Selasa, 29 November 2016

PENDEKATAN DAN METODE PENILAIAN PERUSAHAAN


Banyak sekali cara untuk menilai suatu Usaha / Perusahaan. Tidak ada cara yang benar, meskipun anda kemungkinan menilai dengan beberapa cara yang salah.
Pada akhirnya, bisnis memiliki nilai apa pun yang Anda pikir pantas, berdasarkan pada kriteria yang Anda tetapkan. Tapi Anda dapat membuat estimasi dengan menggunakan beberapa cara yang berbeda untuk menilai bisnis dan kemudian memilih cara yang mencerminkan estimasi penilaian akhir Anda.
Anda bisa memulai dengan mencari nilai dari aset bisnis.
Apa yang dimiliki oleh bisnis tersebut?
Apa saja peralatan yang ada?
Apa saja persediaan yang ada?
Sehingga dengan beberapa hal tersebut anda akan tahu apa saja yang harus anda beli untuk memulai bisnis tersebut dari awal, sehingga setidaknya bisnis yang ada mendapatkan biaya pergantian.
Suatu cara umum dalam menetapkan nilai dengan menggunakan satu atau lebih metode penilaian khusus, adapun Pendekatan Penilaian yang lazim digunakan dalam Penilaian Usaha/Perusahaan adalah:
1. Pendekatan Pendapatan (Income Approach) ; adalah suatu cara umum menetapkan indikasi nilai dari suatu business, hak kepemilikan atas bisnis atau sekuritas dengan cara menghitung Nilai Kini (Present Value) dari keuntungan yang diantisipasi (SPI-2007 PPPI-6 Penilaian Bisnis, butir 5.14.2).Terdapat 2 (dua) metode umum dalam pendekatan pendapatan:
i Metode Analisis diskonto Arus Kas (discounted cashflow method) atau Metode Deviden (Devident Method).
Metode penilaian usaha/saham dimana nilai kini dari pendapatan ekonomi mendatang dihitung dengan menggunakan tingkat diskonto tertentu.
ii Metode kapitalisasi pendapatan (capitalized income method). Metode penilaian usaha/saham dimana pendapatan ekonomi pada satu waktu tertentu dikonversi menjadi nilai dengan membagi tingkat kapitalisasi tertentu.
2. Pendekatan Pasar (Market Approach) ; adalah suatu cara umum menetapkan indikasi nilai dari suatu business, kepemilikan atas bisnis dan sekuritas yang membandingkan objek yang dinilai dengan bisnis, kepemilikan atas suatu bisnis atau sekuritas yang pernah dijual (SPI-2007 PPPI-6 Penilaian Bisnis, butir 5.14.1). Terdapat 2 (dua) metode dalam pendekatan Pasar:
i Metode pembanding perusahaan terbuka (guideline publicly traded company method). Nilai ekuitas (dan nilai perusahaan / kapital) diperkirakan dengan cara mengalikan suatu ukuran nilai yang diperoleh dari data transaksi jual-beli yang pernah/sedang terjadi dari perusahaan-perusahaan yang digunakan sebagai pembanding pada suatu variabel nilai. Perusahaan-perusahaan yang digunakan sebagai pembanding haruslah yang sejenis industrinya.
ii Metode pembanding perusahaan merjer dan akuisisi (guideline merged and acquired company method). Merupakan variasi dari metode pembanding perusahaan terbuka, dimana pembanding yang digunakan adalah transaksi saham mayoritas yang umumnya (tetapi) tidak selalu merupakan kepemilikan mutlak (100%)
3. Pendekatan Aktiva (Asset-Based Approach) ; adalah suatu cara umum menetapkan indikasi nilai dari suatu bisnis atau sekuitas yang berdasarkan langsung pada penilaian kembali aktiva dan kewajiban dari suatu badan usaha (SPI-2007 PPPI-6 Penilaian Bisnis, butir 5.14.3). Terdapat 2 (dua) metode dalam pendekatan aktiva:
i Metode akumulasi aset (asset accumulation method) lebih dikenal dengan nama adjusted book value method. Nilai perusahaan atau nilai ekuitas diperkirakan dengan terlebih dahulu melakukan penyesuaian pada nilai buku dari tiap-tiap pos yang ada di neraca (baik aktiva maupun kewajiban) menjadi nilai pasarnya. Nilai perusahaan adalah seluruh aktiva minus hutang yang bukan komponen struktur kapital. Nilai ekuitas adalah seluruh aktiva minus seluruh kewajiban.
ii Metode kapitalisasi kelebihan pendapatan (capitalized excess earnings method). Sama dengan metode akumulasi aset, tetapi aktiva tak berwujud dianggap sebagai satu kesatuan dan dinilai secara kolektif dengan proses kapitalisasi.
------------------------------------------------
Catatan :
Neraca dapat memberikan indikasi yang baik dalam menentukan nilai suatu aset perusahaan.
Jika suatu perusahaan tidak memiliki suatu buku aliran kas, anda harus berpikir dua kali untuk membelinya. Anda akan mendapatkan kerugian jika pemilik sebelumnya bahkan tidak tahu secara pasti apakah bisnis tersebut menguntungkan.
Pendekatan penilaian lain suatu bisnis yaitu dengan memikirkan bisnis sebagai arus kas.
Beberapa orang menilai bisnis dengan mencoba untuk menilai arus kas bisnis tersebut.
Pendapatan merupakan perkiraan kasar dari layaknya suatu bisnis. Jika bisnis menjual Rp 100.000.000 per tahun maka anda dapat memperkirakan bahwa arus pendapatannya sebesar Rp 100.000.000. Seringkali suatu bisnis dinilai dari kelipatan dari pendapatan bisnis itu sendiri. Kelipatannya bergantung pada indutri yang dijalankan. Sebagai contoh, sebuah bisnis mungkin biasanya menjual “dua kali penjualan” atau “satu kali penjualan”.
Jika anda memilki seseorang pialang saham yang baik, maka Ia akan dapat membantu anda untuk meneliti kelipatan kas penjualan untuk industri atau bisnis anda.
Tetapi anda boleh percaya atau tidak bahwa pendapatan tidak berarti keuntungan. Jika anda ragu, lihat saja bisnis amazon.com. Bisnis tersebut memiliki penjualan pada tahun 2002 sebesar hampir 4 triliun rupiah tetapi tidak memiliki keuntungan.
Faktanya, bisnis ini tidak menghasilkan satu rupiah pun keuntungan sejak bisnis ini dibuat. Berapa banyak anda harus membayar untuk 4 triliun per tahun secara terus menerus dimana anda harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 380 miliar per tahun hanya untuk agar bisnis tetap berjalan?
Itulah mengapa pendapatan itu penting dan mengapa kelipatan pendapatan kemungkinan merupakan cara yang lebih baik untuk mengevalusi bisnis. Jika suatu perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 10.000.000 dimana kas dapat digunakan untuk perkembangan bisnis atau dividen untuk dibagi kepada pemegang saham. Estimasikan pendapatan untuk beberapa tahun ke depan dan berapa banyak kas masuk yang layak untuk anda. Namun tetap berhati hati dan jangan mengasumsi bahwa pendapatan akan stabil. Persaingan, perubahan harga supplier dan fluktuasi industi dapat berdampak pada pendapatan. Pastikan untuk bercermin pada proyeksi bisnis anda.
Warren Buffett menyebutkan dalam analisis arus kas diskonto. Ia meilhat pada berapa banyak kas yang dapat dihasilkan pada bisnis setiap tahun, memproyeksikannya ke masa yang akan datang dan mengkalkulasikan arus kas diskonto yang layak menggunakan Treasury Bill Interest Rate jangka panjang. Anda dapat menghitungnya pada software excel dengan menggunakan fungsi Net Present Value (NPV).
Satu cara cepat untuk menghitungnya yaitu dengan menggunakan teknik Treasury Bill Interest Rate dengan membagi pendapatan tahunan saat ini. Sebagai contoh; jika sebuah toko mendapatkan Rp 10.000.000 per tahun dan T-bills memiliki bunga sebesar 3%, maka bisnis memiliki nilai sama dengan Rp 333.333.333 sehingga (Rp 10.000.000/3% = Rp 333.333.333, sehingga Rp 333.333.333 diinvestasikan ke dalam T-bills akan kembali sama dengan Rp 10.000.000 pendapatan). Sehingga jika anda memiliki Rp 333.333.333, anda dapat mendapat Rp 10.000.000 anda dengan menginvestasikannya ke dalam T-bills dengan usaha yang jauh lebih sedikit untuk menjalankan toko. Teknik ini menempatkan batas atas pada penilaian atau evaluasi anda. Dengan itu, mengapa anda menghabiskan lebih dari Rp 333.333.333 pada toko anda ketika anda dapat mendapatkan lebih dengan menghabiskan uang yang sama banyaknya pada T-bills? Tentu saja menggunakan teknik yang cepat dan kotor ini mengasumsikan bahwa bisnis tea shop anda akan memiliki pendapatan yang sama setiap tahunnya dan mengasumsi bahwa masalah hanya pada monetary return.
Itulah beberapa teknik penilaian aset, kelipatan penjualan, kelipatan pendapatan dan analisis nilai aliran kas dari sisi finansial bisnis. Namun pertimbangan dari sisi non finansial juga haru dipikirkan. Anda mungkin akan membayar lebih untuk bisnis yang ingin anda beli jika letak bisnis tersebut dekat atau bersebelahan dengan restoran yang anda punya karena kemungkinan bisnis gabungan lebih berharga dan memiliki ketertarikan karena letaknya. Atau mungkin anda sangat bermimpi untuk memiliki tea shop anda sendiri. Namun, berhati-hati membiarkan mimpi anda mempengaruhi penilaian anda terhadap bisnis yang hendak anda beli. Ada beberapa contoh pebisnis yang karena dilatarbelakangi oleh mimpinya untuk memiliki bisnis tersebut maka dengan pertimbangan yang kurang matang akhirnya Ia membeli bisnis tersebut dan hasilnya Ia mendapatkan apa yang dia impikan namun pada akhirnya, bisnis tersebut membebaninya bertahun-tahun dan Ia harus mencari jalan keluar dari situasi yang sangat merugikannya.
Dan itulah beberapa gagasan untuk anda para pebisnis yang ingin membeli suatu bisnis yang telah ada. Anda dapat menilai suatu bisnis layak atau tidak untuk dijalankan dan apakah memberikan keuntungan yang layak sesuai yang anda harapkan. Bagikan beberapa permasalahan dari bisnis tersebut ke teman anda atau bagian finansial di bisnis anda. Kemungkinan Ia akan dapat membantu untuk menilai dan mengevaluasi bisnis yang sedang anda lirik sesuai dengan finansial usaha anda sekarang.

