Jumat, 11 Juni 2010

Minta maaf dan memaafkan


Dalam keseharian dari setiap kita tidak pernah terlepas dari apa yang namanya kesalahan. Kesempurnaan itu hanya milik "Al-Haq". Manusia adalah gudangnya kesalahan dan dosa, demikian kalimat yang pernah dan sering saya dengar dalam tausiyah dan saya mengakui serta membenarkan perihal itu.

Kesalahan yang kita perbuat secara garis besar berimbas kepada dua hal yaitu kesalahan pada diri kita sendiri dan kesalahan kepada orang lain. Semua mempunyai dampak yang sama besarnya. Akan tetapi dampak yang lebih terasa apabila kita berbuat kesalahan kepada orang lain. Apabila kita berbuat kesalahan kepada diri kita sendiri ditinjau dari sisi yang sangat sederhana hal ini adalah urusan kita dengan "Al-Ghaffar". Sementara kesalahan kita kepada orang lain akan menambah pihak ketiga. Dan punya kecenderungan berimbas kepada diri kita secara psikologis. Apalagi apabila kita sering bertemu dengan orang yang kita berlaku salah kepadanya.

Al Qur'an dan Sunnah mengajarkan bagaimana seorang muslim harus bersikap apabila melakukan kesalahan, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Dan mengajarkan bagaimana kita bersikap apabila ada orang lain yang berbuat kesalahan kepada diri kita.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menaf'kahkan (harta nya), baik diwaktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Dan (juga) orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.
(Qs. Ali Imran 133-136).

Terdapat banyak makna dari ayat tersebut diatas. Saya akan menuliskan sedikitnya tiga makna yang terkandung dari ayat tersebut diatas yang saya ambil dari berbagia sumber yang "Insya Allah" mengandung kebenaran.

Pertama : Cepat menyadari kesalahan lalu ber-"Istighfar"
Perilaku ini menggambarkan bagaimana orang yang bertakwa menghadapi dirinya sendiri, yaitu bila dia : sengaja atau tidak melakukan perbuatan dosa seperti, memfitnah, "gibah", memakan riba, korupsi, berzina, atau menganiaya diri sendiri seperti minum khamar, membuka aurat, tidak shalat, tidak berpuasa, dan sebagainya, mereka langsung ingat Allah, sehingga merasa malu dan takut kepadaNya. Lalu ia cepat menyesali semua perbuatannya dan memohon ampun sambil bertekad tidak akan mengulangi lagi kesalahan itu.

Kedua : Menahan marah
Perilaku orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya.
Kata al-kazhimiin (ayat 134) berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).

Orang yang mampu menahan marah, oleh Nabi SAW disebut sebagai orang yang kuat.
Beliau bersabda : "Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)".

Dalam hadits lain Beliau juga bersabda: "Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka di hari kiamat Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan."

Ketiga : Memaafkan
Memaafkan berarti menghapuskan. Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah dianggap perilaku orang bertakwa.

Sebagai tambahan untuk memberikan dorongan kepada kita untuk berlaku pemaaf terdapat keterangan lain dalan Al-Qur'an diataranya :
Surat Asy-Syuura ayat : 37
Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.

Surat Al-A'raf ayat 199 :

Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Surat Al-Hijr ayat : 85
Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.

Selain itu Rasulullah SAW juga menjelaskan keuntungan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, di antaranya:
"Barangsiapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, maka Allah akan mengampuninya saat ia kesukaran".

Dan "Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keridhoan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat"

Kesimpulan :
Bagi setiap kita yang melakukan kesalahan segeralah memohon maaf baik kepada "Al Fattah" maupun kepada orang yang kita melakukan kesalahan kepada mereka dan jangan mengulangi kesalahan lagi.
Dan jadilah kita sebagai orang yang pemaaf dengan mengharap ridho dari "Asy Syakur".

Apabila terdapat kesalahan dalam bahasan diatas, kesalahan itu datang dari diri saya. Dan apabila terdapat kebenaran, maka kebenaran itu datang dari "Al Hadi" - "Al Muta'ali".

http://dreamcorner.net/catatan/religi/minta-maaf-dan-memaafkan/


http://hilmanmuchsin.blogspot.com/2010/06/minta-maaf-dan-memaafkan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar