35 hari sekali keluar. Orang aneh ini, menurut penduduk di sana, pusarnya banyak sekali mengelilingi perutnya.

Yang menjadi masalah, banyak orang menunggu kapan orang tersebut keluar dari tempat khalwatnya. Bukannya orang-orang itu mohon didoakan, tetapi menunggu kapan sosok aneh ini membuang air besar.

Kadang penduduk sekitar sana, melihat kadang-kadang tidak melihat. Kadang sosok aneh ini buang air besar kadang tidak.

Ketika buang air besar mereka berebut mengambil tinjanya. Lho?
Sebab setiap yang keluar dari perutnya itu, bukan berupa tinja kuning seperti layaknya kebanyakan orang. Tetapi yang keluar adalah warna kuning emas, dan kenyataannya adalah emas.

Rupanya orang aneh ini pandai dan arif mendidik masyarakat sekitarnya melalui tinja. Bahwa sehebat-hebat harta dunia yang dilambangkan dengan emas, ternyata nilainya tak lebih dari tinja manusia. Wuiih!

Anekdot emas 3

Seorang ustadz di pesanren sedang menjelaskan tentang pandangan beberapa mazhab fiqih mengenai perhiasan emas yang dipakai oleh lelaki muslim.

“Menurut Imam Syafi’i seorang laki-laki muslim haram hukumnya memakai perhiasan emas. Namun boleh menurut Imam Maliki….”

Diskusi jadi panjang, ketika muncul pertanyaan bagaimana menurut mazhab syafi’i, lelaki yang menggunakan batu permata seperti berlian yang harganya lebih mahal dari emas, atau menggunakan batu zamrud yang nilainya ratusan juta? Apakah halal atau haram?

Sang Ustadz memberi argumen ngalor ngidul, yang dinilai cukup masuk akal.

Tiba-tiba, seorang gadis dalam arena itu penasaran bertanya?
“Kenapa sih Pak Ustadz, laki-laki tidak boleh menggunakan perhiasan emas, sedangkan kami boleh? Apakah Allah membuat perbedaan gender dalam kasus ini?”
“Ya, memang.…Tapi karena kaum lelaki sudah dipanggil Mas…Mas…Maaaaasss…untuk apa pakai emas segala?”

He he he…Nggak lucu ah!

Anekdot emas 4

Seorang Kyai Fadlun, dari Jawa Timur, seringkali diomelin oleh isterinya (Ibu Nyai), karena begitu banyak menolong ummat melalaui nasehat dan doa. Dan mereka yang ditolong oleh Kyai itu sukses. Biasanya ketika sukses sudah tidak kembali lagi.

“Pak Yai, kenapa orang-orang yang ditolong pada sukses, tapi kehidupan kita cuma begini-begini saja. Apa tidak punya doa atau apalah yang bisa membuat kita jadi sukses lebih hebat lagi, lebih kaya lagi.
Kenapa mesti orang lain teruuus?” protes Ibu Nyai pada sang Kyai.

Rupanya sang Kyai hanya tersenyum belaka.
“Coba kamu ambil gentheng di rumah kita yang ada dekat wuwungan pojok...” kata Kyai itu.

“ Sebelll akh… Masak minta fasilitas lebih malah disuruh naik gentheng. Nanti apa kata tetangga. Ibu Nyai kok naik-naik wuwungan, lagi nyari apaan tuh.…Nggak lucu akh…”
“Sudahlah..Ikuti saja. Katanya kamu mau minta harta emas berlian.”

Ibu Nyai akhirnya nekad naik gentheng. Dengan bersungut-sungut agar tidak dilihat tetangga, nekad juga akhirnya. Begitu ia dapatkan gentheng itu, ia bolak balik, sembari membatin, apa sih istemewanya gentheng tanah ini?

Setelah tuerun membawa gentheng, ia serahkan benda itu ke suaminya, dengan muka masem.

Genteng itu dipegang oleh Pak Kyai, lalu dibungkus kain. Kemudian Kyai itu memberikan kembali ke isterinya, agar dibuka. Ternyata begitu terjeutnya sang Bu Nyai, gentheng tanah tadi berubah jadi emas semua.

Ibu Nyai kaget bukan main. Dengan muka pucat ia tak bisa bicara.

“Kamu pilih mana, nikmat-nikmat Allah disegerakan di dunia, atau nanti di akhirat?”

Ibu Nyai menyadari kesalahannya, dan menangis memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Seketika genheng emas tadi berubah jadi gentheng tanah. Sejak saat itu, ia kapok protes pada suaminya.

http://www.sufinews.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=63&Itemid=305&limitstart=4

Senin, 01 Februari 2010

Mulailah Dari Dirimu



Syeikh Jalaluddin Rumi
Rumi berkata: Siapa nama anak muda itu ?
Seseorang menjawab: “Syaifuddin (PedangAgama)”.
Rumi berkata: Tak seorang pun menilai sebuah pedang sedangkan la masih berada di dalam sarungnya. Sesungguhnya, Pedang Agama adalah seseorang yang mempertahankan sang jalan, mempersembahkan kerja keras mereka sepenuhnya kepada Allah, yang mengungkap kebenaran dari kesalahan dan membedakan yang hak dari yang batil. Tetapi terlebih dahulu mereka mengoreksi diri dan memperbaiki sifat mereka sendiri: “Mulailah dari dirimu sendiri,” kata Nabi.

Jadi mereka mengarahkan seluruh kedisiplinan mereka kepada diri sendiri, seraya berkata, “Pada akhirnya, aku juga seorang manusia. Aku memiliki tangan dan kaki, telinga dan pemahaman, mata dan mulut. Para nabi dan wali yang mencapai ridha Allah dan, mencapai tujuan mereka-mereka adalah manusia seperti diriku dengan akal, lidah, tangan dan kaki. Mengapa mereka ditunjukkan ke jalan itu? Mengapa pintu ini yang terbuka bagi mereka, tertutup untukku?” Orang semacam itu mengoreksi diri siang malam, dan berjuang, seraya berkata, “Apa yang aku lakukan, sehingga aku tidak diterima?” Mereka terus mencari sampai mereka menjadi Pedang Allah dan Lidah Kebenaran.

Misalnya, sepuluh orang memasuki sebuah rumah. Sembilan menemukan jalan itu, tetapi yang satu tetap berada di luar dan tidak diizinkan masuk. Tentu saja orang ini menengok batinnya dan meratap, seraya berkata, “Apa yang telah aku lakukan sehingga aku tetap berada di luar? Sikap-sikap apa yang membuatku bersalah?”
Orang itu menghubungkan kesalahan itu kepada dirinya sendiri dan mengakui kesalahan dan keburukan sikap mereka. Mereka tidak akan pernah berkata, “Allah telah melakukannya kepadaku, apa yang bisa aku lakukan? Atas kehendak Allah-lah ini terjadi. Jika Allah memang menghendakinya, tentu saja aku akan ditunjukkan ke jalan itu.” Kata-kata semacam itu sangat menyelewengkan Allah dan menghunuskan pedang melawan Allah. Orang semacam itu akan menjadi Pedang Melawan Allah dan bukan Pedang Allah.

Allah berada jauh dari memiliki keluarga dan kawan. “Dia tidak pernah lupa, dan belum pernah dilupakan,” kata al-Qur’an. Kamu tidak dapat mengatakan bahwa mereka yang telah menemukan jalan menuju Allah lebih menjadi sanak Allah, lebih kawan-Nya ataupun lebih erat berhubungan dengan-Nya. Tak seorang pun pernah berdekatan dengan Allah kecuali dari bawah.

Allah sangat berkecukupan, Kamulah orang-orang yang membutuhkan.
Berdekatan dengan Allah tidak pernah dicapai, kecuali melalui pengabdian dan kepasrahan. Dia adalah Maha Pemberi. Dia memenuhi baju lautan dengan batu-batu mulia, Dia membungkus onak dalam hiasan mawar, Dia memberkati kehidupan dan ruh di atas segenggam debu, segalanya tanpa pendahulu, semua tanpa pembedaan. Seluruh dunia menerima bagian mereka dari-Nya.

Ketika orang-orang mendengar tentang seorang yang dermawan yang membagi-bagi hadiah dan pertolongan yang sangat berharga, umumnya mereka ingin berkunjung kepada seorang pemberi harta semacam itu, dengan harapan akan menerima satu bagian dari pemberian itu. Karena Keagungan Allah begitu terkenal di seluruh dunia, mengapa tidak kamu memohon saja kepadaNya? Mengapa tidak kamu meminta kepada-Nya jubah jubah kehormatan, atau hadiah yang mewah? Malah, kamu duduk dengan jumud sambil berkata, “Jika memang Dia menginginkannya, Dia bisa memberikannya kepadaku.” Jadi, kamu tidak pernah meminta apa pun kepada-Nya.

Seekor anjing, tanpa akal atau pemahaman, ketika lapar, datang kepadamu dan mengibaskan ekornya seolah-olah hendak berkata, “Beri aku makanan. Aku lapar pada makanan yang kamu punyai. Tolong beri aku sedikit saja.” Seekor anjing tahu itu... Apakah kamu lebih bodoh dari anjing ? Anjing tidak puas untuk tidur malas-malasan dan berkata, “Jika dia mau, dia akan memberikan makanan itu kepadaku,” tetapi memohon dan mengibaskan ekornya. Jadi, hendaknya kamu mengibaskan ekormu dan memohon kepada Allah, karena di hadapan Sang Pemberi itu, memohon adalah ungkapan hasrat yang mengagumkan. Jika kamu kekurangan harta, mintalah kepada Dzat Yang tidak kikir, dan penjaga kekayaan yang besar.

Allah selalu dekat denganmu. Setiap pikiran dan gagasan yang kamu pahami, di situ ada Allah - karena Allah memberi wujud kepada gagasan dan pikiran itu. Tetapi Allah begitu dekat sehingga kamu tidak bisa melihat-Nya. Apa yang aneh? Dalam setiap perbuatan yang kamu lakukan, akal membimbingmu dan mengawali tindakanmu, tetapi kamu tidak melihat akalmu. Kamu melihat efeknya, tetapi kamu tidak bisa melihat esensinya. Misalnya orang pergi mandi. Kemana pun mereka pergi di dalam bak mandi, mereka merasakan panasnya api, meskipun mereka tidak melihat api itu. Ketika mereka meninggalkan bak itu, maka mereka melihat api dan nyalanya yang sesungguhnya. Dari sini, mereka mengetahui bahwa panas bak mandi berasal dari sebuah api.

