Rabu, 29 Oktober 2014

Mary Kagum dengan Kebenaran Alquran, Rasulullah, dan Hijab



 Mualaf (ilustrasi)

Mary lahir di Oklahoma, Amerika Serikat. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen yang taat. "Ibu saya selalu menjaga saya dari hal buruk. Keluarga kami setidaknya tiga kali mengunjungi gereja," kata dia seperti dilansir Onislam, Senin (27/10).

Mary mengaku bangga dengan keluarganya yang mempraktikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. "Kami diajarkan tidak mengkonsumsi alkohol, rokok, atau narkoba. Tidak dibolehkan mengumpat apalagi melakukan seks bebas," kenangnya.

Mary sendiri hampir hapal seluruh isi Alkitab. Ia juga aktif mengisi kegiatan gereja, seperti menjadi anggota paduan suara, bermain organ dan lainnya.

Pertemuan Mary dengan Islam terjadi ketika bertemu dengan mahasiswa Muslim. Usia Mary saat itu 49 tahun. Ia pun masih menjadi pelayan gereja yang aktif. Di luar pertemuan itu, Mary memang senang membaca, utamanya terkait masalah Ketuhanan.

Ketertarikan membaca literatur Islam inilah, yang akhirnya membawa Mary menemukan kebenaran Islam. "Sejak kecil saya tidak pernah membaca buku-buku Islam," kata dia.

Lulus SMA, kabar tidak mengenakan datang dari kedua orang tuanya. Mary begitu sedih lantaran kedua orang tuanya bercerai. Untuk menghindari hal negatif karena emosinya yang labil, Mary memilih untuk bekerja dan menikah. Namun, usia pernikahannya tidak lama. Di perceraian keduanya, teman dan kolega Mary mendorongnya untuk mengikuti tes beasiswa di Universitas Tusla.

Ketika membaca sebuah buku di perpustakaan, ia menemukan sosok Muhammad. Lalu, ia mendapati ajaran Nabi Muhammad SAW yang diketahuinya bernama Islam. "Buku itu menulisnya bukan Islam tapi Muhammadisme. Saya tidak tahu memang kalau nama agama yang dibawa Rasulullah itu Islam," kata dia.

Suatu hari, ketika ia berada di kampus, ia bertemu dengan mahasiswa Muslim asal Malaysia. Rasa kagum muncul dalam benak Mary ketika bertemu dengan mereka. "Saya berpikir, agama yang mereka peluk sepertinya begitu indah. Ini bisa dilihat dari cara hidup mereka," ucap dia.

Rasa kagum itu menjadi ketika diantara mahasiswa asal Malaysia itu ada yang mengenakan hijab. Awalnya, kekaguman Mary hanya sebatas gaya berbusana. Mary belum tahu bahwa hijab itu merupakan  cara Allah melindungi Muslimah.

Selama bertahun-tahun, Mary bermasalah dengan sakit di kepalanya. Ketika sakitnya kambuh, ia merasa sedih karena tidak ada seorang pun yang mamu membantunya. Mary selalu berdoa agar penyakitnya hilang. Ia baca Alkitab, tapi tetap saja rasa sakitnya tidak hilang.

Suatu hari, ia bertemu dengan Amina, salah seorang Mahasiswi Muslimah berhijab dari Malaysia. Amina meminta Mary membantunya untuk mengajari menulis bahasa Inggris. Amina lalu mengajak kedua temannya Saif (Yaman), Tariq dan Khalid (Oman), dan Yousif (Uni Emirat Arab).

Saat mengajari mereka menulis bahasa Inggris, lagi-lagi muncul rasa kagum dalam diri Mary. "Mereka memiliki sopan santun. Mereka seperti dekat padahal berbeda negara," ucapnya.

Mary pun bertanya soal agama yang dianut mereka. Lalu salah seorang dari mereka memberikan Mary Alquran terjemahan bahasa Inggris. Ketika Mary hendak membacanya, Saif meminta Mary untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian Mary diminta menyebut nama Allah sebelum membaca Alquran.

"Saat membacanya jujur, saya takut dan gemetar," kata dia.

Mary mengaku terkejut ketika membaca Alquran. Berulang kali, Alquran menyebut kata Yesus (Isa). Dikatakan Alquran, Yesus itu manusia biasa yang dipilih menjadi Nabi. Bukan anak Allah yang sering ia ketahui ketika membaca Alkitab.

