Senin, 23 September 2013

Investasi




Allah SWT berfirman pada surat Al-Hadid ayat 11 yang artinya, ''Barangsiapa yang meminjamkan kepada Allah SWT dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia.''

‘Abdullah bin Mas’ud menceritakan, tatkala turun ayat di atas (surat Al Hadid ayat 11), Abud Dahdaa Al Anshori mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Betul, wahai Abud Dahdaa.”

Kemudian Abud Dahdaa pun berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah tanganmu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyodorkan tangannya. Abud Dahdaa pun mengatakan, “Aku telah memberi pinjaman pada Rabbku kebunku. Kebun tersebut memiliki 600 pohon kurma.

Ummud Dahda, istri dari Abud Dahdaa bersama keluarganya berada di kebun tersebut, lalu Abud Dahdaa datang dan berkata, “Wahai Ummud Dahdaa!” “Iya,” jawab istrinya.

Abud Dahdaa mengatakan, “Keluarlah dari kebun ini. Aku baru saja memberi pinjaman kebun ini pada Rabbku.
Dalam riwayat lain, Ummud Dahdaa menjawab, “Engkau telah beruntung dengan penjualanmu, wahai Abud Dahdaa.”
Ummu Dahda pun pergi dari kebun tadi, begitu pula anak-anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Begitu banyak tandan anggur dan harum-haruman untuk Abud Dahdaa di surga.”

Dalam lafazh yang lain dikatakan, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).”

(Riwayat ini adalah riwayat yang shahih. Dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an)

Inilah investasi yg baik di jalan Allah. Ini bukan berarti Allah butuh pada pinjaman seorang hamba. Namun sebenarnya, hamba-lah yang butuh dengan hal seperti ini dan itu semua juga ia akan menuai hasilnya di akhirat.

Ini adalah karunia Allah agar hamba tersebut mendapatkan ganti yang lebih baik di akhirat kelak. Wallahu a’lam bish-shawaab


Oleh : Syafiul Umam , Pengajar Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr Surakarta
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/22/mtjdla-investasi


Minggu, 22 September 2013

Adab Mendidik Anak Dalam Islam




Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memberlakukan jam malam bagi anak-anak. Hal itu menyusul adanya kecelakaan lalulintas yang melibatkan anak artis ternama Ahmad Dhani di jalan tol Jagorawi, beberapa waktu lalu. AQJ yang masih berumur 13 tahun mengendarai mobil pada pukul 24.00 WIB mengalami kecelakaan.

Cukup dipertanyakan memang, mengapa anak-anak yang masih berumur 13 tahun bisa keluar rumah pada tengah malam dan mengendarai mobil yang notabene belum cukup umur.   

Patut kita akui, sebagian besar di antara kita sudah lupa cara mendidik anak dalam bingkai Islam. Modernisasi gaya hidup yang berbungkus materialisme membuat sebagian besar umat Islam lupa akan nilai-nilai akhlak dalam mendidik anak.

Hal itu ditambah pengaruh dari tayangan media yang buruk, dan lingkungan yang sudah tergores oleh gaya hidup kebarat-baratan. Hal ini sehingga membutuhkannya peran penting orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Anak adalah titipan Allah SWT, perhiasan hidup dan penerus harapan dan cita-cita orang tuanya.

Anak ibarat kertas putih, yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja. Peran orangtua sangatlah vital. Karena melalui orang tualah, anak akan menjadi manusia yang baik atau tidak. Rasulullah SAW, sebagai teladan paripurna, telah memberikan tuntunan bagaimana mendidik dan mempersiapkan anak.

Dan hal yang paling penting adalah keteladanan dalam melakukan hal-hal yang utama. Inilah yang harus dilakukan orangtua. Bukan hanya memerintah dan menyalahkan, tapi yang lebih penting adalah memberikan contoh kongkret. Secara simultan hal itu juga harus ditopang oleh lingkungan, pergaulan, dan masyarakat.

Ditambah kebiasaan buruk orang tua yang tidak begitu memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya, sehingga anak mereka hidup tanpa tuntunan. Biasanya orangtua kerap mengiming-iming materi, dan sering memberikan ketidakadilan pada anak-anak mereka serta memanjakan anak secara berlebihan. Hal inilah yang menjadi permasalahan anak seringkali menjadi nakal, psikologi mental anak menjadi rendah serta membuat anak kehilangan percaya pada dirinya.

Cara ini harus segera kita ubah. Imam Ghazali menegaskan bahwa sesungguhnya anak adalah amanah yang harus dijaga dan dibekali ilmu agama untuk terwujudnya anak-anak yang shalih dan shalihah.

Bagaimana caranya? Setidaknya terdapat empat point yang bisa dilakukan. Pertama, memberikan pendidikan anak dalam bahasan pendidikan agama, terutama ‘aqidah yang akan menjadi pondasi ke-Islamannya.

Perhatikan bagaimana perkataan Luqman kepada anaknya, yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ‘Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu merupakan kezhaliman yang besar.” (Qs. Luqman: 13)

Kedua, membiasakan agar mendidik anak-anak untuk berakhlak baik dan menasihatinya ketika melakukan kesalahan. Karena akhlak mulia menjadi pemberat timbagan pada hari Kiamat nanti, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi, artinya: “Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia.”(Hadis diriwayatkan At-Tirmidzi.

Ketiga, hendaknya mengajarkan adab dan etika kepada anak. Orang-orang shalih terdahulu telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap adab Islami. Simak saja perkataan seorang Salaf kepada anaknya ini. “Wahai anakku, engkau mempelajari satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab dari ilmu.”

Keempat, hendaknya orangtua menyertakan anak-anak dalam beribadah seperti shalat, bukan hanya sekedar memerintahkannya saja. Karena pendidikan anak akan lebih berhasil manakala setiap inderanya diberdayakan.

Jadi, orang tua tidak hanya memberdayakan indera pendengaran anak saja untuk memerintahnya melakukan ini dan itu, tapi orang tua juga perlu memberdayakan indera penglihatannya untuk mencontoh sikap dan perilaku baik dari orang tua.

Oleh Dr HM Harry Mulya Zein
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/23/mtjzfl-adab-mendidik-anak-dalam-islam

Sabtu, 21 September 2013

Mabrur Pasca Haji





Musim haji sudah tiba. Syawal, Dzul Qaidah, dan Dzul Hijjah adalah bulan-bulan haji. Umat Islam yang kini tengah menunaikan rukun Islam kelima ini tentu sudah bersiap diri, baik fisik, finansial, maupun mental spiritual.

Para tamu Allah  (dhuyuf ar-Rahman) itu tentu juga berniat dan berharap memperoleh haji mabrur, yang balasannya tidak lain adalah surga (HR Muslim).
   
Jamaah haji Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, dan boleh jadi yang paling banyak membelajakan hartanya di Tanah Suci.

Para alumni Tanah Suci itu sering digugat: "Mengapa jumlah jamaah haji yang terus meningkat setiap tahun, bahkan ngantri bertahun-tahun, tidak berbanding lurus dengan penurunan angka korupsi atau perbaikan integritas dan akhlak  umat Islam?" "Apa bukti kemabruran haji mereka?

Oleh karena itu, aktualisasi kemabruran pascahaji merupakan sebuah keharusan, agar ritualitas ini tidak berhenti pada tataran pemenuhan atau pengguguran kewajiban, melainkan harus membuahkan perilaku moral yang mulia dan terhormat.

Berhaji bukan sekadar untuk mengejar dan memperoleh gelar haji, tetapi yang lebih penting lagi adalah menjadi orang benar-benar mengamalkan nilai-nilai moral-spiritual pascahaji.
    
Haji itu ibadah multidimensional. Manasik haji bukan sekadar ritualitas fisik tanpa makna. Prosesi manasik haji adalah sebuah drama kehidupan yang kaya makna, terutama makna sosial kultural.

Haji dimulai dengan niat ihram. Pakaian ihram mengandung pesan bahwa menjadi tamu Allah itu harus suci lahir batin, tidak egois, tapi emansipatoris dan siap memenuhi panggilan ketaatan (talbiyah) hanya kepada-Nya dan hanya berharap memperoleh ridha-Nya.
   
Thawaf bukan sekadar mengelilingi Ka'bah tujuh kali. Thawaf mendidik jamaah haji bergerak dinamis dalam orbit tauhid. Keteguhan dan konsistensi dalam bertauhid memacu gerak untuk maju dan terus maju.

Orang yang berthawaf adalah orang yang antikemunduran dan kejumudan. Thawaf menyadarkan pentingnya nilai progresivitas sosial yang bersendikan nilai-nilai tauhid.
   
