Minggu, 08 Februari 2015

Kenali Tiga Jenis Nafsu Ini




Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 

Sahabat shalehku mari kenali “nafsu” yang bersemai pada setiap insan dan diri kita:

1- Nafsu Ammarah (QS Yusuf 53), 
ini adalah nafsu yang hanya puas kalau sudah maksiat, sangat tidak suka ibadah, benci nasihat kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Seperti, senang berzina, sangat pemarah, hobi mabuk, benci ulama, ketagihan makan haram, korupsi, dan sebagainya.

2. Nafsu Lawwamah (QS al Qiyamah 2), 
Nafsu standar ganda, dari kata “laima” mencela dirinya setelah berbuat maksiat lalu sangat menyesal tetapi tidak lama kemudian ketagihan lagi. Seperti, shalatnya rajin tetapi masih suka berzina, tentu yang salah bukan shalatnya, pelakunya yang belum paham tujuan, makna dan hikmah shalat.

Kalau shalat itu benar benar dihayati buahnya jauh dari maksiat, “Sesungguhnya shalat itu mencegah zina dan mungkar” (QS al Ankabut 45) atau sudah haji tetapi korupsi, dan sebagainya.

3. Nafsu muthmainnah, 
ini nafsu hamba Allah yang shaleh (QS Ar Ro’du 28) “almuqorrobuun” (QS al Waqiah 88) senangnya ibadah, semangatnya beramal, hatinya lebut, dermawan, rendah hati, istiqomah, suka sekali duduk di masjid, majelis ilmu, cinta ulama, sangat takut maksiat, malah ia heran melihat orang berani maksiat.

Sedih sekali kalau bangun terlambat shalat malam, muhasabah diri sama sekali tidak tertarik melihat aib orang lain, dan air matanya mudah menetes saat sholat, membaca Alquran, dan berzikir.

"Allahumma ya Allah jauhkan kami dari nafsu yang membuat kami maksiat kepada-Mu dan bimbinglah nafsu kami menjadi muthmainnah nafsu mendekat kpdMU…aamiin". Jangan lupa sebelum rehat malam ini berwudhu, berdoa, berzikir sampai tertidur dan berazam untuk shalat malam.

Oleh: KH Muhammad Arifin Ilham
Sumber: Facebook Muhammad Arifin Ilham


Malaikat Mencari Orang-Orang yang Berzikir



Assalaamu'alaikukum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki sekelompok Malaikat yang berkeling di jalan-jalan  mencari orang-orang berzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang berzikir kepada Allah, maka mereka saling memanggil: 'Ke marilah kepada apa yang kamu semua hajatkan'.

Lalu, mereka mengelilingi orang-orang yang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Apabila orang itu telah berpisah (bubar dari majelis zikir) maka para malaikat naik ke langit. Maka bertanyalah Allah kepada mereka (padahal Dia-lah yang lebih mengetahui perihal mereka).

Allah berfirman : Dari mana kalian semua? Malaikat berkata : Kami datang dari sekelompok hamba-Mu di Bumi. Mereka bertasbih, bertakbir & bertahlil kepada-Mu.  Allah berfirman : Apakah mereka pernah melihat-Ku? Malaikat berkata: Tidak pernah !

Allah berfirman : Seandainya mereka pernah melihat-Ku? Malaikat berkata: Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu.

Allah berfirman: Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku? Malaikat berkata: Mereka minta surga kepada-Mu.
Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat surga? Malaikat berkata : Tidak pernah!

Allah berfirman: Bagamana kalau mereka pernah melihatnya? Malaikat berkata: Andai mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya, dan semakin besar keinginan untuk memasukinya.

Allah berfirman: Dari hal apa mereka minta perlindungan? Malaikat berkata: Dari api neraka.
Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat neraka? Malaikat berkata: Tidak pernah!

Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka? Malaikat berkata: Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya.

Allah berfirman: Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka. Salah satu dari malaikat berkata: Disitu ada seseorg yang tidak termasuk dalam kelompok mereka. Dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah mereka akan diampuni juga?).

Allah berfirman : Mereka adalah satu kelompok di mana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa" (HR Bukhori Muslim).  Dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir : 'Aku ampunkan segala dosa mereka dan Aku beri permintaan mereka". 


Subhanallah mulianya mereka yg berzikir, sahabatku.  Insya Allah ahad 11 Robiul akhir / 1 Februari mulai 07.00 Tawshiyah Zikir Akbar di mesjid Az Zikra Sentul Bogor. Allahumma ya Allah berkahilah persahabatan dan harakah da'wah kami...Aminn.

Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham
Sumber: Facebook Muhammad Arifin Ilham

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/15/01/30/niz3zu-malaikat-mencari-orangorang-yang-berzikir

10 Cara Rasulullah Menjemput Rahmat Allah



Suatu hari Baginda Nabi Muhammad SAW didatangi Jibril, kemudian berkata, “Wahai Muhammad, ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun di atas sebuah bukit yang berada di tengah-tengah lautan. Di situ Allah SWT mengeluarkan sumber air tawar yang sangat segar sebesar satu jari, di situ juga Allah SWT menumbuhkan satu pohon delima, setiap malam delima itu berbuah satu delima.

Setiap harinya, hamba Allah tersebut mandi dan berwudhu pada mata air tersebut. Lalu ia memetik buah delima untuk dimakannya, kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat dan dalam shalatnya ia berkata: “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan bersujud dan supaya badanku tidak tersentuh oleh bumi dan lainnya, sampai aku dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud”.

Maka Allah SWT menerima doa hambanya tersebut. Aku (Jibril) mendapatkan petunjuk dari Allah SWT bahwa hamba Allah itu akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud. Maka Allah SWT menyuruh: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.

Maka Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”. Untuk yang ketiga kalinya Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut pun berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.

Maka Allah SWT menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah SWT tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah SWT berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu. (HR Sulaiman Bin Harom, dari Muhammad Bin Al-Mankadir, dari Jabir RA).

Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah SWT, bukan karena banyaknya amal ibadah. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal ibadah yang kita lakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, puasa, dan amalan-amalan lainnya tidak ada arti? Jangan salah persepsi. Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia, amal ibadah adalah sebuah proses atau alat untuk menjemput rahmat Allah SWT. Karena rahmat Allah tidak diobral begitu saja kepada manusia. Akan tetapi, harus diundang dan dijemput.

Rasulullah SAW mengajarkan kepala umatnya beberapa cara agar rahmat Allah itu bisa diraih. Pertama, berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah SWT dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya dan merasa diperhatikan (diawasi) oleh Allah (QS al-A'raf [7]: 56). Kedua, bertakwa kepada-Nya dan menaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (QS al-A'raf [7]: 156-157). Ketiga, kasih sayang kepada makhluk-Nya, baik manusia, binatang. maupun tumbuhan.

Keempat, beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah (QS al-Baqarah [2]: 218). Kelima, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah SAW (QS an-Nur [24]: 56). Keenam, berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-nama-Nya yang Mahapengasih (ar-Rahman) lagi Mahapenyayang (ar-Rahim). Firman Allah SWT, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS al-Kahfi [18]: 10).

Ketujuh, membaca, menghafal, dan mengamalkan Alquran (QS al-An'am [6]: 155). Kedelapan, menaati Allah SWT dan Rasul-Nya (QS Ali Imran [6]: 132). Kesembilan, mendengar dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan Alquran (QS al-A'raf [7]: 204). Kesepuluh, memperbanyak istigfar, memohon ampunan dari Allah SWT. Firmannya, “Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS an-Naml [27]: 46).


Oleh: Suprianto

Apa Makna Nur yang Dibahas Alquran?




Nur yang dalam bahasa Arab diartikan dengan cahaya dan disebut dalam Alquran sebanyak 43 kali. Bahkan, surah ke-24 juga diberi nama dengan an-Nur. Begitu banyaknya Alquran membahas tentang eksistensi nur.
Lantas sedalam apakah makna nur yang dibahas Alquran? Eksistensi dan urgensi kalimat nur tentu tak hanya sebatas didefenisikan dengan cahaya saja.

Secara etimologis, cahaya adalah sesuatu yang menyinari suatu objek sehingga objek tersebut menjadi jelas dan terang. Menurut pakar tata bahasa Arab Ibrahim Anis dalam al-Mujam al-Wasth, nur adalah cahaya yang menyebabkan mata dapat melihat. Sementara itu, Muhammad Mahmud Hijazi, seorang ahli tasawuf mengatakan, nur adalah cahaya yang tertangkap oleh indra dan dengannya mata dapat melihat sesuatu. Selanjutnya pengertian ini berkembang dengan makna petunjuk dan nalar.

Penulis Tafsir al-Mizan as-Sayyid Muhammad Husein at-Tabataba’i menjelaskan, pengertian awal dari kata nur adalah sesuatu yang tampak dengan sendirinya. Selanjutnya, hal ini juga menyebabkan hal lainnya yang bersifat sensual (naluriah, implisit) menjadi tampak.

