Senin, 28 Oktober 2013

Apa itu Capital Expenditure (Capex) dan Operating Expenditure (Opex)?


 

Anda mungkin pernah mendengar tentang Capex dan Opex ketika membaca majalah bisnis dan ekonomi. Apa sebenarnya artinya?

Capex dan Opex umumnya istilah yang digunakan perusahaan-perusaahan besar saat ia menyusun budgetnya di awal tahun. Perlu diingat, bahwa perusahan besar umumnya tidak mengeluarkan biaya sewaktu-waktu (arbitrarily) sepanjang tahun. Mereka punya tim yang menyusun planning untuk budget pada awal tahun. Perusahaan yang well-established bahkan membuat anggaran selama 10 tahun. Namun tiap awal tahun, mereka memodifikasinya jika perlu, sesuai dengan proyek yang merek dapatkan, maupun perubahan-perubahan (peningkatan konsumen, perubahaan peraturan pemerintah, perubahan strategi pasar). Budget ini menjadi patokan untuk kegiatan tiap bulan. Tentu budget ini tidak selalu terpenuhi. Terjadi hal-hal yang disebut monthly over/under budget. Variance over/under tersebut dianalisis dengan membandingkan nilai budget tahunan dan forecast dari bulan sebelumnya. Kemudian dicari tahu apa yang membuat budget tidak terlaksana sebagaimana semestinya. Ini disebut variance analysis. Kemudian sisa budget hingga akhir tahun tentu harus dihabiskan. Oleh sebab itu, pada bulan depannya budget yang ada harus dipakai untuk mengoreksi kelebihan/kekurangan budget sebelumnya. Seringkali untuk memastikan pencapain budget, perusahaan membuat kontrol dengan membuat forecast. Forecast biasanya berisi nilai aktual dari awal tahun hingga bulan yang berlangsung ditambah dari bulan berlangsung hingga akhir tahun. Proses forecast dan budget ini dilakukan oleh tim finance yang menjadi pengontrol dan planner dalam suatu perusahaan.

Lalu dimanakah letak Capex dan Opex dalam susunan proses tersebut;

Secara sederhana Capital expenditure adalah alokasi yang direncanakan (dalam budget) untuk melakukan pembelian/perbaikan/penggantian segala sesuatu yang dikategorikan sebagai aset perusahaan secara akuntansi. Perlu diingat tidak semua perusahaan menggunakan capital expenditure dalam budget. Umumnya adalah perusahaan yang telah memiliki basis konsumen jangka panjang maupun jangka pendek (namun stabil) serta menggunakan modal (kapital) dalam jumlah yang besar. Seperti industri minyak dan gas, telekomunikasi dan alat-alat berat.

Sedangkan Operating expenditure adalah alokasi yang direncanakan dalam budget untuk melakukan operasi perusahaan secara normal. Dengan kata lain operating expenditure (biaya operasi) digunakan untuk menjaga kelangsungan aset dan menjamin aktivitas perusahaan yang direncanakan berlangsung dengan baik. Karena sifatnya biaya sehari-hari maka biaya operasi tidak meliput pajak pendapatan, depresiasi, dan biaya financing (bunga pinjaman).

Ilustrasi sederhana tentang biaya modal (capital expenditure) dan biaya operasi (operating expenditure):
  • Jika kita membeli telepon, kita sedang membeli aset fisik, maka kita bisa menganggapnya sebagai biaya modal (capital expenditure), sedangkan pada akhir bulan kita akan membayar tagihan telepon akibat aktivitas bisnis kita dengan menggunakan telepon, maka tagihan telepon bisa dikatakan biaya operasi (operating expenditure).
  • Illustrasi lain, adalah mesin printer. Saat kita membelinya kita akan menganggapnya sebagi aset (Dalam neraca, kita menulis sebagai neraca; dalam tabel budget, kita menilainya sebagai biaya modal). Aset tersebut diperoleh dengan mengeluarkan biaya modal. Sedangkan saat kita membeli tinta dan kertas, kita menggunakanya sekali saja untuk kegiatan bisnis sehingga dikategorikan biaya operasi.
Perlu diingat memang istilah biaya operasi dan biaya modal tidak kita temukan dalam neraca perusahaan atau laporan keuangan. Kedua istilah biaya operasi (operating expense) dan biaya modal (capital expense) akan kita temui ketika kita berhadapan dengan hal-hal yang berhubungan dengan sisi akuntansi biaya (cost accounting) dalam suatu perusahaan.

