Senin, 25 Maret 2013

Ulama Indonesia yang Mengajar di Masjidil Haram




Sebuah kebanggaan bagi muslimin Indonesia karena pernah memiliki ulama seperti Tuan Guru Abdurrahman Siddiq Al-Banjari.

Jika ulama pada umumnya belajar ke Arab Saudi, maka beliau justru ulama nusantara yang pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah. Saat kembali ke Nusantara pun, beliau menjadi soko guru yang mengenalkan tasawuf secara benar di tanah Melayu.

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, demikian nama lengkapnya. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahir beliau sebenarnya hanyalah Abdurrahman.

Nama "Siddiq" beliau dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Makkah. Beliau merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia. Ia tak sempat mendapat asuahan sang ibunda. Ia pun kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad. Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal. Maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.

Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syaikh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syaikh makin giat menuntut ilmu agama.

Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatra Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahirn Islam, Makkah pada tahun 1887.

Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, beliau pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.

Sepulang dari Saudi, mantaplah ilmu syekh untuk berdakwah di negeri sendiri. Ia kemudian mengabdikan diri untuk berdakwah di Martapura, kemudian pindah ke Indragiri. Ia pun kemudian banyak didatangi para penuntut ilmu, tak hanya dari tanah air, namun juga dari negari tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Beliau bahkan mendirikan sebuah masjid dan madrasah di Indragiri Martapura. Madrasah yang ia buka pun kemudian menjadi tempat para penuntutu ilmu mengambil faedah dari syaikh dengan cuma-cuma. Tak ada iuran sepeser pun yang diminta dari murid-murid madrasahnya. Syekh bergantung pada hasil kebunnya untuk membiayai operasional madrasah.

Syekh Abdurrahman Siddiq, yang juga dipanggil "Tuan Guru" tersebut dikenal sebagai ulama yang amat giat dan aktif. Tak hanya sebagai sufi yang tawadhu, namun juga sastrawan yang membumikan ilmu tasawuf di tanah Melayu. Banyak syair yang telah dihasilkan Syaikh sementara dakwah terus berjalan.

Beliau meluruskan paham tasawuf dan ilmu kalam yang seringkali dipahami secara menyimpang. Pasalnya, banyak guru tasawuf yang hanya mengacu pada hal batin semata. Maka beliau pun hadir meluruskan ilmu tasawuf yang bena

Melihat kefaqihannya, banyak pemerintah setempat yang berkeinginan menjadikan beliau sebagai pemberi fatwa atau mufti. Ia pernah ditawari jabatan mufti dari sultan Kerajaan Johor, namun ia menolaknya. Saat berkunjung ke Betawi, Syekh juga diminta menjadi mufti namun lagi-lagi beliau menolaknya.

Baru setelah tawaran datang dari Kerajaan Indragiri Riau, beliau menerimanya. Itupun setelah pihak kerajaan terus menerus memohon kesediaannya. Maka diterimalah jabatan tersebut, namun dengan syarat tanpa mendapat bayaran darinya. Beliau menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri sejak tahun 1919 hingga 1939 yang berkantor di kawasan Rengat.

Selama hidupnya, Syekh banyak menghasilkan karya bermutu. Sedikitnya tercatat 20 buah karya kitab yang ia hasilkan. Tak hanya buku agama, namun ia pun menulis banyak karya sastra. Syekh memang dikenal sebagai ulama, mufti, sekaligus sebagai sastrawan dan pujangga.

Salah satu kitab beliau yang populer yakni Risalah 'Amal Ma'rifah. Diselesaikan pada tahun 1332, kitab tersebut disusun beliau karena minimnya rujukan tasawuf yang mumpuni bagi para alim ulama di masa itu. Maka kitab tasawuf itu pun lahir menjadi rujukan para penuntut ilmu, diajarkan para ulama dan guru agama di banyak majelis dan sekolah. Pada saat itu, kitab beliaulah yang relevan dalam ilmu tasawuf.

Adapun sebagai pujangga, karya sastra beliau yang terkenal terdapat dalam "Syair Ibarat Kabar Kiamat".  Buku yang berisi kumpulan syair tersebut diterbitkan oleh Ahmadiyyah Press Singapura pada tahun 1915.