Sa'i antara Shafa dan Marwa melambangkan etos dan disiplin kerja yang tinggi. Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, memberikan keteladanan sebagai seorang ibu yang tidak pernah menyerah untuk berusaha demi masa depan anaknya yang saat itu menghadapi kesulitan.

Etos dan disiplin kerja itu harus dimulai dari shafa (ketulusan hati dan kejernihan pikiran). Etos dan disiplin sa'i harus maksimal agar mencapai Marwa (kepuasan hati, hasil maksimal atau prestasi tinggi).
   
Wuquf di Arafah adalah kesadaran terhadap pentingnya berhenti sejenak sambil makrifat diri untuk dapat merasakan kehadiran Allah SWT.

Sebagai lambang miniatur makhsyar di akhirat kelak, wukuf memberi kesadaran akan pentingnya introspeksi diri, pengenalan jati diri, dan yang lebih penting lagi "pengadilan terhadap diri sendiri". Jika selama ini manusia cenderung mengadili orang lain, atau tidak pernah berbuat adil,

Wuquf di Arafah adalah momentum yang tepat untuk mengambil keputusan yang arif: apakah selama ini yang berwukuf sudah benar-benar menjadi hamba-Nya ataukah masih menjadi hamba-hamba selain-Nya? Apakah yang berwukuf itu sudah meneladani akhlak Allah atau masih selalu mengikuti hawa nafwu dan setan?
   
Karena itu, di malam hari menuju Mina, para jamaah haji diminta bermabit di Muzdalifah (mendekatkan diri), sekali lagi bertaubat dan bermunajat kepada Allah sambil menyiapkan amunisi jihad di jamarat Mina.

Mina adalah simbolisasi cita dan cinta. Karena cinta-Nya yang tulus kepada Allah, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak kesayangannya, Ismail. Berjuang melawan setan dan hawa nafsu hanya bisa dimenangi oleh rasa cinta yang tulus kepada Allah.

Dengan cinta karena-Nya, Ibrahim akhirnya memperoleh cita-citanya: anaknya tidak jadi korban, karena manusia memang tidak pantas dikorbankan. Ismail adalah generasi masa depan, penerus perjuangan ayahnya.
    
Haji adalah ibadah yang paling multikultural; diikuti oleh aneka suku bangsa, bahasa, negara, adat-istiadat, watak, karakter, latar belakang sosial ekonomi dan budaya. 

Melalui syariat haji ini, Allah sungguh menitipkan pesan-pesan moral agar manusia saling bersikap emansipasi, toleransi, saling menghargai, cinta damai, disiplin dan etos kerja tinggi, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia sebagaimana dipesankan dalam khutbah wada' Nabi Muhammad SAW.

Dengan memahami nilai-nilai moral haji tersebut, para jamaah haji diharapkan dapat mempertahankan kemabruran pascahaji! Semoga!

Oleh Muhbib Abdul Wahab
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/21/mtggwj-mabrur-pascahaji

Merasakan Kehadiran-Nya




Salah satu nilai spiritual yang utama dari ritualitas  ibadah haji  adalah merasakan kehadiran Allah. Dalam menjalankan setiap rangkaian manasik haji, mulai dari memakai pakaian ihram hingga tahallul, para tamu Allah (dhuyûf al-Rahmân) itu senantiasa dididik untuk mengingat dan merasakan kehadiran-Nya.

Semakin mendekatkan diri kepada-Nya, getaran sinyal kehadirannya itu makin kuat dan memandu hati untuk selalu berada di jalan-Nya yang benar dan lurus (as-shirath al-mustaqim).

Merasakan kehadiran Allah berarti kita  selalu berusaha bersama-Nya di manapun dan kapanpun. Dia selalu hadir dan berperan dalam kehidupan kita.

Kita selalu diawasi, dijaga, dimonitor, dan direkam oleh-Nya. Merasakan kehadiran-Nya juga bermakna bahwa kita harus mengikuti syari'at-Nya jika ingin memperoleh keselamatan, kedamaian, dan  kebahagiaan dunia dan akhirat.
  
Allah SWT memang Mahahadir dalam kehidupan ini, sehingga kita harus selalu menyadari bahwa gerak-gerik hati, lisan, tangan, sikap, dan perbuatan kita selalu dalam pengawasan Allah SWT.

Ketika  merespon panggilan Allah SWT untuk menjadi tamu-Nya dengan menyatakan: labbaika Allahumma labbaik… [Ya Allah, aku datang hanya untuk memenuhi panggilan-Mu...], pada dasarnya jamaah haji sedang diuji keimanannya apakah ia telah siap menjadi tamu Allah yang selalu merasakan kehadiran-Nya atau justru status sosial yang hadir mewarnai prosesi manasiknya, sehingga sinyal kehadiran-Nya redup dan tidak mendapat tempat dalam relung hatinya.
   
Di antara saat dan tempat yang sangat kuat getaran kehadiran Allah adalah wukuf di Arafah. Sabda Nabi: [Esensi] Haji itu adalah arafah (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, setiap Muslim yang menunaikan haji harus hadir di tempat yang merupakan miniatur padang makhsyar ini, tempat manusia kelak dihisab oleh Allah.

Merasakan kehadiran-Nya di tempat suci ini sungguh memberi nilai edukasi yang sangat signifikan bagi pembentukan jiwa yang bersih dan sehat, mental spiritual yang tangguh, dan moral sosial yang anti segala bentuk penyelewengan, korupsi, keserakahan, dan sebagainya.
   
Merasakan kehadiran-Nya menuntut pengenalan jati diri (‘arafa nafasahu), dimulai dengan pengakuan terhadap segala dosa (i’tiraf), taubat, istighfar, kemudian zikir, dan doa, sehingga dengan begitu hati menjadi bening, suci dan dapat menerima “sinyal-sinyal” kehadiran-Nya.

Sinyal-sinyal nurani ini pada gilirannya dapat mengantarkan hamba untuk mengenal lebih dekat dengan-Nya  (‘arafa rabbahu).

Kunci untuk dapat merasakan kehadiran-Nya adalah ihsân, yaitu: “Engkau selalu beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; tetapi jika engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah pasti hadir melihatmu” (HR Muttafaq ‘alaih).
    
Merasakan kehadiran-Nya tidak hanya penting dimiliki oleh setiap jamaah haji, tetapi juga oleh setiap Muslim, baik yang sudah maupun yang belum menunaikan ibadah haji.

Dengan merasakan kehadiran-Nya, Muslim diharapkan memiliki kecerdasan spiritual dan moral, sehingga kapanpun dan di manapun Muslim semakin menjaga diri dan keluarga dari perbuatan dosa, perilaku tercela dan tidak bermoral, karena Allah hadir mengawasi dan merekam jejak perilakunya non-stop.
    
Kita semua merindukan para pemimpin yang dapat menjadi teladan dalam merasakan kehadiran-Nya dalam mengurus negara, bangsa, dan melayani masyarakat.

Jika negara ini diurus dengan kecerdasan spiritual dan moral, dan kesadaran akan pentingnya menghadirkan-Nya, niscaya para pejabat selalu merasa takut berbuat salah, enggan korupsi, anti penyelewengan, dan takut berperilaku yang tidak bermoral.

Jika para jamaah haji telah diundang oleh Allah SWT ke rumah suci-Nya, maka sudah semestinya sepulang dari haji mereka selalu mengundang Allah untuk hadir dalam rumah mereka.

Kehadiran Allah dalam setiap rumah Muslim, terutama yang sudah berhaji, tentu saja, akan memberi dampak mental spiritual dan moral sosial yang kuat untuk senantiasa ber-muhâsabah (introspeksi dan evaluasi diri), musâbaqah fi al-khairât (berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan), dan mudâwamah dzikrillah wa al-maut (selalu mengingat Allah dan mengingat kematian).

Agar selalu merasakan kehadiran-Nya, setiap Muslim perlu menghayati makna innâ lillahi wa innâ ilaihi râji’ûn (Sungguh kita semua milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya).

Ketika diangkat menjadi khalifah, kalimat pertama yang diucapkan ‘Umar bin al-Khattab adalah innâ lillahi wa innâ ilaihi râji’ûn, bukan Alhamdulillah, sebagai manifestasi dari kesadaran dan tanggung jawab moral bahwa Allah Mahahadir dan selalu mengawasi kinerja kepemimpinannya.

Sungguh sangat merugi Muslim yang tidak dapat merasakan kehadiran-Nya dalam hidupnya hingga ia dipanggil menghadap-Nya.  


Oleh Muhbib Abdul Wahab
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/21/mthj74-merasakan-kehadirannya