Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS al Hujurat:11).
Terkait dengan ayat ada dua catatan kaki yang ada dalam terjemah iaitu:
1. Jangan mencela dirimu sendiri, maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin kerana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
2. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti hai fasik, hai kafir dan sebagainya.
Ahmad ash Shawi al Maliki mengatakan, “Makna ayat adalah janganlah seorang itu mengolok-olok yang lain kerana boleh jadi pihak yang diolok-olok itu lebih agung dan mulia dibandingkan pihak yang mengolok-olok. Ringkasnya tidaklah pantas muslim mengolok-olok saudaranya seagama bahkan semua makhluk ciptaan Allah. Boleh jadi yang diolok-olok itu lebih hatinya lebih ikhlas dan lebih bertakwa dibandingkan yang mengolok-olok. Para salaf shalih sangat luar biasa dalam melaksanakan kandungan ayat ini. Ada salah seorang salaf yang mengatakan, ‘Jika aku melihat seorang yang menetek pada anak kambing lalu aku mentertawakannya tentu aku merasa khawatir andai aku melakukan apa yang dia lakukan’.
Abdullah bin Mas’ud mengatakan, ‘Bencana itu terjadi gara-gara ucapan lisan. Andai aku mengolok-olok seekor anjing tentu aku khawatir kalau aku diubah menjadi seekor anjing’ (Hasyiyah ash Showi ‘ala Tafsir al Jalalain 4/143, terbitan Dar al Fikr).
Syeikh Abdurrahman as Sa’di mengatakan, “Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang sebahagian hak seorang mukmin dengan mukmin yang lain.Iaitu janganlah sekelompok orang mengejek sekelompok yang lain baik dengan kata-kata ataupun perbuatan yang mengandung makna merendahkan saudara sesama muslim. Perbuatan ini terlarang dan hukumnya haram.
Perbuatan ini menunjukkan bahawa orang yang mengejek itu merasa kagum dengan dirinya sendiri. Padahal boleh jadi pihak yang diejek itu malah lebih baik dari pada pihak yang mengejek. Bahkan inilah realiti yang sering terjadi. Mengejek hanyalah dilakukan oleh orang yang hatinya penuh dengan akhlak yang tercela dan hina serta kosong dari akhlak mulia. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seorang itu dinilai jahat jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim dari Abu Hurairah)” [Taisir al Karim al Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan hal 953, terbitan Dar Ibnul Jauzi].
Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata, “Jika telah diketahui bahawa manusia itu bertingkat-tingkat. Di antaranya manusia itu bertingkat-tingkat dalam masalah ilmu. Sebahagian orang itu lebih berilmu daripada yang lain dalam ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu alat yang sangat membantu untuk mengusai ilmu agama semisal ilmu-ilmu tentang bahasa Arab sebagaimana nahwu, balaghah dan yang lainnya.
Manusia itu juga bertingkat-tingkat dalam masalah rizki. Ada yang diberi rezki yang melimpah. Ada pula yang diberi rezki cukup-cukup.
Manusia juga bertingkat-tingkat dalam akhlak. Ada yang memiliki akhlak luhur dan mulia, ada pula yang tidak demikian.
Manusia juga bertingkat-tingkat dalam masalah bentuk fizikal. Ada yang fizikalnya sempurna, ada juga yang tidak.
Manusia juga bertingkat-tingkat dalam masalah status sosial. Ada yang status sosialnya tinggi, ada pula yang biasa-biasa saja.
Apakah seseorang diperbolehkan untuk mengejek orang yang lebih rendah dalam berbagai hal di atas?
Jawabannya adalah firman Allah di atas.
Allah memanggil kita dengan nama iman agar sebagian dari kita tidak mengejek sebagian yang lain. Yang melebihkan sebagian orang atas yang lainnya adalah Allah. Sehingga kesan dari mengejek orang yang lebih rendah adalah mengejek takdir Allah.
Hal ini diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ ».
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Janganlah kalian mencela waktu karena Allahlah yang mengatur berjalannya waktu” (HR Muslim no 6003).
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ».
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, “Manusia menyakitiku. Manusia mencaci waktu padahal aku adalah pengatur waktu. Akulah yang memperjalankan malam dan siang” (HR Bukhari no 4549 dan Muslim no 6000).
Mengapa kita ejek orang yang lebih rendah dibandingkan kita dalam masalah ilmu agama, harta, akhlak, kondisi fizikal, status sosial, dan nasab? Bukankah di samping Allahlah yang memberikan anugerah kepada kita, Dia juga yang mentakdirkannya untuk berada di bawah kita, dalam pandangan kita, dalam banyak hal?
Mengapa Allah melarang kita mengejek orang lain?
Jawabannya adalah betapa banyak orang yang pada saat ini mengejek orang lain, dalam lain kesempatan menjadi bahan ejekan. Betapa banyak orang yang saat ini pada posisi ‘berada’, esok hari berada pada posisi orang papa. Ini adalah suatu hal yang bisa kita saksikan dalam realiti.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ ». قَالَ أَحْمَدُ مِنْ ذَنْبٍ قَدْ تَابَ مِنْهُ.
Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mencela saudaranya sesama muslim kerana sebab dosa yang pernah dia lakukan maka orang yang mencela tersebut tidak akan mati sampai melakukannya”. [*]
Ahmad bin Mani’, salah seorang perawi hadits, “Yang dimasudkan adalah dosa yang pelakunya telah bertaubat darinya” (HR Tirmidzi no 2505 namun dinilai oleh al Albani sebagai hadits palsu).
عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ ».
Dari Watsilah bin al Asqa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau menampakkan rasa gembira saat saudaramu sesama muslim menderita kesusahan. Hal itu menjadi sebab Allah menyayanginya dan menimpakan cubaan pada dirimu” (HR Tirmidzi no 2506. Hadits ini dinilai hasan gharib oleh Tirmidzi namun dinilai lemah oleh al Albani).
Adalah kewajiban setiap orang untuk mempraktikkan adab yang telah Allah ajarkan” (Tafsir Surat al Hujurat sampai al Hadid hal 37-38, terbitan Dar Tsuraya).
[*] Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (3/277) mengatakan bahawa hadits ini tidak shahih. Ash Shoghoni dalam Mawdhu’at-nya (45) mengatakan bahwa hadits ini mawdhu’. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (245) mengatakan bahawa dalam hadits ini terdapat Muhammad bin Al Hasan bin Abi Yazid dan ia perowi matruk.
Penulis:Ustaz Abdulloh
Penyunting:Ummu Jauharah at-Taqiyyah
Sumber
DIarsipkan di bawah: Akhlaq & Adab Islami
Selasa, 05 Oktober 2010
Hati umat Islam berkarat jika meninggalkan zikir
Jiwa orang selalu ingat Allah sentiasa bening, tenang walaupun banyak masalah hidup
ORANG dalam hatinya terpancar keimanan kukuh, akan selalu giat berusaha sepanjang langkah usianya untuk bertaqarub kepada Allah kerana didorong rasa cinta mendalam terhadap-Nya. Kasih sayang dan kecintaan kepada Allah menjadikan seseorang itu sentiasa rindu pada-Nya.
Ibarat seorang anak muda sedang mabuk asmara, selalu terkenang-kenang si buah hatinya. Orang yang beriman, ingatannya tetap bergetar tulus kepada-Nya tanpa mengira waktu dan tempat. Bagi mukmin sejati, zikir dan hati adalah satu nyawa, tidak boleh dipisahkan.
Ia ditegaskan Ibn Taimiyah: “Zikir bagi hati adalah umpama air bagi ikan, bagaimana keadaan ikan apabila berpisah daripada air?”
Inilah gambaran orang beriman, yakin percaya kepada Allah dan menginsafi diri tidak lebih sebagai seorang hamba sangat lemah yang selama ini menerima nikmat Allah tidak terhitung banyaknya.
Hal ini menepati firman Allah yang bermaksud:
“Wahai orang beriman, (untuk bersyukur kepada Allah) ingatlah serta sebutlah nama Allah dengan ingatan serta sebutan yang sebanyak-banyaknya; dan bertasbihlah kamu kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Surah al-Ahzab, ayat 41-42)
Kebanyakan masyarakat faham zikir hanya kata-kata yang dilafazkan saban kali habis menunaikan solat fardu, solat sunat atau membisik doa ketika ingin makan, memulakan sesuatu kerja yang baik, terjaga dan tidur serta bersin.
Padahal hakikat zikir kepada Allah sebenarnya tidak tertentu kepada zikir lisan semata-mata seperti mana ditegaskan Al-Imam An-Nawawi, bahawa zikir tidak terbatas kepada tasbih, tahlil, takbir dan lain-lain zikir lisan, mereka yang bekerja kerana Allah juga orang yang berzikir kepada Allah.
