Minggu, 30 Maret 2014

Bekal nan Kekal




Lika liku hidup duniawi selalu diwarnai dengan segala hasrat, tak terkecuali keinginan besar dalam mengumpulkan materi. Sebagian dari kita mungkin menilai bahwa ukuran nilai kebahagiaan hanya timbul dari melimpah-ruahnya materi yang kita miliki.

Sebagian lain menilai bahwa kebahagiaan hakiki sejatinya ada di dalam hati, yakni ‘ketenangan’ dalam berbagi. Rasa saling berbagi inilah yang ditanamkan oleh Rasulullah pada para sahabatnya sehingga mereka diberi kelapangan hati untuk ikhlas berbagi.

Allah SWT berfirman, “Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, sungguh, Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran: 92)

Dalam firman-Nya yang lain, “Apa saja harta yang baik yang kalian infakkan, niscaya kalian akan diberi pahalanya dengan cukup dan kalian sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al-Baqarah: 272)

Dua surah di atas mengisyaratkan sebuah anjuran untuk berbagi apa saja yang kita miliki, bahkan sesuatu yang kita cintai sekalipun. Memberikan sesuatu yang teramat kita sukai memang bukanlah perkara yang mudah. Namun, ada pahala yang besar dari-Nya sebagai bukti keimanan seorang hamba pada-Nya.

Adalah kisah Umar bin Khattab RA, seperti hadis yang diriwayatkan oleh putranya, Ibnu Umar. “Sesungguhnya Umar RA pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Lalu beliau mendatangi Nabi SAW dan meminta nasihat mengenai tanah itu, seraya berkata, “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, yang saya tidak pernah mendapatkan harta lebih baik daripada tanah itu.”

Nabi SAW pun bersabda, “Jika Engkau berkenan, tahanlah batang pohonnya, dan bersedekahlah dengan buahnya.”

Ibnu Umar berkata, ‘Maka bersedekahlah Umar dengan buahnya dan batang pohon itu tidak dijual, dihadiahkan, diwariskan, dan Umar bersedekah dengannya kepada orang-orang fakir, para kerabat, para budak, orang-orang yang berjuang di jalan Allah, Ibnu Sabil, dan para tamu. Pengurusnya boleh memakan dari hasilnya dengan cara yang makruf dan memberikannya kepada temannya tanpa meminta harganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas, seperti uraian yang ditulis oleh Ibnu Hajar Atsqalani, bahwa Umar bin Khattablah sahabat pertama kali yang mempraktikkan shadaqah jariyah, atau lebih kita kenal dengan wakaf.

Ketika menjelaskan hadis di atas, Imam Ibnu Hajar menuturkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bahwasannya Ibnu Umar berkata, “Wakaf pertama kali di dalam Islam adalah sedekahnya (wakafnya) Umar.”

Secara tersirat, Umar terasa berat mengikhlaskan sesuatu yang ia katakan bahwa ‘tidak pernah aku dapatkan harta yang lebih baik kecuali tanah itu’, menyadarkan kita betapa pengorbanan seorang hamba dalam meraih keimanan dan kebajikan yang sempurna, menepis rasa ego dalam hati untuk ikhlas berbagi.

Inilah esensi dari roda perekonomian Islam; tidak membiarkan harta si kaya hanya beredar di orang kaya saja, tapi anjuran penuh untuk bersedia peduli dan mau berbagi.

Melalui zakat (yang sifatnya wajib dikeluarkan), kemudian wakaf yang sifatnya sunnah tapi pahala yang terus mengalir selama harta tersebut digunakan untuk kebaikan, menyadarkan bahwa ajaran Islam sungguh menentramkan. Keduanya, zakat maupun wakaf adalah warisan dan unsur-unsur pembangun peradaban yang siapapun mempraktikkannya akan mendapat ganjaran.

Islam tidak memperkenankan adanya seorang hamba yang hidup serba mewah berkecukupan, namun tidak peduli dengan saudara-saudara yang kekurangan. Dalam prinsip bekal nan kekal inilah, Islam menghendaki adanya tingkat kesejaheraan sosial baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan negara. Semoga! Wallahu a’lam.


Oleh: Ina S Febriany
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/03/29/n377we-bekal-nan-kekal

Kunci Bahagia





   
Semua manusia pasti menginginkan hidupnya bahagia. Hanya saja tidak semua orang memahami hakekat hidup bahagia. Ada yang memaknainya sekedar hidup senang: sandang, pangan, dan papan berkecukupan.

Ada pula yang mengartikannya hidup damai: bersosial, bekerja sama, tidak menyakiti dan membuat konflik dalam masyarakat. Islam memberikan resep bahagia bukan hanya fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, tapi juga terbebas dari siksa neraka.
  
Makna bahagia yang terangkum dalam doa sapu jagat itu menunjukkan bahagia itu berdimensi fisik-material dan mental-spiritual-sosial, serta berjangka pendek dan jangka panjang.

Hakekat hidup bahagia, menurut Syaikh Habib Al-Kazhimi, adalah memperoleh ridha Allah SWT dengan memahami dan mewujudkan tujuan penciptaan dan eksistensi manusia di dunia ini, yaitu beribadah kepada-Nya dalam arti luas.
    
Indikator sekaligus kiat-kiat meraih hidup bahagia dapat diukur dan ditempuh dengan lima hal. Pertama, berusaha untuk selalu hidup sesuai tuntunan syariat Islam, tidak menyalahinya baik dalam hidup sebagai individu, bermasyarakat, maupun bernegara. 

Sistem ajaran Islam harus diyakini sebagai way of life yang dapat membahagiakan hidupnya. Tidak ada celah dan ruang dalam diri Muslim untuk meragukan syariat Islam.

"Siapa mencari agama (syariat) selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu), dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (QS Ali Imran [3]: 85).
   
Kedua,  ta'allum (belajar), tadabbur (bermenung), dan tafakkur (berpikir). Manusia dikaruniai akal, antara lain untuk belajar agar hidupnya bermakna, bermenung agar dapat selalu berintrospeksi diri, dan berpikir agar dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Hidup bahagia adalah hidup yang dijalani dengan senantiasa belajar, mengembangkan ilmu, memahami ayat-ayat Allah di dalam Alquran maupun dalam semesta raya.

Dengan semua itu, Muslim tidak hanya meneladani sifat Allah, Al-'Alim (Mahaberilmu), tapi juga memacu dirinya untuk meraih prestasi dan kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.
    
Ketiga, cita-cita yang luhur dan mulia. Hidup bahagia harus dilandasi cita-cita yang tinggi, luhur dan mulia, sehingga terpacu untuk meraihnya dengan mengerahkan segala tenaga dan pemikiran.

Muslim yang baik hidupnya senantiasa dijalani dengan penuh perjuangan meraih cita-cita mulia dan visi yang jelas, tidak akan menjalani hidup ini dengan kemalasan dan menggantungkan diri kepada orang lain.

"Janganlah engkau menjadi beban bagi orang lain." (HR At-Thabarani). Sebuah syair Arab menyatakan, "Siapa yang tidak suka mendaki gunung, maka selamanya ia akan berada dalam kubang galian."
   
Keempat, pengendalian syahwat dan penyucian diri dari sifat-sifat tercela. Dalam diri manusia terdapat potensi negatif seperti syahwat menjadi kaya, syahwat menjabat, syahwat menguasai, dan sebagainya.

Dalam diri manusia juga terdapat potensi untuk iri hati, dengki, riya', ujub, rakus, dan sebagainya. Orang yang bahagia adalah orang terbebas dari syahwat dan sifat-sifat tercela, sebab jika terjajah oleh sifat-sifat buruk ini, hidupnya selalu menderita, tidak pernah memperoleh kedamaian hati.
   
Kelima, berada dalam lingkungan yang baik. "Ada empat yang menyebabkan manusia hidup bahagia: istri/suami yang shalih, anak-anak yang berbakti, lingkungan pergaulan yang baik, dan rezki yang diperoleh di negeri sendiri." (HR Ad-Dailami).

Pangkal kebahagiaan seseorang adalah lingkungan rumah tangga yang baik: suami-istri taat kepada Allah, rezki yang dimakan halal dan bergizi, anak-anak yang shalih, dan lingkungan sosial yang bermoral baik.
   
Oleh karena itu, kunci meraih hidup bahagia harus dimulai dari kesucian hati masing-masing individu dalam kehidupan keluarga. Keluarga bahagia pangkal terwujudnya masyarakat dan bangsa yang bahagia. Kekayaan materi tidak menjadi jaminan hidup bahagia.

Kunci yang sangat menentukan kebahagiaan hidup adalah kekayaan dan kemurahan hati. Ikhlas, taat, cinta kepada Allah dan Rasul, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain itu selalu berdzikir kepada-Nya di waktu senang maupun di saat dukacita, menurut Ali bin Abi Thalib, merupakan kekayaan hati yang tidak bisa digantikan oleh kekayaan materi. Kekayaan hati inilah yang membuat hidup ini bahagia.
   
Jadi, hati ini harus senantiasa dididik untuk "merdeka" dari penyakit hati, dirawat dengan nutrisi hati yang sehat, dan dibiasakan mengingat Allah (dzikrullah) dan merenungi kebesaran-Nya di alam raya ini, agar dapat memakanai hidup bahagia di dunia dan akhirat. Semoga!


Oleh: Muhbib Abdul Wahab

Kamis, 27 Maret 2014