Musim haji sudah tiba. Syawal, Dzul Qaidah, dan Dzul Hijjah adalah bulan-bulan
haji. Umat Islam yang kini tengah menunaikan rukun Islam kelima ini tentu sudah
bersiap diri, baik fisik, finansial, maupun mental spiritual.
Para tamu Allah (dhuyuf ar-Rahman) itu tentu juga berniat dan berharap
memperoleh haji mabrur, yang balasannya tidak lain adalah surga (HR Muslim).
Jamaah haji Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, dan boleh jadi yang
paling banyak membelajakan hartanya di Tanah Suci.
Para alumni Tanah Suci itu
sering digugat: "Mengapa jumlah jamaah haji
yang terus meningkat setiap tahun, bahkan ngantri bertahun-tahun, tidak
berbanding lurus dengan penurunan angka korupsi atau perbaikan integritas dan
akhlak umat Islam?" "Apa bukti kemabruran haji
mereka?
Oleh karena itu, aktualisasi kemabruran pascahaji merupakan sebuah keharusan,
agar ritualitas ini tidak berhenti pada tataran pemenuhan atau pengguguran
kewajiban, melainkan harus membuahkan perilaku moral yang mulia dan terhormat.
Berhaji bukan sekadar untuk mengejar dan memperoleh gelar haji, tetapi yang
lebih penting lagi adalah menjadi orang benar-benar mengamalkan nilai-nilai
moral-spiritual pascahaji.
Haji itu ibadah multidimensional. Manasik haji bukan sekadar ritualitas fisik
tanpa makna. Prosesi manasik haji adalah sebuah drama kehidupan yang kaya makna, terutama makna sosial
kultural.
Haji dimulai dengan niat ihram. Pakaian ihram mengandung pesan bahwa menjadi
tamu Allah itu harus suci lahir batin, tidak egois, tapi emansipatoris dan siap
memenuhi panggilan ketaatan (talbiyah)
hanya kepada-Nya dan hanya berharap memperoleh ridha-Nya.
Thawaf bukan sekadar mengelilingi Ka'bah tujuh kali. Thawaf mendidik jamaah
haji bergerak dinamis dalam orbit tauhid. Keteguhan dan konsistensi dalam bertauhid
memacu gerak untuk maju dan terus maju.
Orang yang berthawaf adalah orang yang antikemunduran dan kejumudan. Thawaf
menyadarkan pentingnya nilai progresivitas sosial yang bersendikan nilai-nilai
tauhid.
Sa'i antara Shafa dan Marwa melambangkan etos dan disiplin kerja yang tinggi.
Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, memberikan keteladanan sebagai seorang ibu
yang tidak pernah menyerah untuk berusaha demi masa depan anaknya yang saat itu
menghadapi kesulitan.
Etos dan disiplin kerja itu harus dimulai dari shafa (ketulusan hati dan
kejernihan pikiran). Etos dan disiplin sa'i harus maksimal agar mencapai Marwa
(kepuasan hati, hasil maksimal atau prestasi tinggi).
Wuquf di Arafah adalah kesadaran terhadap pentingnya berhenti sejenak sambil makrifat diri
untuk dapat merasakan kehadiran Allah SWT.
Sebagai lambang miniatur makhsyar
di akhirat kelak, wukuf memberi kesadaran akan pentingnya
introspeksi diri, pengenalan jati diri, dan yang lebih penting lagi
"pengadilan terhadap diri sendiri". Jika selama ini manusia cenderung
mengadili orang lain, atau tidak pernah berbuat adil,
Wuquf di Arafah adalah momentum yang tepat untuk mengambil keputusan yang arif:
apakah selama ini yang berwukuf sudah benar-benar menjadi hamba-Nya ataukah
masih menjadi hamba-hamba selain-Nya? Apakah yang berwukuf itu sudah meneladani
akhlak Allah atau masih selalu mengikuti hawa nafwu dan setan?
Karena itu, di malam hari menuju Mina, para jamaah haji diminta bermabit di
Muzdalifah (mendekatkan diri), sekali lagi bertaubat dan bermunajat kepada
Allah sambil menyiapkan amunisi
jihad di jamarat Mina.
Mina adalah simbolisasi cita dan cinta. Karena cinta-Nya yang tulus kepada
Allah, Nabi Ibrahim rela mengorbankan
anak kesayangannya, Ismail. Berjuang melawan setan dan hawa nafsu hanya bisa
dimenangi oleh rasa cinta yang tulus kepada Allah.
Dengan cinta karena-Nya, Ibrahim akhirnya memperoleh cita-citanya: anaknya
tidak jadi korban, karena
manusia memang tidak pantas dikorbankan. Ismail adalah generasi masa depan, penerus
perjuangan ayahnya.
Haji adalah ibadah yang paling multikultural; diikuti oleh aneka suku bangsa,
bahasa, negara, adat-istiadat, watak, karakter, latar belakang sosial ekonomi
dan budaya.
Melalui syariat haji ini, Allah sungguh menitipkan pesan-pesan moral agar
manusia saling bersikap emansipasi, toleransi, saling menghargai, cinta damai,
disiplin dan etos kerja tinggi, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia
sebagaimana dipesankan dalam khutbah wada' Nabi Muhammad SAW.
Dengan memahami nilai-nilai moral haji tersebut, para jamaah haji diharapkan
dapat mempertahankan kemabruran pascahaji! Semoga!
Oleh Muhbib
Abdul Wahab
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/21/mtggwj-mabrur-pascahaji