Pendapat beliau disokong Basri Ibrahim Al-Azhari dalam bukunya Salah Faham Terhadap Konsep Ibadah, Ilmu dan Zikir, bahawa setiap orang yang taat kepada Allah, mengikut segala diperintahkan dan meninggalkan dilarang oleh-Nya dikira sebagai orang yang berzikir.
Zikir terbahagi kepada tiga bahagian iaitu zikir hati, lidah dan anggota. Zikir hati memikirkan keagungan dan kebesaran Allah di bumi, langit dan seluruh kejadian makhluk-Nya. Zikir lidah pula melantunkan puji-puji kepada Allah, mensyukuri nikmat kurniaan-Nya, menyeru masyarakat ke arah ajaran Islam, menerangkan kebaikan syarak, menjelaskan hikmah pada perintah dan larangan Allah, memberi nasihat kepada sesama Islam.
Sementara zikir anggota pula menggunakan anggota badan untuk melakukan amalan ketaatan, sama ada dalam bentuk melakukan segala suruhan atau meninggalkan segala larangan Allah.
Orang yang lupa atau lalai kepada Allah, hatinya selalu dirundung resah gelisah, tenggelam dalam kebimbangan dan sengaja meletakkan dirinya di tempat mengundang kemurkaan Allah lantaran tidak rasa bersalah terhadap kemungkaran dilakukan.
Lupa kepada Allah menandakan hati seseorang itu sudah berkarat dengan sifat mazmumah yang sangat keji.
Orang beriman tidak akan membiarkan hatinya berkarat dan penuh dengan kekotoran, ia akan sentiasa menggilap hatinya dengan berzikir kepada Allah.
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah pernah berkata: “Tidak dimungkiri bahawa hati itu dapat berkarat seperti berkaratnya besi dan perak. Alat yang dapat membersihkan hati berkarat adalah zikir. Zikir dapat membersihkan hati berkarat sehingga dapat berubah menjadi bening seperti cermin yang bersih. Apabila seseorang meninggalkan zikir, hatinya akan berkarat. Dan apabila ia berzikir, hatinya akan bersih.”
Sesungguhnya seseorang yang lalai daripada mengingati Allah bermakna dirinya dihinggapi penyakit sombong, lupa asal kejadian diri sebagai makhluk lemah yang diciptakan semata-mata supaya mengabdikan diri kepada-Nya dan mewarisi sifat orang munafik.
Firman Allah yang bermaksud:
“Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka berdiri untuk solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riak (dengan solat) di hadapan manusia. Dan, tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (Surah an-Nisa, ayat 142)
Setiap mukmin sewajarnya menjadikan zikir sebagai sesuatu yang tidak terpisah daripada kehidupan seharian kerana banyak keistimewaan bakal diterima oleh orang yang sentiasa berzikir.
Kitab Tanbih al-Ghafilin menyatakan lima kelebihan dan faedah berzikir, iaitu mendapat keredaan Allah, menambahkan kesungguhan melaksanakan ketaatan, terkawal daripada hasutan syaitan, melembutkan hati dan mencegah daripada melakukan maksiat.
Orang yang memperbanyakkan zikir, dosanya akan diampuni sekali gus mendapat ganjaran pahala besar seperti firman yang bermaksud:
“Lelaki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Aku sudah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surah al-Ahzab, ayat 35)
Orang yang selalu ingat kepada Allah jiwanya menjadi bening dan tenang, sekalipun sedang menghadapi banyak permasalahan hidup, ujian, musibah dan seumpamanya. Firman Allah yang bermaksud:
“Ingatnya, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Surah al-Ra’ad, ayat 28)
Sesungguhnya dengan selalu ingat kepada Allah, akhlak diri menjadi indah dan menarik, sekali gus menjadi cermin bagusnya nilai ajaran Islam dan hebatnya orang mukmin pada mata orang bukan Islam seperti pernah ditunjukkan junjungan besar Nabi Muhammad SAW.
Jangan jadikan sibuk dengan urusan kehidupan di dunia sebagai alasan lupa kepada Allah. Sungguh Allah melarang keras seseorang memiliki sifat lalai seperti ditegaskan firman yang bermaksud:
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Surah al-A’raf, ayat 205)
http://nurjeehan.hadithuna.com/2009/04/hati-umat-islam-berkarat-jika-meninggalkan-zikir/
----------------------------------------------
Dalam hadits Qudsi (HR. Bukhari) , Allah SWT berfirman :
"Barang siapa yang sibuk berzikir mengingat-Ku hingga lupa berdoa, niscaya Aku akan berikan padanya hal terbaik yang pernah Aku berikan kepada mereka yang berdoa."
