Tampilkan postingan dengan label Makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2009

Ar Rahman - Ar Rahiim


Nama Allah yang terkandung dalam basmallah adalah Ar Rahman dan Ar Rahiim, sifat kasih sayang. Hikmah di balik nama tersebut harus kita fahami dengan baik. Semoga dengan mempelajarinya kita menyadari siapa Allah dan bagaimana kita meniru sifat-Nya. Yang disebut orang yang pengasih adalah orang yang selalu berniat memberi atau menolong orang lain dengan segenap kemampuannya. Sedang yang dimaksud dengan Ar Rahiim, sifat pengasihnya Allah, adalah pemberian yang melimpah terus menerus, terlepas dari apakah yang diberi tersebut membutuhkan atau tidak, bahkan layak menerima atau tidak.

Berbeda dengan sebagian besar manusia, kelemahan kita adalah baru mau memberi jika diberi atau karena mengharapkan sesuatu, misalnya mengharapkan pujian, penghargaan atau balas budi. Ciri kita masih tak ikhlas saat memberi adalah kecewa jikalau orang yang diberi tak balas budi atau tak mengucapkan terima kasih. Kasih sayang Allah menyelimuti segala sesuatu. Allah memberi bukan karena kepentingan-Nya, tapi karena perhatian Allah kepada makhluk-makhluk-Nya, baik Muslim atau kafir, shalih ataupun tidak.

Allah memberi tak pandang bulu, dicurahkan kepada semua makhluk-Nya. Pemberian Allah bukan untuk kepuasan Allah karena Mahasuci Allah dari membutuhkan apa pun, tapi justru untuk kebaikan kita. Berbeda dengan Ar Rahiim, Ar Rahman lebih tinggi daripada Ar Rahiim. Ar Rahman jangkauan kasih sayangnya meliputi dunia akhirat, sedang Ar Rahiim hanya duniawi. Sebelum Allah menciptakan kita, Allah telah memberikan kasih sayang-Nya pada kita dengan menciptakan dan membentuk.

Kemudian setelah tercipta, kita dituntun mendapatkan iman dan kebahagiaan dunia akhirat. Setelah mati, kita diberi peluang menatap-Nya di akhirat kelak. Kita sering bertanya mengapa Allah memberikan sakit, kebangkrutan dan berbagai musibah? Bahkan kita juga sering bertanya mengapa tak sedikit orang yang rajin beribadah tapi tetap terkena musibah? Camkan baik-baik, tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Keburukan yang ditimpakan kepada kita pasti berisi kebaikan di dalamnya.

Ketidaksabaran dan ketidakmampuan kita memahami hikmahlah yang membuat seolah kejadian itu buruk. Dengan kedalaman iman kita dapat menembus keyakinan bahwa tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Ambil contoh, seorang anak tertusuk duri hingga harus diamputasi. Diamputasi tangan adalah suatu keburukan, tapi jika tak diamputasi ia akan tetanus dan bila penyakitnya makin kronis tubuhnya akan hancur.

Diamputasi bukanlah suatu keburukan walau tubuhnya tersakiti dan sebagian tangannya hilang. Disakiti untuk kebaikan tetap kebaikan. Karenanya, janganlah kita menjadi sengsara karena bencana yang menimpa hingga menyangka bahwa Allah tak sayang pada kita. Bila terjadi sesuatu pada diri kita yang tampaknya seperti keburukan, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa berniat berbuat baik kepada hamba-Nya.

Ibarat anak yang diamputasi tadi, sang orang tua mengamputasi bukan karena ingin menghilangkan tangannya, tapi justru untuk menyehatkannya. Begitupun, aneka cobaan dan masalah dalam hidup ini sesungguhnya merupakan kasih sayang Allah untuk keselamatan kita. Hikmah utamanya adalah kita tak boleh su'udzan di balik sepelik apa pun masalah yang menimpa karena pasti tersimpan niat baik dari Allah untuk kita dan pasti tersimpan kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam setiap kejadian yang kita anggap buruk.

Hikmah lainnya adalah kita harus meniru sifat kasih sayang Allah ini. Seorang Muslim yang mengikuti sifat kasih sayang Allah, dia akan peka terhadap orang-orang di sekitarnya yang berada dalam kesulitan. Dia terus melacak siapa yang membutuhkan pertolongan seraya menyediakan diri dan hartanya untuk menolong dengan segenap kemampuannya.

Jika tak mampu menolong, maka dia berusaha memfasilitasi untuk menjadi perantara pertolongan. Jika itupun tak berdaya dilakukannya, maka berempati dengan menjadikan dirinya sebagai tempat curhat yang bisa meringankan bebannya. Jika itupun tak sanggup, maka dia berdoa di balik gelap malam tanpa sepengetahuan siapa pun karena dia sangat merindukan orang lain terlepas dari kemalangannya.

Inilah sebenarnya karakter seorang Muslim, selalu berfikir bagaimana menolong sesama dan melepaskan kemalangan orang lain. Jika hal ini ada pada diri kita, kita akan hidup penuh dengan kebahagian, bukan karena mendapatkan pertolongan, tapi karena kita bisa menolong orang lain.

Penulis : Abdullah Gymnastiar/stz/mqp
REPUBLIKA - Jumat, 10 Januari 2003

Minggu, 10 Mei 2009

Virus-Virus Akidah




“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon buruk yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun” (QS. Ibrahim, 14;24-26)

Para “Mufasir” (Ahli Tafsir) sepakat bahwasanya akar pohon yang ditamsilkan dengan Kalimah Thoyyibah adalah kalimat Tauhid, “Laa ilaaha illallah”. Artinya, seorang yang dalam hidupnya tidak berakar kepada prinsip akidah “laa ilaaha illallah”, tidak ubahnya pohon yang tidak berakar, atau akarnya sudah terangkat dari dasar tanah. Pohon seperti itu jangankan berbuah sehingga bermaslahat terutama bagi mereka yang hidup di sekitar pohon tersebut, bahkan untuk bertahan hidup saja mustahil. Pada ayat lain, Allah SWT menggambarkan orang-orang yang tidak beriman (kafir) adalah, “Mereka orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”(QS. Al Kahfi, 18:104).

Dalam berbagai hadits, Rasulullah Saw menyatakan bahwasanya kalimat Tauhid, “laa ilaaha illallah” itu tiket seseorang untuk masuk surga sekaligus membebaskannya dari ancaman keabadian di Neraka Jahannam. Akar akidah inilah yang selama ini coba digerogoti oleh segelintir orang di negeri ini, ironisnya mereka mempergunakan nama Islam atau atribut-atribut Islam, yang tentunya dimaksudkan agar lebih memudahkan tercapainya tujuan mereka menyesatkan sesuatu yang termahal bagi kehidupan mu’min, yakni akidah.

Berbagai macam virus yang telah menjangkiti akidah sebagian ummat terutama mereka yang tidak memiliki akar akidah yang kokoh, di antaranya virus yang cukup berbahaya bagi ummat, khususnya generasi muda adalah virus yang popular dengan sebutan “Sepilis’ (Sekularisme, Plurarisme dan Liberalisme) karena di samping metoda pendekatan mereka yang banyak bermain dengan logika, juga karena beberapa tokohnya sudah “kadung’ dikenal di masayarakat sebagai “Cendekiawan Muslim” dan atau ulama/kiai.

