Jumat, 01 Juni 2012

Bersih Diri dan Bersih Hati



Ungkapan Annadzhafatu Minal Iman atau "Kebersihan sebagian dari iman." 
Sabda Rasulullah SAW itu sudah begitu melekat dalam kehidupan umat Muslim. Memang, dalam Islam, ada standar higenitas (kesehatan) yang tinggi yang harus diwujudkan secara nyata dalam keseharian

Kebersihan merupakan sesuatu yang dicintai Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam hadist yang di riwayatkan oleh Tarmizi RA, “Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan, maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.
Kandungan hadist diatas menyatakan perintah untuk menjaga kebersihan karena Allah mencintai kebersihan. Untuk mendapatkan cinta Allah upayakan untuk selalu bersih. Bersih diri, bersih hati.
Adapun yang perlu dijaga kebersihannya meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.  Bersihkan Diri

Kebersihan dimulai dari diri sendiri. Jika hendak menghadap Allah dalam Shalat, kita diharuskan dalam keadaan suci dan bersih. Bersih diri, pakaian dan tempat. Aktifitas menjaga kebersihan diri diwajibkan dalam syariat, sebagaimana diungkapkan dalam Hadist Ath-thahuuru syatrul iiman yang artinyaBersuci/Thaharah itu sebagai dari iman.
Suci (Thahir) adalah keadaan tanpa najis/hadas, baik besar maupun kecil pada badan, pakaian, tempat, air dan sebagainya. Sedangkan bersuci merupakan aktifitas seseorang untuk mencapai kondisi suci, seperti berwudhu, tayyamum dan mandi junub.

Selain menjaga kebersihan diri, menjaga kebersihan pakaian yang melindungi diri juga harus diperhatikan, seperti firman Allah yang  artinya : 1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. dan Tuhanmu agungkanlah! 4. dan pakaianmu bersihkanlah, 5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah, (QS [74] : 1- 5)

2.  Bersihkan Lingkungan

Kebersihan lingkungan erat kaitanya dengan masalah kesehatan. Lingkungan yang bersih adalah lingkungan yang sehat. Kelalaian dalam menjaga kebersihan lingkungan merupakan awal dari mewabahnya berbagai penyakit. Banyak wabah penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang kotor.
Menjaga kebersihan lingkungan dimulai dari kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, sebagimana ajaran mulia yang menyetarakan membuang sampah dengan sedekah, Watumithul adza minathariqi shadaqah yang artinyaMemungut duri/sampah dijalan termasuk sedekah.
Perintah membersihkan lingkungan, tempat tinggal dan tempat ibadah secara tersirat diperintahkan pada Nabi Ibrahim untuk selalu menjaga kebersihan Baitullah tempat beribadah, rumah Allah. Hendaklah perintah ini ditauladani juga bagi segenap muslim dalam menjaga kebersihan lingkungan.

3.  Bersihkan Hati

Bersihkan hati dengan ikhlas. Makna ikhlas adalah menjernihkan dan membersihkan hati dari segala sesuatu yang mengotorinya. Ikhlas adalah segala kecenderungan pada Allah, menjadikan keridhaan Allah sebagai alasan mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan.
Berikut ini beberapa firman Allah mengenai hakikat ikhlas;
* Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah denganmengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS [98] : 5)

*  …… Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)..… (QS [39] : 2 – 3)

4.  Bersihkan Harta

Tazzkiyah, mensucikan harta dengan Zakat.
Zakat (Pajak dalam Islam) adalah rukun ketiga dari rukun Islam. Secara harfiah Zakat berarti Tumbuh, Berkembang, Menyucikan atau Membersihkan. Sedangkan secara terminologi syari’ah, Zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan.
Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia. Perintah menunaikan zakat yang terdapat dalam Al-Qur’an diantaranya sebagaimana ayat berikut ini; dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (QS [2] : 43)