Hadist riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah Ta'ala berfirman:
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.
-------------------------------------------------
ORANG dalam hatinya terpancar keimanan kukuh, akan selalu giat berusaha sepanjang langkah usianya untuk bertaqarub kepada Allah kerana didorong rasa cinta mendalam terhadap-Nya. Kasih sayang dan kecintaan kepada Allah menjadikan seseorang itu sentiasa rindu pada-Nya.
Ibarat seorang anak muda sedang mabuk asmara, selalu terkenang-kenang si buah hatinya. Orang yang beriman, ingatannya tetap bergetar tulus kepada-Nya tanpa mengira waktu dan tempat. Bagi mukmin sejati, zikir dan hati adalah satu nyawa, tidak boleh dipisahkan.
Ia ditegaskan Ibn Taimiyah: “Zikir bagi hati adalah umpama air bagi ikan, bagaimana keadaan ikan apabila berpisah daripada air?”
Inilah gambaran orang beriman, yakin percaya kepada Allah dan menginsafi diri tidak lebih sebagai seorang hamba sangat lemah yang selama ini menerima nikmat Allah tidak terhitung banyaknya.
Hal ini menepati firman Allah yang bermaksud:
“Wahai orang beriman, (untuk bersyukur kepada Allah) ingatlah serta sebutlah nama Allah dengan ingatan serta sebutan yang sebanyak-banyaknya; dan bertasbihlah kamu kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Surah al-Ahzab, ayat 41-42)
Kebanyakan masyarakat faham zikir hanya kata-kata yang dilafazkan saban kali habis menunaikan solat fardu, solat sunat atau membisik doa ketika ingin makan, memulakan sesuatu kerja yang baik, terjaga dan tidur serta bersin.
Padahal hakikat zikir kepada Allah sebenarnya tidak tertentu kepada zikir lisan semata-mata seperti mana ditegaskan Al-Imam An-Nawawi, bahawa zikir tidak terbatas kepada tasbih, tahlil, takbir dan lain-lain zikir lisan, mereka yang bekerja kerana Allah juga orang yang berzikir kepada Allah.
Pendapat beliau disokong Basri Ibrahim Al-Azhari dalam bukunya Salah Faham Terhadap Konsep Ibadah, Ilmu dan Zikir, bahawa setiap orang yang taat kepada Allah, mengikut segala diperintahkan dan meninggalkan dilarang oleh-Nya dikira sebagai orang yang berzikir.
Zikir terbahagi kepada tiga bahagian iaitu zikir hati, lidah dan anggota. Zikir hati memikirkan keagungan dan kebesaran Allah di bumi, langit dan seluruh kejadian makhluk-Nya. Zikir lidah pula melantunkan puji-puji kepada Allah, mensyukuri nikmat kurniaan-Nya, menyeru masyarakat ke arah ajaran Islam, menerangkan kebaikan syarak, menjelaskan hikmah pada perintah dan larangan Allah, memberi nasihat kepada sesama Islam.
Sementara zikir anggota pula menggunakan anggota badan untuk melakukan amalan ketaatan, sama ada dalam bentuk melakukan segala suruhan atau meninggalkan segala larangan Allah.
Orang yang lupa atau lalai kepada Allah, hatinya selalu dirundung resah gelisah, tenggelam dalam kebimbangan dan sengaja meletakkan dirinya di tempat mengundang kemurkaan Allah lantaran tidak rasa bersalah terhadap kemungkaran dilakukan.
Lupa kepada Allah menandakan hati seseorang itu sudah berkarat dengan sifat mazmumah yang sangat keji.
Orang beriman tidak akan membiarkan hatinya berkarat dan penuh dengan kekotoran, ia akan sentiasa menggilap hatinya dengan berzikir kepada Allah.
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah pernah berkata: “Tidak dimungkiri bahawa hati itu dapat berkarat seperti berkaratnya besi dan perak. Alat yang dapat membersihkan hati berkarat adalah zikir. Zikir dapat membersihkan hati berkarat sehingga dapat berubah menjadi bening seperti cermin yang bersih. Apabila seseorang meninggalkan zikir, hatinya akan berkarat. Dan apabila ia berzikir, hatinya akan bersih.”
