Minggu, 02 Juli 2017

MIMPI...

Saya tahu bahwa TUHAN yang MENGATUR KEHIDUPAN saya begitu indah. Karena Tuhan tidak memberikan apa yang saya inginkan, tapi yang saya BUTUHKAN. 

Tuhan tetap menjadikan saya sebagai ORANG yang BISA terus membawa keinginan ORANG TUA saya.

“Mimpilah setinggi langit, kalaupun nanti kita terjatuh, kita akan jatuh dihamparan bintang.” 

Dan sekarang saya ada diantara hamparan bintang. 
Dulu cita cita saya adalah menjadi seorang dokter anak, yang berbicara dengan bahasa gaul yang digemari anak-anak, dan memiliki Rumah Sakit khusus anak. 
Tapi sekarang saya mengeditnya menjadi orang yang ingin menjadikan "start-up company" menjadi sebuah perusahaan besar yang mengkhususkan bisnis di jalan tol dan yang related dengannya.
Untuk itu, Saya harus BEKERJA KERAS, lebih keras agar bisa terus MENGEJAR mimpi-mimpi itu dan Terus bermimpi, Terus berusaha dan Tetap berikhtiar. 
Saya SANGAT YAKIN bahwa TUHAN punya rencanaNya untuk saya.

Siapa bilang menggapai mimpi itu GAMPANG ?
Siapa bilang orang-orang yang berhasil meraih mimpi mereka TIDAK PERNAH jatuh?
Siapa bilang jika kita hanya berdiam diri dan berdoa, Tuhan akan menjatuhkan mimpi kita di depan mata seketika?
Siapa bilang kita TIDAK BUTUH orang lain kalau kita sedang jatuh dan hampir menyerah?
Siapa bilang orang yang TIDAK PUNYA MIMPI akan hidup dengan menyenangkan?

SAYA BILANG,
Menggapai mimpi itu SUSAH, butuh jatuh bangun berulang kali seperti halnya menerabas hutan.

SAYA BILANG,
Orang-orang yang berhasil meraih mimpi mereka itu PERNAH MENGALAMI FASE JATUH.. jatuh ke lubang yang paling dalam sekalipun dan membekas.
SAYA BILANG,
Bermimpi itu TIDAK GAMPANG, karena membutuhkan IMAJINASI.. Imajinasi seperti apakah kira-kira LANGKAH kita untuk MERAIH MIMPI itu dan akan jadi seperti apakah kita dengan mimpi itu.
SAYA BILANG,
Selain ber-DO'A, untuk merealisasikan mimpi kita, kita HARUS berjuang mati-matian, bergerak TANPA KENAL LELAH, menunjukkan usaha terbaik dan maksimal hingga titik darah penghabisan yang bisa kita lakukan dan kita tunjukkan kepada Tuhan Yang Maha Mewujudkan dan Mengetahui

SAYA BILANG,
KITA akan SELALU BUTUH orang-orang di sebelah kita, orang-orang di sekitar kita, teman-teman, sahabat, keluarga, dan orang-orang spesial di dalam hidup kita untuk selalu mendukung kita, untuk selalu memberikan pegangan, pelukan, semangat, dan motivasi untuk bangun lagi ketika kita lagi-lagi harus jatuh

SAYA BILANG,
Orang-orang yang takut bermimpi, yang bahkan tidak pernah memikirkan mimpi mereka, yang hidup tanpa memiliki tujuan-tujuan dan impian serta harapan, mereka tidak akan pernah menghidupi hidup mereka dengan menyenangkan karena tidak akan banyak tantangan, orang-orang baru, cerita seru, serta semangat membara ketika mengejar mimpinya.

JANGAN PERNAH sekalipun berpikir untuk meletakkan mimpi kita dan melupakannya untuk selamanya.

Ingatlah kembali, bagaimana kita sekuat tenaga berimajinasi tentang mimpi itu, ingatkah kita betapa semangat dan teguhnya keyakinan kita akan terwujudnya mimpi itu ketika kita  menciptakannya pertama kali?

Ingatlah kembali, wajah dari kedua orang tua kita ketika melihat mimpi kita akan menjadi kenyataan serta wajah teman-teman kita dan saudara-saudara kita ketika mendengar kabar baik mimpi kita menjadi kenyataan.

KITA TIDAK HANYA akan menyenangkan diri kita sendiri karena mimpi kita terwujud, kita akan membuat jutaan orang yang mengenal kita di dunia ini ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, ikut merasakan semangat yang kita miliki serta energy positif yang akan kalian tularkan pada mereka sehingga mereka juga akan TERUS MEMEGANG TEGUH MIMPI mereka sampai kapanpun.

Marilah kita kembali merenungkan betapa pentingnya mimpi itu untuk kehidupan kita serta orang-orang di sekitar kita. Demi mereka semua, berjanjilah untuk jangan pernah MEMBIARKAN mimpi-mimpi kita kandas begitu saja. 
Semua butuh waktu.. Tuhan Maha Tahu apa yang kita butuhkan saat ini, dan Maha Tahu kapan mimpi itu akan datang pada kita.

Jangan terus menanyakan kapan kesempatan itu datang, tapi TERUSLAH BERUSAHA mengejar setiap kesempatan yang datang pada kita. Karena kita tidak akan pernah tahu, dimana dan kapan Tuhan menjatuhkan mimpi itu pada kita.

Sebuah jalan kecil bukan hanya dimana kita berjalan, tapi dimana kita bisa bergerak maju ke depan. 
Sebuah jalan dimana kita tidak dapat maju kedepan, bukanlah sebuah jalan. 

Sebuah jalan terbuka untuk semua orang, tapi tak semua orang bisa mendapatkan jalan.

Rabu, 14 Juni 2017

Dialog Muslim Vs Muslim Pendukung Ahok

Menjelang Pilkada 2017, berbagai wacana, isu, hingga pandangan bergulir di Ibu Kota DKI Jakarta. Baik yang beraroma positif, maupun negatif.
Salah satunya yang terbaru adalah sebuah dialog panjang antara seorang muslim dengan seorang muslim pendukung Ahok.
Isi dialog bertema “Dialog Muslim Vs Muslim Pendukung Ahok: Mematahkan Logika Muslim Pendukung Ahok” tersebut tersebar deras di berbagai media sosial.

Berikut petikan dialog soal pilihan politik tersebut:

DIALOG MUSLIM  VS  MUSLIM PENDUKUNG AHOK: 


Muslim Pendukung Ahok (MPA): "Gua Muslim tapi gua dukung Ahok. Hidup Ahok!"

Muslim: "Kalo yang non muslim dukung Ahok, wajar karena faktor sentimen agama. Tapi kenapa anda yang muslim dukung Ahok?"

MPA: "Semua orang Islam maling, semua orang Islam korupsi, yang bersih cuma Ahok!"

Muslim: "Semua orang Islam maling? Semua orang Islam korupsi? Yang bersih cuma Ahok? Kata siapa?"

MPA: "Ya baca aja Kompas, Detik, Tempo dan Tribunnews cs, tiap hari kan dimuat berita betapa bagusnya Ahok, dan dimuat berita korupsi orang-orang Islam. Makanya gua dukung Ahok. Ya, semua orang Islam maling, semuanya korupsi!"

Muslim: "Ooh media-media itu, pantes saja :), kerjaan media sekuler dan anti Islam ya memang gitu, memberitakan yang buruk-buruk tentang umat Islam, tapi kejahatan-kejahatan korupsi skala dewa Eddi Tansil, Hendra Rahardja, Samadikun Hartono, Anggoro Widjaja, David Nusa Wijaya, Maria Pauline, Andrian Kiki Ariawan, Eko Adi Putranto, Sherny Konjongiang, Sanyoto Tanuwidjaja, Theo Toemion, Olly Dondokambey, Rusman Lumbatoruan, Willem Tutuarima, Poltak Sitorus, Aberson M Sihaloho, Jeffey Tongas Lumban Batu, Matheos Pormes, Engelina A Pattiasina, Sengman Tjahja, Basuki, Elizabeth Liman, Yudi Setiawan, Artalyta Suryani dan kaum non muslim lainnya ditutup-tutupi :). Hmm, oke menjawab statemen anda, barusan anda mengaku muslim... Bapak anda Islam, kakek anda Islam.. Kalau anda bilang semua orang Islam maling dan korupsi... Berarti bapak anda juga maling? Bapak anda koruptor? Kakek anda maling? Kakek anda koruptor? Seluruh leluhur anda maling dan koruptor semua???"

MPA: "?!=÷&£[!÷»,"!¥}±"

Muslim: "Lho kok diam?"

MPA: "Enak aja lu ngomong! Iya bapak gua muslim, kakek gua muslim, kakek-kakek buyut gua juga muslim, gua sudah berpuluh-puluh generasi turun-temurun keluarga muslim, tapi bapak dan kakek-kakek buyut gua bukan maling dan koruptor lah! Gua turunan keluarga baik-baik bukan turunan maling!"

Muslim: "Nah! Jadi yang bersih cuma ahok, dan diluar Ahok dari milyaran umat Islam cuma bapak dan kakek-kakek buyut anda saja yang tidak korupsi?"

MPA: "Bukan gitu... Selain bapak dan kakek-kakek gua pasti banyaklah orang Islam yang gak korupsi! Orang Islam yang baik masih banyaklah"

Muslim: "Nah! Kalo umat Islam yang baik, berakhlak, beradab, berprestasi, santun, jujur dan bersih dari korupsi masih banyak... Alasan apa lagi anda pilih Ahok? Kinerja Ahok buruk, skandal korupsi banyak (baca: Korupsi Ahok), tutur kata dan perilaku teramat kasar, alasan apa lagi mendukung Ahok?"

MPA: "Ya terserah gualah, pokoknya gua cuma mau dukung Ahok, gpp kan gua pilih Ahok? Hak gua ini!"

Muslim: "Anda muslim kan?"

MPA: "Iyalah! Muslim 100%!"

Muslim: "Umat Islam tidak hanya punya hak, TETAPI JUGA PUNYA KEWAJIBAN!"

MPA: "Iya gua tau. Tiap hari gua sholat, bulan Ramadhan gua berpuasa, gua tunaikan zakat, dll. Gua selalu berusaha mentaati segala perintah Allah, dan menjauhi segala laranganNya"

Muslim: "Anda makan daging babi?"

MPA: "Hahaha... Aneh pertanyaan ente. Ya kagaklah!"

Muslim: "Kenapa anda tidak makan babi?"

MPA: "Ya karena Allah SWT Tuhan gua mengharamkan umat Islam memakan daging babi. Agama gua melarang coy, ya gua kagak mau makan babi! Najis tralala babi!"

Muslim: "Anda tau dari mana Allah SWT mengharamkan daging babi?"

MPA: "Ya dari Al-Qur'anlah, pedoman umat Islam kan Al-Qur'an"

Muslim: "Walaupun kata Ahok dan non muslim lainnya... Daging babi itu enak, daging babi itu gurih, daging babi itu menyehatkan, anda tetap menolak makan babi?"

MPA: "Cuih! Mau enak kek, mau lezat kek, mau menyehatkan kek, bukan urusan gua! Urusan gua adalah Allah SWT Tuhan gua memerintahkan umat Islam TIDAK makan babi, dan sebagai hambanya tentu gua terikat dengan perintah Tuhan gua, ya sampe kiamat gak bakal gua sentuh tuh daging babi! Najis!"

Muslim: "Oke. Bagus. Istri anda berjilbab?"

MPA: "Ya iyalah! Istri gua berjilbab. Dari sebelum menikah sama gua dia udah berjilbab, alhamdulillah istri gua orang yang taat sama agamanya, seorang muslimah yang istiqomah, bukan muslimah Islam KTP yang menyepelekan perintah Allah. Emak gua berjilbab, udah naik haji pula, masa' gak pake jilbab? Malu donk!"

Muslim: "Kenapa mereka berjilbab?"

MPA: "Lha pan Allah SWT yang suruh, menutup aurat itu perintah Allah SWT!"

Muslim: "Tau dari mana Allah SWT menyuruh muslimah menutup aurat?"

MPA: "Ya dari Al-Qur'anlah, pedoman umat Islam kan Al-Qur'an"

Muslim: "Tapi kata orang liberal kan berjilbab itu budaya Arab, dan banyak kalangan yang bilang 'jilbabkanlah hatimu dulu sebelum jilbabkan auratmu'"

MPA: "Mereka mau teriak itu budaya Arab kek, mau dibilang budaya Cina kek masa bodho amat! Yang gua pegang, taati dan jalani adalah perintah Tuhan gua, bukan kata-kata mereka. Pedoman hidup gua Al-Qur'an bukan Koran! Itu lagi aneh logika jilbabkan hati dulu... Gimana hatimu yang gak bisa kita liat bisa elu jilbabin kalo auratmu yang bisa diliat mata orang kagak bisa elu jilbabin?"

Muslim: "oke.. Kesimpulannya, walaupun katanya babi itu enak, walaupun katanya berjilbab itu budaya Arab dan gak perlu diikuti... Anda tetap mengharamkan babi dan mendukung pemakaian jilbab"?

MPA: "Tepat sekali! Terserah orang lain mau ngomong ape kek! Kalo Allah SWT udah kasih perintah, ayat-ayatnya jelas ada di Al-Qur'an, ya orang Islam wajib menjalankannya! Kalau ngaku Islam tapi menyepelekan apalagi melanggar perintah-perintah Allah... mending sekalian aja keluar dari Islam!"

Muslim: "Kalau Allah SWT melarang umat Islam memilih pemimpin non muslim termasuk Ahok.. Bagaimana?"

MPA: "Ya akan gua taatilah! Masa' perintah Allah untuk tunaikan sholat, perintah Allah untuk tunaikan zakat, perintah Allah untuk berpuasa di bulan Ramadhan, perintah Allah untuk haramkan babi, perintah Allah untuk kaum muslimah berjilbab, semuanya gua taati terus perintah Allah lainnya gua tabrak? Ya insya Allah tanpa gua pilah-pilah SELURUH perintah Allah SWT akan gua turuti!"

Muslim: "Sudah tau perintah Allah haramnya umat Islam memilih pemimpin non muslim?"

MPA: "Belum tau, emang ada?"

Muslim: "Ada, banyak perintah Allah tentang haramnya umat Islam memilih non muslim sebagai pemimpin antara lain di Al-Qur'an ayat: Ali Imran 28, Al Maidah 51, An Nisa 144, Al Maidah 57 dll, sangat banyak ayatnya. Sedikit pesan untuk anda, Jangan cari pembenaran yang kita pikir kita bisa lebih hebat dari apa yg telah Allah perintahkan ke kita. Jangan menyangkal ayat-ayat Allah dengan logika sendiri"

Muslim (Eks MPA): "Astaghfirullahaladzim... Ya Allah Ya Rabbi... " (Mata berkaca-kaca menahan tangis)"

Muslim: "Kenapa saudaraku?"

Muslim (Eks MPA): "Banyak sekali ayat-ayat Allah melarang memilih pemimpin non muslim, Baru tau gua! Allah mengharamkan umat Islam makan daging babi aja gua taati sepenuhnya padahal ayat larangannya dalam Al-Qur'an cuma sedikit, lha ini larangan memilih pemimpin non muslim ayatnya seabreg gini udah gua injak-injak? Malu aku malu ya Allah!!!... Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah kekhilafanku, aku ingin mati dalam iman dan taat kepadamu SEPENUHNYA ya Allah... Maafkan aku ya Allah!!!..."

Muslim: ":) Aamiiin. Tidak ada kata terlambat wahai saudaraku. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Pemurah. Yang penting setelah tau perintah Allah, ya kesalahannya jangan diulang lagi"

Muslim (Eks MPA): "Tentu! Terima kasih saudaraku! Sekarang gua akan memberitahukan kepada umat Islam lainnya keberadaan ayat-ayat Al-Qur'an tentang haramnya memilih pemimpin kafir"

Muslim: "Baguslah. Karena memang kewajiban sesama umat Islam untuk saling mengingatkan :)" 
(iy)

Editor : Redaktur | teropongsenayan.com

http://www.teropongsenayan.com/33408-heboh-beredar-dialog-muslim-vs-muslim-pendukung-ahok

Selasa, 13 Juni 2017

WAJAH MANUSIA..…

MANUSIA..…OOOHH ... MANUSIA

- Ada yang menunggu memiliki harta melimpah, baru dapat menikmati hidup dengan bahagia.
Padahal jika mau hidup dengan bahagia maka kita pasti akan mendapat banyak limpahan rezeki yang melimpah.

- Ada yang menunggu bahagia, baru dapat tersenyum.
Padahal jika mau tersenyum dengan tulus, maka kita pasti akan memperoleh kebahagiaan.

- Ada yang menunggu kaya, baru dapat bersedekah. Padahal jika mau bersedekah dengan ikhlas maka kita pasti akan semakin kaya, kaya iman dan amal.

- Ada yang menunggu dimotivasi, baru dapat memulai usaha. Padahal jika mau berusaha dengan keras maka kita pasti akan termotivasi untuk maju.

- Ada yang menunggu dipedulikan, baru dapat peduli.
Padahal jika mau peduli dengan tulus maka kita pasti akan dipedulikan orang lain.

- Ada yang menunggu dipahami, baru dapat memahami orang. Padahal jika mau memahami orang dengan bijak, maka orang lain pasti akan memahami apa yang kita kehendaki.

- Ada yang menunggu disayangi, baru dapat menyayangi. Padahal jika mau menyayangi dengan sepenuh hati maka kita pasti akan disayangi.

- Ada yang menunggu contoh, baru dapat bergerak mengikuti. Padahal jika mau bergerak dengan kreatif dan inovatif maka kita akan menjadi contoh dan pedoman yang diikuti oleh banyak orang.

- Ada yang menunggu bisa, baru dapat bertindak.
Padahal jika mau bertindak maka kita pasti akan bisa melakukan.

- Ada yang menunggu sukses, baru dapat bersyukur.
Padahal jika mau bersyukur maka kita pasti akan memperoleh kesuksesan yang berlipat ganda.

- Ada yang menunggu tua, baru dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Padahal jika mau berdoa dan meminta petunjuk dari Tuhan setiap saat, maka di hari tua, kita pasti akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman jiwa.

by Firman Bossini

Minggu, 11 Juni 2017

Jadilah Hamba Allah Yang Bersyukur

Apakah Makna Syukur?

Syukur secara bahasa,

“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” 
(Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). 

Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.

Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).

Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,

“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” 
(QS. Al-Qashash: 78).


Syukur Adalah Salah Satu Sifat Allah

Ketahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. 

Allah Ta’ala berfirman

“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura: 23).

Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath-Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah, “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531).

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman

“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At-Taghabun: 17).

Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/141).

Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.


Syukur Adalah Sifat Para Nabi

Senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat Allah, walau cobaan datang dan rintangan menghadang, itulah sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihissalam,

“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra: 3).

Allah Ta’ala menceritakan sifat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik, Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus” (QS. An-Nahl: 120-121).

Dan inilah dia sayyidul anbiya, pemimpin para Nabi, Nabi akhir zaman, Muhammad  Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak luput dari syukur walaupun telah dijamin baginya surga. 

Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha,

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” 
(HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).


Syukur Adalah Ibadah

Allah Ta’ala dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. 

Allah Ta’ala berfirman, 

Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (QS. Al Baqarah: 152)

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172).

Maka bersyukur adalah menjalankan perintah Allah dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah.


Buah Manis dari Syukur

  1. Syukur Adalah Sifat Orang Beriman

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” 
(HR. Muslim no.7692).

  1. Merupakan Sebab Datangnya Ridha Allah

Allah Ta’ala berfirman,

“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7).

  1. Merupakan Sebab Selamatnya Seseorang Dari Azab Allah

Allah Ta’ala berfirman,

“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa: 147).

  1. Merupakan Sebab Ditambahnya Nikmat

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7).

  1. Ganjaran Di Dunia dan Akhirat

Janganlah Anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).

Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263).


Tanda-Tanda Orang yang Bersyukur

  1. Mengakui dan Menyadari Bahwa Allah Telah Memberinya Nikmat

Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini. 

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata,

“Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim no.73).

  1. Menyebut-Nyebut Nikmat yang Diberikan Allah

Mungkin kebanyakan kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan yang kita hadapi dan mengeluhkannya kepada orang-orang. “Saya sedang sakit ini.” “Saya baru dapat musibah itu..” “Saya kemarin rugi sekian rupiah..”, dll. Namun sesungguhnya orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,

“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh-Dhuha: 11).

Namun tentu saja tidak boleh takabbur (sombong) dan ‘ujub (merasa kagum atas diri sendiri).

  1. Menunjukkan Rasa Syukur dalam Bentuk Ketaatan kepada Allah

Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia enggan shalat, enggan belajar agama, enggan berzakat, memakan riba, dll. Jauh antara pengakuan dan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Ali Imran: 123).

Maka rasa syukur itu ditunjukkan dengan ketakwaan.

Tips Agar Menjadi Orang yang Bersyukur

  1. Senantiasa Berterima Kasih kepada Orang Lain

Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Beliau juga bersabda,

“Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut bisa sudah membalas dengan serupa atas kebaikan ia” 

(HR. Abu Daud no. 1672, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan, ‘Jazaakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

  1. Merenungkan Nikmat-Nikmat Allah

Dalam Al-Qur’an sering kali Allah menggugah hati manusia bahwa banyak sekali nikmat yang Ia limpahkan sejak kita datang ke dunia ini, agar kita sadar dan bersyukur kepada Allah. 

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78).

  1. Qana’ah

Senantiasa merasa cukup atas nikmat yang ada pada diri kita membuat kita selalu bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, orang yang senantiasa merasa tidak puas, merasa kekurangan, ia merasa Allah tidak pernah memberi kenikmatan kepadanya sedikitpun. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur”(HR. Ibnu Majah no. 3417, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

  1. Sujud Syukur

Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mendapat kenikmatan yang begitu besar adalah dengan melakukan sujud syukur.

“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits Radhiallahu’anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggemberikan beliau bersimpuh untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah” (HR. Abu Daud no.2776, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil).

  1. Berdzikir

Berdzikir dan memuji Allah adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Ada beberapa dzikir tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah khusus mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Barangsiapa pada pagi hari berdzikir: Allahumma ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru.”

(Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu)

Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur” 

(HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin).


Cara Bersyukur yang Salah

  1. Bersyukur kepada Selain Allah

Sebagian orang ketika mendapat kenikmatan, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada selain Allah, semisal kepada jin yang mengaku penguasa lautan, kepada berhala yang dianggap dewa bumi, atau kepada sesembahan lain selain Allah. Kita katakan kepada mereka,ěž
Apakah engkau kufur kepada Dzat yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian mengubahnya menjadi nutfah lalu menjadikanmu sebagai manusia?” (QS. Al-Kahfi: 37).

Allah Ta’ala yang menciptakan kita, menghidupkan kita, dari Allah sematalah segala kenikmatan, maka sungguh ‘tidak tahu terima kasih’ jika kita bersyukur kepada selain Allah. Dan telah kita ketahui bersama bahwa syukur adalah ibadah. Dan ibadah hanya pantas dan layak kita persembahkan kepada Allah semata. Tidak ada sekutu baginya. Allah Ta’ala juga berfirman,

“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur” (QS. Az-Zumar: 66).
  1. Ritualiasasi Rasa Syukur yang Tidak Diajarkan Agama

Mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk ritual sah-sah saja selama ritual tersebut diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
Misalnya dengan sujud syukur atau dengan melafalkan dzikir. Andaikan ada bentuk lain ritual rasa syukur yang baik untuk dilakukan tentu sudah dicontohkan oleh Rasulullah 
Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. 
Lebih lagi sahabat Nabi yang paling fasih dalam urusan agama, paling bersyukur diantara ummat Muhammad  Shallallahu’alaihi  Wasallam, yang mereka jumlahnya puluhan ribu dan di antara mereka ada yang masih hidup satu abad setelah Rasulullah wafat, sebanyak dan selama itu tidak ada seorang pun yang terpikir untuk membuat ritual semacam perayaan hari ulang tahun, ulang tahun pernikahan, syukuran rumah baru, sebagai bentuk rasa syukur mereka. 

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Barang siapa yang melakukan amalan (ibadah) yang tidak berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”
 (HR. Bukhari no.20, Muslim no.4590).


Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.

Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa huni ‘ibadatika

“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”

***

Disarikan artikel berjudul ‘Asy Syukru’ karya Syaikh Dr. Mihran Mahir Utsman hafizhahullah dengan beberapa tambahan. 


By Yulian Purnama 25 May 2017


Penyusun: Yulian Purnama
Artikel: Muslim.or.id