Sabtu, 23 Juni 2012

Saya Katolik, Saya Dukung FPI



Seorang penganut agama Katolik bernama Lia Christine mengatakan mendukung keberadaan Front Pembela Islam (FPI).

Kepada itoday, Christine mengatakan, kehadiran FPI adalah untuk memberantas kejahatan.

Soal FPI yang kerap bersengketa dengan umat nonmuslim, Christine mengatakan hal itu tergantung umat yang dikorbankan. "Itu tergantung umat yang ‘dikorbankan’. Di daerah markas FPI ada 4 gereja berdiri dengan tenang dan damai. Itu hanya umat lain yang memang memancing. Saya tidak menutupi fakta yang ada di lapangan," tegas Christine, Senin (20/2).

Menurut Christine apa yang sudah dilakukan FPI untuk memberantas kejahatan tepat. " Hanya saja, mungkin lebih indah jika diiringi dengan aksi yang penuh kasih sehingga masyarakat tidak membuat kesalahan persepsi terhadap FPI," katanya.

Christine juga menyatakan sikapnya itu melalui jejaring sosial kompasiana.com. Berikut catatan Christine, yang berjudul “Saya, seorang Kristian Mendukung FPI”:

Siapa tak yang tak mengenal FPI? Tiga huruf itu adalah singkatan dari Front Pembela Islam. Ormas Islam yang sering dikait-kaitkan dengan ‘tradisi’ kekerasan. Pada dasarnya prinsip utama FPI adalah menegakkan Amar Maruf Nahi Mungkar [mengajak kebaikan dan memerangi kejahatan] tapi apa boleh buat, media sudah ‘berhasil’ mengekspos FPi dengan ‘budaya’ kekerasannya dan (kebanyakan) orang Indonesia sudah memberi nilai buruk terhadap FPI. Saya sebagai seorang Kristiani (penganut Katholik) sedikit miris ketika media memberitakan kekerasan-kekerasan yang dilakukan FPI. Dan saya pun sempat merasa tidak suka dengan keberadaan FPI di Indonesia. Mulai dari tragedi Monas, penutupan bar, demo anti miras, dll. Saya merasa bosan dengan kekerasan-kekerasan yang dilakukan FPI. Dan masyarakat pun seakan juga tak setuju jika FPI memakai ‘embel-embel’ Islam. Karena menurut mereka, Islam itu damai, mencintai perbedaan dan bukan kekerasan.

Seiring berjalannya waktu, tak terdengar berita tentang FPI. Tiba-tiba Indonesia dikejutkan dengan berita ‘Penolakan FPI di Palangkaraya’. Sejenak saya tercengang. Seketika itu pula saya mulai penasaran dengan FPI. Mengapa FPI sampai ditolak di Palangkaraya?. Saya mencari info-info.

Hingga saya mulai merenung, mengapa masyarakat tidak berpikir ‘apa yang melatarbelakangi FPI untuk melakukan kekerasan’. Sejak itu saya menyimpulkan, bahwa pasti ada sebab yang membuat FPI beraksi. Contohnya, saat FPI melabrak belasan anggota PDIP bertemu dengan mantan anggota PKI di Blitar.

Menurut saya, FPI telah berusaha menghilangkan keberadaan PKI sampai pada akar-akarnya. Dan itu saya setuju. Walaupun hanya bertemu ‘mantan’ anggota PKI, jika pertemuan itu terjadi berkala bisa memungkinkan PKI tumbuh kembali di Indonesia. Kemudian soal Demo Miras, itupun saya juga setuju. Pemerintah macam apa yang berani mencabut UU larangan Miras? itupun FPI masih disalahkan. Padahal jika langkah yang digagas pemerintah untuk mencabut UU larangan miras, mau jadi apa negeri ini? jadi negeri yang menghalalkan miras?. Itu saja dua contoh yang ‘me-miris-kan’. Tidakkah media memberitakan ketika anggota FPI membantu mengevakuasi 70.000 korban tsunami Aceh? Tidakkah media memberitakan ketika FPI mendirikan posko bencana gunung Merapi?, sungguh aneh.

Dan pencarian info tentang FPI terus saya lanjutkan. Saya singgah di sebuah forum di internet yang notabene menghujat dan menolak FPI. Tapi ada satu komentar yang menarik menurut saya untuk dibagikan kepada member Kompasiana. User itu bernama adiet87smg, dia menulis:

“hidup d jman skrg emang aneh. kbodohan udh ada dmana2, orang mau berbuat baek aja susah. jadi inget tuh pas jamanx nabi. nabi aja pas dakwah n ngajak manusia kpd kebaikan, mlh beliau dilempar pke kotoran. gile bgt kand? sama kyak skrg, ngajak orng brbuat baik eh malah dimusuhin, dikutuk, n disuruh bubar. bner2 jman edan kali yak!”

Saya jadi teringat ketika ada demo penolakan FPI di bundaran HI. Kebanyakan dari peserta demo adalah kamum gay, lesbian, tuna susila, dan semacamnya. Wajar jika mereka menolak FPI, karena memang status mereka bertentangan dengan agama. Dan kagetnya lagi, saya mendapat info bahwa penggerak demo Penolakan FPI adalah Ulil Abshar Abdalla, fungsionaris partai Demokrat yang sedang terjerat kasus korupsi dan disebut-sebut juga sebagai anggota JIL [Jaringan Islam liberal]. Wow. Pantas saja Ulil Abshar Abdalla menggerakkan massa untuk menolak keberadaan FPI, karena FPI telah mencatut namanya sebagai salah satu oknum yang bersembunyi di Partai yang kebanyakan anggotanya sedang terjerat kasus korupsi. Tentang berita penolakan FPI di Palangkaraya, itu juga disebut-sebut sebagai upaya Ulil Abshar Abdalla untuk ‘memusnahkan’ FPI dari dunia ini. Padahal warga Dayak sendiri yang meminta FPI berdiri di KaltengSaya sebagai penganut Katholik, mendukung upaya FPI untuk memerangi kejahatan.


Penulis: Lia Christine

Mengutamakan Kejujuran dalam Berniaga



Belum lama ini pemerintah mengeluarkan peraturan menghentikan impor buah dan sayur. Belakangan diketahui, produk holtikultura itu banyak mengandung lilin sehingga membahayakan kesehatan.

Bahkan biasanya menjelang Ramadhan atau Idul Fitri nanti, banyak produk makanan yang dijual pedagang mengandung zat-zat kimia berbahaya seperti formalin. Sebagian pedagang hanya mengutamakan keuntungan, meski telah merugikan pembeli.

Sungguh sangat memprihatinkan melihat fenomena  ini. Sepertinya, sebagian pedagang, sudah meninggalkan nilai-nilai kejujuran dalam berniaga.

Dalam Islam sudah benar-benar ditegaskan bahwa ketika kita berdagang, maka harus mengutamakan kejujuran. Jangankan menggunakan bahan-bahan yang mengandung zat berbahaya yang dapat merusak kesehatan, mengurangi takaran timbangan pun telah dilarang dalam agama Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran, yang berbunyi:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”(QS. Al-Muthaffifin [83]: 1-3).

Dalam ayat lain, Allah SWT juga menegaskan kepada umat Islam untuk tidak sekali-kali mengurangi takaran timbangan. Hal itu sebagaimana Allah tegaskan dalam Alquran “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu” (QS ar-Rahman [55]: 9).

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Rasulullah tiba di Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk orang-orang yang paling curang dalam takaran dan timbangan.

Maka Allah menurunkan ayat tersebut sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang. Setelah ayat ini turun, orang-orang Madinah termasuk orang yang jujur dalam menimbang dan menakar (diriwayatkan an-Nasa'i danIbnu Majah).

Dalam sebuah hadits, Rasul juga pernah bersabda, “Riba itu, sekalipun hasilnya banyak (menguntungkan), sesungguhnya akan berakibat pada kekurangan (kerugian).” (HR. Ahmad).

Dengan ayat-ayat di atas, Islam mengajarkan kepada umat-Nya agar selalu tidak taku akan kehilangan rezeki. Bahwa Allah SWT telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya dan menciptakan manusia dengan segala keunggulannya, termasuk didalamnya, telah diatur kemudahan rezekinya.

Islam juga mengajarkan bahwa setiap umat-Nya untuk selalu tawakal dan menyakini bahwa Allah telah menyediakan fasilitasuntuk manusia mencari rizki sebanyak-banyaknya, untuk kepentingan dunia dan akhirat.

Dialah yang menjadikan Bumi itu mudah bagi kamu,maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan Hanya kepada-Nya-lahkamu (kembali setelah) dibangkitkan (Q.S. al-Mulk : 15).

Terakhir, kita harus meyakini, Allah SWT merupakan pemilik segala-galanya yang ada di muka bumi. Jangan pernah takut akan kehilangan rezeki dalam berdagang. Utamakan selalu kejujuran untuk kemaslahatan bersama.


 Oleh Dr HM Harry Mulya Zein

Dosa Money Politics



Dalam ajaran Islam ada beberapa dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT, kecuali apabila yang bersangkutan bertobat sebelum meninggal dunia. 

Dosa-dosa tersebut antara lain, pertama, dosa syirik, yaitu berkeyakinan bahwa selain Allah SWT memiliki kemampuan seperti Tuhan (syirik akidah) serta beribadah (tunduk dan taat) kepada selain Allah (syirik ibadah).

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa: 48).

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh- jauhnya.” (QS An-Nisa: 116).

Kedua, dosa memberitahukan maksiat yang ia lakukan sendiri. “Semua umatku dimaafkan kecuali orang-orang Mujahir (mujahir adalah orang yang melakukan maksiat kemudian ia memberitahukannya kepada orang lain).” (HR Muslim).

Ketiga, dosa akibat melakukan suap (money politics). “… orang yang membaiat (memilih pemimpin), tetapi dia tidak mau memilihnya kecuali karena materi duniawi. Apabila pemimpin tadi memberinya materi duniawi maka ia akan memilihnya dan apabila tidak diberi materi, ia tidak akan memilihnya.” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah).

Dalam kamus politik, materi duniawi itu disebut dengan istilah money politics, kendati hal itu tidak selamanya berupa uang. Menurut Imam Muhammad A’lan (w. 1057 H) dalam kitab Dalîl Al-Fâlihîn, dosa besar adalah dosa yang disertai ancaman hukuman di dunia dan atau siksa di akhirat, maka memberikan dan atau menerima money politics termasuk dosa besar.

Menurut Imam Abd Al-Rauf Al-Minawi (w.1031 H) penulis kitab Faid Al-Qadîr, yang dimaksud dengan Allah tidak menyucikan dosa tiga orang adalah Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Karena itu, perbuatan money politics merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni Allah SWT, kecuali yang bersangkutan bertobat sebelum ia meninggal dunia dan tobatnya diterima Allah SWT.

Perilaku money politics tidak hanya haram dilakukan oleh penerimanya, tetapi juga yang memberi dan atau sebuah tim sukses yang membagi-bagikan uang tersebut. Hal ini berdasarkan kaidah fikih (hukum Islam), “Apa yang haram diambil juga haram diberikan.”

Dalam hadis di atas, Nabi SAW menyebutkan kata imam (pemimpin) dan tentu yang dimaksud di sini bukan imam shalat, tetapi pemimpin kemasyarakatan. Baik itu kepala negara, kepala daerah, kepala organisasi massa, maupun wakil-wakil rakyat. 

Karenanya, apabila kita hendak selamat dari ancaman-ancaman tersebut, maka kita harus menghindari perilaku money politics, baik memberikan, menerima, maupun membagi-bagikan.


Oleh: KH Ali Mustafa Yaqub 

Jumat, 22 Juni 2012

SSG bli bali tour.flv




8 juni 2012, sewaktu berangkat ke Bali,  supir ku muter lagunya Nat King Cole Arround the world.... kok lagunya tiba2 jadi begitu uenaaakkk, aku langsung ikut nyanyi dong tPI dengan gaya suara Louis Armstrong, dengan semangat tentu saja, coz i'm moving oooonnnn  to Bali.

Tapi trus aku jadi mikir sendiri, dulu perasaan gak pernah tuh, aku suka nyanyi sendiri di mobil seperti itu. Jadi, macam apakah aku saat itu ? hahahahaha.... Hari gene, sepertinya kok makin susah ya untuk bisa bertingkah sesuai umur, adaaaa aja godaannya, hehehehe....

Dan kemarin di BB grup, aku, rame-rame upload foto koleksi hasil jepretan BB ku.  Foto2 koleksi yang dijembreng ternyata gayanya gak jauh-jauh dari gaya anak2 kecil,…..gaya SSG  alias Sipil Sedakep Grup yang  imut2 ..... eehh salah amit2….. hahahaha……

Saling unjuk gaya seperti segerombolan bocah cilik saling unjuk mainan. Cuek dan gak pake malu-malu…., lha wong sama temen lama kok.... Ketawa-ketiwi saling ledek dan saut-sautan komentar yang ujung-ujungnya sepakat bahwa enak deh ngobrol ma temen lama dan seumuran, soale dadi lali yen wis tuwo,..... Hahahahaha…….


ooh yaaa, ini dia salah satu bukti tindak kejahatan lupa umur.....

tapi lucu kaaaan???

Lokasi  BALI SABA BAGUS Villa, Desa Pering, Gianyar - Bali




http://www.youtube.com/watch?v=A5iHpZPACGA&feature=share