Virus sekularisme telah lama menjangkiti dan menggerogoti akidah sebagian ummat di negeri yang “konon” mayoritas muslim. Terbukti tidak sedikit di antara para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang sudah tidak merasa terancam keislamannya dengan dzalim dan fasik (QS. Al Ma-idah, 5 : 45,47) atau bahkan kufur (QS. Al Ma-idah,5:44) tatkala mereka tidak mempergunakan wewenang yang dimilikinya untuk menetapkan dan atau melaksanakan syariat Islam secara “Kaffah” (Integral) mencakup seluruh aspek hidup.

Sementara virus liberalisme yang dulu hanya milik Iblis, kini telah berhasil disebarkan Iblis kepada kelompok ini. Mereka dengan takabburnya menuhankan hawa nafsu (QS. Al Furqaan, 25:43; Al Jaasiiyah, 45:23) dan akal mereka dengan menolak bahkan melecehkan syariat Allah SWT yang tidak cocok dengan akal mereka. Benar dan salah adalah yang benar dan salah menurut akal. Dengan gegabahnya mereka nyatakan “Tuhan telah mati” karena Tuhan yang sesungguhnya adalah akal mereka. Kalaupun mereka masih meyakini dan menjalankan sebagian syariat, maka hanyalah sebatas ajaran agama yang selaras dan dapat dibenarkan akal mereka.

Sesuai dengan namanya, mereka benar-benar merasa memiliki kebebasan mutlak yang tidak boleh dibatasi siapa pun bahkan oleh Allah SWT. Ini tentu saja bertolak belakang dengan keimanan seorang muslim yang mengakui tidak ada kebebasan mutlak dimiliki manusia. Satu-satunya kebebasan yang dianugerahkan Allah SWT sebagai Al Khalik kepada manusia sebagai makhluk hanyalah kebebasan memilih untuk beriman atau kafir (QS.Al Kahfi, 18 : 29).

Bila seseorang memilih mu’min, maka sudah tidak memiliki kebebasan lagi, karena yang bersangkutan sudah harus “Aslama – Islam” (tunduk, patuh, taat) terhadap syariat Allah SWT, dimengerti atau tidak dimengerti oleh akalnya. Sepanjang syariat itu ditetapkan dengan Nash yang Qath’i (Al Qur’an dan As Sunnah) yang tergolong ayat Muhkamat. Akal hanya diberi kebebasan berijtihad terhadap hal yang tidak ada Nash atau Nashnya “dzanni” (mengundang keraguan), “tsubuut” (hadits shoheh atau bukan) atau “dalaalahnya” (pengertiannya yang dapat mengundang berbagai interpretasi). Bila Iblis dinyatakan gugur keimanannya dan dilaknat Allah SWT karena dengan logika sesatnya mengkufuri “satu” aturan Allah SWT. Di negeri ini, tokoh kelompok ini malah diberi gelar Cendekiawan Mslim atau ulama.

Virus akidah lainnya yakni pluralisme terbilang sangat aneh bila dilihat dari prinsip dasar keyakinan akan hakikat kebenaran, Sungguh sulit diterima akal sehat bila dua atau tiga hal yang secara prinsip bukan hanya saja berbeda, bahkan sangat bertentangan, lalu dinyatakan kelompok ini semua benar dan selamat. Setiap orang yang memiliki keyakinan pasti akan sulit memahami pandangan seperti ini. Logika yang paling sederhana, bila seseorang meyakini suatu kebenaran maka pada saat yang sama ia akan meyakini sesat segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya,

Menurut kelompok ini, setiap amal sepanjang bermaslahat bagi orang lain, maka ia menjadi amal shaleh apa pun agama yang diyakininya. Padahal sebagaimana ditamsilkan dalam QS. Ibrahim ayat 24-25 tersebut di atas, bahwa hanya dengan akar yang benar (Kalimat Tauhid) pohon tersebut dahan dan rantingnya menjulang ke langit (Habluminallah) dan berbuah yang buahnya bisa dinikmati oleh masyarakat yang hidup di sekitar pohon tersebut (Hablumminannaas). Seperti halnya kaum liberalism, kelompok pluralisme juga menuhankan akal mereka. Mereka interpretasikan satu-dua ayat sekehendak mereka tanpa memperdulikan kaidah-kaidah tafsir dan tanpa mau peduli bila pandangan mereka nyata-nyata bertentangan dengan sekian puluh bahkan ratus ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan tentang maksud ayat yang mereka artikan secara serampangan.

Ketiga virus ini memang baru menyesatkan segelintir ummat di Negeri ini. namun kehadirannya harus terus diwaspadai karena tidak mustahil bisa menjangkiti ummat yang lemah akidahnya.

Wallahu a’lam bish-shawab

By K.H. Athian Ali M. Da’i, MA
Rabu, 18 Februari 2009 pukul 10:33:00

Kamis, 07 Mei 2009

Hadja Lahbib Aman dalam Lindungan-Nya di Afganistan


Seorang jurnalis adakalanya harus berada di zona berbahaya untuk meliput atau mengabadikan momen-momen berharga. Itulah yang dijalani seorang jurnalis perempuan asal Belgia keturunan Aljazair, Hadja Lahbib.

Dia sudah 12 kali berkunjung ke Afganistan, keluar masuk daerah perbatasan Pakistan-Afganistan dan pedalaman negeri ini (Afganistan -red). ''Terus berpindah-pindah hingga ke India,'' tuturnya kepada harian Sharq Awsat, Kamis (27/4).

Meskipun Lahbib lahir dan besar di Belgia, berbudaya Belgia, berbicara bahasa Perancis dan Inggris, serta jarang bersentuhan dengan budaya Arab, namun identitas kearaban dan keislamannya masih tetap kental.

Tawa Lahbib langsung lepas ketika ditanya siapa yang melindunginya dari kelompok garis keras yang bisa mengancam jiwanya. Ia menjawab, ''Saudaraku, saya memang tidak dilindungi polisi atau body guard, tetapi Allah selalu melindungiku. Saya telah menjelajah ke berbagai kawasan berbahaya tanpa seorang pengawal-pun. Alhamdulillah, Allah menjaga saya karena saya beriman kepada-Nya,'' urainya.

Sekian lama bersama masyarakat Afganistan, aku Lahbib, dirinya tidak pernah mendapatkan gangguan atau perlakuan buruk. ''Kalaupun suatu saat ada musibah menimpa saya, itu sudah takdir Allah,'' ungkap Lahbib.

Alumnus Universitas Brussel jurusan jurnalistik ini, pertama kali melakukan tugas jurnalistik di Afganistan pada tahun 2001, yakni setelah jatuhnya rezim Taliban. Ia adalah wartawan stasiun televisi Belgia, RBTF.

Profesionalitas kerja dan keberanian Lahbib di area panas diakui oleh para koleganya. Aksi perang yang ia liput selalu membuat jantung berdebar dan darah mengalir kencang. Di usianya yang ke-38 tahun ini, ia telah membuat karya-karya jurnalistik yang luar biasa.

Tugas jurnalistik Lahbib di Afganistan berakhir pada Desember 2001. Akan tetapi, kerinduannya kepada negara itu membawanya kembali dan kembali lagi hingga 12 kali.

Berbagai fenomena di Afganistan berhasil ia abadikan dan publikasikan kepada dunia. Mulai rekonstruksi Afganistan, proses demokratisasi, hingga tradisi dan kebiasaan masyarakat Afganistan ia kemas dalam laporan yang apik.

Karyanya yang cukup fenomenal adalah film dokumenter bertema Afganistan, dan Kebebasan Kaum Perempuan yang dipublikasikan pada 2007. Film ini terpilih sebagai film terbaik dalam festival film Eropa tahun 2007.

Soal bagaimana cara terbaik bisa selamat selama di Afganistan, Lahbib menyerukan khususnya kepada para jurnalis untuk selalu dekat dengan masyarakat dan bersikap sewajarnya. Selama berada di Afganistan, dia tidak menginap di hotel, tetapi di rumah-rumah penduduk.

''Saya pun mendapatkan kemudahan dibandingkan jurnalis lain. Bahkan saya dapat bertemu dengan Bibi Aisyah, panglima perang perempuan ketika melawan Rusia,'' lanjut Lahbib.

Dia masih terkenang pertemuannya dengan Bibi Aisyah. Ceritanya, begitu mendapat cukup informasi tentang Bibi, dia pun meluncur ke ujung utara Afganistan, di daerah Buglan, perbatasan Kunduz dan Barwan.

''Saat sampai di desa yang saya tuju, saya melihat Bibi Aisyah sedang duduk dikelilingi para pejuang yang siap tempur setiap saat. Ia seorang yang sungguh berwibawa. Tokoh yang dimitoskan oleh masyarakat sekitar. Semua yang dia ucapkan diikuti oleh pengikutnya,'' kata Lahbib.

Dari fenomena itu, Lahbib ingin menyajikan tayangan seputar masyarakat Afganistan dari sisi yang lain. Tidak semua perempuan Muslim di negara itu dikekang dari aktivitas sehari-hari.

Bibi Aisyah adalah contoh bagaimana seorang perempuan Muslimah menjadi panglima perang melawan penjajah, di tengah pandangan miring masyarakat Barat terhadap sistem sosial keagamaan di Afganistan yang dinilai mendiskreditkan kaum perempuan. rid/taq


By Republika Newsroom
Senin, 04 Mei 2009 pukul 15:32:00

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Ditimpa Musibah dan Kekecewaan



Banjir di Situ Gintung merupakan musibah yang terkait erat dengan hukum sebab akibat (human error)

ISI
• Apa hakekat musibah itu?
• Bagaimana menjadikan musibah sebagai surat cinta Tuhan?
• Bagaimana bersahabat dengan musibah?
• Bagaimana Al-Qur’an & hadis berbicara tentang musibah dan kekecewaan?

Musibah dapat dibedakan dengan azab dan bala. Musibah adalah ujian yang harus dilewati seorang hamba dan berfungsi sebagai proses pembelajaran agar kehidupan masa depan kita dapat dijalani dengan lebih baik.

Musibah tidak hanya menimpa bagi para pendosa tetapi juga orangorang yang saleh. Berbeda dengan azab, siksaan yang hanya diperuntukkan kepada mereka yang durhaka seperti azab yang pernah ditimpakan umat-umat terdahulu.

Azab tidak menimpa orang yang shaleh, seperti Banjir Nuh yang hanya menenggelamkan umat Nabi Nuh yang durhaka sedangkan dirinya bersama pengikut setianya selamat. Demikian pula umat Nabi Shaleh, ia bersama umat setianya selamat dari wabah epidemi yang menimpa kaumnya, juga kakeknya Nabi, Abdul Muthalib selamat dari keganasan thair ababil yang memporakporandakan pasukan Abraham.

Sedangkan bala, hampir sama dengan musibah, hanya skalanya lebih personal dan berhubungan dengan human error atau terkait erat dengan hukum sebab-akibat. Misalnya karena kecerobohan dan kelengahan maka seseorang mengalami kecelakaan.

Musibah di sini dapat dicontohkan dengan salah seorang anggota keluarga tercinta kita meninggal dunia, dokter memvonis kita menderita penyakit akut, atau mendapatkan fitnah keji dari orang lain, atau mengalami kekecewaan berat, misalnya gagal dipromosi, gugur dalam seleksi, dijauhi oleh teman, dan semacamnya.

Kondisi batin seperti ini pasti sangat menyakitkan dan membuat orang menjadi putus asa serta kehilangan optimisme dan harapan hidup. Bahkan kondisi seperti ini seringkali membuat seseorang berfikir atau melakukan solusi jalan pintas misalnya dengan nekat bunuh diri, menjauh dari keramaian, dan hanyut di dalam kesensaraan, atau menceburkan diri di dalam kehidupan gelap seperti mengkonsumsi obat penenang destruktif seperti narkoba dan sejenisnya.

Bagi orang yang beragama, cara terbaik yang harus dilakukan ialah kembali kepada Tuhan. Kita harus yakin bahwa sebesar apapun sebuah problem pasti itu masih tetap di ambang batas kemampuan daya dukung hamba-Nya.

Allah Swt, Tuhan Yang Maha Pengasih, tidak mungkin membebani sesuatu di luar batas kemampuan dan daya dukung hamba-Nya.

”Allah tidak akan membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q.S. al-Baqarah/2:286).

Dalam perspektif tasawuf, musibah atau kekecewaan hidup adalah salah satu wujud ”surat cinta” Tuhan kepada hamba-Nya. Mungkin Tuhan merindukan hamba-Nya tetapi yang bersangkutan terkeco dan tersesat dengan kesenangan duniawinya.

Akhirnya Tuhan mengutus musibah atau kekecewaan kepadanya dan ternyata ia secara efektif kembali kepada Tuhannya.

Seseorang yang hidup di dalam kemewahanan atau dalam kondisi berkecukupan seringkali lebih sulit untuk melakukan pendakian (taraqqi) kepada Tuhannya, karena semua kebutuhannya terpenuhi.

Dalam keadaan seperti ini banyak orang yang lalai untuk berdoa. Ibadah yang dilakukan sebatas kewajiban, bukan betul-betul karena mencintai Tuhannya.

Tingkat kekhusyukan ibadahnya dengan sendirinya lemah. Kiat menyikapi musibah kita harus tawakkal, menyerahkan diri secara total dan sepenuhnya kepada Allah Swt. Kita harus yakin bahwa musibah dan kekecewaan ini adalah pilihan terbaik Tuhan untuk kita.

Allah SWT mencintai hamba-Nya dan ingin menyelamatkannya dari siksaan lebih pedih dan lebih lama. Nabi pernah bersabda:

” Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kedukaan, penyakit, kesulitan hidup,kesengsaraan, hingga semisal duri yang menusuk kakinya, melainkan itu semua berfungsi sebagai pencuci dosa masa lampau” (Hadis Muttafaq ’Alaih/sangat shahih).

Dalam kesempatan lain Rasulullah pernah bersabda: ”Jika Allah SWT menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya
maka Ia menyegerakan siksaan-Nya (di dunia) dan jika Allah SWT menghendaki sebaliknya kepada hamba-Nya maka Ia menunda siksaan-Nya di hari kiyamat” (Hadis dari Anas, riwayat Turmudzi).

Musibah dan kekecewaan tidak mesti diratapi terlalu lama, bahkan sebaliknya kita perlu mengambil hikmah yang amat penting darinya. Seringkali kita harus bersyukur bahwa musibah memang membawa kekecewaan hidup tetapi pada saat bersamaan kita bisa merasakan adanya kedekatan khusus diri kita dengan Tuhan.

Bahkan kedekatan itu tidak pernah dirasakan sebelumnya. Seringkali justru rasa kedekatan itu lebih menonjol ketimbang rasa kekecewaan itu. Ini artinya musibah membawa nikmat dan betul-betul musibah terasa sebagai ”surat cinta” Tuhan kepada kekasih-Nya.

Semenjak musibah itu terjadi, semenjak itu terjadi perubahan total hubungan diri kita dengan Tuhan. Sebelumnya kita berjarak dengan Tuhan tetapi dengan musibah itu kita tidak lagi mau berpisah dan berjarak dengan Tuhan.

