Sabtu, 04 Januari 2014

Rumah Tempat Berteduh



Rumah secara fisik adalah tempat berteduh dari panas, angin, dan hujan, serta tempat beristirahat setelah bekerja seharian mencari nafkah. Di dalam rumah, anggota keluarga berkumpul melakukan berbagai kegiatan rutin.

Mulai dari makan, minum, masak, mandi, buang hajat, mengobrol, hingga tidur melepas penat dan lelah. Rumah secara psikologis merupakan tempat mendapatkan ketenteraman, kedamaian, kebahagiaan, keamanan, dan kenyamanan bagi para penghuninya.

Karena itu, banyak pemilik rumah sederhana atau bahkan gubuk bambu sekalipun merasa bahagia. Sebab, meskipun gubuk namun suasana di dalamnya penuh dengan keceriaan, keterbukaan, kejujuran, dan tanggung jawab bersama.

Rumah dalam bahasa Arab disebut dengan bayt (tempat bermalam), daar (tempat beraktivitas), maskan (tempat menetap dengan tenang), atau manzil (tempat persinggahan). Keempat makna ini menunjukkan fungsi rumah seseungguhnya bagi para penghuninya.

Di dalam Alquran, Allah SWT menyebutkan, “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.’’ (QS an-Nahl [16] : 80).

Ibnu Katsir menguraikan ayat tersebut dengan penjelasan bahwa Allah menyempurnakan nikmat-Nya atas hamba-hamba-Nya dengan menjadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka.

Sehingga, mereka menjadikan rumah itu sebagai tempat kembali dan berlindung serta tempat mendapatkan berbagai manfaat. Oleh karena itu, rumah bagi seorang Muslim mungkin hanya sebuah gubuk bambu sederhana.

Namun, di dalam rumah itu penuh dengan rasa syukur kepada Allah, ridha dengan pemberian-Nya, serta penuh dengan nuansa ibadah. Para anggota keluarganya merasa bahagia bukan karena mereka memiliki furnitur yang serba lengkap dan mahal.

Bukan harta yang membuat kebahagiaan muncul dari hati para penghuninya, melainkan karena keyakinan penuh mereka kepada Tuhannya, menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan-Nya, serta menempatkan Muhammad SAW sebagai contoh teladan mereka.

Keadaan semacam itu terungkap dari rumah Nabi Muhammad yang secara fisik sederhana, dengan tempat tidur beralaskan pelepah kurma, tidak ada persediaan harta dan makanan.

Meski demikian, beliau menyebut suasana dalam rumahnya dengan ungkapan luar biasa, “Rumahku adalah surgaku” (baitii jannatii).

Karena itu, memperbaiki rumah memang penting, seperti mengganti genting yang bocor, mengecat kembali warna yang pudar, memberi pagar pembatas, dan sebagainya. Namun, jauh lebih penting dari itu semua adalah memperbaiki suasana di dalam rumah.

Cara memperbaiki suasana tersebut, di antaranya dengan mengembuskan nuansa ibadah, merenovasi kebiasaan para penghuninya untuk saling jujur dan terbuka, serta menambal sifat-sifat buruk dengan berbagai kebaikan. Insya Allah.


Oleh: Ali Farkhan Tsani


Mengikis Virus Lupa



Lupa merupakan kondisi tidak ingat keadaan diri atau sekelilingnya. Ada tiga jenis lupa yang dialami manusia. Pertama, lupa hal-hal sepele, seperti lupa makan atau lupa di mana menaruh barang. Lupa jenis ini manusiawi belaka. Tetapi, ada jenis lupa yang berbahaya. Misalnya, lupa tugas atau tanggung jawab. Dampaknya tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga orang lain.

Tentu yang paling berbahaya dan bahkan mengundang azab Allah ialah lupa jenis ketiga. Itulah lupa diri dan agama, yang menyebabkan manusia turun derajat dari makhluk mulia ke level paling hina. “Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. [QS At-Tin/95: 4-5].

