Jumat, 28 Februari 2014

Doa selamat


Bismillahirrahmaannirrahim,











“Allahumma innaanas ‘aluka salamatan fiddiin wa’aafiyatan filjhasad wa jizadatan fil’ilmi wa barakatan firrizqi wa taubatan kablalmaut wa rahmatan indalmaut wa magfiratan ba’dalmaut. Allahumma hawwin ‘alaina fii sakaratilmaut wannajaa taminannari wal’afwa ‘indalhisaab. Rabbana laa tujighkuluubanaa ba’daizd hadaitanaa wa hablanaa minladunkarahmatan innaka antalwahhab. Rabbanaa aattinaa fiddun-ya hasanah wafil aahirati hasanah waqinaa azaa-bannar. Walhamdulillahi rabil-aalamiin.”

Kebenaran Islam tentang jantung manusia yang ditulis oleh al-Qur'an





http://cdn.ar.com/images/stories/2012/06/hati-manusia.jpg
Ilustrasi




Paper itu ditulis oleh Marios Loukas, Yousuf Saad, Shane Tubbs dan Mohamadali Shoja. Penulis pertama, Marios Loukas adalah seorang Profesor di St. George University dengan bidang riset seputar jantung, teknik dan anatomi pembedahan, arteriogenesis hingga pendidikan medis.

Pencarian dengan menggunakan portal ISIWeb Knowledge menyebutkan sekitar 280 paper ilmiah yang pernah ditulis oleh Marios Loukas di bidang jantung. Ini menunjukkan kredibilitas beliau sebagai pakar yang berkompeten untuk berbicara soal jantung, termasuk tulisannya yang membicarakan jantung di dalam Al Quran dan Hadits.
International Journal of Cardiology itu sendiri termasuk jurnal ternama di bidang jantung. Nilai Impact factor jurnaltersebut sekitar 3. Paper yang diterbitkan itu dapat dilihat di http://www.internationaljournalofcar…566-X/abstract

Dr. Marios Loukas

Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata “heart” dalam dunia kedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun “hati” dalam kedokteran adalah liver. Karena itu kata ?qalb? dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi “heart”, yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.
 Ada sejumlah hal menarik dari paper tersebut.

Paper tersebut dikirim dan sampai (received) ke jurnal tersebut pada tanggal 7 Mei 2009. Ternyata, hanya dalam 5 hari kemudian tanggal 12 Mei 2009, paper tersebut langsung disetujui (accepted) oleh editor jurnal tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, proses ini sangat-sangat cepat. Rata-rata sebuah paper membutuhkan waktu satu hingga beberapa bulan untuk dapat disetujui oleh editor jurnal. Bahkan ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Lamanya proses itu salah satunya karena adanya diskusi panjang dengan reviewer atau pihak ketiga yang memberikan penilaian layak tidaknya sebuah paper untuk dapat diterbitkan di sebuah jurnal ilmiah. Dugaan saya, proses yang hanya lima hari sejak proses received hingga accepted ini disebabkan karena editor langsung setuju dengan isi paper tersebut sehingga tidak diperlukan lagi proses pengecekan oleh pihak ketiga.

Paper itu sendiri terbit secara online pada 25 Agustus 2009. Kemudian dicetak dalam edisi kertas baru-baru saja, pada 1 April 2010.
Dalam pengantarnya, penulis menjelaskan kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi dari sejumlah teks-teks agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Padahal beliau menyebut deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur bedah, karakteristik fisiologi dan pengobatan medis,  
“Found within the Qur’an and Hadeeth are accurate descriptions of anatomical structures, surgical procedures, physiological characteristics, and medical remedies.” 

Paper itu ditulis sebagai review atau rangkuman untuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan Hadits dengan fokus khusus pada sistem jantung  
“to accurately present the anatomical and medical contributions of the Qur?an and Hadeeth, with specific focus on the cardiovascular system.”

Setelah menyebutkan sejarah singkat Al Quran dan Hadits, Marios Loukas menjelaskan perbedaan kontras dalam Islam dan Kristen mengenai hubungan antara agama dan sains. Dalam sejarah Kristen di abad pertengahan dan masa Renaissance, pengaruh gereja Kristen melumpuhkan (stifle) perkembangan sains, bahkan jika pengamatan sains tersebut sebenarnya didukung oleh perhitungan dan pemikiran rasional. Sementara, sains di era kejayaan Islam berkembang luas disebabkan ajaran Islam mendorong (encourage) dan mendukung riset sains. Selain itu, dalam Islam pencarian ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah kepada Tuhan (an act of worship to God).

Paper itu menjelaskan tentang pandangan umum tentang pengobatan dalam Al Qur’an dan Hadits. Diantaranya, Allah SWT yang menciptakan penyakit, dan setiap penyakit itu selalu ada obat dan metode penyembuhannya. Sebuah penyakit yang sembuh terjadi karena adanya ijin dari Allah SWT (permission of God). Ada dua macam perlakuan (treatment) untuk proses penyembuhan suatu penyakit, yaitu secara spiritual dan fisik. Sebab, Al Quran menyebut penyakit tidak hanya berupa penyakit fisik, namun juga penyakit yang  ”tersembunyi” seperti keragu-raguan (doubt), kotoran keimanan (impurity), kemunafikan (hypocrisy) dan tidak beriman (disbelief) dan dusta (falsehood).

Selain penyakit batin tersebut, Al Quran dan Hadits juga mendiskusikan beberapa penyakit fisik seperti sakit perut (abdominal pain), mencret (diarrhea), demam (fever), penyakit kusta (leprosy), and penyakit mental. Diantara obat yang manjur adalah madu karena mengandung gula, vitamin dan anti mikroba. Selanjutnya Al Quran berbicara tentang makanan apa saja yang haram dikonsumsi, seperti bangkai, darah, daging babi serta yang disembelih tidak atas nama Allah.

Mengenai sistem jantung, darah dan sirkulasinya, penulis menyebut tentang sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya(Qaaf 16). Ini menunjukkan relasi antara Allah SWT dengan hamba-Nya, sekaligus mengisyaratkan pentingnya pembuluh darah di leher dan hubungannya dengan jantung.

Panjang lebar, penulis paper tersebut juga mengupas jantung, penyakit yang berkaitan dengan jantung, serta kontribusi Al Qur?an dan Hadits bagi dunia medik. Seperti, pembuluh darah aorta, diskusi seputar darah pada penyembelihan binatang. Al Quran juga menyebut ada tiga kelompok manusia berdasarkan keadaan ?heart?, yaitu orang yang beriman (believers) yang memiliki heart yang hidup, orang kafir (rejecters of faith) yang memiliki heart yang mati, dan orang munafik (the hypocrites) yang ada penyakit dalam heart. Karena itu Marios Loukas menyatakan bahwa heart memiliki dua tipe, yaitu spiritual heart dan physical heart. Tiga kategori itu termasuk ke dalam spiritual heart. Ia juga menyebutkan bahwa ulama (scholars) membagi dua jenis penyakit dalam spiritual heart, yaitu syubuhat dan syahwat.

Bagian yang juga menarik, ketika secara tidak langsung gaya hidup manusia yang dikehendaki oleh Allah SWT, membuat kemungkinan terkena penyakit jantung menjadi lebih kecil, seperti melakukan aktivitas spiritual, makan secukupnya, bekerja secara fisik, tidak marah dan iri hati, menjauhi keserakahan, serta menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang dilarang. Termasuk dibahas pula gerakan-gerakan shalat (berdiri, sujud duduk) yang berhubungan dengan kesehatan, sampai-sampai gerakan orang shalat yang malas seperti yang dilakukan oleh orang munafik dikecam dalam Al Quran. Hingga dibahas pula, larangan Islam untuk mengkonsumsi alkohol untuk khamar yang bisa ditinjau dari segi kesehatan. Sebab, alkohol berpengaruh pada seluruh organ tubuh, seperti liver, lambung, usus, pankreas, jantung dan otak dan dapat menyebabkan sejumlah penyakit, seperti liver cirrhosis, pancreatic insufficiency, cancer, hypertension dan heart disease.

Di bagian kesimpulan, penulis menyatakan bahwa Al Qur’an dan ucapan Nabi Muhammad merupakan teks agama, spiritual dan sekaligus saintifik, serta memberikan pengaruh (influence) bagi ilmu medik dan anatomi. Setelah panjang lebar menjelaskan, penulis menyatakan bahwa jantung (heart) sesungguhnya berisi unsur hati, kecerdasaan dan emosi, sebagaimana juga unsur fisik tubuh yang dapat mengalami sakit, seperti pembekuan darah dll. Penulis juga menyatakan bahwa saintis Eropa di abad pertengahan gagal dalam mengambil manfaat dari Islam, disebabkan oleh beberapa kemungkinan diantaranya proses penterjemahan yang buruk.

Menurut pengamatan saya, Al Qur’an memang bukan kitab sains, namun petunjuk hidup bagi manusia. Bagi orang yang beriman, Al Qur’an juga tidak butuh bukti untuk kebenaran isinya. Namun demikian, adanya sejumlah isyarat-isyarat ilmiah yang belakangan terbukti sesuai dengan perkembangan sains modern semakin menunjukkan bahwa Al Quran bukanlah sebuah kitab yang biasa, tetapi sebuah mukjizat dari Allah SWT. Inilah domain yang dimasuki oleh Marios Loukas dan partnernya. Orang seperti Marios Loukas dengan kepakarannya di bidang jantung sangat tepat untuk membahas masalah ini. Tentu, usaha ini patut mendapat apresiasi dari kita, kaum muslimin. Salah satunya, beberapa saintis Turki menulis paper di jurnal tersebut yang berjudul  “Islamic legacy of cardiology: Inspirations from the holy sources”, sebagai kelanjutan dari paper Marios Loukas tersebut.

Disamping itu pula, sudah menjadi sunnatullah jika gembong anti Islam selalu menampakkan kebenciannya terhadap setiap upaya untuk memajukan Islam. Kalangan anti Islam dari kelompok faithfreedom.org misalnya, mereka sangat tidak suka ketika jurnal Cardiology itu menerbitkan paper tersebut. Bahkan salah satunya seperti Syed Kamran Mirza sampai menulis surat kepada jurnal tersebut agar menarik paper tersebut. Tentu saja permintaan itu ditolak.

Semoga informasi ini bisa menjadi tambahan inspirasi untuk kaum muslimin, untuk selalu menjadi yang terbaik di bidang masing-masing, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan juga menjadi tambahan keimanan bagi kita, kaum muslimin. Wallahu a’lam bish showab..

(saif/zilzaal/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/06/27/21238-kebenaran-islam-tentang-jantung-manusia-yang-ditulis-oleh-al-quran.html#sthash.dve25vEr.dpuf

