Selasa, 13 Mei 2014

Memiliki Kekayaan





Kekayaan bagi sebagian umat Islam dipandang sebagai sesuatu yang kurang penting bahkan buruk. Hal ini wajar jika yang dilihat dalam konteks tersebut adalah sosok Qarun dan Tsa’labah. Mereka memang kufur dan sombong serta menolak menaati perintah Allah Ta’ala.

Tetapi, kalau kita mengacu pada dua sahabat Nabi Muhammad, yakni Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, kekayaan menjadi penting bahkan sangat dibutuhkan. Dua sahabat Nabi itu tercatat paling banyak membantu memenuhi kebutuhan umat Islam di Madinah.

Hanya saja kekayaan yang perlu diraih umat Islam harus ditempuh dengan cara yang benar-benar halal. Selain itu, diniatkan untuk ibadah dan jihad dengan memajukan harkat dan martabat umat. Bukan memperkaya diri, lalu berbagga-banggaan dan bermegah-megahan.

Sebab jika diperhatikan, perintah jihad di jalan Allah dimulai dengan harta baru jiwa. “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS al-Mumtahanah [61]: 10-11).

Artinya, dengan harta atau dengan kekayaan, umat Islam bisa berjihad dan karena itu  mendapat perniagaan yang dapat menyelamatkan dirinya dari siksa api neraka. Jika umat Islam tidak memiliki harta maka jihad harta tidak bisa dilakukan.

Dengan demikian, harta atau kekayaan itu sangat penting untuk kelangsungan ibadah, bahkan jihad umat Islam itu sendiri. Seperti yang dicontohkan Utsman bin Affan yang menyedekahkan kekayaannya dalam jumlah cukup besar kepada umat Islam.

Demikian juga dengan Abdurrahman bin Auf yang juga seolah berlomba menyedekahkan harta yang dimilikinya.

Bahkan, istri Nabi Muhammad, Sayyidah Khadijah, merelakan seluruh harta kekayaannya digunakan untuk perjuangan dakwah Islam.

Karena itu, umat Islam harus memiliki etos kerja yang bagus dalam mencari karunia-Nya berupa harta kekayaan. Apalagi, dua dari lima rukun Islam, yakni zakat dan haji, hanya bisa dilakukan kalau umat Islam memiliki harta.

Begitu pula dengan bidang keilmuan. Orang bisa sekolah atau belajar mengelola harta. Lebih-lebih dalam gerakan dakwah, mutlak harta sangat diperlukan. Dengan demikian, umat Islam jangan sampai salah paham terhadap konsep kekayaan.

Kaya itu baik selama memang niat kita ibadah dan jihad di jalan-Nya. Bahkan sekiranya umat Islam menguasai peredaran uang dengan niat ibadah dan jihad, tentu bangsa dan negara ini akan menjadi lebih  baik. Seperti Abdurrahman bin Auf yang berhasil menguasai pasar di Madinah.

Hanya saja tetap harus dipahami, yang terbaik di sisi Allah bukanlah orang kaya atau miskin melainkan yang bertakwa (QS al-Hujuraat [49]: 13), kemudian mereka yang terbaik amalannya (QS al-Mulk [67]: 2).

Dengan demikian, milikilah harta atas dasar takwa dan berorientasi pada terwujudnya //ahsanu amala// atau amalan yang baik di dunia yang fana ini.



Oleh: Imam Nawawi




Bayi Kembar Lahir Berpegangan Tangan






Sepasang bayi kembar perempuan Amerika Serikat yang lahir berpegangan tangan sudah bisa bernapas sendiri setelah dipindahkan dari ventilator, kata ibu mereka.

Jillian dan Jenna Thistlethwaite berbagi kantung ketuban dan plasenta yang sama, suatu kondisi langka yang dikenal sebagai kelahiran monoamniotic.

"Mereka sudah bersahabat," kata sang ibu, Sarah Thistlethwaite.

Mereka lahir pada Jumat (9/5/2014) di Negara Bagian Ohio, AS, dan mereka bergenggaman tangan ketika dokter mengangkat mereka untuk diperlihatkan kepada orangtuanya setelah proses kelahiran.

Proses kelahiran monoamniotic ini hanya terjadi pada satu dari 10.000 kehamilan.

Sarah Thistlethwaite (32) dipantau selama berminggu-minggu di Akron General Medical Center di Akron karena bayi kembar monoamniotic ini berisiko terjerat tali pusar masing-masing.

Dia mengatakan kepada surat kabar Akron Beacon Journal bahwa memiliki anak-anak itu merupakan "hadiah terbaik pada Hari Ibu".

"Saya tidak percaya mereka berpegangan tangan," kata Sarah. "Itu luar biasa."




http://internasional.kompas.com/read/2014/05/13/1458053/Bayi.Kembar.AS.Lahir.Berpegangan.Tangan?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp

Jumat, 09 Mei 2014

Bersahabat karena Allah





Saat masih di Makkah, Rasulullah SAW pernah kedatangan seorang tamu yang buta, Ibnu Ummi Maktum. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.” Saat itu, Rasulullah SAW sedang bercengkerama dengan para pembesar kaum kafir Quraisy.

Karena menganggap mereka lebih penting dalam mengembangkan dakwah di kemudian hari, Rasul pun berpaling dari sahabatnya yang buta ini.

Rasulullah SAW bertanya kepada para pembesar Qurasiy, “Apakah menurutmu apa yang aku katakan (tentang dakwah tauhid) ini  baik?

Salah seorang lelaki pembesar musyrikin itu menjawab, “Tidak”. Atas kejadian ini turunlah surat Abasa sebagai teguran atas sikap Rasulullah SAW yang memalingkan dan bermuka masam terhadap sahabatnya itu. (HR At-Tirmidzi dari Aisyah ra nomor 2651).

Di kemudian hari, ketika Rasulullah SAW telah tinggal di Madinah, beliau memiliki kebiasaan singgah di sebuah masjid yang ia lewati.

Di sana, ada seorang perempuan hitam yang, menurut Imam Baihaqi dalam Subulussalam, bernama Ummu Mihjan. Ia biasa menyapu masjid.

Setiap datang ke masjid itu, Rasulullah SAW menyapanya. Pada suatu hari,  Rasulullah SAW berkunjung kembali dan menanyakan tentang perempuan itu, “Di mana dia dan bagaimana kabarnya?” Para sahabat lalu  mengabarkan perempuan itu telah meninggal dunia.

Ada kesan para sahabat menganggap kecil urusan itu sehingga merasa tak perlu mengabarkannya kepada Nabi. Nabi SAW pun berujar, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku? Tunjukkan di mana kuburannnya!

Lalu, Nabi SAW mendatangi kuburannya dan shalat jenazah di atasnya. (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).

Dua riwayat ini hendak menggambarkan betapa Islam memandang manusia itu sama derajatnya di sisi Allah. Yang berbeda hanyalah takwanya.

Karena tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui kedalaman takwa, seseorang bisa mempertimbangkannya berdasarkan keimanan.

Inilah yang mendasari segala aktivitas sosial seorang Muslim, termasuk di dalamnya pertemanan atau persahabatan.

Pertemanan dalam Islam tak bergantung jabatan, harta kekayaan, dan kesempurnaan jasmaniah. Rasul ditegur Allah karena bermuka masam terhadap orang buta tapi beriman. Di sisi lain, Rasul menganggap penting perempuan hitam yang istiqamah membersihkan masjid .

Hal itu berbeda dengan realitas sosial yang terjadi belakangan ini. Sebelumnya, begitu banyak orang melakukan pendekatan, menjalin persahabatan, berbagi uang, sembako, dan sebagainya untuk mendapatkan suara.

Sebentar lagi, kita menyaksikan begitu banyak orang yang mendekati dan membangun keakraban dengan mereka yang mendapat ujian jabatan kekuasaan sebagai anggota dewan. Ibarat gula dan semut, di mana ada yang berasa manis di sana ada semut yang mengerubutinya.