Demikian penjelasan tentang Capital Expenditure dan Operating Expenditure versi saya. Semoga dapat membantu kita untuk memahami dunia bisnis dan ekonomi.(Sumber artikel)



Senin, 21 Oktober 2013

Kearifan Rumah Tangga




Kalimah dalam QS Ar Rum 21 “an kholaqo lakum min anfusikum” menegaskan bahwa meskipun jenis berbeda namun asal semua adalah sama yaitu “dari dirimu sendiri”. Ini artinya bahwa ada titik temu. Memang tak bisa dipungkiri istri maupun suami memiliki latar belakang, pendidikan, watak, ataupun pengalaman yang berbeda satu sama lain.

Bagi mereka yang tidak berangkat dari “ayat” maka perbedaan-perbedaan tersebut menjadi potensi eksplosif yang akan saling mendestruksi. Sebaliknya “ayat” mengingatkan bahwa ditengah perbedaan yang banyak maka persamaan itu tetap ada. Keadaan ini merupakan fondasi utama. Ketika merasa ada yang tak disukai dari pasangan, maka ingatlah apa apa yang disukai dari pasangan kita tersebut.  Sewaktu keputusan diambil untuk siap menikah dengannya, maka saat itu telah ada komitmen berupa kecintaan dan kesukaan.

Terjadinya perceraian sering disebabkan perbesaran sudut deviasi perbedaan, dramatisasi, dan egoisme. Bahasa yang  mengemuka adalah “ketidakcocokkan” padahal sebenarnya bukan faktor perbedaan, melainkan tidak mau dan tak mampunya menemukan persamaan-persamaan yang ada, tidak membangun nostalgia cinta kasih, dan terjebak pada hal hal yang semata pragmatis. Padahal dulu sewaktu menikah, idealisme begitu kuat untuk mengikatkan tali kebersamaan dalam berumahtangga. Bahasanya sehidup semati, katanya. 

Berumah tangga harus pandai-pandai membaca peristiwa. Bila diberi kesenangan berupa rezeki yang banyak maka itu harus direspons sebagai ujian.Begitu juga bila ditimpa mushibah atau keadaan yang sulit, maka disikapi dengan sabar dengan selalu mencari hikmah-hikmah yang dikandungnya. Dengan demikian akan ada “kearifan rumahtangga”.  Hal ini tentu sangat berguna untuk  membangun harmoni dan relaksasi.

Ada tiga hal penting dalam  membangun kearifan rumah tangga, yaitu:
Pertama, menggenggam Alquran.  Alquran merupakan “bacaan harian” yang tetap menjadi pedoman dan panduan. Ayat-ayat-Nya adalah penenang dari hiruk pikuk kebutuhan hidup yang tak pernah habis, penyejuk dari panasnya hawa persaingan ekonomi dan sosial yang dapat mengguncang perkawinan, obat dari penyakit-penyakit hati, serta pendorong untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amaliah.

Alquran adalah tempat kembali pasangan suami istri yang renggang silaturahmi, penguat mereka yang frustrasi, serta pengendali dari segala emosi, ambisi, dan watak menuhankan harga diri. Alquran adalah hidayah bagi orang-orang yang bertakwa “hudan lil muttaqien”.

Jauh dari Alquran akan menyebabkan jauh nya dari hidayah Allah. Umat Muhammad yang menjauh dari Quran  sama dengan telah menyakiti Rosul-Nya sebagaimana Firman Allah dalam QS Al Furqan 30 “Dan Rasul (Muhammad) berkata: Ya Rabb-ku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Quran ini sesuatu yang disia-siakan” .

Kedua, Ikut rujukan Nabi baik itu perkataan, perbuatan, maupun ketetapan. Sunnah adalah cahaya bagi rumah tangga. Rumah tangga yang terang oleh cahaya akan penuh dengan kejujuran, keterbukaan, dan tenggangrasa,  hangat dan gembira. Wajah yang ada didalamnya bening dan ceria.

Pandangannya jauh ke depan dengan penuh keyakinan dan kepastian. Sebaliknya mereka yang tak mengenal pada sunnahnya, maka rumah tangga itu penuh dengan kepalsuan, prasangka, dingin dan curiga. Rentan dengan konflik dan tak bermasa depan. Tidak merasakan indahnya iman dalam hati serta dekat dengan kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan. 