Keutamaan dan Manfaat Dzikir



 berdzikir kepada Allah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Moga bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk menjaga lisan ini untuk terus berdzikir, mengingat Allah daripada melakukan hal yang tiada guna.
1.     mengusir setan.
2.    mendatangkan ridho Ar Rahman.
3.    menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.
4.    hati menjadi gembira dan lapang.
5.    menguatkan hati dan badan.
6.    menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.
7.    mendatangkan rizki.
8.    orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.
9.    mendatangkan cinta Ar Rahman yang merupakan ruh Islam.
10. mendekatkan diri pada Allah sehingga memasukkannya pada golongan orang yang berbuat ihsan yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya.
11.  mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah ‘azza wa jalla. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.
12. seseorang akan semakin dekat  pada Allah sesuai dengan kadar dzikirnya pada Alalh ‘azza wa jalla. Semakin ia lalai dari dzikir, ia pun akan semakin jauh dari-Nya.
13. semakin bertambah ma’rifah (mengenal Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah.
14. mendatangkan rasa takut pada Rabb ‘azza wa jalla dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir, akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah.
15. meraih apa yang Allah sebut dalam ayat,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.
16. hati akan semakin hidup. Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟
Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”
17. hati dan ruh semakin kuat. Jika seseorang melupakan dzikir maka kondisinya sebagaimana badan yang hilang kekuatan. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.
18. dzikir menjadikan hati semakin kilap yang sebelumnya berkarat. Karatnya hati adalah disebabkan karena lalai dari dzikir pada Allah. Sedangkan kilapnya hati adalah dzikir, taubat dan istighfar.
19. menghapus dosa karena dzikir adalah kebaikan terbesar dan kebaikan akan menghapus kejelekan.
20.menghilangkan kerisauan. Kerisauan ini dapat dihilangkan dengan dzikir pada Allah.
21. ketika seorang hamba rajin mengingat Allah, maka Allah akan mengingat dirinya di saat ia butuh.
22.jika seseorang mengenal Allah dalam  keadaan lapang, Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit.
23.menyelematkan seseorang dari adzab neraka.
24.dzikir menyebabkan turunnya sakinah (ketenangan), naungan rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat.
25.dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.
26.majelis dzikir adalah majelis para malaikat dan majelis orang yang lalai dari dzikir adalah majelis setan.
27.orang yang berzikir begitu bahagia, begitu pula ia akan membahagiakan orang-orang di sekitarnya.
28.akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di hari kiamat.
29.karena tangisan orang yang berdzikir, maka Allah akan memberikan naungan ‘Arsy padanya di hari kiamat yang amat panas.
30.sibuknya seseorang pada dzikir adalah sebab Allah memberi untuknya lebih dari yang diberikan pada peminta-minta.
31. dzikir adalah ibadah yang paling ringan, namun ibadah tersebut amat mulia.
32.dzikir adalah tanaman surga.
33.pemberian dan keutamaan yang diberikan pada orang yang berdzikir, tidak diberikan pada amalan lainnya.
34.senantiasa berdzikir pada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 19)
35.dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan hari berbangkit.
36.dzikir adalah ro’sul umuur (inti segala perkara). Siapa yang dibukakan baginya kemudahan dzikir, maka ia akan memperoleh berbagai kebaikan. Siapa yang luput dari pintu ini, maka luputlah ia dari berbagai kebaikan.
37.dzikir akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan dzikir.
38.orang yang berdzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. Sebagaimana AllahTa’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl: 128)
وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 249)
وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut: 69)
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At Taubah: 40)
39.dzikir itu dapat menyamai seseorang yang memerdekakan budak, menafkahkan harta, dan menunggang kuda di jalan Allah, serta juga dapat menyamai seseorang yang berperang dengan pedang di jalan Allah.
Sebagaimana terdapat dalam hadits,
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ
Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syain qodiir dalam sehari sebanyak 100 kali, maka itu seperti memerdekakan 10 budak.[1]
40.dzikir adalah inti dari bersyukur. Tidaklah bersyukur pada Allah Ta’ala orang yang enggan berdzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Mu’adz,
« يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ « أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ »
Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu).[2] Dalam hadits ini digabungkan antara dzikir dan syukur. Begitu pula Allah Ta’alamenggabungkan antara keduanya dalam firman Allah Ta’ala,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan dzikir dan syukur merupakan jalan untuk meraih bahagia dan keberuntungan.
41. makhluk yang paling mulia adalah yang bertakwa yang lisannya selalu basah dengan dzikir pada Allah. Orang seperti inilah yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ia pun menjadikan dzikir sebagai syi’arnya.
42.hati itu ada yang keras dan meleburnya dengan berdzikir pada Allah. Oleh karena itu, siapa yang ingin hatinya yang keras itu sembuh, maka berdzikirlah pada Allah.
Ada yang berkata kepada Al Hasan, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan padamu akan kerasnya hatiku.” Al Hasan berkata, “Lembutkanlah dengan dzikir pada Allah.”
Karena hati  ketika semakin lalai, maka semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berdzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati tersebut sebagaimana timah itu meleleh dengan api. Maka kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan dzikir pada Allah ‘azza wa jalla.
43.dzikir adalah obat hati sedangkan lalai dari dzikir adalah penyakit hati. Obat hati yang sakit adalah dengan berdzikir pada Allah.
Mak-huul, seorang tabi’in, berkata, “Dzikir kepada Allah adalah obat (bagi hati). Sedangkan sibuk membicarakan (‘aib) manusia, itu adalah penyakit.”
44.tidak ada sesuatu yang membuat seseorang mudah meraih nikmat Allah dan selamat dari murka-Nya selain dzikir pada Allah. Jadi dzikir adalah sebab datangnya dan tertolaknya murka Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Dzikir adalah inti syukur sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sedangkan syukur akan mendatangkan nikmat dan semakin bersyukur akan membuat nikmat semakin bertambah.
45.dzikir menyebabkan datangnya shalawat Allah dan malaikatnya bagi orang yang berdzikir. Dan siapa saja yang mendapat shalawat (pujian) Allah dan malaikat, sungguh ia telah mendapatkan keuntungan yang besar. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab: 41-43)
46.dzikir kepada Allah adalah pertolongan besar agar seseorang mudah melakukan ketaatan. Karena Allah-lah yang menjadikan hamba mencintai amalan taat tersebut, Dia-lah yang memudahkannya dan menjadikan terasa nikmat melakukannya. Begitu pula Allah yang menjadikan amalan tersebut sebagai penyejuk mata, terasa nikmat dan ada rasa gembira. Orang yang rajin berdzikir tidak akan mendapati kesulitan dan rasa berat ketika melakukan amalan taat tersebut, berbeda halnya dengan orang yang lalai dari dzikir. Demikianlah banyak bukti yang menjadi saksi akan hal ini.
47.dzikir pada Allah akan menjadikan kesulitan itu menjadi mudah, suatu yang terasa jadi beban berat akan menjadi ringan, kesulitan pun akan mendapatkan jalan keluar. Dzikir pada Allah benar-benar mendatangkan kelapangan setelah sebelumnya tertimpa kesulitan.
48.dzikir pada Allah akan menghilangkan rasa takut yang ada pada jiwa dan ketenangan akan selalu diraih. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan selalu merasa takut dan tidak pernah merasakan rasa aman.
49.dzikir akan memberikan seseorang kekuatan sampai-sampai ia bisa melakukan hal yang menakjubkan. Itulah karena disertai dengan dzikir. Contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang sangat menakjubkan dalam perkataan, tulisannya, dan kekuatannya. Tulisan Ibnu Taimiyah yang ia susun sehari sama halnya dengan seseorang yang menulis dengan menyalin tulisan selama seminggu atau lebih. Begitu pula di medan peperangan, beliau terkenal sangat kuat. Inilah suatu hal yang menakjubkan dari orang yang rajin berdzikir.
50.orang yang senantiasa berdzikir ketika berada di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala,
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5)
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az Zalzalah: 1-5)
51. jika seseorang menyibukkan diri dengan dzikir, maka ia akan terlalaikan dari perkataan yang batil seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), perkataan sia-sia, memuji-muji manusia, dan mencela manusia. Karena lisan sama sekali tidak bisa diam. Lisan boleh jadi adalah lisan yang rajin berdzikir dan boleh jadi adalah lisan yang lalai. Kondisi lisan adalah salah satu di antara dua kondisi tadi. Ingatlah bahwa jiwa jika tidak tersibukkan dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.[3]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.