Manusia juga merupakan sebuah bak raksasa, dan di dalam dirinya bersemayam panas akal, ruh dan keakuan yang rendah. Tetapi ketika kamu meninggalkan bak ini dan memasuki dunia yang lain, kamu melihat esensi-esensi yang sesungguhnya. Maka kamu mengetahui bahwa kecerdasan berasal dari pancaran akal, bahwa penyimpangan dan pretensi memancar dari keakuan yang rendah, dan denyut kehidupan itu sendiri adalah hasil dari ruh. Kamu dapat dengan jelas melihat esensi-esensi ketiganya, tetapi sepanjang kamu berada di dalam bak, ketiga esensi itu tak terlihat. Kamu hanya dapat mengalami efeknya.

Ketika kita berada di Samarkand, Khwarizmsyah bergegas menuju Samarkand dan mengadakan penyerangan bersama balatentaranya. Tidak jauh dari kita hiduplah seorang gadis yang sangat cantik, begitu cantiknya sehingga tak seorang pun dapat menyamainya di seluruh penjuru kota. Aku mendengarnya berkata, “Oh Tuhan, aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkanku jatuh ke tangan para pembuat dosa. Aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkan itu. Aku pasrah kepada-Mu, Ya Allah.”

Ketika kota dikalahkan dan seluruh penduduknya dijadikan tawanan, bahkan para pelayan wanita gadis itu pun ditangkap. Tetapi gadis itu dibiarkan saja. Karena seluruh kecantikannya, tak seorang lelaki pun tahan untuk menatapnya. Dari sini, ketahuilah bahwa siapa pun yang memasrahkan diri kepada Allah akan tetap aman dari marabahaya dan selamat. Tak satu pun permohonan manusia di hadapan Allah itu diabaikan. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah, dan tuntutlah apa yang kamu butuhkan dari Allah, karena permohonanmu tidak akan sia-sia.
“Panggilah Aku dan Aku akan menjawabmu.”

Seorang darwis mengajarkan kepada anak laki-lakinya bahwa apa pun yang dia butuhkan, “Mintalah kepada Allah.” Bertahun-tahun berlalu. Suatu hari, ketika anak itu sendirian di dalam rumah, dia menjadi lapar. Seperti biasanya dia berkata, “Aku lapar, aku ingin makan.” Tiba-tiba semangkuk bubur muncul, dan anak itu memakannya sampai kenyang. Ketika ayah dan ibunya pulang, mereka berkata, “Tidakkah kamu lapar?” Sang anak menjawab, `Aku hanya meminta makanan dan melahapnya.” Ayahnya berkata, “Terpujilah Allah, keimanan dan kepasrahanmu kepada Allah telah tumbuh kuat.”

Ketika Maryam dilahirkan, ibunya bersumpah akan mempersembahkan Maryam kepada Rumah Allah dan tidak menyokongnya. Dia meninggalkan Maryam di sebuah Kuil. Zakaria kemudian merawat anak itu, tetapi semua orang menginginkannya juga. Pada zaman itu, jika ada kelompok yang bertentangan, maka sebuah tongkat harus dilemparkan ke dalam air-orang yang tongkatnya mengambang paling lama dialah yang berhak. Demikian terjadilah pada tongkat Zakaria yang mengambang paling lama. Mereka semua setuju bahwa dia memiliki hak untuk merawat Maryam. - Jadi, setiap hari Zakaria membawa makanan kepada anak itu, tetapi : dia selalu menemukan pasangan makanan yang sama di samping `anak itu. Dia berkata, “Maryam, aku bertanggung jawab kepadamu. Dari mana asal makanan ini?” Maryam menjawab, “Kapan saja aku membutuhkan makanan, aku memohon kepada Allah dan Dia mengirimkannya kepadaku. Karunia dan kasih sayangnya tanpa batas. Siapa pun pasrah kepada-Nya, kepercayaannya tidak akan sia-sia.”

Sekarang, setelah Zakaria menyadarinya dia berdoa, “Ya Allah, karena Engkau memenuhi kebutuhan anak ini, tolong kabulkan keinginanku. Berilah aku anak laki-laki yang kelak akan menjadi kawan-Mu, yang, tanpa enggan, akan berjalan bersama-Mu dan khusyuk dalam kepatuhan kepada-Mu.” Allah menghidupkan Ismail, meskipun ayahnya tua dan lemah, sedangkan ibunya sangat tua dan belum pernah melahirkan seorang anak pun ketika masih muda. Tetapi, dia hamil dan melahirkan anak itu.