Rupanya, jalinan pertemanan di era kekinian seakan hanya didasarkan pada kepentingan sesaat. Jika tidak perlu, tidak membutuhkan, dan tidak penting secara duniawi, persahabatan itu tidak terjalin.

Dalam konteks berpolitik, model koalisi yang dilakukan partai-partai politik pun tidak jauh dari kepentingan untuk berebut dan berbagi kekuasaan. Ketika sedang berkompetisi mereka saling mencela dan menjatuhkan.

Namun, saat membutuhkan dan berkepentingan mereka saling mendekati dan bernegosiasi. Betapa indahnya jika koalisi itu didasarkan atas iman karena Allah. Ini berarti membangun hubungan politik antarpartai atas dasar cita-cita kemanusiaan dan keadilan.

Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah SAW menyatakan,’’Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah SWT akan bertanya, ‘Wahai anak Adam, Aku meminta makan dan minum kepadamu, tetapi mengapa engkau tidak mau memberi-Ku makan dan minum?”

Si anak Adam menjawab, “Bagaimana mungkin aku memberi Engkau makan sedangkan Engkau Tuhan semesta alam.

Allah SWT berfirman, “Bukankah engkau mengetahui hamba-Ku, si fulan meminta makan dan minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya makan dan minum. Seandainya engkau memberinya makan dan minum, tentu engkan akan dapatkan hal itu di sisi-Ku.” (HR Muslim). Wallahu a’lamu.



Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

Istighfar






Diceritakan oleh Imam Al-Quthubi dari Ar-Rabi’ bin Shabih, empat orang pernah datang kepada Hasan Bashri mengadukan masalah yang berbeda-beda.

Orang pertama mengadukan tanahnya yang tandus dan gersang, orang kedua mengadukan rizkinya yang sempit, orang ketiga mengadukan telah lama tidak memiliki anak, dan orang keempat mengadukan tanamannya yang tidak berbuah.

Kepada keempat orang itu, Hasan Bashri hanya berkata singkat, Beristigfarlah! Ibnu Shabih merasa heran. Bertanyalah ia kepada Hasan Bashri, “Wahai Hasan, empat orang mengadukan permasalahan berbeda, kenapa engkau menyuruh semuanya beristigfar?”

Hasan Bashri menjawab, “Apa yang aku katakan kepada mereka bukanlah dariku, tapi dari Allah SWT dalam QS Nuh [71]: 10-12.”

Dalam surah tersebut disebutkan, ’’Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Istighfar, memohon ampunan kepada Allah dengan mengucapkan kalimat astaghrifullaah, adalah amalan agung yang menjadi kebiasaan para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.

Ketika Nabi Ibrahim mengajak ayahnya meninggalkan penyembahan berhala, beliau berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memintakan ampun (beristighfar) bagimu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS Maryam [19]: 47).

Rasulullah SAW juga selalu membiasakan istighfar. Dalam satu majelis, beliau bisa beristighfar 70 sampai 100 kali. “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan taubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR Bukhari).

Selain mendapatkan ampunan Allah, istighfar mempunyai banyak  manfaat. Pertama, orang yang memperbanyak istighfar terutama di waktu pagi sebelum Subuh, mendapatkan sanjungan Allah dan disediakan baginya surga dengan segala kenikmatannya. (QS Ali Imran [3]: 15-17).

Kedua, istighfar adalah pintu untuk membuka kenikmatan-kenikmatan baik yang disediakan oleh Allah. “Dan hendaklah kamu meminta ampun (beristighfar) kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS Hud [11]: 3).

Ketiga, istighfar bisa menghindarkan kita dari bencana. “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristigfar).” (QS Al-Anfal [8]: 33).

Dalam memahami ayat ini, Abu Musa Al-Asy’ari pernah berkata, “Dulu kami mempunyai dua penjaga (dari bencana) di dunia ini. Satunya telah pergi dan tersisa satu lagi. Yang pergi adalah Rasulullah, yang yang masih tersisa adalah istighfar. Jika yang satu ini hilang, maka celakalah kami semua.” Wallau a’lam.


Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq