Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 September 2013

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. Subhanallah, menakjubkan

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. Subhanallah, menakjubkan!



“Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an…”.
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.
Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur’an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204)


http://www.arrahmah.com/read/2012/06/26/21226-penelitian-ilmiah-pengaruh-bacaan-al-quran-pada-syaraf-otak-dan-organ-tubuh-lainnya-subhanallah-menakjubkan.html#sthash.v4phdiKb.dpuf

Kebenaran Islam tentang jantung manusia yang ditulis oleh Al-Qur'an



Ilustrasi
(Arrahmah.com) – Paper itu ditulis oleh Marios Loukas, Yousuf Saad, Shane Tubbs dan Mohamadali Shoja. Penulis pertama, Marios Loukas adalah seorang Profesor di St. George University dengan bidang riset seputar jantung, teknik dan anatomi pembedahan, arteriogenesis hingga pendidikan medis.
Pencarian dengan menggunakan portal ISIWeb Knowledge menyebutkan sekitar 280 paper ilmiah yang pernah ditulis oleh Marios Loukas di bidang jantung. Ini menunjukkan kredibilitas beliau sebagai pakar yang berkompeten untuk berbicara soal jantung, termasuk tulisannya yang membicarakan jantung di dalam Al Quran dan Hadits.
International Journal of Cardiology itu sendiri termasuk jurnal ternama di bidang jantung. Nilai Impact factor jurnal tersebut sekitar 3. Paper yang diterbitkan itu dapat dilihat di http://www.internationaljournalofcar…566-X/abstract

Dr. Marios Loukas

Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata “heart” dalam dunia kedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun “hati” dalam kedokteran adalah liver. Karena itu kata ?qalb? dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi “heart”, yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.
Ada sejumlah hal menarik dari paper tersebut.
Paper tersebut dikirim dan sampai (received) ke jurnal tersebut pada tanggal 7 Mei 2009. Ternyata, hanya dalam 5 hari kemudian tanggal 12 Mei 2009, paper tersebut langsung disetujui (accepted) oleh editor jurnal tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, proses ini sangat-sangat cepat. Rata-rata sebuah paper membutuhkan waktu satu hingga beberapa bulan untuk dapat disetujui oleh editor jurnal. Bahkan ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Lamanya proses itu salah satunya karena adanya diskusi panjang dengan reviewer atau pihak ketiga yang memberikan penilaian layak tidaknya sebuah paper untuk dapat diterbitkan di sebuah jurnal ilmiah. Dugaan saya, proses yang hanya lima hari sejak proses received hingga accepted ini disebabkan karena editor langsung setuju dengan isi paper tersebut sehingga tidak diperlukan lagi proses pengecekan oleh pihak ketiga.
Paper itu sendiri terbit secara online pada 25 Agustus 2009. Kemudian dicetak dalam edisi kertas baru-baru saja, pada 1 April 2010.
Dalam pengantarnya, penulis menjelaskan kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi dari sejumlah teks-teks agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Padahal beliau menyebut deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur bedah, karakteristik fisiologi dan pengobatan medis, “Found within the Qur’an and Hadeeth are accurate descriptions of anatomical structures, surgical procedures, physiological characteristics, and medical remedies.” Paper itu ditulis sebagai review atau rangkuman untuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan Hadits dengan fokus khusus pada sistem jantung “to accurately present the anatomical and medical contributions of the Qur?an and Hadeeth, with specific focus on the cardiovascular system.”
Setelah menyebutkan sejarah singkat Al Quran dan Hadits, Marios Loukas menjelaskan perbedaan kontras dalam Islam dan Kristen mengenai hubungan antara agama dan sains. Dalam sejarah Kristen di abad pertengahan dan masa Renaissance, pengaruh gereja Kristen melumpuhkan (stifle) perkembangan sains, bahkan jika pengamatan sains tersebut sebenarnya didukung oleh perhitungan dan pemikiran rasional. Sementara, sains di era kejayaan Islam berkembang luas disebabkan ajaran Islam mendorong (encourage) dan mendukung riset sains. Selain itu, dalam Islam pencarian ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah kepada Tuhan (an act of worship to God).
Paper itu menjelaskan tentang pandangan umum tentang pengobatan dalam Al Qur’an dan Hadits. Diantaranya, Allah SWT yang menciptakan penyakit, dan setiap penyakit itu selalu ada obat dan metode penyembuhannya. Sebuah penyakit yang sembuh terjadi karena adanya ijin dari Allah SWT (permission of God). Ada dua macam perlakuan (treatment) untuk proses penyembuhan suatu penyakit, yaitu secara spiritual dan fisik. Sebab, Al Quran menyebut penyakit tidak hanya berupa penyakit fisik, namun juga penyakit yang  ”tersembunyi” seperti keragu-raguan (doubt), kotoran keimanan (impurity), kemunafikan (hypocrisy) dan tidak beriman (disbelief) dan dusta (falsehood).
Selain penyakit batin tersebut, Al Quran dan Hadits juga mendiskusikan beberapa penyakit fisik seperti sakit perut (abdominal pain), mencret (diarrhea), demam (fever), penyakit kusta (leprosy), and penyakit mental. Diantara obat yang manjur adalah madu karena mengandung gula, vitamin dan anti mikroba. Selanjutnya Al Quran berbicara tentang makanan apa saja yang haram dikonsumsi, seperti bangkai, darah, daging babi serta yang disembelih tidak atas nama Allah.
Mengenai sistem jantung, darah dan sirkulasinya, penulis menyebut tentang sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf 16). Ini menunjukkan relasi antara Allah SWT dengan hamba-Nya, sekaligus mengisyaratkan pentingnya pembuluh darah di leher dan hubungannya dengan jantung.
Panjang lebar, penulis paper tersebut juga mengupas jantung, penyakit yang berkaitan dengan jantung, serta kontribusi Al Qur?an dan Hadits bagi dunia medik. Seperti, pembuluh darah aorta, diskusi seputar darah pada penyembelihan binatang. Al Quran juga menyebut ada tiga kelompok manusia berdasarkan keadaan ?heart?, yaitu orang yang beriman (believers) yang memiliki heart yang hidup, orang kafir (rejecters of faith) yang memiliki heart yang mati, dan orang munafik (the hypocrites) yang ada penyakit dalam heart. Karena itu Marios Loukas menyatakan bahwa heart memiliki dua tipe, yaitu spiritual heart dan physical heart. Tiga kategori itu termasuk ke dalam spiritual heart. Ia juga menyebutkan bahwa ulama (scholars) membagi dua jenis penyakit dalam spiritual heart, yaitu syubuhat dan syahwat.
Bagian yang juga menarik, ketika secara tidak langsung gaya hidup manusia yang dikehendaki oleh Allah SWT, membuat kemungkinan terkena penyakit jantung menjadi lebih kecil, seperti melakukan aktivitas spiritual, makan secukupnya, bekerja secara fisik, tidak marah dan iri hati, menjauhi keserakahan, serta menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang dilarang. Termasuk dibahas pula gerakan-gerakan shalat (berdiri, sujud duduk) yang berhubungan dengan kesehatan, sampai-sampai gerakan orang shalat yang malas seperti yang dilakukan oleh orang munafik dikecam dalam Al Quran. Hingga dibahas pula, larangan Islam untuk mengkonsumsi alkohol untuk khamar yang bisa ditinjau dari segi kesehatan. Sebab, alkohol berpengaruh pada seluruh organ tubuh, seperti liver, lambung, usus, pankreas, jantung dan otak dan dapat menyebabkan sejumlah penyakit, seperti liver cirrhosis, pancreatic insufficiency, cancer, hypertension dan heart disease.
Di bagian kesimpulan, penulis menyatakan bahwa Al Qur’an dan ucapan Nabi Muhammad merupakan teks agama, spiritual dan sekaligus saintifik, serta memberikan pengaruh (influence) bagi ilmu medik dan anatomi. Setelah panjang lebar menjelaskan, penulis menyatakan bahwa jantung (heart) sesungguhnya berisi unsur hati, kecerdasaan dan emosi, sebagaimana juga unsur fisik tubuh yang dapat mengalami sakit, seperti pembekuan darah dll. Penulis juga menyatakan bahwa saintis Eropa di abad pertengahan gagal dalam mengambil manfaat dari Islam, disebabkan oleh beberapa kemungkinan diantaranya proses penterjemahan yang buruk.
Menurut pengamatan saya, Al Qur’an memang bukan kitab sains, namun petunjuk hidup bagi manusia. Bagi orang yang beriman, Al Qur’an juga tidak butuh bukti untuk kebenaran isinya. Namun demikian, adanya sejumlah isyarat-isyarat ilmiah yang belakangan terbukti sesuai dengan perkembangan sains modern semakin menunjukkan bahwa Al Quran bukanlah sebuah kitab yang biasa, tetapi sebuah mukjizat dari Allah SWT. Inilah domain yang dimasuki oleh Marios Loukas dan partnernya. Orang seperti Marios Loukas dengan kepakarannya di bidang jantung sangat tepat untuk membahas masalah ini. Tentu, usaha ini patut mendapat apresiasi dari kita, kaum muslimin. Salah satunya, beberapa saintis Turki menulis paper di jurnal tersebut yang berjudul  “Islamic legacy of cardiology: Inspirations from the holy sources”, sebagai kelanjutan dari paper Marios Loukas tersebut.
Disamping itu pula, sudah menjadi sunnatullah jika gembong anti Islam selalu menampakkan kebenciannya terhadap setiap upaya untuk memajukan Islam. Kalangan anti Islam dari kelompok faithfreedom.org misalnya, mereka sangat tidak suka ketika jurnal Cardiology itu menerbitkan paper tersebut. Bahkan salah satunya seperti Syed Kamran Mirza sampai menulis surat kepada jurnal tersebut agar menarik paper tersebut. Tentu saja permintaan itu ditolak.
Semoga informasi ini bisa menjadi tambahan inspirasi untuk kaum muslimin, untuk selalu menjadi yang terbaik di bidang masing-masing, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan juga menjadi tambahan keimanan bagi kita, kaum muslimin. Wallahu a’lam bish showab..


