Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2014

Pemberian Tip dalam Perspektif Islam



Antara tip dan suap (gratifikasi) tidak bisa disamakan. 
Keduanya berbeda dari segi prinsip dan elemennya. 


Salah satu kebiasaan yang sering berlaku di masyarakat ketika bertransaksi atau menggunakan jasa tertentu ialah memberikan tip.
Saat makan di restoran atau kafe, tip diberikan kepada pramusaji. Tip juga kadang diperuntukkan bagi kurir atau office boy di perkantoran, misalnya.
Fenomena pemberian uang tip nyaris ada di tiap lini kehidupan. Lalu, apa hukum pemberian tersebut menurut perspektif Islam? Apakah hal ini dalam kasus tertentu termasuk kategori grativikasi yang diharamkan?

Kebiasaan berbagi tip ini juga menjadi pemandangan yang lumrah di sebagian besar kawasan Timur Tengah. Istilah tip, di negara-negara Arab dikenal dengan baqsyisy atau ikramiyyah.

Tip seperti yang berlaku pada umumnya, diberikan kepada para pelayan dan kurir, misalnya, sebagai bentuk ucapan terima kasih dan penghargaan atas penggunaan jasanya. Fenomena ini pun mengundang perhatian lembaga fatwa di negara-negara tersebut.

Ketua Lembaga Dar al-Ifta Mesir, Syekh Ali Jumah, mengatakan tip tersebut hukumnya boleh. Tapi, bukan sebuah kewajiban dari pengguna jasa. Ini diberikan sebagai bentuk ucapan terima kasih dan hadiah.

Pemberian tip tersebut, di luar akad transaksi antarkeduanya. Tip yang telah diberikan tidak boleh diambil oleh perusahaan atau pimpinan tempat si pelayan itu bekerja. Karenanya, ia berhak menyembunyikan tip dari bos tempat ia bekerja.

Ia mengutip hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abu Humaid As Saidi. Rasulullah SAW mengecam para pekerja yang mengharapkan hadiah.

Menurut Imam an-Nawawi, pelarangan dalam hadis tersebut berlaku bila yang bersangkutan berkorelasi langsung dengan otoritas pemerintahan. Ini tidak diperkenankan, tapi bila sekadar hadiah tak jadi soal. 

Sekjen Komite Fikih Amerika Serikat, Prof Shalah as-Shawi, berpendapat, pemberian tip diperbolehkan selama niatnya baik. Ini merupakan bentuk berlomba-lomba dalam kebajikan.

Pendapat ini juga diamini oleh Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait. Menurut pendapat tersebut, baqsyisy boleh diberikan kepada pekerja. 


Kubu yang kedua berpandangan hukum pemberian tip dilarang dan haram. Ini dikategorikan sebagai suap dan gratifikasi yang dihukumi haram menurut agama.
Opsi pelarangan ini merupakan simpulan yang dikeluarkan oleh sejumlah instansi fatwa, salah satunya Komite Tetap Kajian dan Fatwa Arab Saudi.
Tip berdasarkan kajian lembaga yang dipimpin oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz itu dinilai bisa menimbulkan beberapa mudarat. Baik dari segi pemberi atau penerima. 
Penerima tip akan selalu berharap dan bisa tersakiti hatinya jika tidak menerimanya. Ini bisa berdampak pula pada diskriminasi antarpengguna jasa. Pekerja atau pelayan itu, misalnya, hanya akan memberikan layanan terbaik bagi mereka para pemberi tip.
Aktivitas itu akan menjadi budaya yang jelek, yaitu meminta-minta. Sejumlah ulama Arab Saudi, menguatkan pendapat ini, di antaranya Syekh Shalih al-Fauzan dan Syekh Abdurrahman al-Barrak. 


Namun, mantan dekan Fakultas Ushuludin Universitas Al Azhar Mesir, Prof Muhammad al-Bahi, menyanggah pandangan kubu yang kedua. Menurutnya, tip dan gratifikasi atau suap tidak bisa disamakan. Keduanya, berbeda dari segi prinsip ataupun elemennya. 

Tip diperuntukkan bagi mereka yang berpenghasilan rendah dan tidak memiliki kekuasaan atau berhubungan langsung dengan pemerintah. Jumlah tipnya pun tidak besar, hanya sepantasnya saja. Sementara, grativikasi atau suap ialah pemberian bagi mereka yang berhubungan langsung dengan pemerintah. Misalnya, soal pemenangan tender proyek. 

Besaran suap dalam kasus semacam ini tentunya tidaklah kecil. Sekalipun kecil, pemberian kepada mereka yang berkepentingan dan mempunyai otoritas tersebut haram hukumnya. “Jadi, jangan samakan antara tip dan suap,” kata al-Bahi.




Selasa, 12 Mei 2009

Hadiah Terindah Untuk Anak


Dia menilai sukses atau gagalnya seseorang termasuk anaknya semata-mata dengan hitungan materi, benda atau uang.


Rosululloh SAW bersabda : "Tidaklah orangtua memberikan kepada anaknya pemberian yang lebih utama selain dari pendidikan yang baik " (HR. Tirmidzi & Thabrani)

Meskipun hadist ini dinilai lemah (dhaif) namuan isinya tidaklah bertentangan dengan Al Qur'an maupun hadist-hadist lain. Bahkan sebaliknya, baik ayat Al Qur'an maupun hadist-hadist,mendukung makna hadist diatas. Hadist ini menegaskan bahwa penberian terbaik dari ayah dan ibu untuk anaknya adalah pendidikan yang baik. Artinya, hadiah apapun yang diperenbahkanoleh orang tua kepada anak seperti hp, motor, mobil, rumah dan hal material lainnya, belumlah bermakna sebelum si orangtua mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik.

Rasululloh SAW juga bersabda, "Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan baik" (HR Ibnu Majah). Kita boleh bangga bahwa kita menjadi orangtua yang sholeh taat kepada Allah dan rajin beribadah. Akan tetapi pernahkah kita berpikir tentang generasi yang akan datang. Siapa yang akan melanjutkan kesalehan kita? siapa yang akan membuat kesalehan itu semakin menyebar sehingga kehidupan msyrakat menjadi lebih baik? Bagaiamana kondisi dan nasib kaum muslimin sepeninggal kita? Allah SWT menginformasikan kepada kita kegelisahan dan keresahan Nabi Zakaria saat menatap masa depan sementara dirinya saat itu belum diberikan keturunan yang akan melanjutkan jejak langkah perjuangannya.

Firman-Nya:
Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". (QS.19 : 1-6)

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.". Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS.02 : 132-134)

Mari perhatikan ayat diatas, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’qub AS mewasiatkan kepada anak-anaknya dua hal : Bangga menjadi Muslim dan Istiqomah sebagai muslim hingga menjemput ajal menjemput. Bahkan Nabi Ya’qub melakukan tes kepada anak-anaknya tentang siapa yang akan mereka sembah setelah beliau tiada, “Apa yang akan sembah sepeninggalku?” Dengan lantang dan penuh dan penuh kepastian, hasil pendidikan orangtuanya, mereka mengatakan , “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Hadiah dari orangtua berupa pendidikan urusannya tidak hanya sampai di dunia melainkan tembus hingga akhirat. Benarlah Allah SWT mengingatkan para orangtua agar seluruh angota keluarga terselamatkan dari azab Allah di hari Akhirat.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)

Agar mampu mempersembahkan hadiah terindah kepada anak, kita harus mampu menghilangkan segala kendala dan penghalang yang ada pada diri kita. Diantara kendala dan penghalang itu :

Pertama, pandangan materalistik terhadap kehidupan. Orang yang hanya memiliki pandangan materialis tentang kehidupan biasanya mengukur segala sesuatu dengan hitunagan materi, benda atau uang. Dia menilai sukses atau gagalnya seseorang termasuk anaknya semata-mata dengan hitungan materi, benda atau uang. Dia menilai anaknya sukses atau gagal dengan hitungan materi. Anaknya sukses ‘jadi manusia’ manakala si anak mampu mendapatkan kedudukan yang baik, uang yang banyak dan harta melimpah. Sementara anak yang miskin dianggap pasti gagal meskipun soleh.

Pandangan materialistik ini menyebabkan seseorang tidak peduli anaknya taat atau maksiyat kepada Allah SWT, tidak peduli berakhlak baik atau bururk yang penting uangnya banyak dan melimpah di kala telah dewasa.

Kedua, menjadi teladan yang buruk. Para ahli bijak mengatakan bahwa seribu nasihat tidaklah lebih berguna ketimbang satu kali perbuatan. Teladan menduduki posisi sangat penting dalam keberhasilan menddik anak. Bila seorag ayah bila setiap hari memberikan puluhan nasehat untuk berbuat jujur. Maka ribuan nasehat itu akan tumbang seketika ketika anaknya mendengar atau melihat langsung ayahnya berdusta.

Ketiga, kurang kesabaran. Perlu diingat bahwa pendidikan bukan dadakan. Perlu kesabaran yang prima dan besar untuk memberikan persembahan terindah kepada anak. Bukankah Rosukulloh SAW memerintahkan kita untuk mengajari anak shalat jauh sebelum masa dia menjadi mukallaf (terkena kewajiban) !

“Suruhlan anak-anak kalian shalat pada usia tujuh tahub dan ukulah bila sudah berusia sepuluh tahun (dan tidak mau melakukannya)” sabdanya. Jika kita mengitung perintah salat berdasarkan perintah nabi diatas, selama 3 tahun dan setiap waktu shalat berarti menghasilkan angka perintah yang sangat besar yakni : 5x365x3 = 5475 perintah/nasehat untuk salat.

Itulah urgensi pengulangan dalam pendidikan anak. Ada penelitian yang membuktikan bahwa informasi yang diulang satu kali hanya 10% saja yang bisa kita ingat akhir di bulan. Akan tetapi kalo informasi tersebut kita ulang sebanyak 6 kali dengan cara yang berbeda-beda maka kita akan mengingatnya 90%. Ini artinya anak akan senantiasa mengingat shalat dan urgensinya jika kita melakukan pentingnya melakukan ibadah shalat.

Dan hal ini tidak mungkin tercapai tanpa kesabaran. Jika setiap anak Indonesia mendapatkan hadiah terindah dari orangtuanya, yakni pendidikan yang baik, niscaya banyak persoalam yang akan dapat diselesaikan. Wallhu a’lam.

Penulis : Tata Qomaruddin, lahir di Tasikmalaya 24 Januari 1965.
Buku yang pernah diterbitkan di Percikan Iman adalah "Memperkaya Jiwa : Meneladani Akhlak Rasululloh".

Mukmin Berdaya dan Memberdayakan


Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah


Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing ada kebaikan. Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah.” (H.R. Imam Muslim)

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Al-Qadar bab Al-Amru bil-quwwati wa tarkil-'ajzi wal-isti'anati billah watafwidhil-maqadir lillah (Perintah untuk kuat dan meninggalkan kelemahan, meminta pertolongan kepada Allah dan menyerahkan urusan takdir kepada Allah)

Nilai kekuatan seorang mukmin yang paling utama terletak pada kekuatan iman dan takwa. Tapi itu saja belumlah cukup. Kekuatan fisik tidak kalah pentingnya. Itulah pesan yang disampaikan dalam hadis di atas. Tentang hadis ini, Al-Qurthubi menyatakan, "Al-Qowiy (orang yang kuat) dalam hadis ini adalah orang yang kuat badan dan jiwanya dan tinggi semangatnya. Dengan itu dia layak menjalani berbagai tugas ibadah seperti haji, shaum, memerintahkan kepada ma'ruf dan mencegah dari kemungkaran. Dan orang lemah adalah yang sebaliknya." (Dalam Nuzhatul-Muttaqin)

Seorang mukmin tidaklah hidup untuk dirinya sendiri. Kehadiran seorang mukmin dalam kehidupan haruslah memberi arti positif bagi kehidupan itu. Dia hidup untuk memberi kontribusi dan manfaat bagi orang banyak. Kiprah seorang mukmin dalam banyak ruang dan peran kehidupan akan sangat menentukan kualitas kehidupan itu. Ini tidak mungkin dilakukannya jika ia tidak berdaya. Kekuatan seorang mukmin dibutuhkan untuk menghadirkan kemaslahatan dalam banyak ranah kehidupan dan membuat masyarakat berdaya, misalnya dalam hal:

a. Sosial Politik
Salah satu indikasi keberdayaan politis adalah memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara; berani mengatakan ‘tidak’ bagi segala yang berada di luar jalur kebenaran; dan sebaliknya siap untuk mendukung bahkan berkorban untuk kebenaran. Islam juga memerintahkan muslim melakukan kontrol kepada penguasa dan pembelaan kepada yang tertindas. Islam telah menetapkan prinsip penting dalam kaitan dengan ini, “Tidak boleh taat kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Al-Khaliq (Allah swt.).”