Tidakkah kamu lihat bahwa semua ini tidak lain adalah bukti atas kemahakuasaan Allah? Segala sesuatu berasal dari-Nya, dan kehendak-Nya pasti akan terlaksana. Orang beriman tahu bahwa di balik dinding ada Dzat Yang mengenal setiap keadaan dalam kehidupan kita, satu demi satu, dan yang melihat kita meskipun kita tidak melihat-Nya. Tetapi mereka yang berkata, “Tidak, ini hanyalah sebuah kisah,” mereka tidak dapat mempercayainya. Saatnya akan tiba ketika mereka akan menyadari kesalahan mereka.

Misalnya, kamu sedang bermain petak umpet. Sekalipun kamu tidak melihat siapa pun, jika kamu tahu orang-orang berada di balik dinding sambil mendengarkan, kamu akan terus bermain, karena kamu adalah seorang pemain petak umpet. Pada akhirnya, tujuan shalat bukanlah berdiri, ruku’ dan sujud sepanjang hari, karena saat-saat kesatuan spiritual yang kamu miliki dalam shalat hendaknya selalu bersamamu. Baik ketika tidur atau terjaga, menulis atau membaca, kamu hendaknya tidak jauh dari mengingat Allah.

Berbicara dan membisu, tidur dan terjaga, marah dan mema`afkan semua sifat ini hendaknya seperti bergulirnya kincir air. Tentu saja kincir berputar karena air, dan la tahu ini, karena ia telah mencoba untuk bergerak tanpa air. Kincir mana pun yang percaya bahwa la adalah sumber perputarannya sendiri adalah sifat kebodohan dan kejumudan.

Sekarang perputaran ini terjadi di dalam sebuah ruang yang sempit, karena itulah sifat dunia materi ini. Oleh karena itu, berkatalah kepada Allah, “Ya Allah, anugerahkan kepadaku perputaran lain yang bersifat spiritual, karena semua kebutuhanku telah Engkau penuhi.” Oleh karena itu, bawalah kebutuhan-kebutuhanmu kepada-Nya segera, dan jangan pernah sekalipun melupakan-Nya, karena mengingat-Nya adalah kekuatan, bulu dan sayap bagi seekor burung jiwa.

Melalui pengingatan kepada Allah, sedikit demi sedikit hati ruhaniah menjadi teriluminasi dan terlepas dari dunia materi. Sebagaimana seekor burung yang mencoba untuk terbang ke langit, meskipun la tidak pernah berhasil mencapai tujuan itu, tetapi setiap saat la terbang menjauh dari bumi dan memanggil burungburung yang lain. Atau misalnya, bebauan menyergap dari dalam sebuah kaleng, tetapi mulut kaleng itu terlalu kecil, dan ketika kamu mencapai di dalamnya kamu tidak bisa membuang bebauan itu. Sebaliknya, tanganmu wangi dan hidungmu penuh dengan aroma itu.

Jadi dengan mengingat Allah-lah: meskipun di saat ini kamu tidak mencapai Esensi Allah, tetapi kamu meninggalkan jejaknya padamu, dan kamu mendapatkan keuntungankeuntungan besar yang dimunculkan dari jejak itu.

http://sufinews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=167:mulailah-dari-dirimu&catid=85:artikel&Itemid=281

Kesiapan Menerima Pancaran Anugerah


Datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahayaNya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa.
Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang
lainnya, sesungguhnya terga tung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah saw, bersabda:

“Allah swt berfirman di hari qiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmatKu dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Nabi saw, membaca firman Allah Ta’ala “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (Az-Zukhruf: 72)

Adapan pancaran cahaya-cahayaNya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualitas wirid dan dzikir seseorang.

Dalam kitabnya Lathaiful Minan, Ibnu Athaillah as-Sakandary menegaskan, “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menanamkan cahaya tersembunyi dalam berbagai ragam taat. Siapa yang kehilangan taat satu macam ibadah saja dan terkaburkan dari keselarasan Ilahiyah satu macam saja, maka ia telah kehilangan nur menurut kadarnya masing-masing. Karenanya jangan mengabaikan sedikit pun atas ketaatan kalian. Jangan pula merasa cukup wirid anda, hanya karena anugerah yang tiba. Jangan pula rela pada nafsu anda, sebagaimana diklaim oleh mereka yang merasa dirinya telah meraih hakikat dalam ungkapannya, sedangkan hatinya kosong…”
Jangan keblinger dengan Cahaya atau bentuk Cahaya sebagaimana tergambar dalam pengalaman mengenai Cahaya lahiriyah, baik yang berwarna warni atau satu warna. Cahaya batin sangat berhubungan erat dengan kebeningan batin, tidak ada rupa dan warna yang tercetak. Melainkan pancaran Cahaya keyakinan total kepadaNya.

