Rabu, 11 Maret 2015

Agama Uang - Aku Rapopo Versi Bule





Salah seorang teman di Facebook mengirim tautan berita tentang seorang bule yang menyindir  Indonesia dengan lagu “Agama Uang” maksudnya segalanya bisa diatur dengan uang dan uang dipertuhankan.
Begitu mendengar bait baitnya, duh berasa banget di sindir sama mas Bule   tapi memang kenyataan koq. Saya setuju sekali dengan syair lagu itu. Maka sayapun senyum senyum kecut.
Di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bahwa  semua bisa di atur pakai uang, walau  tak dapat dipungkiri masih ada pejabat pejabat  lurus yang terus melawan arus.

Nyindir pemerintah :
Banyak orang di dunia ini
menunggu lama untuk rejeki
tapi ternyata mudah solusinya
jadi maling, penipu penjudii
saksi palsu, atau bos korupsi
Jangan takut tuhan menghakimi
Kalau kaya salah bisa benar
kalau kuasa kalah bisa menang
Ada masalah mulut jadi bungkam
kasih duit, kasus jadi hilang
kalau kuasa kalah bisa menang
Ada masalah mulut jadi bungkam
kasih duit, kasus jadi hilang
Nyindir Orang Orang Munafik
Apa masalahnya mas
Moral dibuang,
Agama uang, agama uang, agama uang
Revolusi mental mas harusnya sekarang
Agama Uang Agama Uang Agama Uang
Nggak butuh sembahyang
Nyindir Cowok Cewek
Banyak orang di dunia ini
Cari kesusahan se ndiri
kredit barang di sana sini
HP laptop juga mobil baru
dibeli dengan buru buru
‘hanya untuk sombong dan belagu
Cari jodoh harus yang tajir
tua muda itu enggak penting
suntik bibir malah jadi njedir
operasi biar gak gelambir
Nyindir Wanita
Apa masalahnya mbak
Perawan hilang
Agama Uang Agama Uang Agama Uang
Jangan jual murah mbah
Harga dirinya
Nggak perlu cinta ngggak perlu cinta wanita serakah.
( syair lagu dari ” Tribunnews Jabar)



https://www.youtube.com/watch?v=065bXcql5dY

http://hilmanmuchsin.blogspot.com/2015/03/agama-uang-aku-rapopo-versi-bule.html

Kesabaran yang Mulia



Kata sabar, seringkali tidak indah di era yang serba cepat dan instan. Kata sabar banyak tak berlaku jika keadaannya adalah menunggu pesawat delay, menunggu antrean yang teramat panjang, atau bahkan jika urusannya berkaitan dengan hukum.

Seseorang yang telah jelas bersalah dalam hukum, tidak jarang bersilat lidah dan mencari kambing hitam, demi menemukan kebebasan tanpa syarat, sehingga melupakan perilaku sabar dengan membiarkan hukum yang adil mengatur jalannya proses keadilan.

Padahal dalam Islam, kesabaran adalah kunci sukses, terutama bagi seorang pemimpin. Baik pemimpin keluarga maupun pemimpin suatu negara.
Mengenai kesabaran, Allah SWT sampaikan demikian indah dalam Al-Quran “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.

Orang sabar, selalu mampu memberi pengaruh baik bagi diri dan sekitarnya. Karena jaminan Allah SWT bagi orang sabar adalah kemampuan memberi petunjuk yang baik, dengan menganjurkan dan melaksanakan perintah, serta melarang dan meninggalkan apa yang dilarang Allah dan RasulNya.

Kesabaran bukan berarti berhenti berbuat, ia merupakan tindakan produktif untuk pengaruh positif terbesar dengan resiko negatif terkecil. Tindakan sehatlah yang menjadi acuan utama dari sikap ini.

Tetapi kesabaran tidak tunggal, sabar bisa jadi suatu kemuliaan selain juga adalah suatu kewajiban. Banyak orang menyangka dirinya adalah penyabar yang mulia, tetapi sebenarnya ia sedang melakukan suatu kesabaran yang memang wajib dilakukan. Suatu kesabaran yang mau tidak mau harus dipilih agar tetap menjadi orang sehat.

Kesabaran mulia, adalah kesabaran yang dipilih seseorang untuk menentukan seberapa bertakwa dirinya kepada Allah SWT. Seberapa mampu dirinya mendapatkan suatu kehormatan setelah lulus dalam beberapa ujian dan musibah.

Dalam kisah anbiya’ contohnya, setiap mereka yang beriman dan mengikuti dakwah, kemudian Allah SWT uji mereka dengan musibah yang berat, maka dia adalah penyabar yang mulia.

Karena itu, Allah SWT mencontohkan nama-nama nabi, seperti Ismail, Idris dan Zulkifli sebagai orang sabar terhadap ujian dan musibah, sedang mereka dalam perilaku baik. “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.”  (Qs Al Anbiya’ : 85).

