Kamis, 27 Agustus 2009

Puasa Mendorong Lahirnya Peradaban

Terbentuknya peradaban dalam sejarah umat manusia ditentukan, paling tidak, oleh tiga hal. Yaitu stabilitas sosial, kesejahteraan ekonomi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ini ditegaskan Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam perbincangan dengan Republika di Jakarta, Rabu (26/8).

''Stabilitas sosial adalah kondisi di mana masyarakat memiliki komitmen bersama terhadap pemenuhan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Bahkan dalam kondisi yang lebih ideal lagi manusia rela menunda kepentingan pribadinya karena mendahulukan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan masyarakat secara bersama (Q.S. Al Hasyr [59]:9),'' papar kiai Ridwan.

Karena menurutnya, dengan menolong masyarakat berarti seseorang telah membuat investasi untuk menolong masa depannya. Persoalan abadi yang dihadapi dalam sejarah umat manusia adalah pilihan antara berpikir hanya untuk dirinya sendiri atau hanya untuk masyarakatnya. Kepercayaan dan agama-agama kuno telah memberikan jawaban masing-masing terhadap hal ini.

Dikatakan kiai Ridwan, ada agama yang hanya menekankan aspek spritualitas (spritual enrichment) dengan meniadakan tuntutan kebutuhan fisik ragawi. Sementara itu ada pula kepercayaan yang mengatasnamakan agama namun hanya menonjolkan kebutuhan fisik semata. Dua pendekatan uang sama-sama ekstrim ini ternyata gagal yang mengakibatkan manusia mengabaikan agama yang tidak siap untuk berjalan bersama kemoderenan. Keunggulan Islam ialah jawabannya yang komprehensif tentang keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan masyarakat.

''Kesejahteraan ekonomi adalah kebutuhan nyata dimana setiap orang memiliki kecenderungan untuk memiliki secara pribadi sebagaimana hal ini menjadi idiom kapitalisme. Pendekatan lain, secara teoritis ingin melihat kepentingan masyarakat dengan menafikan kepentingan pemilikan pribadi sebagaimana yang menjadi jargon sosialisme. Namun dua pandangan yang sama-sama ekstrim ini akan gagal karena tidak sesuai dengan bakat (malakah) manusia,'' paparnya.

Ditambahkan kiai Ridwan, kepemilikan pribadi harus di dalam kesadaran sosial dan kesadaran sosial juga di dalam kepentingan pribadi. Oleh karena itu, kepemilikan manusia terhadap harta tidak pernah mencapai milik paripurna (milk al taam) namun tetap dalam kepemilikan sementara (milk al naqish).

''Sejarah keilmuan yang menghasilkan peradaban ideal adalah keilmuan yang bersumber dari dua pendekatan yaitu dari ide dan hasil pengalaman. Akan tetapi dua pendekatan ini juga tidak mampu mengantarkan manusia kepada ilmu yang membahagiakan dan bermanfaat sebelum manusia menyadari bahwa fungsi ilmu itu adalah untuk menikmati kesyahduan dalam hubungan yang abadi (al ittisal) dengan Maha Pencipta,'' tegasnya.

Ketika taraf keilmuan telah mencapai peringkat ilmuwan paripurna (ulul albab), menurut Kiai Ridwan, maka pada saat itulah seluruh wacana keilmuan membawa maslahat bagi alam semesta karena telah mampu menangkap arti-arti (quwwat al mustafad) dari realitas hasil pengalaman manusia (Q.S. Ali ‘Imran [3]:190-191).

Sejarah Islam telah menorehkan dalam catatan kehidupan umat manusia sebuah peradaban paripurna selama lebih kurang 600 tahun yang belum ada taranya sampai kepada masa kita sekarang ini. ''Semangat yang melandasinya adalah berakar dari ibadah puasa dengan berdasar kepada keyakinan tauhid dimana setiap orang rela menunda untuk meraih kenikmatan sementara untuk meraih kenikmatan yang abadi karena mengharap ridla Allah SWT. Oleh karena itu, selayaknya umat Islam dapat memaknai ibadah puasa tidak hanya sekedar motivasi pekerjaan rutinitas tahunan akan tetapi didasari sebuah cita-cita membangun peradaban baru umat manusia,'' tutur Kiai Ridwan. osa/taq

By Republika Newsroom
Rabu, 26 Agustus 2009 pukul 08:30:00

http://www.republika.co.id/berita/71930/Puasa_Mendorong_Lahirnya_Peradaban

Ramadhan, Masjid Ampel Memesona Turis Mancanegara

Peziarah membaca Al Quran di bawah tiang penyangga Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Masjid yang dibangun R Ahmad Rahmatullah, atau yang dikenal sebagai Sunan Ampel, pada tahun 1421 Masehi ini ramai dikunjungi peziarah saat Ramadhan.