Perihal pancaran Cahaya ini, beberapa item pernah kita ungkap di edisi 2006, namun masih relevan untuk kita renungkan kembali, dan tertuang dalam kitab Al-Hikam:

1. “Bagaimana hati bisa cemerlang jika wajah semesta tercetak di hatinya? Bagaimana bisa berjalan menuju Allah sedangkan punggungnya dipenuhi beban syahwat-syahwatnya? Bagaimana berharap memasuki hadhirat Ilahi sedangkan ia belum bersuci dari jinabat kealpaannya? Atau bagaimana ia faham detil rahasia-rahasiaNya, sedangkan ia tidak taubat dari kelengahannya?”
2. Semesta kemakhlukan adalah awal dari hijab Cahaya, dan ikonnya ada pada nafsu syahwat dan kealpaannya.
3. “Siapa yang cemerlang di awal penempuhannya akan cemerlang pula di akhir perjalannya.” Kecemerlangan ruhani dengan niat suci bersama Allah dalam awal perjalanan hamba, adalah wujud pantulan Cahaya yang diterima hambaNya, karena yang bersama Allah awalnya akan bersama Allah di akhirnya.
4. “Orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada Allah menggunakan petunjuk Cahaya Tawajuh (menghadap Allah) dan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, baginya mendapatkan Cahaya Muwajahah (limpahan Cahaya). Kelompok yang pertama demi meraih Cahaya, sedangkan yang kedua, justru Cahaya-cahaya itu bagiNya. Karena mereka hanya bagi Allah semata, bukan untuk lainNya. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Katakan, Allah” lalu tinggalkan mereka (selain Allah) terjun dalam permainan.” Itulah hubungan Cahaya dengan para penempuh dan para ‘arifun, begitu jauh berbeda.
5. “Cahaya adalah medan qalbu dan rahasia qalbu. Cahaya adalah pasukan qalbu, sebagaimana kegelapan adalah pasukan nafsu. Bila Allah hendak menolong hambaNya, maka Allah melimpahkan padanya pasukan-pasukan Cahaya, dan memutus lapisan kegelapan dan tipudaya.”
6. Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah.
7. “Allah mencahayai alam lahiriyah melalui Cahaya-cahaya makhlukNya. Dan Allah mencahayai rahasia batin (sirr) melalui Cahaya-cahaya SifatNya. Karena itulah cahaya semesta lahiriyah bisa sirna, dan Cahaya qalbu dan sirr tidak pernah sirna.”
8. “Pencerahan Cahaya menurut kebeningan rahasia batin jiwa”.
9. “Sholat merupakan tempat munajat dan sumber penjernihan dimana medan-medan rahasia batin terbentang, dan di dalamnya Cahaya-cahaya memancarkan pencerahan.” Karena itu cita dan hasrat anda, hendaknya pada penegakan sholat, bukan wujud sholatnya.
10. “Apabila cahaya yaqin memancar padamu, pasti anda lebih dekat pada akhirat dibanding jarak anda menempuh akhirat itu sendiri. Dan bila anda tahu kebaikan dunia, pasti menampakkan gerhana kefanaan pada dunia itu sendiri.” Maksudnya, nuansa ukhrowi menjadi lapisan baju anda, yang melapisi Nuansa Ilahi. Segalanya terasa dekat tanpa jarak padamu.
11. “Tempat munculnya Cahaya adalah hati dan rahasia jiwa. Cahaya yang ditanamkan dalam hati adalah limpahan dari Cahaya yang menganugerah dari khazanah rahasia yang tersembunyi. Ada Cahaya yang tersingkapkan melalui makhluk-makhluk semesta, dan ada Cahaya yang tersingkapkan dari Sifat-sifatNya. Terkadang hati berjenak terhenti dengan Cahaya-cahaya, sebagaimana nafsu tertirai oleh alam kasar dunia.” Itulah ragam Cahaya, ada Cahaya muncul dari kemakhlukan ada pula Cahaya SifatNya. Tetapi, jangan sampai Cahaya jadi tujuan, agar tidak terhijabi hati kita dari Sang Pemberi Cahaya, sebagaimana terhijabinya nafsu oleh alam kasar dunia.
12. “Cahaya-cahaya rahasia jiwa ditutupi oleh Allah melalui wujud kasarnya alam semesta lahiriyah, demi mengagungkan Cahaya itu sendiri, sehingga Cahaya tidak terobralkan dalam wujud popularitas penampakan.” Itulah Cahaya yang melimpahi para ‘arifin, auliya’ dan para sufi, yang dikemas oleh cover tampilan manusia biasa. Sebagaimana Rasulullah saw, disebutkan , “Bukanlah Rasul itu melainkan manusia seperti kalian, makan sebagaimana kalian makan, minum sebagaimana kalian minum.” Ini semua untuk menjaga agar para hamba tidak berambisi popularitas, dan merasa bahwa Cahaya itu muncul karena upayanya.
13. “Cahaya-cahaya para Sufi mendahului wacananya. Ketika Cahaya muncul maka muncullah wacana” Para Sufi dan arifun berbicara dan berwacana, bukan karena aksioma logika, tetapi karena limpahan Cahaya, baru muncul menjadi mutiara kata. Sementara para Ulama, wacananya mendahului cahayanya.
14. “Ada Cahaya yang diizinkan untuk terbiaskan, ada pula Cahaya yang diizinkan masuk di dalam jiwa.” Ada Cahaya yang hanya sampai di lapis luar hati, tidak masuk ke dalam hati, sebagaimana orang yang menasehati tentang hakikat tetapi dia sendiri belum sampai ke sana. Ada Cahaya yang menghujam dalam jiwa, dan dada menjadi meluas, dengan ditandainya sikap merasa hampa pada negeri dunia penuh tipudaya, dan menuju negeri keabadian, serta menyiapkan diri menjemput maut.
15. “Janganlah anda menginginkan agar warid menetap terus menerus setelah Cahaya-cahayanya membias dan rahasia-rahasiaNya tersembunyi.” Itulah perilaku para pemula, biasanya ingin agar Cahaya-cahaya warid itu menetap terus menerus. Padahal suatu kebodohan tersendiri, karena penempuh akan lupa pada Sang Pencahaya.
16. “Sesungguhnya suasana keistemewaan itu ibarat pancaran matahari di siang hari yang muncul di cakrawala, tetapi Cahaya itu tidak dari cakrawala itu sendiri, dan kadang muncul dari matahari Sifat-sifatNya di malam wujudmu. Dan kadang hal itu tergenggam darimu lalu kembali pada batas-batas dirimu. Siang (Cahaya) bukanlah darimu untukmu. Tetapi limpahan anugerah padamu.”
17. “Cahaya-cahaya qalbu dan rahasia jiwa tidak diketahui melainkan di dalam keghaiban alam malakut. Sebagaimana Cahaya-cahaya langit tidak akan tampak melainkan dalam alam nyata semesta” Orang yang mampu memasuki alam malakut adalah yang dibukakan Cahaya-cahaya qalbu dan jiwanya. Begitu juga nuansa pencerahan Cahaya qalbu dan rahasia qalbu itu, merupakan rahasia tersembunyi di alam Malakut.
18. Dan lain sebagainya, yang menggambarkan soal pencahayaan ini. Karena berbagai ragam, bisa memberikan sentuhan Cahaya, apakah Cahaya qalbu, Cahaya ruh dan Cahaya Sirr yang memiliki karakteristik berbeda-beda dalam kondisi ruhani para hamba Allah.