[1] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691
[2] HR. Abu Daud no. 1522, An Nasai no. 1303, dan Ahmad 5/244. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
[3] Disarikan dari Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: ‘Abdurrahman bin Hasan bin Qoid, terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, 94-198.
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2011/12/08/16718-51-keutamaan-dan-manfaat-dzikir-2.html#sthash.YGLB32W9.dpuf

Menyingkap Misteri Lauh al-Mahfudz





Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diakses oleh para malaikat utama atau hamba Tuhan lainnya yang dianggap layak.

Lauh al-Mahfudz belum banyak dibahas orang. Kitab-kitab tafsir pun tidak menguraikan panjang lebar apa itu Lauh al-Mahfudz.

Dalam literatur yang ada Lauh al-Mahfudz biasa diartikan dengan sebuah kitab atau peranti keras raksasa yang menyimpan seluruh data atau cetak biru terhadap segala peristiwa yang terjadi dari zaman azali sampai kiamat.

Dikatakan dalam hadis bahwa tidak jatuh sehelai daun melainkan sudah tercatat di dalam kitab itu. Lauh al-Mahfudz (QS al-Buruj/85: 22) sering disinonimkan dengan Umm al-Kitab (QS ar-Ra'd [13]:39), Kitab Maknun (QS al-Waaqi'ah [56]:77), dan Kitab al-Mubin (QS al-An'aam [6]:59).

Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diakses oleh para malaikat utama atau hamba Tuhan lainnya yang dianggap layak. Lauh al-Mahfudz dianggap gudang rahasia, karena itu kalangan jin dari golongan setan berusaha mencuri informasi itu untuk berbagai kepentingan memainkan akidah manusia.

Para malaikat penjaga Lauh al-Mahfudz sangat disiplin berjaga di sekitarnya. Jika ada setan yang berusaha mencuri berita, maka malaikat  penjaga Lauh Mahfuzh akan melemparkan bintang ke arahnya, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang-(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syetan yang terkutuk, kecuali syetan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS al- Hijr [15]:16-18).

Ibnu Arabi menghubungkan antara Lauh Mahfuz dan perkawinan makrokosmos. Seperti yang sering dikatakannya, semua makhluk (al-khalq) diciptakan Tuhan (al-Haq) idealnya berpasang-pasangan, sebagaimana disebutkan, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”. (QS adz-Dzariyat [51]:49).

Ia mencontohkan, pasangan makrokosmos langit (as-sama') dan bumi (al-ardh), malam (al-lail) dan siang (an-nahar), surga (al-jannah) dan neraka (an-nar), Adam dan Hawa, akal (al-aql) dan jiwa (an-nafs), dan pena /(al-qalam) dan buku/papan tulis (al-lauh).

Pasangan-pasangan ini menunjukkan adanya interaksi secara fungsional satu sama lain. Ia mencontohkan fungsi interaktif tersebut dengan yang dan yin dalam tradisi Taoisme. Pasangan-pasangan tersebut satu yang bersifat aktif (yang) dan yang lainnya bersifat reseptif (yin).
Perkawinan antara pena dan lembaran (al-lauh) dianggap perkawinan supraindrawi. Jejak tinta yang masuk di dalam lembaran dianalogikan dengan sperma yang dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam rahim perempuan.

Makna-makna yang tersimpan dalam bentuk huruf-huruf langit yang terwujud dalam tulisan itu merupakan ruh-ruh dari anak-anak yang tersimpan di dalam rahim-rahim mereka. Perkawinan antara pena dan lembaran melahirkan Lauh al-Mahfudz. Inilah yang diabadikan di dalam Alquran, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (QS al-Qamar [18]:1).

Dalam satu riwayat Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip dalam kitab Tafsir ar-Razi: “Yang paling pertama diciptakan Allah ialah pena (al-qalam). Allah berfirman kepadanya: “Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat”.

Ibnu Abbas juga menukilkan bahwa pena itu terbuat dari cahaya yang panjangnya sama dengan jarak antara bumi dan langit. (Tafsir al-Razi, Jilid X, h. 598-599).

Sedangkan lembarannya tercipta dari mutiara putih, permukaannya berwarna zamrud hijau, tulisannya berupa cahaya. Dia memandangnya 360 pandangan. Dia memberi kehidupan dan mencabut nyawa, menciptakan dan memberi makan, meninggikan dan merendahkan, dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. (Bihar al-Anwar, jilid 54, hlm 361-362).

Dalam kitab Bihar al-Anwar karya Muhammad Baqir al-Majlisi, arti huruf nun bermacam-macam. Ada yang menafsirkannya sebagai bak tinta (dawat), tinta (midad), dan ikan (hut), yakni ikan yang pernah menolong Nabi Yunus ketika dilempar ke laut.

Sebagian lagi menafsirkan sungai di surga. Yang lainnya menafsirkan nun adalah malaikat yang menyampaikan kepada pena, yang juga malaikat.

Pena yang menyampaikan kepada lembaran (al-lauh) tidak lain juga adalah malaikat. Lembaran itu kemudian berkomunikasi dengan malaikat-malaikat utama seperti Izrafil, Izrail, Mikail, Jibril, dan malaikat terakhir ini menyampaikan kepada para Nabi. (Bihar al-Anwar, jilid 54, h. 368-369).

Lauh Mahfudz ini kemudian dikenal juga dengan nama jiwa universal adalah makhluk bersifat rohani yang lahir dari akal pertama (al-’Aql al-Awwal)

Ibnu Arabi mengatakan, “Akal pertama (al-’aql al-awwal), yaitu benda pertama yang diciptakan ialah pena tertinggi (al- Qalam al-A’la). Tidak ada cip taan sementara yang me nyertainya. Ia merupakan lokus yang menerima pengaruh ka rena apa yang disebabkan Tu han untuk terjadi di dalamnya, yaitu munculnya lembaran yang terpelihara (al-lauh al-Mahfudz) darinya.”

“Dengan cara yang sama, Hawa muncul dari Adam dalam dunia benda-benda jasmani (al- ’alam al-ajram). “Lembaran ini menjadi suatu objek dan lokus un tuk apa yang dituliskan oleh pena Ilahi tertinggi di dalamnya. … Lauh Mahfudz adalah benda eksisten pertama yang muncul dari suatu benda ciptaan.” (Futuhat, Jilid 1, 139).
Lauh Mahfudz ini kemudian dikenal juga dengan nama jiwa universal adalah makhluk bersifat rohani yang lahir dari akal pertama (al-’Aql al-Awwal).

“Ia bagaikan cahaya. Meskipun bersifat cahaya, tetap juga terkontaminasi dengan sifat-sifat kegelapan karena mewa kili suatu gerakan ke arah alam raya. Ia seperti barzah yang menyatukan dua sifat alam, yakni alam nyata dan alam gaib.”

“Apa yang bertindak (al-faidh) atasnya adalah cahaya sementara yang menerima tindakan (al-mustafi dh) atasnya ada lah kegelapan, yakni alam raya. Akal pertama lahir di dunia penulisan dan pencatatan.”

“Ia lahir dari ketiadaan, setelah itu, (tanpa kesetelahan kontemporer lagi), jiwa muncul dengan cara-cara seperti kemunculan sesuatu yang akan terjadi di dunia ini hingga hari kebangkitan. Ia berada di bawah pena akal dalam cahaya dan tingkat kecemerlangan.”

