Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2013

Kenali Gejala Pradiabetes




Penyakit diabetes atau kencing manis bukanlah penyakit yang terjadi seketika. Penyakit ini membutuhkan waktu cukup lama sebelum akhirnya melumpuhkan fungsi insulin.

Salah satu tanda menuju kondisi diabetes adalah pradiabetes. Seseorang yang sudah dalam kondisi ini bisa dikatakan selangkah lebih dekat menuju diabetes. Dalam kondisi ini, alarm seolah sudah berbunyi nyaring memperingatkan penderita untuk waspada.

“Pada kondisi pradiabetes, kandungan gula darahnya mencapai 100-126 mg/dl saat puasa dan 140-200 mg/dl untuk gula darah sewaktu. Padahal, kandungan gula darah normal adalah kurang dari 100 mg/dl saat puasa, dan kurang dari 140 untuk gula darah sewaktu,” kata ahli gizi klinis dr Abdullah Firmansyah, SpGK dari RS Santosa, Bandung.

Pada kondisi ini, gejala diabetes sudah mulai terlihat. Abdullah mengatakan, penderita pradiabetes mudah mengantuk, cepat lelah, dan sulit berkonsentrasi. Penderita pradiabetes juga lebih mudah lapar dan sering buang air kecil.

“Bila dibiarkan lambat laun tentu menjadi diabetes. Pradiabetes sudah sepatutnya menjadi lampu kuning dan segera mengubah pola makan menjadi lebih sehat,” kata Abdullah.
Penderita pradiabetes sebaiknya juga rutin memeriksa gula darah, baik sewaktu atau yang puasa terlebih dulu. Pemantauan yang kerap dilakukan mencegah gula darah dan meningkatkan kontrol pola makan.

Abdullah menyarankan penderita pradiabetes memperhatikan pola makan sesuai 3 J. Pola 3 J adalah tepat jumlah, jenis, dan jadwal. Tepat jumlah adalah mengukur kebutuhan kalori dan menyesuaikannya dengan makanan yang dikonsumsi. Untuk dewasa, kebutuhannya adalah 2.000 hingga 2.200 kalori per hari.

Tepat jenis adalah memperhatikan nutrisi makanan sesuai kebutuhan dan pengaruhnya pada kecepatan peningkatan gula darah. Makanan dengan kandungan gula tinggi, yaitu lebih dari 70, mudah meningkatkan kadar gula dalam darah. Karena itu, makanan dengan karbohidrat sederhana, seperti besar dan roti putih, sebaiknya dihindari.

Kondisi pradiabetes sebaiknya mengonsumsi makanan dengan kandungan gula rendah, yaitu kurang dari 55, atau sedang yang berkisar 56-69. Makanan dengan kandungan gula tinggi ada pada buah dan sayur. Sedangkan kandungan gula sedang ada di dalam beras merah dan oat.

Pola makan sehat, ditambah rajin berolahraga, akan mencegah terkena diabetes. Saat diabetes gula darah mencapai lebih dari 126 mg/dl saat puasa, dan lebih dari 200 mg/dl bila tidak puasa. Kondisi ini mengakibatkan insulin tak lagi berfungsi dan tubuh tidak mampu mengubah gula menjadi energi.

Beda overweight dan obesitas

Kondisi pradiabetes sebetulnya bisa dilihat berat badan. Berat badan yang berlebih dan tidak sesuai Body Mass Index (BMI) harus membuat seseorang waspada dan secepatnya memeriksakan gula darah. Berat badan berlebih ini dikenal sebagai overweight dan obesitas.

Overweight adalah kelebihan berat badan yang ditandai berat badan lebih dari Body Mass Index (BMI). Pada overweight, nilai BMI-nya adalah 25 sampai 26,9, sedangkan BMI normal adalah 18,5-24,9.

Sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan lemak, yang diukur menggunakan lingkar pinggang. Untuk wanita, lingkar pinggang ideal adalah 81,25 sentimeter, sedangkan pada pria adalah 87,5 sentimeter. Pada penderita obesitas, nilai BMI-nya mencapai lebih dari 27. Lemak pada penderita obesitas lebih banyak dibanding overweight.

“Walaupun berbeda, kedua kondisi tersebut menyaratkan waspada dan segera mengganti gaya hidup yang lebih sehat. Rajin makan sayur, buah, dan olahraga menjadi kuncinya,” kata Abdullah.

 http://health.kompas.com/read/2013/09/20/1820080/Kenali.Gejala.Pradiabetes?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp

Minggu, 08 September 2013

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. Subhanallah, menakjubkan

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. Subhanallah, menakjubkan!



“Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an…”.
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.
Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur’an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204)


http://www.arrahmah.com/read/2012/06/26/21226-penelitian-ilmiah-pengaruh-bacaan-al-quran-pada-syaraf-otak-dan-organ-tubuh-lainnya-subhanallah-menakjubkan.html#sthash.v4phdiKb.dpuf

Kebenaran Islam tentang jantung manusia yang ditulis oleh Al-Qur'an



Ilustrasi
(Arrahmah.com) – Paper itu ditulis oleh Marios Loukas, Yousuf Saad, Shane Tubbs dan Mohamadali Shoja. Penulis pertama, Marios Loukas adalah seorang Profesor di St. George University dengan bidang riset seputar jantung, teknik dan anatomi pembedahan, arteriogenesis hingga pendidikan medis.
Pencarian dengan menggunakan portal ISIWeb Knowledge menyebutkan sekitar 280 paper ilmiah yang pernah ditulis oleh Marios Loukas di bidang jantung. Ini menunjukkan kredibilitas beliau sebagai pakar yang berkompeten untuk berbicara soal jantung, termasuk tulisannya yang membicarakan jantung di dalam Al Quran dan Hadits.
International Journal of Cardiology itu sendiri termasuk jurnal ternama di bidang jantung. Nilai Impact factor jurnal tersebut sekitar 3. Paper yang diterbitkan itu dapat dilihat di http://www.internationaljournalofcar…566-X/abstract

Dr. Marios Loukas

Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata “heart” dalam dunia kedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun “hati” dalam kedokteran adalah liver. Karena itu kata ?qalb? dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi “heart”, yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.
Ada sejumlah hal menarik dari paper tersebut.
Paper tersebut dikirim dan sampai (received) ke jurnal tersebut pada tanggal 7 Mei 2009. Ternyata, hanya dalam 5 hari kemudian tanggal 12 Mei 2009, paper tersebut langsung disetujui (accepted) oleh editor jurnal tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, proses ini sangat-sangat cepat. Rata-rata sebuah paper membutuhkan waktu satu hingga beberapa bulan untuk dapat disetujui oleh editor jurnal. Bahkan ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Lamanya proses itu salah satunya karena adanya diskusi panjang dengan reviewer atau pihak ketiga yang memberikan penilaian layak tidaknya sebuah paper untuk dapat diterbitkan di sebuah jurnal ilmiah. Dugaan saya, proses yang hanya lima hari sejak proses received hingga accepted ini disebabkan karena editor langsung setuju dengan isi paper tersebut sehingga tidak diperlukan lagi proses pengecekan oleh pihak ketiga.
Paper itu sendiri terbit secara online pada 25 Agustus 2009. Kemudian dicetak dalam edisi kertas baru-baru saja, pada 1 April 2010.
Dalam pengantarnya, penulis menjelaskan kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi dari sejumlah teks-teks agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Padahal beliau menyebut deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur bedah, karakteristik fisiologi dan pengobatan medis, “Found within the Qur’an and Hadeeth are accurate descriptions of anatomical structures, surgical procedures, physiological characteristics, and medical remedies.” Paper itu ditulis sebagai review atau rangkuman untuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan Hadits dengan fokus khusus pada sistem jantung “to accurately present the anatomical and medical contributions of the Qur?an and Hadeeth, with specific focus on the cardiovascular system.”
Setelah menyebutkan sejarah singkat Al Quran dan Hadits, Marios Loukas menjelaskan perbedaan kontras dalam Islam dan Kristen mengenai hubungan antara agama dan sains. Dalam sejarah Kristen di abad pertengahan dan masa Renaissance, pengaruh gereja Kristen melumpuhkan (stifle) perkembangan sains, bahkan jika pengamatan sains tersebut sebenarnya didukung oleh perhitungan dan pemikiran rasional. Sementara, sains di era kejayaan Islam berkembang luas disebabkan ajaran Islam mendorong (encourage) dan mendukung riset sains. Selain itu, dalam Islam pencarian ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah kepada Tuhan (an act of worship to God).
Paper itu menjelaskan tentang pandangan umum tentang pengobatan dalam Al Qur’an dan Hadits. Diantaranya, Allah SWT yang menciptakan penyakit, dan setiap penyakit itu selalu ada obat dan metode penyembuhannya. Sebuah penyakit yang sembuh terjadi karena adanya ijin dari Allah SWT (permission of God). Ada dua macam perlakuan (treatment) untuk proses penyembuhan suatu penyakit, yaitu secara spiritual dan fisik. Sebab, Al Quran menyebut penyakit tidak hanya berupa penyakit fisik, namun juga penyakit yang  ”tersembunyi” seperti keragu-raguan (doubt), kotoran keimanan (impurity), kemunafikan (hypocrisy) dan tidak beriman (disbelief) dan dusta (falsehood).
Selain penyakit batin tersebut, Al Quran dan Hadits juga mendiskusikan beberapa penyakit fisik seperti sakit perut (abdominal pain), mencret (diarrhea), demam (fever), penyakit kusta (leprosy), and penyakit mental. Diantara obat yang manjur adalah madu karena mengandung gula, vitamin dan anti mikroba. Selanjutnya Al Quran berbicara tentang makanan apa saja yang haram dikonsumsi, seperti bangkai, darah, daging babi serta yang disembelih tidak atas nama Allah.
Mengenai sistem jantung, darah dan sirkulasinya, penulis menyebut tentang sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf 16). Ini menunjukkan relasi antara Allah SWT dengan hamba-Nya, sekaligus mengisyaratkan pentingnya pembuluh darah di leher dan hubungannya dengan jantung.
Panjang lebar, penulis paper tersebut juga mengupas jantung, penyakit yang berkaitan dengan jantung, serta kontribusi Al Qur?an dan Hadits bagi dunia medik. Seperti, pembuluh darah aorta, diskusi seputar darah pada penyembelihan binatang. Al Quran juga menyebut ada tiga kelompok manusia berdasarkan keadaan ?heart?, yaitu orang yang beriman (believers) yang memiliki heart yang hidup, orang kafir (rejecters of faith) yang memiliki heart yang mati, dan orang munafik (the hypocrites) yang ada penyakit dalam heart. Karena itu Marios Loukas menyatakan bahwa heart memiliki dua tipe, yaitu spiritual heart dan physical heart. Tiga kategori itu termasuk ke dalam spiritual heart. Ia juga menyebutkan bahwa ulama (scholars) membagi dua jenis penyakit dalam spiritual heart, yaitu syubuhat dan syahwat.
Bagian yang juga menarik, ketika secara tidak langsung gaya hidup manusia yang dikehendaki oleh Allah SWT, membuat kemungkinan terkena penyakit jantung menjadi lebih kecil, seperti melakukan aktivitas spiritual, makan secukupnya, bekerja secara fisik, tidak marah dan iri hati, menjauhi keserakahan, serta menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang dilarang. Termasuk dibahas pula gerakan-gerakan shalat (berdiri, sujud duduk) yang berhubungan dengan kesehatan, sampai-sampai gerakan orang shalat yang malas seperti yang dilakukan oleh orang munafik dikecam dalam Al Quran. Hingga dibahas pula, larangan Islam untuk mengkonsumsi alkohol untuk khamar yang bisa ditinjau dari segi kesehatan. Sebab, alkohol berpengaruh pada seluruh organ tubuh, seperti liver, lambung, usus, pankreas, jantung dan otak dan dapat menyebabkan sejumlah penyakit, seperti liver cirrhosis, pancreatic insufficiency, cancer, hypertension dan heart disease.
Di bagian kesimpulan, penulis menyatakan bahwa Al Qur’an dan ucapan Nabi Muhammad merupakan teks agama, spiritual dan sekaligus saintifik, serta memberikan pengaruh (influence) bagi ilmu medik dan anatomi. Setelah panjang lebar menjelaskan, penulis menyatakan bahwa jantung (heart) sesungguhnya berisi unsur hati, kecerdasaan dan emosi, sebagaimana juga unsur fisik tubuh yang dapat mengalami sakit, seperti pembekuan darah dll. Penulis juga menyatakan bahwa saintis Eropa di abad pertengahan gagal dalam mengambil manfaat dari Islam, disebabkan oleh beberapa kemungkinan diantaranya proses penterjemahan yang buruk.
Menurut pengamatan saya, Al Qur’an memang bukan kitab sains, namun petunjuk hidup bagi manusia. Bagi orang yang beriman, Al Qur’an juga tidak butuh bukti untuk kebenaran isinya. Namun demikian, adanya sejumlah isyarat-isyarat ilmiah yang belakangan terbukti sesuai dengan perkembangan sains modern semakin menunjukkan bahwa Al Quran bukanlah sebuah kitab yang biasa, tetapi sebuah mukjizat dari Allah SWT. Inilah domain yang dimasuki oleh Marios Loukas dan partnernya. Orang seperti Marios Loukas dengan kepakarannya di bidang jantung sangat tepat untuk membahas masalah ini. Tentu, usaha ini patut mendapat apresiasi dari kita, kaum muslimin. Salah satunya, beberapa saintis Turki menulis paper di jurnal tersebut yang berjudul  “Islamic legacy of cardiology: Inspirations from the holy sources”, sebagai kelanjutan dari paper Marios Loukas tersebut.
Disamping itu pula, sudah menjadi sunnatullah jika gembong anti Islam selalu menampakkan kebenciannya terhadap setiap upaya untuk memajukan Islam. Kalangan anti Islam dari kelompok faithfreedom.org misalnya, mereka sangat tidak suka ketika jurnal Cardiology itu menerbitkan paper tersebut. Bahkan salah satunya seperti Syed Kamran Mirza sampai menulis surat kepada jurnal tersebut agar menarik paper tersebut. Tentu saja permintaan itu ditolak.
Semoga informasi ini bisa menjadi tambahan inspirasi untuk kaum muslimin, untuk selalu menjadi yang terbaik di bidang masing-masing, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan juga menjadi tambahan keimanan bagi kita, kaum muslimin. Wallahu a’lam bish showab..


(saif/zilzaal/arrahmah.com)

Kamis, 14 Mei 2009

Kematian ada di tangan Allah. Tapi kita wajib Berhitung dan jangan pernah Sombong..



RESMINYA ia dokter bedah tulang. Tapi, di kalangan teman, ia dijuluki ”dokter perang”. Joserizal Jurnalis memang gemar merambahi kawasan konflik. Bersama teman-temannya di Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dia terjun ke Maluku ketika konflik pecah di sana.

Ketika Aceh bergelora, dia juga menjadi relawan dan merawat korban yang terluka dari kedua pihak. Dari dalam negeri, Jose­rizal merambah ke Filipina Selatan, Thailand Selatan, Afga­nistan, dan Irak. Januari lalu, sebulan penuh ia menghabiskan waktu merawat korban agresi Israel di Jalur Gaza, Palestina.

Ia menjunjung tinggi sikap netral di daerah perang. ”Kalau ada orang Kristen tertembak di dada dan orang Islam tertembak di kaki, kita dahulukan menolong yang Kristen karena kondisinya lebih mendesak,” katanya. Rabu pekan lalu, Joserizal menerima Nugroho Dewanto, Arif A. Kuswardono, dan Ismi Wahid dari Tempo. Perbincangan berlangsung akrab di kantor MER-C di kawasan Kramat Lontar, Jakarta Pusat.

Apa hambatan memasuki Gaza?
Gaza adalah daerah yang tidak boleh dimasuki orang. Istilahnya diblokade. Pintu masuknya hanya dari Mesir, Israel, dan laut. Dari laut tidak mungkin, karena nelayan saja tak boleh mencari ikan lebih dari batas dua mil. Kalau lewat, akan ditembak. Perbatasan Mesir dikawal oleh petugas Mesir, tapi saya mempunyai feeling Mesir melakukan koordinasi dengan Israel untuk boleh-tidaknya orang masuk Gaza. Anda pernah mendengar dokter Norwegia yang lolos di tengah perang? Dia agak nekat, masuk ke dalam truk. Mungkin dia sudah berulang kali keluar-masuk. Dia punya proyek bantuan kesehatan di Gaza.

Birokrasi Mesir ketat sekali?

Setelah dua pekan menunggu di perbatasan Rafah, saya mendatangi kantor imigrasi Mesir pagi sekali. Saya tanya, apa persoalannya sehingga kami tak bisa masuk. Dia jawab, ”Anda harus minta surat rekomendasi dari kedutaan Anda.” Wah, kenapa orang kedutaan tak memberitahukan informasi ini? Saya segera kembali ke Kairo. Di kedutaan, saya diminta menandatangani surat pernyataan tak akan menuntut pemerintah Indonesia bila terjadi musibah. Surat itu dikirim ke Gubernur Sinai Utara. Kemudian kami kembali diminta menandatangani pernyataan tak akan menuntut pemerintah Indonesia, Mesir, dan Pa­lestina kalau terjadi sesuatu. Setelah beres, kami kembali ke perbatasan. Sekitar 300 meter menuju ruang imigrasi, pesawat Israel melayang, dan terdengar gelegar bom. Gila! Ini masih wilayah Mesir, dan pesawat Israel bebas melintas. Kami tunjukkan surat ke petugas imigrasi Mesir. Dia bertanya, ”Are you sure to go inside?” Kami jawab, ”Sure.”

Apa yang Anda temukan ketika berhasil masuk Gaza?
Kami memasuki Gaza di bawah serangan bom. Pesawat Israel menumpahkan bom api, lalu bom suara. Kami masuk hanya berempat, menggunakan bus. Tidak ada anggota staf kedutaan yang ikut. Kemudian kami berganti mobil, bahkan menggunakan ambulans. Kali ini di dalam mobil ada pe­numpang lain, dokter dari Turki dan Suriah. Beberapa kali ambulans berhenti karena ada pertempuran. Saat berhenti yang ketiga kali, agak lama. Pintu ambulans digedor dari luar. Sopir meminta kami tidak melo­ngok. Diam dan tetap hidupkan lampu. Setelah lewat, kami baru tahu, di sekitar ambulans tadi banyak tentara Israel. Akhirnya kami sampai di Rumah Sakit As-Syifa dan disambut dengan hangat oleh dokter di sana. Mereka tahu bahwa perjalanan ini penuh dengan hujan bom.