“Tolonglah saudaramu baik dalam keadaan zalim ataupun dalam keadaan terzalimi.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kami mengerti tentang membela orang yang dizalimi. Tapi bagaimana membela orang yang zalim?” Rasulullah saw. menjawab, “Anda membimbing tangan mereka (untuk mencegah kezalimannya).” (H.R. Bukhari)

Muslim yang berdaya juga tidak pernah menyerah ketika berjuang menegakkan keadilan agar masyarakat dapat merasakan hak-hak mereka; agar mereka hidup dengan aman dan tenteram; agar mereka dapat merasakan kekayaan alam yang telah Allah karuniakan. Firman Allah swt.:

كي لا يكون دولة بين الأغنياء منكم

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

واتقوا الله إن الله شديد العقاب

"Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (Q.S. Al Hasyr 59: 7)

b. Ekonomi
Rasulullah saw. menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai langkah kedua setelah membangun masjid, ketika tiba di Madinah. Beliau menyadari bahwa kaum Yahudi telah lama menguasai pusat-pusat perdagangan. Bahkan merekalah pemilik pusat-pusat perdagangan itu. Akibatnya mereka menguasai hampir seluruh aset kota Madinah dan daerah-daerah sekelilingnya. Para Yahudi itu melakukan perdagangannya dengan cara monopli sehingga kendali harga berada di tangan mereka. Sungguh sangat tepat ketika Rasulullah saw. memutuskan untuk membangun pusat perdagangan kaum Muslimin. Maka ketika kaum Muslimin dalam perilaku bisnisnya menampilkan sikap dan sifat terpuji, masyarakat serta merta menyambut kehadiran pasar yang dibangun oleh Rasulullah saw. itu dan ini artinya mulai meninggalkan sentra-sentra perdagangan Yahudi. Pada gilirannya pasar berada dalam kendali Rasulullah saw. dan secara ekonomi Madinah beralih ke tangan beliau.

Secara operasional, Rasulullah saw. juga terlibat langsung dalam penyelesaian berbagai masalah ekonomi yang terjadi pada para sahabat. Sampai-sampai beliau membantu melelangkan beberapa barang milik sahabat yang membutuhkan modal. Dalam sebuah hadis disebutkan,

“Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw. guna mengadukan perihal kemelaratan yang dideritanya, lalu ia pulang. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadanya, ‘Pergilah hingga kamu mendapatkan sesuatu (untuk dijual).’ Orang itu lalu pergi dan pulang lagi (menghadap Rasulullah saw.) dengan membawa sehelai kain dan sebuah cangkir. Orang itu lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, sebagian kain ini biasa digunakan keluarga saya sebagai alas dan sebagiannya lagi sebagai penutup tubuh. Sedangkan cangkir ini biasa mereka gunakan sebagai tempat minum.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga satu dirham?’ seorang laki-laki menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. berkata lagi, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga lebih dari satu dirham.’ Seorang laki-laki mengatakan, ‘Aku akan membelinya dengan harga dua dirham.’ Rasulullah saw. berujar, ‘Kalau begitu kedua barang itu untuk kamu.’ Lalu Rasulullah saw. memanggil orang (yang menjual barang) itu seraya mengatakan, ‘Belilah kapak dengan satu dirham dan makanan untuk keluargamu dengan satu dirham.’ Orang itu kemudian melaksakan perintah itu lalu datang lagi kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw. memerintahkan kepadanya, ‘Pergilah ke lembah itu, dan janganlah kamu meninggalkan ranting, duri, atau kayu bakar. Dan janganlah kamu menemuiku selama lima belas hari.’ Maka orang itu pun pergi dan mendapatkan uang sepuluh dirham. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Pergi dan belilah makanan untuk keluargamu dengan uang lima dirham.’ Orang itu mengatakan, “Ya Rasulullah, Allah telah memberikan barokah dalam apa yang kauperintahkan kepadaku.” (H.R. Baihaqi)

c. Kesehatan Fisik dan Kesehatan Lingkungan

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. menurunkan penyakit dan obat. Dan Allah telah menyediakan obat untuk setiap penyakit. Maka berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” (Sunan Abu Dawud juz 4 hal. 7 no. 3847).

Ini menunjukkan bahwa keberdayaan dan kekuatan fisik telah menjadi perhatian Islam sejak awal. Islam juga sangat peduli dengan pemeliharaan lingkungan agar tidak terjadi pencemaran atau berkembangnya bibit penyakit. Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah tiga perbuatan terkutuk: buang air besar di sumber-sumber air, di jalan, dan di bawah bayang-bayang (tempat berteduh).” (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain)

d. Pelestarian Alam

Seorang mukmin mendapat amanah untuk menjaga amanah Allah swt. berupa alam semesta ini. Dalam masalah pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah keberesannya.” (Q.S. Al A'raf 7: 56).

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memotong pohon bidara, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.” (H.R. Abu Dawud)

Dalam menjelaskan hadis ini Imam Abu Dawud mengatakan, “Barangsiapa menebang pohon bidara yang tumbuh di tengah lapang yang dipergunakan sebagai tempat berteduh orang yang lewat ataupun binatang, karena main-main dan berlaku zalim, tanpa ada kebenaran padanya, maka Allah akan menenggelamkan kepalanya di neraka.” Ini menegaskan bahwa pepohonan tidak boleh ditebang kecuali sekadar kebutuhan dan itupun harus dengan perhitungan yang cermat.

Islam juga menghargai dan memuji orang yang memfungsikan tanah yang mati atau terbengkalai agar menjadi subur dan produktif. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka dengannya ia mendapatkan pahala. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka dengannya ia mendapatkan pahala.” (H.R. Ahmad)

Bahkan lebih ‘ekstrem’ dari itu, saat akan terjadi kiamat sekalipun, jangan berhenti menanam. Rasulullah saw. bersabda, “Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan seseorang di antara kalian ada benih tanaman, maka selama ia mampu menanamnya sebelum berdiri maka lakukanlah.” (H.R. Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad)

Untuk mewujudkan kemaslahatan dan keberdayaan seperti itu tidak bisa tidak seorang mukmin memerlukan kekuatan dan keberdayaan. Oleh karena itu Rasulullah saw. memesankan,

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

"Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah." Wallahu a'lam.

Sabtu, 09 Mei 2009

Perguruan Tinggi Tertua di Dunia


Peradaban Islam di era keemasan selalu tampil sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah mencatat, para ilmuwan Muslim telah sukses membidani lahirnya lembaga pendidikan tinggi bernama universitas (jami'ah). Ketika 'rahim' peradaban Islam melahirkan universitas, tak ada satu pun peradaban di muka bumi yang mengenal sistem pendidikan tinggi.

Universitas alias jami'ah pertama yang lahir dari rahim peradaban Islam adalah Universitas Al-Qarawiyyin (Jami'ah Al-Qarawiyyin). Perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko itu didirikan pada tahun 859 M. Tak heran, jika Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez. Syahdan, di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih seperti sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ''Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.''

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam adalah dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari sang ayah. Fatimah lalu menggunakan harta warisannya itu untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin pertama di muka bumi itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.

Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu meluber. Sehingga, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Alquran serta menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu umum.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas itu.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa risalah penting yang tersimpan di perpustakaan itu antara lain; 'Mutta of Malik', ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul 'Al-'Ibar'. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya itu kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam.

Universitas Al-Qarawiyyin tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan. Sebagai kawah candra dimuka bagi para ilmuwan, universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi - yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki.

Peradaban Barat tampaknya turut berutang budi kepada Universitas Al-Qarawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan perguruan tinggi yang terletak di kota Fez itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di kota Fez.

Para ilmuwan itu antara lain; filosof dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M - 1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarawiyyin; Geografer dan kartografer (pembuat peta) Al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini. Selain itu, sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain; Ibn Al-'Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II, turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarawiyyin. Sebelum menjadi Paus, Gerbert of Aurillac (930 M - 1003 M) sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Aurillac mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain pun tercatat sempat belajar bahasa Arab di Universitas Al-Qarawiyyin.

Selain itu, sejarawan Muslim bernama Joannes Leo Africanus juga sempat belajar di Universitas Al-Qarawiyyin. Hingga kini, universitas ini tetap mendidik dan mencetak para sarjana dari berbagai bidang. Sumbangan yang diberikan universitas ini bagi pengembangan ilmu agama Islam serta dunia ilmu pengetahuan begitu besar.

Obor Renaisans dari Kota Fez
Universitas Al-Qarawiyyin secara tak langsung memiliki peran penting dalam proses Renaisans yang terjadi dalam peradaban Barat di abad ke-15 M. Melalui kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang ditransfer para ilmuwan Muslim yang belajar atau yang mengajar di universitas tertua ini, masyarakat Eropa mulai tercerahkan. Eropa pun membebaskan dirinya dari kungkungan 'kegelapan'.

Tak heran, bila Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 menabalkan Universitas Al-Qarawiyyan sebagai obor Renaisans di Fez, Maroko. Pemimpin tertinggi agama Katolik bernama Paus Sylvester II bahkan pernah menimba ilmu di universitas itu. Ia belajar matematika di universitas itu dan kemudian mengajarkannya pada murid-muridnya di Eropa.

Selain itu, banyak pula tokoh penggerak Renaisans di Barat yang terpengaruh dengan ilmuwan Muslim yang mengajar di Universitas Al-Qarawiyyan. Kehadiran universitas di dunia Muslim pun turut memicu berdirinya perguruan tinggi di Eropa. Bila dunia Islam telah memiliki universitas di abad ke-9 M, masyarakat Barat baru mengenal sistem pendidikan tinggi pada abad ke-11 M.

Perguruan tinggi pertama yang didirikan oleh peradaban Barat adalah Universitas Bologna di Italia. Universitas itu didirikan pada tahun 1088 M. Sejatinya, Universitas Balermo bukanlah pergurun tinggi pertama yang berdiri di tanah Eropa. Ketika Islam menguasai Sicilia - wilayah selatan Italia - di Palermo telah berdiri universitas Islam terkemuka yakni Universitas Balerm atau Palermo.

Hal itu sesuai dengan catatan perjalanan penjelajah Muslim terkemuka Ibnu Hawqal. Dalam catatan perjalanannya berjudul Al-Masalik wal MamlikI menuturkan, pada tahun 972 M di wilayah Italia Selatan itu telah berdiri Universitas Palermo. Selain itu, di Cordoba, Spanyol juga peradaban Islam pada era kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III yang berkuasa pada tahun 929 M - 961 M juga telah mendirikan Universitas Cordoba di daratan Eropa.

Universitas lainnya mulai muncul di negara lain di Eropa, seperti Inggris dan Prancis mulai abad ke-12 M. Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua di dunia selalu disebut sebagai lembaga pencerahan. Namun, Lyautey, seorang Jenderal Prancis yang memimpin pasukan di Maroko pada era kolonial menyebut Al-Qarawiyyin sebagai the Dark House (Rumah Kegelapan). ''Sebuah komentar dari orang yang tak menghormati peradaban,'' ungkap para sejarawan.

Yang Tua yang Berjaya Di Dunia Islam
- 859 M: Universitas Al-Qarawiyyin berdiri di kota Fez, Maroko. Inilah universitas tertua di dunia menurut Guinness Book of World Records.
- 975 M: Universitas Al-Azhar berdiri di Kairo, Mesir. Pada awalnya, universitas ini mengajarkan ilmu agama, hukum, tata bahasa, filsafat dan logika.
- 1233 M: Universitas Mustansiriya didirikan Khalifah Al-Mustansir penguasa Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1962 bergabung dengan Universitas Baghdad. Setahun kemudian kembali ke nama semula.
- 1327 M: Nun jauh di Timbuktu, Mali berdiri Universitas Sankore yang didirikan Kankan Musa.
- 1453 M: Ketika Kerajaan Ottoman berkuasa, di Istanbul berdiri Universitas Istanbul. Awalnya merupakan sekolah tingi filsafat dan ilmu agama. Kini, telah menjadi universitas sains dan seni terkemuka di Turki.
Di Barat
- 1088 M: Berdiri Universitas Bologna di Italia.
- 1150 M: Berdiri Universitas Paris, di Prancis.
- 1167 M: Berdiri Universitas Oxford di Inggris. hri


Penulis : heri ruslan
REPUBLIKA - Kamis, 21 Agustus 2008

Pentingnya Mencari Ilmu Pengetahuan







Abu Rayhan al-Biruni adalah seorang ilmuwan besar, fisikawan, astronom, sosiolog, sastrawan, sejarawan dan matematikawan yang nilainya tidak pernah diketahui. Dia dipertimbangkan sebagai bapak dari unified field theory (teori segala sesuatu -pen) oleh peraih penghargaan Nobel Profesor Abdus Salam. Abu Rayhan al-Biruni hidup hampir seribu tahun yang lalu dan sezaman dengan Ibn Sina (Avicenna) dan Sultan Mahmoud Ghazni.

Pada saat menjelang akhir hayatnya, Biruni dikunjungi oleh tetangganya yang merupakan ahli fiqih. Abu Rayhan masih dalam keadaan sadar, dan tatkala melihat sang ahli fiqih, dia bertanya kepadanya tentang hukum waris dan beberapa hal yang berhubungan dengannya. Sang ahli fiqih terkesima melihat seseorang yang sekarat masih tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut.

Abu Rayhan berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu: mana yang lebih baik, meninggal dengan ilmu atau meninggal tanpanya?” Sang ahli fiqih menjawab, “Tentu saja lebih baik mengetahui dan kemudian meninggal.” Abu Rayhan berkata, “Untuk itulah aku menanyakan pertanyaanku yang pertama.” Beberapa saat setelah sang ahli fiqih tiba dirumahnya, tangisan duka mengatakan kepadanya bahwa Abu Rayhan telah meninggal dunia. (Murtaza Mutahhari: Khutbah Keagamaan)

Oleh Dr. Habib Siddiqui, Philadelphia, Amerika Serikat.
Sumber artikel dari www.islamicity.com
Penerjemah artikel: Dimas Tandayu

Jumat, 08 Mei 2009

Al-Zahrawi, Bapak Ilmu Bedah Modern


Di era keemasannya, peradaban Islam memiliki seorang dokter bedah yang paling top. Kontri - businya sungguh sangat besar bagi pengembangan ilmu bedah. Selain melahirkan prosedur dan metode ilmu bedah modern, dia juga menciptakan beragam alat dan teknologi yang digunakan untuk bedah. Tak heran bila dunia pun mendapuknya sebagai ‘Bapak Ilmu Bedah Modern’.