Ketiga, menjadikan masing masingnya sebagai pakaian. Fungsi pakaian itu sebagai sarana untuk menutup aurat. Suami menjadi penutup aurat istrinya, demikian juga sebaliknya. Segala kelemahan, keburukan, dan cacat-cacat yang ada pada istri haruslah disimpan dan ditutupi. Begitu juga kejelekan yang ada pada suami harus ditutupi pula oleh istrinya.

Janganlah menjadi suami atau istri yang terbiasa kesana kesini menceritrakan atau mengadukan keburukkan pasangannya, apalagi sampai seperti tak ada lagi kebaikan yang ada pada pasangannya tersebut. Oleh karena itu Nabi senantiasa berdo’a “Wahai Allah tutuplah aib kami dengan sutrah (hijab) mu yang sangat indah”.  Seburuk buruk manusia adalah yang pada siang hari menceritrakan apa yang dilakukan pada malam hari dengan suami/istrinya sebagaimana Sabda Nabi “sesungguhnya orang terjelek tempatnya dihari kiamat ialah suami yang membukakan rahasia istrinya kepada orang lain tentang soal perkawinan antara keduanya” (HR Muslim).

Mencari titik temu adalah substansi kearifan rumah tangga. Rumah adalah anak tangga untuk naik menuju surga. Jika itu keyakinannya, maka insya allah elemennya akan sabar menjalani kehidupan yang mewarnainya.

Oleh HM Rizal Fadillah


Berbagi Kebaikan



Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan  berzikir dan beribadah sunah.

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.

Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas. Pertama, kehati-hatian ulama dalam menukil atau menceritakan ucapan seseorang.

Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan, redaksi cerita ini dari hafalannya, bukan redaksi Imam Malik. Hendaknya kita berupaya membawakan hadis Nabi SAW yang sahih agar tidak terjerumus berdusta atas nama beliau.

Pesan kepada para wartawan dan jurnalis, baik di media cetak maupun elektronik, hendaknya lebih berhati-hati dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai berbohong kepada publik.

Hendaknya kita lebih selektif dalam memilih, memuat, dan menyebarkan berita. Agar informasi yang disampaikan berupa informasi yang membangun, menyejukkan, memperbaiki, dan menyatukan.

Kedua, pentingnya saling menasihati sesama Muslim. Jika kita mengetahui kekurangan dan aib pada saudara kita, janganlah kita menyebarkan aibnya. Ingatkanlah dia.

Jika sulit untuk berjumpa, kirimlah surat dengan ungkapan yang baik. Agar orang yang dinasihati tidak tersinggung, bahkan malah menyadari dan segera memperbaiki kesalahannya.

Ketiga, bagi yang dinasihati, jika isi nasihat tidak tepat atau bahkan salah alamat, janganlah marah atau tersinggung. Bergembiralah dengan kritikan saudara kita, karena nasihat merupakan bentuk perhatian dan rasa sayang kepada sesama saudara.

Keempat, jawablah nasihat yang kurang tepat dengan jawaban yang sopan. Berilah permisalan dan bantahlah dengan tegas tapi tetap menjaga keadilan dan penuh rasa kasih sayang.

Kelima, Allah memberikan potensi dan kelebihan yang beragam kepada hamba-hamba-Nya. Janganlah saling merendahkan, janganlah saling menyombongkan diri.

Hendaklah umat Islam saling bersinergi, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta saling menguatkan satu sama lain.

Allah berfirman, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46).

Rasululullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim). “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).



Oleh; Fariq Gasim Anuz

Yakin Bisa




Setelah mendarat di benua Eropa, semua perahu yang digunakan untuk menyeberangi selat Gibraltar (Jabal Thariq) dibakar oleh panglima Thariq bin Ziyad. Lalu ia berdiri dan berpidato di hadapan para pasukannya.

Wahai pasukanku, ke mana kalian hendak pergi melarikan diri? Di belakang kalian ada lautan, sedangkan di depan kalian ada pasukan musuh. Yang kalian miliki, demi Allah, hanyalah kejujuran dan kesabaran,'' kata Thariq bin Ziyad mengingatkan.

''Ketahuilah, kalian di pulau (benua) ini lebih sia-sia daripada anak-anak yatim. Padahal kalian sudah “disambut” oleh musuh-musuh kalian dengan bala tentara dan senjata mereka. Logistik mereka cukup melimpah.''