Zakat merupakan sarana membersihkan harta yang kita miliki karena sesungguhnya di sebahagian harta itu terdapat hak orang lain yang dititipkan melalui rezki yang kita peroleh. Dengan mengeluarkan zakat, harta menjadi bersih dan pemanfaatannya akan memberikan berkah yang lebih baik.
Demikianlah Islam agama yang lurus dan terang memberi tuntunan pada umatnya, menjadikannya kebiasaan hidup, karena sesungguhnya Allah itu bersih dan mencintai kebersihan. Amat mudah menggapai cinta-Nya, bersihkan diri, bersihkan lingkungan, bersihkan hati dan bersihkan harta. Rasakan betapa dekatnya Yang Maha Agung, lebih dekat dari pada detak jantung. Rasakan kehangatan dekapan-Nya, lebih hangat dari pada aliran darah. Subhanallah, Maha Suci Allah, jadikanlah kami orang-orang yang “bersih”.

Oleh Riny Yunita


Ta'at Itu Nikmat..........





Taat dalam bahasa Arab pada awalnya berarti menemani atau mengikuti. Hakikat taat merupakan sikap dan tindakan yang tulus dalam mematuhi perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Lawan taat adalah maksiat, durhaka, melanggar syariat. "Tidak ada keharusan menaati perintah jika dia bermaksiat kepada Allah, tetapi keharusan taat itu berlaku dalam rangka berbuat kebaikan." (HR Bukhari dan Muslim).

Menurut Muhammad 'Abduh, taat kepada Allah sama dengan mematuhi Alquran, taat kepada Rasul identik dengan mengikuti sunahnya, dan taat kepada ulil al-amri (pemimpin) berarti menjalankan konsensus pemimpin yang dipercaya umat dalam mengemban visi kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan umat, baik itu ulama, kepala negara, maupun legislatif.

Taat beragama Islam dapat menjadikan Muslim mendapat petunjuk Allah dan kasih sayang-Nya (an-Nur [24]: 54), selalu beruntung (al-Ahzab [33]: 71), memperoleh nikmat-Nya bersama para Nabi, Syuhada, dan orang-orang saleh (al-Nisa' [4]: 69), serta memperoleh ampunan dan surga-Nya (al-Fath [48]: 16-17).

"Muslim harus mau mendengar dan taat kepada ajaran Islam, baik yang disukai maupun tidak disukai. Tetapi, jika ia diperintahkan untuk maksiat, maka tidak ada keharusan untuk mendengar dan menaatinya." (HR Bukhari dan Muslim).

Beragama Islam tanpa dibarengi ketaatan adalah omong kosong. Said Hawwa berpendapat, tidak ada yang lebih penting dalam Islam selain tiga hal: takwa, ibadah, dan taat. Dua hal pertama (takwa dan ibadah) ibarat dua sisi mata uang, sedangkan yang taat merupakan kunci terlaksananya dua hal pertama. Muslim yang bertakwa harus dibarengi ketaatan menjalankan syariat.

Islam akan membawa rahmat bagi semua jika setiap Muslim berkomitmen untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Realisasi taat dapat diwujudkan dengan jamaah. "Tidak ada Islam tanpa berjamaah, sementara tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak ada kepimpinan tanpa ketaatan." (HR ad-Darimi).

Dalam beragama maupun bermasyarakat dan bernegara, ketaatan merupakan kunci keberhasilan. Jika pemimpin mampu memberi keteladanan dalam ketaatan menegakkan hukum, tidak tebang pilih, niscaya rakyat akan mencintai dan mematuhi hukum. Sebaliknya, jika pemimpin hanya menebar pesona, berjanji tanpa bukti, menginstruksikan ketaatan tanpa keteladanan, kepemimpinannya ibarat 'macan ompong', tidak efektif.

