Selasa, 30 April 2013

Musuh Berwajah Ramah, Racun Otak dan Seribu Pedang



Bismillahirrahmaanirrahiim,

Apa yang dapat meracuni otak secara instan dan lebih menghancurkan dari seribu pedang, namun dia berwajah  ramah dan disenangi banyak orang?

Media informasi, na’am lebih tepatnya adalah internet, film, program televisi, jejaring sosial media dan sebangsanya.

Saat ini, dunia tengah mengalami ancaman krisis moral secara global. Bukan terjadi di kalangan kaum muda, tapi juga kaum dewasa bahkan merangsek kepada anak-anak. Dan ini seakan-akan tidak disadari, semakin banyak informasi-informasi dan tayangan-tanyangan yang bukan hanya tidak mendidik tetapi sudah melanggar batas-batas syar’i.

Melanggar batas-batas etika dan norma-norma yang ada. Mulai dari narkoba, tawuran, minuman keras, arisan seks remaja, korupsi, pemerkosaan, penculikan anak, genk motor yang menjelma sebagai “pembunuh-pembunuh muda”, lalu aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan bukan hanya liberal kebebasan namun juga kebablasan berpikir dan banyak lagi kehancuran yang bias kita lihat.

Hal ini dipicu dengan bantuan “si Musuh Berwajah Ramah” tersebut. Tak heran jika banyak orang saat ini tergiur dengan dunia fatamorgana yang disajikan oleh salah satunya televisi . Antrian panjangpun tak terelakkan ketika kontes artis dibuka. Mereka rela berdesak-desakkan sampai mengorbankan banyak hal asalkan ia menjadi selebritis. Bahkan banyak juga yang menempuh jalan pintas dengan mengorbankan harga diri.

Gosip, ghibah dan gunjing menjadi program wajib di televisi. Layar kaca itu telah mengubah akal sehat penontonnya. Lihatlah hari ini, industri aurat menjadi kebanggaan. Mereka telah berani menentang perintah Allah untuk menutup aurat dalam firman-Nya; “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS. Al A’raf, 7 : 25).

Dalam ayat yang lain; "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya." (QS. Al A’raf, 7 : 27)

Kaum muslimin pada hari ini bagaikan buih yang berada di tengah lautan. Mereka terombang-ambing oleh derasnya gelombang syahwat dan syubhat. Mereka musuh-musuh Allah menyatakan, “Gelas (khamr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad dari pada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka kedalam gelora syahwat”.

Lalu kemanakah badan sensor yang bertugas menjaga informasi yang masuk? Sensor film, sensor tayangan-tayangan televisi, sensor internet, sensor hosting seks, games dan sebagainya? Sulit memang. Apalagi di negara kita yang kita cintai ini. Bisa babak belur, patah berulang, borok bertambah jika kita berharap mereka-meraka mengatasi ini semua.

Dahulu kita berharap pada satu kumpulan ulama yang kompeten, yang duduk di badan-badan sensor yang komprehensif. Mulai dari film, televisi dan sebagainya. Tetapi sejak merebaknya internet dan media informasi lainnya dengan tools-tools yang semakin canggih. Badan sensor pun menjadi basi.

Departemen kominfo dan badan-badan sensor mestilah sudah berupaya keras, namun semuanya akan basi. Berapa banyak yang disensor dan berapa banyak yang baru lahir. Mati satu tumbuh seribu. Dunia pun sudah tidak lagi mempunyai batas-batas.

Informasi melayang di hadapan mata kita, berbisik di sisi telinga kita. Di antara mainan anak-anak kita, di antara PR-PR anak sekolah, di sisi tugas akhir mahasiswa, di antara spatula ibu rumah tangga, di antara agenda meeting para direktur, di antara “ehem” rapat wakil rakyat.

