Sabtu, 05 Juli 2014

Fadhilah Ramadhan





Hari ini, kita tengah berada pada minggu pertama bulan suci Ramadhan 1435 H. Menurut banyak riwayat, Allah SWT kadang membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat.

Allah SWT berkehendak melakukan itu, tidak pada semua waktu, tidak di sembarang tempat, dan tidak kepada semua hamba.

Satu hal yang pasti, semua hamba harus berjuang, bermujahadah, dan berlatih memberi alasan bagi Allah agar Dia berkenan membanggakan kita.

Menurut sahabat Ubadah bin Shomit RA, pernah beberapa saat menjelang Ramadhan tiba, Rasulullah SAW mendatangi para sahabatnya.

Kepada para hamba terbaik yang selalu dibanggakan oleh Rasulullah SAW itu, beliau menjelaskan tentang keutamaan (fadhilah) Ramadhan. Pada bulan ini, kata Rasulullah, Allah SWT menurunkan keberkahan hidup bagi orang-orang yang mencarinya.

Kita memahami sesungguhnya hidup yang paling baik itu adalah kehidupan yang mendatangkan berkah. Sebab, dengan keberkahan itu, manusia akan senantiasa hidup dalam ketenangan dan kedamaian.

Hidup yang bergelimang harta dan kemewahan, namun tidak ada keberkahan di dalamnya, sesungguhnya itulah kehidupan yang kering. Hidup penuh ilmu, tapi tidak berkah dan tak nafi' (manfaat), hal itu akan menjauhkan pemiliknya dari Allah.

Hidup dengan derajat tinggi di mata masyarakat, namun tidak berkah, hanya akan memperoleh kenistaan di hadapan Allah.

Hidup dengan jabatan yang tinggi, namun tidak berkah, hanya akan mendapatkan laknat dari Allah. Karena itu, inti dari kehidupan yang baik adalah kehidupan yang penuh berkah.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada Ramadhan, Allah akan menurunkan keberkahan yang tak terhingga.

Selain karena berkah, hidup terbaik adalah yang disaput rahmat Allah. Hidup tanpa dibarengi rahmah (kasih dan sayang) Allah juga merupakan kehidupan yang kering.

Hidup yang diperoleh bukan karena rahmat Allah adalah kehidupan yang tak bermakna. Dan, hidup yang terbaik, selain karena diliputi keberkahan dan rahmat, juga karena Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Hidup bergelimang keberkahan, penuh rahmat, dan memperoleh pengampunan atas dosa-dosa bisa diusahakan semua Muslimin dan Muslimat.

Hidup semacam ini, kita bisa memohon kepada Allah SWT. Berharap agar permohonan lekas dikabulkan, caranya adalah dengan memanfaatkan datangnya Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini.

Sebab, pada bulan inilah, semua hamba Allah, berlomba-lomba melakukan kebaikan, Allah SWT kerap membanggakan itu di hadapan para malaikat.

Sebab itu, shoimin dan shoimat, mari kita bermujahadah pada bulan ini untuk mencari kehidupan yang berkah, penuh rahmat, dan pengampunan atas dosa-dosa agar Allah punya ‘alasan’ membanggakan kita di hadapan para malaikat-malaikat-Nya.

Bukankah makhluk paling baik ibadah dan pengabdiannya kepada Allah adalah para malaikat? Karena itu, Ramadhan ini harusnya menjadi tempat bagi kita untuk mencuci diri dari kerak dosa dan tempat bagi kita untuk mudik ke kampung halaman yang abadi, yakni Allah SWT. Wallahu a'lam.

 

Oleh: KH Hasyim Muzadi


Keutamaan Sahur





Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui, salah satu adab dan akhlak berpuasa adalah melaksanakan sahur.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Anas, Rasulullah SAW bersabda : "Sahurlah kamu sekalian, karena sahur itu mengandung keberkahan."

Keberkahan yang dimaksud, di samping menyebabkan kekuatan dalam puasa, menguatkan motivasi dalam melaksanakan ibadah puasa, juga mengandung pahala karena mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.
      
Sesungguhnya sahur itu memiliki tiga makna yang berkaitan satu dengan yang lainnya dan ketiga-tiganya mengandung kebaikan dan keberkahan. 

Pertama, sahur dalam pengertian makan dan makanan yang disajikan waktu sahur karena akan melaksanakan ibadah puasa pada esok harinya, sebagaimana dikemukakan dalam hadits tersebut di atas.

Juga hadits riwayat Imam Nasai dari Miqdam bin Ma'di Kariba, Rasulullah saw bersabda: "Hendaknya kalian makan sahur, karena sesunguhnya hal ini adalah hidangan yang penuh dengan keberkahan."

Kedua, sahur dalam pengertian waktu yang sangat berharga dan bernilai tinggi dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.

Waktu mustajab terhadap setiap doa dan permohonan serta istighfar yang diucapkan dengan lisan yang keluar dari sanubari yang dalam, penuh dengan penghayatan.

Waktu sahur adalah waktu turunnya rahmat, cinta, kasih sayang, dan ampunan dari Allah SWT. Langit pun terbuka, tidak ada hijab atau penghalang antara hamba yang berdoa dan merintih dengan Allah SWT, Dzat yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Mendengar.

Bahkan juga pada waktu sahur sangat dianjurkan melaksanakan shalat tahajjud, mengikuti sunnah Rasul dan mengikuti tradisi salafus salih.

Ketiga, sahur dalam pengertian amal baik yang dilakukan pada waktu tersebut, seperti doa dan istighfar. Kedua amalan ini sangat baik dilakukan pada waktu sahur tersebut, bahkan dijadikan salah satu ciri utama orang yang akan meraih kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki, dunia dan akhirat.

Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam QS Ali Imran 17: "(Orang yang akan mendapat nikmat surga) adalah orang orang yang shabar, orang yang benar/jujur, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sahur"
      
Mari kita pergunakan waktu sahur yang sangat agung dan mulia  ini, di samping untuk makan sahur, berdoa berdzikir dan istighfar juga untuk melaksanakan shalat tahajjud dan ibadah-ibadah lainnya. Semoga keberkahan dari Allah SWT terlimpah dan tercurah pada kita semua. Wallahu 'Alam bi Ash shawab



Oleh: KH Didin Hafidhuddin

Kamis, 03 Juli 2014

Capres no urut 1 BAIK, Capres no urut 2 juga BAIK, yang TIDAK BAIK kalo TIDAK MEMILIH......


Dalam konteks PILPRES di Indonesia, di mana umat Islam mesti memilih dua pasangan calon merupakan realitas perpolitikan yang tidak dapat lagi untuk dihindarkan.

Dapat dipastikan bahwa umat Islam mempunyai idola dan pilihannya masing-masing. Kendati pun, Islam memberikan tingkat toleransi yang cukup baik terhadap perbedaan pendapat dalam menentukan kepemimpinan tetapi tidak terlepas begitu saja dari kriteria yang dapat dijadikan tolok ukur secara umum yang harus dimiliki kandidat yang diusung

Siapa pun yang terjun dalam bidang politik PASTI memiliki kepentingan kekuasaan. Kekuasaan di mata Islam bukanlah barang terlarang, sebaliknya kekuasaan dan politik dianjurkan selama tujuannya untuk menjalankan visi-misi kekhalifahan. Untuk itu kekuasaan harus didapatkan dengan tetap berpegang pada etika Islam.

Sebagai agama yang sempurna, Islam telah memberikan panduan etika dalam kehidupan manusia. Karena itu etika dalam politik menjadi suatu keharusan……     
Etika politik merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan tangung jawab atas realitas kehidupan. Untuk itu realitas politik diupayakan dengan mengkonsepkan dan meng-elaborasi-kan secara mendalam fenomena terhadap pandangan Alquran tentang etika dalam pelayanan rakyat.

Etika politik adalah sesuatu yang sangat penting dalam Islam, karena politik dipandang sebagai bagian dari IBADAH, maka politik harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip ibadah. Di samping itu, politik berkenaan dengan prinsip Islam dalam pengelolaan masyarakat, karena itu prinsip-prinsip hubungan antarmanusia seperti saling menghargai hak orang lain dan tidak memaksakan kehendak harus berlaku dalam dunia politik.