Alquran melarang kita taat kepada para pemimpin yang menyesatkan (al-Ahzab [33]:34), orang kafir (al-Furqan [25]: 52), orang munafik (al-Ahzab [33]: 48), pendusta ayat-ayat Allah (al-Qalam [68]: 8), serta orang yang banyak bersumpah dan hina (al-Qalam [68]: 10). Menjadi taat harus berusaha mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil'alamin melalui gerakan amar makruf nahi mungkar secara damai, dialogis, dan persuasif karena taat itu nikmat.
*****************************
Catatan :


Taat kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya adalah sifat mulia yang dituntut untuk diamalkan oleh setiap orang Islam. Taat yang dimaksudkan itu ialah kesetiaan menjunjung serta mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.  Selain taat kepada Allah dan Rasul-Nya, setiap orang Islam juga diwajibkan taat dan bertangungjawab kepada ibu bapa, pemerintah, guru, ketua atau pemimpin.

Di dalam kitab suci al-Quran, terdapat berpuluh-puluh firman Allah s.w.t yang memerintahkan manusia agar taat setia mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Demikian juga dengan firman-firman Allah yang memerintahkan manusia agar mentaati ibu bapa, pemerintah, guru dan sebagainya.

Firman Allah s.w.t yang memerintahkan manusia agar takut dan bertakwa kepada Allah dan mentaati segala perintah-Nya dalam surah Ali Imran ayat 50 dan surah asy-Syu’ra ayat 108, 110, 126, 131, 144, 150, 163 dan 179, yaitu:

“Maka oleh yang demikian, takutilah kamu akan (kemurkaan) Allah, dan taatlah kepadaku. ” Selanjutnya firman-firman Allah yang lain memerintah manusia agar taat kepada Allah diiringi perintah agar taat kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.

Firman Allah dalam surah al-Maidah ayat 92 :
“Dan taatlah kamu kepada Allah serta taatlah kepada Rasul Allah, dan awaslah (janganlah sampai menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya). Oleh karena itu jika kamu berpaling (enggan menurut apa yang diperintahkan itu), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (perintah-perintah) dengan jelas nyata.”

Firman Allah diatas jelas menunjukkan bahwa perintah agar mentaati Allah s.w.t itu adalah perintah yang tegas. Jika ada manusia yang enggan mentaati perintah itu maka terpulanglah kepada dirinya sendiri. Rasulullah s.a.w telah menyempurnakan tanggungjawabnya menyampaikan perintah tersebut dengan jelas dan nyata.

Firman Allah s.w.t dalam surah al-Anfal ayat 1 :
“Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang harta rampasan perang. Katakanlah: Harta rampasan perang itu terserah) bagi Allah dan Rasul-Nya (untuk menentukan pembahagiannya). Oleh itu bertakwalah kamu kepada Allah dan perbaikilah keadaan perhubungan diantara kamu serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika benar kamu orang-orang yang beriman.”

Menurut sejarah Islam, firman Alah di atas diturunkan selepas Perang Badar antara umat Islam dengan kafir yang berakhir dengan kemenangan besar di pihak Islam.
Segolongan pemuda Islam yang turut berjuang menyatakan tidak bersetuju jika harta rampasan perang yang diperoleh itu dibagi sama. Mereka mau diberikan semua kepada mereka dengan alasan merekalah yang berjuang mati-matian mengalahkan musuh. Itulah sebabnya firman Allah ini diturunkan.

Di dalam firman tersebut, Allah s.w.t memberitahukan dengan tegas bahwa penentuan pembagian harta rampasan perang itu adalah terserah kepada Allah dan Rasul-Nya. Pemuda-pemuda itu tidak berhak hendak menuntut demikian. Mereka diwajibkan taat kepada perintah Allah. Allah s.w.t juga menasihati mereka agar membaiki perhubungan silaturrahim antara mereka sebagai bukti bahwa mereka benar-benar orang yang beriman.

Firman Allah lagi dalam surah Ali Imran ayat 32 :
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu jika kamu berpaling (mendurhakai), maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir.”

Firman Allah ini juga dengan tegasnya menyuruh manusia mentaati segala perintah Allah dan Rasul-Nya tanpa ingkar walau sedikit pun. Allah s.w.t tidak menyukai orang-orang yang ingkar, durhaka atau kafir.




S A H A B A T .............



Nabi memiliki banyak sahabat dalam mengembangkan Islam. Ada empat sahabat nabi yang amat dikenal, yang kemudian memimpin masyarakat Islam sepeninggal Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Ke empat sahabat nabi ini, menurut tarekhnya, mereka sedemikian tulus dan dekat dengan nabi. 

Para sahabat itu memiliki komitmen yang amat tinggi dalam memperjuangkan Islam. Apa saja ynag dilakukan oleh nabi, mereka ikuti dan kerjakan. Hubungan mereka dijalin bukan atas kepentingan, melainkan atas dasar cinta terhadap ajaran Islam yang sedemikian mulia. Atas dasar itu maka hidup dan atau mati mereka, hanya diperuntukkan bagi perjuangan agama Allah itu. Sebaliknya, antara sahabat dengan nabi tidak pernah terjadi konflik, salah paham, dan sejenisnya. 

Mereka itu semua adalah orang-orang yang setia, sehingga pada saat nabi masih hidup, sekalipun sedemikian berat, perjuangan nabi selalu berhasil dengan gemilang. Kiranya tidak bisaa dibayangkan, andaikan para sahabat tersebut, tidak memiliki komitmen dan atau hati mereka tidak diikat oleh tali kasih sayang yang mendalam. Mungkin nabi akan disibukkan oleh persoalan-persoalan internal di lingkungan sahabat sendiri.
 
Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”... (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
.
Seperti itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan, agar kita mau bersahabat dengan orang yang baik, agar kebaikan mereka terkena imbasnya pula pada diri kita.

Sahabat dalam Al Quran dibedakan menjadi beberapa tingkatan yaitu :

1.Tingkatan yang pertama adalah SHOHIB (artinya teman)

Bisa jadi shohib tidak sependapat dengan kita dalam beberapa hal, tapi karena dia 
menemani kita, maka kita menyebutnya sahabat dalam perjalanan.

2.Tingkatan yang kedua adalah SHODIQ (artinya benar atau jujur)

Seseorang yang selalu mengatakan sesuatu dengan kebenaran dan kejujuran. Seorang. shodiq sikapnya selalu benar demi kebaikan sahabatnya.

3.Tingkatan yang ketiga adalah KHOLIL (artinya celah)

Seorang yang begitu dekat dengan kita. Sikap dan perilakunya kepada kita 
dilandasi dengan keikhlasan dan kasih sayang yang terasa menyentuh kalbu kita. 
Seorang Kholil mempunyai intuisi dan empati yang dalam pada sahabatnya. Ketika 
sahabatnya gembira, bersuka cita, sedih, dan berduka lara, seorang Kholil dapat 
merasakan hal yang sama. Kholil ibarat kita melihat diri kita saat bercermin.

4.Tingkatan yang keempat adalah BITHONAH / WALIY (artinya orang yang mendekat)

Seseorang yang kita beritahu rahasia pribadi kita karena teramat dekatnya 
persahabatan yang terjalin.

Persahabatan yang dilandasi ketaqwaan tidak hanya membawa manfaat di dunia saja, tapi juga di akhirat. Karena itu, di hari akhir nanti ada tujuh kelompok yang mendapatkan kedudukan mulia di sisi Tuhan. Salah satu diantaranya adalah dua orang yang bersahabat karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya. 



Percakapan Sepasang Sahabat




Seharusnya kau bersyukur, Mei. Kau beruntung memiliki nasib yang sangat jauh lebih baik dariku. Kau tahu mengapa aku tiba-tiba ke rumahmu malam ini? Aku kabur dari rumah, Mei, dan aku datang padamu dengan gerimis yang tetap menyala di kedua sudut mataku seperti dulu saat kita masih sama-sama kelas IX SMP. Aku datang dengan kerapuhanku, Mei. Kau tahu sendirikan? Sejak peristiwa perjodohan yang dilakukan kedua orang tuaku dua tahun yang lalu terhadapku, aku menjadi sangat rapuh dan tak kunjung berhenti memandikanmu dengan hujan air mataku.

Maafkan aku, Mei, sebab aku selalu saja menyusahkanmu dengan masalah yang menimpaku, membuatmu di benci kedua orang tuaku karena aku telah mencoba nekat sembunyi di rumahmu karena tidak ingin di nikahkan oleh mereka dulu. Sekali lagi kukatakan kau beruntung, Mei, sangat! Kau mempunyai kesempatan untuk melanjutkan sekolahmu ke jenjang yang lebih tinggi, sedang aku?Aku terputus di tengah jalan hanya karena menjadi korban nafsu mereka. Percuma, Mei. Percuma aku memiliki cita-cita merengkuh dunia dan menyentuh langit, sebab, ya… lihat saja keadaanku bagaimana malam ini. Hancurkan, Mei? Hancur, Mei, sangat! Tapi aku tetap mencoba bertahan dengan keadaanku yang begini, walau pada nyatanya aku sakit dan tersiksa. Mei, boleh aku meminta bantuanmu?

“Ris, kau tetap sahabatku meski telah lama kita berpisah. Jujur aku sangat senang kau masih ingat alamat rumahku, namun aku sangat miris dengan keadaanmu saat ini, Ris. Aku akan selalu membantumu selama aku bisa. Apapun itu.”

Terimakasih, Mei. Ternyata kau masih tetap Mei yang kukenal dulu. Kau tahu, Mei apa yang terjadi dengan hari-hariku semenjak pernikahan itu terjadi? Begini, Mei, semenjak itu aku berusaha menjalani hariku dengan senyum yang kupaksakan merekah di bibirku, senyum yang seolah syurga bagi mereka, namun sebenarnya adalah retak neraka di jantungku. Aku telah berusaha sekuat mungkin untuk mencintai suamiku yang lebih pantasnya ia menjadi seorang ayah sebab usianya yang terlampau sangat jauh dariku.

Kau tahu berapa usianya saat itu, Mei? DUA PULUH TUJUH tahun, Mei. Sedang aku? Kau tahu sendirikan aku masih berusia 13 tahun saat itu. Mei, sulit bagiku untuk mencintai sosok yang menyerupai ayah sepertinya. Namun aku tak pernah lelah, aku tak ingin menjadi istri yang durhaka sebab munafik. Aku tak pernah lelah untuk tetap berusaha dan mencoba menjadi yang terbaik untuknya. Aku takut bedosa padaTuhan, Mei. Aku takut Tuhan menempatkan aku dalam neraka-Nya hanyakarena aku tak mencintainya dan tak patuh atas segala perintahnya.

Aku sudah kehilangan pendidikanku, dan biarkan saja aku menikamati hidupku yang kacau ini. Aku menuruti segala apa yang diainginkannya, Mei; Mulai dari menemaninya saat terlelap, jalan-jalan menikmati suasana pantai, memasak untuknya, dan masih banyak lagi pekerjaan rumah tangga yang kulakukan layaknya rumah tangga yang lain pada umumnya. Awalnya aku merasa terpaksa, Mei, namun mungkin karena sudah biasa dengan keadaan seperti itu aku perlahan sudah mulai biasa menerima keadaan itu semua. Selang beberapa bulan aku berhasil, Mei. Ya, aku berhasil mencintainya. Aku berhasil mencintai orang yang kuanggap seperti seorang ayah.

Mungkin semua ini karena kebersamaan kami selama ini, dan dia juga selalu penuh kasih-sayang dalam rumah tangga kami. Dia ternyata orangnya pengertian, Mei. Mengerti aku yang masih tergolong usia dini, kadang aku merasa seperti anak kecil saat manja di pelukannya. Aku bersyukur pada Tuhan, Mei. Aku bersyukur karena Tuhan menghadirkan cinta di hatiku untuknya. Dan saat itu aku sudah tidak perlu susah payah lagi hanya sekedar untuk tersenyum padanya. Aku sudah tidak perlu munafik lagi, Mei.Munafik yang menghadirkanluka di hatibanyak orang.Takperlu, Mei. Takperlu. Aku sudah tidak butuh sikap seperti itu.

Semenjak bunga-bunga tumbuh bermekaran di jantungku, hari-hariku seperti merasakan kebocoran syurga Tuhan saat itu. Senang, Mei, sangat! Saat itu aku merasa seolah-olah dunia hanya milikku dengannya dan yang lain hanya mengungsi untuk sementara. Dia sangat pengertian, Mei, sempat suatu hari suamiku menawarkan padaku untuk melanjutkan sekolah. Namun aku menolak, Mei. Harapanku untuk tetap menikmati masa sekolah sepertimu telah pupus. Sedih… memang saat harus menjadi dewasa bukan pada saatnya sepertiku, sangat tersiksa, Mei. Aku menolak bukan karena aku tak ingin sekolah lagi, atpi karena aku telah frustasi dan aku merasa sangat malu pada teman-teman sekoelasku nanti karena usiaku yang jauh lebih dewasa dari mayoritas. Aku malu, Mei, semuanya telah terlanjur terjadi, biarkan saja hidupku amburadul seperti saat ini.

“Kamu jangan seperti itu, Ris, mana Riska yang dulu ku kenal sangat tegar dan tak mudah menyerah seperti ini?”

Iya, Mei. Aku tahu. Aku tahu aku memang salah bersikap seperti ini. Dan kau benar aku memang jauh berbeda dengan aku yang dulukau tahu. Tapi coba bayangkan seandainya kaulah yang berada di posisiku! Aku tidak yakin kau mampu terhindar dari perilaku seperti apa yang aku lakukan saat itu. Kau tahu, Mei apa yang menjadi permasalahan saat ini? Jarak, Mei. JARAK. Kau tahu sendiri kan jarak antara rmahku dengan rumah suamiku?, karena aku lebih sering tinggal di Jakarta orang tuaku di Madura cemburu, Mei. Aku bingung pada mereka, dulu mereka menyuruhku menikah, tapi sekarang? Aku sudah bukan tanggung jawab mereka lagi, aku berhak ikut dan tinggal di rumah suamiku, Mei. Aku sudah merupakan tanggung jawab suamiku sekarang. Apapun yang terjadi denganku, apapun yang aku inginkan, dan segalanya yang menyangkut diriku sudah merupakan tanggung jawabnya, bukan mereka.

Pernah suatu ketika aku tinggal di Madura bersama mereka selama beberapa hari, karena kebetulan pada saat itu suamiku sedang keluar negeri sebab tugas kantornya. Aku enjoy, Mei. Di sana aku menikmati hari-hariku bersama mereka. Kukerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga layaknya seorang pembantu sebagai bentuk baktiku pada mereka. Seperti biasa, Mei, saat aku usai mengerjakan semua itu, aku relax di ruang santai sambil nonton TV. Tiba-tiba bunda datang menemaniu yang tengah asyik menikmati pop corn. Aku terkejut. Tak biasanya bunda menemaniku seperti itu. Danternyata dugaanku benar, Mei. Bunda memang memiliki maksud menemaniku saat itu.

“Nduk, bunda merasa sepi saat nduk ada di Jakarta. Ayah juga seringkali tidak dirumah karena keluar-masuk kota. Sedang bunda di rumah sendiri, nduk. Bunda hanya berteman sepi, namun akhir-akhir ini untung nduk disini, jadi agak sedikit terkurangi rasa sepi itu. Kenapa kalau nduk tetap tinggal di Madura tanpa kembali ke Jakarta? Atau… kalau perlu ceraikan saja suamimu itu agar tidak membawamu jauh dari bunda. Bunda tidak ingin jauh dari anak bunda satu-satunya, begitupun dengan ayah.”