Sungguh ngeri kita membaca ayat itu. Betapa semakin hari, kita tidak semakin muda. Pertambahan angka umur kita jelas menunjukkan berkurangnya jatah hidup di dunia. Sebab itu, yang wajib kita renungkan, adakah nikmat berupa umur ini lebih banyak bermuatan kebaikan atau justru keburukan. Bercermin diri seraya memperbanyak tobat, itulah ajaran yang harus dipraktikkan orang beriman.

Introspeksi menjadi sarana mujarab untuk melawan lupa. Sementara, tobat jelas alat pembersih dosa dan kesalahan. Tobat, menurut ulama, adalah menyadari, menyesali, dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi dosa dan kesalahan serupa. Bukanlah tobat jika satu dari ketiga syarat itu hilang. Tobat pincang itu disebut sebagai Tobat Sambal alias Kapok Lombok. Tobat yang diterima Allah, itulah taubah nasuhah, yang berdampak positif dahsyat pada pelakunya.

Menjalani hidup di era serba digital sungguh tidak mudah. Keluarlah rumah, bacalah koran, lihatlah internet. Betapa jebakan kemaksiatan tersebar di segala penjuru arah. Jika kita tidak ekstrawaspada, bukan mustahil akan terseret ke lumpur dosa. Karena itu, kita harus mampu memelihara kepekaan dan sensitivitas nurani. Tidak kalah penting pula terus berusaha memahami dan mengamalkan doa yang setiap salat kita baca: Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.

Lupa muncul karena manusia sembrono dalam mengeja kehidupan. Hatinya tidak terjaga, sehingga menjadi gelap. Hati yang gelap disebut zulmun (kezaliman), dan pelakunya bernama zalim. Idenya ialah setiap kebusukan dapat membuat hati manusia menjadi gelap dan mudah lupa. Indikasinya, tidak pernah merasa risih ketika berbuat dosa dan kesalahan. Kejahatan dianggap sebagai kebajikan, perusakan diakui sebagai perbaikan, karena selalu dihisasi setan.

Dalam kondisi demikian, hatinya tidak lagi nurani tetapi sudah zulmani. “Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu setan)? Maka sungguh Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki siapa yang Dia kehendaki, Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala yang mereka perbuat.” [QS Fathir/35: 8].

Tidak susah mendapati sosok-sosok manusia berhati zulmani. Tengoklah para bramacorah negeri ini: pemimpin korup, hakim khianat, politisi busuk, pengusaha licik. Mereka potret terang penjahat-penjahat kemanusiaan sejati. Dunia ini terbukti babak belur di tangan sekumpulan manusia berhati zulmani itu.

Pantaslah jika Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan peringatan keras kepada mereka. “Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [QS Al-Kahfi/18: 103-104].

Ada empat langkah praktis yang berguna untuk mengikis lupa. 
Empat langkah ini sesuai dengan dimensi kemanusiaan manusia. 

Pertama, gairahkan fisik dengan ibadah. Bagi orang beriman, tidak ada yang paling berharga selain memfokuskan setiap gerak dalam tarikan napas ibadah. Ibadah, selain akan mendekatkan diri kepada Allah, juga dapat mencegah diri dari dosa, mengikis virus hati, mengusir penat, menolak bencana, mengundang rezeki, dan membuat hidup ceria. Karena itulah, doa sangat indah yang diajarkan Rasulullah kepada Muadz bin Jabal berbunyi,“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki kualitas ibadah kepada-Mu.”

Kedua, hidupkan akal dengan ilmu. Dr Aidh Al-Qarni mengatakan, kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan, membusuknya umur. Sebaliknya, ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh, dan bahan bakar bagi tabiat. Dengan begitu, apa yang masuk via indra orang beriman harus menjadi ilmu. Sebab, kedamaian dan ketenteraman hati senantiasa muncul dari ilmu. Ilmu mampu menembus yang samar, menemukan yang hilang, menyingkap yang tersembunyi.

Ketiga, hidupkan hati dengan zikir. Di antara ciri ulul albab adalah selalu zikir (ingat) kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Sepintas, tampaknya itu mudah, karena hanya zikir dalam tiga keadaan. Tetapi coba renungkan, adakah keadaan bagi manusia selain berdiri, duduk, dan berbaring?

Dengan kata lain, hati orang beriman dituntut terus online kepada Allah di segala keadaan. Itulah zikir yang menenteramkan dan menjadikan hati nurani ini waskita. “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwa Alquran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sungguh Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang beriman kepada jalan yang lurus.” [QS Al-Haj/22: 54].

Keempat, sucikan jiwa dengan baik sangka. Banyak orang merana karena berselimut buruk sangka. Hidup dirundung susah padahal bergelimang harta. Wajah berkalang duka padahal menggenggam segalanya. Ingatlah nasihat Ibnu Qayim Al-Jauziyah bahwa nilai manusia itu dapat diukur dari semangat dan apa yang dia inginkan.

Orang beriman selalu bergemuruh kasih sayang dalam hatinya. “Sungguh orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” [QS Maryam/19: 96].

Alarm kehidupan berupa krisis pemimpin, budaya korupsi, pembusukan parpol, kekerasan massa, kelumpuhan hukum, kemiskinan ekonomi, peredaran narkoba, kengawuran media, dan beragam kemunduran moral lain sudah demikian nyaring. Masa depan bangsa ini di tahun-tahun mendatang sangat tergantung pada sejauh mana kita mampu segera siuman dan bangkit dari lupa.


Oleh M Husnaini, Penulis Buku “Menemukan Bahagia”



Kamis, 02 Januari 2014

Keutamaan, Doa dan Bacaan Shalat Tahajud


Shalat tahajud adalah salah satu dari shalat-shalat tathawwu’ yang disyari’atkan oleh Allah dan menjadi kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah. antara shalat tahajud, shalat lail dan shalat tarawih sebenarnya sama, hanya saja waktu pengerjaan shalat tarawih adalah pada bulan ramadhan, sedangkan yang lain dikerjakan pada hari-hari selain bulan ramadhan. 
Dalam al-qur’an surat Al-Muzammil ayat 2 dan surat Al-Isra’ ayat 79, Allah memerintahkan umat muslim untuk bangun melaksanakan shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagi mereka. Shalat tahajud bisa dikerjakan mulai setelah shalat isya’ sampai sebelum waktu shubuh (Berdasarkan HR. al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah), akan tetapi lebih baik jika dikerjakan pada sepertiga malam terakhir (Berdasarkan HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Jabir). 
Bukan mudah membiasakan diri untuk melakukan shalat tahajud, disaat yang lain tengah terlelap dalam mimpi mereka kita harus bangun menahan dinginnya malam, namun Allah telah berjanji untuk meninggikan derajat orang-orang yang senantiasa mengerjakan shalat tahajud tersebut.
          Banyak sekali keutamaan dan manfaat yang bisa diambil dari mengerjakan shalat tahajud ini selain ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT, antara lain adalah do’a-do’a yang akan mudah untuk terkabul jika kita melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan rasa ikhlas. 
Di antara waktu yang paling mustajab untuk berdo’a adalah pada sepertiga malam, karena pada saat itu Allah akan turun ke langit bumi untuk mendengarkan secara langsung do’a-do’a para hambaNya. Selain itu pada beberapa riwayat juga dijelaskan bahwa shalat tahajud ini akan mampu menghapus dosa-dosa, orang-orang yang melaksanakan shalat tahajud akan lebih dekat dengan Allah.
          Shalat tahajud boleh dikerjakan secara berjamaah atau sendiri. Beberapa hadits menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengerjakan shalat tahajud sebanyak sebelas rakaat dan diawali dengan shalat iftitah sebanyak dua rakaat, berikut ini tata cara shalat iftitah. Sebelum membaca al-Fatihah pada rakaat pertama, membaca do'a iftitah:
سُبْحَانَ اللهِ ذِي الْمَلَكُوْتِ وَالْجَبَرُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

"Subhaanallaahi dzil-malakuuti wal-jabaruuti wal-kibriyaa’i wal 'adzamah". Artinya: “Maha suci Allah, Dzat yang memiliki kerajaan, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan.”
Kemudian membaca surat Al-fatihah tanpa membaca surat lain, lalu rukuk, I’tidal hingga kembali takbiratul ikram untuk rakaat kedua, pada rakaat kedua hanya membaca Al-fatihah tanpa surat lain, sedangkan bacaan rukuk, sujud dan yang lainnya seperti biasa. Setelah shalat iftitah kemudia dilanjutkan dengan shalat tahajud sebnayk sebelas rakaat. 
Shalat tahajud bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, boleh dilakukan dengan 4 rakaat, 4 rakaat kemudian 3 rakaat witir, bisa juga 2 rakaat sebanyak 5 kali dan dilanjutkan witir 1 rakaat. Untuk shalat witir ini bisa dilakukan dalam hitungan ganjil, dan hanya boleh dilakukan satu kali shalat witir dan sau malam. Seperti sabda Rasulullah berikut,
عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ. [رواه أحمد وأبو داود والترمذى والنسائى]

Artinya: “Diriwayatkan dari Talq Ibn ‘Ali ia berkata: Saya mendengar Nabi saw bersabda: Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai].
Jadi, jika pada bulan ramadhan ketika shalat tarawih sudah mengerjakan shalat witir, kemudia pada malam harinya ingin bangun untuk melaksanakan shalat tahajud tidak perlu shalat witir lagi. Pada shalat witir disunahkan untuk mebaca surat Al-‘Ala setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama, surat Al-Kafiruun pada rakaat kedua, dan surat Al-Ikhlas pada rakaat ketiga.
          Setelah shalat kemudian membaca dzikir seperti dzikir setelah shalat fardhu biasanya, kemudian diantara do’a-do’a yang sering dibaca Rasulullaha adalah sebagai berikut:
a.       Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا.

Artinya: “Ya Allah, berikanlah di dalam hatiku cahaya, di dalam penglihatanku cahaya, di dalam pendengaranku cahaya. Dan (berikanlah) cahaya dari sebelah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, dan berikanlah cahaya pada seluruh tubuhku.”
b.      Berdasarkan riwayat Muslim dari 'Aisyah:

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari (siksa)-Mu. Aku tidak dapat lagi menghitung pujian yang ditujukan kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu sendiri.”
c.       Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.

Artinya: “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau cahaya (penerang) langit dan bumi. Hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau Penegak langit dan bumi. Hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau Yang Mengatur langit dan bumi beserta isinya. Engkau adalah Dzat yang haq. Janji-Mu adalah benar. Firman-Mu adalah benar. Perjumpaan dengan-Mu adalah benar. Surga adalah nyata. Neraka adalah nyata. Para nabi adalah benar. Hari kiamat adalah nyata. Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berserah diri. Hanya kepada-Mu aku beriman. Hanya kepada-Mu aku bertawakal. Hanya kepada-Mu aku kembali. Hanya atas pertolongan-Mu aku berjuang. Hanya kepada-Mu aku mohon keadilan. Maka ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku lakukan secara sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan. Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau.”
         
Wallahu’alamu bi-shawaab.


Oleh: Dzakia Rifqi Amalia




Wara' dan Tanda-Tanda Orang yang Bersikap Wira'i (Wara')


Al-wara' menurut bahasa jika dikatakan, "wara'a yara'u war'an wa wara'an wa wari'atan." artinya menjaga dan menghindari dari hal-hal yang diharamkan kemudian digunakan juga untuk perbuatan menahan diri dari hal hal yang mubah. pelakunya disebut wari'un wa mutawarri'un.

lafazh wari'a yaura'u wa yauri'u artinya menjadi orang yang wara'. tawarra'a minal-amri artinya menjauhinya. al-wara' dapat menggerakkan ketakwaan.

Menurut pengertian terminologis, al-wara' artinya menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulka mudharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat, karena subhat ini dapat menimbulkan mudharat. sesungguhnya, siapa yang takut kepada syubhat maka dia telah membebaskan kehormatan dan agamanya, dan siapa yang berada dalam syubhat berarti dia berada dalam hal yang haram, seperti penggembala di sekitar tanaman yang dijaga, yang begitu cepat dia masuk ke dalamnya.

Menurut Al-Faqih, bukti adanya wira'i (wara') dalam diri seseorang adalah jika dalam diri orang tersebut telah ada sepuluh kewajiban, yaitu:

1. Memelihara lisan, tidak sampai ghibah atau menggunjing. Firman Allah swt. dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Janganlah setengah di antara kamu menggunjing terhadap setengah lainnya."

2. Tidak buruk sangka. Firman Allah swt. dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Hindarkanlah prasangka buruk, karena setengahnya adalah dosa."

Dalam hadits Nabi saw. dijelaskan yang artinya, "Hati-hatilah kamu dari prasangka buruk, karena hal itu adalah perkataan paling bohong."

3. Tidak menghina (merendahkan) orang lain. Firman Allah swt. dalam surah al-Hujurat ayat 11 yang artinya, "Janganlah suatu kaum menghina kaum lainnya, boleh jadi kaum yang dihina itu adalah lebih baik dari pada kaum yang menghina."

4. Memelihara pandangan mata dari yang haram. Firman Allah swt. dalam surah Nur ayat 30 yang artinya, "Katakanlah, ada orang-orang mukmin agar memejamkan pandangan matanya dari yang haram."

5. Berbicara benar. Firman Allah swt. dalam surah al-An'am ayat 152 yang artinya, "Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil."

6. Mengingat nikmat Allah swt. yang telah diberikan kepadanya agar tidak sombong. Firman Allah swt. dalam surah al-Hujurat ayat 17 yang artinya, "Bahkan Allah-lah yang memberi karunia kepadamu ketika kau diberi petunjuk, sehingga kau beriman. Jika kau benar-benar beriman."

7. Menggunakan hartanya dalam jalan kebenaran, bukan pada kebatilan. Firman Allah swt. dalam surah al-Furqan ayat 67 yang artinya, "Orang-orang yang membelanjakan hartanya tiada berlebihan dan tiada kikir, mereka tengah-tengah (berlaku sedang) dalam hal itu."

8. Tidak ambisi kedudukan dan tidak pula berlaku sombong. Firman Allah swt. dalam surah al-Qashash ayat 83 yang artinya, "Negeri akhirat sengaja Kami sediakan bagi mereka yang tidak ambisi kedudukan dunia dan tidak pula suka merusak."

9. Memelihara (waktu) sholat dan menyempurnakan ruku dan sujudnya. Firman Allah swt. dalam surah al-Baqarah ayat 238 yang artinya, "Peliharalah (waktu-waktu) sholat, terutama sholat pertengahan, tegakkanlah dengan khusyu', diam bermunajat."

10. Istiqomah mengikuti sunnah Rasul dan jamaah umat Islam. Firman Allah swt. dalam surah al-An'am ayat 153 yang artinya, "Inilah ajaran yang menuju kepada keridhoan-Ku (jalan lurus-benar), lalu ikutilah, jangan mengikuti jalan-jalan lain, (jika demikian), pasti menyimpang jauh dari jalan Allah. Demikianlah pesan Dia kepadamu agar kamu bertakwa."


Ketahuilah bahwa wara' itu baik, tetapi jika berlebih-lebihan sampai di luar batas, akhirnya menjadi tidak baik. Rasulullah saw. bersabda, "Celakalah orang-orang yang melampaui batas."

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa berhati-hati terhadap segala sesuatu yang serupa dengan wara' yang berlebih-lebihan. Karena meskipun tidak membahayakan, namun dapat menjadikan seseorang lupa dengan sesuatu yang lebih penting karena sibuk dengan wara' yang berlebih-lebihan. Seperti halnya orang yang sedang bersuci, karena berlebih-lebihan mencari air dan menganggap ini terkena najis, ini makruh dan lain sebagainya. Akhirnya ia tidak jadi bersuci. Hal seperti inilah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tidak seyogyanya manusia itu mengerjakan wara' yang rumit-rumit kecuali orang yang alim dan kokoh hatinya. Sebab orang yang alim dan kuat pendiriannya, jika melampaui batas dari garis ketentuan maka dengan sendirinya ia akan membalikkan diri sehingga tidak melampaui batas syara' yang ditentukan.