(saif/zilzaal/arrahmah.com)

Bukti Kebesaran Allah Pada TULANG EKOR



TULANG SULBI (TULANG EKOR) MANUSIA dan KEBENARAN HADIST NABI SAW

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Sahabat tahu tulang sulbi manusia? Ya, itu tulang yang berada pada setiap manusia. Sahabat mau tahu seperti apa? Coba dilihat di bawah ini:

Tulang sulbi
atau dengan bahasa Inggrisnya adalah Coccyx ini adalah bagian tulang dari tubuh manusia. Terletak pada bagian terbawah dari tulang belakang.

Tulang sulbi ini adalah tulang yang pertama kali ketika manusia diciptakan oleh Allah. Dari tulang inilah nantinya manusia dibangunkan pada hari akhir. Hebatnya lagi tulang sulbi ini tak akan hancur dimakan tanah.

Tulang sulbi sering disebutkan dalam hadits yaitu, dari Abu Huairah Nabi bersabda, “Sesungguhnya bagian tubuh manusia akan rusak, kecuali “tulang sulbi”, dari tulang ini pertama kali manusia diciptakan, dan dari tulang ini manusia dibangunkan dari kematian di hari akhir” (HR. Bukhari, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Dan ada satu lagi hadits tentang tulang sulbi ini:

Dari Abu Huairah Nabi bersabda, “Ada satu tulang yang tidak akan dimakan tanah. Mereka bertanya,”tulang apa ya Rasul?” Nabi menjawab” Tulang Sulbi”. (HR. Bukhari, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah)

fakta, bahwa hadits ini benar.

Seorang dokter yang berama Dr. Othman Al-Djilani dan syaikh Abdul Majid melakukan sebuah eksperimen terhadap tulang sulbi ini. Pada bulan Ramadhan 1423 atau sama dengan 2002 di tahun Masehi di Yaman.

Mereka berdua memanggang tulang punggung berikut juga dengan tulang sulbi. Dengan gas selama 10 menit hingga sampai benar-benar terbakar (tulang-tulang berubah menjadi mereha kemudian menghitam).

Kemudian mereka berdua meletakkan potongan-potongan yang telah gosong itu pada kotak steril.

Kemudian kotak steril itu mereka bawa ke labolatorium analisa terkenal di Sanaa, Yaman. Nama labolatorium itu adalah (Al Olaki Labolatory) –> Oke, tak perlu dihapal, tidak ada dalam UN kok. Hehe

Dr. Al Olaki, juga merupakan seorang professor di bidang histologi dan pathologi di Sanaa University, di Yaman. Ia menganalisa hasil potongan-potongan tulang tersebut dan menemukan bahwa sel-sel pada jaringan tulang sulbi (coccyx) dapat bertahan terhadap pembakaran.

Ternyata hanya sel-sel otot, sumsum, dan jaringan lemak saja yang terbakar. Sementara sel-sel tulang sulbi tidak terpengaruh.

Percobaan yang diatas ini membuktikan bahwa, hadits itu benar. Tulang sulbi akan tetap akan. Tak dimakan tanah, tak hancur terbakar, tahan pada kondisi apapun. SubhanaAllah bukan? Itulah, hebatnya Allah.

Jika kita gali ilmu-ilmu-Nya betapa kecilnya kita ini dihadapan Allah. Dunia saja ibarat butiran-butiran pasir. Bagaimana dengan kita yang lebih kecil daripada bumi? Sungguh Allah itu maha besar maha mengetahui.

1400 tahun yang silam Nabi sudah bersabda tentang tulang sulbi ini. Sudah terbukti hingga sekarang! So, kenapa harus ragu sama Allah?

Silahkan share/bagikan,  Semoga ilmunya bermanfaat, aamiin

* ALLAH MAHA BESAR !!! ... BAYI DALAM KANDUNGAN BERSUJUD KETIKA MENDENGARKAN LANTUNAN ALQUR'AN  ... Lihat Selengkapnya > http://on.fb.me/1460YyF
---------------------------------------------------------------
Pusat Busana Muslim Modern Terbaru dan Sarimbit Keluarga Lebaran 2013, Gabung jadi Reseller tanpa modal ? kunjungi di @[139946459415647:274:GALERI MUSLIMAH MODERN (GMM)]  <klik>  http://goo.gl/xa5Lr

Bukti kebesaran Allah pada tulang ekor


Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat ( HR. Al Bukhari , Nomor : 4935 )

Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk” (QS. Yasin : 78-79).

Adalah Han Spemann, Ilmuwan Jerman yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935. Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Darinyalah makhluk hidup bermula. Dalam penelitiannya ia memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu mengimplantasikan ke dalam embrio Organizer atau pengorganisir pertama


Pada saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan.

Pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus.

Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan bagian belakang yang disebut primitive node (gumpalan sederhana).

Dari sinilah beberapa unsure dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk.
- Ectoderm, membentuk kulit dan sistem syaraf pusat.
- Mesoderm, membentuk otot halus sistim digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa, limpa dan kulit luar.
- Sedangkan, Endoderm, membentuk lapisan pada sistim digestive, sistem pernafasan, organ-orang yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pancreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang mereka sebut sebagai TULANG EKOR.

Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang sangat lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.

Dr. Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama 10 menit. Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, pfofesor bidang histology dan pathologi di Sana’a University, ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih lama.

Lebih dari itu berdasarkan penelitian mutakhir, sebagaimana yang disampaikan oleh Jamil Zaini, Trainer Asia Tenggara Kubik Jakarta ketika mengisi acara buka puasa bersama di al Azhar-Solo Baru dengan tajuk, “Inspiring Day; Inspiring The Spirit of Life”, tulang ekor ini merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka. Dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya. Putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energy positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energy negative atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya.

Dari sinilah, balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah tertukar. Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dicipta, dan mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka. Ajaibnya, ini semua sudah disabdakan oleh Nabi berpuluh abad yang lalu.

“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat.” (HR. al Bukhari, nomor 4935).

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (nomor 2955),
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali.”

Dari petunjuk hadist di atas, Ilmuwan muslim pada paruh kedua abad ke-20 telah mendasarkan pemahaman mereka mengenai kemukjizatan hadis tentang tulang ekor ini pada kaidah pengetahuan yang paling dasar, yaitu “Tulang ekor merupakan bagian pertama yang tumbuh dari janin, biasa disebut dengan primitive streak, yaitu bagian utama yang terbentuk pada minggu ketiga”.

Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami pada alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Fushshilat: 53)






Kamis, 14 Mei 2009

Menjelajah Angkasa ; Mengintip Luar Angkasa


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran 3: 190-191)

Di dalam ayat yang sudah cukup sering dikumandangkan tersebut, Allah swt. menjelaskan perihal dua ciri orang-orang yang berakal. Pertama, mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Kedua, memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.? Kesimpulannya, orang yang berakal adalah mereka yang mengingat Allah dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.

Begitulah Allah swt. dalam ayat tersebut menjelaskan ciri-ciri orang-orang yang berakal dengan bahasa yang sangat jelas dan santun. Namun sadarkah kita, bahwa dalam ayat tersebut juga terkandung sindiran dan peringatan yang sangat besar dari Allah SWT bagi manusia?

Secara tidak langsung, Allah menyindir dan memperingatkan manusia yang tidak mengingat Allah serta tidak memikirkan penciptaan langit dan bumi dengan sebutan manusia yang tidak berakal. Mereka disebut tidak berakal karena tidak memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah swt. yang terdapat di langit dan bumi. Mereka tidak menelaah apa dan bagaimana langit dan bumi itu untuk memahami kemahakuasaan Allah swt. Ironisnya, manusia ternyata bukan hanya tidak memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, tetapi juga tidak merasa disindir oleh ayat tersebut, dan bahkan tidak merasa sebagai orang yang tidak berakal ketika mengingkari dan tidak memikirkan itu semua.

Alam langit dan bumi memang menyimpan tanda-tanda kebesaran Allah swt. yang jumlahnya tak terhingga. Tanda-tanda itu ada yang bisa langsung terlihat secara mudah dan kasat mata, tetapi banyak juga yang perlu dipelajari, dipikirkan dan direnungkan. Dengan berusaha mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah itu, manusia akan tergiring hatinya untuk semakin dekat dengan-Nya. Memahami kehebatan, kecanggihan dan keharmonisan jagat raya ini juga tentunya akan membuat manusia menyadari bahwa sesungguhnya semua yang ada di alam semesta ini sudah sengaja direncanakan, dibuat, diatur, dan dijaga oleh-Nya.

Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilalil Quran menyatakan bahwa jika kita membuka pandangan, hati, dan pikiran terhadap pemandangan langit dan bumi serta memperhatikan pergantian malam dan siang, dan menghadapinya bagai menyaksikan pemandangan yang baru, niscaya akan terbelalaklah mata kita. Bila kita bebaskan perasaan kita dari kebekuan dan kejumudan, niscaya akan tergeraklah kesadaran kita, akan berkembang perasaan kita, dan akan kita rasakan bahwa di balik kerapian dan keteraturan itu pasti ada tangan yang mengaturnya. Di belakang pengaturannya pasti ada akal yang merencanakannya, dan di balik keteraturannya pasti ada undang-undang baku yang tidak akan pernah berganti. Semua itu tidak mungkin terjadi dengan sulapan, tak mungkin terjadi secara kebetulan, dan tak mungkin terjadi secara batil.

Memahami kebesaran Allah swt. melalui apa yang ada di atas kepala kita ?angkasa dan luar angkasa?adalah sesuatu yang penting untuk kita lakukan. Jutaan ton awan yang melayang di atas kepala kita saja sesungguhnya sudah mengandung banyak sekali ilmu dan pelajaran yang bisa kita dalami. Belum lagi atmosfer di angkasa kita yang terdiri dari tujuh lapis dengan detail-detail yang sangat unik dan menarik di tiap-tiap lapisannya tentu menjadi tanda-tanda kebesaran Allah swt. yang bisa mengokohkan keyakinan dan penghambaan kita kepada-Nya.

Apalagi apabila kita terus melesat ke atas mencoba mengungkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ada di gugusan bintang-bintang dan galaksi yang jumlahnya tak terhingga dan betebaran di jagat raya. Ilmu astronomi ?yang masih belum begitu populer di kalangan masyarakat awam? menjadi salah satu jembatan penting bagi kita untuk menemukan, mengenali, dan mempelajari penghuni-penghuni jagat raya yang letaknya sangat jauh dari bumi. Teleskop yang telah dirancang oleh para pendahulu kita, tentu sangat membantu menangkap sinar-sinar bintang yang yang bisa memberikan informasi tentang sebagian isi jagat raya.

Namun, tentu saja penelusuran manusia tentang langit dan bumi tak akan pernah berakhir, sebab kebesaran Allah swt. benar-benar tak terhingga sedang kemampuan dan kepandaian manusia benar-benar sangat terbatas. Entah ada apa lagi di sana, di luar batasan ruang dan waktu yang teramati oleh manusia. Bintang-bintang yang sekarang bisa kita lihat pun ternyata hanya hiasan dari langit yang terdekat. Allah swt. berfirman, ?Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.? (Q.S. Al Fushilat 41: 12)

Akhirnya, dengan mencoba memahami apa yang ada di langit dan bumi sembari mengingat kebesaran-Nya, kita pun berharap bisa menjadi golongan orang-orang yang berakal sebagaimana yang disyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya. Semoga relung hati kita yang tadinya masih diselubungi kebodohan dan kesombongan akan menjadi bersih, sebersih lensa-lensa teleskop yang bisa menangkap cahaya bintang-bintang jagat raya yang sangat redup sekalipun karena jaraknya berjuta tahun cahaya dari permukaan bumi tempat kita berpijak ini.

Tak Pernah Dapat ditiru Manusia.............


Jantung adalah salah satu organ tubuh terpenting kita, dan, karenanya, terletak di tempat paling aman. Jantung ditempatkan di dalam tulang rusuk kita agar terlindung dari benturan luar. Jantung kita mulai berdenyut saat kita masih di dalam rahim ibu kita, dan terus berdenyut 70 hingga 100 kali per menit tanpa pernah berhenti.

Jantung hanya beristirahat setengah detik di antara tiap denyutannya, dan denyut jantung rata-rata orang sehat adalah 10.000 kali per hari. Selama hidup, jumlah ini keseluruhannya menjadi 255 juta denyut jantung. Jantung kita memiliki empat bilik yang membantu memompa darah beroksigen dan tak beroksigen ke wilayah berbeda pada tubuh kita, tanpa saling bercampur.

Masing-masing bilik memiliki katup yang membuka dan menutup seiring detakan jantung, dan dengan adanya semua bagian ini, jantung kita memperlihatkan rancangan sempurna. Struktur sempurna ini menunjukkan pada kita bahwa jantung dibuat oleh Pencipta, dan Pencipta itu adalah Allah, Tuhan seluruh alam. Allah berfirman dalam Al Qur'an:

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (TQS. Al An'am, 6:102)

Penelitian tentang organ buatan telah semakin meningkat dengan penggunaan teknologi maju masa kini. Salah satunya adalah jantung buatan. Sebagaimana aslinya, jantung buatan pun terdiri atas dua bilik. Itulah satu-satunya persamaan antara keduanya. Para peneliti menempatkan sebuah motor di antara kedua biliknya. Motor ini menekan dinding-dalam kedua bilik tersebut. Dan jantung pun berdenyut.

Terdapat sebuah penampung di dalam pemompa jantung buatan. Dan terdapat satu sistem lagi untuk memompa darah di dalam penampung tersebut. Pada jantung asili, penampung itu sendirilah yang bertindak sebagai pompa. Ini jauh lebih baik. Jantung buatan bekerja dengan sebuah baterai yang ditempatkan di dalam perut. Baterai ini perlu terus-menerus diisi ulang dengan gelombang radio dari kotak baterai yang jauh lebih besar.



Jantung asli diberi makan dan tenaga oleh darah yang dipompanya. Ini membuatnya mampu bekerja 50 hingga 60 tahun tanpa perlu perbaikan. Jantung asli mampu memperbaiki dirinya sendiri. Karenanya, jantung asli tak pernah kehilangan kemampuan untuk tetap bekerja. Semua ciri jantung asli ini membuatnya sungguh istimewa.

Steven Vogel, seorang perekayasa dari Duke University di Amerika, menyatakan bahwa jantung manusia takkan pernah dapat ditiru: Ini karena mesin yang kita punyai, berapa pun keluaran tenaga atau daya-kerjanya, bekerja dengan sangat berbeda... Otot (jantung) adalah mesin yang lembut, basah, selalu mengembang dan mengerut; dan itu sungguh tidak mirip dengan apa pun yang ada dalam perbendaharaan teknologi kita. Jadi, Anda takkan mampu meniru sebuah jantung. (Robert Kunzig, The Beat Goes On,Discover, Januari 2000)

Singkatnya, dengan semua teknologinya, manusia takkan pernah mampu membuat jantung. Mereka yang menyatakan bahwa jantung dan keseluruhan tubuh yang melingkupinya ada tanpa melalui penciptaan sengaja, jelas telah melakukan kesalahan besar. Allah memerintahkan kita untuk merenungkan bukti-bukti penciptaan, dan bersyukur kepadaNya:

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (QS. Al Infithaar, 82:6-8)

Subhanallah !
Sumbangan Tulisan dari : Relawan
Author : PercikanIman.ORG

Iptek Untuk Akherat .............


"..semakin sains dan teknologi berkembang, terindikasi semakin sedikit manusia yang bersyukur. Malah kejahatan dikalangan manusia bertambah kejam. Adakalanya manusia bukan lagi seperti manusia lagi, karena sudah hilang kemanusiaanya..”

Didalam kamus bahasa, Sains diartikan dengan ilmu pengetahuan yang sistematik, boleh diuji dan dibuktikan kebenarannya. Selain itu juga sebagai cabang ilmu pengetahuan yang berdasar kebenaran dan kenyataan seperti fisika, kimia, biologi, matematika, astronomi dan lain sebagainya.

Kemudian Teknologi adalah aftifitas canggih “pada saat itu” dengan berdasar pada pengetahuan sains untuk tujuan memudahkan pekerjaan manusia seperti dibidang komunikasi, industri, perdagangan, pertanian dan sebagainya.

Seperti yang telah kita ketahui dan rasakan bersama bahwa berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi. Maka proses dakwah dan ukhuwah Islam bisa lebih maju dan semakian cepat berkembang dimanapun berada.

Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melaju terus demi menciptakan cara dan metoda yang mudah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Apa yang diinginkan manusia akan mudah dicapai, apa yang diangankan dengan mudah didapat. Tetapi apakah semua itu pasti memberikan kesejahteraan dan kedamaian di dunia ini ? Tentu Tidak ! begitulah jawabnya, sebagian manusia akan merasa bahagia dengan teknologi , dibelahan bumi lain sebagian manusia menderita dan terkoyak kedamaiannya karena teknologi itu sendiri. Itupun yang terjadi di alam dunia, bagaimana dengan jaminan keselamatan di akhirat kelak ? bukankah kita mengaku beragama, mengaku percaya hari akhir dan hari sesudahnya?

Kemajuan peradaban manusia di bumi tanpa ditunjang oleh iman dan taqwa maka hanya menguntungkan sementara kepada sebagian pihak dan pada akhirnya tersalah gunakan untuk merusakkan manusia secara global.
Dari dua sisi mata pedang yang tajam, sisi negative sebuah kemajuan sains dan iptek dapat melahirkan manusia yang ponggah, gemblung, tamak, bakhil, egois, menindas, zinaisme, mubazirisme, bebal, bengis, penumpuk harta, lupa kepada Allah SWT bahkan lupa akan kemanusiaan yang ada pada dirinya dan 1001 model kejahatan lainnya.

Bukankah Allah SWT memberikan firman pertamanya

“Bacalah dengan nama Tuhan yang menciptakan” (TQS. Al Alaq : 96 : 01)

Kata Iqra (Bacalah !) bukanlah dimaknai secara letterlek dengan membaca sebuah teks apalagi buku. Apalagi memahami bahwa Malaikat Jibril membawa sebauh teks tertulis. Betul sekali ! bahwa Iqra disini merupakan sebuah kata kerja. Tetapi objek dari kata kerja tersebut tidak disebutkan secara khusus, bukan? alias objek yang kudu dibaca adalah bersifat umum. Iqra bukan hanya sekedar membaca teks atau naskah, tapi lebih luas lagi! Menelaah, riset, merenungkan, eksperimen, berkarya, modifikasi dan sebagainya.

Objeknya adalah firman-firman Allah SWT dalam Al Qur’an maupun Hadist shahih Rosululloh SAW, fenomena alam dan sosial, maupun hasil karya manusia berupa “ramuan-ramuan” iptek dari waktu ke waktu sejak jaman keemasan Islam sampai dengan sekarang baik berupa pemikiran ataupun produk.

Mengaitkan “membaca” dengan nama Allah SWT bermakna agar pelaku melakukan kegiatan ilmiah dengan penuh keikhlasan mencari ridho Allah SWT. Sehingga ilmu yang didapat akan lebih membarakan sifat khauf, takut kepada Allah SWT.

Fakta dilapangan seringkali manusia lupa diri, apalagi telah berhasil berbuat sesuatu yang hebat!. Berapa banyak tukang ilmu : sarjanan, doctor bahkan professor yang malah berbalik menjadi seolah atheis setelah mengetahui tentang ilmunya. “Where is the God ?” kata mereka, bukankah semesta ini berjalan dengan sendirinya?. Mungkin itulah yang disebut arogansi intelektual.

Mustinya, dengan menggenggam iptek maka akan semakin kecil diri kita. Bukankah Allah SWT dalam firmannya menyebutkan :

“ Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (TQS. Al Kahfi : 18 : 109)

Kita akan semakin merasa kecil, dan sadar bahwa Allah itu Maha Luas, unlimited. Yang kita inginkan adalah penyadaran diri bahwa manusia ini diciptakan tidak lain tidak bukan untuk menyembah Allah SWT.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “ (TQS. Ad Dzariyat : 51: 56)

Allah telah berikan fasilitas akal dan panca indera untuk menjadi khalifah dimuka bumi, termasuk hak penuh mengelola alam dan isinya demi kesejahteraan manusia dibumi dan alam sesudahnya.
“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di muka bumi ini ” (TQS. Al Baqarah : 02 : 30)

“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi ini ” (TQS. Al Fathir : 35 : 39)

Janganlah pemberian kedudukan yang paling mulia diantara makhluk lainnya itu, kita “turunkan” sendiri menjadi hina dina bahkan sampai-sampai menjadikannnya lebih jelek dari seekor binatang. Semua itu berawal dari kesombongan karena telah mengetahui setitik ilmu diantara lautan yang maha luas dari Ilmu Allah SWT. Dan manusiapun tidak pernah sempurna !

16-03-2009 / 19:54:51
Author : Ayyub Al Fath

Selasa, 12 Mei 2009

Lalat Itu Hebat !


Nah, kehebatan desain lalat itu sampai sekarang masih belum bisa diproduksi, walaupun semua pabrik dan laboratorium berhimpun untuk itu.

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.(TQS. Al Hajj : 22 : 73)

Al Qurthubi dalam tafsir Al Jami'ul Ahlam membahas tentang ayat di atas bahwa patung-patung berhala di ka'bah dahulu sering diberi makanan/sesajen. Ketika seekor lalat memakan sesajen itu, berhala-berhala tersebut tidak sanggup merebutnya kembali. Padahal lalat adalah binatang yang lemah dan hina.

Kalau tafsirnya hanya seperti itu. kok rasanya biasa-basa saja? Bahwa patung tidak bisa mengusir lalat? Tentu ada makna yang masih tersembunyi.

Mungkinkah tentang lalat ?

Lalat ternyata bukan ciptaan Allah yang sederhana, apalagi hina dan lemah. Ia hewan superproduktif. Setiap bertelur bisa mencapai 100 butir. Walaupun umurnya pendek hanya 3 bulan. Dalam masa itu bisa menghasilkan 1000 butir telur. Dalam tempo 5 bulan, seekor induk lalat akan berkembang biak menjadi 5,5 miliar lalat.
Untunglah populasi sebanyak itu diredam olehnya banyaknya predator, pemangsa lalat seperti cicak, butung, katak dsb sehingga manusia tidak terlalu terganggu olehnya. Setelah kawin, dalam 5 hari ia akan bertelur di tempat sampah yang kaya akan gizi dan protein bagi anak-anaknya.

Dalam tempo 24 jam, telur menetas menjadi belatung. Tiga hari kemudian menjadi kepompong. Setelah dua hari, lahirlah lalat muda yang siap terbang. Sayapnya bergetar dengan serasi, dengan manuver terbang yang sangat cepat. Telungkup, miring dan telentang. Bisa mendarat terbalik dengan kaki-kaki melekat erat di langit-langit rumah. Kaki itu bila perlu bisa mengeluarkan sejenis lendir perekat.

Lalat hanya aktif bergerak kalau sedang lapar. Seperti sabda Rasululloh SAW, "Kami kaum yang makan jikalau lapar saja". Dengan mulutnya yang mirip belalai, lalat mengisap bubur berprotein tinggi dari sampah busuk. Setelah kenyang dia diam istirahat di tempat aman, misalnya di tali jemuran atau di langit-langit dapur.

Lalat sangat sukar ditangkap atau dipukul. Selain gaya terbangnya yang gesit, rupanya matanya juga istimewa. Dua belah bola matanya besar bisa melihat ke segala arah. Bola matanya terdiri dari 4000 biiji mata facet yang bersegi enam. Masing-masing bekerja sendiri-sendiri dan menghasilkan ribuan gambar benda yang dilihatnya. Informasi tadi dikirim sangat cepat ke pusat saraf penglihatannya. Karena itu gerakan memukul sedikit saja sudah segera ditangkap oleh lalat, sehingga dia bisa secepat kilat menghindar.

Nah, kehebatan desain lalat itu sampai sekarang masih belum bisa diproduksi, walaupun semua pabrik dan laboratorium berhimpun untuk itu. Ternyata Allah bukan hanya menyindir patung berhala yang tidak bisa membuat lalat, tetapi juga mengingatkan bahwa ilmu dan teknologi juga jangan diberhalakan. Yang pasti Allah SWT telah memberikan isyarat tentang hebatnya lalat. Seekor lalat. Wallahu A'lam.

Penulis : Bambang Pranggono, adalah seorang Penulis, Mubalig, salah seorang pendiri organisasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI). Buku Beliau yang sudah diterbitkan di Percikan Iman adalah "Mozaik Dakwah". dan "Percikan Sains dalam Al Qur'an"

Senin, 11 Mei 2009

Meralat BIG BANG




Al Qur’an sudah mengisyaratkan tentang Big Bang, ledakan awal kejadian alam semesta. Sebelum alam semesta hanya ada Allah SWT


Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Anbiya : 30)

Ayat diatas kini sering dipakai dalam khotbah jumat untuk membuktikan bahwa Al Qur’an sudah mengisyaratkan tentang Big Bang, ledakan awal kejadian alam semesta. Ahli kosmologi banyak yang sepakat bahwa peristiwa itu terjadi 14 milyar tahun lalu. Namun, mereka berbeda pendapat tentang apa yang terjadi sebelum Big Bang. Ada yang berteori bahwa sebelum Big bang terjadi tidak ada apa-apa. Para ahli tafsir juga sepakat bahwa sebelum alam semesta hanya ada Allah SWT, berdasarkan surat Al Hadid (57) ayat 3
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu

Memang Allah SWT paling awal. Dia yang mencipta. Tetapi alam yang kita huni ini belum tentu sebagai alam yang paling awal diciptakan. Paul Steinhardt dan Niel Turok, ahli kosmologi, berteori bahwa alam tidak pernah memadat menjadi singularitas lalu mendadak meledak. Tetapi alam kita ini lahir sebagai akibat berpapasannya dua alam yang berdimensi yang sangat besar. Sedemikian besarnya, tapi tersembunyi dalam dimensi yang tidak bisa kita cerna.

Big bang hanyalah tabrakan antara alam tida dimensi dengan alam tiga dimenasi lain. Alam lain itu sangat dekat di sebelah kita, berjarak kurang dari seleba proton, inti atom, tetapi tidak terlihat.
Maka Big Bang bukan awal segala, tetapi hanya satu dari serentetan siklus tabrakan kosmis yang terjadi berulang-ulang ke masa lalu dan masa depan.

Setiap tabrakan mengahsilkan alam semesta baru. Subhanallah, bukankah ituyang tersirat dalam Surat Yunus (10) ayat 4
Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. (QS. Yunus.10:4)

Kalimat ini terus diulang dalam

QS Yunus 10 :34
Katakanlah: "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?" katakanlah: "Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?"

QS An Naml 27 : 64
Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar"

QS Ar Rum 30 : 11
Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali; kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

QS Ar Rum 30 : 27
Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS Al Ankabut 29 : 19
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

QS Al Buruj 85 : 13
Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).

Apa maksud bahwa Allah selalu mengulangi penciptaan-Nya? Mungkin ini isyarat bahwa penciptaan alam semesta terjadi terus menerus. Salah satunya alam yang sedang kita huni ini.
Maka sebelum Big Bang, sudah terdapat banyak alam dan banyak Big Bang berulang-ulang. Di masa depan pun Big Bang akan terulang lagi. Wallahu a’lam

Ir. Bambang Pranggono, MBA seorang Penulis, Mubalig, salah seorang pendiri organisasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI). Buku Beliau sudah diterbitkan di Percikan Iman adalah "Mozak Dakwah". dan "Percikan Sains dalam Al Qur'an"

Sabtu, 09 Mei 2009

Kontribusi Peradaban Islam dalam Kedokteran Gigi


Ajaran Islam memerintahkan agar umatnya senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: ''Seandainya tidak akan merepotkan umatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka untuk membersihkan gigi pada setiap akan shalat.''(HR Bukhari dan Muslim).

Islam memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut akan sangat menentukan kualitas hidup manusia. Tak heran jika seabad setelah Rasulullah SAW wafat, para dokter Muslim di era keemasan terdorong untuk turut mengembangkan ilmu kedokteran gigi (dentistry). Sejatinya, pengobatan gigi telah diterapkan manusia dari peradaban Lembah Indus bertarikh 7.000 hingga 5.500 SM.

Namun, ilmu kedokteran gigi justru berkembang pesat pada era kejayaan peradaban Islam. Henry W Noble (2002) dalam Tooth transplantation: a controversial story, History of Dentistry Research Group, Scottish Society for the History of Medicine mengakui bahwa para dokter Muslim di zaman kekhalifahan merupakan perintis dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi.

Peradaban Barat saja baru mengembangkan ilmu kedokteran gigi secara khusus pada abad ke-17 M. Buku pertama tentang ilmu kedokteran gigi di Barat baru hadir tahun 1530 M bertajuk "Artzney Buchlein". Buku teks kedokteran gigi dalam bahasa Inggris baru muncul tahun 1685 karya Charles Allen berjudul Operator for the Teeth.

Bahkan, masyarakat Amerika baru mengenal adanya dokter gigi pada abad ke-18 M. John Baker merupakan dokter pertama yang praktik di benua itu. Baker merupakan dokter gigi yang berasal dari Inggris. Amerika baru memiliki dokter gigi sendiri pada tahun 1779 M bernama Isaac Greenwood.

Lucunya, peradaban Barat mengklaim Pierre Fauchard - berkebangsaan Prancis yang hidup di abad ke-17 sebagai "bapak ilmu kedokteran gigi modern". Padahal, menurut Noble, 700 tahun sebelum Fauchard hidup, seorang dokter Muslim bernama Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi alias Abulcasis (930 M - 1013 M) telah sukses mengembangkan bedah gigi dan perbaikan gigi.

Keberhasilannya yang telah memukau para dokter gigi modern itu tercantum dalam Kitab Al-Tasrif. Kitab itu tercatat sebagai teks pertama yang mengupas bedah gigi secara detail. "Dalam kitabnya itu, Abulcasis juga secara detail menggambarkan keberhasilannya dalam melakukan penanaman kembali gigi yang telah dicabut," papar Noble.

Al-Zahrawi juga tercatat sebagai dokter yang mempelopori penggunaan gigi palsu atau gigi buatan yang terbuat dari tulang sapi. Kemudian geligi palsu itu dikembangkan lagi mengunakan kayu - seperti yang digunakan oleh presiden pertama Amerika Serikat, George Washington 700 tahun kemudian.

Sumbangan penting dokter Muslim di era kejayaan dalam pengembangan ilmu kedokteran juga diungkapkan Salma Almahdi (2003) dalam tulisannya berjudul Muslim Scholar Contribution in Restorative Dentistry yang dimuat dalam Journal of the International Society for the History of Islamic Medicine. Menurut Almahdi, dokter gigi Muslim dari abad ke-10 M lainnya yang mengembangkan dentistry adalah Abu Gaafar Amed ibnu Ibrahim ibnu Abi Halid al-Gazzar.

Dokter gigi asal Afrika Utara itu memaparkan metode perbaikan gigi secara detail dalam Kitab Zad al-Musafir wa qut al-Hadir. Kitab itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Viaticum oleh Constantine the African di Universitas Salerno - yang berada di Selatan Italia. "Kitab yang ditulis Al-Gazzar merupakan yang pertama yang mengupas tentang perawatan gigi busuk/rusak," papar Almahdi.

Dalam kitabnya, Al-Gazzar menyatakan bahwa hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengobati gigi yang busuk adalah membersihkannya. Kemudian, papar dia, gigi itu diisi dengan gallnut, madu, kemenyan, terbinth yang mengandung damar, pohon cedar yang mengandung damar, pellitory atau pengasapan dengan akar colocynthis.

Al-Gazzar pun merekomendasikan senyawa arsenik untuk gigi yang berlubang. Campuran ini juga mampu mengatasi pembusukan gigi serta mengendurkan dan meredakan ketegangan syaraf. Dokter Muslim lainnya yang memberi sumbangan penting bagi ilmu kedokteran gigi adalah Ibnu Sina lewat karyanya yang sangat fenomenal bertajuk he Canon of Medicine. Menurut Almahdi, Ibnu Sina terpengaruh oleh Al-Gazzar dalam pengobatan gigi.

Meski begitu, Ibnu Sina mengembangkan sendiri pengobatan gigi dengan caranya sendiri. Baik Al-Gazzar maupun Ibnu Sina sepakat bahwa kebusukan pada gigi disebabkan oleh "cacing gigi". Namun pendapat itu dipatahkan oleh dokter Muslim lainnya dari abad ke-12 M bernama Gaubari. Dalam Book of the Elite yang ditulisnya, Gaubari menyatakan bahwa dalam kenyataannya cacing gigi tak pernah ada. Sejak abad ke-13 M, teori cacing gigi akhirnya tak lagi diterima dalam kedokteran Islam.

Kontribusi peradaban Islam lainnya yang tak kalah penting dalam kedokteran gigi diberikan oleh Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ar-Razi. Dokter legendaris di era keemasan peradaban Islam itu juga secara khusus mengembangkan perawatan kesehatan gigi. Ar-Razi terbilang sebagai dokter Muslim pertama yang memberi sumbangan bagi ilmu kedokteran gigi.

Menurut Almahdi, Ar-Razi mencoba merekomendasikan metode yang dikembangkan Galen - dokter dari peradaban Yunani - dalam melepas gigi rusak dengan cara dibor. Untuk mengurangi rasa sakit saat gigi dibor, dokter terkemuka di kota Baghdad itu menganjurkan agar lubang gigi ditetesi minyak.

Selain mengkaji masalah gigi, dokter Muslim di era kekhalifahan pun sudah mengkaji kesehatan mulut, salah satunya soal lidah. Organ penting yang dibiasa digunakan untuk mengunyah, menelan dan berbicara itu mendapat perhatian khusus dari Ibnu Sina. Dalam Canon the Medicine, Ibnu Sina mengkaji berbagai penyakit lidah dan penyembuhannya.