Sabar anbiya’ inilah yang dimaksud dengan sabar-mulia. Sabar yang dilakukan orang mulia dengan dasar akal budi dan moral, sehingga pengaruhnya adalah kemuliaan dan hudan.

Sebaliknya, pembangkang Nabi Nuh, Nabi Luth, dan nabi-nabi lain yang ditimpakan musibah kepada mereka, mau tidak mau mereka harus bersabar.
Kesabaran seperti inilah kesabaran yang merupakan kewajiban. Karena mau tidak mau, kesabaran harus menjadi sikap dan tindakan yang dipilih mereka. Karena keburukan muncul oleh sebab suatu kesalahan.

Sekarang tinggal memilih, inginkah menjadi penyabar yang bertindak mulia, atau menjadi pribadi sehat yang bertindak baik dengan bersabar?Wallahu 'alam


Oleh: Ach. Nurcholis Majid

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/15/03/05/nkpea1-kesabaran-yang-mulia

Minggu, 08 Maret 2015

Menjadi Keluarga Alquran

 "Baca!”. Sendiri, di gua sunyi. Tiba-tiba Muhammad merasakan dirinya seperti didekap sosok tak berupa. Hanya suara yang memaksanya bicara. Dalam kondisi tiba-tiba tanpa tanda-tanda, tentu hanya takut yang ia rasa.
“Aku tak bisa!” Itulah jawaban yang Muhammad bisa. Sedangkan, Jibril, sosok tak berupa itu, semakin erat mendekap, lalu mengulangi perintahnya.
“Baca!”
“Aku tak bisa!”
“Baca!”
“Aku tak bisa membaca!”

Seraya tetap mendekap, Jibril kemudian membacakan firman Tuhan kepada Nabi Muhammad yang ketakutan, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, Sang Pencipta. Ia menciptakan manusia dari segumpul darah. Bacalah! Tuhanmu Maha Pemurah telah mengajar manusia dengan pena, apa yang tidak mereka tahu (QS al-Alaq [96]: 1-5).

Nabi mengulangi kata-kata yang diucapkan malaikat itu yang kemudian meninggalkannya. Beliau berkata, “Sepertinya kata-kata itu tertanam dalam hatiku.” Itulah wahyu pertama yang Muhammad terima, tepatnya pada Senin, 17 Ramadhan, saat ia berusia 40 tahun, enam bulan, dan delapan hari.

Selanjutnya, Alquran turun berangsur-angsur, ayat demi ayat, dalam kurun waktu sekitar 23 tahun yang terbagi dalam dua periode: periode Makkah (berlangsung sekitar 13 tahun dan ayat-ayat yang turun pada periode ini disebut Makkiyah) dan periode Madinah (berlangsung sekitar 10 tahun dan ayat-ayatnya disebut Madaniyah), sampai kemudian terhimpunlah Alquran utuh yang terdiri atas 114 surat dan terbagi dalam 30 juz. Susunan semacam itu, termasuk nama-nama surah, merupakan penetapan Rasulullah sendiri (tawqifi) dengan bimbingan malaikat Jibril.

Selama proses itu, setiap Ramadhan, Rasulullah SAW selalu membacakan kepada Jibril ayat-ayat yang telah turun sebagai verifikasi.

Allah telah berjanji, Alquran akan selalu terjaga. “Kami yang menurunkan Alquran dan Kami yang menjaganya (QS al-Hijr [15]: 9). Keterjagaan tersebut terbukti dengan adanya para penghafal Alquran dan penulisan (pencetakan) mushaf yang telah dilakukan sejak zaman Rasulullah hingga masa ini.

Menjadi penghafal Alquran, yakni menjadi keluarga Alquran. Tentu yang namanya keluarga, saat kondisi sedih maupun bahagia selalu bersamanya. Mereka akan selalu bersamanya setiap waktu. Singkatnya, mereka hidup bersama Alquran dalam senang maupun susah. Keluarga itu tercermin dari ikatan cinta orang tua terhadap anak atau sebaliknya. Satu sama lain saling menyayangi, baik kala susah maupun senang.

Begitu juga dengan penghafal Alquran. Alquran menjadi bagian dirinya. Ke manapun ia pergi, Alquran tak pernah dilupakan. Keduanya telah melekat, tak bisa dipisahkan. Ketika sedih, ia membaca Alquran agar mendapat penghiburan dan penguatan dari yang dibacanya. Begitu juga saat senang, ia membaca Alquran agar selalu diingatkan untuk tidak berlebihandan mensyukuri atas kesenangan yang didapatnya itu.

Dari sini terungkap perihal salah satu tujuan menghafal Alquran. Ya, tujuan menghafalnya, yakni agar kita selalu berinteraksi setiap hari dengan Alquran. Inilah barangkali tujuan yang tersembunyi dari menghafal Alquran. Dengan menghafalnya setiap hari, secara tidak sadar kita sedang membangun kedekatan dengan Alquran. Aduhai, betapa nikmatnya apabila kita selalu dekat dengannya. 

Setelah kita berinteraksi dengannya secara intens, langkah selanjutnya, yaitu mengamalkannya. Pengamalan inilah sesungguhnya tujuan yang paling tinggi dari menghafal Alquran. Jadi, bukan hanya dihafal saja, melainkan juga diamalkan kandungannya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya” (HR Bukhari).

Mengajarkan sama saja dengan mengamalkan, kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Mengajarkan tanpa mengamalkannya sama saja membohongi diri sendiri. Hal ini seperti diilustrasikan oleh Rasulullah SAW bahwa seorang mukmin yang tidak mengamalkan ajaran Islam, sama halnya pohon tanpa berbuah.

Semoga kita selalu menjadi ahli Alquran, yakni yang membaca, menghafal, kemudian mengamalkan kandungannya. Aamiin. Wallahu a’'lam. 

Oleh: M. Iqbal Dawami




Dua Ciri Kekasih Allah

Kekasih Allah, dalam bahasa Arab, disebut waliyullah. Bentuk jamaknya adalah auliya Allah. Bila seseorang sudah menjadi kekasih-Nya, dia akan memperoleh beberapa keistimewaan. Pertama, Allah akan memberi rezeki untuknya dari tempat yang tidak terduga. Kedua, doa mereka makbul.
Oleh sebab itu, jika kita bertemu seseorang dan yakin bahwa orang itu wali Allah, mintalah doa kepadanya. Ketiga, kehadirannya mendatangkan berkah bagi tempat di sekitarnya. Dalam Madarij as-Salikin, Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menyebut beberapa ciri-ciri wali Allah.

Pertama, wali Allah adalah orang yang sangat dekat dengan kaum fakir miskin. Orang seperti itu jika berbuat dosa maka akan diampuni oleh Allah SWT. Ini seperti terjadi pada seorang Yahudi ketika akan dihukum mati oleh karena golongannya berkhianat kepada Rasulullah. Saat penghukuman mati, Jibril datang menemui Rasulullah seraya meminta seorang tawanan Yahudi tersebut dibebaskan karena ia senang menjamu tamu dan suka menolong fakir miskin.

Setelah itu, Rasul menghampiri tawanan tersebut dan berkata, "Baru saja Jibril datang kepadaku dan aku akan bebaskan kamu." Tawanan itu bertanya, "Mengapa?" "Karena engkau suka menjamu tamu dan membantu fakir miskin." Ketika itu juga, si Yahudi masuk Islam. Orang Yahudi itu dimaafkan karena sifat kedermawanannya. Jika kita ingin menjadi kekasih Allah tetapi kita sulit berzikir dan salat malam, cara yang paling baik ialah memberikan sebagian harta kita kepada kaum fakir miskin.

Kedua, wali Allah ialah anak muda yang taat beribadah kepada Allah. Dia persembahkan masa muda dan ketegapan tubuhnya untuk Allah. Dalam salah satu hadis disebutkan, "Tidak ada yang paling dicintai Allah selain pemuda yang su dah kembali kepada Allah dan tidak ada yang paling dibenci Allah selain orang tua yang terus menerus melakukan kemaksiatan." Jika ada anak yang masih kecil sudah taat kepada Allah dan rajin membaca Alquran, dekatilah ia.
Ia akan menyebarkan berkah kepada kita. Dalam hadis lain di sebutkan: "Sesungguhnya, makhluk yang paling dicintai Allah adalah anak muda yang belia usianya, tegap tubuhnya, yang mempersembahkan kepemudaan dan ketegapannya untuk taat kepada Allah. Itulah orang yang dibanggakan Allah di hadapan para malaikat-Nya. Dikumpulkannya para malaikat itu, kemudian Allah berfirman: `Inilah hamba-Ku yang sebenarnya'. "

Kita mungkin pernah mendengar hadis yang bercerita mengenai tujuh orang yang mendapatkan perlindungan pada hari kiamat saat yang lain tidak mendapatkannya. Tampaknya semua itu sangat sulit kita amalkan, kecuali satu hal, yaitu menjadi anak muda yang tumbuh besar dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Salah satu sifat yang disebutkan dalam hadis tersebut yang sulit kita amalkan ialah menjadi pemimpin yang adil. Jangankan menjadi pemimpin Islam, menjadi pemimpin parpol Islam saja sulit. Sifat lain ialah menolak rayuan perempuan cantik yang berpangkat tinggi karena takut kepada Allah.

Tampaknya agak sulit bagi kita untuk menjadi salah satu dari tujuh kelompok itu, kecuali menjadi anak muda yang tumbuh besar dengan ketaatan kepada Allah SWT. Walla - hu a'lam.


Oleh: Abdul Aziz