"Saya biasa diajarkan Yesus itu anak Allah dan ia datang ke bumi untuk menembus dosa manusia," kenang dia.

Mary yang gundah merasa tidak sabar meminta keterangan anak didiknya yang Muslim. Ketika berada di apartemen, Mary pun memutuskan memeluk Islam. Usai bersyahadat ia lakukan sujud syukur ke arah kiblat, meski sebenarnya Mary tidak tahu dimana Makkah itu berada.

"Saya berdoa. Ya Allah. Kau tahu saya lebih baik dari saya sendiri. Kau tahu dosa saya. Kau tahu saya telah mencari kebenaran sepanjang hidup saya. Kau tahu, saya mempelajari Islam," kenang Mary.

"Saya selalu menyebut nama-Mu selama bertahun-tahun, namun saya baru tahu nama Engkau adalah Allah. Saya mencoba menyembah-Mu namun dengan cara yang salah. Tapi saya tidak ingin masuk neraka karena tidak percaya Yesus seorang Nabi, saya tidak ingin masuk neraka karena tidak menyembah-Mu dengan cara yang benar. Saya ingin masuk surga ketika maut menjemput," doa Mary.

"Tapi saya percaya Islam adalah kebenaran. Engkau, adalah Tuhan yang pantas disembah. Engkau tidak memiliki anak. Engkau utus kekasih-Mu Muhammad SAW untuk membawa saya menyembahmu dengan cara yang benar. Ya Allah, saya takut kepada-Mu. Tapi saya percaya, Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun," tambahnya.

Selesai berdoa, Mary merasa damai. Begitu damai hingga ia tertidur. Saat bangun, mary merasa terkejut. Tidak ada lagi sakit kepala. Ia pun berterima kasih kepada yang Maha Kuasa atas kesembuhan itu.

Sejak itu, Mary mulai menutupi tubuhnya dengan pakaian yang sopan. Ia kenakan hijab. Agar merasa mantap, ia meminta anak didiknya membimbingnya menjadi Muslim dengan cara yang benar. "Lalu saya dengan terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat," kata dia.

Usai mengucapkan syahadat, Mary didatangi banyak mahasiswa Muslim. Mereka bawa makanan, pakaian dan Alquran. "Ya Allah, terima kasih telah membuka hati dan pikiran saya untuk Islam. Terima kasih ya Allah telah mendatangkan saya seseorang yang mengenal Islam dengan baik. Maafkan saya atas kesalahan dimasa lalu. Ya Allah, bantu saya dan umat Islam untuk terus mencintai Engkau, mencintai Rasulullah, mencintai Alquran, dan selalu menyebarkan pesan damai kepada orang lain, amin," kata Mary.




Selasa, 28 Oktober 2014

Cinta, Sensasi dan Substansi




 

SENSASI
Berjuta jiwa dibuat mabuk olehnya
Tiada peduli Tua, Muda, kaya, Miskin, cakep bahkan yang Jelek sekalipun
Siapa saja tiada bisa mengelak, profesi apapun dia tak pernah lepas dari pelukan cinta
Tukang Insinyur, Tukang Ojek, Tukang Suntik, dan Tukang-tukang lainnya pun tak berdaya karenanya.
Cinta Ibarat Kentut yang tidak bisa ditahan apabila dia mau datang
Tak peduli di depan Raja atau si papa, karena semakin di tahan maka gelora cinta semakin dahsyat.
Jangan tanya usia
jangan tanya status sosial
jangan-tanya ini
jangan tanya itu
karena cinta tidak memandang bulu
entah itu bulu siapa dan bulu apa
Cinta bukanlah segalanya
Akan tetapi
Segalanya tanpa cinta apalah Artinya

SUBSTANSI
Cinta membuat kita bahagia dan semangat untuk menjalani kehidupan ini, namun terkadang cinta itu juga yang membuat kita merasa menderita apabila kita kecewa dalam cinta.
Seseorang dapat merasakan cinta apabila dua insan saling menyayangi, dan cinta itu dapat kita lihat melalui perbuatan seseorang yang sedang jatuh cinta.
Contohnya seperti saling memperhatikan diantara keduanya dalam kehidupan sehari-hari.
Kita bisa bayangkan kalau manusia hidup tanpa cinta, yang terjadi adalah pertikaian dan juga tidak ada orang yang akan saling menyayangi terhadap sesamanya. Dunia ini akan terasa gersang, bagaikan bunga yang tak pernah di siram dengan air akhirnya layu dan mati sia-sia. Jadilah manusia yang selalu hidup dengan penuh cinta agar selalu ceria dan semangat untuk menempuh kehidupan ini, walaupun terkadang harus rela berkorban demi cinta tapi itulah CINTA.
Dalam kehidupan kita, cinta menampakan diri dalam berbagai bentuk. Kadang – kadang kita mencintai diri kita sendiri. Kadang – kadang mencintai orang lain. Atau juga mencintai anak dan istri kita, harta kita, Allah dan rasulnya.
Hidup tanpa cinta itu akan terasa hampa dan tak ada tujuan.
KECOCOKAN jiwa memang tak selalu sama rumusnya..
Ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu; itu KESAMAAN…
Ada panas dan dingin yang bertemu untuk mencapai kehangatan.. itu KESEIMBANGAN…
Ada hujan lebat berjumpa tanah subur. lalu tumbuh taman; itu KEGENAPAN
Tapi satu hal tetap sama…
Mereka cocok karena bersama bertasbih memuji ALLAH SWT..
Seperti segala sesuatu yang di langit & bumi..
Sujud dan Ruku’ pada keagungan-Nya..
Jadi KECOCOKKAN bisa lahir dari  sebuah KESAMAAN, KESEIMBANGAN, ataupun KEGENAPAN...
Semoga usaha kita hari ini, untuk menguatkan substansi cinta kepada Dia lebih bagus daripada kemarin. Awalilah sholat kita di awal waktu (strictly pesan untuk diri saya sendiri). Sepanjang waktu kita dapat "hubungi Allah". 
"Telponlah" Allah dulu sebelum kita telpon mereka-mereka yang lain. InsyaAllah!







Sifat Serakah




Alkisah, suatu hari Nabi Isa As dan seorang sahabatnya berjalan di tepi sungai dan mereka memakan tiga potong roti. Satu potong untuk Nabi Isa, satu potong untuk orang itu, sisa satu potong lagi disimpan. Ketika Nabi Isa pergi minum ke sungai dan kembali, sepotong roti yang tersisa sudah tidak ada. Beliau bertanya, “Siapakah yang telah mengambil sepotong roti sisanya?” Sahabatnya itu menjawab, “Aku tidak tahu.”

Tiba-tiba mereka melihat rusa dan kedua anaknya. Dipanggillah salah satu dari anak rusa itu, lalu disembelih dan dibakar. Kemudian dimakan berdua, lalu Nabi Isa As menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali. Hiduplah ia seizin Allah. Kemudian Nabi Isa bertanya, “Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya, siapakah yang telah mengambil sepotong roti itu?” Jawab sahabatnya, “Aku tidak tahu.”

Kemudian mereka berjalan sampai berada di hutan dan mereka sedang duduk, Nabi Isa mengambil tanah dan kerikil dan berkata, “Jadilah emas dengan izin Allah.” Tiba -tiba tanah dan kerikil itu berubah menjadi emas dan dibagi jadi tiga bagian. Beliau berkata, “Untukku sepertiga, sepertiga ini untukmu, sedangkan sepertiga sisanya ini untuk orang yang mengambil roti.” Sontak sahabat itu menjawab, “Akulah yang mengambil roti itu.”

Nabi Isa berkata, “Ambillah semua bagian ini untukmu.” Lalu, keduanya berpisah. Orang tersebut didatangi dua orang perampok dan akan membunuhnya. Orang itu bernegosiasi, “Lebih baik kita bagi tiga saja.” Kedua perampok itu setuju, lalu menyuruh salah seorang di antara mereka pergi ke pasar untuk berbelanja makanan. Maka timbullah perasaan orang yang berbelanja itu dan berkata di dalam hatinya, “Untuk apa kita membagi harta itu, lebih baik makanan ini aku bubuhi racun saja biar keduanya mati, dan aku ambil semua harta itu.” Lalu, makanan itu diberinya racun.

Sedangkan, orang yang menunggu di tempat tersebut berkata, “Untuk apa kita membagi harta ini, lebih baik jika ia datang, kita bunuh saja. Lalu, harta ini kita bagi dua saja.” Saat orang yang berbelanja telah pulang, segera dibunuh oleh keduanya, hartanya dibagi dua bagian. Keduanya pun makan dari makanan yang telah diberi racun. Tinggallah harta itu di hutan, sedangkan matilah mereka di sekitar harta itu.

Nabi Isa berjalan di hutan dan melihat kejadian tersebut. Maka, ia pun berkata kepada sahabat-sahabatnya yang lain, “Inilah contoh dunia maka berhati-hatilah kamu kepadanya.” 

Begitulah betapa manusia yang sudah diliputi jiwa serakah bisa mengorbankan siapa pun yang dianggap jadi penghalang nafsunya. Penyakit keserakahan terjadi pada setiap generasi, termasuk pada umat Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya salah satu yang aku takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya, yakni bahwa meluapnya kekayaan pada umat Muhammad inilah yang amat ditakutkan sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya (HR Bukhari-Muslim).

Kekhawatiran Rasulullah SAW justru pada rusaknya sikap beragama karena sifat rakus, terjebak pada kecintaan berlebihan pada dunia. Keserakahan biasanya identik sifat kikir. Dalam Alquran surah at-Taghobun ayat 16, Allah memuji orang yang bermurah hati, tidak kikir. “Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang yang beruntung.” Wallahu’alam.

Oleh: Dadang Kahmad

Senin, 27 Oktober 2014

Cara Rasulullah Berdakwah



Dakwah menjadi sebuah perjalanan panjang yang takkan pernah sepi dari rintangan dan cobaan. Semua kendala di jalan dakwah adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Ia pasti akan menghampiri para dai. Janganlah pernah berhenti karena para nabi dan pengikutnya tak pernah berhenti ataupun melemah karena rintangan dan cobaan.Karena itu, para dai dituntut untuk selalu membekali diri dengan menjaga kualitas ruhiyah agar tetap tsabat dalam berdakwah.

Ahmad Muarif dalam bukunya, Keajaiban Shalat Tahajud, menyatakan, bila ditelusuri, salah satu faktor keberhasilan dakwah Rasul SAW adalah kekuatan ruhiyah yang tak pernah lepas dari keterikatan dan kedekatan kepada Allah SWT. Kedekatan dan keterikatan kepada-Nya secara nyata dibangun oleh Rasul SAW lewat ibadah, terutama ibadah spesial yang diyakini mengandung kekuatan luar biasa bagi yang melaksanakannya.

Ibadah itu dikenal dengan shalat Tahajud. Ternyata, jejak langkah Rasul SAW yang demikian itu tak hanya diikuti oleh para sahabat dan pengikut pada masanya. Sejarah mencatat, para ulama, para dai, dan shalafusshaleh merupakan orang-orang yang tak lepas pula dari mencontoh Rasul SAW dalam melaksanakan Tahajud.   Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian terus melakukan shalat malam (Tahajud) karena ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian ....” (HR Tirmidzi).

Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan malam-malamnya tanpa ber-Tahajud, bahkan kaki beliau sampai bengkak saking lamanya beliau berdiri Tahajud. Yang pasti, Tahajud menjadi sumber energi keimanan bagi para penyeru dakwah. Selain itu, Tahajud dapat mendorong para dai meningkatkan produktivitas kinerja dakwah.

Rasulullah SAW bersabda, “Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata, ‘Malam masih panjang maka tidurlah.’ Jika orang tadi bangun, lalu berzikir kepada Allah SWT, terlepas satu ikatan, jika ia berwudhu, terlepas satu ikatan yang lainnya, dan jika ia melaksanakan shalat, terlepas semua ikatannya.

Pada akhirnya, ia akan menjadi segar (semangat dakwah) dengan jiwa yang bersih, jika tidak, ia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas.” (HR Bukhari). Untuk mengawal keberlangsungan dakwah, tidak ada kata lain kecuali terus bergerak dan bergerak, menyebar dan menyebar ke tengah-tengah masyarakat (umat). Sebagai pengokohan energi keimanan, menjaga produktivitas kinerja dakwah, dan mengharap pertolongan Allah maka tidak ada kata lain kecuali istiqamah dalam Tahajud sebagai bekal dakwah. Wallahu a’lam.


Oleh: Imam Nur Suharno
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/10/11/nd9y3e-tiru-cara-rasulullah-berdakwah