Sesungguhnya seseorang yang lalai daripada mengingati Allah bermakna dirinya dihinggapi penyakit sombong, lupa asal kejadian diri sebagai makhluk lemah yang diciptakan semata-mata supaya mengabdikan diri kepada-Nya dan mewarisi sifat orang munafik.
Firman Allah yang bermaksud:
“Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka berdiri untuk solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riak (dengan solat) di hadapan manusia. Dan, tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (Surah an-Nisa, ayat 142)
Setiap mukmin sewajarnya menjadikan zikir sebagai sesuatu yang tidak terpisah daripada kehidupan seharian kerana banyak keistimewaan bakal diterima oleh orang yang sentiasa berzikir.
Kitab Tanbih al-Ghafilin menyatakan lima kelebihan dan faedah berzikir, iaitu mendapat keredaan Allah, menambahkan kesungguhan melaksanakan ketaatan, terkawal daripada hasutan syaitan, melembutkan hati dan mencegah daripada melakukan maksiat.
Orang yang memperbanyakkan zikir, dosanya akan diampuni sekali gus mendapat ganjaran pahala besar seperti firman yang bermaksud:
“Lelaki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Aku sudah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surah al-Ahzab, ayat 35)
Orang yang selalu ingat kepada Allah jiwanya menjadi bening dan tenang, sekalipun sedang menghadapi banyak permasalahan hidup, ujian, musibah dan seumpamanya. Firman Allah yang bermaksud:
“Ingatnya, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Surah al-Ra’ad, ayat 28)
Sesungguhnya dengan selalu ingat kepada Allah, akhlak diri menjadi indah dan menarik, sekali gus menjadi cermin bagusnya nilai ajaran Islam dan hebatnya orang mukmin pada mata orang bukan Islam seperti pernah ditunjukkan junjungan besar Nabi Muhammad SAW.
Jangan jadikan sibuk dengan urusan kehidupan di dunia sebagai alasan lupa kepada Allah. Sungguh Allah melarang keras seseorang memiliki sifat lalai seperti ditegaskan firman yang bermaksud:
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Surah al-A’raf, ayat 205)
http://nurjeehan.hadithuna.com/2009/04/hati-umat-islam-berkarat-jika-meninggalkan-zikir/
----------------------------------------------
Dalam hadits Qudsi (HR. Bukhari) , Allah SWT berfirman :
"Barang siapa yang sibuk berzikir mengingat-Ku hingga lupa berdoa, niscaya Aku akan berikan padanya hal terbaik yang pernah Aku berikan kepada mereka yang berdoa."
Hadist riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah Ta'ala berfirman:
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.
-------------------------------------------------
Senin, 04 Oktober 2010
Menjadi Manusia yang Pandai Bersyukur
Ketika kita menggemakan takbir-terutama saat berhari raya-tersirat pemahaman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Mahabesar, sementara kita yang diciptakannya adalah kecil. Kita hina dan tak punya daya dan kekuatan untuk berkiprah, kecuali karena kemurahan dan kebesaran Allah. Karena itu, ketika kita telah merampungkan sebuah perjuangan (baca; Ramadhan), maka perbanyaklah takbir.
"Dan hendaklah bertakbir atas anugerah yang telah Allah berikan. Semoga kalian menjadi hamba-Nya yang bersyukur." (QS al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan perintah puasa (QS [2]: 183).
Ramadhan mencetak kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa, akan senantiasa mengingat kebesaran Allah, termasuk semua nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Di lidah ia mengucapkan kalimat takbir, dalam amal perbuatan ia menerjemahkannya dengan rasa syukur. Karena itu, menjadi pribadi yang bertakwa belum cukup bila tidak dibarengi dengan pribadi yang bersyukur. Kenapa? Karena maqam syukur lebih tinggi dari maqam takwa. Sebab, syukur menjadi maqam-nya para nabi dan rasul. Karenanya, Allah menegaskan, hanya sedikit dari hamba-Nya yang pandai bersukur (QS Saba [34]: 13).
Syukur merupakan satu stasiun hati yang akan menarik seseorang pada zona damai, tenteram, dan bahagia. Ia juga akan mendapatkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus mendapatkan insentif pahala dan kenikmatan yang terus bertambah dari Allah SWT (QS Ibrahim [14:] 7).
Rasul SAW adalah manusia yang pandai bersyukur. Suatu ketika, beliau pernah ditanya Bilal, "Apakah yang menyebabkan baginda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa baginda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidakkah engkau suka aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?"
