Sabtu, 04 Agustus 2012

Alquran dan Lailatul Qadar




‘’Sesungguhnya kami telah menurunkan Alquran pada malam qadar.’’ (QS: Al-Qadar [97]:1)

Suatu hari, dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW berkisah kepada para sahabat tentang seorang seorang yang saleh dari Bani Israil. Orang tersebut menghabiskan waktunya selama 1.000 bulan  untuk berjihad fi sabilillah. Mendengar kisah itu, para sahabat merasa iri, karena tak bisa memiliki kesempatan untuk beribadah selama itu.

Usia umat Nabi Muhammad SAW memang lebih pendek dari umat terdahulu. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah merenungi hal itu. Nabi SAW pun bersedih, karena mustahil umatnya dapat menandingi amal ibadah umat-umat terdahulu. 

''Dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga, Allah SWT lalu mengaruniakan Lailatul Qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW,'' ungkap Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam kitab Fadha'il Ramadhan. Menurutnya,  Lailatul Qadar adalah suatu malam karunia Allah yang sangat besar kebaikan dan keberkahannya.

Lalu apa sebenarnya Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar berarti malam yang penuh dengan kemuliaan. Pada malam itu, kata dia,  diturunkan Alquran yang memiliki kemuliaan, melalui seorang malaikat yang juga sangat mulia dan diterima seorang nabi yang juga sangat mulia.

Qadar   bisa bermakna ukuran. Ukuran segala sesuatu itu ditetapkan pada malam itu, rezeki seseorang, apakah dia bahagia atau tidak? Sampai setahun ke depan ditetapkan pada malam itu. Lailatul Qadar memiliki sejumlah keistimewaan. Betapa tidak. Pada malam itu, Alquran diturunkan. Selain itu, Lailatul Qadar itu lebih baik dari 1.000 bulan. 

Pada malam itu,  para malaikat dan Ar-ruh (yang dimaksud adalah Malaikat Jibril) turun ke bumi.  Para malaikat itu turun dengan membawa rahmat dan keberkahan. Yang tak kalah penting, malam yang istimewa itu membawa kedamaian, rasa aman kepada siapa saja yang menjumpainya sampai terbit fajar.

Dalam sebuah riwayat, yang dimaksud fajar adalah terbit fajar di keesokan harinya. Tapi hatta mathla'il fajr, berarti sampai tiba saatnya fajar kehidupannya yang baru di akhirat nanti. Lalu seperti apa ciri-ciri akan datangnya Lailatul Qadar?

Tanda-tanda fisik seperti yang populer di kalangan masyarakat bahwa malam itu tenang, angin sepoi-sepoi, kemudian matahari di keesokan harinya berawan dan tidak terlalu panas. Namun, riwayat-riwayatnya tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. 

Tanda-tanda fisik semacam itu secara logika memangsulit diterima. Karena, sangat relatif, tergantung musim. Kalau musim hujan, ya,  pasti mendung, apalagi dengan perubahan iklim sekarang. Jadi, tanda-tanda fisik itu tidak bisa dijadikan ukuran. Tanda yang pasti adalah salaamun hiya hatta mathla'il fajr.

Yang pasti, salah satu tanda yang pasti dari Lailatul Qadar adalah  orang selalu merasa damai,  selalu menebar kedamaian dalam hidupnya sampai dia meninggal dunia bahkan sampai dibangkitkan kembali menyongsong fajar kehidupan yang baru.

Tak ada seorang pun yang tahu kapan tamu agung itu akan datang. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu akan menghampiri hambanya. Terlebih, sebagai tamu agung, Lailatul Qadar hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang mendapat taufik dan beramal saleh pada malam itu.  Mengapa begitu? Supaya kita semakin giat mencarinya sepanjang hari, khususnya pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Sesungguhnya,  Lailatul Qadar itu memiliki banyak makna. Lailatul Qadar bisa diartikan secara fisik bahwa betul-betul memang malam itu ada sesuatu yang istimewa. Pada malam itu Malaikat turun berbondong-bondong sangat luar biasa dan hanya detik itu, menit itu atau jam itu. Adalagi yang memaknai Lailatul Qadar simbolis sesungguhnya. Laila artinya malam, malam bisa berarti keheningan, kesyahduan, kepasrahan, tawakal, kerinduan, kehangatan, termasuk juga kekhusyukan.