Peletak dasar-dasar ilmu bedah modern itu bernama Al-Zahrawi (936 M -1013 M). Orang Barat mengenalnya sebagai Abulcasis. Al-Zahrawi adalah seorang dokter bedah yang amat fenomenal. Karya dan hasil pemikirannya banyak diadopsi para dokter di dunia Barat. ‘’Prinsipprinsip ilmu kedokteran yang diajarkan Al- Zahrawi menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di Eropa,’‘ ujar Dr Campbell dalam History of Arab Medicine.

Ahli bedah yang termasyhur hingga ke abad 21 itu bernama lengkap Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi. Ia terlahir pada tahun 936 M di kota Al-Zahra, sebuah kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol. Al-Zahrawi merupakan keturunan Arab Ansar yang menetap di Spanyol. Di kota Cordoba itulah dia menimba ilmu, mengajarkan ilmu kedokteran, mengobati masyarakat, serta mengembangkan ilmu bedah bahkan hingga tutup usia.

Kisah masa kecilnya tak banyak terungkap. Sebab, tanah kelahirannya Al- Zahra dijarah dan dihancurkan. Sosok dan kiprah Al-Zahrawi baru terungkap ke permukaan, setelah ilmuwan Andalusia Abu Muhammad bin Hazm (993 M - 1064 M) menempatkannya sebagai salah seorang dokter bedah terkemuka di Spanyol. Sejarah hidup alias biografinya baru muncul dalam Al-Humaydi’s Jadhwat al- Muqtabis yang baru rampung setelah enam dasawarsa kematiannya.

Al-Zahrawi mendedikasikan separuh abad masa hidupnya untuk praktik dan mengajarkan ilmu kedokteran. Sebagai seorang dokter termasyhur, Al-Zahrawi pun diangkat menjadi dokter Istana pada era Kekhalifahan Al-Hakam II di Andaluasia. Berbeda dengan ilmuwan Muslim kebanyakan, Al-Zahrawi tak terlalu banyak melakukan perjalanan. Ia lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk merawat korban kecelakaan serta korban perang.

Para dokter di zamannya mengakui bahwa Al-Zahrawi adalah seorang dokter yang jenius terutama di bidang bedah. Jasanya dalam mengembangkan ilmu kedokteran sungguh sangat besar. Al- Zahrawi meninggalkan sebuah ‘harta karun’ yang tak ternilai harganya bagi ilmu kedokteran yakni berupa Kitab Al-Tasrif li man ajaz an-il-taliI sebuah ensiklopedia kedokteran. Kitab yang dijadikan sekolah kedokteran di Eropa itu terdiri dari 30 volume.

Dalam kitab yang diwariskannya bagi peradaban dunia itu, Al-Zahrawi secara rinci dan lugas mengupas tentang ilmu bedah, orthopedi, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Ia juga mengupas tentang kosmetika. Al-Zahrawi pun ternyata begitu berjasa dalam bidang kosmetika. Sederet produk kosmetika seperti deodoran, hand lotion, pewarna rambut yang berkembang hingga kini merupakan hasil karya Al-Zahrawi.

Popularitas Al-Zahrawi sebagai dokter bedah yang andal menyebar hingga ke seantero Eropa. Tak heran, bila kemudian pasien dan anak muda yang ingin belajar ilmu kedokteran dari Abulcasis berdatangan dari berbagai penjuru Eropa. Menurut Will Durant, pada masa itu Cordoba menjadi tempat favorit bagi orang-orang Eropa yang ingin menjalani operasi bedah. Di puncak kejayaannya, Cordoba memiliki tak kurang 50 rumah sakit yang menawarkan pelayanan yang prima.

Sebagai seorang guru ilmu kedokteran, Al-Zahrawi begitu mencintai murid-muridnya. Dalam Al-Tasrif, dia mengungkapkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan siswanya. Al-Zahrawi pun mengingatkan kepada para muridnya tentang pentingnya membangun hubungan yang baik dengan pasien. Menurut Al-Zahrawi, seorang dokter yang baik haruslah melayani pasiennya sebaik mungkin tanpa membedakan status sosialnya.

Dalam menjalankan praktik kedokterannya, Al-Zahrawi menankan pentingnya observasi tertutup dalam kasus-kasus individual. Hal itu dilakukan untuk tercapai - nya diagnosis yang akurat serta kemung - kin an pelayanan yang terbaik. Al-Zahrawi pun selalu mengingatkan agar para dokter untuk berpegang pada norma dan kode etik kedokteran, yakni tak menggunakan profesi dokter hanya untuk meraup keuntungan materi.

Menurut Al-Zahrawi profesi dokter bedah tak bisa dilakukan sembarang orang. Pada masa itu, dia kerap mengingatkan agar masyarakat tak melakukan operasi bedah kepada dokter atau dukun yang mengaku-ngaku memiliki keahlian operasi bedah. Hanya dokter yang memiliki keahlian dan bersertifikat saja yang boleh melakukan operasi bedah. Mungkin karena itulah di era modern ini muncul istilah dokter spesialis bedah (surgeon).

Kehebatan dan profesionalitas Al- Zahrawi sebagai seorang ahli bedah diakui para dokter di Eropa. ‘’Tak diragukan lagi, Al-Zahrawi adalah kepala dari seluruh ahli bedah,’‘ ucap Pietro Argallata. Kitab Al- Tasrif yang ditulisnya lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard of Cremona pada abad ke-12 M. Kitab itu juga dilengkapi dengan ilustrasi. Kitab itu menjadi rujukan dan buku resmi sekolah kedokteran dan para dokter sera ahli bedah Eropa selama lima abad lamanya pada periode abad pertengahan.

Sosok dan pemikiran Al-Zahrawi begitu dikagumi para dokter serta mahasiswa kedokteran di Eropa. Pada abad ke-14 M, seorang ahli bedah Prancis bernama Guy de Chauliac mengutip Al-Tasrif hampir lebih dari 200 kali. Kitab Al-Tasrif terus menjadi pegangan para dokter di Eropa hingga terciptanya era Renaissance. Hingga abad ke- 16 M, ahli bedah berkebangsaan Prancis , Jaques Delechamps (1513 M - 1588 M) masih menjadikan Al-Tasrif sebagai rujukan.

Al-Zahrawi tutup usia di kota Cordoba pada tahun 1013 M - dua tahun setelah tanah kelahirannya dijarah dan dihancurkan. Meski Corboba kini bukan lagi menjadi kota bagi umat Islam, namun namanya masih diabadikan menjadi nama jalan kehormatan yakni ‘Calle Albucasis’. Di jalan itu terdapat rumah nomor 6 yakni rumah tempat Al-Zahrawi tinggal. Kini rumah itu menjadi cagar budaya yang dilindungi Badan Kepariwisataan Spanyol.

Sang Penemu Puluhan Alat Bedah Modern

Selama separuh abad mendedikasikan dirinya untuk pengembangan ilmu kedokteran khususnya bedah, Al-Zahrawi telah menemukan puluhan alat bedah modern. Dalam Kitab Al-Tasrif, ‘Bapak Ilmu Bedah’ itu memperkenalkan lebih dari 200 alat bedah yang dimilikinya. Di an tara ratusan koleksi alat bedah yang dipunyainya, ternyata banyak peralatan yang tak pernah digunakan ahli bedah sebelumnya.

Menurut catatan, selama karirnya Al-Zahrawi telah menciptakan atau menemukan 26 peralatan bedah. Salah satu alat bedah yang ditemukan dan digunakan Al-Zahrawi adalah catgut. Alat yang d gu nakan Al-Zahrawi untuk menjahit bagian dalam itu hingga kini masih digunakan ilmu bedah modern. Selain itu, juga menemukan forceps untuk mengangkat janin yang meninggal. Alat itu digambarkan dalam Kitab Al-Tasrif.

Dalam Al-Tasrif, Al-Zahrawi juga memperkenalkan penggenaan ligature 9benang pengikat luka) untuk mengontrol pendarahaan arteri. Ja rum bedah ternyata juga ditemukan dan dipapar kan secara jelas oleh Al-Zahrawi dalam kitabnya yang paling fenomenal itu. Selain itu, Al-Zahrawi juga memperkenalkan sedere alat bedah lain hasil penemuannya dalam Kitab Al-Tasrif.

Peralatan penting untuk bedah yang ditemukan Al-Zahrawi itu antara lain, pisau bedah (scalpel), curette, retractor, sendok bedah (surgical spoon), sound, pengait bedah (surgical hook), surgical rod, dan specula. Tak cuma itu, Al-Zahrawi juga menemukan peralatan bedah yang digunakan untuk memeriksi dalam uretra, alat untuk memindahkan benda asing dari tenggorokan serta alat pemeriksa telinga. Kontribusi Al- Zahrawi bagi dunia kedokteran khususnya bedah hingga kini tetap dikenang dunia. hri


Dr Mehmet Oz, Sang Pelanjut Kejayaan Al-Zahrawi

Jika di abad pertengahan umat Islam memiliki Al-Zahrawi seorang ahli bedah nomor satu di Eropa, di millenium baru ini Islam pun memiliki Dr Mehmet Oz dokter bedah nomor wahid di Amerika Serikat (AS). Kiprah gemilang Mehmet Oz sebagai ahli bedah jantung di AS mendapat pengakuan dari majalah Timesebagai salah satu dari 100 orang berpengaruh di dunia.

Mehmet Oz nama yang mengingatkan kita pada kehebatan Sultan Mehmet II dari Kerajaan Usmani erlahir pada 12 Juni 1960. Ia merupakan keturunan Turki. Dokter bedah yang dalam setahun sukses melakukan 400 operasi bedah itu lahir di Cleveland, Ohio. Sang ayah juga merupakan ilmuwan terkemuka bernama Profesor Mustafa Oz. Mehmet Oz menimba ilmu pada Tower Hill School di Wilmington, Delaware. Pada tahun 1982, dia menyabet gelar sarjananya dari Harvard University. Empat tahun kemudian, Mehmet meraih gelar MBA dari University of Pennsylvania School of Medicine dan The Wharton School.

Kini, Mehmet adalah seorang guru besar Ilmu Bedah Jantung pada Columbia University. Dia juga tercatat memimpin Heart Assist Device Program. Selain itu, Mehmet merupakan seorang pendiri Complementary Medicine Program di NewYork-Presbyterian Hospital. Salah satu penelitiannya adalah bedah ganti jantung.

Mehmet semakin diakui kiprahnya di bidang ilmu bedah jantung di AS dan dunia setelah mampu menghasilkan 350 artikel orisinil yang dimuat berbagai media bergeng si dunia. Dia pun banyak menulis buku. Sela in itu, dia sukses mengoperasi jantung 400 pasien dalam setahun. Saat ini, Mehmet pun dipercaya menjadi direktur Siga Technologies sebuah perusahaan bioteknologi.

Selain didaulat majalah Timesebagai 100 tokoh berpengaruh dunia, Mehmet pun sempat didapuk sebuah majalah terkemuka lainnya di AS menjadi dokter spesialis bedah jantung nomor wahid di New York. Mehmet paling tidak telah melanjutkan kiprah yang pernah dicatat Al-Zahrawi sebagai seorang dokter bedah Muslim terkemuka di abad ke 10 M.hri


By Republika Newsroom
Sabtu, 14 Maret 2009 pukul 17:38:00

Perguruan Tinggi Tertua di Dunia


Peradaban Islam di era keemasan selalu tampil sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah mencatat, para ilmuwan Muslim telah sukses membidani lahirnya lembaga pendidikan tinggi bernama universitas (jami'ah). Ketika 'rahim' peradaban Islam melahirkan universitas, tak ada satu pun peradaban di muka bumi yang mengenal sistem pendidikan tinggi.

Universitas alias jami'ah pertama yang lahir dari rahim peradaban Islam adalah Universitas Al-Qarawiyyin (Jami'ah Al-Qarawiyyin). Perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko itu didirikan pada tahun 859 M. Tak heran, jika Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez. Syahdan, di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih seperti sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ''Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.''

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam adalah dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari sang ayah. Fatimah lalu menggunakan harta warisannya itu untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin pertama di muka bumi itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.

Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu meluber. Sehingga, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Alquran serta menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu umum.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas itu.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa risalah penting yang tersimpan di perpustakaan itu antara lain; 'Mutta of Malik', ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul 'Al-'Ibar'. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya itu kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam.

Universitas Al-Qarawiyyin tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan. Sebagai kawah candra dimuka bagi para ilmuwan, universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi - yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki.

Peradaban Barat tampaknya turut berutang budi kepada Universitas Al-Qarawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan perguruan tinggi yang terletak di kota Fez itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di kota Fez.

Para ilmuwan itu antara lain; filosof dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M - 1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarawiyyin; Geografer dan kartografer (pembuat peta) Al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini. Selain itu, sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain; Ibn Al-'Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II, turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarawiyyin. Sebelum menjadi Paus, Gerbert of Aurillac (930 M - 1003 M) sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Aurillac mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain pun tercatat sempat belajar bahasa Arab di Universitas Al-Qarawiyyin.