Definisi ini berkembang lebih luas, yaitu setiap alat indera dipandang sebagai nur atau mempunyai nur, dan dengannya hal-hal yang sensual dapat terlihat. Selanjutnya, pengertian ini berkembang lagi hingga mencakup yang nonsensual, termasuk akal juga dikatakan sebagai nur karena ia dapat menyingkap hal-hal yang abstrak.

Ibnu Sina (980-1037) pernah ditanya tentang pengertian nur pada surah an-Nur ayat 35. Ia menjawab, kata nur mengandung dua makna, yaitu esensial dan metaforis. Adapun yang esensial berarti kesempurnaan keheningan karena nur itu pada dirinya bersifat bening. Sedangkan makna metaforis harus dipahami dengan dua cara, yaitu sebagai sesuatu yang bersifat baik atau sebagai sebab yang mengarahkan kepada yang baik.

Sedangkan, pakar tafsir al-Isfahani membagi pengertian nur ke dalam arti material (duniawi) dan arti spiritual (ukhrawi). Nur dalam arti material adalah cahaya yang dapat dilihat dan ditangkap di dunia. Arti material ini dibedakan lagi menjadi dua, yaitu arti abstrak dan arti konkret. Arti abstrak berarti cahaya yang hanya dapat ditangkap oleh mata hati (basirah). Kedua, arti konkret atau sensual (makhsus) merupakan cahaya yang dapat ditanggap oleh mata kepala. Sedangkan nur dalam arti spiritual ialah cahaya yang akan dilihat di akhirat kelak.

Dalam Alquran, kata nur paling tidak memiliki arti dalam tiga kemungkinan. Pertama, cahaya itu sendiri. Hal ini seperti terdapat dalam surah Yunus ayat 5, "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan memiliki nur (bercahaya). Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya".

Kedua, bermakna petunjuk. Hal ini seperti yang terdapat dalam surah al-Hadid ayat 9, "Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Alquran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada nur (cahaya)".

Ketiga, bermakna Alquran. Hal ini seperti yang terdapat dalam surah at-Tagabun ayat 8, "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan".

Makna dasar kata nur sebenarnya adalah petunjuk karena nur dalam arti cahaya itu sendiri petunjuk. Sedangkan Alquran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang yang tersesat atau orang yang sedang mencari kebenaran. Nabi Muhammad SAW disebut juga nur karena Beliau diyakini sebagai orang yang membawa petunjuk atau menunjukkan jalan yang benar.

Al-Gazali dalam kitabnya Misykat al-Anwar mengatakan, kedudukan Alquran bagi mata akal sama seperti kedudukan cahaya matahari bagi mata lahiriah. Sebab, hanya dengan itulah sempurna penglihatan. Dengan itu pula Alquran lebih patut menyandang nama nur sebagaimana sinar matahari biasa dinamakan cahaya.

Menurut al-Gazali, hakikat nur yang sebenarnya hanyalah Allah SWT, sedangkan sebutan cahaya bagi selain Dia hanyalah kiasan, tak ada wujud sebenarnya. Karena itu, al-Gazali membedakan makna nur pada pengertian di kalangan orang awam dan kalangan orang khusus.

Nur dalam pengertian orang awam merujuk kepada sesuatu yang tampak. Sedangkan ketampakan itu adalah sesuatu yang nisbi. Adakalanya sesuatu tampak dengan pasti bagi suatu pandangan pada saat ia bersembunyi bagi pandangan lainnya. Cahaya adalah sebutan sesuatu yang tampak dengan sendirinya ataupun yang membuat tampak benda lainnya.

Nur dalam pengertian orang khusus adalah jiwa yang melihat. Rahasia cahaya adalah kenampakannya bagi suatu daya cerap. Akan tetapi, pencerapan tidak hanya bergantung pada adanya cahaya, tetapi juga pada adanya mata yang memiliki daya lihat. Meskipun cahaya disebut sebagai sesuatu yang tampak dan menampakkan sesuatu, tidak ada suatu cahaya yang tampak dan menampakkan sesuatu bagi orang buta.

Di kalangan kaum sufi istilah nur biasanya dinisbahkan dengan Muhammad SAW sehingga menjadi ungkapan Nur Muhammad atau Halaqah Muhammadiyah. Konsep Nur Muhammad pertama kali dibawakan oleh al-Hallaj (858-922).

Teori tentang adanya nur atau Nur Muhammad ini berdalil dengan penafsiran surah an-Nur ayat 35 yang menyebutkan, "Allah adalah cahaya langit dan bumi". Kata nur pada ayat ini ditafsirkan dengan Nur Muhammad. Allahu A'lam.


Oleh: Hafidz Muftisany