Puluhan wisatawan mancanegara (wisman) dari berbagai negara mengunjungi Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya selama Ramadhan 1430 Hijriah.

"Biasanya hanya dua-tiga wisman yang datang setiap hari, tapi selama ramadhan meningkat hingga puluhan orang asing setiap hari," kata juru kunci Masjid Ampel Surabaya, H. Abdul Hamid, di Surabaya, Rabu (26/8).

Ia mengatakan, wisman yang datang berasal dari China, Prancis, Belanda, Italia, Malaysia, Saudi Arabia, Jepang, Brunei Darussalam, Filipina, Jerman, Yunani, Selandia Baru, dan sebagainya. "Kemarin (25/8), ada wisatawan dari Korea dan Jepang yang datang," katanya, didampingi rekannya H. Abdul Choliq dan H. Faruq.

Menurut dia, wisatawan asing itu umumnya melihat bentuk bangunan masjid Ampel yang dibangun sejak tahun 1421 M itu, kemudian mereka juga berziarah ke makam Sunan Ampel.

"Mereka senang melihat banyaknya masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel, karena hal serupa tidak ada di negaranya, karena itu Masjid Ampel masuk dalam agenda kunjungan wisata internasional," katanya menjelaskan.

Ditanya tentang masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel selama ramadhan, ia mengatakan, jumlahnya meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa yang rata-rata mencapai 2.000 orang.

"Pengunjung akan semakin banyak pada saat ’maleman’ (malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 ramadhan) dengan jumlah di atas 10 ribu orang, bahkan dapat mencapai 20 ribu orang," ujarnya mengungkapkan.

Selain ramadhan, masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel dan berziarah ke makam Sunan Ampel biasanya nisbi banyak pada setiap Kamis malam Jumat Legi.

"Jumlahnya akan mendekati puasa bila ada haul (peringatan wafat tahunan) Sunan Ampel pada setiap 10 hari menjelang ramadhan selama tiga hari yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu," katanya.

Ia menambahkan, acara haul Sunan Ampel antara lain pengajian, tahlil, khataman Al Quran, khitanan massal, arak-arakan warga Ampel dari Kampung Margi ke masjid, dan hadrah.

MBK
Sumber : Antara

Kamis, 27 Agustus 2009 | 09:02 WIB
SURABAYA, KOMPAS.com

http://travel.kompas.com/read/xml/2009/08/27/09020159/Ramadhan..Masjid.Ampel.Memesona.Turis.Mancanegara

Selasa, 25 Agustus 2009

Perusahaan Separo Abad: Berpacu Menuju Keabadian


Indonesia telah mengalami berbagai cobaan, mulai dari perang kemerdekaan hingga krisis finansial global. Serangkaian masa suram itu menjadi seleksi alam eksistensi perusahaan-perusahaan lokal. Banyak yang gagal, tetapi banyak juga yang berhasil bertahan hingga menembus usia setengah abad.

Ketika mendapatkan tugas dari sang mertua, Lim Khe Tjie, untuk mengambil alih manajemen Bank NISP pada 1963, Karmaka Surjaudaja tak pernah menyangka perusahaan itu bakal tumbuh besar. Padahal, sebelum pria yang kerap disapa Nyao oleh para cucunya itu memangku jabatan sebagai direktur operasional, ia pernah ditentang untuk bergabung dengan manajemen. Sebab, ia hanya lulusan SMA dan masih berstatus warga negara asing (WNA). Namun, siapa nyana, di bawah kepemimpinan dia, bank yang berdiri sejak 4 April 1941 ini terus bertumbuh.