Menurut Almahdi, dalam kitabnya yang sangat lengkap itu Ibnu Sina menerangkan tentang anatomi lidah serta penyakit-penyakit yang sering dialami organ lidah baik secara sensorik maupun motorik. Ibnu Sina membahas masalah lidah secara mendalam dalam empat belas bab.Betapa sumbangan peradaban Islam bagi dunia kedokteran sungguh begitu luar biasa. Namun, kontribusi penting para dokter Muslim itu kerap dinihilkan dan disembunyikan peradaban Barat. Tak heran, bila pencapaian para ilmuwan Muslim di era kejayaan itu juga tak diketahui masyarakat Islam di era modern ini. Sungguh ironis memang.

Siwak, Pembersih Gigi Warisan Rasulullah SAW
Membersihkan gigi merupakan sunah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW biasa membersihkan giginya dengan siwak. Dalam hadits dsebutkan Rasulullah SAW biasa menggosok giginya dengan siwak setiap bangun dari tidur. Hudaifah RA meriwayatkan: "Kapan pun Rasulullah SAW bangun dari tidur, ia akan menggosok giginya dengan siwak.

" (HR Bukhari dan Muslim).Selain setelah bangun tidur, dalam hadits lainnya Nabi Muhammad SAW juga biasa membersihkan giginya dengan siwak sesaat sebelum berwudhu. Aisyah RA meriwayatkan: Kami biasa menyiapkan sebuah siwak dan air untuk wudhu bagi Rasulullah SAW kapan pun Allah menghendaki beliau bangun dari tidur malam, beliau akan mebersihkan giginya dengan siwak, mengambil wudhu, dan lalu mendirikan shalat. (HR Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW secara khusus menyarankan umatnya untuk menggunakan siwak. Anas RA meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda, "Aku menyaran agar kalian menggunakan siwak". (HR Bukhari). Siwak merupakan alat pembersih gigi yang diwariskan Rasulullah SAW bagi umatnya. Bukan tanpa alasan Rasulullah SAW menyarankan umatnya untuk menggunakan siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting segar tanaman arak (salvadora persica). Sebuah penelitian ilmiah pada tahun 2003 membuktikan keunggulan siwak dibandingkan pasta gigi biasa.

Kayu siwak memiliki keunggulan karena terbukti mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak pun diketahui memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive, dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi.

Selain itu, siwak juga mengandung zat kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins, dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Siwak pun mengandung minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar. Zat inilah yang membuat siwak dapat menghilangkan bau pada mulut.

Sebagai pasta gigi alami, siwak juga mampu mencegah pembentukan karang gigi. Zat anti pembusukan yang terkandung dalam siwak diyakini dapat menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan.Kelebihan lainnya dari siwak adalah kemampuannya untuk turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih. Apalagi saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Atas dasar itulah perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produknya. Pada tahun 1986 dan 2000, organisasi kesehatan se-dunia merekomendasikan penggunaan siwak dalam sebuah konsensus internasional. Dr Otaybi dari Arab Saudi dalam penelitian yang dilakukannya membuk

Penulis : heri ruslan
REPUBLIKA - Kamis, 16 Oktober 2008

Jejak Kejayaan Islam di Luar Angkasa


Dunia Islam di zaman kekhalifahan sempat menjelma sebagai pusat studi astronomi dan astrologi. Studi astronomi dan astrologi mulai berkembang pada era kepemimpinan Khalifah Al-Mansyur sebagai penguasa ketiga Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-8 M. Studi astronomi dan astrologi di dunia Islam kian menggeliat sejak ditemukannya astrolabe oleh Al-Fazari.

Menurut sejarawan sains, Donald Routledge, kedua ilmu yang telah menguak rahasia langit itu mencapai puncak kejayaannya dalam peradaban Islam dari tahun 1025 M hingga 1450 M. Pada masa itu, di berbagai wilayah kekuasaan Islam telah lahir sederet astronom dan astrolog Muslim serta sejumlah observatorium yang besar dan megah.

Tak dapat dimungkiri bahwa sederet astronom dan astrolog Muslim terkemuka, seperti Nasiruddin at-Tusi, Ulugh Beg, Al-Batanni, Ibnu Al-Haitham, Ibnu Al-Syatir, Abdur Rahman as-Sufi, Al-Biruni, Ibnu Yunus, Al-Farghani, Al-Zarqali, Jabir Ibnu Aflah, Abu Ma'shar, dan lainnya, telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan astronomi dan astrologi.

Bukti kejayaan yang diraih peradaban Islam dalam astronomi dan astrologi dapat dibuktikan melalui penamaan bintang dan sederet kawah bulan dengan nama-nama yang berasal dari bahasa Arab. Muslim Heritage Foundation mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari peradaban Islam. Para astronom Muslim pada awalnya mengenal nama-nama bintang dari Almagest karya Ptolemeus--astronom Yunani yang hidup pada abad ke-2 M.

Setelah menguasai pengetahuan serta teknologi dalam bidang astronomi dan astrologi, para ilmuwan Muslim pun mulai memberi nama bintang-bintang yang berhasil mereka temukan. Sejarawan Jerman yang juga ahli dalam penamaan bintang dalam astronomi Islam, Paul Kunitzsch, mengungkapkan, ada dua tradisi penamaan bintang yang diwariskan oleh peradaban Islam.

Pertama penamaan bintang melalui dongeng. Paul menyebut penamaan bintang secara tradisional ini sebagai indigenous-Arabic. Yang kedua, menurut Paul, penamaan bintang secara ilmiah (scientific-Arabic). Sayangnya, penamaan bintang yang dilakukan para ilmuwan Muslim telah dibelokkan oleh peradaban Barat.

Hal itu dilakukan saat buku-buku teks bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12 M. Buku-buku teks bahasa Arab yang ditulis para astronom dan astrolog Muslim dengan sengaja dirusak sehingga maknanya pun berubah. Selain itu, perusakan alih bahasa itu juga membuat nama-nama bintang yang ditemukan peradaban Islam kehilangan arti.

Tak cuma itu, nama bintang juga secara sengaja dipindahkan dari satu ke yang lain. Sehingga, posisi bintang yang telah ditetapkan oleh para astronom dan astrolog Muslim itu berada dalam peta bintang yang berbeda. Untungnya, sebagian besar nama bintang yang diadopsi masyarakat Barat sejak bergulirnya Renaisans masih dalam bahasa Arab yang asli.

Salah seorang astronom Muslim yang sangat berpengaruh dalam penamaan bintang adalah Abu al-Husain `Abd Al-Rahma-n Al-Sufi (903 M-986 M). Orang Barat mengenalnya dengan panggilan Azophi. Al-Sufi secara sistematis berhasil merevisi katalog bintang yang dibuat Ptolemeus. Ia mengubah Almagest yang populer itu dengan Kitab Suwar al-Kawakib (Kitab Bintang-Bintang Tetap).

Kitab yang dirampungkannya pada 964 M itu memang berbasis pada warisan astronomi Yunani. Meski begitu, nama-nama bintang yang tercatat dalam kitabnya itu berasal dari penemuannya sendiri dan diberi nama dalam bahasa Arab. Salinan kitab karya Al-Sufi itu sempat ditulis ulang olah putranya sekitar tahun 1010 M. Kini, kitab itu tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford.

Menurut Paul, tradisi masyarakat lokal di negeri Muslim yang tersebar di Semenanjung Arab dan Timur Tengah memiliki nama tersendiri untuk beragam bintang yang terang, salah satunya adalah Aldebaran. Paul menambahkan, kerap kali masyarakat Muslim memperlakukan bintang tunggal seperti orang atau binatang. Bintang yang dikenal sebagai Alpha dan Beta Ophiuchi, tutur dia, dianggapnya sebagai anjing gembala.

Paul menemukan fakta adanya penamaan bintang dalam bahasa Arab yang terdapat dalam buku Almagest karya Ptolemeus. "Contohnya nama bintang Fomalhaut berasal dari bahasa Arab yang berarti 'mulut ikan dari selatan'," ungkap Paul. Dalam kitab yang ditulisnya, astronom Muslim, Al-Sufi, telah mencatat hasil observasinya tentang Galaxi Andromeda. Ia menyebutnya sebagai 'awan kecil'.

Al-Sufi pun tercatat sudah berhasil melakukan observasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak, dan warna bintang-bintang itu. Ia juga mampu membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni Kitab Suwar al-Kawakib itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12, baik penjelasan teksnya maupun gambarnya. Dari kitab inilah, masyarakat Barat salah satunya mengenal nama-nama bintang. Nama-nama bintang di luar angkasa yang ditemukan para ilmuwan Islam itu merupakan salah satu jejak kejayaan Islam. N hri


Nama Islam di Galaxi

Peradaban Islam telah turut memberi nama ratusan hingga ribuan bintang dalam populasi galaksi. Dari sederet nama bintang yang ditemukan dan dinamai ilmuwan Muslim itu, hingga kini masih ada yang dipakai, bahkan ada pula yang sudah lenyap dan tak digunakan lagi oleh peradaban modern. Berikut ini beberapa contoh nama bintang yang berasal dari warisan kejayaan Islam.

No Nama Populer Nama Arab Bintang
1 Acamar Akhir an-Nahr Theta Eri
2 Achernar Akhir an-Nahr Alpha Eri
3 Acrab Al-'Aqrab Beta Sco
4 Acubens Az-Zubana Alpha Cnc
5 Adhafera Ad-Dafirah Zeta Leo
6 Adhara Al-'Adhara Epsilon CMa
7 Ain 'Ain Epsilon Tau
8 Albali Al-Bali' Epsilon Aqr
9 Alchibah Al-Khiba' Alpha Crv
10 Aldebaran Ad-Dabaran Alpha Tau
11 Alderamin Adh-Dhira' al-Yamin? Alpha Cep
12 Alfirk Al-Firq Beta Cep
13 Algedi Al-Jady Alpha Cap
14 Algenib Al-Janb Gamma Peg
15 Algieba Al-Jabhah Gamma Leo
16 Algebar Al-Jabbar Beta Ori
17 Algol Al-Ghul Beta Per
18 Algorab Al-Ghurab Delta Crv
19 Alhena Al-Han'ah Gamma Gem
20 Alioth Al-Jawn Epsilon UMa
21 Alkaid Al-Qa'id Eta UMa
22 Alkes Al-Ka's Alpha Crt
23 Almak 'Anaq al-Ard Gamma And
24 Almeisan Al-Maisan Gamma Gem
25 Alnair An-Nayyir Alpha Gru
26 Alnair An-Nayyir Zeta Cen
27 Alnilam An-Nidham Epsilon Ori
28 Alnitak An-Nitaq Zeta Ori
29 Alphard Al-Fard Alpha Hya
30 Alphecca Al-Fakkah Alpha CrB
sumber: Muslim Heritage



Abadi di Kawah Bulan

Sebagai bentuk pengakuan dunia terhadap sumbangan peradaban Islam, sebanyak 24 ilmuwan dan ulama Muslim terkemuka di era kejayaan telah diabadikan menjadi nama kawah bulan. Pemberian nama ke-24 ilmuwan Muslim itu pun telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU).

Hanya satu nama tokoh Muslim yang tak diakui IAU menjadi nama kawah bulan, yakni Muhammad Abduh (1849 M-1905 M). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970, dan 1976. Pada awalnya, nama ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan itu disebut dalam bahasa Latin, seperti Alhazen, Azophi, Alpetragius, Albataneus, Alfraganus, dan lainnya. Namun, kemudian diberi nama aslinya dalam bahasa Arab.

Berikut nama-nama tokoh dan ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan.Abulfeda. Nama lengkapnya Isma'il Ibn Abu al-Fida. Ia adalah ahli geologi dari Suriah (1273 M-1331 M).Abulwafa. Bernama lengkap Abu al-Wafa al-Buzajani. Matematikus dan astronom asal Persia (940 M-998 M).Al-Bakri. Geografer Muslim asal Andalusia itu bernama Abu `Ubayd Abdallah Ibn `Abd al-Aziz Ibn Muhammad al-Bakri (1010 M-1094 M).Al-Biruni. Ilmuwan serba bisa yang populer di Afghanistan dan India itu bernama lengkap Abu ar-Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni.

Dia seorang astronom, matematikus, dan geografer (973 M-1048 M).Al-Khwarizmi. Matematikus dan astronom kelahiran Khwarizmi itu bernama lengkap Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi.Al-Marrakushi. Abu `Ali al-Hasan Ibn `Ali al-Marrakushi adalah astronom dan matematikus asal Maroko dan bekerja di Mesir pada abad ke-13 M.Albategnius. Muhammed bin Jaber Al-Battani dikenal di dunia Barat dengan panggilan Albategnius.

Dia seorang astronom dan matematikus yang berasal dari Harran, Mesopotamia.Alfraganus. Abu 'l-'Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Kathir al-Farghani adalah astronom terkemuka di Baghdad yang berasal dari Iran pada abad ke-9 M.Alhazen. Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan Ibn al Haytham. Ahli fisika, matematika, dan astronomi itu mengabdikan hidupnya di Mesir (987 M-1038 M).Almanon.

Ini merupakan nama panggilan orang Barat terhadap Abu Ja'far Abdallah al-Ma'mun ibnu Harun al-Rashid. Khalifah Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang berkuasa pada 813 M-833 M.Alpetragius. Astronom asal Andalusia itu bernama Abu Ishaq Nur al-Din Al-Bitruji Al-Ishbili.Arzachel. Nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash al-Zarqalluh or al-Zarqali. Matematikus terkemuka ini berasal dari Toledo, Andalusia.Avicenna.

Ilmuwan legendaris Muslim itu bernama Abu `Ali al-Hussayn Ibn Sina (980 M-1037 M).Azophi. Nama lengkapnya Abdurrahman Al-Sufi. Dia adalah astronom terkemuka yang menulis tentang bintang.Geber. Astronom abad ke-12 M asal Andalusia itu sebenarnya bernama Abu Muhammad Jabir Ibn Aflah al-Ishbili.Ibnu Battuta. Penjelajah dan geografer Muslim asal Maroko itu bernama Abu Abd Allah Muhammad Ibn `Abd Allah Ibn Battuta.Ibnu Firnas. Orang Barat menyebutnya Armen Firman. Insinyur pencipta kapal terbang itu bernama lengkap Abbas Ibn Firnas.Ibnu Yunus.

Astronom Mesir (950 M-1009) itu bernama Abu al-Hasan bin Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi.Ibnu-Rushd. Dokter dan filsuf Muslim asal Andalusia ini bernama Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rushd. Messala. Nama lengkapnya adalah Ma-sha' Allah ibnu Athari al-Basri. Dia adalah astronom asal Irak. Nasiruddin. Ilmuwan terkemuka asal kota Tus, Khurasan, ini bernama lengkap Muhammad ibnu Muhammad ibnu al-Hasan al-Tusi.Omar Khayyam. Dia adalah sastrawan, astronom, dan matematikus terkemuka asal Persia yang hidup pada abad ke-11 M. Dia juga dikenal dengan panggilan al-Khayyami.

Thebit. Ilmuwan asal Irak ini bernama lengkap Thabit Ibn Qurrah al-Sabi' al-Harrani Thabit Ibn Qurra. Ia hidup pada abad ke-9 M.Ulugh Beigh. Dia adalah penguasa Dinasti Timurid yang juga mencintai astronomi serta sempat membangun observatorium. Nama lengkapnya adalah Mirza Mohammad Taragai bin Shahrukh.

Penulis : hri
REPUBLIKA - Selasa, 21 Oktober 2008

Ali Ibnu Ridhwan Saksi Sejarah Fenomena Supernova 1006


Ibnu Ridhwan menyatakan bahwa cahaya yang ditimbulkan fenomena supernova 1006 itu tiga kali lebih besar dari Planet Venus. Karyanya begitu berpengaruh di peradaban barat hingga abad ke-16.

Kairo, 17 Sya'ban 396 H/30 April 1006. Seorang remaja sungguh terkagum-kagum saat menatap langit malam di tanah kelahirannya. Pria yang saat itu berusia 18 tahun tersebut tercatat sebagai salah seorang saksi sejarah peristiwa astronomi amat dahsyat di awal abad XI: Supernova. Sebuah peristiwa meledaknya suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi sangat besar.

Cahaya ledakan bintang itu dapat disaksikan penduduk bumi yang terbentang dari daratan Eropa hingga ke Cina. Bintang yang mengalami supernova memang akan tampak sangat cemerlang--mencapai ratusan juta kali cahaya bintang tersebut saat masih aktif. Supernova menandai berakhirnya riwayat sebuah bintang di galaksi.

Fenomena Supernova yang terjadi 10 abad silam itu hingga kini masih bisa dilihat para astronom--berupa awan yang mengembang dari letusan bintang. Pengalaman melihat cahaya ledakan bintang di galaksi itu begitu membekas dalam diri remaja asal Kairo itu. Saat fenomena astronomi yang langka itu terjadi, sebenarnya Ibnu Ridhwan baru saja memasuki bangku kuliah di sekolah kedokteran. Meski begitu, ia sudah memiliki hasrat untuk mempelajari astrologi. Pada masa itu, Mesir baru saja ditaklukkan oleh Dinasti Fatimiyah. Dinasti yang saat itu dipimpin Khalifah Al-Hakim berpusat di Kota Kairo.

Sejak menyaksikan fenomena yang luar biasa itulah, remaja bernama Ali Ibnu Ridhwan itu mencurahkan hidupnya untuk mempelajari astronomi dan astrologi. Berkat ketekunan dan dedikasinya yang sangat tinggi, Ibnu Ridhwan kemudian menjelma menjadi seorang astronom besar dan kesohor di abad XI. Salah satu mahakarya yang dihasilkannya adalah merekam peristiwa-peristiwa astronomi penting selama hidupnya. Para astronom dan sejarawan di zaman modern mendapatkan informasi tentang Supernova 1006 dari buku yang ditulisnya.

Sejatinya, astronom dan astrolog yang sangat berpengaruh itu bernama lengkap Abu 'l Hasan Ali Ibnu Ridhwan Al-Misri (998-1067). Para penulis di Barat menyebutnya dengan panggilan Haly atau Haly Abenrudian. Selain berprofesi sebagai astronom dan astrolog, Ibnu Ridhwan juga dikenal sebagai seorang dokter dan kritikus kedokteran Yunani, terutama Galen.

Kritiknya atas karya-karya Galen--seorang tabib dari Yunani kuno-- ditulis dalam buku berjudul Ars Parva. Buah karyanya itu kemudian diterjemahkan oleh Gherard of Cremona ke dalam bahasa Latin. Observasi yang dilakukannya terkait fenomena Supernova 1006 M dituliskannya dalam Ptolemy's Tetrabiblos.

Dalam buku yang ditulisnya itu, Ibnu Ridhwan menyatakan bahwa cahaya yang ditimbulkan oleh fenomena Supernova 1006 itu tiga kali lebih besar dari Planet Venus. Karyanya begitu berpengaruh di peradaban Barat hingga abad ke-16 M. Karyanya yang lain diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, De revolutionibus nativitatum (The Revolutions of Nativities) oleh Luca Gaurico dan dicetak di Venicia pada 1524.

Selain itu, karyanya yang lain, Treatise on the Significations of Comets in the twelve Signs of the Zodiac, juga dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin bertajuk, Tractatus de cometarum significationibus per XII signa zodiaci, dicetak di Nurnberg pada 1563 M. Itu berarti pemikiran Ibnu Ridhwan mampu bertahan hingga berabad-abad lamanya. Sebuah pencapaian yang sungguh luar biasa.

Setahun sebelum fenomena Supernova 'mengguncang' dunia, Khalifah Al-Hakim pada 1005 M mulai mendirikan Dar al-`Ilm (Rumah Pengetahuan) di Kairo. Ini merupakan universitas umum yang informal. Sehingga, siapa saja bisa datang untuk membaca, menyalin buku, belajar, atau ikut perkuliahan berbagai bidang studi. Di tempat itu diajarkan teologi, tata bahasa, filologi, kedokteran, dan astronomi.

Sedangkan astrologi tak diajarkan di Dar al-'Ilm. Al-Hakim kurang suka dan tak menaruh perhatian pada bidang astrologi. Bahkan, pada 1013 M, khalifah melarang umat Islam untuk mempraktikkan astrologi. Sejumlah astrolog pun sempat kena cekal sang khalifah. Sang khalifah lebih mendukung pengembangan studi astronomi dan turut mensponsori berdirinya observatorium.

Ibnu Ridhwan memang tak menceritakan Dar al-'Ilm dalam biografinya. Namun, menurut para sejarawan, Dar al-'Ilm sempat menjadi pusat kegiatan intelektual bagi masyarakat di Kota Kairo. Dalam autobiografi yang ditulisnya, Ibnu Ridhwan mengisahkan perjalanan hidup masa kecilnya.

Saat masih kanak-kanak, ia menikmati pendidikan dasarnya di masjid sekitar rumahnya. Di tempat itu, dia mulai belajar membaca dan menulis serta menghafal Alquran. Memasuki usia 15 tahun, Ibnu Ridhwan memilih untuk belajar ilmu kedokteran dan filsafat. "Saya kurang beruntung," cetusnya. Ia mengaku harus membiayai pendidikannya dengan keringat sendiri.

"Studi saya menjadi terhambat oleh berbagai halangan dan kesulitan," tutur Ibnu Ridhwan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Ibnu Ridhwan mengaku harus menjalankan praktik astrologi. Terkadang, dia juga mempraktikkan ilmu kedokterannya. "Kemudian saya juga mengajar."

Saat pertama kali belajar di sekolah kedokteran, Ibnu Ridhwan sempat kecewa. Pasalnya, para mahasiswa kedokteran harus membayar sejumlah uang agar bisa belajar dari seorang guru terkemuka. Para mahasiswa berduit belajar menghafal dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan para guru terkemuka. Cara belajar seperti itu pun dikritik Ibnu Ridhwan.

Ia lalu memutuskan untuk berhenti belajar dari gurunya itu. Sempat terpikir olehnya untuk belajar dari seorang guru kedokteran kesohor di Irak. Namun, Ibnu Ridhwan mengaku tak mampu untuk hijrah ke Irak. Meski serbaterbatas, semangat belajarnya tak pernah padam. Ibnu Ridhwan akhirnya memutuskan untuk autodidak. Ia memilih membaca karya-karya kedokteran yang ditulis Galen.

Keseriusannya mempelajari ilmu kedokteran juga berbuah manis. Seorang temannya yang sudah berprofesi sebagai dokter mengajaknya untuk menjadi asisten dokter. Di tempat itulah, dia belajar praktik kedokteran sebagai dokter pengganti dan memiliki pasien langganan sendiri. "Duniaku adalah kedokteran dan astronomi," papar Ibnu Ridhwan.

Selain mempelajari ilmu kedokteran, Ibnu Ridhwan juga serius mempelajari astronomi. Di perpustakaan pribadinya, sang dokter yang astronom itu menyimpan salinan Tetrabiblos--sebuah buku astrologi karya astronom dan matematikus Yunani dari abad ke-2 M, Ptolemeus. Ia lalu menulis kritik dan komentar atas karya Ptolemeus yang dipelajarinya secara intens.

Ibnu Ridhwan pun berhasil mencapai posisi tertinggi dalam bidang kedokteran. Ia diangkat menjadi kepala dokter istana. Sejarah mencatatnya sebagai seorang ilmuwan yang produktif. Tak kurang dari 100 karya dalam berbagai bidang, seperti astronomi, kedokteran, filsafat, ilmu alam, serta astrologi berhasil ditulisnya. Saksi sejarah fenomena Supernova itu tutup usia pada 1067 M.



Rujukan Astronom Abad XX

Dunia astronomi modern rasanya pantas berterima kasih kepada Ali Ibnu Ridhwan. Apa pasal? Berkat jasa astronom dan dokter Muslim di era kegemilangan Islam itu, para astronom di abad ke-20 M bisa mendapat penjelasan yang rinci, detail, dan ilmiah mengenai peristiwa astronomi fenomenal: Supernova 1006.

Para astronom di abad ke-20 M, mulai melacak peristiwa meledaknya salah satu bintang di galaksi pada 10 abad silam. Mereka berupaya untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecemerlangan Supernova 1006. Selain itu, para astronom juga ingin berupaya memastikan lokasi sisa-sisa kehancuran bintang atau fenomena Supernova 1006 di luar angkasa.

Guna menyingkap misteri fenomena astronomi yang terjadi 10 abad silam itu, para astronom mencoba mencari data-data dari masa lampau. Untunglah, Ibnu Ridhwan mencatat peristiwa itu dalam bukunya berjudul, Ptolemy's Tetrabiblos. Tak heran, jika tim ahli astrofisika dari Inggris dan Australia menggunakan data-data yang direkam oleh Ibnu Ridhwan untuk melacak peristiwa Supernova 1006.

Hal yang sama juga dilakukan oleh para ahli astrofisika Swiss. Rekaman peristiwa yang dipaparkan Ibnu Ridhwan dijadikan rujukan untuk melacak peristiwa astronomi yang langka dan fenomenal itu. Selain berdasarkan catatan Ibnu Ridhwan, ada pula yang menyatakan Supernova pun tampak di Swiss. Namun, tak ada pengamat yang mampu menjelaskan fenomena itu secara ilmiah dan tepat seperti yang dilakukan Ibnu Ridhwan.

Lalu, bagaimana Ibnu Ridhwan menjelaskan fenomena Supernova 1006 itu secara ilmiah? Dalam buku yang ditulisnya, dia berkata, "Sekarang saya akan menjelaskan sebuah peristiwa besar (Supernova 1006) yang saya saksikan ketika saya memulai pendidikan saya." Menurut dia, peristiwa Supernova 1006 itu tampak dekat dengan posisi zodiak Scorpio dan berlawanan dengan matahari.

"Pada hari itu, posisi matahari 15 derajat di Taurus dan Supernova berada di posisi 15 derajat dekat Scorpio," papar Ibnu Ridhwan. Secara rinci, Ibnu Ridhwan pun mengungkapkan ukuran cahaya ledakan bintang di galaksi yang dilihatnya itu. Besarnya tiga kali lebih besar dari Planet Venus. "Cahaya yang dipancarkannya membuat langit malam tampak begitu bersinar."

Ibnu Ridhwan pun menjelaskan, intensitas cahaya yang dipancarkan Supernova 1006 itu lebih kecil dari seperemapt cahaya bulan. Dalam buku astronomi yang ditulisnya, Ibnu Ridhwan secara detail memaparkan posisi matahari, bulan, dan planet lainnya. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Dengan rekaman data yang sangat tepat tentang posisi planet itulah, para astronom modern sangat terbantu untuk memastikan tanggal terjadinya Supernova 1006.

Penulis : heri ruslan
REPUBLIKA - Rabu, 29 Oktober 2008