Musibah kita sikapi dengan tawakkal dan mengikhlaskan diri kita kepada-Nya. Semua itu sudah suratan takdir dan telah tercatat di buku blue print (lauh amhfudz).

Jalanilah kehidupan ini dengan datar dan lurus. Kekuatan tawakkal dan ikhlas akan meberikan power dan keajaiban di dalam diri kita.

Ini jaminan Tuhan: ”Jangan berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita” (Q.S. al- Taubah/9:40).

Kiat menjalani dan mempertahankan sikap tawakkal dalam diri kita, diajarkan oleh kalangan guru-guru tasawuf, dengan menghayati secara mendalam dua kalimat syahadat. ”Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rusul Allah”.

Dengan diawali kalimat negasi, menafikan segalanya, kalau perlu menafikan keberadaan wujud kita sendiri. Seolah-olah yang ada dan eksis di jangat ini hanyalah Dia, Allah SWT. Kita melenyapkan hakekat dan substansi diri kita lalu larut kepada suatu Wujud Yang Maha Abadi. Kita bagaikan mayat yang hanyut di sungai, ke mana pun sungai itu bermuara di situlah kita akan dibawa. Terimalah dirinya apapun adanya, karena semua orang membawa takdir dirinya masing-masing.

Ma’rifah seperti ini lebih mudah muncul ketika kita sedang sujud di atas hamparan sajadah di hadapan kebesaran Allah Swt. Lupakanlah musibah dan kekecewaan itu, hilangkanlah semuanya, kalau perlu lupakanlah keberadaan dirinya, seolah-olah yang ada hanyalah Dia Sendiri.

Tidak ada lagi sosok yang ditipa musibah, tidak ada juga sosok orang yang mendatangkan musibah, tidak ada lagi dendam dan tidak ada lagi yang sakit. Semuanya kembali dan menyatu dengan-Nya. Seolah musibah itu datang untuk menghapus memori gelap masa lampau kita.

Ikhlas yang sesungguhnya memberikan rasa optimisme ke dalam diri setiap orang. Orang yang menjalani keikhlasan penuh tidak akan pernah merasa sedih, sakit, lelah, dan kecewa, karena semua yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Karya dan pengabdian yang dilakukan bukan karena Allah SWT itulah yang sering menyedot energi batin seseorang. Yang bersangkutan sering merasa kecewa, lelah.

Bahkan sakit karena harapannya berbeda dengan respons yang diberikan orang lain terhadapnya. Jika semunya kita niatkan seikhlasnya dan kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT maka hidup ini pasti tenang, tidak akan merasa kecewa, tidak akan bersedih, tidak pernah merasa jatuh, dan mungkin tidak akan pernah lagi kita merasa sakit./taq

By Republika Newsroom
Jumat, 27 Maret 2009 pukul 16:36:00

Makna Islam Sebagai Rahmat Bagi Alam Semesta


Selasa, 16 Oktober 2007 @ 15:04:33

Memahami Rahmat Islam
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21: 107). Ayat di atas sering dijadikan hujjah bahwa Islam adalah agama rahmat. Itu benar. Rahmat Islam itu luas, seluas dan seluwes ajaran Islam itu sendiri. Itu pun juga pemahaman yang benar.

Sebagian orang secara sengaja (karena ada maksud buruk) ataupun tidak sengaja (karena pemahaman Islamnya yang tidak dalam), sering memaknai ayat tersebut diatas secara menyimpang. Mereka ini mengartikan rahmat Islam harus tercermin dalam suasana sosial yang sejuk, damai dan toleransi dimana saja Islam berada, apalagi sebagai mayoritas. Sementara dibaliknya sebenarnya ada tujuan lain atau kebodohan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri, misalnya memboleh-bolehkan ucapan natal dari seorang Muslim terhadap umat Nasrani atau bersifat permisive terhadap ajaran sesat yang tetap mengaku Islam.

Islam sebagai rahmat bagi alam semesta adalah tujuan bukan proses. Artinya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta bisa jadi umat Islam harus melalui beberapa ujian, kesulitan atau peperangan seperti di zaman Rasulullah. Walau tidak selalu harus melalui langkah sulit apalagi perang, namun sejarah manapun selalu mengatakan kedamaian dan kesejukan selalu didapatkan dengan perjuangan. Misalnya, untuk menjadikan sebuah kota menjadi aman diperlukan kerjakeras polisi dan aparat hukum untuk memberi pelajaran bagi pelanggar hukum. Jadi logikanya, agar tercipta kesejukan, kedamaian dan toleransi yang baik maka hukum Islam harus diupayakan dapat dijalankan secara kaffah. Sebaliknya, jangan dikatakan bahwa umat Islam harus bersifat sejuk, damai dan toleransi kepada pelanggar hukum dengan alasan Islam adalah agama rahmat.

Mencari Rahmat Islam
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,” (QS al-Baqarah: 208)
Ada banyak dimensi dari universalitas ajaran Islam. Di antaranya adalah, dimensi rahmat. Rahmat Allah yang bernama Islam meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Allah telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia agar mereka mengambil petunjuk Allah. Dan tidak akan mendapatkan petunjuk-Nya, kecuali mereka yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS al-‘Ankabuut: 69).

Bentuk-bentuk Rahmat Islam
Ketika seseorang telah mendapat petunjuk Allah, maka ia benar-benar mendapat rahmat dengan arti yang seluas-luasnya. Dalam tataran praktis, ia mempunyai banyak bentuk.

Pertama, manhaj (ajaran).
Di antara rahmat Allah yang luas adalah manhaj atau ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw berupa manhaj yang menjawab kebahagiaan seluruh umat manusia, jauh dari kesusahan dan menuntunnya ke puncak kesempurnaan yang hakiki. Allah SWT berfirman, “Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),” (QS. Thahaa: 2-3). Di ayat lain, Dia berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…,” (QS Al-Maidah: 3).

Kedua, al-Qur'an.
Al-Qur'an telah meletakkan dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran yang abadi dan permanen bagi kehidupan manusia yang selalu dinamis. Kitab suci terakhir ini memberikan kesempatan bagi manusia untuk beristimbath (mengambil kesimpulan) terhadap hukum-hukum yang bersifat furu’iyah. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari tuntutan dinamika kehidupannya. Begitu juga kesempatan untuk menemukan inovasi dalam hal sarana pelaksanaannya sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi kehidupan, yang semuanya itu tidak boleh bertentangan dengan ushul atau pokok-pokok ajaran yang permanen. Dari sini bisa kita pahami bahwa al-Qur'an itu benar-benar sempurna dalam ajarannya. Tidak ada satu pun masalah dalam kehidupan ini kecuali al-Qur'an telah memberikan petunjuk dan solusi. Allah berfirman, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan,” (QS al-An’aam: 38). Dalam ayat lain berbunyi, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,” (QS an-Nahl: 89).

Ketiga, penyempurna kehidupan manusia
Di antara rahmat Islam adalah keberadaannya sebagai penyempurna kebutuhan manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Rahmat Islam adalah meningkatkan dan melengkapi kebutuhan manusia agar menjadi lebih sempurna, bukan membatasi potensi manusia. Islam tidak pernah mematikan potensi manusia, Islam juga tidak pernah mengharamkan manusia untuk menikmati hasil karyanya dalam bentuk kebaikan-kebaikan dunia. “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS al-A`raf: 32).
Islam memberi petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk, sedang manusia sering tidak mengetahuinya. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).

Keempat, jalan untuk kebaikan.
Rahmat dalam Islam juga bisa berupa ajarannya yang berisi jalan / cara mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Hanya kebanyakan manusia memandang jalan Islam tersebut memiliki beban yang berat, seperti kewajiban sholat dan zakat, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, kewajiban memakai jilbab bagi wanita dewasa, dan sebagainya. Padahal Allah SWT telah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS al-Baqarah: 286). Pada dasarnya, kewajiban tersebut hanyalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” (QS al-Isra’: 7).


Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ajaran Islam itu adalah rahmat dalam artian yang luas, bukan rahmat yang dipahami oleh sebagian orang menurut seleranya sendiri. Rahmat dalam Islam adalah rahmat yang sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-Nya, baik berupa perintah atau larangan. Memerangi kemaksiatan itu adalah rahmat, sekalipun sebagian orang tidak setuju dengan tindakan tersebut. Jihad melawan orang kafir yang zalim adalah rahmat, meskipun sekelompok manusia tidak suka jihad dan menganggapnya sebagai tindakan kekerasan atau terorisme. Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).

Hendaknya kita jujur dalam mengungkapkan sebuah istilah. Jangan sampai kita menggunakan ungkapan seperti sejuk, damai, toleransi, rahmat, dan sebagainya, kemudian dikaitkan dengan kata ‘Islam’. Sementara ada tujuan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri.
Wallahu a’lam bish shawab.


Disadur dari tulisan DR. Muslih Abdul Karim, www.aldakwah.org

Cinta atau Mahabbah


By Republika Newsroom
Rabu, 06 Mei 2009 pukul 16:25:00


Salah satu sentral maqamat tasauf adalah cinta atau mahabbah, dan tokoh sufi yang biasa menjadi acuan maqamat cinta ini adalah Rabi'ah al- 'Adawiyah. Ketika Rabi'ah ditanya apakah ia membenci setan, ia menjawab bahwa cintanya kepada Tuhan tidak memberi tempat di dalam hatinya untuk membenci kepada siapa pun. Dalam konsep tasauf, tingkat cinta Rabi'ah al- 'Adawiyah itu merupakan cinta yang tertinggi kualitasnya.

Dalam kitab Ihya 'Ulum al-Din, Imam Ghazali menjelaskan bahwa kualitas cinta terbagi menjadi empat tingkatan. Pertama, cinta diri (al-muhibb linafsih), yakni orang yang hanya mencintai dirinya saja. Segala macam kebaikan, kesetiaan, pengorbanan, dan kesungguhan orang lain diukur dengan apakah berhubungan dengan kesenangan dirinya atau tidak. Cinta model ini, Imam Ghazali menyebutnya sebagai yang terendah kualitasnya.

Kedua, adalah cinta kepada orang baik sepanjang kebaikan orang lain itu membawa kebaikan bagi dirinya (al-muhsin alladzi ahsana ilaihi). Ia siap membayar cinta dengan cinta, kehangatan dengan kehangatan, pemberian dengan pemberian. Sebaliknya, jika orang itu menjadi dingin ia pun membalasnya dengan dingin, bahkan ia pun siap dengan kebencian manakala orang itu membencinya.

Kualitas cinta seperti ini tak ubahnya seperti cinta pedagang, artinya ia siap memberi sebanding dengan apa yang ia terima, pedagang pekerjaannya mencari keuntungan, dan kalau ia mau bersusah payah adalah karena ia membayangkan keuntungan yang bakal diterimanya. Psikologi cinta pedagang, menurut Ghazali, adalah terletak pada kepuasannya menerima, bukan pada memberi.

Ketiga, adalah cinta kepada orang baik meskipun ia tidak memperoleh apa pun dari orang baik itu. Kualitas cinta seperti ini seperti cinta seseorang kepada Nabi SAW atau kepada ulama terdahulu. Meski tak pernah berjumpa dengan mereka, ia mencintainya, ingin meniru kebaikannya, mau berkorban demi ide-idenya. Bahkan ketika mempunyai anak, ia memberi nama dengan namanya. Psikologi cinta orang seperti ini, Ghazali menjelaskan, terletak pada kepuasan memberi, bukan kepuasan menerima.

Keempat, adalah cinta kepada kebaikan an sich, tanpa embel-embel (al ihsan mahdlah). Bagi orang yang memiliki kualitas cinta seperti ini, kebaikan, ketulusan, kesungguhan, pengorbanan adalah suatu nilai yang bisa berpindah-pindah. Orang memang terkadang baik, tulus, dedikatif, tetapi suatu saat bisa berubah sebaliknya.

Karena itu, orang yang memiliki cinta kualitas tertinggi ini tidak melihat orang, tetapi sifatnya. Sebagai misal, penjahat yang kemudian bertaubat lebih ia cintai dibanding ulama yang kemudian murtad. Ketulusan orang kecil, lebih ia cintai dibanding kefasikan pembesar. Cinta dalam kualitas seperti inilah yang dapat mengantar orang pada cinta kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang Mahabaik, Tuhan adalah kebaikan itu sendiri. Semoga kita dapat mencapai cinta yang berkualitas tinggi ini. - ahi

Ksatria


By Toto Tasmara
Kamis, 07 Mei 2009 pukul 12:23:00

Ibn al-Husain as-Sulami dalam bukunya Futuwwah telah mengupas perpaduan antara syari'ah fiqhiyah dengan tasauf. Dalam buku tersebut diungkapkan makna tentang perasaan haru, kasih sayang, cinta, persahabatan, kedermawanan, dan keksatriaan.

Futuwwah sendiri, menurut Ibn al-Husain, adalah satu sikap jantan yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim, yaitu sikap keberanian dan kekuatan untuk selalu berpihak kepada Allah. Meleburkan kepentingan pribadi dan menonjolkan kebenaran Ilahi seperti dilukiskan oleh pribadi para sahabat yang berani tampil mempertahankan kebenaran dengan mengabaikan kepentingan pribadi.

Agar kita memahami lebih mendasar makna dari futuwwah ini, maka simaklah beberapa sikap ksatria, pengorbanan, dan kejantanan sebagaimana yang ditulis oleh as-Sulami berdasarkan hadis shahih di bawah ini. Khalifah Umar Ibn Khattab menuturkan sebuah riwayat: Pada suatu hari, Rasulullah SAW meminta bantuan dana kepada kami. Aku berhasrat untuk melebihi Abu Bakar yang selalu paling bersemangat dalam setiap perbuatan baik. Aku membawa separo harta kekayaanku dan datang menemui Rasulullah.

Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa sumbanganku ini separo dari segala hartaku, sedangkan sisanya kutinggalkan untuk keluargaku. Pada saat yang bersamaan Abu Bakar datang dengan membawa sekantong besar emas dan meletakkannya di kaki Rasulullah. Ketika Abu Bakar ditanya oleh Rasulullah, tentang berapa persen harta yang disumbangkan, maka Abu Bakar menjawab, 'Seluruhnya!' Kemudian Rasulullah menatapku, dan bertanya lagi kepada Abu Bakar, 'Lantas apa yang tersisa bagimu dan keluargamu? 'Abu Bakar menjawab singkat, ''Cukuplah bagiku Allah dan Rasul-Nya'.

Futuwwah (berasal dari kata fata, dan jamaknya fityan), secara harfiah berarti pemuda yang tampan dan gagah berani. Dalam perkembangan makna bahasa, kaum sufi kemudian mengartikan futuwwah sebagai sikap ikhlas yang terpuji, perilaku yang rindu untuk meneladani akhlak para nabi, para sahabat, dan para hamba yang saleh.