Dzunnun al-Mishri memberi tiga gambaran tentang manifestasi syukur dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kepada yang lebih tinggi urutan dan kedudukannya, maka ia senantiasa menaatinya (bit-tha'ah). "Hai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara kalian …" (QS an-Nisa [4]: 59).
Kedua, kepada yang setara, kita mengejawantahnya dengan bil-hadiyyah. Saling tukar pemberian. Kita harus sering-sering memberi hadiah kepada istri atau suami, saudara, teman seperjuangan, sejawat dan relasi. Dengan cara itu, maka akan ada saling cinta dan kasih.
Ketiga, kepada yang lebih bawah dan rendah dari kita, rasa syukur dimanifestasikan dengan bil-ihsan. Selalu memberi dan berbuat yang terbaik. Kepada anak, adik-adik, anak didik, para pegawai, buruh, pembantu di rumah dan semua yang stratanya di bawah kita, haruslah kita beri sesuatu yang lebih baik. Jalinlah komunikasi dan berinteraksilah dengan baik, dan kalau hendak men-tasharuf-kan rezeki, berikan dengan sesuatu yang baik (QS as-Syu'ara [26]: 215 dan al-Baqarah [2]:195). Wallahu a'lam.
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/03/137923-menjadi-manusia-yang-pandai-bersyukur
Menghormati Ulama Penerus Para Nabi
Bagi suatu kaum, wafatnya seorang ulama seharusnya menjadi suatu hal yang sangat disesali, karena ulama itu dapat memotivasi dan membimbing umat menuju kemaslahatan hidup.
"Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari semua manusia, akan tetapi dengan menghilangkan ulama, sehingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Yang ketika ditanya, mereka akan memberi fatwa tanpa didasari ilmu sehingga fatwa akan sesat dan menyesatkan." (HR Bukhari)
Rasul SAW mengibaratkan ulama itu sebagai lampu-lampu bumi. Artinya, ulama itu bertugas menerangi kehidupan umat dari kegelapan. Sebagai pengganti para nabi, ulama bertugas melanjutkan dakwah dan menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Mereka mewarisi ilmu para nabi, menjaga dan menyampaikannya kepada umat, agar senantiasa memiliki akhlak yang mulia.
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka dapat menjaga dirinya." (QS At-Taubah [9]: 122).
Menurut Sayyidina Ali, pahala seorang ulama lebih besar daripada pahala orang yang berpuasa di siang hari, mendirikan shalat sepanjang malam, dan berperang dalam perang suci karena Allah. Dan ketika ulama wafat, maka akan muncul satu kesenjangan dalam Islam. Mereka tak dapat diganti, kecuali dengan yang serupa. "Terdapat dua kelompok dari umatku. Bila mereka baik, maka baik pula umatku, dan bila mereka jahat, akan rusaklah umatku. Dialah ulama dan umara."
Ulama sejati adalah orang-orang yang berilmu dan takut kepada Allah (QS Fathir [35]: 28). Ulama sejati lebih mementingkan kehidupan umat daripada dirinya. Ulama sejati lebih mementingkan persatuan, persaudaraan, dan perdamaian daripada perpecahan, kebanggaan kelompok, dan perselisihan.
Karena itu, kewajiban umat Islam untuk senantiasa dekat dengan ulama. Rasul SAW bersabda, "Akan datang pada suatu zaman di mana mereka tidak menghormati ulama kecuali karena bajunya yang bagus. Mereka tidak mendengarkan Alquran kecuali dengan suara bagus. Mereka tidak menyembah Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Tidak ada lagi rasa malu pada wanita mereka. Mereka tidak puas dengan bagian yang sedikit. Mereka tidak puas pula dengan kekayaan yang melimpah. Mereka berusaha hanya demi perutnya. Agama mereka adalah uang. Wanitanya menjadi kiblat mereka (arah penyembah). Dan rumah-rumah mereka adalah masjid-masjid mereka. Mereka menjauh dari ulama sebagaimana anak biri-biri lari menjauh dari serigala."
Semoga kita senantiasa menjadi umat yang bertakwa, selalu mengamalkan Alquran dan sunah Rasulullah SAW, hormat kepada ulama, taat kepada pemimpin yang adil, dan baik dengan tetangga dan kerabat.
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/04/137971-menghormati-ulama-penerus-para-nabi
Langganan:
Postingan (Atom)