Di mana-mana tersebar, kita tinggal menangkapnya, melihatnya dan menikmati informas itersebut tanpa harus ada orang tua yang galak, ustadz yang cerewet apalagi badan sensor yang melotot. Karenanya benar dalam sebuah hadis dinyatakan; “Sesungguhnya kalian wahai manusia, melakukan amalan-amalan yang di mata kalian, kalian anggap lebih halus dari pada rambut (sangat remeh dan ringan). Namun kami di masa Nabi SAW, menganggap amalan tersebut sebagaihal yang membinasakan.” (HR. Bukhari)

Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah -rahimahullah- berkata, "Di antara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukandosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah."

Oleh karena itu, inilah zaman ketika Allah membuka ladang amal untuk kita semua. Untuk saling mengingatkan, saling menasehati. Sebagaimana makna yang tercantum dalam surah Al Ashr. Mungkin sudah seharusnya paraulama “turun gunung”, ustadz-ustadz keluar pesantren, da’i-da’i terjun berdakwah dalam bahasa yang sama, bahasa kreatif, bahasa informasi.

Bahasa yang ada di televisi, yang ada di internet, jejaring sosial dan sebagainya. Di zaman musuh-musuh yang “berwajah ramah”, tetapi meracun otak dan lebih dahsyat menghancurkannya lebih dari seribu pedang. Jika perlu buatlah“Hollywood islami”, agar masyarakat tidak dicekoki tapi dapat memilih tayangannya sendiri. Sudah saatnya para suami mengingatkan istrinya untuk kembali pada Alquran dan As Sunnah, sudah saatnya ibu-ibu tidak hanya menitipkan anak kepada sekolahnya, sudah saatnya kita semua memperbaiki diri, kembali kepada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Mulai dari kita sendiri, keluarga kita, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar. Yang pada akhirnya sensor-sensor itu muncul dari dalam diri kita sendiri. Yak jadikan hati, pikiran, lisan, tubuh, perilaku ini sebagai sensor dari gencarnya kemaksiatan yang tersebar. “wasta’iinuu bi shobri wash sholah”, mohonkanlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat (berdoa). Insya Allah. Mari!

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: penggagas iHAQi
@erickyusuf



Joseph Beuys dan Konsep Semua Orang Adalah Dai





Bismillahirrahmaanirrahiim,

Dahulu ketika saya berkesenian dengan teman-teman SRPB (Studio Rumah Pertunjukan Bandung), kami bekerjasama dengan Ibu Marintan Sirait (seorang seniman kontemporer) untuk menggelar diskusi tentang Joseph Beuys (1921- 1986) dan dadaisme di Goethe Institute Bandung.

Konsep Beuys seniman spektakuler Jerman yang mengemuka adalah “Jeder Mensch ist ein Künstler” yang artinya semua orang adalah seniman. Masih terekam setelah sekian lama dalam bayangan betapa kami membahas juga komposer eksperimental Amerika John Cage (1912–1992) dengan karya monumentalnya 4’33’’.

Pada saat itu saya pikir sangat jenius mempunyai konsep semua orang adalah seniman. Tidak mementingkan ego-ego sang senimannya. Kreator akan larut dalam kreasinya. Dengan seperti itu akan tercipta “kehidupan seni” yang tidak bergantung kepada seorang seniman saja, karena semua orang adalah seniman. Karenanya seni adalah kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah seni. Subhanallah.

Time flies (dan waktu berlalu), dalam dunia dakwah Allah Swt menjelaskan bahwa “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al 'Ashr Ayat,103 : 2-3). Artinya jika semua orang ingin beruntung setelah iman dan amal sholeh adalah berdakwah dengan Al Haq dan sabar.

Dengan pemahaman tersebut berarti pula semua orang diutamakan mengajak kepada Al Haq. Dalam kata lain ialah berdakwah. Arti kata dakwah jika kita bahas merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja Da'a-Yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Ilmu Islam" atau Ad Dakwah Al Islamiyah.

Dapat disimpulkan dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Orang yang menyampaikan dakwah disebut Da'i (mudzakkar/laki-laki) atau da’iyah (muannats/perempuan) sedangkan yang menjadi obyek dakwah disebut "Mad'u". Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah "Da'i".

Dakwah itu bukan profesi tetapi amal yang sangat mulia di muka bumi ini, sebagaimana ayat; "Dan tiada perkataan terbaik di muka bumi ini selain perkataan mengajak kejalan Allah dan disertai amal sholeh, dan ia pun berkata, sesungguhnya aku seorang Muslim". (QS. Fusshilat 41:33). Atau dalam ayat lainnya ; "Ikutilah mereka yang berdakwah yang tidak minta upah atas dakwahnya, merekalah hamba-hamba Allah yang telah diberi hidayah Allah." (QS. Yaasin 36:21)

Beberapa istilah dalam dakwah seperti misalnya; Fiqhud dakwah yaitu Ilmu yang memahami aspek hukum dan tata cara yang berkaitan dengan dakwah. agar para muballigh bukan saja paham tentang kebenaran Islam akan tetapi juga piawai dalam menyampaikan Risalah. Adapun istilah seperti dakwah Fardiah (dalam jumlah terbatas), dakwah Ammah (dalam jumlah luas semisal khutbah jumuah).

Metodanya pun beragam seperti Dakwah bil Lisan yaitu penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah). Ada juga dakwah bil Hal adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Seperti guru “digugu” dan “ditiru”.

Seperti inilah seharusnya akhlak bukan saja para pemimpin, tapi juga kita semua. Karena dalam hadist disebutkan setiap orang adalah pemegang amanah dalam kata lain pemimpin. Sebagaimana hadits; “Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyah-nya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya.

Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka.

Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyah-nya."(HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Umar ra). Makna ra’in adalah seorang penjaga yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya.

Ia dituntut untuk berlaku adil dan menunaikan perkara yang dapat memberi maslahat bagi apa yang diamanahkan kepadanya. (Al Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140)

Zaman sekarang ini dimana berjamurnya jejaring sosial membuat pola Dakwah bit Tadwim (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab, buku, majalah, penulisan internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan sangat efektif.

Berhubungan dengan dakwah bit Tadwim ini Dalam Kitab Ihya Ulumuddiin (Imam Ghazali) disebutkan bahwa Nabi berkata: “Di akhirat nanti tinta ulama ditimbang dengan darah para syuhada. Ternyata yang lebih berat adalah tinta ulama!“.

Subhanallah, lalu ada juga yang utama adalah dakwah bil Hikmah yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik.

Kembali kepada Joseph Beuys dengan “Jeder Mensch ist ein Künstler”, mungkinkah ide bijaknya dia dapat dari referensi hadits-hadits diatas?. Haha.. setidaknya secara fakta Rasulullah SAW telah menyampaikan hal-hal tersebut di atas sekitar 14-15 abad yang lalu, jauh sebelumnya. Jauh sebelum semua orang memahami bahwa semua adalah pemimpin, semua adalah Da’i.

Tapi penegasannya adalah setelah kita paham, bisakah kita semua berdakwah dengan cara dakwah bil hikmah? Agar tidak ada orang yang terpaksa bahkan terintimidasi oleh kita. Ayo kita mulai dari diri sendiri, dari lingkungan terkecil, sampai yang terbesar. Semoga Allah Ridha. Aamiin, Insya Allah.

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah Swt adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: Penggagas iHAQi
@erickyusuf


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/celoteh-kang-erick/13/04/12/ml4ihq-joseph-beuys-dan-konsep-semua-orang-adalah-dai

Minggu, 28 April 2013

Karena Ganteng Pria Ini Diusir dari Arab Saudi


Beberapa waktu lalu, otoritas Arab Saudi menahan dan mendeportasi tiga pemuda yang berasal dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE). Pengusiran ini dilakukan karena ketiga pemuda tersebut dianggap terlalu ganteng. Tidak ada keterangan mengenai identitas ketiga pria muda tersebut. Namun salah satunya diketahui bernama Omar Borkan Al Gala. 

Pemuda itu merupakan seorang fotografer fashion, sekaligus aktor dan penyair Uni Emirat Arab. Sejumlah situs menampilkan foto-foto Omar yang berwajah tampan itu.

Situs nairaland.com, Kamis (25/4/2013) menampilkan sejumlah foto-foto Omar dengan judul: Deported From Saudi-Arabia For Being Too Handsome.

Omar beserta dua pria muda lainnya yang tidak disebutkan namanya, datang ke Saudi untuk menghadiri festival kebudayaan Jenadrivah Heritage and Cultural Festival yang digelar di ibukota Riyadh belum lama ini. 

Polisi syariah di kota itu atau Mutaween, beralasan bahwa pemuda-pemuda tersebut dikhawatirkan bisa mengganggu kaum wanita setempat. Menurut Mutaween, dikhawatirkan para wanita setempat tidak akan mampu menahan diri dan tergoda dengan ketiga pria tampan tersebut. Hal tersebut jelas-jelas melanggar hukum syariat Islam yang berlaku di negara itu.

"Tiga pria Emirat dibawa pergi dari lokasi karena mereka terlalu tampan. Ditakutkan para pengunjung wanita akan jatuh cinta pada mereka," seperti yang dilansir dari surat kabar Elaph.

Ketiga pria muda itu dikabarkan langsung dideportasi ke Abu Dhabi.

Seperti apa gantengnya Omar Borkan Al Gala?? Cek foto-fotonya 







Jumat, 26 April 2013

Godaan Iblis Ketika Sakratul Maut


Godaan Iblis Ketika Sakaratul Maut - Iblis akan senantiasa mengganggu manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi tujuh golongan dan rombongan.

Hadith Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerangkan:

"Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut."

Rombongan 1
Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barang-barang Iblis itu, pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 2
 Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular yang berbisa. Yang apabila orang yang sedang sakaratul maut itu memandang ke binatang itu, maka dia pun menjerit dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 3
Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan menyerupai binatang kesayangannya. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-rabakepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.

Rombongan 4
Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya.

Rombongan 5
Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan penuh kasih "Wahai anakku inilah saja makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga. " Maka dia pun sudi mengikut tawaran itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.

Rombongan 6
Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulama'-ulama' yang membawa banyak  kitab-kitab, lalu berkata ia: "Wahai muridku, lama sudah kami menunggu akan dikau, ternyata kamu sedang sakit di sini, karena itu kami bawakan kepada kamu dokter dan obat untukmu. " Lalu diminumnya obat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang lagi.

Lalu datang pula Iblis yang menyerupai ulama' dengan berkata: "Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?"

Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: "Aku tidak tahu. "

Berkata ulama' Iblis: "Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulama' yang tinggi dan hebat, baru saja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cobalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah Subhanahu wa Ta'ala hendaklah kamu patuh kepada kami. "

Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis untuk tujuan menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulama' palsu:

"Bagaimanakah Zat Allah?" Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.

Lalu berkata ulama' palsu: "Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu."

Ketika tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

Berkata Iblis: "Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah. "

Berkata orang yang dalam sakaratul maut: "Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai enam sisi, yaitu benda besar ini ada kiri dan kanannya, mempunyai atas dan bawah, mempunyai depan dan belakang.

Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini. "

Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.

Rombongan 7
Rombongan Iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan sebab dari menjadi 72 barisan ialah karena dia menepati Iktikad Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa umat Muhammad akan terbagi kepada 73 barisan). Satu barisan/golongan yang benar yaitu ahli sunnah waljamaah, 72 yang lain masuk ke neraka karena sesat.

Ketahuilah bahwa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlainan di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan setan yang akan berusaha bersungguh-sungguh menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut.

Disebutkan dalam sebuah hadith yang artinya: "Ajarkan oleh kamu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah. "
Wallahua’lam