''Sementara itu, kalian tidak memiliki tempat berlindung! Kalian hanya memiliki pedang-pedang. Kalian tidak memiliki logistik kecuali yang dapat kalian peroleh dari tangan musuh-musuh kalian!''

''Jika penderitaan kalian berlangsung lama sedangkan kalian tidak berhasil mengalahkan mereka, maka kekuatan kalian akan hilang.''

''Rasa takut dalam hati musuh akan berubah menjadi rasa berani dalam melawan kalian. Karena itu, pertahankan baik-baik diri kalian dengan mengalahkan dampak yang ditimbulkan oleh perang ini dengan memerangi kesewenang-wenangan.”

Keyakinan diri sang panglima yang demikian tinggi, bahwa lautan bisa disebrangi, rasa takut bisa dieliminasi, dan musuh yang gagah perkasa bisa ditaklukkan membuat pasukan umat Islam mampu menaklukkan Andalusia pada tahun 92 H/710 M.  Yakin bisa merupakan awal keberhasilan dalam segala aspek kehidupan.

Orasi heroik Thariq bin Ziyad tersebut menginspirasi kita semua bahwa hidup harus dimodali semangat juang yang tinggi. Masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Musuh harus dilawan, bukan melarikan diri.

Jujur harus menjadi kekayaan pribadi yang selalu dijunjung tinggi. Sabar menghadapi, sabar menanti, sabar meraih prestasi harus menjadi etos perjuangan. Bermental baja dan tahan menderita demi menggapai cita-cita mulia perlu ditanamkan sejak dini.

Dengan keyakinan diri yang kuat plus keyakinan terhadap pertolongan dan janji-janji Allah, kita akan mampu mewujudkan visi dan misi Islam, termasuk berprestasi dalam hidup ini.

Tanpa iman, rasa yakin dan mulia diri, seseorang itu akan lemah terkulai setiap kali hendak melakukan perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan (dengan yakin): "Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka tetap istiqamah (teguh pendirian), maka tidak ada kekhatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf/46: 13)

Yakin bisa yang dilandasi keimanan yang mantap membuat segala kerja yang berat dan sukar akan menjadi ringan dan mudah dilaksanakan.  Karena itu, yakin bisa perlu dilatih dan dikembangkan dengan kiat-kiat berikut.

Pertama, menanamkan rasa percaya diri dengan selalu mengingat dan memosisikan Allah sebagai sumber kekuatan, kemauan, dan keberhasilan. Allah SWT itu sandaran hidup kita (QS. al-Ikhlash/112: 2).

Kedua, memaksimalkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan mental spiritual dan material.

Sebaiknya kita tidak mudah mengambing-hitamkan atau menyalahkan orang lain atau keadaan, sehingga lebih jujur dan objektif dalam melihat diri sendiri.  

Ketiga, melakukan perubahan ke arah yang lebih baik secara terus-menerus.  Dan perubahan itu dimulai dari diri sendiri dan selalu berusaha melakukan evaluasi diri setiap saat.

Perubahan diri berupa niat, sikap, mindset, dan perilaku positif merupakan kunci keberhasilan dan kemajuan (QS. al-Ra’d/13: 11)

Keempat,  fokus pada potensi dan kelebihan diri, agar kita mampu melejitkan prestasi yang kita cita-citakan, sambil membangun dan mengembangkan rasa optimisme bahwa kita pasti berhasil dan mampu meraih cita-cita.

Kelima, mengawal usaha serius dan etos perjuangan dengan selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT. Hanya orang beriman yang selalu berdoa dan berserah diri kepada-Nya kapanpun dan di manapun.

Tekad, semangat, usaha, dan kinerja baru lengkap jika diperkaya dengan doa dan tawakkal.
Dengan demikian, Islam mendidik kita untuk memiliki tekad yang kuat dan yakin bisa.

Karena seluruh ibadah harus dimulai dengan niat yang tulus untuk memenuhi panggilan Ilahi, memiliki etos juang yang tinggi, melawan hawa nafsu dan mengatasi segala rintangan, sehingga kita harus berdisiplin dalam meraih prestasi tinggi (bertaqwa).

Sejatinya semua ibadah dalam Islam itu merupakan oase spiritual yang dapat membangun keyakinan diri dan yakin bisa menuju prestasi kerja dan prestasi hidup yang baik dan mulia.

Oleh Muhbib Abdul Wahab