Sejak awal berdiri, Bank NISP, yang kala itu masih bernama NV Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank ini telah fokus pada pembiayaan segmen usaha kecil dan menengah (UKM). Bank dengan modal awal 500 gulden itu baru mendapatkan status sebagai bank umum pada 1964. Akan tetapi, setahun sesudahnya, perbankan Indonesia mengalami nasib buruk, pasca-kebijakan pemerintah melakukan sanering. Kebijakan moneter itu “menggunting” nilai uang, dari semula Rp1.000 menjadi hanya Rp1. Kontan, banyak orang, termasuk nasabah Bank NISP, marah besar.

Pihak perusahaan pun mengurangi jumlah kantor cabang karena tak lagi mendapatkan kepercayaan nasabah. “Saya sangat depresi dan sedih karena harus merumahkan 3.000 karyawan tak bersalah, hingga tinggal 362 orang saja,” kenang Karmaka, seperti ditulis situs resmi ocbcnisp.com. Menariknya, atas nama dedikasi kepada perusahaan, ratusan karyawan itu rela tak digaji selama bertahun-tahun. Menurut sang putra, Pramukti Surjaudaja, dedikasi karyawan itu adalah hasil dari kedekatan manajemen dengan karyawan.

Pada masa sulit itu, Karmaka sempat menerima bantuan dari seorang investor yang berniat membeli 43% saham NISP lewat lelang. Namun, bak keluar dari mulut macan dan masuk mulut buaya, si investor tadi ternyata berniat menguasai 100% saham NISP. Beruntung, rencana tersebut tak terjadi. Baru pada 1968 kondisi Bank NISP kembali pulih, seiring dengan pulihnya ekonomi Indonesia.

Pada awal 1990-an, saat Karmaka menjabat sebagai presiden direktur PT Bank NISP Tbk., ia begitu ekspansif. Di antaranya, membangun 22 cabang baru di seluruh Indonesia dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI, dahulu Bursa Efek Jakarta/BEJ) pada 1994. Tiga tahun kemudian, Karmaka mengalihkan tongkat estafet kepada putranya, Pramukti Surjaudaja, yang saat itu sudah duduk di kursi managing director. Sejarah pun kembali terulang. Baru setahun memimpin, Pramukti sudah dihadapkan pada krisis moneter 1998. Namun, perusahaan berhasil melewati krisis. “Tanpa perlu menerima bantuan dari pemerintah sepeser pun,” tegas Pramukti. Bahkan, Bank NISP menjadi bank pertama yang memberikan pinjaman konsumer secara intensif melalui kredit pemilikan rumah, KPR Merdeka, pada 1999. Inisiatif tersebut membuka jalan bagi perusahaan untuk tumbuh lebih besar.

Pada akhir 2008, OCBC Overseas Investment Pte. Ltd., Singapura, menguasai 74,73% saham Bank NISP lewat beberapa akuisisi yang sudah dilakukan selama empat tahun terakhir. Walhasil, Bank NISP pun mengubah nama menjadi PT Bank OCBC NISP Tbk. “Dengan masuknya OCBC, ketergantungan NISP pada kepemilikan founder menjadi lebih ringan,” tutur Pramukti. Jika kelak perusahaan menghadapi krisis, sambung dia, OCBC yang berada di luar Indonesia diharapkan bisa membantu. Hal ini sesuai dengan value yang sudah dicanangkan founder.

Menurut Pramukti Surjaudaja, presiden komisaris PT Bank OCBC NISP Tbk., perusahaan yang dirintis sang kakek sudah mencanangkan nilai-nilai perusahaan, seperti tidak tergantung pada figur seseorang, tetapi pada sistem. Selain itu, kata Pramukti, sang kakek sudah menciptakan value bahwa pengambilan keputusan harus secara kolektif (bottom up) serta membabat jenjang birokrasi. “Nilai-nilai yang ditanamkan founder menjadi infrastruktur perusahaan yang terus bertumbuh hingga kini,” kata Pramukti. Per akhir 2008, total aktiva mencapai Rp34,25 triliun, meningkat dari setahun sebelumnya yang Rp28,97 triliun.