“Ia seperti zamrud hijau karena munculnya substansi debu yang berada di dalam potensi jiwa tadi. Dengan demikian, substansi debu dari jiwa adalah substansi gelap di mana tidak ada cahaya.” (Futuhat, Jilid II, 66-67).

Menanggapi bentuk jamak dari lembaran (wama yasthurun), menurut Al-Razi, tidak menunjukkan jamak tetapi untuk keagungan (li al-ta’zhim). Tapi, menurut Kasyani, itu menunjukkan jamak, yakni lembaran-lembaran yang banyak, sebagaimana relativitas dan relativitas kosmos.

Ia menghubungkan pendapatnya dengan ayat, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat umulkitab (lauh Mahfudz).” (QS al-Ra’d [13]:39).

Ayat ini, menurut Kasyani, menunjukkan bahwa dalam hubungan strukturnya dengan Tuhan, pena itu sendiri adalah sebuah “lembaran“ yang menerima limpahan. Dengan demikian, pena yang dianalogikan dengan jiwa di atas mana pena itu menulis. Dengan demikian, apa yang disebut pena dalam dalam satu sudut pandang mungkin lembaran dalam sudut pandang lain.

Di sinilah relevansi ayat, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dari lembaran tertentu dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki) dalam lembaran lain. Namun, di sisi Allah SWT terdapat Umm al-Kitab (lauh Mahfudz) yang tidak tersentuh perubahan.”

Sehubungan dengan ini, al-Majlisi mengutip pendapat Ibnu Abbas bahwa ada dua macam lem baran, yaitu Lembaran yang ter pelihara (allauh al-mahfudh), ti dak mengalami perubahan, dan lembaran yang mengalami perubahan (al-lauh almahwu).

Lembaran yang terakhir inilah yang berhubungan dengan QS al-Ra’d [13]:39. Apa yang sering diketahui para malaikat dan sesekali dicuri oleh jin ialah informasi dari kitab al-lauh al-Mahw, bukannya dari Umm al-Kitab.

Semula, lembaran itu permanen, tetapi bisa berubah sebagaimana upaya gigih manusia yang berusaha mengubah nasibnya. Usaha perubahan nasib ini juga diisyaratkan dalam beberapa ha dis, antara lain, hadis tentang doa panjang umur.

Al-Kasyani mengemukakan, ada empat lembaran (al-alwah) sebagaimana dikutip Murata, yaitu lembaran yang mencatat tentang ketentuan permanen (qadha), ini juga disebut nanti dengan akal pertama (al-’aql al-awwal).

Kedua, lembaran takaran atau ukuran (qadr), yaitu jiwa rasional universal, di mana benda-benda universal dari lembaran pertama dibedakan dan diverifi kasi. Inilah nanti disebut lauh al-Mahfudz.

Ketiga, Lembaran jiwa-jiwa langit yang merupakan suatu lembaran tersendiri di mana dituliskan segala sesuatu di dunia ini lengkap dengan bentuk, ukuran, dan kondisinya. Lembaran ini nantinya disebut lembaran “langit dunia”. Keempat, lembaran materi yang menerima bentuk-bentuk dari dunia nyata secara visual.

Seorang wali junior tiba-tiba menyampaikan respeknya kepada salah seorang pemuda di desanya. Dalam hati wali muda ini berkata, alangkah sayangnya pemuda ini harus mati muda karena sebentar lagi, saat malam tiba, ia akan menemui ajalnya dengan jatuhnya sebuah meteor raksasa yang diameternya jauh lebih besar dibanding rumah kediaman pemuda itu.

Diperkirakan, meteor itu jatuh persis menimpa rumah pemuda tersebut. Keesokan harinya, alangkah kagetnya dia karena masih bisa menjumpai sahabatnya segar bugar.

Wali junior ini penasaran dan akan mencoba menanyakan kepada pemuda desa tadi mengapa bisa lolos dari peristiwa alam tadi. Belum sempat pemuda tadi ditanya, dengan lugunya si pemuda desa menegur sahabat barunya dengan salam.

Ia langsung menjelaskan pengalamannya semalam dengan mengatakan, “Alhamdulillah yang engkau lihat aku juga melihatnya, hanya kami tidak pernah takut soal ini karena Allah SWT menunjukkan rahasianya, bahwa batu meteor  raksasa itu memang jatuh tetapi tak seorang pun meninggal, karena begitu batu meteor itu memasuki orbit bumi langsung pecah berantakan dan yang sampai di rumah hanya dalam bentuk serbuk dan tepung.”
Jatuhnya batu meteor raksasa ke orbit bumi merupakan peristiwa ketentuan-Nya (qadha). Sedangkan, bagaimana detail dan berapa banyak debu dan puing-puing pecahan batu meteor merupakan qadar-Nya.

