Rabu, 03 Juni 2015

Tanda-Tanda Kiamat



Suatu ketika Rasulullah SAW bangun dari tidur dalam keadaan merah mukanya. Ia lalu berkata, “La ilaha illallah, celaka orang-orang Arab karena keburukan telah dekat, telah terbuka hari ini benteng penghalang Ya'juj dan Ma'juj (Nabi SAW melingkarkan antara ibu jari dan telunjuk). Lalu ditanyakan, “Apakah kita akan dibinasakan, padahal ada orang-orang saleh di tengah-tengah kita?” Nabi SAW menjawab, “Ya, jika al khabats telah merajalela.” (HR Al Bukhari-Muslim).

Kata al khabats dalam hadis ini memiliki makna segala perbuatan yang merupakan bentuk kemaksiatan terhadap Allah SWT serta dilakukan kapan saja dan di mana saja (banyak dijumpai di setiap waktu dan tempat).

Hadis di atas juga menjelaskan, jika kemaksiatan telah tersebar dan merajalela, itu artinya iman menjadi sesuatu yang sangat langka, kebaikan dan keberkahan rezeki telah lenyap, rasa aman tidak ada lagi, banyak terjadi huru-hara dan wabah penyakit.
Sementara itu, kesia-siaan menjadi sesuatu yang mendominasi, keadaan masyarakat berubah total, kemungkaran dianggap kebaikan, sedangkan kebaikan menjadi sesuatu yang diingkari. Inilah salah satu tanda akan keluarnya Ya'juj dan Ma'juj yang merupakan satu di antara sekian pertanda bahwa kiamat telah di ambang pintu.

Ini merupakan isyarat bahwa apa yang disabdakan Rasulullah SAW itu telah mendekati bahkan menjadi kenyataan. Nabi SAW telah memberitahukan kepada umatnya beberapa tanda dekatnya hari kiamat yang terjadi di akhir zaman.

Tanda-tanda kiamat, yakni pertama, orang tidak memperhatikan halal dan haram. Dalam hadis sahih al Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa di mana seseorang sudah tidak peduli lagi bagaimana caranya mendapatkan harta, apakah secara halal atau dengan cara haram.”

Termasuk kategori mencari harta secara haram adalah dengan mempraktikkan riba dan rentenir. Tidak bisa dimungkiri bahwa sektor muamalah, ekonomi, dan bisnis kini telah didominasi oleh sistem ribawi, yaitu dengan bermunculannya bank-bank dan lembaga perkreditan yang mempraktikkan riba ataupun orang-orang yang berprofesi sebagai rentenir.

Kedua, waktu terasa pendek. Nabi SAW bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga waktu menjadi terasa pendek” (HR Al Bukhari). Setahun mejadi serasa sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu bagaikan sehari, sehari terasa sejam, dan sejam bagai semenit.

Para ulama berbeda pendapat tentang arti lafal taqarub az-zaman (waktu menjadi pendek) dalam hadis di atas. Di antara pendapat-pendapat tersebut adalah sedikitnya keberkahan di dalam waktu (umur).

Ada juga yang mengatakan cepatnya hari-hari berlalu disebabkan beragamnya sarana transportasi dan komunikasi sehingga yang jauh menjadi terasa dekat. Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda, “Hari kiamat tidak terjadi sehingga fitnah tersebar, banyak kebohongan, dan pasar-pasar saling berdekatan.”  (HR Ahmad). Wallahu'alam. 



Oleh: Bahron Ansori   



Selasa, 02 Juni 2015

Jangan Merasa Benar Sendiri



Perbedaan pendapat itu sifatnya alamiah. Setiap orang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan sikap yang kadang berbeda. Hanya saja, perbedaan itu harus dibingkai komunikasi yang santun, mendorong pada dialog yang terbuka, dan tetap memelihara sikap menghargai satu sama lain. Kebenaran yang disampaikan, tapi bila caranya salah, dengan sikap yang arogan dan ingin menang sendiri, akan diterima salah.

Rasulullah SAW mencontohkan bagaimana beliau menghargai setiap perbedaan dan bila pun ada kekeliruan, meluruskannya dengan lemah lembut. Tak pernah ada cacian dan hinaan terucap, bahkan kepada musuhnya yang membencinya sekalipun. Perdebatan yang dilakukannya selalu terpelihara dari sikap menghinakan lawan bicara.

Sementara kini, komunikasi antara sesama dan di ruang publik makin jauh dari sikap menghargai. Hanya karena berbeda pendapat, cacian, sindiran, dan ucapan melecehkan begitu mudah ditemukan dalam obrolan sehari-hari. Dalam acara televisi, arogansi dan caci-maki seolah telah menjadi tradisi. Bahkan di media sosial, mencela jadi biasa. Kesantunan dan menghormati sesama kini mulai menjadi perilaku langka.

Di kalangan umat Islam, hanya karena berbeda dalam pemahaman keagamaan, mengafirkan menjadi biasa. Padahal, status kafir itu menakutkan. Siapa pun yang mengaku dirinya Muslim, akan sangat sedih bila dilabeli status itu. Janganlah dengan mudah menuding orang lain kafir karena hanya Tuhan yang tahu bagaimana kualitas beragama kita.

Mengedepankan tabayun, komunikasi dua arah dan utuh akan mengurangi perbedaan persepsi. Sertakan semangat untuk memelihara ukhuwah Islamiyah. Jangan sampai perbedaan pendapat menjadi laknat.

Ingatlah, Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk menyampaikan dakwah dengan bijak, santun, dan jika pun harus berbantahan, lakukanlah dengan baik. "Serulah pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS an-Nahl: 125).

Ayat ini salah satu maknanya memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan risalah tauhid. Bahkan bila ada yang menolak dan meragukan Islam, bantahlah dengan cara yang terbaik. Apabila Rasulullah SAW saja diajarkan membantah dengan cara yang baik, tentu saja sebagai umatnya kita pun diperintahkan seperti itu.

Janganlah berbantah-bantahan dan umpatan menjadi tradisi. Berkomunikasilah dengan menjaga perasaan orang lain tanpa kekerasan dan sindiran yang menyakitkan. Apalagi bila perbedaan pendapat itu dengan sesama Muslim, menahan diri dan menghormati apa yang menjadi pendapat saudara kita sangat utama. Semua kita tengah belajar beragama, tak ada seorang pun yang sempurna pengetahuannya. Bila ada ulama ahli fikih, pasti beliau kurang memahami bidang ilmu lain, demikian juga yang lainnya. Demikianlah, pengetahuan manusia terbatas. Sejatinya, apa yang diketahui, amalkanlah sebaik mungkin.

Rasulullah SAW mengingatkan: "Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam zikir tentang Allah." (HR Darimi).

Komunikasi yang sopan akan membawa pada semangat untuk menemukan kebenaran hakiki, bukan merasa benar sendiri. Ingatlah, kedalaman ilmu pengetahuan tidak ditentukan seberapa hebatnya kita berdebat. Belajar dan mengamalkannya menjadi penentu. Wallahu'alam.

Oleh: Iu Rusliana

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/15/06/01/np9hfo-jangan-merasa-benar-sendiri

Hal yang Ditakutkan Rasulullah Menimpa Umatnya


Suatu kali, Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan hal yang paling beliau takutkan dengan berkata, ''Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.''
Para sahabat langsung bertanya, ''Apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu, wahai Rasulullah?'' Rasul menjawab, ''Riya.''

Riya adalah harapan untuk mendapatkan sanjungan, kemuliaan, atau kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan tindakan yang baik dalam ibadah ataupun kegiatan sehari-hari. Seseorang yang memperturutkan riya dalam ibadah mahdhah, seperti shalat maka tiada sedikitpun balasan pahala yang ia terima. (QS al-Ma'un [107]: 4-6)

Dalam ibadah ghairu mahdhah pun seperti itu. Berinfak di jalan Allah dengan maksud bisa mendapat julukan dermawan atau menuntut ilmu dengan niat mendapat gelar seorang alim maka segala usaha tersebut akan sia-sia. 

Selain itu, pelaku riya juga akan mendapat laknat dari Allah SWT karena ia telah menyandingkan Sang Khalik dengan makhluk ciptaan-Nya. Dalam Hadis qudsi disebutkan bahwa Allah SWT menantang kala hari perhitungan kepada manusia dengan berkata, ''Pergilah kalian kepada orang-orang yang kala di dunia kalian mengedepankan riya atas mereka dan lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari sisi mereka.'' (HR Ahmad dan Baihaqi).

Demikian betapa besarnya laknat Allah terhadap pelaku riya. Riya hukumnya haram. Ia merupakan penyakit hati yang bersumber dari sifat rububiyyah dalam diri manusia, yakni sifat yang menganggap diri lebih mulia ketimbang orang lain sehingga senantiasa ingin mendapatkan pujian dan menampakkan perilaku baik dalam tutur kata dan perbuatan.

Sifat ini sejatinya ada dalam hati setiap pribadi manusia, meski takarannya berbeda-beda, bergantung iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Barang siapa yang imannya kuat maka ia akan mampu menekan penyakit riya tidak sampai tampak ke permukaan, tapi sebaliknya, manakala lemah maka ia akan terseret oleh arus penyakit ini. 

Lantas, bagaimana usaha kita untuk menghindari syirik kecil ini? Pertama, dengan mengetahui akar pemicu timbulnya riya. Penyakit akan tumbuh kembali manakala penderita sekadar mengobati titik sakitnya bukan pada akarnya. Adapun secara terperinci ada tiga akar riya, yakni perasaan senang mendapatkan pujian,  takut akan hinaan dan celaan, serta tamak atas apa yang dimiliki oleh orang lain. Ketiga akar ini akan tercerabut dari dalam hati kita dengan mengingat bahwa keagungan hanya mutlak milik Allah SWT dan tiada kemuliaan yang abadi di dunia. 

Namun, apabila riya masih terketuk dalam hati meski kita sudah mengetahui akar pemicunya maka cara yang kedua adalah dengan mengucap taawuz dan terus beristighfar kepada Allah SWT agar setan yang kala itu membuhulkan bisikan dapat menjauh dari kita karena sejatinya setan menjauh dari orang-orang yang hatinya bersih dan ikhlas.

Dari itu semua, apalah arti sebuah sanjungan kalau ia putus ditelan kematian. Sebab, sanjungan yang abadi hanya datang dari Allah SWT kelak di hari akhir. Masing-masing dari kita akan mampu meraih sanjungan-Nya dengan amal saleh dan ketakwaan yang hakiki. Wallahu a'lam.


Oleh: M Sinwani   





‘