Dalam menulis sastra, Syekh memang beraliran religi. Karya-karya lain beliu yang populer pun terhitung banyak, diantaranya "Fath Al-Alim fi Tartib Al-Ta'lim" tentang adab menuntut ilmu, "Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in" yang terbit di Singapura, "Bai`Al-Hayawah li Al-Kafirin" berisi fikih perdagangan, dan karya lain yang sangat populer saat itu.

Namun sayangnya, sekian banyak karya syekh saat ini sulit didapat. Pasalnya, banyak karya beliau yang terbakar saat terjadi agresi militer Belanda di nusantara.

Begitu banyak kiprah yang ia lakukan dalam dakwah di nusantara, khususnya di Kalimantan dan Melayu. Seluruh usianya beliau habiskan untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Setelah banyak hal yang ia lakukan untuk umat, sang Tuan Guru mendapati ajalnya. Beliau meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, pada 10 Maret 1930 di usia 72 tahun.

Meski jasadnya telah terpendam bumi, namanya masih selalu dikenang. Masjid yang ia dirikn saat ini masih tegak berdiri. Pemikirannya dan ajaran tasawufnya masih menjadi perhatian untuk dipelajari. Beliau dimakamkan di dekat masjid yang ia dirikan untuk madrasah gratis para penuntut ilmu. Hingga kini, makam beliau selalu ramai dikunjungi muslimin tak hanya etnis Banjar ataupun etnis Melayu saja, namun muslimin nusantara.


Oleh Afriza Hanifa

Si Belang, Si Botak, dan Si Buta


Ribuan abad silam di era Bani Israil, hidup tiga orang yang fisiknya tak sempurna. Masyarakat menjauhi mereka karena penyakit yang mereka derita. Seorang menderita penyakit sopak hingga kulitnya belang-belang.

Seorang lain menderita penyakit kulit kepala hingga kepalanya botak, sementara seorang lagi mengidap kebutaan hingga tak mampu melihat apapun. Belum lagi kemiskinan yang menjerat ketiganya hingga kondisi mereka sangat menyedihkan. Mereka dihina, diasingkan, dan hidup dalam kesendirian.

Allah kemudian bermaksud memberikan ujian kepada mereka bertiga. Diutuslah seorang malaikat untuk melihat kadar keimanan mereka kepada Allah Ta'ala. Pertama kali, malaikat mendatangi si belang seraya berkata, "Apa gerangan yang kau inginkan dan sukai?" tanya malaikat.

Tentu saja si belang ingin penyakitnya sembuh. "Saya ingin warna kulit yang bagus, yang indah. Ingin agar penyakitku sembuh, penyakit yang orang-orang jijik melihatnya," ujar si belang. Sang malaikat pun kemudian mengusap tubuh si belang.

Penyakitnya pun sembuh seketika, kulitnya mulus nan indah. Si Belang girang bukan kepalang. Malaikat pun bertanya kembali, "Harta apa yang ingin kau miliki?". Si belang menjawan, "Unta".

 Maka diberikanlah ia seekor unta yang tengah bunting. "Semoga Allah memberkahinya untukmu," ujar malaikat sebelum pergi.

Sang malaikat pun kemudian bertandang menemui si botak. Pertanyaan serupa yang ia ajukan, "Apa gerangan yang kau inginkan dan sukai?" ujar malaikat. Si botak pun mengajukan keinginan, "Saya ingin memiliki rambut yang indah, Ingin agar penyakitku sembuh, penyakit yang orang-orang jijik melihatnya," ujar si botak.

Maka diusaplah kepala si botak oleh sang malaikat. Tetiba penyakitnya sembuh dan rambut tumbuh indah di kepalanya. Tentu saja si botak girang bukan kepalang. Pertanyaan malaikat selanjutnya pun sama seperti kepada si belang, "Harta apa yang ingin kau miliki?"

Si botak menjawab, "Sapi". Maka diberikanlah seekor sapi bunting untuknya. Lagi, malaikat berkata hal sama, "Semoga Allah memberkahinya untukmu".

Giliran si buta yang didatangi malaikat. Pertanyaan malaikat sama persis seperti yang ia ajukan untuk si belang dan si botak. "Apa gerangan yang kau inginkan dan sukai?" tanya malaikat.

Tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya, ia pun ingin penglihatannya pulih. "Saya berkeinginan agar Allah mengembalikan penglihatan saya sehingga saya dapat melihat manusia," jawabnya.

Penglihatannya pun kembali normal setelah malaikat mengusap tangannya pada mata si buta. Si buta pun amat senang dan bersyukur. Pertanyaan malaikat berikutnya, , "Harta apa yang ingin kau miliki?" Si buta menjawab, "kambing". Diberilah ia seekor kambing yang bunting.

Setelah peristiwa besar itu, ketiganya memulai usaha ternak mereka. Atas rahmat Allah, hewan peliharaan mereka terus beranak-pinak hingga jumlahnya masing-masing memenuhi satu lembah. Si belang memiliki unta satu lembah, si botak dengan sapi satu lembah, pun si buta memiliki kambing yang memenuhi satu lembah.

Ketiganya hidup makmur. Masyarakat tak lagi merasa jijik pada mereka. Mereka hidup bahagia.

Namun ujian Allah belumlah berakhir. Allah ingin melihat siapakah hambaNya yang benar-benar bersyukur. Malaikat yang dahulu diutus pada mereka bertiga pun turun kembali ke bumi. Namun kali ini, sang malaikat mengubah wujudnya sebagaimana rupa ketiganya di masa lalu.

Didatangilah si belang di sebuah lembahnya yang dipenuhi unta-unta nan gemuk. Sang malaikat mengubah wujudnya menjadi seorang yang terkena sopak, hingga kulitnya belang-belang menjijikan, rupa yang sama yang diderita si belang sebelum Allah menyembuhkannya.

Sang malaikat berpura-pura menjadi musafir yang kehabisan biaya kemudian meminta  bantuan si belang barang seekor unta untuk meneruskan perjalanannya.

"Saya hanyalah pengembara miskin yang kehabisan segala bekal perjalananku. Hari ini tak ada harapan untuk pertolongan kecuali kepada Allah, dan perantaramu. Demi Allah, kau telah dianugerahi warna kulit yang bagus nan indah, serta harta benda yang melimpah. Saya hanya membutuhkan seekor unta untuk membantuku dalam melanjutkan perjalanan," ujar sang malaikat.

Namun apa yang terjadi? Si belang lupa atas rahmat Allah kepadanya. Dengan sombong ia berkata, "Masih banyak hak-hak yang harus aku penuhi," ujarnya. Ia enggan memberikan bantuan meski secuil. Sang malaikat pun kemudian mengingatkannya, "Saya seperti mengenal Anda. Bukankah kau pun dahulu mengidap penyakit belang hingga manusia merasa jijik melihatnya. kau juga dulu hanya orang miskin yang kemudian diberi harta oleh Allah?" kata sang malaikat.

Namun si belang masih dalam kesombongannya. "Tidak, aku mendapat harta ini karena warisan nenek moyangku," ujarnya. Melihat kesombongan si belang, malaikat pun berseru, "jika kau berdusta. Semoga Allah mengembalikanmu pada konsisi yang dulu," kata malaikat.

Kemudian datanglah sang malaikat ke lembah penuh sapi milik si botak. Kali ini, ia pun mengubah wujudnya menjadi seorang pria botak yang menyedihkan dan membutuhkan pertolongan. Kondisinya sama persis seperti si botak sebelum dianugerahi rahmat Allah berupa kesembuhan dan kekayaan.

"Saya hanyalah pengembara miskin yang kehabisan segala bekal perjalananku. Hari ini tak ada harapan untuk pertolongan kecuali kepada Allah, dan perantaramu. Demi Allah, kau telah dianugerahi rambut yang bagus nan indah, serta harta benda yang melimpah. Saya hanya membutuhkan seekor sapi untuk membantuku dalam melanjutkan perjalanan," ujar sang malaikat sama persis seperti yang ia ucapkan pada si belang.

Tak berbeda jauh dengan si belang, si botak pun menolak menerima bantuan. Ia bersikap angkuh dan melupakan segala rahmat Allah atasnya. Namun seperti halnya kepada si belang, malaikat pun mengingatkan kondisi si botak beberapa waktu silam.

Tak berubah pikiran, si botak tetap dalam kesombongannya dan engan memberikan bantuan. "jika kau berdusta. Semoga Allah mengembalikanmu pada konsisi yang dulu," seru malaikat.

Tibalah giliran si buta. Malaikat mendatanginya dengan wujud pengembara buta nan miskin. Kondisinya menyedihkan, sama persis seperti kondisi si buta beberapa waktu lalu sebelum Allah memberikan rahmat kepadanya.

Pertanyaan serupa, malaikat lontarkan pula pada si buta, "Saya hanyalah pengembara miskin yang kehabisan segala bekal perjalananku. Hari ini tak ada harapan untuk pertolongan kecuali kepada Allah, dan perantaramu. Demi Allah yang telah memulihkan penglihatanmu, saya hanya membutuhkan seekor kambing untuk membantuku dalam melanjutkan perjalanan," ujar sang malaikat sama persis seperti yang ia ucapkan pada si belang.

Lalu apa jawaban si buta? Dia lah hamba Allah yang lulus ujian-Nya. Si buta tak memiliki kesombongan sedikitpun. Ia selalu bersyukur atas segala rahmat Allah yang diberikan padanya. Ia berkata kepada sang malaikat yang berubah wujud itu, "Dahulu aku pun buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku.

Maka ambillah apa yang kau butuhkan dan tinggalkan apa yang tidak kau inginkan. Demi Allah, aku tidak akan membebanimu untuk mengembalikan sesuatu yang kau ambil karena Allah maha agung dan mulia," ujar si buta rendah hati.

Malaikat pun takjub dengan sikap si buta. Ia pun membongkar penyamarannya dan mengungkap misinya. "Peliharalah kekayaanmu ini, karena sebenarnya kau tengah diuji. Kau telah diridhai Tuhan, sementara kedua temanmu (si belang dan si botak) telah dimurkai Allah," ujar malaikat.

Tak jelas siapakah nama ketiga manusia yang diuji Allah tersebut. Namun kisah Si Belang, Si Botak dan Si Buta diatas termaktub dalam sebuah hadits yang disampaikan Rasulullah melalui riwayat Abu Hurairah. Hadits tersebut terdapat dalam shahih Muslim dan Bukhari. Imam An-Nawawi juga menyebutkan hadits kisah tersebut dalam kitab beliau yang masyhur "Riyadush Shalihin".



Oleh Afriza Hanifa
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/03/18/mjus0v-si-belang-si-botak-dan-si-buta-1


Masjidil Haram



Masjidil Haram memiliki 'aura' yang sangat luar biasa. Jangankan bagi orang yang belum pernah ke Masjidil Haram, yang sudah ke sana saja merasakan rindu yang teramat besar.

Bisa melihat Ka'bah yang selama ini jadi kiblat 'yang tidak kelihatan', sekarang tiba-tiba bisa melihat dengan mata telanjang. Yang tidak diizinkan Allah pun bisa memegang, menyentuh, meraba, kiswah Ka'bah.

Bagi yang sudah pernah ke sana, mungkin ingat pertama kali momentum mulai melihat menara Masjidil Haram dari kejauhan, saat memasuki kota Makkah. Bermandikan cahaya! Rata-rata jamaah umrah, memasuki Makkah, malam hari, dini hari, atau menjelang shubuh.

"Bapak Ibu, Dhuyuufurrohmaan (,para tamu Allah), lihat, Masjidil Haram sudah kelihatan...", begitu kata muthowwif, pembimbing kepada jamaah. Sebagian jamaah yang tertidur, langsung melek.

Sebagiannya berdiri, kemudian bertasbih, bertalbiyah, bershalawat, dan sebagian besarnya akan menangis. Nggak menyangka, sudah sampai di Makkah, dan segera ke Masjidil Haram.

Sejurus kemudian, dalam keadaan berpakaian ihram, pintu Masjidil Haram sudah di depan mata. Warna keramik, lalu lalangnya jamaah umrah, karpet masjidil haram, ornamen-ornamennya, masih bisa kita ingat dengan jelas. Dan kemudian setelah memasuki Masjidil Haram, kita melewati deretan galon air zamzam. Subhaanallaah...

Di tengah Masjidil Haram, Ka'bah berdiri dengan sejuta pesonanya. Kiswah hitam menyelubungi Ka'bah. Berdegup jantung memandangnya.

Terdengar kemudian muthowwif mengucapkan doa ketika melihat Ka'bah, yang bagian sebagian orang doa itu makin membuat air mata tambah berlinang.