Jatuhnya beberapa gelas dari meja ke lantai pasti diketahui banyak orang akan mengakibatkan pecahnya gelas-gelas itu, tapi tak seorang pun yang bisa menghitung berapa pecahan masing-masing gelas itu.

Peristiwa jatuhnya beberapa gelas ke lantai dan mengakibatkan pecahnya gelas-gelas itu adalah qadha. Tetapi, berapa jumlah pecahan masing-masing gelas merupakan wilayah qadr. Dengan demikian, wilayah qadr jauh lebih rumit dari wilayah qadha. Peristiwa qadha dan qadar kedua-duanya tercatat di dalam Lauh al-Mahfuzh.

Dalam artikel terdahulu diungkapkan berbagai pendapat ulama tasawuf tentang Lauh al-Mahfuzh. Ada yang mengatakan Lauh al-Mahfuzh tidak tunggal, melainkan ada beberapa dan bertingkat-tingkat.

Al-Majlisi mendukung  pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan ada dua macam lembaran (lauhain), yaitu lembaran yang terpelihara (Lauh al-Mahfuzh) yang paling agung dan tidak tersentuh dengan perubahan dan lembaran yang mengalami perubahan (Lauh al-Mahwu) yang masing memungkinkan adanya perubahan.

Sedangkan, al-Kasyani mengatakan ada empat lembaran (al-alwah), sebagaimana dikutip Murata, yaitu lembaran yang mencatat tentang ketentuan permanen (qadha), lembaran takaran atau ukuran (qadr), lembaran “langit dunia”, dan lembaran materi yang menerima bentuk-bentuk dari dunia nyata secara visual.

Alquran sendiri menggunakan beberapa bentuk jamak (alwah), seperti: "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa dalam lembaran-lembaran (al-awah) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." (QS. al-A'raaf [7]:145).

Ar-Razi berpendapat Lauh al-Mahfuzh hanya satu, tetapi lembaran-lembaran lain yang derajatnya di bawah Lauh al-Mahfuzh masih banyak. Kata “wama yasthurun” dalam QS al-Qalam (68):1 yang menggunakan bentuk jamak bukan berarti di sana banyak Lauh Mahfuzh, tetapi hanya untuk keagungan (li al-ta'dhim).
Adanya perubahan di dalam Lauh al-Mahfuzh itu merupakan hak prerogatif Tuhan, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umm al-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS ar-Ra'd [13]:39).

Kalimat “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki” dari lembaran tertentu dan “menetapkan (apa yang Dia kehendaki)” dalam lembaran lain yang bukan Lauh al-Mahfuzh. Di sisi Allah SWT terdapat Umm al-Kitab yang tidak lain adalah Lauh Mahfuzh yang sesungguhnya dan  tidak tersentuh perubahan.

Soal adanya doa yang diajarkan Nabi, “Ya Allah panjangkanlah umur kami (Allahumma thawwil 'umurana)," sesungguhnya tidak bertentangan dengan nasib dan takdir ketetapan Allah atau qadha dan qadar.

Ulama kalangan Mazhab Asy'ari mengomentari pendapat ini dengan mengatakan, "Apa yang tidak mungkin berubah jika Sang Pencipta menghendakinya?"

Takdir memang tidak bisa berubah tanpa takdir baru yang datangnya dari Allah SWT. Dengan demikian, catatan di dalam Lauh al-Mahfuzh pun bisa berubah.

Sedangkan, jalan pikiran kaum mu'tazilah meyakini catatan di dalam Lauh al-Mahfuzh simetris dengan perbuatan manusia, artinya otoritas yang Allah berikan ke dalam diri manusia memungkinkan manusia mengintervensi catatan-catatan Lauh al-Mahfuzh.

Bahkan, ada di kalangan mereka berpendapat bahwa manusia itu sendiri yang mengisi catatan Lauh al-Mahfuzh.

Kontroversi catatan di dalam Lauh al-Mahfuzh tidak banyak dibahas, baik oleh kalangan filsuf, mutakallimin (ahli teologi), maupun para sufi. Mungkin ini karena wilayah Lauh al-Mahfuzh termasuk di dalam alam gaib mutlak. Wallahu a’lam.


Prof Dr Nasaruddin Umar