Berapa lama perjalanan dari perbatasan ke Rumah Sakit As-Syifa?
Kalau jalan lancar, sebetulnya enggak sampai satu jam. Waktu itu kira-kira dua jam. Kami disambut dengan antusias. Mereka mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami. Mereka mengatakan, ”Anda sudah melihat kami, tolong beri tahukan kepada dunia bagaimana keadaan kami.” Mereka menambahkan lagi, ”Anda datang saja sudah cukup, jadi enggak usah bekerja.” Sejak kecil saya susah menangis, tapi di sana saya merasakan mata saya agak berair.

Tidak ada dokter dari Departemen Kesehatan?
Tidak ada. Tapi kami tetap membawa bendera negara. Dokter lain, dari Mesir, Turki, dan Suriah, tidak membawa negara. Mereka hanya mewakili LSM-nya. Malamnya kami saling memperkenalkan diri dan langsung rapat.

Ada dokter nonmuslim yang menjadi relawan di Rumah Sakit As-Syifa?
Ada, dari Cek dan Norwegia. Mereka nonmuslim, dan disambut dengan baik.

Tim Anda tidur di mana malam itu?
Kami tidur di salah satu kamar pe­rawatan di Rumah Sakit As-Syifa. Hawa dingin sekali. Ketika berwudu untuk salat subuh, tangan saya terasa beku.

Di As-Syifa masih ada air bersih dan listrik?
Air ada. Listrik berasal dari Israel. Rumah sakit itu memiliki fasilitas cukup representatif.

Berapa banyak pasien yang dirawat di sana?
Banyak sekali. Saya kagum dengan cara dokter di sana mengatur arus pasien. Begitu pasien stabil, langsung dibawa ke luar. Jadi, pasien yang ada di dalam rumah sakit hanya mereka yang dalam keadaan darurat atau menunggu penyembuhan.

Dibawa ke luar maksudnya ke mana?
Biasanya ke Mesir dulu. Ada yang ke Belgia juga. Macam-macam.

Bagaimana dengan dokter-dokter Palestina sendiri?
Skill mereka lumayan, mungkin karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Saya salut dengan cara mereka mengelola pasien. Mereka bisa berfokus hanya menangani pasien yang parah.

Apa tugas tim Anda di rumah sakit itu?
Kami hanya diizinkan menolong fresh case. Hari pertama kami menangani anak perempuan umur sembilan tahun. Tulang kakinya patah, dagingnya beserpihan. Bokong dan duburnya rusak. Dia akhirnya meninggal karena kehabisan darah. Kalau hidup, dia akan cacat besar.

Cedera apa saja yang biasanya diderita korban?
Saya beberapa kali mendapati korban dengan kaki terputus di bagian paha. Biasanya, kalau bom meledak, orang di dekatnya akan mati. Tapi orang yang jauh tidak. Biasanya hanya terlempar. Dia menderita trauma dada, perut, terempas, lalu patah kaki. Itu yang sering kami temukan di Irak dan Afganistan. Di Gaza, kami banyak menemukan kaki putus, remuk, atau patah satu level.

Apa dugaan Anda?

Mungkin Israel sedang mencoba senjata baru. Selain memakai bom fosfor, mereka membikin bom untuk membuat cacat tubuh. Pecahan bom itu tajam sekali, menyebar, dan memotong putus kaki, biasanya di bagian paha. Ini harus ditentang, seperti Lady Diana dulu menentang penggunaan ranjau personel yang membuat cacat tubuh.

Berapa pasien yang Anda tangani?


Saya mengoperasi empat pasien. Kawan saya, dokter Indragiri, karena dia ahli bius, menangani lebih banyak kasus. Hari-hari yang tersisa saya gunakan melobi Menteri Kesehatan Pales­tina di Gaza untuk membangun rumah sakit. Menemui beliau tidak gampang. Pernah dia datang mendadak malam-malam. Kalau janjian malah enggak bisa ketemu.

Anda juga menemukan korban bom fosfor putih?
Ada. Ada fotonya. Bom itu masih menyala di tanah.

Berapa banyak korban akibat bom fosfor putih itu?

Saya enggak menghitung. Hampir semua korban yang saya rawat mengalami luka bakar. Cuma, saya enggak tahu ini kena fosfor atau karena panas bom saja. Ada pula anak kecil yang menjadi korban sniper. Peluru bersarang di kepalanya. Kalau dari jarak dekat, peluru itu pasti tembus. Dia selamat setelah dioperasi dokter dari Suriah.

Rumah Sakit As-Syifa tidak diserang Israel?
Bagian depan As-Syifa dibom. Akibatnya, kaca-kaca masjid di depan As-Syifa berpecahan.

Anda sempat berkeliling di Gaza?
Terus terang, hari pertama dan kedua saya terus di dalam rumah sakit. Tidak berani keluar karena pesawat Israel masih terbang rendah. Hari ketiga dan keempat baru kami keluar dan berkeliling melihat kehancuran Gaza.

Bagaimana kehancurannya?
Yang paling parah di wilayah Beit Lahiya. Itu daerah perbatasan dengan Israel. Ada satu desa rata dengan tanah akibat bom dari pesawat dan tank. Yang saya dengar, di situ terjadi pertempuran hebat. Menurut Hamas dan Al-Qasam, di situ Israel kehilang­an 13 tank.

Pernah bertemu dengan relawan perang dari Indonesia?
Mereka mau masuk dari mana? Gaza itu daerah kecil yang dikelilingi Israel dan Mesir. Wartawan yang coba-coba masuk ke daerah Rafah Mesir saja dito­dong senjata.

Anda sering pergi ke tempat berbahaya. Apakah keluarga di rumah tidak khawatir?

Sejak awal saya mendidik keluarga bahwa kematian ada di tangan Allah. Cuma, kita memang harus berhitung. Tidak gegabah, tidak boleh sombong. Itu prinsipnya.

Apa yang mendorong Anda gemar ke wilayah perang?
Pengalaman-pengalaman saya itu sifatnya spiritual. Saya ingin menolong mereka yang paling membutuhkan dan paling diabaikan. Dan saya tak mau dibilang hangat-hangat tahi ayam karena di agama juga di­ajarkan untuk konsisten atau istikamah.

Dokter lain sibuk cari duit, Anda malah pergi ke daerah rawan. Kapan cari uang?
Baru saja saya cari duit dengan mengoperasi orang (tertawa). Masalah rezeki, kita hanya berusaha, Allah yang menentukan. Saya tinggalkan praktek selama satu bulan. Jelas hilang mata pencarian selama satu bulan. Tapi, begitu saya buka praktek hari pertama, pasien berjubel. Ada pasien yang menunggu operasi selama satu bulan, padahal sudah saya persilakan dia dioperasi dokter lain.

Oleh Dr Joserizal Jurnalis, SpOT
Lahir, Di Padang, Sumatera Barat, 11 Mei 1963

Pendidikan
# Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
# Spesialis bedah tulang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Pekerjaan
# Dokter spesialis bedah tulang dan traumatologi
# Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), 1999-sekarang

11-02-2009 / 09:15:35
Author : Majalah Tempo

Sabtu, 09 Mei 2009

Kontribusi Peradaban Islam dalam Kedokteran Gigi


Ajaran Islam memerintahkan agar umatnya senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: ''Seandainya tidak akan merepotkan umatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka untuk membersihkan gigi pada setiap akan shalat.''(HR Bukhari dan Muslim).

Islam memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut akan sangat menentukan kualitas hidup manusia. Tak heran jika seabad setelah Rasulullah SAW wafat, para dokter Muslim di era keemasan terdorong untuk turut mengembangkan ilmu kedokteran gigi (dentistry). Sejatinya, pengobatan gigi telah diterapkan manusia dari peradaban Lembah Indus bertarikh 7.000 hingga 5.500 SM.

Namun, ilmu kedokteran gigi justru berkembang pesat pada era kejayaan peradaban Islam. Henry W Noble (2002) dalam Tooth transplantation: a controversial story, History of Dentistry Research Group, Scottish Society for the History of Medicine mengakui bahwa para dokter Muslim di zaman kekhalifahan merupakan perintis dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi.

Peradaban Barat saja baru mengembangkan ilmu kedokteran gigi secara khusus pada abad ke-17 M. Buku pertama tentang ilmu kedokteran gigi di Barat baru hadir tahun 1530 M bertajuk "Artzney Buchlein". Buku teks kedokteran gigi dalam bahasa Inggris baru muncul tahun 1685 karya Charles Allen berjudul Operator for the Teeth.

Bahkan, masyarakat Amerika baru mengenal adanya dokter gigi pada abad ke-18 M. John Baker merupakan dokter pertama yang praktik di benua itu. Baker merupakan dokter gigi yang berasal dari Inggris. Amerika baru memiliki dokter gigi sendiri pada tahun 1779 M bernama Isaac Greenwood.

Lucunya, peradaban Barat mengklaim Pierre Fauchard - berkebangsaan Prancis yang hidup di abad ke-17 sebagai "bapak ilmu kedokteran gigi modern". Padahal, menurut Noble, 700 tahun sebelum Fauchard hidup, seorang dokter Muslim bernama Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi alias Abulcasis (930 M - 1013 M) telah sukses mengembangkan bedah gigi dan perbaikan gigi.

Keberhasilannya yang telah memukau para dokter gigi modern itu tercantum dalam Kitab Al-Tasrif. Kitab itu tercatat sebagai teks pertama yang mengupas bedah gigi secara detail. "Dalam kitabnya itu, Abulcasis juga secara detail menggambarkan keberhasilannya dalam melakukan penanaman kembali gigi yang telah dicabut," papar Noble.

Al-Zahrawi juga tercatat sebagai dokter yang mempelopori penggunaan gigi palsu atau gigi buatan yang terbuat dari tulang sapi. Kemudian geligi palsu itu dikembangkan lagi mengunakan kayu - seperti yang digunakan oleh presiden pertama Amerika Serikat, George Washington 700 tahun kemudian.

Sumbangan penting dokter Muslim di era kejayaan dalam pengembangan ilmu kedokteran juga diungkapkan Salma Almahdi (2003) dalam tulisannya berjudul Muslim Scholar Contribution in Restorative Dentistry yang dimuat dalam Journal of the International Society for the History of Islamic Medicine. Menurut Almahdi, dokter gigi Muslim dari abad ke-10 M lainnya yang mengembangkan dentistry adalah Abu Gaafar Amed ibnu Ibrahim ibnu Abi Halid al-Gazzar.

Dokter gigi asal Afrika Utara itu memaparkan metode perbaikan gigi secara detail dalam Kitab Zad al-Musafir wa qut al-Hadir. Kitab itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Viaticum oleh Constantine the African di Universitas Salerno - yang berada di Selatan Italia. "Kitab yang ditulis Al-Gazzar merupakan yang pertama yang mengupas tentang perawatan gigi busuk/rusak," papar Almahdi.

Dalam kitabnya, Al-Gazzar menyatakan bahwa hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengobati gigi yang busuk adalah membersihkannya. Kemudian, papar dia, gigi itu diisi dengan gallnut, madu, kemenyan, terbinth yang mengandung damar, pohon cedar yang mengandung damar, pellitory atau pengasapan dengan akar colocynthis.

Al-Gazzar pun merekomendasikan senyawa arsenik untuk gigi yang berlubang. Campuran ini juga mampu mengatasi pembusukan gigi serta mengendurkan dan meredakan ketegangan syaraf. Dokter Muslim lainnya yang memberi sumbangan penting bagi ilmu kedokteran gigi adalah Ibnu Sina lewat karyanya yang sangat fenomenal bertajuk he Canon of Medicine. Menurut Almahdi, Ibnu Sina terpengaruh oleh Al-Gazzar dalam pengobatan gigi.

Meski begitu, Ibnu Sina mengembangkan sendiri pengobatan gigi dengan caranya sendiri. Baik Al-Gazzar maupun Ibnu Sina sepakat bahwa kebusukan pada gigi disebabkan oleh "cacing gigi". Namun pendapat itu dipatahkan oleh dokter Muslim lainnya dari abad ke-12 M bernama Gaubari. Dalam Book of the Elite yang ditulisnya, Gaubari menyatakan bahwa dalam kenyataannya cacing gigi tak pernah ada. Sejak abad ke-13 M, teori cacing gigi akhirnya tak lagi diterima dalam kedokteran Islam.