Buat jamaah yang belum pernah melihat Ka'bah, masuk kota Suci Makkah, masya Allah, baca atau dengar cerita seperti ini, akan ikut merinding. Air mata pun menetes. Kangen pengen ke sana.

Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka Labbaik. Innal hamda, wanni'mata laka wal mulk. La syarika lak. Lautan manusia mengucapkan kalimat talbiyah ini. Allahu Akbar.

Saya doakan semoga saudara semua bisa ikut tawaf. Merasakan berdoa di Multazam. Bisa menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Bisa berdoa di dekat Maqam Ibrahim, dan di tempat-tempat mustajabah.

Perbanyaklah berdoa, bersedekah, dan mintalah sama Allah agar dimudahkan bisa ke sana, apalagi bisa berhaji, menyempurnakan Rukun Islam kelima, bukan hanya untuk umrah.

Yang sudah pernah ke sana, saya doakan bisa ke sana, khususnya di waktu-waktu Ramadhan. Bisa tarawih, tahajud, dan witir di Masjidil Haram. Subhanallah. Ini belum lagi cerita tentang Masjid Nabawi di Kota Rasul, Madinah al Munawwaroh.

Jamaah sekalian. Saat saudara baca ini, kami berada di Dubai, untuk menjemput kedatangan seseorang yang dimuliakan Allah, Syeikh al Ghomidi. Salah seorang Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Kedatangan beliau dalam rangka menghadiri acara Wisuda Akbar IV, di Gelora Bung Karno Senayan, 30 Maret mendatang.

Insya Allah, pada Jumat (29/3),  mudah-mudahan beliau diizinkan Allah menjadi khatib di Masjid Istiqlal. Sehingga jamaah yang rindu dengan Kota Makkah dan Madinah, rindu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bisa merasakan sensasi dan suasana seakan-akan berada di Tanah Suci. Allahu akbar.

Kami mohon doanya dari semuanya, agar perjalanan Syeikh al Ghomidi ke Indonesia, diberi kelancaran, kemudahan, dan Syeikh diberi kesehatan. Juga agar bisa memberkahi bumi Indonesia yang betul-betul lagi butuh rahmat-Nya Allah.

Oleh Ustaz Yusuf Mansur
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/03/24/mk638o-masjidil-haram

Premanisme Zaman Jahiliah


Istilah ‘premanisme’ (dari bahasa Belanda: vrijman) adalah sebutan peyoratif yang merujuk pada kegiatan sekelompok orang untuk mendapat penghasilan dari tindakan memeras, mengganggu, atau membunuh kelompok lain.

Fenomena premanisme belakangan semakin marak. Ada preman terminal, preman pasar, preman kampung, preman jalanan. Paling berbahaya lagi preman berdasi. Yang terakhir ini lebih canggih modusnya, lebih sukar diberantas, tetapi posisinya justru ‘mentereng’ di masyarakat.

Premanisme sangat identik dengan dunia kriminal dan kekerasan. Hanya, tingkat kekerasannya berbeda. Kekerasan preman ‘kelas teri’ tentu lebih gampang diungkap karena bersifat fisik. Lain dengan kekerasan preman ‘kelas kakap’ yang cenderung lebih sukar diidentifikasi karena bersifat struktural, politis, dan sistematis.

Kendati demikian, premanisme sudah lama muncul, bahkan sejak zaman Rasulullah. Kaum kafir Makkah yang sangat membenci Rasulullah tidak pernah berjeda melakukan tindakan-tindakan brutal dan membabi buta. Begitu getolnya mereka melancarkan kekerasan secara fisik maupun non-fisik untuk merongrong kenyamanan hidup kaum muslim.

Dalam konteks dunia kriminal, kejahatan mereka jelas memenuhi syarat dan unsur untuk disebut sebagai tindakan premanisme. Tindakan premanisme paling darurat waktu itu dilakukan Abu Al-Hakam, dikenal dengan sebutan Abu Jahal alias Bapak Kebodohan. Dialah promotor dan inisiator utama yang begitu aktif melakukan intrik-intrik jahat kepada Rasulullah dan kaum muslim.

Tidak kalah dari itu adalah Abu Lahab dan istrinya. Ditegaskan Allah, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidak berguna harta benda dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang membara. Dan istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut” (Qs Al-Lahab: 1-5).

Berbagai cara kejam dilakukan untuk menghentikan dakwah Islam. Ketika turun perintah shalat, misalnya, kaum muslim sering pergi ke lembah tersembunyi di luar Makkah untuk melaksanakan shalat jamaah. Namun, komplotan preman kafir mendatangi dan memukuli kaum muslim.

Adu fisik pun tidak bisa dihindari. Dan inilah awal mula pertumpahan darah dalam Islam. Tetapi Allah menurunkan ayat, “Bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan, dan jauhilah mereka itu dengan cara yang baik” (Qs Al-Muzzammil: 10).

Secara kuantitas, kaum muslim kala itu memang masih terhitung jari. Perlawanan fisik minoritas muslim tidak akan mampu mengungguli kekuatan mayoritas kafir. Barangkali itulah alasan Allah mengingatkan, “Karena itu berilah tangguh orang-orang kafir itu barang sebentar” (Qs At-Thariq: 17).

Tidak cukup kekerasan fisik, kaum kafir Makkah juga melakukan pembunuhan karakter terhadap Rasulullah. Mereka menjatuhkan reputasi Rasulullah dengan bersepakat untuk menyebut beliau sebagai orang gila, paranormal, penyair, dan penyihir. Penggagasnya adalah Walid bin Mughirah.

Ada juga premanisme sistematis dengan cara melakukan pemboikotan. Abu Jahal melarang kaum kafir untuk menikah atau berdagang dengan keluarga Rasulullah dan kaum muslim. Para budak yang memeluk Islam bahkan dibantai begitu rupa tanpa perikemanusiaan. Tujuannya tidak lain untuk melemahkan dakwah Islam secara ekonomi dan politik. 

Pemboikotan berlangsung dua tahun. Bagi Rasulullah sendiri, masa dua tahun itu dirasakan berat, dan semakin memuncak ketika Khadijah dan Abu Thalib kemudian meninggal. Tahun itu dikenal dengan ‘Tahun Kesedihan’. Istri dan pamanda tercinta yang dulu menjadi pembela dan pelindung dakwah kini telah tiada. Sementara, premanisme kaum kafir semakin menggila.

Tidak berhenti di situ, ketika kaum muslim mengungsi ke Abyssinia (Habasyah, Ethiopia), kaum kafir juga tidak tinggal diam. Segera dikirimlah Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabiah untuk melobi Raja Negus (Najasyi, Ashamah bin Abjar), pejabat tinggi Abyssinia, agar mengusir para pengungsi muslim. Amr bin Al-Ash, salah seorang utusan, adalah diplomat dan oratur ulung. Alih-alih berhasil, sang raja justru menerima Islam dan menolak aneka hadiah mewah dari kaum kafir.
 
Dirancanglah konspirasi untuk membunuh Rasulullah. Puncaknya, ketika suatu malam menjelang hijrah ke Madinah. Para pembesar dan konglomerat Makkah menyiapkan 11 orang preman dari bermacam suku. Mereka dibayar untuk mengintai Rasulullah sejak petang hari dengan tujuan melancarkan serangan pada tengah malam.

Tetapi Allah menggagalkan. “Ingatlah ketika orang-orang kafir itu berupaya menangkapmu dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (Qs Al-Anfal: 30).

Rasulullah selamat dari kepungan. Bertolak ke Madinah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq pada malam 27 Shaffar tahun 14 kenabian. Beliau mengambil tanah dua genggam dan menuangkannya di kepala mereka. “Kami jadikan di hadapan dan di belakang mereka dinding. Kami tutup mata mereka sehingga tidak melihat” (Qs Yasin: 9).

Di tengah jalan, mendadak datang seorang pemuda berkuda. Dia begitu bernafsu untuk mengejar Rasulullah, meski kudanya tidak bisa diajak kompromi. Beberapa kali dipacu, beberapa kali pula kaki kuda itu terperosok ke tanah. Dialah Suraqah. Preman yang dikenal lihai berkuda itu begitu tergiur oleh hadiah sayembara 100 unta bagi siapa yang berhasil menangkap Rasulullah, hidup atau mati.

Demikian premanisme pada zaman Jahiliah. Premanisme kini tampil dengan ‘baju’ lebih modern. Premanisme modern bukan lagi kelompok liar atau perorangan, melainkan memiliki jaringan rapi dan terorganisasi, dengan jumlah anggota yang tidak bisa dibilang sedikit. 


Oleh M Husnaini, Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya