Rabu, 25 Februari 2015

Kisah Persaingan Miskin-Kaya Berebut Kebaikan





Pada suatu hari, serombongan fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga tingkatan yang paling tinggi sekalipun.”

Nabi SAW bertanya, "Mengapa engkau berkata demikian?" Lalu, meraka pun berujar, "Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, tapi giliran saat mereka bersedekah, kami tidak kuasa melakukan amalan seperti mereka. Mereka memerdekakan budak sahaya sedangkan kami tidak memiliki kemampuan melakukan itu."

Setelah mendengar keluhan orang fakir tadi, Rasulullah SAW tersenyum lantas berusaha menghibur sang fakir dengan sebuah hadis motivasi. Dengan sabdanya, Rasulullah SAW berusaha membesarkan hati mereka. "Wahai sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorang pun yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu?"

Dengan sangat antusias, mereka pun menjawab, "Baiklah, ya Rasulullah." Kemudian, Nabi SAW bersabda, "Bacalah 'subhanallah', 'Allahu akbar', dan 'alhamdulillah' setiap selesai shalat masing-masing 33 kali." Setelah menerima wasiat Rasulullah SAW, mereka pun pulang untuk mengamalkannya.

Tak lama berselang, setelah beberapa hari berlalu, para fakir miskin itu kembali menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah SAW. "Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya itu mendengar perbuatan kami, lalu mereka serentak berbuat sebagaimana perbuatan kami." Maka, Nabi SAW bersabda, "Itulah karunia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki." (QS an-Nur [24]: 38).

Sungguh agung perilaku si miskin dan si kaya yang kita dapati dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim di atas. Keduanya memiliki sifat yang begitu mulia, saling berlomba-lomba dalam setiap kebaikan.

Si kaya yang beruntung dengan dikaruniai limpahan rezeki tidak menjadikannya bak si Qorun yang takabur dan bakhil. Ia sadar betul semua itu hanyalah titipan dari Allah SWT yang mesti digunakan di jalan yang semata-mata hanya untuk mencari keridhaan-Nya. Kekayaan tidak menjadikannya lupa daratan, tapi menyadarkannya untuk lebih bederma karena di dalamnya begitu banyak hak orang lain yang mesti ditunaikan.

Begitu pula dengan potret si miskin yang tidak mau kalah beramal. Ia selalui mencari solusi untuk bersaing secara sehat untuk mencari keunggulan dalam beribadah, sadar akan ketidakberuntungan materi tidak menjadikannya patah arang untuk memberikan pengabdian terbaik bagi Allah SWT.

Menjadi kaya atau miskin tentu membutuhkan mental untuk menerima kenyataan. Namun, yang terpenting adalah kesiapan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah SWT setelah diberi ketentuan satu di antara keduanya. 




 Oleh: Agus Taufik Rahman

Ketegasan Pemimpin





Pernah suatu ketika Muhammad bin Amru bin Ash mencambuk seorang warga Mesir seraya berkata, “Terimalah ini, saya adalah anak keturunan orang-orang mulia."

Amru bin Ash selaku gubernur Mesir terpaksa memenjarakan warga Mesir yang dipukul anaknya agar tidak melapor pada amirulmukminin, Umar bin Khattab RA.

Namun, orang itu melarikan diri dari penjara dan pergi ke Madinah untuk menemui Umar bin Khattab RA. Setelah bertemu Umar, orang itu disuruh menunggu oleh Umar sampai Amru bin Ash dan anaknya yang didatangkan dari Mesir tiba di Madinah.

Sesampainya di Madinah, Amru dan anaknya langsung dihadapkan ke sidang pengadilan tindak pidana. Setelah keduanya masuk ruang sidang, Umar memerintahkan orang Mesir yang menjadi korban kekerasan itu untuk mengambil cambuk, “Ambil cambuk dan cambuklah anak keturunan orang mulia itu!”

Orang Mesir itu pun mencambuk Muhammad bin Amru sampai kelelahan, tapi Umar bin Khattab RA tetap menyuruhnya, “Cambuklah anak keturunan orang mulia itu!”

Setelah selesai memukul Muhammad bin Amru, orang Mesir itu mendekati Umar hendak mengembalikan cambuk, tapi Umar berkata kepadanya, “Lingkarkan cambuk itu di atas kepala Amru yang botak karena kedudukannyalah anaknya berani memukul Anda!”

Saat itu, Amru berkata, “Amirulmukminin, sudah Anda penuhi dan sudah Anda balas sepuas-puasnya." Orang Mesir itu kemudian berkata, “Amirulmukminin! Orang yang memukul saya sudah saya pukul."

Amru berkata dengan lirih, “Sungguh, jika Anda pukul dia, saya tidak akan menghalanginya sebelum Anda sendiri yang meninggalkannya."

Lantas Umar menoleh kepada Amru dan berkata, “Amru! Sejak kapan Anda memperbudak orang lain, padahal ibunya melahirkannya sebagai orang merdeka?”

Ketegasan dan keberanian seperti yang dimiliki Umar ini pantas menjadi pelajaran dari kisah ini. Bahwa masing-masing warga negara tidak boleh dianiaya oleh siapa pun, termasuk oleh pemimpinnya sendiri, dan merupakan hak mereka untuk mendapatkan keadilan yang sama di hadapan hukum.

Pelajaran lainnya adalah bahwa pemimpin tertinggi suatu pemerintahan harus berani bertanggung jawab terhadap semua tindak tanduk anak buahnya, bahkan harus tegas dan berani menghukum mereka ketika mereka melakukan pelanggaran hukum.

Seorang pemimpin akan menjadi tegas bila memiliki beberapa syarat, di antaranya, pertama, melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar sehingga tidak akan ada celah bagi kawan maupun lawan untuk menentang perintah dan keputusannya.

Kedua, tidak takut kecuali kepada Allah SWT. Orang yang hanya takut kepada Allah tidak akan takut kepada siapa pun, baik kepada anak buahnya, rakyatnya bahkan instansi lain yang bisa menanggalkan jabatannya.

Ketiga, seorang pemimpin bisa tegas jika ia tidak takut kehilangan jabatannya. Pemimpin seperti ini bisa memutuskan perkara sesuai dengan standar kebenaran dan bisikan hati nuraninya, bukan berdasar kepentingan orang-orang dekatnya, bukan pula berdasar intrik-intrik politik para elite yang ada di belakangnya.

Jika ketiga syarat ini dimiliki seorang pemimpin maka ia bisa menjadi pemimpin yang tegas sebagaimana dicontohkan Umar bin Khattab RA. 



 Oleh: Abdul Syukur


Senin, 23 Februari 2015

Delapan Keutamaan Membaca Alquran





Siapa pun yang berinteraksi dengan Alquran dengan baik pasti akan mendapatkan pahala yang besar dan balasan yang berlipat-lipat. Orang yang membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Berikut ini beberapa keutamaan membaca Alquran. Pertama, menjadi perniagaan yang tidak akan merugi. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." (QS al-Fathir: 29).

Kedua, merupakan amal yang terbaik. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya." ( HR Bukhari).

Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Alquran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang). Rasulullah bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Alquran kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya)." (HR Muslim).

Kelima, mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT. Rasulullah bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang sibuk dengan Alquran dan zikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. Keutamaan kalamullah (Alquran) atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya." (HR Tirmidzi)

Keenam, seperti buah utrujah yang wangi dan lezat. Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, mendapat kebaikan berlipat ganda. Rasulullah bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Kedelapan, memberikan syafaat ketika hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda: " Bacalah Alquran, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).

Dengan memahami beberapa keutamaan membaca Alquran di atas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam menjaga rutinitas kita dalam membaca Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan wasilah Alquran yang kita baca. 



Oleh: Ahmad Syaiful Anam