Senin, 14 September 2015

Apa itu Diabetes Insipidus?



Diabetes Insipidus adalah penyakit yang berkaitan dengan hormon ADH (anti-diuretik hormon) atau reseptornya. Hormon ADH bekerja pada ginjal untuk memekatkan urin , sehingga terjadi keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh. Bila terjadi gangguan pada produksi hormon ADH atau masalah pada reseptornya di ginjal, maka akan membuat produksi urin yang berlebihan sehingga bisa mengakibatkan dehidrasi dan membuat penderita merasa kehausan setiap saat.
Diabetes insipidus dan diabetes mellitus merupakan dua penyakit yang berbeda dan tidak terkait. Walaupun kedua penyakit ini memiliki gejala yang sama yaitu polyuria (produksi urin yang berlebihan), namun pada penderita diabetes insipidus tidak mengandung glukosa.

Ada 2 jenis diabetes insipidus :
1.     Diabetes insipidus sentral. Penyebabnya adalah terjadi kekurangan produksi hormon ADH .
2.    Diabetes insipidus nefrogenis. 

Penyebabnya adalah ginjal tidak peka atau tidak memberikan respon pada hormon anti-diuretik. Hal ini mengakibatkan urin menjadi sangat encer dan keluar dalam jumlah yang cukup banyak.

Gejala – gejala pada diabetes insipidus meliputi:
·         Rasa haus yang berlebihan
·         Produksi urin yang berlebihan
·         Kelelahan yang berhubungan dengan gangguan keseimbangan elektrolit

Diagnosis diabetes insipidus dilakukan dengan pemeriksaan lab, diantaranya:
1.     Urinalisis
2.    Level ADH plasma
3.    Kadar glukosa darah, untuk mengeleminasi kemungkinan diabetes mellitus
4.    Kadar elektrolit darah
5.    Output urin

Pengobatan pada penderita, biasanya dilihat dari penyebab nya, pada tipe sentral biasa diberi terapi replacement  untuk hormon ADH. Sedangkan untuk tipe nefrogenis bisa dilihat apabila ada pengunaan obat yang menyebabkan gangguan sensitifitas pada reseptor hormon maka harus diberhentikan, biasanya terapi dengan intake cairan yang cukup.

Komplikasi yang bisa terjadi:
·         Dehidrasi
·         Kulit kering
·         Penurunan berat badan
·         Demam
·         Denyut jantung meningkat karena ketidakseimbangan elektrolit
Umumnya prognosis pada pasien baik bila cepat ditangani , oleh karena itu segera hubungi dokter keluarga anda bila anda memiliki keluhan sesuai gejala-gejala di atas.

Sumber: Web MD. Medscape. PubMed
http://dokita.co/blog/apa-itu-diabetes-insipidus/


Pola Makan Penyandang Diabetes



Karbohidrat merupakan salah satu kategori makanan utama (makanan utama lain adalah protein dan lemak) yang dibutuhkan penyandang diabetes tipe 2. Karbohidrat menyediakan bahan bakar bagi tubuh dalam bentuk glukosa. Glukosa adalah gula yang merupakan sumber utama energi untuk semua sel-sel tubuh.

Terdapat dua jenis karbohidrat: sederhana dan kompleks. Karbohidrat sederhana adalah gula, seperti glukosa, sukrosa, laktosa, dan fruktosa. Mereka ditemukan dalam gula dan buah-buahan. Karbohidrat kompleks adalah pati (zat tepung), yang merupakan gula sederhana yang terikat satu sama lain secara kimia. Mereka ditemukan di kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian. Karbohidrat kompleks dianggap sehat terutama karena mereka dicerna oleh tubuh perlahan-lahan, menyediakan sumber energi yang stabil. Mereka juga mengandung jumlah serat yang bagus.

Karbohidrat, tidak seperti lemak atau protein, memiliki efek paling cepat pada gula darah karena karbohidrat akan dipecah menjadi gula pada awal proses pencernaan. Karbohidrat biasanya dapat ditemukan dalam kelompok makanan berikut:
  • Buah
  • Susu dan yoghurt
  • Roti, sereal, nasi, pasta
  • Sayuran bertepung seperti kentang, jagung, dan kacang-kacangan

Sedangkan serat adalah bagian yang tidak bisa dicerna dari makanan nabati. Zat ini memainkan peranan penting dalam proses pencernaan karena membantu makanan terus bergerak di sepanjang saluran pencernaan dan menambahkan berat pada tinja agar dapat dikeluarkan. Selain itu, pola makan yang kaya serat juga dapat menurunkan risiko Anda mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Serat juga dapat:
  • Menunda penyerapan gula dan mengontrol kadar gula darah lebih baik.
  • Mengikat kolesterol dan mengurangi kadar kolesterol 'jahat' LDL dalam darah.
  • Menjadi sumber vitamin dan mineral yang baik.
  • Membantu mencegah sembelit dan mengurangi risiko gangguan pada usus.
  • Memudahkan penurunan berat badan dengan membantu mengurangi asupan kalori (dengan mengonsumsi serat, berat dari makanan yang kita konsumsi akan bertambah, sehingga membuat kita merasa lebih kenyang).

Disarankan bagi semua orang untuk mengonsumsi 25-35 gram serat per harinya. Cara terbaik untuk meningkatkan asupan serat bagi para penyandang diabetes tipe 2 adalah dengan makan makanan kaya serat lebih banyak seperti:
  • Buah-buahan segar dan sayuran
  • Kacang kering yang dimasak dan kacang polong
  • Roti gandum, sereal, dan cracker
  • Beras merah




Diabetes, Tenang Tapi Menghanyutkan



Seiring bertambahnya kemakmuran rakyat Indonesia, ledakan jumlah pasien diabetes mellitus (DM) takkan terelakan lagi di bumi Nusantara. Dalam waktu dekat ini, diperkirakan jumlah pengidap diabetes akan mencapai 5 juta jiwa. Masalah akan menjadi lebih pelik lagi bila sejak saat ini tidak direncanakan penanganannya secara seksama.

DM yang kita kenal sebagai penyakit kencing manis, merupakan penyakit keturunan (genetik, kelainan bibit) yang menyebabkan gangguan produksi hormon insulin (resistensi insulin pada diabetestipe 2 dan tidak adanya produksi insulin pada diabetes tipe 1). Hormon insulin inilah yang mengatur gula di dalam darah sehingga kembali normal.

Sebelum hormon insulin ditemukan pada tahun 1921, biasanya pasien akan berumur pendek, masalah pengobatan dan komplikasi menjadi rumit. Setelah ditemukan hormon insulin, terjadi peningkatan usia harapan hidup.

Sebenarnya, diabetes melitus tidaklah menakutkan bila diketahui lebih awal. Tetapi kesulitan diagnostik timbul karena DM datang dengan tenang, dan bila dibiarkan akan menghanyutkan  pasien ke dalam komplikasi fatal.

Sayangnya, menurut para ahli di dunia, secara epidemiologis diabetesseringkali tidak terdeteksi. Dikatakan bahwa onset atau mulai terjadinya diabetes adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini.

Penelitian lain menyatakan, adanya urbanisasi membuat populasidiabetes tipe 2 akan meningkat 5-10 kali lipat karena terjadi perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban. Faktor risiko yang berubah secara epidemiologis diperkirakan adalah bertambahnya usia, lebih banyak dan lebih lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani dan adanya hiperinsulinemia. Semua faktor ini berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan dengan terjadinya DM tipe 2.

Betapa kejamnya diabetes mellitus menghantam pasien, seperti pembunuh berdarah dingin. Diam-diam daging penderita DM menjadi busuk, perlahan namun pasti.  Inilah beberapa dampak lain DM :

1. jantung diabetes, seperempat jumlah tempat tidur di Intensif Coronary Care Unit (ICCU) harus diserahkan kepada pasien diabetesmellitus, 50% mengalami kematian:
2. Kaki diabetes, mencapai 14,8% dengan segala penanganan sederhana sampai amputasi.
3. Mata diabetes, menduduki porsi yang besar mencapai 22,8% dengan kebutaan 1-2%
4. Ginjal diabetes, mencapai 20%, dengan keharusan cuci darah dan kematian sebagai titik akhir
5. Saraf diabetes, berupa gangguan saraf tepi, kelumpuhan dan impoten satu komplikasi yang paling menyiksa perasaan laki-laki.

Lebih rumit lagi, DM tidak menyerang satu alat tubuh saja, tetapi berbagai komplikasi dapat diidap bersamaan dalam satu tubuh ! Masalah penanganan dan pengobatan semakin rumit jua, apalagi bila diikuti ledakan jumlah pasien.

Kembali pada penyebab, diabetes adalah masalah kelainan bibit. Banyak sekali pasien bertanya, apakah saya bisa sembuh dari DM, dok ! Saya selalu mencoba menerangkan bahwa sampai saat ini, kita belum dapat pengobatan kelainan bibit yang diturunkan.

Kelainan bibit ini telah dicetak di dalam sel pembawa sifat yang di kenal sebagai DNA. Kelainan DNA ini terbentuk sejak terjadinya konsepsi. Tentu, anda dapat membayangkan bagaimana sulitnya memperbaiki kelainan bibit ini. Semua para ahli mengakui betapa peliknya masalah kelainan bibit ini.

Oleh sebab itu, DM tidak akan pernah bisa sembuh total, namun kita hanya bisa mengendalikan agar kadar gula dalam darah (GDS) serta gula dalam sel darah (HbA1C, hemoglobin glikat) menjadi normal. Untuk itu, dianjurkan kepada pasien agar setiap hari diperiksa kadar gula dalam darahnya (Normal 80-120) dan kadar gula dalam sel darah setiap 3 bulan (HbA1C < 6%).

Untuk mengatakan bahwa kadar gula darah terkendali, tentunya tak dapat bergantung pada hilangnya gejala diabetes melitus saja, tetapi harus dengan pemeriksaan kadar gula darah (GDS) dan kadar hemoglobin glikat (HbA1C).

Kita punya bukti bahwa pengendalian glikemik yang baik berhubungan dengan menurunnya komplikasi diabetes. Hasil diabetes Control and Complication Trial (DCCT) menunjukkan, pengendalian DM tipe 1 yang baik dapat mengurangi komplikasi kronik DM antara 20-30%. Bahkan hasil dari The United Kingdom Prospective diabetes Study (UKPDS) menunjukan, setiap penurunan 1% dari HbA1C (misal dari 9 ke 8%) akan menurunkan resiko komplikasi sebesar 3%.

Berbagai studi yang telah ada menyatakan bahwa penyandang diabetestipe 1 dan 2 yang menjaga kadar HbA1C nya normal, menunjukan insiden komplikasi mikrovaskuler seperti retinopati diabetes (matadiabetes), nefropati diabetes (ginjal diabetes), neuropati diabetes (sarafdiabetes) dan impoten (disfungsi seksual) yang lebih rendah.

Oleh karena itu, bagi penyandang diabetes, segera diperiksakan semua fungsi tubuhnya. Apakah sudah ada tanda-tanda komplikasi menahun yang perkembangannya slow but sure itu dapat dicegah. Penyandangdiabetes yang kadar GDS dan HbA1C nya terkontrol dan terkendali dalam batas normal, sebaiknya diperiksa lagi kondisi mata, syaraf,jantung, pembuluh darah dan ginjalnya, apakah sudah terkena atau belum. Paling tidak mengetahui ada atau tidaknya kemajuan pengurangan penyakit akibat terkendalinya status glikemik penyandang diabetes.

Sebagai ringkasan, pasien DM tidak bisa disembuhkan, namun hanya bisa dikendalikan status metaboliknya seperti kadar GDS dan HbA1C. Upaya mencegah komplikasi menahun dari diabetes sangat tergantung pada tipe, usia penyandang diabetes, fasilitas yang tersedia dan tentunya motivasi berobat. Jangan lupa untuk selalu memeriksakan diri, mengetahui perkembangan status kesehatan sebagai monitor ada tidaknya komplikasi diabetes mellitus.


Oleh : Rizky Perdana, adalah Sekretaris Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam RS Dr. Moh. Hoesin Palembang


Diabetes Sahabatnya Hipertensi



Penyakit diabetes kronis dapat menyebabkan timbulnya komplikasi, salah satunya adalah tekanan darah tinggi atauhipertensi. Itulah sebabnya, penyakit jantung koroner merupakan penyumbang kematian terbesar (sekitar 40 persen) di antara pasien penderita diabetes (diabetesi).

Menurut dokter spesialis penyakit dalam Budiman Darmowidjojo, kadar gula darah yang tinggi akan mengganggu sistem hormonal sehingga kadar hormon tertentu akan meningkat. Akibatnya, tekanan darah ikut melonjak.

"Sekitar 60-80 persen diabetesi menderita hipertensi, dalam jangka panjang akan menimbulkan komplikasi yang berujung pada kecacatan," ujarnya dalam acara press conference Jakarta Endokrin Meeting dan Jakarta diabetes Meeting di Jakarta, Rabu (8/6/2011).

Ia menjelaskan, komplikasi penyakit akibat diabetes dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari lamanya penyakit, tingginya gula darah, usia,hipertensi, merokok, serta protein di urine.
"Makin tinggi kadar protein, makin besar risikonya terkena penyakitjantung," paparnya.

Oleh karena itu, terapi pengobatan diabetes ditujukan untuk menjaga kadar gula darah tetap normal dan menghindari komplikasi baik yang kronis maupun akut. "Kalau sudah telanjur komplikasi, susah diobatinya," imbuhnya.

Data tahun 2.000, jumlah penderita DM di Indonesia mencapai 8,4 juta orang dan menjadikan Indonesia menempati ranking keempat dalam jumlah penderita diabetes di dunia. Pada tahun 2030 nanti, diperkirakan jumlahnya akan naik menjadi 21,3 juta orang.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, sebaran pasien diabetes di Indonesia yang melebihi 1,5 persen penduduk ada di Provinsi Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara. Menurut Budiman, hal itu mungkin terkait dengan gaya hidup dan pola makan.