Sebagaimana banyak dijelaskan dalam berbagai buku sejarah, termasuk Sirah Nabawiyyah, Lailatul Qadar itu hanya terjadi sekali dalam setahun, yakni hanya pada bulan Ramadhan. Dan itupun, waktunya tidak ditentukan. Ada yang berpendapat, terjadi di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Karena begitu mulianya Laailatul Qadar, Rasulullah saw mengajak seluruh sahabatnya, istri-istrinya sampai kepada pembantu-pembantunya untuk memperbanyak ibadah.  Karena itu, ketika istri-istri Rasulullah diminta untuk mencari Lailatul Qadar, Aisyah RA  berkata, Ya Rasulullah bagaimana kalau saya yang mendapatkan? Apa yang harus saya baca? Minta rumah, minta kekayaan atau minta yang lainnya?

Rasulullah mengajarkan bacalah,  ''Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa'fu anni (Ya Allah Engkalau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah, Engkau senang mengampuni hamba-hambaMu karena itu ampunilah dosa-dosaku).''  


Oleh Heri Ruslan

Dan Surga Pun Bersolek




Di Negara-negara Teluk, bila Ramadhan tiba, lampu-lampu jalan yang unik, menarik dan indah menghiasi bagan kota sepanjang jalan. 

Lampu jalan dengan berbagai hiasan bertuliskan "Ramadhan Kareem", "Marhaban Ya Ramadhan", "Ramadhan Yajma'una", "Ramadhan Syahrus Siyam" dan lain semacamnya menghiasi kota seakan turut bersolek menyambut datangnya bulan suci dan mulia.

Suasana bahwa kita berada di bulan Ramadhan bukan hanya terasa di sepanjang jalan, melainkan juga di mal-mal dan gedung-gedung pemerintah serta perusahaan nasional yang memasang ribuan lampu hias di seluruh ruas bangunan.

Di dalam mal dan shopping centre berbagai ornamen khas Ramadhan turut menghiasi dan memeriahkan suasana tersebut, sehingga begitu menarik perhatian kita dan terkhusus lagi bagi anak-anak kita yang mulai menginjak dewasa.

Mereka ini bahagia dengan datangnya Ramadhan, bukan saja bulan ini "menghidupkan" penghuninya dengan berbagai suasana khasnya dan keramaian mulai malam tiba hingga berakhirnya, melainkan juga dengan banyaknya tawaran potongan harga (discount) yang saling bersaut antar shopping centre dengan shopping centre lainnya. 

Singkat cerita Ramadhan di negara-negara Teluk mengalahkan perayaan hari raya natal (Marry Christmas) dan memiliki kesan positif serta pengaruh mendalam bagi anak-anak dan kaum muda.  

Fenomena yang terjadi di Negara Teluk tersebut nampaknya tidak terjadi di Indonesia. Suasana khas Ramadhan di Indonesia terasa ketika kita memasuki masjid atau mushalla dengan berbagai kegiatan shalat dan tadarus di dalamnya. Suasana Ramadhan yang meriah di jalanan hampir saja tidak kita temui, kecuali jika Ramadhan itu bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan  RI seperti tahun ini.

Fenomena di Negara Teluk ternyata memiliki rujukan penguatnya, karena surga turut bersolek menyambut bahagia orang-orang yang berpuasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, "Di bulan Ramadhan, umatku mendapatkan lima perkara yang tidak didapat oleh umat nabi-nabi sebelumku. Pertama, Allah SWT melihat mereka di awal Ramadhan. Dan barang siapa yang dilihat Allah, maka ia tidak akan disiksa untuk selama-lamanya.” 

“Kedua, para malaikat memintakan ampunan bagi mereka pada setiap siang dan malam. Ketiga, Allah memerintahkan kepada surga-Nya dan berfirman: berhiaslah engkau untuk hamba-hambaku yang berpuasa agar mereka dapat beristirahat melepaskan kepayahan di dunia menuju rumah-Ku dan kemuliaan-Ku. Keempat, bau mulut mereka saat berpuasa (di sisi-Ku) lebih harum dari pada wewangian Al-Misk. Kelima, Di akhir Ramadhan Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka sekalian." (HR. Tabrani).

Berhias (bersolek) bukan hanya dominasi kaum hawa, karena surga pun diperintahkan oleh Allah untuk bersolek menyambut orang-orang yang berpuasa. Berhias sebenarnya juga merupakan perintah Allah SWT kepada orang-orang yang beriman agar tampil indah, menawan, bersahaja dengan tetap menjaga prinsip proporsionalitas dan menjauhkan diri dari sikap pamer dan sombong. 

Namun, sebaik-baiknya hiasan adalah takwa karena ketakwaan membimbing manusia, memeliharanya dari ketidaklayakan dan dosa serta mengantarkannya pada kebaikan dan kemuliaan dunia. Selanjutnya hiasan ketakwaan mengantarkan pemiliknya sebagai penghuni surga.
 
Hiasilah dirimu dengan takwa (QS. Al Baqarah: 197) melalui ibadah puasa, shalat tarawih dan witir di malam harinya, serta jauhkanlah dari bicara kotor dan tidak berguna, niscaya surga yang telah berhias dengan hiasan yang tak terduga akan menyambutmu dengan penuh gembira dan rasa bangga. Wallahua'lam.



Oleh: Dr Muhammad Hariyadi

Hakikat Doa Sapu Jagat


Dalam setiap doa seorang Muslim hampir selalu menutupnya dengan ungkapan doa sapu jagat: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201). 

Lantunan doa tersebut bertambah kuat didengungkan saat seseorang mutawwif di rukun Yamani menuju Hajar Aswad. Namun, arti dan maksud kebaikan yang diminta oleh masing-masing pendoa berbeda satu sama lain.

Para ahli tafsir sepakat bahwa arti dan maksud kebaikan akhirat adalah surga, sebab di akhirat manusia hanya punya dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Allah SWT berfirman, "Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. An-Naazi'at: 37-41).

Sedangkan kebaikan dunia memiliki arti yang berbeda-beda antar pendoa. Ada yang mengartikannya dengan harta kekayaan melimpah, suami tampan, istri cantik, bisnis moncer, perdagangan menghasilkan, rumah besar, kendaraan mewah, anak banyak, kesabaran, keihlasan, kesyukuran dan lain sebagainya. Semua arti tersebut bersifat subyektif sesuai dengan keinginan masing-masing pendoa.

Akan tetapi, Itukah arti dan maksud  yang dikehendaki Al-Qur'an? Syekh Ahmad Abdurrahim Abdul Bar mengandaikan “jika kebaikan akhirat adalah surga maka, kebaikan dunia harus otomatis menjadi penyebab bagi kebaikan akhirat.”

Harta melimpah, suami tampan, istri cantik, bisnis maju, perdagangan menghasilkan, rumah besar, mobil mewah dan sebagainya tidak secara otomatis menjadikan pemiliknya masuk surga. Bahkan tidak jarang semua perhiasan dunia tersebut justru menjadi fitnah di dunia dan menjadi bahan investigasi KPK sebelum malaikat mempermasalahkannya. Dengan demikian semua arti subyektif pendoa itu ternyata bukanlah hakikat kebaikan dunia sebagaimana yang dimaksudkan Alquran.

Lantas apa hakikat "kebaikan dunia" yang dimaksud? Di dalam banyak ayat, Alquran mengemukakan dua kunci kebaikan dunia, yaitu: iman dan amal saleh. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggal (nya)." (QS. Al-Kahfi: 107).
 
Pada ayat lain Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga." (QS. Al-Bayyinah: 7-8).

Iman dan amal saleh ternyata menjadi pengantar langsung bagi kebaikan akhirat (surga). Bukan perhiasan dunia yang bersifat materi. Jika demikian adanya, maka kebaikan dunia itu tidak didominasi oleh orang-orang kaya, sukses, tampan dan cantik, melainkan menjadi tantangan dan peluang bagi semua manusia asalkan beriman dan beramal saleh. 

Orang-orang yang mengumandangkan doa sapu jagat dengan demikian tidak bisa sekedar berpangku tangan mengharap dikabulkannya doa kebaikan, melainkan harus berjibaku meningkatkan iman dan amal salehnya dalam rangka mewujudkan "kebaikan di dunia dan di akhirat" bagi dirinya. Wallahua’lam.


Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Chrisye - Anak Sekolah




Bukan aku tak tertarik
Akan kata rayuanmu
Saat matamu melirik
Aku jadi suka padamu

Tiap kali kau bermanja
Gemetar rasa di dada
Ingin kubisikkan cinta
Tapi hati ini malu jadinya

Engkau masih anak sekolah, satu SMA
Belum tepat waktu tuk begitu begini
Anak sekolah, datang kembali
Dua atau tiga tahun lagi