http://sufinews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=144:kesiapan-menerima-pancaran-anugerah&catid=85:artikel&Itemid=281

Kewalian


Syeik Abul Qosim al-Qusyairy
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekha­watiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.s. Yunus: 62).

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:
Allah Swt berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti seorang wali, berarti telah memaklumkan perang terhadap-Ku melawan dia. Seorang hamba bisa mendekatkan diri kepada Ku dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Kuperintahkan kepadanya. Dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya. Tak pernah Aku merasa ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanku mencabut nyawa seorang hamba-Ku yang beriman, karena dia tidak menyukai kematian dan Aku tak suka menyakiti hatinya; tetapi maut itu adalah sesuatu yang tak bisa dihindari.“(Hr. Ahmad, Hakim dan Tirmidzi).

Kata wali mempunyai dua makna. Yang pertama berasal dari bentuk fa’iil (subyek) dalam pengertian maf’ul (obyek). Artinya orang yang diambil alih kekuasaannya oleh Allah swt.
Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya, “... dan Dia mengambil alih urusan (yatawalia) orang-orang saleh.” (Q.s. AI-A’raf 196). Sejenakpun si wali tidak mengurusi dirinya.

Arti yang kedua berasal dari bentuk fa’iil dalam pengertian penekanan (mubalaghah) dari faa’il. Yaitu orang yang secara aktif melaksanakan ibadat kepada Allah dan mematuhi-Nya secara terus menerus tanpa diselingi kemaksiatan.

Kedua arti ini mesti ada pada seorangwali untuk bisa dianggap sebagai wali yang sebenarnya, dengan menegakkan hak-hakAllah swt. atas dirinya sepenuhnya, disamping perlindungan Allah swt. padanya, di saat senang maupun susah.

Salah satu persyaratan seorang wali adalah bahwa Allah
melin­dunginya dari mengulangi dosa-dosa (mahfudz), seperti halnya salah satu persyaratan seorang Nabi adalah bahwa dia terjaga dari segala dosa (ma’shum). Siapa pun yang berbuat dengan cara yang menyimpang dari syariat Allah swt. berarti telah tertipu.

Suatu ketika Abu Yazid al-Bisthamy berangkat untuk mencari seseorang yang oleh orang-orang lain digambarkan sebagai seorang wali. Ketika sampai ke masjid orang tersebut, dia lalu duduk dan menunggu orang tersebut keluar. Orang itu pun keluar setelah meludah di dalam masjid. Abu Yazid pun pergi begitu saja tanpa memberi salam kepadanya, dan berkata, `Inilah orang yang tak bisa dipercaya untuk melaksanakan adab yang benar seperti dinyatakan dalam hukum Allah. Bagaimana mungkin dia bisa diandalkan untuk menjaga rahasia-rahasia Allah swt ?”

Terdapat ketidaksepakatan di kalangan kaum Sufi mengenai apakah diperbolehkan bagi seseorang untuk menyadari bahwa dirinya adalah seorang wali atau bukan. Sebagian mereka mengatakan,
“Hal itu tidak diperbolehkan. Sang wali harus selalu introspeksi dirinya dengan pandangan penuh hina. Jika suatu karomah terjadi melalui dirinya, dia merasa takut jika karomah tersebut merupakan godaan dan dia senantiasa merasa takut jika keadaan akhirnya berlawanan dengan keadaannya sekarang.” Para Sufi yang berpendapat seperti ini menjadikan syarat kewalian, harus selaras dengan keteguhannya hingga akhir hayat.

Akan tetapi, sebagian Sufi mengatakan, “Boleh saja seorangwali mengetahui bahwa dirinya adalah wali, dan kesetiaan pada kewalian sampai akhir hayat sang wali bukanlah persyaratan untuk mencapai derajat kewalian di saat ini.”

Jika kesetiaan seperti itu merupakan prasyarat untuk mencapai derajat kewalian, bahwa seorangwali akan dianugerahi suatu karamah tertentu yang dengannya Allah memberitahukan kepadanya mengenai kepastian keadaan akhirnya. Sebab, kepercayaan terhadap karomah seorang wali adalah wajib. Yakni, walaupun ia dipisahkan rasa takut akan keadaan akhirnya, namun sikapnya mengagungkan dan me-Mahabesarkan bisa meningkatkan kondisi batin secara lebih efektif daripada banyaknya rasa takut itu sendiri.

Ketika Nabi saw bersabda, “Sepuluh orang sahabatku akan berada di surga,” maka sepuluh orang itu sangat percaya kepada sabda Rasulullah saw dan mengetahui kepastian nasib mereka. Hal ini tidaklah membuat cacat keadaan mereka. Sebab di antara syarat sahnya memahami`secara benar mengenai kenabian menuntut pemahaman mengenai definisi mukjizat, disamping itu juga pengetahuan tentang hakikat karomah. Karena itu tidaklah mungkin bagi seorang wali, manakala dia menyaksikan suatu karomah terjadi di depan matanya, tidak mungkin ia tidak membedakan antara karomah dan lainnya. Jika menyaksikan hal seperti itu, sang wali mengetahui bahwa dia berada di jalan yang benar.

Sang wali juga diperkenankan mengetahui realita yang akan datang dengan tetap konsisten pada kekinian perilakunya. Dianugerahi pengetahuan ini sendiri adalah suatu karomah. Ajaran tentang - karomah wali adalah benar, sebagaimana dipersaksikan oleh banyak riwayat Sufi. Di antara syeikh yang menyepakati hal ini dan pernah saya jumpai adalah Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq.[pagebreak]

Ibrahim bin Adham pernah bertanya kepada seseorang, “Apakah engkau ingin menjadi wali Allah?” Dia menjawab, “Ya.” Ibrahim lalu, berkata, “Kalau begitu janganlah engkau menginginkan harta, kekayaan duniawi ataupun ukhrawi. Kosongkanlah dirimu untuk Allah swt semata. Palingkanlah mukamu kepada-Nya agar Dia berpaling kepadamu dan menjadikanmu wali-Nya.”

Yahya bin Mu’adz menggambarkan para wali sebagai berikut, “Mereka itu adalah hamba-hamba yang berpakaian kesukacitaan jiwa setelah mengalami penderitaan, dan yang memeluk ruhani setelah mujahadah ketika mereka mencapai tahapan kewalian.”
Abu Yazid al-Bisthamy mengatakan, “Wali-wali Allah adalah pengantin-pengantin-Nya, dan tak seorang pun yang boleh melihat para pengantin selain mereka yang termasuk dalam keluarganya. Mereka ditabiri dalam ruang khusus di hadirat-Nya oleh kesukacitaan jiwa (uns). Tak seorang pun yang melihat mereka, baik di dunia ini maupun di akhirat.”

Saya mendengar Abu Bakr ash-Shaidalany, salah seorang yang saleh, menuturkan, “Suatu ketika aku berulangkali memperbaiki batu nisan makam Abu Bakr at-Thamastany di pekuburan al-Hirah dan mengukir namanya pada nisan itu, namun tiba-tiba digali dan dicuri orang, meskipun makam-makam yang lain tidak. Karena bingung menghadapi hal ini, aku bertanya kepada Abu Ali ad-Daqqaq, yang kemudian menjelaskan kepadaku, `Syeikh itu lebih suka tidak dikenal orang di dunia ini, tapi engkau ingin memberinya batu nisan yang akan memperbaiki kenangan kepadanya. Allah swt tidak ingin kecuali tetap menyembunyikannya sebagaimana keadaan dirinya yang lebih disukainya waktu hidupnya’.”

Sa’id bin Salam al-Nlaghriby mengatakan, “Kadang-kadang seorang wali termasyhur ke mana-mana, namun dia tidak akan tergoda oleh kemasyhurannya itu.”
An-Nashr Abadzy berkata, “Para wali tidak mengajukan tuntutan; mereka justru merasa hina dan tersembunyi.” Dia juga mengatakan, “Pangkal perjalanan para wali adalah langkah pertama para Nabi.”

Sahl bin Abdullah mengatakan, “Wali adalah dia yang selalu melakukan perbuatannya selaras dengan Allah swt.”
Yahya bin Mu’adz menyatakan, “Seorang wali berbuat sesuatu tidak demi riya’, tidak pula munafik. Betapa sedikitnya sahabat-sahabat seseorang yang berwatak seperti itu!”

Abu Ali al Juzajany berkata, “Seorang wali adalah yang fana’ keadaannya namun tetap dalam musyahadah akan Allah swt. Allah mengambil alih urusan-urusannya hingga, dengan pengarahan itu, cahaya kewalian melimpah.
Dia tidak tahu apa-apa tentang dirinya sendiri, tak ada tempat berpijak selain Allah swt.”

Abu Yazid mengabarkan, “Jatah para wali yang sudah ditentukan berasal dari empat Asma Allah. Masing-masing kelompok wali ber­buat sesuai dengan salah satu Asma tersebut: Al-Awwal (Yang Terdahulu), Al-Akhir (Yang Akhir), Adz-Dzahir (Yang Lahir) dan Al-Bathin (Yang Batin). Manakala seorangwali fana’ dari nama-nama tersebut setelah memakainya, maka dialah manusia kamil yang sempurna. Wali yang jatahnya berasal dari Asma Allah Adz-Dzahir akan menyaksikan kekuasaan-Nya; Wali yang mendapatkan bagian dari Al-Bathin, akan menyaksikan hal-hal yang mengalir dalam rahasia batin dari cahaya-Nya; Wali yang bagiannya dari Al-Awwal disibukkan dengan masa lampau; Wali yang namanya berasal dari Al-Akhir akan berhubungan dengan masa yang akan datang. Masing­masing diberi keterbukaan menurut kemampuannya, kecuali wali yang telah dipilih oleh Allah swt. dan dipelihara untuk Diri-Nya.”

Kata-kata AbuYazid ini menunjukkan kelompok terpilih di antara hamba-hamba Allah derajatnya lebih tinggi dari bagian-bagian ini, tidak hanya sibuk dengan masa depan, ataupun masa lalu dalam benaknya, juga bukan karena jalan ruhani yang telah dilewatinya.
Demikian keadaan ruhani mereka yang telah mencapai hakikat; mereka terhapus dari sifat-sifat makhluk.
Seperti difirmankan Allah swt
“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur.” (Q.s. Al-Kahfi:18).[pagebreak]

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Seorang wali adalah wewangian Allah di bumi, yang dicium baunya oleh para shiddiqin, hingga bau itu menyentuh kalbunya, sampai mereka terbelenggu rindu pada Tuhannya, Ibadat mereka senantiasa bertambah menurut derajat akhlaknya.”

Muhammad al Wasithy ditanya, “Bagaimana seorang wali dibesarkan dalam kewaliannya?” Dia menjawab, “Pada awalnya, dia dibesarkan dengan ibadatnya. Untuk mencapai kematangannya, dia dibesarkan dengan tabir melalui kelembutan-Nya. Kemudian Dia mengembalikannya ke dalam sifat-sifatnya yang terdahulu; dan akhirnya Dia menjadikannya menikmati rasa keteguhannya dalarn waktu-waktunya.”
Dikatakan, “Tanda kewalian ada tiga: Dia sibuk dengan Allah swt, dia lari kepada Allah swt, dan dia hanya bercita-cita kepada Allah swt.” Al-Kharraz berkata, “Jika Allah swt. berkehendak mengangkat salah seorang hamba-Nya menjadi wali, maka Dia akan membuka baginya pintu gerbang dzikir kepada-Nya. Jika dia telah merasakan manisnya dzikir, maka Dia akan membukakan baginya pintu kedekatan. Lantas dinaikkan ke tahta kesukacitaan ruhani. Kemudian dia ditempatkan­Nya di atas tahta tauhid. Kemudian dibukalah tabir dan dimasukkan ke dalam rumah Ketunggalan. Disibakkan baginya Keagungan dan Kebesaran Ilahi. Manakala matanya memandang Kebesaran dan Keagungan, la tetap tanpa dirinya. Pada saat seperti itu si hamba menjadi fana’. Setelah itu dia akan berada di dalam perlindungan Allah swt, bebas dari kecenderungan dirinya sendiri.”
Abu Turab an-Nakhsyaby mengatakan, “Manakala hati seorang menjadi terbiasa berpaling dari Allah swt, maka kejadian itu diketahui oleh para wali Allah swt.”

Dikatakan, “Salah satu sifat seorang wali adalah bahwa dia tak punya rasa takut, sebab takut adalah suatu keadaan yang dibenci yang menempati di masa datang. Atau menunggu kekasih yang hilang di masa lalu. Sedangkan wali adalah anak waktunya, tak ada gambaran di depan hingga ia harus takut, atau tak ada harapan, karena harapan itu sendiri adalah menunggu yang tercinta untuk datang, atau bahkan yang dibenci kelak terbuka kedoknya. Hal itu juga berada di luar lingkup masa kini. Sang wali juga tak pernah merasa sedih, sebab sedih adalah penderitaan dalam waktu. Bagaimana mungkin orang yang telah merasakan cahaya ridha dan tentramnya selaras dengan­Nya akan tertimpa kesedihan?

Allah swt. berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allahitu, tidak ada kekhawatiran pada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Q.s. Yunus: 62).

http://sufinews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=213:kewalian&catid=85:artikel&Itemid=281