Peninggalan Belanda

Masa krisis 1998 dan 2008, tak ubahnya masa perang kemerdekaan, yang menjadi ajang seleksi eksistensi perusahaan Indonesia. Banyak yang gagal dan terpaksa melepaskan kepemilikan ke pihak lain. Beberapa mengalami pergantian nama dan status. Namun, sebagian lainnya bisa terus melenggang dengan citra dan kebesarannya. Mereka unggul tak hanya karena ukuran, tetapi memiliki tata kelola perusahaan, budaya yang mumpuni, keteguhan usaha, dan merek yang kuat.

Dari penelusuran Warta Ekonomi, negeri ini ternyata memiliki lebih dari 150 perusahaan swasta nasional plus BUMN yang mampu eksis lebih dari 50 tahun. Sepertiganya bahkan sudah menembus satu abad. Tentu saja, yang berhak ditahbiskan sebagai perusahaan legendaris adalah mereka yang unggul, baik dari sisi usia maupun kinerja. Selain itu, mereka memiliki keunggulan pada sisi inovasi maupun strategi bertahan, terutama pada saat krisis; memerhatikan kepentingan shareholder dan stakeholder; serta didirikan oleh tokoh yang memiliki visi jauh ke depan (visioner). Beberapa perusahaan yang layak disebut legendaris, di antaranya, BRI, Telkom, HM Sampoerna, Astra International, BCA, Semen Gresik, dan Djarum.

Perusahaan yang telah melangkah di usia lebih dari satu abad, mayoritas menyandang status BUMN. Sebab, perusahaan berdiri sebagai hasil menasionalisasi perusahaan yang berdiri sejak zaman Belanda. Seperti Kimia Farma (1817) yang semula berupa perusahaan perdagangan obat dengan nama NV Chemicaliend Handle Rathkamp & Co., atau Bank Rakyat Indonesia (BRI, 1895) yang dulu merupakan Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren alias Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi. “Sebenarnya, Kimia Farma beruntung didesain oleh Belanda yang memiliki visi bisnis jauh ke depan, sehingga kami tinggal menyempurnakannya sesuai perkembangan zaman,” tutur M. Sjamsul Arifin, presdir PT Kimia Farma Tbk.

Tidak bisa dimungkiri, pasca-Kemerdekaan RI, banyak pengusaha lokal mendirikan perusahaan. Bahkan, dari 100 perusahaan yang masuk dalam daftar, hampir separonya didirikan pada atau setelah 1945. Mayoritas perusahaan pun bermula dari perusahaan keluarga. Kini, ada yang masih memegang teguh status perusahaan keluarga, sementara yang lain sudah memberikan porsi pengelolaan kepada kaum profesional.

Dus, jangan terlalu terpesona dengan langkah para raksasa. Dari deretan perusahaan yang tetap bisa bertahan hingga lebih dari 50 tahun, banyak yang berasal dari perusahaan skala menengah. Misalnya, Bank NISP (kini menjelma menjadi raksasa Bank OCBC NISP), Optik Seis, Nyonya Meneer, serta Nojorono.

Setidaknya, ada benang merah pada karakter perusahaan-perusahaan legendaris ini, yakni fokus pada core business dan core competence. Kalaupun harus melebarkan sayap, biasanya tak jauh dari bisnis ini. Selain itu, mereka mampu melewati masa suram dengan mencetuskan serangkaian inovasi, termasuk di antaranya inovasi di sisi finansial. Sementara itu, menurut Sofjan Wanandi, pemilik kelompok usaha Gemala sekaligus ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), perusahaan yang mampu menembus usia kritis 50 tahun adalah mereka yang sanggup menciptakan suksesi yang mulus di antara pemilik dan eksekutif. Maksud dari suksesi mulus ini bukan sekadar pengalihan kepemimpinan tanpa keributan, tetapi pada kemampuan pemilik perusahaan mewariskan nilai dan budaya perusahaan kepada generasi berikutnya.

Lima Jurus Menggapai Keabadian

Setidaknya, ada lima jurus sakti bagi perusahaan untuk menggapai keabadian. Dalam buku The Living Company: Habits for Survival in A Turbulent Business Environment (1997), Arie de Geus menyatakan bahwa jurus pertama adalah respek terhadap inovasi. Dalam goresan penanya, de Geus menuturkan bahwa tak ada posisi pesaing yang selamat dari kemungkinan untuk ditiru (replication) atau digantikan (replacement). Oleh sebab itu, agar terus bertahan, perusahaan harus adaptif dan terus mengembangkan diri dan produk hasil karyanya. “Perusahaan tak ubahnya organisme. Mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi,” kata A.B. Susanto, managing partner The Jakarta Consulting Group.