Selain itu, sejarawan Muslim bernama Joannes Leo Africanus juga sempat belajar di Universitas Al-Qarawiyyin. Hingga kini, universitas ini tetap mendidik dan mencetak para sarjana dari berbagai bidang. Sumbangan yang diberikan universitas ini bagi pengembangan ilmu agama Islam serta dunia ilmu pengetahuan begitu besar.

Obor Renaisans dari Kota Fez
Universitas Al-Qarawiyyin secara tak langsung memiliki peran penting dalam proses Renaisans yang terjadi dalam peradaban Barat di abad ke-15 M. Melalui kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang ditransfer para ilmuwan Muslim yang belajar atau yang mengajar di universitas tertua ini, masyarakat Eropa mulai tercerahkan. Eropa pun membebaskan dirinya dari kungkungan 'kegelapan'.

Tak heran, bila Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 menabalkan Universitas Al-Qarawiyyan sebagai obor Renaisans di Fez, Maroko. Pemimpin tertinggi agama Katolik bernama Paus Sylvester II bahkan pernah menimba ilmu di universitas itu. Ia belajar matematika di universitas itu dan kemudian mengajarkannya pada murid-muridnya di Eropa.

Selain itu, banyak pula tokoh penggerak Renaisans di Barat yang terpengaruh dengan ilmuwan Muslim yang mengajar di Universitas Al-Qarawiyyan. Kehadiran universitas di dunia Muslim pun turut memicu berdirinya perguruan tinggi di Eropa. Bila dunia Islam telah memiliki universitas di abad ke-9 M, masyarakat Barat baru mengenal sistem pendidikan tinggi pada abad ke-11 M.

Perguruan tinggi pertama yang didirikan oleh peradaban Barat adalah Universitas Bologna di Italia. Universitas itu didirikan pada tahun 1088 M. Sejatinya, Universitas Balermo bukanlah pergurun tinggi pertama yang berdiri di tanah Eropa. Ketika Islam menguasai Sicilia - wilayah selatan Italia - di Palermo telah berdiri universitas Islam terkemuka yakni Universitas Balerm atau Palermo.

Hal itu sesuai dengan catatan perjalanan penjelajah Muslim terkemuka Ibnu Hawqal. Dalam catatan perjalanannya berjudul Al-Masalik wal MamlikI menuturkan, pada tahun 972 M di wilayah Italia Selatan itu telah berdiri Universitas Palermo. Selain itu, di Cordoba, Spanyol juga peradaban Islam pada era kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III yang berkuasa pada tahun 929 M - 961 M juga telah mendirikan Universitas Cordoba di daratan Eropa.

Universitas lainnya mulai muncul di negara lain di Eropa, seperti Inggris dan Prancis mulai abad ke-12 M. Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua di dunia selalu disebut sebagai lembaga pencerahan. Namun, Lyautey, seorang Jenderal Prancis yang memimpin pasukan di Maroko pada era kolonial menyebut Al-Qarawiyyin sebagai the Dark House (Rumah Kegelapan). ''Sebuah komentar dari orang yang tak menghormati peradaban,'' ungkap para sejarawan.

Yang Tua yang Berjaya Di Dunia Islam
- 859 M: Universitas Al-Qarawiyyin berdiri di kota Fez, Maroko. Inilah universitas tertua di dunia menurut Guinness Book of World Records.
- 975 M: Universitas Al-Azhar berdiri di Kairo, Mesir. Pada awalnya, universitas ini mengajarkan ilmu agama, hukum, tata bahasa, filsafat dan logika.
- 1233 M: Universitas Mustansiriya didirikan Khalifah Al-Mustansir penguasa Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1962 bergabung dengan Universitas Baghdad. Setahun kemudian kembali ke nama semula.
- 1327 M: Nun jauh di Timbuktu, Mali berdiri Universitas Sankore yang didirikan Kankan Musa.
- 1453 M: Ketika Kerajaan Ottoman berkuasa, di Istanbul berdiri Universitas Istanbul. Awalnya merupakan sekolah tingi filsafat dan ilmu agama. Kini, telah menjadi universitas sains dan seni terkemuka di Turki.
Di Barat
- 1088 M: Berdiri Universitas Bologna di Italia.
- 1150 M: Berdiri Universitas Paris, di Prancis.
- 1167 M: Berdiri Universitas Oxford di Inggris. hri

By Republika Newsroom
Kamis, 19 Maret 2009 pukul 10:12:00

Kamis, 07 Mei 2009

Revolusi Paradigma Pendidikan



Kemanakah arah pendidikan nasional kita? Tidak jelas yang dituju. Centang perenang kebijakan pendidikan baik karena aktor maupun sistemnya membuat arah pendidikan nasional tidak pernah jelas yang mau dicapai.

Budaya Instan

Kita setuju secara teoritik bahwa pendidikan adalah untuk memerdekakan. Tapi dalam tindakan, sampai saat ini kita tak pernah sampai pada kesadaran bahwa pendidikan merupakan proses menjadikan manusia berpikir merdeka dan dengan demikian diikuti tindakan-tindakan yang mendukungnya. Alih-alih demikian, pendidikan kita tidak pernah sampai pada proses pemerdekaan itu sendiri, melainkan sering justru menjadi belenggu.

Merdeka bukan berarti liar tanpa aturan atau tidak mau diatur. Berpikir merdeka dalam pengertian ini membuat manusia memiliki daya nalar yang kritis serta mampu menentukan pilihan dalam hidupnya.

Dalam konteks globalisasi pilihan lebih banyak ditentukan oleh apa yang terlihat oleh pancaindra. Pilihan ini bukan digerakkan daya nalar yang sehat melainkan hanya sekedar pemenuhan akan kebutuhan penyenangan indrawi belaka. Media iklan yang begitu dahsyat kerapkali membuat mata kita tidak lagi awas. Ini menciptakan mentalitas konsumtif. Fenomena ini sekarang membudaya dalam sanubari publik bangsa ini. Semua serba instan.

Budaya instan alias siap saji membuat manusia tidak lagi berpikir jangka panjang. Kebijakan pendidikan pun terjebak pada budaya instan. Pendidikan seperti ini amat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Cita-cita pendidikan yang mencerdaskan rakyat hanyalah angan-angan saja.

Untuk menjadikan bangsa ini cerdas diperlukan politik pendidikan yang bervisi jelas, yakni memanusiakan manusia dan menjadikannya sebagai pribadi merdeka. Merdeka dalam arti yang mendalam, yakni membuat orang tidak tergantung kepada hal yang melekat dalam dirinya. Kelekatan akan harta benda serta jabatan membuat orang tidak merdeka secara mendasar.

Merasakan Derita Orang Lain

Kemerdekaan membuat manusia memiliki keluhuran budi serta kemampuan merasakan derita orang lain. Kemerdekaan akan membuat manusia Indonesia tidak hanya berpikir bagi dirinya sendiri.

