Senin, 29 Mei 2017

KEWAJIBAN BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA


Berbuat kebaikan kepada sesama pada hakikatnya adalah salah satu kebutuhan manusia. Betapa sulitnya kehidupan ini jika kita sesama manusia tidak saling berbuat baik. Betapa kacaunya kehidupan bermasyarakat kalau manusia selalu berbuat keburukan dan kezhaliman terhadap sesamanya.
Apalagi dizaman modern ini, tidak ada manusia yang bisa hidup layak tanpa saling berbuat baik ataupun bekerjasama dengan orang lain. Sungguh kita tidak akan mampu memenuhi semua yang kita butuhkan dalam hidup ini. Oleh karena itu maka Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa berbuat baik atau melakukan kebaikan terhadap sesama.

Perintah berbuat kebaikan.

Diantara kasih sayang Allah kepada hambaNya adalah perintah untuk selalu berbuat kebaikan, karena kebaikan itu akan kembali kepada dirinya. Ini adalah untuk kemashlahatan manusia agar bisa selamat dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat.
Dalam surat an Nahal 90 Allah telah menyuruh manusia untuk berbuat kebaikan dan sekali gus melarang manusia untuk berbuat keji dan mungkar. “Innallaha ya’muru bil a’dli wal ihsaan, wa-itaa- idzil qurba wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi. Ya’izhukum la’alakum tadzakkaruun” Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Sungguh Allah telah sangat banyak berbuat baik kepada hamba hamba-Nya dan Allah memerintahkannya untuk berbuat baik pula. Allah berfirman : “Wa ahsin kamaa ahsanallahu ilaika” Berbuat baiklah (kepada manusia) sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Q.S al Qashash 77).

Manfaat berbuat kebaikan.
Setiap kebaikan yang dilakukan seseorang pastilah kebaikan itu akan kembali kepadanya. Jika seseorang suka menolong pasti akan ditolong, jika seseorang suka memaafkan pasti akan dimaafkan. Jika seseorang suka memudahkan urusan orang lain maka pada suatu waktu dia mendapat kesulitan pasti akan ada saja yang menolongnya, insya Allah. Begitupun sebaliknya. Ini sunatullah. Allah berfirman : “In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum falahaa” Jika kamu berbuat baik (berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat buruk , maka (keburukan) itu bagi dirimu sendiri.
Allah berfirman : “Hal jazaa-ul ihsan illal ihsaan” Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) Q.S ar Rahmaan 60.
Jadi, sangatlah dianjurkan untuk senantiasa berbuat kebaikan. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalllam mengingatkan kita untuk tidak berbuat keburukan kepada orang lain. Beliau bersabda : “Al muslimu man salimal muslimuuna min lisaanihi wa yadih”. Orang Islam itu ialah orang yang selamat orang Islam lainnya dari gangguan lidah dan tangannya (H.R Imam Ahmad, dari Abu Hurairah)

Tingkatan dalam berbuat baik
Pertama : Tidak mengganggu dan tidak menyusahkan orang lain. Inilah fase awal dalam berbuat baik. Andaikata seseorang belum mampu berbuat kebaikan maka paling tidak janganlah mengganggu atau menyusahkan orang lain. Tidak mengganggu atau tidak menyusahkan orng lain juga sudah termasuk sebagai kebaikan
Kedua : Melakukan yang bermanfaat bagi orang lain. Ini fase kedua dalam berbuat kebaikan. Seorang hamba hendaknya memberi manfaat bagi orang lain. Sekecil apapun akan ada nilainya disisi Allah. Diantaranya memberi salam dengan senyum kepada sesama muslim.
Ketiga : Berbuat yang lebih baik kepada orang yang telah berbuat baik. Ini fase ketiga dalam berbuat kebaikan. Allah berfirman : “Wa idzaa huiyiitum bi tahiyyatin fahaiyuu biahsana minhaa au rudduuhaa. Innnallaha kaana ‘alaa kulli syai-in hasiibaa” Dan apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu (Q.S an Nisa’ 86).
Keempat : Membalas perbuatan buruk dengan kebaikan. Inilah tingkat paling tinggi dalam berbuat kebaikan. Tabiat manusia adalah selalu ingin membalas keburukan yang diterimanya, bahkan ada yang ingin membalas dengan keburukan yang lebih besar. Islam membolehkan membalas keburukan dengan keburukan yang setimpal. Tapi berbuat baik yaitu dengan tidak membalas atau bersabar bahkan kalau membalas adalah dengan kebaikan maka itu lebih utama.
Ingatlah akan firman Allah : “Wain ‘aaqabtum fa’aqibuu bimitsli maa ‘uuqibtum bihii, wala-in shabartum lahum khairul lish shaabiriin” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang orang yang bersabar (Q.S al Hajj 60).