Jurus kedua adalah respek terhadap pembelajaran. Menurut James Collins dan Jerry Porras dalam Built to Last (1994), hanya perusahaan yang visioner yang bakal berjaya sepanjang masa. “Perusahaan-perusahaan ini mampu membedakan dirinya sebagai institusi yang sangat istimewa dan elite,” tulis Collins. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa manajemen perusahaan-perusahaan itu pernah mengalami kemunduran dan berbuat kesalahan. Namun, mereka memiliki kelenturan yang memungkinkan keadaan berbalik, dari kondisi tidak menguntungkan menjadi menguntungkan. Kondisi ini terpotret pada Nyonya Meneer, yang sempat mengalami pergolakan internal sebelum masuknya generasi ketiga, Charles Saerang. Kini, perusahaan tersebut melaju pesat di tangan profesional.

Seharusnya, bertambahnya usia organisasi berbanding lurus dengan kemampuan organisasi untuk berinovasi. “Adanya akumulasi pengetahuan dan pengalaman, organisasi yang lebih tua relatif lebih mampu mengenali dan mengasimilasikan gagasan baru,” kata Susanto. Termasuk juga kemampuan mengubah informasi, gagasan, dan pengetahuan untuk menjadi informasi. Kata dia, dengan akumulasi pengalaman dalam produksi, hubungan lebih lama dengan para pemasok dan pelanggan, serta tenaga kerja yang lebih berpengalaman, membuat posisi perusahaan legendaris ini makin dominan.

Jurus ketiga adalah tidak mengultuskan founder atau pemilik perusahaan. Kendati beberapa di antara perusahaan legendaris ini masih berstatus perusahaan keluarga, ternyata yang mampu bertahan adalah mereka yang sudah menyerahkan pengelolaan organisasi kepada para profesional. Kalaupun masih dipegang oleh keluarga, biasanya yang terpilih adalah mereka yang sudah mengenyam pengalaman dan pendidikan profesional. Mulusnya alih generasi ini menjadi menarik untuk disimak karena tidak banyak perusahaan profesional berskala besar di Indonesia awet bertahan sampai lima generasi. Beberapa megabisnis di negeri ini bubar pada alih generasi kedua dan ketiga.

Menurut catatan de Geus, perusahaan legendaris umumnya tidak melakukan pemusatan kekuasaan (sentralisasi) di tangan satu tokoh, entah itu founder, owner, ataupun eksekutif. Sofjan menegaskan bahwa agar menjadi perusahaan yang tahan menghadapi tantangan zaman, perusahaan harus menggunakan sebanyak mungkin tenaga profesional. “Tidak mungkin perusahaan bisa bertahan tanpa campur tangan kaum profesional karena persaingan yang begitu ketat,” tandas Sofjan.

Jurus keempat adalah mengelola keuangan secara konservatif. “Perusahaan legendaris adalah mereka yang prudent dan, bila perlu, tak menaruh risiko pada keuangan,” tulis de Geus. Sementara itu, menurut Collins dan Porras, perusahaan legendaris tidak terlalu mengagungkan maksimalisasi kekayaan pemegang saham. Kendati demikian, profitabilitas adalah suatu keharusan sebagai sarana agar perusahaan tetap eksis. “Bagi mereka, laba bukan segalanya. Laba hanya satu tujuan,” tegas Collins. Adapun bisnis itu sendiri bukan sekadar kegiatan ekonomi untuk shareholder saja, tetapi ada bagian bagi stakeholder, termasuk karyawan dan lingkungan sekitar.

Jurus kelima adalah menciptakan kultur perusahaan yang kuat. Menurut A.B. Susanto, kendati PT Astra International Tbk. sudah beralih pengelolaan dari keluarga Soeryadjaya ke tangan profesional, Astra masih tetap langgeng dan jaya. “Ini karena founder Astra mampu menciptakan budaya perusahaan yang adiluhung dan kuat, bahkan tetap bisa dijalankan hingga generasi selanjutnya,” kata Susanto.

ARI WINDYANINGRUM, EVI RATNASARI, ISNO USNODO, IRWANSYAH, YOHANA NOVIANTI H., D. UTAMI WARDHANI, MARTHAPURI DWI UTARI, DAN FEKUM ARIESBOWO W.

( redaksi@wartaekonomi.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

Selasa, 14 Juli 2009 12:04

http://www.wartaekonomi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2541:perusahaan-separo-abad-berpacu-menuju-keabadian&catid=43:wuumum&Itemid=62

Lebih Percaya Potensi Ketimbang Pengalaman




Meniti karir di dunia HR, memuncak sebagai orang pertama di berbagai perusahaan besar dan kini menjadi pemimpin perusahaan ber-omset triliunan rupiah, tapi masih rajin menulis kolom di berbagai media bahkan akan merilis buku baru. Itulah gambaran singkat sosok santun Vice President Director Marketing & Operation PT United Tractors (UT) Tbk. Paulus Bambang W.S.

Jika Anda pembaca setia Majalah SWA, Anda akan menemukan tulisan-tulisan mengenai leadership, HR dan strategic management yang secara rutin ditorehkan pria kelahiran Semarang, 21 Mei 1959 ini. Paulus Bambang juga rajin mengisi kolom "Toptrik" di Majalah Warta Ekonomi. Total, lebih dari 300 artikel dan kolomnya bertebaran di berbagai media cetak. Ia bukan hanya rajin menebar banyak ilmu melalui media. Lebih dari itu, sosoknya juga sering hadir dalam berbagai seminar dan forum Leadership Development. Ia telah menjadi narasumber lebih dari 200 sesi seminar.

Ketekunannya berbagi ilmu itu ternyata tak mengganggu performa karirnya. Malah boleh dibilang, karirnya makin hari makin mengkilat di tengah kegiatannya menulis. Mengawali karir sebagai wiraniaga mesin fotokopi di Astra (1982), dua windu kemudian ia menempati pos sebagai Direktur Pengelola PT Astra Graphia Information Technology (AGIT). Setelah sukses mengantar AGIT melewati masa kritis, Paulus Bambang dipercaya untuk pindah haluan, dari mengurusi solusi IT ke urusan tambang. Ia mengemban jabatan direksi bidang operasional penjualan mining di UT sejak 2003.

Kini, alumnnus Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian IPB dan FE UI ini selain menduduki salah satu kursi Vice President Director PT United Tractors Tbk., juga menjabat Vice President Commissioner PT Komatsu Indonesia dan Direktur United Tractors Heavy Industry Pte Ltd (Singapore).

Bagaimana rasanya pindah haluan dari (mengurusi) bisnis IT ke bisnis jualan alat-alat berat? Menurut Paulus Bambang, jika seseorang berhasil di industri IT yang berbasis solusi, maka ia akan mudah beradaptasi di industri apapun. "Di industri IT, kita terbiasa melayani pelanggan dengan memberikan solusi, memberikan nilai tambah, bukan sekadar jualan perangkat keras atau perangkat lunak. Kebiasaan memberikan solusi, dan bukan sekadar jualan, inilah yang menjadi modal utama untuk masuk ke industri apapun," papar dia.

Maka, ketika dipercaya untuk mengelola perusahaan yang berskala jauh lebih besar dan dengan fokus jualan alat-alat berat dan pertambangan, ia tak merasa risau. Meski pengalaman di bidang itu tidak ada, ia yakin bisa berhasil. Apalagi, ia tahu rekan sekolega di UT akan membantunya. Sebagai bagian dari tim mereka akan mendukung satu sama lain. Walaupun baru di bidangnya, ia tak merasa sendirian.

Suami Silvia Valentina dan ayah dari Daniel Grasian (18 tahun), Eunike Annetta (15 tahun) dan Niko Theofilus (9 tahun) ini mengungkapkan, masih banyak hal yang bisa ditingkatkan di UT. Salah satunya, bagaimana agar UT bukan hanya jualan alat-alat berat, tapi memberikan solusi. Jika hanya jualan alat berat, maka angka penjualan hanya naik seiring dengan jumlah alat berat yang dijual. Namun, dengan memberikan solusi dan nilai tambah, maka pendapatan perusahaan akan meningkat dari nilai tambah itu.

"Budaya memberikan solusi yang biasa diterapkan di perusahaan IT ini bisa saya cangkokkan di UT. Maka, meski saya tidak memiliki pengalaman di alat berat dan tambang, kedatangan saya bisa memberikan nilai bagi perusahaan karena menerapkan pendekatan baru, yakni pendekatan system integration," tutur Paulus Bambang. Dalam hal seperti ini, tambah dia, potensi lebih penting ketimbang pengalaman.

"Saya memang tak hanya percaya pengalaman, apalagi pengalaman sukses masa lalu yang mungkin sudah sulit diaplikasikan pada hari ini. Ini khusus untuk para pimpinan puncak, lho," dia. Kalimat tersebut meluncur spontan, menjawab pertanyaan PortalHR.com tentang kiatnya merekrut dan mencetak top management. "Saya tak hanya menganut asas experience, tapi potensi juga," tegas dia lagi.

Menurut Paulus Bambang, potensi seseorang bisa dikenali dari visi, leadership skill dan business skill. Dan, yang terpenting, keberanian untuk mencoba bisnis baru tanpa takut terancam. Formula tersebut, seperti diakuinya, terbukti sukses untuk merekrut level pimpinan, leader dan direksi. "Untuk level GM ke bawah 50:50. Separuh pengalaman, separuhnya lagi potensi," tambah dia.

Dia juga berkeyakinan, dengan cara seperti itu, top management dapat melakukan terobosan-terobosan baru yang tak terpikirkan oleh mereka yang sudah terkungkung pola lama. Banyak contoh yang mendukung pendapatnya ini. Di Astra, menurut Paulus, level perusahaan percaya hal seperti itu. Buktinya, perusahaan secara rutin merotasi puluhan direkturnya pada posisi yang selalu baru dan berbeda. "Indah melihat orang dari tempat lain mengerjakan hal lain," kata Paulus.

Sebagai praktisi HR, Paulus mengaku tidak susah untuk mengendus sang calon pemimpin. "Asalkan kita berani mengenal orang, berani mencoba, trial and error. Setelah itu beri tugas dan pengalaman," ujar dia. Keahlian semacam itu, Paulus yakin, bukan bakat. Tapi, lebih sebagai hasil people review. "Kita mulai dari mengenal orangnya bagaimana, perkembangan visinya bagaimana, lalu menilik hal-hal tertentu bukan sekedar business target," jelas dia.

"Cari orang pintar, beri kesempatan, bikin dia lari," tegas dia lagi.

Pengalaman bidang HR Paulus Bambang di PT Astra International Tbk. terbilang panjang. Diawali pada 1990-1991 sebagai Senior Manager (AI) System Development Department dan Personnel Administration Department, karirnya di bidang HR terus menanjak. Ia pernah menduduki berbagai jabatan HR, antara lain sebagi General Manager, Head of HRD Division (1991-1993), Senior General Manager Corporate Human Resources (1993-1995) dan Senior General Manager Corporate Human Resources & Efficiency (1995-1996). Sejak 2001 tercatat pula sebagai anggota Dewan Pakar Asosiasi Manajemen Sumber Daya Manusia.

Bambang mengaku bisa pintar mengendus calon pemimpin karena kepepet alias terpaksa, atau lebih tepatnya lagi, dipaksa untuk memilih. "Contohnya ketika Astra mesti lay off karena krisis 1998, saya harus memilih beberapa yang harus dipertahankan dan mana yang harus pergi," ujar Paulus yang menjadi Vice President Corporate Human Resources Astra International pada Januari 1996 hingga Oktober 1998 ini.

Sukses Paulus di UT juga karena keberaniannya mengubah paradigma UT dari "sekadar" jualan produk ke jualan solusi. Alhasil, menurut dia, UT tidak hanya jualan truk tapi jualan sistem. "Kalau sudah senang sistemnya, produk ikut," dia pun berteori. Paulus memang bercita-cita menjadikan UT sebagai "solution driven company". Untuk itu, secara terencana perusahaan harus terus berubah; mencapai next level, next target dan new landscape.

"Tiga sampai lima tahun lagi UT berubah wajahnya," ujar dia mantap.

Selasa, 21 Agustus 2007 - 12:50 WIB

Paulus Bambang W.S
http://www.portalhr.com/wajahhr/1id748.html