Dalam etika politik yang merupakan etika sosial, untuk dapat mewujudkan pandangannya dibutuhkan persetujuan dari masyarakat karena menyangkut tindakan kolektif. Maka hubungan antara pandangan seseorang (etika individual) dengan tindakan kolektif membutuhkan perantara yang berfungsi menjembatani kedua pandangan ini berupa NILAI-NILAI. Melalui nilai-nilai inilah politikus berusaha meyakinkan masyarakat agar menerima pandangannya, sehingga mendorong kepada tindakan bersama. Karena itu, politik disebut juga SENI meyakinkan melalui wicara dan persuasi, bukan manipulasi dan kekerasan.

Islam telah menetapkan NILAI-NILAI DASAR dalam kehidupan politik, yaitu:

1. Prinsip musyawarah (SYURA), dalam Islam tidak hanya dinilai prosedur pengambilan keputusan yang direkomendasikan, tetapi juga merupakan tugas keagamaan. Seperti yang telah dilakukan oleh Nabi dan diteruskan oleh khulafaur rasyidin.
Firman Allah Swt: “….dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu...” (QS. Ali Imran: 159)  

2. Prinsip persamaan (MUSAWAH), dalam Islam tidak mengenal adanya perlakuan diskriminatif atas dasar perbedaan suku bangsa, harta kekayaan, status sosial dan atribut keduniaan lainnya. Yang menjadikannya berbeda di mata Allah hanya kualitas ketakwaan seseorang sebagaimana firman-Nya: “...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13).

3. Prinsip keadilan, menegakkan keadilan merupakan suatu keharusan dalam Islam, terutama bagi para penguasa. Islam juga memerintahkan untuk menjadi manusia yang lurus, bertanggung jawab dan bertindak sesuai dengan kontrol sosialnya sehingga terwujud keharmonisan dan keadilan hidup, sebagaimana firman Allah Swt: “...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).

4. Prinsip kebebasan (AL-HURRIYAH), dalam Islam prinsip kebebasan pada dasarnya adalah sebagai tanggung jawab terakhir manusia. Konsep kebebasan harus dipandang sebagai tahapan pertama tindakan ke arah perilaku yang diatur secara rasional berdasarkan kebutuhan nyata manusia, baik secara material maupun secara spiritual. Kebebasan yang dipelihara oleh politik Islam adalah kebebasan yang mengarah kepada ma’ruf dan kebaikan. Allah berfirman: “... Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain...” (QS. Al-An’am: 164).


Memperhatikan 4 nilai-nilai dasar kehidupan politik Islam, ada 6 kriteria yang dijadikan ukuran sosok pemimpin di Indonesia, yaitu:

1, Dapat berlaku adil dan keseimbangan dalam pemerintahannya.

2, Mempunyai ilmu pengetahuan yang membuatnya dapat melakukan inovasi baru untuk menghadapi kejadian-kejadian yang timbul dan untuk membuat kebijakan hukum.

3. Panca inderanya lengkap dan sehat dari pendengaran, penglihatan, lidah dan sebagainya, sehingga ia dapat menangkap dengan benar dan tepat apa yang ditangkap inderanya.

4. Tidak ada kekurangan pada anggota tubuhnya yang menghalanginya untuk bergerak dan cepat bangun.

5. Visi pemikirannya baik sehingga ia dapat menciptakan kebijakan kepentingan rakyat dan mewujudkan kemaslahatan mereka.

6. Mempunyai keberanian dan sifat menjaga rakyat, yang membuatnya mempertahankan rakyatnya dan memerangi musuh, berani untuk membawa umat kepada yang lebih baik, serta secara kualitas fisik dan intelektual tidak diragukan.

Islam datang dengan resource yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan yaitu Alquran sebagai sumber utama dan dipertegaskan dengan Sunnah Nabi. Alquran sebagai dasar  bagi manusia kepada hal-hal yang dilakukan memberikan tekanan-tekanan atas amal perbuatan manusia (human action) dari pada gagasan. Artinya Alquran memperlakukan kehidupan manusia sebagai keseluruhan aspek yang organik, semua bagian harus dibimbing dengan petunjuk dan perintah-perintah etik yang bersumber dari wahyu, yang mengajarkan konsep kesatuan yang padu dan logis.

Persolan politik pada hakikatnya diakomodir Islam secara baik dengan memasukkannya pada wilayah MUAMALAT yang bersifat IJTIHAD sehingga memberikan peluang terhadap umat untuk menentukan pilihannya.

Selamat memilih……..


Source : dari berbagai sumber