Aku tersentak mendengar permintaan bunda saat itu, mataku membelalak, tenggorokanku seolah ada benda bulat di dalamnya, ingin rasanya aku menjambak rambutnya dan memukulinya sesuka hatiku, seadainya beliau bukan bundaku sudah ku bunuh dia sekalian. Aku sudah tidak sanggup, Mei. Aku tak faham dan tidak mengerti dengan apa yang ada dalam benak mereka. Dulu mereka memaksaku menikah dengan orang yang jauh lebih tua dariku hingga sekolahkupun terputus hanyakarena mengikuti keinginan mereka, hanya karena ingin membuat mereka bahagia, Mei, tapi kenapa mereka juga tidak mencoba untuk membahagiakan eku walau hanya sekali? Sebab aku tak ingin mereka kecewa akhirnya aku belajar untuk mencintai suamiku. Dan sekarang? Setelah aku benar-benar sudah bisa menerima dan mencintainya mereka ingin memisahkan aku dengannya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku, Mei? Hah? orang tua yang menghancurkan hidup anaknya sendiri! Orang tua yang tidak pernah mengerti kehidupan anaknya!

“Sabar, Ris… sabar… kembalikan semuanya pada Tuhan.”

Aku sudah tidak sanggup lagi, Mei. Mereka telah mencoba membunuhku secara diam-diam. Biarkan saja aku menjadi anak durhaka karena tidak mengikuti keinginan mereka. Biarkan saja aku berenang di neraka Tuhan karena tidak mampu menjadi anak yang baik bagi mereka. Biarakan, Mei. Atau aku mati saja agar semua ini segera berakhir?

“Sabar, Ris… hidup memang seperti ini, penuh coba dan uji dari Tuhan. Dan Tuhan akan menguji hambanya sesuai dengan kadar kemampuan yang dimilikinya. Tuhan mengujimu seperti ini karena Tuhan tahu kau mampu dan sanggup memikul semua ini. Tuhan yakin kau akan bangkit dan kembali bangun seperti dulu lagi. Ris, yakinlah… semua masalah pasti ada jalan keluarnya, semua pasti akan kembali baik lagi seperti sediakala. Pasti, Ris. Pasti.”

Terimakasih ya, Mei. Kau memang sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Dan kau memang benar, Mei, aku harus bangkit. Aku harus bangun.aku harus kembali seperti dulu lagi. Tidak mudah menyerah saat ada masalah yang memelukku. Ada Tuhan di sampingku, Mei. Aku bersama Tuhan di dunia fana ini. Oiya, Mei, aku kesini tidak sendiri. Suamiku menugguku di depan gerbang rumahmu, dia tidak mau aku ajak kesini, malu katanya sama kamu. Aku boleh meminjam uangmu, Mei? Ada kan?

“Memangnya kamu mau kemana, Ris? Iya, aku punya uang, kau butuh berapa?”

seperti yang sudah ku katakana padamu di awal. Aku kabur bersama suamiku dari rumah, aku sudah tidak tahan lagi tinggal di Madura, Mei. Dan aku pergi tanpa membawa uang sepeserpun, jadi, aku mau pinjam sama kamu untuk sementara. Tenang saja. Pasti aku ganti kok, aku utuh hanya untuk taxi saja, aku butuh lima puluh ribu, Mei. Ada kan?

“Ya, ada. Apa tidak kurang, Ris? Kau mau kabur kemana? Hati-hati di jalan, aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Sudah… itu tidak usah kau ganti, aku ikhlas kok.”

Terinakasih ya, Mei. Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Aku sekarang juga nggak tahu harus pergi kemana, yang jelas aku akan mencari tempat yang membuatku tenang dan damai. Sekali lagi terimakasih ya, Mei. Maaf. Aku harus pergi, kasihan suamiku menunggu sedari tadi di luar. Suatu hari nanti aku aka datang lagi padamu, bukan dengan hujan yang mengaliri pipiku, tapi dengan bunga yang merekah melingkari bibirku. Aku pergi, Mei.




Oleh: Ummul Khaier El-Syaf
http://oase.kompas.com/read/2012/06/01/22351118/Percakapan.Sepasang.Sahabat