Bangsa ini kehilangan daya kreavitas karena miskin cita-cita dan gagasan. Politik tidak lagi mampu melahirkan gagasan besar untuk membangun sebuah cita-cita besar bagaimana membawa gerbang Indonesia menuju masa depan berperadaban. Inilah yang membuat bangsa ini terpuruk karena kurangnya cita rasa dan karsa dalam perilaku sehari-hari kita.

Hal ini terjadi karena insan pendidikan yang dihasilkan adalan sosok instan yang cenderung berpikir konsumerstik. Aura batin kita tak mampu menembus mata hati yang berkesadaran dalam menciptakan cara berpikir dan bertindak dalam kerangka kemanusiaan dan keadilan. Hal ini tak akan pernah menjadi gagasan dasar dalam membentuk perilaku bangsa selama pendidikan hanya sebagai alat politik pengusaha. Pendidikan tak akan pernah menyentuh kesadaran dan melahirkan manusia rasional, selama kita dididik dalam dunia yang penuh mitos dan janji.

Prinsip dasar pendidikan adalah melahirkan manusia untuk belajar berbagi kepada sesama. Prinsip itu dijabarkan dalam proses menjadi manusia merdeka. Manusia yang berani meloncat dari pemenuhan kebutuhan akan dirinya sendiri menuju pada empati dan membantu orang lain.

Proses ini bisa dilampui bila ada kesadaran bersama bahwa kesejahteraan harus diraih untuk semuanya. Jadi pendidikan bukan untuk proses individual saja, dan akan melahirkan manusia dengan karakter individualistik. Harus disadari bahwa kenyataan distribusi kesejahteran pada bangsa ini sangat timpang.

Polarisasi dan Diskriminasi

Bayangkan jika hanya lebih kurang 2 persen saja yang menguasai hajat hidup orang banyak. Kesenjangan ini membuat proses pendidikan menjadi sekedar alat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saja. Kebutuhan daya nalar tak bisa terpenuhi bila ’kemerdekaan’ dan ’kesejahteraan’ tidak dijadikan fokus utama dalam pandangan pendidikan ini.

Dalam duna pendidikan sendiri ternyata tidak mengajarkan bagaimana jurang stratifikasi sosial itu dihentikan dan setiap murid mendapatkan perlakuan yang sama dan wajar. Pendidikan justru jelas-jelas mengajarkan bagaimana diskriminasi dilakukan.

Ini merupakan cermin nyata dampak integrasi pendidikan dalam pasar bebas. Jelas bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, berangkat dari soal-soal yang dikemukakan di atas, sebenarnya implikasi yang paling logis diterima atas kebijakan itu adalah mahalnya biaya pendidikan. Ada kesenjangan yang tidak sulit dipahami dengan mata telanjang, terutama ketika kaum elit berebut kue pembangunan, dan kaum miskin semata-mata tetap menjadi obyek pembangunan.

Terintegrasinya dunia pendidikan ke dalam pasar bebas dengan konsekuensi sebagaimana dipaparkan di atas di satu pihak, adalah fenomena yang tidak sebanding ataupun berlainan sama sekali dengan ketidakberdayaan ekonomi masyarakat di lain pihak. Jika di negara-negara maju, pendidikan yang berbiaya mahal tidak mendapatkan protes adalah karena masyarakatnya yang melihat kemampuan dirinya untuk mengakses dunia pendidikan tersebut.

Arah pendidikan tidak bisa dilepaskan dalam kerangka politik bangsa dalam menciptakan masyarakat sejahtera. Dalam hal ini kecenderungan pengambil kebijakan hanya berpikir secara dikotomis.

Roh pendidikan tak diarahkan untuk mendidik manusia menyadari kenyataan lingkungannya. Ironis pula ketika globalisasi yang begitu dahsyat justru dimanfaatkan para pelaku media untuk menjual mitos dan irasionalitas. Hal ini berbahaya sebab irasonalitas tersebut kan menjadi bagian dari cara berpikir bangsa yang membawa proses pembodohan secara permanen.

Kemerdekaan, Kesejahteraan dan Kemanusiaan

Pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan ala Freire tertuju untuk menggugah kesadaran pelaksanaan metode pendidikan yang bukan saja membebaskan tetapi yang terpenting kembali memanusiakan manusia; menghilangkan jejak de-humanisasi yang merasuki dunia pendidikan.

Bila pembebasan sudah tercapai, pendidikan menurut Freire adalah suatu kampanye dialogis sebagai suatu usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Pendidikan bukan hanya menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan hak bagi semua. Kunci dari pendidikan yang membebaskan dan kemudian memanusiakan.

Ruang publik kita hanya diisi oleh kaum petualang yang menggunakan gelar hebat tapi tidak isinya. Polemik terus-menerus dihadirkan untuk menghiasi publik setiap hari di media. Tetapi realitasnya polemik itu tidak mampu menjadi pelecut daya cipta untuk mengubah ketidakberdayaan menjadi keberdayaan. Ini terjadi karena kita sebagai bangsa, miskin cita-cita dan cinta.

Akar persoalannya bisa kita lacak, setidak-tidaknya dari bagaimana karakter sistem pendidikan diselenggarakan. Kita melihat bahwa pendidikan dalam bangsa ini hanya menjadi instrumen kekuasaan politik. Pendidikan disubordinasikan dalam kekuasaan politik, dan menghasilkan manusia yang hanya pandai ikut-ikutan. Mereka bagaikan robot yang dikendalikan oleh remote control, yakni pemegang kekuasaan dan pemilik modal, melalui ideologi penyeragaman. Ini membuat mereka hanya mampu menunggu petunjuk serta pedoman dari atas. Kreativitasnya minim.

Akibatnya birokrasi menjadi lambat dalam merespon perubahan. Ketidakmampuan ini disebabkan oleh ketidakberdayaan mereka untuk keluar dari kultur lama. Di mana kemandiran individu direduksi menjadi ketaatan buta yang dikendalikan oleh sistem penyeragaman. Ini membuat gerbang reformasi terseok-seok, yang disebabkan oleh ketidakberdayaan untuk merespon perubahan yang begitu cepat.

Selama revolusi pendidikan tidak dijalankan, jangan berharap lahir manusia Indonesia yang bermutu. Revolusi pendidikan perlu segera dijalankan dengan mengubah orientasi pendidikan dari watak elitis, yakni hanya mengejar-ngejar gelar, pangkat, kedudukan tanpa memperhatikan pembentukkan karakter manusianya. Dengan mengabaikan hal ini, berarti pendidikan hanya sekedar transfer ilmu saja. Akibatnya lepas dari moralitas.

Realitas proses pendidikan yang membebaskan hanya bisa terwujud bila birokrasi pendidikan mengubah paradigma pendidikan bukan semata-mata sebagai alat politik kekuasaan. Pendidikan harus menentukan arah politik arah bangsa ini. Di sinilah pentingnya seorang pemimpin yang memiliki visi yang jelas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Benny Susetyo, adalah Pemerhati Masalah Sosial