Kontribusi peradaban Islam lainnya yang tak kalah penting dalam kedokteran gigi diberikan oleh Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ar-Razi. Dokter legendaris di era keemasan peradaban Islam itu juga secara khusus mengembangkan perawatan kesehatan gigi. Ar-Razi terbilang sebagai dokter Muslim pertama yang memberi sumbangan bagi ilmu kedokteran gigi.

Menurut Almahdi, Ar-Razi mencoba merekomendasikan metode yang dikembangkan Galen - dokter dari peradaban Yunani - dalam melepas gigi rusak dengan cara dibor. Untuk mengurangi rasa sakit saat gigi dibor, dokter terkemuka di kota Baghdad itu menganjurkan agar lubang gigi ditetesi minyak.

Selain mengkaji masalah gigi, dokter Muslim di era kekhalifahan pun sudah mengkaji kesehatan mulut, salah satunya soal lidah. Organ penting yang dibiasa digunakan untuk mengunyah, menelan dan berbicara itu mendapat perhatian khusus dari Ibnu Sina. Dalam Canon the Medicine, Ibnu Sina mengkaji berbagai penyakit lidah dan penyembuhannya.

Menurut Almahdi, dalam kitabnya yang sangat lengkap itu Ibnu Sina menerangkan tentang anatomi lidah serta penyakit-penyakit yang sering dialami organ lidah baik secara sensorik maupun motorik. Ibnu Sina membahas masalah lidah secara mendalam dalam empat belas bab.Betapa sumbangan peradaban Islam bagi dunia kedokteran sungguh begitu luar biasa. Namun, kontribusi penting para dokter Muslim itu kerap dinihilkan dan disembunyikan peradaban Barat. Tak heran, bila pencapaian para ilmuwan Muslim di era kejayaan itu juga tak diketahui masyarakat Islam di era modern ini. Sungguh ironis memang.

Siwak, Pembersih Gigi Warisan Rasulullah SAW
Membersihkan gigi merupakan sunah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW biasa membersihkan giginya dengan siwak. Dalam hadits dsebutkan Rasulullah SAW biasa menggosok giginya dengan siwak setiap bangun dari tidur. Hudaifah RA meriwayatkan: "Kapan pun Rasulullah SAW bangun dari tidur, ia akan menggosok giginya dengan siwak.

" (HR Bukhari dan Muslim).Selain setelah bangun tidur, dalam hadits lainnya Nabi Muhammad SAW juga biasa membersihkan giginya dengan siwak sesaat sebelum berwudhu. Aisyah RA meriwayatkan: Kami biasa menyiapkan sebuah siwak dan air untuk wudhu bagi Rasulullah SAW kapan pun Allah menghendaki beliau bangun dari tidur malam, beliau akan mebersihkan giginya dengan siwak, mengambil wudhu, dan lalu mendirikan shalat. (HR Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW secara khusus menyarankan umatnya untuk menggunakan siwak. Anas RA meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda, "Aku menyaran agar kalian menggunakan siwak". (HR Bukhari). Siwak merupakan alat pembersih gigi yang diwariskan Rasulullah SAW bagi umatnya. Bukan tanpa alasan Rasulullah SAW menyarankan umatnya untuk menggunakan siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting segar tanaman arak (salvadora persica). Sebuah penelitian ilmiah pada tahun 2003 membuktikan keunggulan siwak dibandingkan pasta gigi biasa.

Kayu siwak memiliki keunggulan karena terbukti mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak pun diketahui memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive, dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi.

Selain itu, siwak juga mengandung zat kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins, dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Siwak pun mengandung minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar. Zat inilah yang membuat siwak dapat menghilangkan bau pada mulut.

Sebagai pasta gigi alami, siwak juga mampu mencegah pembentukan karang gigi. Zat anti pembusukan yang terkandung dalam siwak diyakini dapat menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan.Kelebihan lainnya dari siwak adalah kemampuannya untuk turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih. Apalagi saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Atas dasar itulah perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produknya. Pada tahun 1986 dan 2000, organisasi kesehatan se-dunia merekomendasikan penggunaan siwak dalam sebuah konsensus internasional. Dr Otaybi dari Arab Saudi dalam penelitian yang dilakukannya membuk

Penulis : heri ruslan
REPUBLIKA - Kamis, 16 Oktober 2008

Sumbangan Kedokteran Islam dalam Bidang Urologi




Kedokteran Islam di era kekhalifahan telah memberi begitu banyak sumbangsih bagi pengembangan dunia kedokteran modern. Sejarah mencatat, salah satu kontribusi penting yang disumbangkan para dokter Muslim dari zaman keemasan terhadap dunia medis modern adalah dalam bidang urologi.

Urologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang khusus menangani bedah ginjal dan saluran kemih serta alat reproduksi. Jauh sebelum Felix Guyon, profesor Urologi pertama di Paris, Prancis, pada tahun 1890 mengembangkannya, para dokter Muslim di abad ke-9 M sudah menguasai urologi.

Sederet inovasi penting di bidang urologi telah ditemukan para dokter Muslim terkemuka, seperti Al-Razi, Ibnu Sina, Al-Zahrawi, Ibnu Al-Quff, Thabit Ibnu Qurra, Al-Majousi, serta Al-Tabari. Mereka tak hanya mampu mendeteksi dan mengobati beragam penyakit urologi, tetapi juga telah menemukan sederet peralatan dan teknologi pengobatannya.

Buah pemikiran dan hasil penemuan mereka dalam bidang urologi telah memberi pengaruh yang sangat besar bagi dokter-dokter di dunia Barat. Peradaban Barat telah mengembangkan dan menerapkan urologi yang ditemukan para dokter Muslim dari abad ke-9 M. Tak heran, jika dokter bedah terkemuka di Barat, E Forge, begitu takjub dengan pencapaian yang ditorehkan Al-Zahrawi dalam bidang kedokteran--lewat karyanya Al-Tasriif.

Berikut ini adalah sumbangsih kedokteran Islam dalam bidang urologi:
Anatomi

Sekitar seribu tahun silam, para dokter Muslim, seperti Ibnu Abbas Al-Majousi, Ibnu Sina, dan Ibnu Hubal telah berhasil mengidentifikasi anatomi tubuh manusia yang menjadi kajian studi urologi. Mereka telah menjelaskan secara detail tentang anatomi kandung kemih dan bagian-bagian saluran kencing. Penjelasan yang mereka sampaikan tentang organ-organ itu, tak ada bedanya dengan dunia kedokteran modern.

Dr AM Dajani dalam tulisannya bertajuk Abstracts of Contribution of Islamic Medicine to Urologi memaparkan, para dokter Muslim di zaman keemasan juga sudah mulai mencurahkan perhatiannya untuk mencegah terjadinya vesicoreteric reflux (VUR), yakni kelainan saluran urine dari kandung kemih ke ginjal.

Gangguan ini, menurut para dokter Muslim, dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. "Yang menarik untuk dicatat, setelah seribu tahun kemudian, observasi yang sama juga dilakukan oleh sarjana Arab terkemuka bernama E Tanagho," papar Dajani. Sejarah juga mencatat, Al-Majousi adalah dokter pertama yang menjelaskan kelainan-kelainan, seperti hispospadia, epispadia, serta hermaphroditisme.

Batu Ginjal
Batu ginjal adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih, atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Para dokter Muslim di masa kekhalifahan telah memberi perhatian begitu intens terkait batu ginjal.

Mereka mencoba untuk menjelaskan secara ilmiah pembentukan batu ginjal, tanda-tanda serta gejalanya. Untuk pertama kalinya pula, dokter Muslim berhasil melakukan operasi untuk membuang atau menghancurkan batu ginjal. Selain itu, para dokter Muslim pun telah memberikan petunjuk pengobatan untuk merawat pasien batu ginjal serta bagaimana pencegahannya.

Pembentukan Batu Ginjal
Dalam kitab kedokteran yang paling termasyhur, Canon of Medicine, Ibnu Sina secara khusus membahas tentang pembentukan batu ginjal. Menurutnya, peradangan ginjal kemungkinan dapat berakhir dengan terbentuknya batu ginjal. Sedangkan, Ibnu Qurrah menyatakan, batu ginjal pada awalnya berasal dari benda kecil dan terus membesar seiring waktu.

Ibnu Sina dan Al-Zahrawi sepakat bahwa batu kandung kemih adalah hal yang umum terdapat pada anak-anak. Benda kecil itu, papar keduanya, akan berubah menjadi batu ginjal pada saat umur seseorang terus bertambah. Kedua dokter itu juga sependapat bahwa batu kandung kemih jarang ditemukan pada wanita.

Tanda-tanda dan Gejala Batu Ginjal
Seorang yang menderita batu ginjal akan merasakan rasa sakit. Menurut Ibnu Sina dan Al-Razi, rasa sakit akan tambah memburuk ketika batu mulai terbentuk atau saat batu itu turun menuju ke kandung kemih. Penderita batu ginjal, kata kedua dokter Muslim legendaris itu, akan merasakan betapa beratnya panggul mereka.

Ibnu Sina telah mampu membuat perbedaan yang jelas antara batu ginjal dan batu kandung kemih. Para dokter Muslim di zaman memang terbilang fenomenal. Saat dunia barat dikungkung kegelapan, mereka telah menguasai perbedaan beragam penyakit. Mereka telah mampu menjelaskan perbedaan diagnosis antara sakit usus dan sakit ginjal. Penjelasan yang dibuat seribu tahun lalu itu ternyata tak berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah kedokteran saat ini.

Penanganan Batu Ginjal
Dalam kitab Al-Hawi, Al-Razi menyarankan agar penderita diberi obat penenang saat batu ginjalnya dikeluarkan. Hal ini perlu dilakukan agar rasa sakit bisa hilang. Sementara itu, Ibnu Al-Quff meyakini bahwa mengobati pasien dengan batu ginjal yang besar lebih gampang dibanding dengan yang kecil.

"Ada tiga alasan mengapa pengobatan batu yang besar lebih mudah," papar Al-Quff. Pertama, batu yang lebih besar berhenti di permukaan urethra dan kenyataannya tetap di kandung kemih. Kedua, batu ginjal yang besar lebih mudah diraba dan dirasakan. Ketiga, operasi merupakan jalan yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan batu ginjal yang lebih besar.

Operasi Batu Ginjal
Abulcasis atau yang dikenal sebagai Al-Zahrawi merupakan dokter bedah pertama yang berhasil melakukan operasi untuk mengeluarkan batu ginjal. Secara khusus, Al-Razi dan Al-Zahrawi menjelaskan proses operasi untuk mengeluarkan batu ginjal. Al-Razi menyatakan sebelum dikeluarkan, batu ginjal perlu dipecahkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kedua dokter Muslim legendaris itu menyatakan kesulitan yang dihadapi saat mengoperasi batu ginjal pada pasien wanita.

Mencegah Batu Ginjal
Untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, Ibnu Qurrah menyarankan agar menghindari minuman dan makanan berat. Saran serupa juga diungkapkan Al-Razi. Nasihat itu kini dikenal sebagai diet, hidrasi, dan diuresis.

Sunat
Ibnu Al-Quff mengungkapkan ada empat metode sunat/sirkumsisi. Keempat metode itu masih dipraktikkan hingga sekarang. Sementara itu, Al-Zahrawi lebih memilih menggunakan gunting untuk menyunat.

Itulah sebagian kecil sumbangan para dokter Islam di masa kegemilangan bagi studi urologi. Kontribusi yang amat berharga bagi dunia kedokteran modern. Boleh jadi, tanpa jasa mereka, studi urologi tak akan berkembang seperti sekarang ini. N heri ruslan

Kitab Klasik Rujukan Urologi Modern
Sejumlah kitab penting yang ditulis para dokter Muslim telah menjadi rujukan kedokteran modern, khususnya studi urologi. Di antara kitab medis klasik yang begitu besar pengaruhnya bagi studi kedokteran itu, antara lain:

Kitab Al-Hawi
Kitab kedokteran ini ditulis Ar-Razi yang hidup di Baghdad antara tahun 841 M - 926 M. Kitab ini dipandang sebagai sebuah masterpiece kedokteran klinik. Al-Hawi yang terdiri atas 23 volume itu merupakan ensiklopedia kedokteran dan bedah. Inilah sumbangan yang monumental dari seorang dokter Muslim yang dikenal di Barat dengan panggilan Razes. Buah pemikiran sang ilmuwan Muslim serbabisa itu juga mengkaji secara detail tentang studi urologi.

Kitab Risiila Fi Siyasat As-Sibyian Wa Tadbirihim

Buku kedokteran ini ditulis oleh Ibnu Al-Jazzar atau Al-Gizar (895 M - 980 M). Buah pikir dokter yang begitu populer di Qairawan itu terdiri atas 22 bab. Kitab ini dinilai sebagai buku kedokteran yang mencoba melanjutkan pemikiran Al-Razi. Kitab ini secara khusus juga membahas tentang gangguan atau penyakit urologi. Al-Jazzar mengupas dan membedah urologi dalam satu bab khusus.

Kitab At-Tasrif
Inilah buah pikir Al-Zahrawi atau Abulcasis (930 M - 1013 M) yang paling legendaris. Ensiklopedia kedokteran dan bedah itu terdiri atas 30 bab. Karya dokter Muslim asal Cordoba itu tak cuma legendaris, namun juga fenomenal. Sejumlah sejarawan menggambarkan pencapaian yang berhasil ditorehkan Al-Zahrawi lewat kitabnya itu sungguh mengagumkan.

Betapa tidak. Al-Zahrawi dinilai mampu menjelaskan prosedur bedah serta peralatan-peralatan bedah yang diperlukan. Padahal, saat itu, belum ada satu kitab kedokteran pun yang mengupasnya. Para sejarawan kedokteran, seperti Cumston, Spink, dan Lewis menyatakan, Al-Zahrawi merupakan peletak dasar lithotripsy--sebuah prosedur dalam kedokteran untuk memecahkan batu yang terdapat di ginjal, saluran kemih, dan kandung kemih.

Kitab Al-Qanun fi Al-Tibb
Al-Qanun adalah kitab kedokteran paling termasyhur yang ditulis dokter Muslim bernama Ibnu Sina. Karya monumental dokter yang tinggal di Hamadan dan Jurjan dari 980 M hingga 1037 M ini begitu berpengaruh di dunia kedokteran Eropa pada abad pertengahan. Kitab ini juga mengkaji secara khusus studi urologi.

Kitab ini masih dijadikan rujukan sekolah kedokteran di dunia hingga abad ke-18 M dan awal abad ke-19 M. Al-Qanun pun menjadi semacam standar kedokteran, baik di Eropa maupun di dunia Islam. Kitab ini sempat menjadi buku referensi utama yang banyak dipakai di fakultas kedokteran, salah satunya di University of Montpellier, Prancis, pada tahun 1650. Banyak bagian dari buku kedokteran ini yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Di negeri Tirai Bambu itu, Al-Qanun fi Al-Tibb dikenal dengan judul Hui Hui Yao Fang.dok/rep/Desember 2008 /heri ruslan

By Republika Newsroom
Rabu, 25 Maret 2009 pukul 08:50:00

Kamis, 07 Mei 2009

Asma, Gabungan Faktor Genetik dan Lingkungan


JAKARTA, KOMPAS.com - Penyebab asma adalah gabungan antara faktor genetik dan kondisi lingkungan. Sekalipun demikian, asap rokok menjadi penyebab timbulnya penyakit asma, terutama untuk anak-anak.

"Jika salah satu orangtua ada yang asma, maka kemungkinan anaknya terkena asma adalah 30 persen," kata Bambang Supriyatno, Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia saat konferensi pers Hari Asma Dunia yang diadakan oleh Dewan Asma Indonesia (DAI) di R.S. Persahabatan di Jakarta, Senin (4/5).

Lebih lanjut ia mengatakan, jika kedua orangtuanya sama-sama ada asma maka kemungkinan tersebut naik menjadi 70-80 persen. "Namun, jika anaknya tidak kena, bisa jadi yang akan terkena asma adalah cucu atau cicitnya nanti," ungkap Bambang yang juga anggota DAI. Kemungkinan ini, tambahnya, baru berupa potensi.

Menurut Bambang, potensi ini akan menjadi benar-benar penyakit jika lingkungannya tidak mendukung. Faktor tidak mendukung itu seperti polusi udara, memakan makanan yang banyak mengandung pengawet/ pemanis/ perasa, dan debu.

Dalam kasus asma pada anak-anak, perilaku orangtua menjadi sangat penting. "Penyebab utama anak-anak yang terkena asma adalah karena asap rokok. Biasanya, asap rokok dari orangtua mereka. Asap rokok yang paling berperan," tegas Bambang.

Padahal, menurutnya, dari prevalensi 12,5 juta penderita asma di Indonesia sebagian besar adalah anak-anak.

Rabu, 06 Mei 2009

Tertawa Bisa Kurangi Risiko Diabetes


By Republika Newsroom
Rabu, 22 April 2009 pukul 05:58:00

Gelak tawa dapat membantu penderita diabetes meningkatkan kadar kolesterolnya dan menurunkan risiko penyakit pembuluh darah dan jantung, demikian hasil satu studi baru.

Menurut Lee Berk dari Loma Linda University, yang memimpin studi itu, pilihan gaya hidup berdampak mencolok pada kesehatan dan penyakit serta semua ini adalah pilihan antara tindakan pencegahan dan pengobatan.

Para peneliti membagi 20 pasien diabetes berisiko tinggi yang semuanya menderita darah tinggi dan hyperlipidemia (penyakit pembuluh darah dan jantung) ke dalam dua kelompok yang keduanya diberi obat diabetes standard.

Kelompok L diberi waktu 30 menit untuk menikmati humor yang mereka pilih, sementara Kelompok C --kelompok pemantau--- tidak.
Proses itu berlangsung selama satu tahun pengobatan.

Sekitar dua bulan proses pengobatan, semua pasien di kelompok tertawa (Kelompok L) memiliki tingkat hormon epinephrine dan norepinephrine --dipandang sebagai penyebab stres-- lebih rendah.

Setelah 12 bulan, kolesterol HDL (kolesterol baik) telah naik 26 persen pada Kelompok L tapi hanya 3 persen di dalam Kelompok C.

Dalam pengukuran lain, protein C-reaktif, penanda radang dan penyakit pembuluh darah serta jantung, turun 66 persen pada kelompok tertawa tapi hanya 26 persen pada kelompok pemantau.

"Dokter terbaik mengerti bahwa ada campur tangan psikologis hakiki yang ditimbulkan oleh emosi positif seperti gelak tawa dengan riang-gembira, optimisme dan harapan," kata Berk.

Kendati demikian, Berk menilai tertawa menjadi obat yang bagus dan sama berharganya dengan obat diabetes, tapi berkeras bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan guna memastikan apa maksud dari semua hasil itu.