Sifat seperti ini dapat disimak dari kejantanan Nabi Ibrahim dan Yusuf, yang ikhlas untuk mengorbankan apa saja untuk Allah. Sifat Yusuf yang ternista dan terbuang di sumur yang dalam, tetapi mampu memaafkan saudara-saudaranya.

Begitu pula dengan sifat Nabi Muhammad SAW. Ketika penduduk Thaif menghina beliau dengan lemparan batu, beliau bukannya marah, tapi justru memaafkan. Bahkan beliau kemudian mendoakan orang yang telah menistanya dengan sebuah doa yang sangat indah: ''Ya Allah, ampunilah mereka semua, karena mereka tidak mengetahui.'' - ahi

Selasa, 05 Mei 2009

Between me and ALLAH

I asked for strength ...
and Allah gave me difficulties to make me strong.

I asked for wisdom ...
and Allah gave me problems to solve.

I asked for prosperity ...
and Allah gave me the brain and brawn to work.

I asked for courage ...
and Allah gave me danger to overcome.

I asked for love ...
and Allah gave me troubled people to help.

I asked for favours ...
and Allah gave me opportunities.

I received nothing I wanted ...
but I received everything I needed

Janji



Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah SAW menjanjikan seorang pembantu kepada Abdul Haitam bin Tayyiban. Lalu Beliau mendatangkan tiga orang tawanan perang. Dua tawanan diberikan kepada orang yang pernah dijanjikannya, sedang yang seorang lagi diberikan kepada Abdul Haitam.

Tiba-tiba Fatimah, putrinya, yang tangannya terlihat bekas menggiling bumbu meminta seorang pembantu dari Rasulullah SAW. Rasulullah menolak permintaan putrinya, seraya berkata, ''Bagaimana dengan janjiku kepada Abdul Haitam?'' Kisah di atas menggambarkan ketegasan Rasulullah SAW dalam menepati janji kepada umatnya. Beliau lebih mendahulukan kepentingan Abdul Haitam daripada putrinya. Nabi tidak menginginkan umatnya menjadi korban hanya gara-gara tidak disiplin dengan janji.

Menepati janji merupakan bagian dari ciri-ciri kaum beriman. Dengan menepati janji, semangat persatuan, kualitas hidup, dan etos kerja umat dapat tercipta dengan baik. Tak sedikit tali persaudaraan dan persahabatan yang telah dipupuk demikian baik menjadi retak hanya gara-gara pengkhianatan terhadap janji.

Karena itu, Islam melarang umatnya mengumbar pernyataan-pernyataan (deklarasi) serta janji-janji kosong tanpa bukti dan kenyataan. Firman Allah, ''Dosa besar bagi umat yang suka berkata tanpa membuktikan apa yang dikatakannya'' (Q. S. 61: 3).

Rasulullah menggolongkan orang yang suka ingkar janji sebagai ciri perbuatan munafik. ''Tiga ciri perbuatan munafik,'' sabda Nabi SAW, ''Bila bicara ia dusta, bila berjanji menyalahi, dan bila diamanati mengkhianati.'' (H.R. Bukhari dan Muslim).

Minimal ada tiga dampak positif bagi umat manusia yang senantiasa menepati janji. Pertama, tidak ada unsur yang dikecewakan dan dirugikan dalam pergaulan. Kedua, tidak ada waktu yang tersita dalam meningkatkan kualitas kerja (etos kerja). Dan ketiga, membiasakan hidup berdisiplin.

Demikian pentingnya menepati janji, sehingga para ulama di masa lalu sangat berhati-hati dan tidak gampang mengumbar janji. Itu sebabnya, Ibnu Mas'ud apabila berjanji, ia mengatakan: Insya Allah. Alquran juga mendorong kita untuk selalu menepati janji (Q. S. 5: 1).

Mengomentari ayat ini, pakar tafsir Al-Maraghi menjelaskan tiga hal janji yang perlu ditepati. Pertama, janji kepada Allah SWT. Kedua, janji kepada diri sendiri. Ketiga, janji kepada sesama manusia. Ketiga bentuk janji ini memang merupakan kaitan organik yang tak dapat dipisahkan. Bila manusia konsisten dengan tiga bentuk janji ini, ia akan dapat membentuk dirinya menjadi tegar beraktifitas, memiliki kreasi dan garapan kerja yang seimbang lahir maupun batin, bukan kehidupan yang beretika dan berbudaya lembek, malas, dan cenderung menyimpang (korup).

Di zaman pembangunan ini, kita dituntut untuk selalu membuktikan kesatuan antara pernyataan dan perbuatan. Dalam meningkatkan kualitas dan taraf hidup, umat tidak cukup hanya memberikan janji-janji abstrak yang tidak dipahami tanpa dapat ditepati dengan prestasi dan amal perbuatan. - ahi

By drs Fauzul Iman MA
Senin, 04 Mei 2009 pukul 10:21:00

Istiqamah


Oleh Abdussalam

''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan merasa sedih. Bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'' (QS Fushshilat [41]: 30).

Kata istiqamah berarti i'tidalul amri, yakni sesuatu yang tegak lurus. Seseorang dapat dikatakan istiqamah jika ia telah melakukan sesuatu itu dengan tegak lurus.

Dalam artian kokoh, penuh keteguhan, tidak goyah atau konsisten pada jalannya. Tidak ada penghalang yang dapat membelokkan usahanya untuk mencapai tujuannya.

Karena itulah, istiqamah merupakan sifat yang paling dicintai Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ''Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.''

Seorang Muslim yang istiqamah akan bersedekah setiap harinya walaupun dengan jumlah yang sedikit. Ini lebih baik daripada mereka yang bersedekah dengan nominal yang banyak, namun hanya sekali dalam setahun, atau bahkan seumur hidupnya.

Istiqamah adalah kata yang ringan diucapkan. Meski ringan, tidak sembarang orang dengan mudah melaksanakannya. Istiqamah mensyaratkan pemahaman, menepatinya dengan menuntaskan segala konsekuensinya, kemudian berkomitmen untuk tetap lurus di jalan-Nya.

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa untuk istiqamah di jalan Allah SWT, diperlukan modal ilmu dan modal amal. Dengan ilmu, seseorang bisa mengetahui posisi jalan dan di mana harus bertindak.

Kemudian, dengan beramal, yakni berjalan dengan tekad yang kuat menempuh jalan yang telah diterangi oleh cahaya ilmu. Amal ini janganlah pernah berhenti hingga mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu ridha Allah SWT.

Begitupun rintangan yang menghadang, hendaknya tidak mengendurkan semangat, bahkan menghentikan langkah. Dalam penjelasan lain, istiqamah akan mudah diwujudkan dengan melakukan beberapa hal berikut.

Pertama, keikhlasan dalam berucap dan berbuat. Hanya orang yang memiliki niat tulus yang dapat bertahan.

Kedua, ketetapan dalam berbuat, yakni harus selalu dilandasi oleh sunah Rasulullah SAW.

Ketiga, tekad yang kuat dalam berbuat.

Ke-empat, bertawakal karena dengan tawakal seseorang akan selalu optimistis dalam berusaha. Dengan tawakal juga tidak akan menjadikan seseorang takabur ketika meraih kesuksesan.

Kiai

Oleh : Abdul Djamil

PEMUDA jebolan pesantren terkenal itu bersungut-sungut tatkala pembawa acara pengajian tak menyebut kiai di depan namanya, sementara sesepuh kampung yang tak pernah menamatkan Kitab Taqrib (kitab fikih yang beredar di dunia pesantren), malah diberi gelar Kiai Haji masih ditambah almukarrom. Apa mau dikata gelar kiai memang tak ada dasar juridisnya dan tak ada SK serta juklaknya. Parameternya juga tak jelas sebagaimana ketidakjelasan asal usul kata (etimologi) dan penerapannya. Maka harap dimaklumi kalau pemakaiannya sering tidak bisa diduga dan kurang tepat sasaran. Pada suatu saat ia dipakai untuk nama sebilah keris sakti seperti Kiai Crubuk dan di kali lain dipakai untuk nama seekor kerbau yang dianggap keramat seperti Kiai Slamet. Masyarakat pun tak mau ambil pusing dengan penerapan kata yang tidak konsisten ini. Dengan ilmu titen mereka sudah tahu kalau Kiai Slamet itu jelas bukan seorang alim yang fasih membaca kitab kuning dan mengajar di pesantren.

Di tengah-tengah ada syahwat tinggi untuk disebut kiai, ada yang malah risih mendapat gelar ini karena sehari-hari selalu tampil necis berdasi dan tidak pakaikopiyah dan sorban. Meski fasih berbahasa Arab dan paham betul mubtada' khabar (subjek dan predikat) dalam tata bahasa Arab, ia malu mendapat julukan itu. Pasalnya, ya penampilan sehari-hari itu yang menjadikan masyarakat tak mau memberi julukan kiai. Dia pun tak mau ambil pusing, apakah layak disebut kiai atau tidak. Baginya gelar itu justru membelenggu kreativitasnya karena harus tampil dengan sederet kepatutan seperti memakai kopiyah atau sorban, sedikit bicara dan tak lupa melumuri tangan dengan minyak Arab untuk persiapan manakala banyak santri yang ingin mencium tangannya untuk tabarrukan.

Clifford Geertz yang dedengkotnya peneliti Agama Jawa (The Religion of Java) pernah menulis mengenai kiai yang disebutnya sebagai makelar (broker). Bukan makelar sapi atau sepeda motor tetapi makelar budaya (cultural broker) yang memiliki posisi menentukan dalam mengubah jalannya kebudayaan. Jangan heran kalau komentar kiai bisa amat menentukan dalam masyarakat. Pada saat jelang Pilkada banyak calon yang minta restu pada kiai dan semua calon boleh jadi mendapatkan restu kiai sehingga sang calon bingung sendiri seraya bergumam "pak kiai itu mendukung siapa sih kok sana diberi restu dan didoakan dan saya juga didoakan". Pak kiai pun tak merasa menciptakan antagonisme karena yang punya wewenang itu Allah bukan manusia, jadi apa salahnya semua didoakan. Pemberontakan Petani Banten, disertasi Sartono Kartodirjo memberikan uraian akan keterlibatan sejumlah kiai dalam aksi perlawanan terbuka terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1888 di Cilegon, Banten. Demikian pula dengan Kiai Mojo dan Kiai Ahmad Rifa'i yang keduanya diasingkan ke luar Jawa dan dimakamkan di Kampung Jawa Tondano Menado adalah contoh betapa keberadaannya amat menentukan di tengah-tengah masyarakat.

Rifa'i adalah kiai politik karena ajarannya mengandung perlawanan terhadap pemerintah dalam kerangka amar makruf nahi munkar. Seperti biasa, kiai macam ini akan menjadi tumbal bagi "keberanian"-nya untuk masuk kawasan politis di luar ajaran agama murni (mahdah). Pada masa Orde Baru ada kiai yang dilarang tampil berpidato di depan publik karena bicaranya terlalu keras mengusik kemapanan dan akibatnya ia selalu diawasi karena omongnya suka clemang-clemong terhadap pemerintah.

Pesantren sebagai lembaga yang dianggap memproduk kiai juga tak ambil pusing manakala alumninya tak mendapat julukan kiai karena di pesantren sendiri banyak cerita seputar kiai yang nasibnya tak selalu mulus pada akhir hayatnya. Kalaupun seorang alumni pesantren menjadi kiai di desanya, ya alhamdulillah kalau tidak,insya Allah ada tugas mulia lainnya meski terpaksa tak jadi kiai.

Kalau di televisi sebutan ahli agama amat beragam tak terbatas kiai tetapi juga ustaz. Sebutan ini dulu dipakai untuk guru madrasah yang penuh dedikasi mengajarkan agama pada anak-anak didik dengan gaji yang serba pas-pasan. Sekarang yang namanya ustaz, apalagi di bulan Ramadan nanti penampilannya oke, orangnya keren, gaya bicaranya atraktif, busananya dirancang secara khusus dan pemirsa pun menanti dakwahnya. Namanyapun tak seperti nama santri pondok tradisional bahkan mirip-mirip dengan nama bintang film sehingga pas disebut ustaz masa kini. Yang ini tentu tak mudah untuk diundang dakwah di pengajian kampung karena musti berurusan dengan organizernya, tak bisa langsung to the point. Namanya sudah telanjur ngepop ya musti membutuhkan pengorganisasian yang rapi dan profesional, padahal yang kayak begini tak masuk dalam kurikulum pondok pesantren yang lebih banyak menerapkan "ilmu ikhlas".

Seorang kiai desa dengan tugas keagamaan memberantas buta huruf Alquran anak-anak desa, tak mematok honorarium untuk jasanya. Sebagai gantinya ia cukup diberi ganti minyak untuk lampu penerang para santri untuk mengaji. Memang bersahaja tetapi mereka toh banyak melahirkan tokoh-tokoh yang antara lain malang melintang di Senayan sebagai DPR yang kiai dan kiai yang DPR. Disegani kawan karena kekiaiannya dan dohormati lawan juga karena kekiaiannya. Betapa murahnya pendidikannya ketika ia belajar dengan kiai yang hanya meminta urunan ganti minyak penerang saja.

Entah dari mana Emha Ainun mendapat cerita Kiai Slilit yang menggambarkan keharusan kiai untuk berhati-hati dalam soal dosa hingga yang sekecil-kecilnya. Alkisah tersebutlah seorang kiai yang menghadiri kenduri di rumah tetangganya dan makan begitu lahab jamuan yang suguhkan termasuk daging kambing kesukaannya hingga kenyang. Saat pulang ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di sela giginya, daging yang terjepit di antara dua gigi. Sambil ngobrol dengan sesama kiai ia mengambil seutas tali di pagar tetangganya untuk mencongkel daging yang terselib di giginya. Nah liding dongeng, ketika meninggal dunia, kiai ini amat sulit masuk surga karena terganjal oleh perkara seutas tali di pagar tetangganya yang diambil tanpa izin. Bagi orang kebanyakan tindakan seperti ini dianggap lumrah tetapi bagi seorang kiai, akan berakibat lain karena ia adalah sosok yang jadi panutan atau kaca benggala dalam kata dan perbuatan.

Tak usah heran manakala suatu saat nanti ada kejenuhan pemakaian kosakata kiai karena tak lagi berwibawa seperti masa lalu. Tak usah bersedih hati karena di samping sebutan ustaz masih ada cadangan kata lainnya untuk memberi julukan pada tokoh agama yang punya wibawa yaitu syekh. Masih sedikit yang mendapat julukan ini misalnya Syekh Nawawi al-Bantani penulis tafsir Marah Labid, Syekh Maulana Maghribi, Syekh Arsyad al-Banjari. Syekh lainnya akan segera datang menghiasi sejarah orang-orang berilmu dan beramal, satu antara kata dan perbuatan, sedikit bicara banyak menulis, banyak mengabdi tak mematok honorarium. Wallahua'lam bissawab.

Senin, 04 Mei 2009

Arti dan makna kata rahmat

Jika merujuk tafsir Al-Qur’an, kata rahmat yang tersirat mengindikasikan banyak arti, misalnya ;

1.(QS. al-Isra[17]:28), jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhan mu yang kamu harapkan.
Kata rahmat dapat bermakna Rezeki

2. (QS. Hud [11]:9), jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa dan lagi tidak berterima kasih.
Kata rahmat dapat bermakna Nikmat

3. (QS. Asy-Syura[42]:28), Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebutkan rahmat-Nya.
Kata rahmat dapat bermakna Hujan

4. (QS. az-Zukhruf [43]:32), Apa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan mu? Kami telah menentukan antara penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhan mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Kata rahmat bermakna Risalah Kenabian.

Prof.Dr. Muhammad Mutawali dalam bukunya tafsir Asy-Sya’rawi ;

“Allah SWT disebut Dzat Yang Maha Penyayang di dunia karena banyaknya makhluk Allah yang tercakup oleh sifat rahmat-Nya ini.
Rahmat Allah SWT di dunia berlaku umum kepada makhluk-Nya, baik orang mukmin, pelaku maksiat, maupun orang kafir. Di dunia Allah SWT memenuhi semua kebutuhan mereka secara merata tanpa memperhitungkan dosa-dosa mereka. Dia memberi rezeki dan ampunan kepada mukmin dan non-mukmin.
Dengan demikian, semua manusia di dunia mendapat rahmat-Nya tanpa memandang apakah mereka beriman atau tidak. Akan tetapi, di akhirat Allah SWT hanya memberikan rahmat kepada orng mukmin saja, sedangkan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak akan memperoleh Rahmat-Nya.
Oleh karenanya penerima rahmat di akhirat jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan saat berada di dunia.

Dalam Ensiklopedia Ar-Rahman Ar-Rahim, kata rahmat dari segi bentuknya, berarti suatu ungkapan dari sekumpulan perasaan yang memiliki hubungan yang tidak terputuskan (saling berhubungan erat) saat menghadapi suatu kejadian atau orang tertentu. Dengan demikian penjelasan diatas mengantarkan kita pada adanya sifat perasaan dalam diri manusia.

Pertanyaannya, “ apa yang dimaksud dengan perasaan ? ”

Jawabannya, perasaan adalah suatu emosi yang muncul sebagai hasil dari proses kimiawi dalam otak manusia.

Pertanyaan berikutnya, “ apakah yang disebut dengan otak ? ”

Jawabannya, otak adalah sebuah laboratorium kimia yang rumit.

Pertanyaan berikutnya, “ apa yang disebut dengan laboratorium kimia (yang terjadi dalam otak manusia) ? ”

Jawabannya, suatu piranti lunak yang menjadi inti dari segala perubahan (transformasi) kimiawi yang terjadi terus menerus tanpa henti dengan kerja yang sangat menakjubkan. Aktivitas ini menghasilkan pemikiran, perasaan takut, ambisi, cita-cita, rencana dan lain sebagainya.

Maka sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan kehidupan di atas bumi ini dengan rahmat-Nya, dan berkat rahmat-Nya pula kehidupan terus berjalan, sehingga sekalipun bumi ini kering dan tandus, maka berkat rahmat-Nya hujanpun turun sebagai sumber kehidupan dan anugerah-Nya.
Kehidupan diatas muka bumi ini sama dengan kehidupan di dalam hati. Allah telah menciptakan hati, lalu Dia menghiasinya dengan keindahan Rahmat-Nya.

(QS.at-Tin [95]:4), Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Allah SWT meninggikan derajat manusia dengan memberikan nya akal dan hikmah, mengistimewakan nya dengan penglihatan yang baik, dan bentuk tubuh yang indah, menjadikan struktur tubuhnya berfungsi dengan aturan-aturan yang harmonis dan penuh keindahan.

Contoh paling utama orang yang mendapatkan rahmat Allah SWT, adalah Nabi Muhammad.
Dalam Al-Qur’an difirmankan bahwa karena Beliau mendapat rahmat Allah, maka Beliau itu lemah-lembut dan penuh pengertian kepada sekalian orang sekeliling Beliau. Tanpa pernah menunjukkan sikap kasar dan bengis kepada mereka.

(QS. Alu-Imran[3]:159), Maka dengan rahmat Allah, engkau ( Muhammad ) berlaku lemah lembut kepada mereka. Kalau seandainya engkau itu bengis dan keras hati, maka tentulah mereka akan buyar dari sekeliling engkau.

Oleh karena itu Nabi diperintahkan Tuhan untuk mengajak mereka bermusyawarah dalam membuat keputusan-keputusan bersama, dan perintah Tuhan itu Beliau laksanakan denganteguh dan setia.

NB : Tulisan ini, adalah inti sari yang coba disimpulkan dari tiga ( 3 ) sumber, yaitu : 1. Tafsir Al-Qur'an, 2. Tafsir asy-Sya'rawi karya Prof.Dr. Syech Muhammad Mutawali, 3. Raudhah an-Naim fi ma'rifah ar-Rahman ar-Rahim karya Sayyidah Hanan Fathi.

Semoga bermanfaat....

Salam,
Hilman Muchsin

Istiqamah

Oleh Abdussalam

''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan merasa sedih. Bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'' (QS Fushshilat [41]: 30).

Kata istiqamah berarti i'tidalul amri, yakni sesuatu yang tegak lurus. Seseorang dapat dikatakan istiqamah jika ia telah melakukan sesuatu itu dengan tegak lurus.

Dalam artian kokoh, penuh keteguhan, tidak goyah atau konsisten pada jalannya. Tidak ada penghalang yang dapat membelokkan usahanya untuk mencapai tujuannya.

Karena itulah, istiqamah merupakan sifat yang paling dicintai Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ''Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.''

Seorang Muslim yang istiqamah akan bersedekah setiap harinya walaupun dengan jumlah yang sedikit. Ini lebih baik daripada mereka yang bersedekah dengan nominal yang banyak, namun hanya sekali dalam setahun, atau bahkan seumur hidupnya.

Istiqamah adalah kata yang ringan diucapkan. Meski ringan, tidak sembarang orang dengan mudah melaksanakannya. Istiqamah mensyaratkan pemahaman, menepatinya dengan menuntaskan segala konsekuensinya, kemudian berkomitmen untuk tetap lurus di jalan-Nya.

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa untuk istiqamah di jalan Allah SWT, diperlukan modal ilmu dan modal amal. Dengan ilmu, seseorang bisa mengetahui posisi jalan dan di mana harus bertindak.

Kemudian, dengan beramal, yakni berjalan dengan tekad yang kuat menempuh jalan yang telah diterangi oleh cahaya ilmu. Amal ini janganlah pernah berhenti hingga mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu ridha Allah SWT.

Begitupun rintangan yang menghadang, hendaknya tidak mengendurkan semangat, bahkan menghentikan langkah. Dalam penjelasan lain, istiqamah akan mudah diwujudkan dengan melakukan beberapa hal berikut.

Pertama, keikhlasan dalam berucap dan berbuat. Hanya orang yang memiliki niat tulus yang dapat bertahan.

Kedua, ketetapan dalam berbuat, yakni harus selalu dilandasi oleh sunah Rasulullah SAW.

Ketiga, tekad yang kuat dalam berbuat.

Keempat, bertawakal karena dengan tawakal seseorang akan selalu optimistis dalam berusaha. Dengan tawakal juga tidak akan menjadikan seseorang takabur ketika meraih kesuksesan.