Selasa, 12 Juli 2016

Proses Melahirkan Bayi Dengan Posisi Sungsang Dirumah

Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat

Ketika para penggiat anti tembakau masih sibuk mengkampanyekan bahaya-bahaya tembakau dan ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan yang ketat atas tembakau, korporasi-korporasi internasional yang mendapat keuntungan bisnis dari agenda ini sibuk menghitung peluang-peluang meraup keuntungan dari bisnis nikotin ini.

Nicotine War adalah hasil riset dan kajian Wanda Hamilton(*) yang menyajikan fakta-fakta (bukan fiksi atau prediksi) bahwa di balik agenda global pengontrolan atas tembakau terdapat kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal sebagai Nicotine Replacement Therapy (NRT).

Sangat kuat kesan dan indikasi bahwa kepentingan kesehatan publik (public health) melalui kampanye bahaya tembakau hanyalah bungkusan (packaging) dari motif kepentingan bisnis perdagangan produk-produk NRT ini. 

Tanpa bermaksud mengabaikan masalah kesehatan, kampanye internasional hidup sehat dan anti rokok yang akhir-akhir ini gencar disuarakan kalangan kesehatan dipertanyakan karena menurutnya terlalu berlebihan. 

Mengapa tak lebih dipandang lebih mendesak kampanye nikmatnya kaya dan AS jadi contoh agar kita diberi kesempatan kaya?” 

Jangan dirampok hutan kita, jangan dirampok tambang kita agar kita tidak miskin. 
Belum ada program yang lebih absurd daripada pemerkosaan agama agar tokoh-tokohnya mengharamkan rokok tapi tak mengharamkan strategi dagang tetap VOC minded. 
Penjajahan macam ini dari dulu lebih haram dibandingkan dengan rokok. 

Rokok sudah menjadi bagian hidup bangsa kita sejak Indonesia belum modern. 
Bagian hidup, bukan sekadar gaya hidup. 
Rokok menjadi semacam tali peneguh silahturami dan solidaritas sosial sehingga dengan begitu rokok menjadi bagian penting dalam ritus kolektif budaya masyarakat kita. 
Mengharamkan rokok, karenanya, sungguh sebuah keputusan absurd yang dasar-dasar komunalitasnya rapuh dan dalam praktiknya hanya akan menjadi kemustahilan belaka.” Mohamad Sobary, budayawan. 


 (*) Wanda Hamilton, seorang peneliti independen dan pengajar di tiga universitas terkemuka di Amerika. Selama sembilan tahun terakhir Wanda menjadi seorang periset independen dan menulis isu-isu ilmu pengetahuan dan kebijakan publik yang berhubungan dengan merokok dan hak-hak para perokok. "

Wanda juga tampil sebagai seorang komentator pro-smokers choice di radio and televisi lokal, nasional, dan internasional. 

Wanda Hamilton adalah anggota senior Forces International, Liberty News Network. Beberapa kutipan segmen di buku ini seperti; Nicotine War di Indonesia, Emas di Dalam Nikotin dan masih banyak fakta terpaparkan dengan gambalang di buku ini. 

Wanda Hamilton mengungkap dengan gamblang dan sangat rinci tentang motif-motif yang mendasari larangan dan pembatasan produk tembakau ini. Oleh INSIST Press dan Spasimedia, temuan Wanda Hamilton ini diterbitkan dalam bentuk buku. Melalui buku Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat ini, INSISTPress dan Spasimedia ingin menyajikan informasi kritis dibalik kampanye anti rokok yang saat ini marak digelar di negeri ini. INSIS Press dan Spasimedia berharap, buku ini berguna bagi masyarakat untuk bisa melihat secara jernih pesan utama di balik perdebatan dan pro / kontra tentang rokok dan produk tembakau.