Sikap dalam berbuat baik.

Seseorang yang melakukan kebaikan haruslah semata mata karena Allah. Hanya karena mengharapkan pahala dan balasan dari-Nya. Misalnya dalam hal berinfak, maka haruslah dilakukan semata mata karena Allah sehingga bernilai disisi-Nya. Allah berfirman : “Illabtighaa-a wajhi rabbihil a’laa.” Tetapi (ia memberi itu semata mata) karena mencari keridhaan Rabbnya yang Mahatinggi (Q.S al Lail 20). Jangan mengharap balasan dari manusia. Sebuah ungkapan menyebutkan bahwa jika engkau telah berbuat kebaikan buanglah kelaut. Maksudnya tidak perlu disebut sebut, jangan diungkit ungkit. Lupakan saja. Insya Allah kebaikan itu akan tetap ada pada catatan amal kita sampai hari Kiamat.

Jika seseorang berharap balasan dari manusia ujung-ujungnya adalah kekecewaan karena kemampuan manusia untuk membalas kebaikan sangatlah terbatas. Ketahuilah bahwa manusia itu sedikit sekali yang mau berterima kasih. Jangankan berterima kasih kepada sesama manusia, berterima kasih (baca : bersyukur) kepada Allah juga masih banyak manusia yang tidak melakukannya. Allah berfirman : “Wa qalilun min‘ibaadiayas syakuur.” Dan sedikit sekali dari hamba hamba-Ku yang bersyukur (Q.S Saba’ 13).
Padahal Allah telah memberikan nikmat yang sangat banyak dan tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Allah berfirman : Wa aataakum min kulli maa sa-altumuuh Wain ta’uddu ni’matallahi laa tuhsuha. Innal insaana lazhaluumun kaffar”. Dan Dia telah memberikan kepadamu segala yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) Q.S Ibrahim 34.
Jadi janganlah berharap terima kasih atau balasan dari manusia. Cukuplah dengan balasan dari Allah saja. Perhatikanlah firman Allah dalam surat al Insaan ayat 8 dan 9, berikut ini : Wa yuth’imuunath tha’ama ‘ala hubbihii miskinan wa yatiiman wa asiiraa. Innama nuth’imukum li wajhillahi, la nuriidu minkum jazaa-a walaa syukuuraa”. Dan memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Kita bermohon kepada Allah agar diberi kemampuan dan kekuatan untuk menjadi hamba-hambaNya yang bermanfaat bagi orang lain yaitu dengan senantiasa berbuat baik kepada sesama.
Wallahu a’lam.
Oleh : Azwir B. Chaniago

Kamis, 25 Mei 2017

SURAT ANEH KEPADA DOMPET DHUAFA

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … 
Beberapa tahun silam, ada sebuah surat yang cukup unik datang ke kantor Dompet Dhuafa (DD). Biasanya setiap hari lebih dari 20 surat permohonan bantuan singgah ke kantor DD.
Pada umumnya, surat permohonan bantuan itu isinya agak panjang, berhubung hendak menceritakan masalah dan mengajukan bantuan. Tidak sedikit dari surat-surat itu yang ditulis panjang lebar dengan narasi yang memilukan.
Tapi hari itu, datang sebuah surat yang tidak biasanya. Setelah dibuka, isinya ternyata hanya satu kalimat saja. Kalimat itu berbunyi: “Jika diizinkan, saya akan datang ke kantor Dompet Dhuafa.” Kita semua yang membacanya tentu merasa heran terhadap surat ini.
Sepanjang sejarah DD, belum pernah ada surat yang isinya seperti itu. Karena itu kemudian, kita segera membalas surat itu dengan jawaban : “Silakan Bapak datang ke kantor Dompet Dhuafa, Pada hari … (tertentu), jam … (tertentu).”
Pada hari dan jam yang dijanjikan, kita telah menanti tamu yang akan datang. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki dengan perawakan pendek dan agak kurus. Kedua tangannya (maaf) putus dari pangkal lengan, dan kedua kakinya seperti pernah mengalami sakit polio (dengan bentuk sedikit agak melengkung).
Menyaksikan kehadiran lelaki tersebut, segeralah kita mengerti mengapa lelaki tersebut menulis surat seperti itu. Rupanya, dia ingin kita melihat saja secara langsung kondisi dirinya. Batinnya mungkin berkata, “tak perlulah saya menceritakan panjang lebar, cukuplah Anda lihat sendiri, barulah Anda mengerti apa yang saya maksudkan.”
Melihat kehadiran lelaki tersebut dan mengerti kondisi yang dialami oleh lelaki tersebut, kami pun bergegas menawarkan bantuan kepada beliau.
Salah seorang karyawan DD kemudian berkata, “Pak, apa yang bisa DD lakukan, untuk bisa membantu Bapak ?” Lelaki tersebut kemudian menjawab, “Saya mohon DD membantu saya satu…saja, mohon DD membelikan saya satu buah mesin ketik.”
Mendengar ungkapan bahwa lelaki itu ingin dibelikan mesin ketik, karyawan DD pun bertanya lagi, “Mohon maaf Bapak, apakah anak Bapak ada yang sedang ditugasi menulis paper atau makalah, seperti itu ?”
Lelaki itu pun menjawab lagi, “Oh …, bukan …, mesin ketik itu bukan untuk anak saya, tapi untuk saya, saya biasa mengetik kok …” mendengar jawaban tersebut, karyawan DD pun terperanjat, sehingga terucap, “Mengetik dengan….?” Spontan lelaki itu pun menjawab, “Saya biasa mengetik dengan kaki saya…”
Seterusnya lelaki itu pun melanjutkan, “Kalau Bapak berjalan-jalan di kawasan Pasar Senen, di sana akan terlihat banyak kios-kios jasa mengetik, salah satunya adalah kios saya. Saya biasa melayani jasa mengetik. Cuma selama ini mesin ketiknya punya toke saya. Sehingga hasilnya dibagi dua. Saya bermimpi, jika saya punya mesin ketik sendiri, mungkin hasilnya jadi lebih besar …”
Mendengar penuturan lelaki itu, tiba-tiba saja terasa ada pukulan keras menghantam ulu hati kita yang mendengarnya. Bagaimana tidak, ada seorang lelaki yang mengalami cacat fisik, yang sesungguhnya teramat pantas dikasihani dan disantuni setiap saat, akan tetapi ternyata yang diharapkannya justru adalah bantuan yang membuatnya bisa tetap berusaha dan produktif.
Lelaki itu bukan ingin dibantu sehingga tergantung pada belas kasihan orang lain, tetapi justru ingin dibantu yang membuatnya mandiri dan tegak di atas kekuatannya sendiri.
Lelaki itu laksana malaikat yang dihadirkan kepada kita untuk menyampaikan pesan agar kita lebih menghargai diri kita dengan berusaha menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Karena pada zaman sekarang ini, betapa banyak anak muda, fisiknya utuh, tubuhnya sehat dan kuat, tetapi jiwanya lemah dengan ingin dikasihani dan mengharap iba dari orang lain.
Betapa banyak manusia di dunia ini, yang kondisi fisiknya jauh lebih baik dari Bapak tersebut, tetapi hidupnya ingin bergantung kepada belas kasihan dan santunan orang lain.
Kepada Bapak tersebut, DD akhirnya membelikan satu buah mesin ketik baru, sambil dalam hati berucap, “Terima kasih Bapak, telah datang dan seolah menasehati kami, sungguh kehadiran Bapak telah membawa kesan mendalam untuk kami.”
– Ditulis Ahmad Juwaini, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa –
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

KEMENTERIAN DALAM BAHASA INGGRIS

TERJEMAHAN 

Biar gak lupa dan cari-cari lagi, masukin di blog sendiri. :
  1. Coordinating Minister for Political, Legal, and Security Affairs (Mentri Kordinator Politik, Hukum dan Keamanan/Menkopolhukam)
  2. Coordinating Minister for the Economy (Mentri Kordinator Ekonomi)
  3. Coordinating Minister for People Welfare (Mentri Kordinator Kesejahteraan Rakyat/Menkokesra)
  4. Ministry of the State Secretariat (Kementrian Sekretaris Negara / Kemensesneg)
  5. Ministry of Religious Affairs (Kementerian Agama / Kemenag)
  6. Ministry of Energy and Mineral Resources (Kementerian sumber daya mineral dan energy / kemenesdm)
  7. Ministry of Foreign Affairs (Kementerian Luar Negeri / Kemenlu)
  8. Ministry of Justice and Human Rights (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia / Kemenkumham)
  9. Ministry of Forestry (Kementerian Kehutanan / Kemenhut)
  10. Ministry of Health (Kementerian Kesehatan)
  11. Ministry of Finance (Kementrian Keuangan)
  12. Ministry of Defense (Kementerian Pertahanan / Kemenhan)
  13. Ministry of Industry (Kementerian Industri)
  14. Ministry of Social Services (Kementerian Sosial / Kemensos)
  15. Ministry of Manpower and Transmigration (Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi / Kemenakertrans)
  16. Ministry of Home Affairs (Kementerian dalam Negeri / Kemendagri)
  17. Ministry of Maritime and Fisheries Affairs (Kementerian Kelautan dan Perikanan)
  18. Ministry of Culture and Tourism (Kementerian Budaya dan Parawisata / Kemendbudpar)
  19. Ministry of Communication and Informatics (Kementerian Komunikasi dan Informatika / Kemenkominfo)
  20. Ministry of Public Work (Kementrian Pekerjaan Umum)
  21. Ministry of Transportation (Kementerian Perhubungan / Kemenhub)
  22. Ministry of National Education (Kementerian Pendidikan Nasional / Kemendiknas)
  23. Ministry of Trade (Kementerian Perdagangan / Kemendag)
  24. Ministry of Agriculture (Kementerian Pertanian / Kementan)
  25. State Minister for Research and Technology (Mentri Negara Riset dan Teknologi)
  26. State Minister for Cooperatives Small and Medium Enterprises (Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah / Kemenkop UKM)
  27. State Minister for The Environment (Kementerian Negara Lingkungan Hidup)
  28. State Minister for Woman Empowerment (Kementerian Negara Pemberdayaan Wanita)
  29. State Minister for the Empowerment of State Apparaturs  (Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara)
  30. State Minister for Acceleration Development Backward Regions (Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal / PDT)
  31. State Minister for Chairperson of the National Development Planning Agency (Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional / BAPPENAS)
  32. State Minister for State Owned Enterprises (Kementerian Negara BUMN)
  33. State Minister for Public Housing (Kementerian Negara Perumahan Rakyat / Kemenpera)
  34. State Minister for Youth and Sports Affairs (Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga / Kemenpora)
Ministrial level of Officials / Lembaga Negara Setingkat Menteri
  1. Attorney General (Kejaksaan)
  2. Indonesian National Army (Tentara Nasional Indonesia / TNI)
  3. Indonesian National Police (Polisi Republik Indonesia / Polri)

CARA TULIS HURUF TEBAL, MIRING, CORET DI CHAT WA


whatsapp-a-sonunda-gif-destegi-geliyor-705x290
Langsung aja ya:
  1. *tulisan tebal*
  2. _tulisan miring_
  3. ~tulisan coret~
  4. *_tulisan tebal dan miring_*
  5. *~tulisan tebal dan coret~*
  6. _~tulisan miring dan coret~_
  7. *_~tulisan tebal, miring dan coret~_*
yang coret itu pake yang garis melengkung kayak gelombang itu loh,,,, gak nemu tombolnya nih…..

Selamat mencoba