Senin, 05 November 2012

Ke bahagiaan Hidup



Kebahagiaan hidup seseorang tidak diukur dari hartanya yang banyak, anak yang banyak, ilmu pengetahuan yang banyak. Tetapi umur yang penuh keberkahan.
Ada 7 tanda kebahagiaan hidup.
Selalu bersyukur kepada Allah SWT,
memiliki pendamping hidup sholih dan sholihah,
memiliki anak yang sholih (sholihah),
memiliki harta yang berkah,
tidak memiliki hutang,
ilmunya bermanfaat
dan umurnya berkah.
Umur yang barokah tidak sama dengan usia yang panjang. Salah satu ciri umur yang barokah adalah tiap detik waktunya sangat berharga dan tidak ada yang sia-sia. Usianya banyak digunakan untuk beribadah pada Allah SWT, beramal dan berdakwah. Menebarkan manfaat kepada siapa saja. Bergaul dengan orang-orang yang sholih. Tidak ada waktu baginya kecuali amal, amal dan amal.

Ya Allah…

Berikanlah aku keberkahan, kebaikan dan keselamatan dalam hidup ini. Dan senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Mu. Dan tak jemu menebarkan semangat kebaikan agar umurku berkah dan bermanfaat.

“Rabbana athina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah. Waqina adzabannar” 

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa api neraka. 
(QS Al baqoroh: 201).

Antara Surga dan Neraka

  

Diriwayatkan dari Abu Ayyash al-Qathan, dia mengatakan, ada seorang raja yang hartanya melimpah ruah. 

Dia hanya mempunyai seorang putri yang sangat dicintai dan disayanginya. Sang raja sangat memanjakan putri kesayangannya itu dengan aneka rupa harta. Dan yang demikian berlangsung sekian lama.

Sementara di samping raja itu ada seorang ahli ibadah. Dan ketika suatu malam dia membaca Alquran, suaranya meninggi ketika membaca ayat berikut, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim: 6).

Ketika pelayannya mendengar, dia pun mengingatkan tetangganya itu. “Berhentilah!” Namun, si abid (ahli ibadah) tetap melanjutkan dan malah mengulang-ulang membaca ayat itu. Si pelayan terus mengingatkan agar si abid berhenti membaca ayat itu. Namun, si abid tetap tak berhenti.

Mendengar ayat tersebut, putri raja meletakkan tangannya ke kantong seraya merobek-robek bajunya. Kemudian, para pelayannya datang menemui raja, seraya menceritakan apa yang terjadi. 

Raja pun menemui buah hatinya. “Duhai sayang, apa yang terjadi denganmu sejak semalam? Apa yang menyebabkanmu menangis?” ujar sang raja.

Sang putri menjawabnya dengan mengutarakan pertanyaan. “Wallahi (demi Allah), ananda ingin bertanya kepada ayah, 'Apakah Allah punya rumah yang di dalamnya ada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?” Sang raja mengiyakannya.

“Lantas apa yang menghalangi ayah untuk menceritakan hal itu padaku? Wallahi, ananda tidak bisa makan dengan enak dan tidak bisa tidur dengan pulas, sampai nanda tahu di mana kediaman saya kelak; di surga atau neraka?”

Pertanyaan yang diajukan cukup menggetarkan jiwa. Ya, ketika seseorang hidup dalam gelimang kemewahan, lebih-lebih di saat materi diagung-agungkan sedemikian rupa sehingga menjadi parameter baik-buruknya seseorang. 

Kemudian, muncul kesadaran akan adanya surga dan neraka, maka hal itu menjadi suatu anugerah dan hidayah yang tiada terkira. Karena beragam perilaku menyimpang, antara lain, dipicu lantaran seseorang melupakan surga dan neraka.

Takut terhadap neraka dan merindukan surga adalah bagian iman yang sangat penting dan keyakinan ini pulalah yang mewarnai kehidupan manusia. Di kalangan sahabat, banyak yang rela mengorbankan apa pun, termasuk jiwanya, demi meraih surga. Misalnya, Umair bin Hamam, yang syahid dalam Perang Badar, dan Amru bin Jamuh yang gugur dalam Perang Uhud. Kedua sahabat ini dijanjikan surga oleh Rasulullah SAW yang luasnya seluas langit dan bumi.

Kalau Nabi juga bersabda, “Haji  yang mabrur, tiada balasan baginya kecuali surga,” (HR Bukhari dan Muslim), seyogianya hal itu menginspirasi para haji (hujjaj) untuk terus merindukan surga, sehingga yang tampil darinya adalah sifat-sifat ahli surga.

Setara dengan kerinduan terhadap surga adalah ketakutan terhadap neraka. Banyak sahabat dan shalafush-shalih yang sudah mencontohkannya. Dengan kondisi jiwa seperti inilah, diharapkan bisa mendorong seseorang untuk beramal sebanyak mungkin dan meredam sekecil apa pun dosa.



Oleh: Makmun Nawawi    

Perjalanan yang Indah

  


Sewaktu masih sakit, sebelum meninggal, Abu Hurairah, sahabat Nabi yang mulia ini, sempat menangis. Air matanya meleleh, membasahi janggutnya. 

Kepadanya ditanyakan, mengapa ia menangis? “Aku tak menangis karena dunia, tetapi karena jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan, dan aku tak tahu ke mana perjalananku ini akan berakhir; ke surga atau neraka?”

Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku amat mencintai pertemuan dengan-Mu. Semoga Eng kau juga mencintai pertemuan denganku. Sekiranya Engkau berkenan, kumohon pertemuan ini bisa segera berlangsung.” 

Tak lama berselang, Abu Hurairah pun pergi, menghadap Allah, meninggalkan alam yang fana ini. (Ibn Rajab, Jami` al-`Ulum wa al-Hikam).

Abu Hurairah memang istimewa. Ia bersama Nabi SAW hampir sepanjang hayatnya. Karena tidak terlalu sibuk berbisnis, ia banyak belajar dan menimba ilmu dari Nabi, melebihi sahabat lainnya. Tak heran bila ia tergolong sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Tentu, tak ada keberuntungan melebihi orang yang memperoleh petunjuk Tuhan atau pencerahan hati (insyirah al-shadr). Diakui, tak seorang pun mengetahui, siapa yang telah mendapat pencerahan itu. Dalam hadis sahih, Nabi SAW hanya menyebut tiga hal sebagai indikatornya.

Pertama, menjauhkan diri dari tipu daya dunia (al-jafi fi dar al-ghurur). Orang mukmin tidak boleh silau memandang dunia. Dunia, seperti di katakan Ghazali, hanyalah kendaraan. Jangan sampai karena indahnya aksesori kendaraan, tujuan perjalanan (akhirat) menjadi terlupakan. 

Kedua, memiliki orientasi ketuhanan (al-inabah ila dar al-khulud). Karena tertipu daya tarik dunia, banyak orang mengalami disorientasi, yaitu gangguan kejiwaan lantaran mempertuhankan harta dan takhta. Akibatnya, tak sedikit dari mereka kehilangan keseimbangan (disharmoni), bahkan kehilangan harapan (hopeless).

Ketiga, memperbanyak bekal sebelum kematian tiba (al-isti`dad qabl al-ma`ad). Bekal itu tak lain adalah iman dan amal saleh. Inilah bekal paling baik dalam perjalanan ini (QS al- Baqarah [2]: 197). Perjalanan manusia di dunia sangat pendek, seperti musafir yang istirahat (ngiyup) sebentar di bawah pohon karena kelelahan untuk selanjutnya meneruskan perjalanan.

Apa yang harus dilakukan dalam kesempatan yang pendek ini? 

Menurut Hossein Nasr, manusia harus berkebun di taman kebenaran (the garden of truth). Ada tiga elemen dalam proyek perkebunan ini, yaitu Allah, manusia, dan kebajikan (virtues). Proyek ini akan mentransendenkan manusia dari penghambaan kepada dunia (mundane concern), kepentingan diri sendiri (selfish desires), dan rasa takut (fears).

Seterusnya, perkebunan ini akan membuat manusia memperoleh hikmah (wisdom), kedamaian, dan hubungan yang makin erat dengan Tuhan, Sang Pemilik kebun, yang akan melimpahkan kebaikan, tak hanya bagi tukang kebun, tapi bagi orang lain. 

Abu Hurairah telah melakukan dan memberi contoh dalam soal ini. Kita semua patut meneladaninya. Dengan cara ini, perjalanan panjang menuju akhirat tidak akan berat, malah terasa indah dan menyenangkan. 
Wallahu a`lam.


Oleh: A Ilyas Ismail    

Kamis, 01 November 2012

"ANDAI HARI INI AKU DIMAKAMKAN" ( Renungan untukku, untukmu dan untuk kita semua )




Karya : Remy Soetansyah
1 Mei 2012


Hari ini ku mati,
Perlahan...
Tubuhku ditutup tanah.
Perlahan...
Semua pergi meninggalkanku...

Masih terdengar jelas langkah² terakhir mereka,
Aku sendirian,
Di tempat gelap yg tak pernah terbayang,
Sendiri,
Menunggu pertanyaan malaikat...

Belahan hati,
Belahan jiwa pun pergi.
Apa lagi sekedar kawan dekat atau orang lain.
Aku bukan siapa² lagi bagi mereka...

Sanak keluarga menangis,
Sangat pedih,
Aku pun demikian,
Tak kalah sedih...

Tetapi aku tetap sendiri,
Disini, menunggu perhitungan.
Menyesal sudah tak mungkin.
Tobat tak lagi dianggap,
Dan maaf pun tak bakal didengar,
Aku benar² harus sendiri...

Ya Allah,,
Jika Engkau beri aku 1 lagi kesempatan,
Jika Engkau pinjamkan lagi beberapa hari milikMU,
Untuk aku perbaiki diriku,
Aku ingin memohon maaf pada mereka...

Yg selama ini telah merasakan zalimku,
Yg selama ini sengsara karena aku,
Tersakiti karena aku...

Aku akan kembalikan jika ada harta kotor ini yg telah kukumpulkan,
Yg bahkan kumakan,
Yaa Allah beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
Untuk berbakti kepada ayah & ibu tercinta...

Teringat kata² kasar & keras yg menyakitkn hati mereka,
Maafkan aku ayah & ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu,

Beri juga ya Allah aku waktu untuk berkumpul dgn keluargaku,
Menyenangkan saudara²ku..
Untuk sungguh² beramal soleh.

Aku sungguh ingin bersujud dihadapan-Mu lebih lama lagi..
Begitu menyesal diri ini.
Kesenangan yg pernah kuraih dulu,
Tak ada artinya sama sekali...

Mengapa kusia²kan waktu hidup yg hanya sekali itu...?
Andai aku bisa putar ulang waktu itu...

Aku dimakamkan hari ini,
Dan ketika semua menjadi tak termaafkan,
Dan ketika semua menjadi terlambat,
Dan ketika aku harus sendiri...
Untuk waktu yg tak terbayangkan sampai yaumul hisab & dikumpulkan di Padang Mashar..