Selasa, 23 Februari 2010

Kumpulan Tips Motivasi Mario Teguh



Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda




Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju
kegagalan


Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru


Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah


Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak
pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi
pada keamanan, telah menua sejak muda


Hanya orang takut yang bisa berani, karena
keberanian adalah melakukan sesuatu yang
ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan
punya kesempatan untuk bersikap berani


Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang
tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang
anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.

Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui
mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan
tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan
yang kemudian anda dapat


Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara
kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku
seperti orang yang terus memeras jerami untuk
mendapatkan santan

Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai
dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan
anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang
yang berbakat


Kita lebih menghormati orang miskin yang berani
daripada orang kaya yang penakut. Karena
sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa
depan yang akan mereka capai


Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita
ketahui, kapankah kita akan mendapat
pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum
kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan


Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin.
Dengan mencoba sesuatu yang tidak
mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik
dari yang mungkin anda capai.


Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.


Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa
mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang
baik, maka andalah yang akan dicari uang


Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita
mungkin menua dengan berjalanannya waktu,
tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus
mengubah diri kita sendiri

Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk
melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi
orang tua yang masih melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan saat muda.


Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat
berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita
kaya, tetapi menggunakannya dengan baik
adalah sumber dari semua kekayaan


http://www.tarjoni.com/kumpulan-tips-motivasi-mario-teguh/

Aku dan Keangkuhan


Oleh Muhamad Sahrul Murajjab

Suatu kali, seorang bijak ditanya oleh salah seorang muridnya. "Tuan Guru, adakah kejujuran yang tidak baik? Sang guru bijak pun menjawab, "Pujian seseorang atas dirinya sendiri." Maksudnya, ketika seseorang bercerita hal-hal baik tentang dirinya sendiri, meskipun cerita tersebut benar adanya, hal itu adalah kejujuran yang tidak baik. Sebab, bisa memunculkan perasaan bangga diri dan kesombongan.

Ketika seseorang mengatakan 'aku', yang biasanya timbul adalah subjektivitas. Bahkan, tidak jarang pula kata tersebut memiliki efek negatif bagi kehidupan sosial. Dikisahkan dalam Alquran bahwa makhluk yang pertama kali mengucapkan kata 'aku' dengan penuh kesombongan dan perasaan tinggi hati adalah iblis.

Tatkala Allah SWT memerintahkan iblis bersujud kepada Adam AS, ia menolaknya dengan congkak sembari berkata, "Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan engkau menciptakannya dari tanah." (QS Al-A`raf [7]: 12).

Kata 'aku' meluncur dari mulut iblis sebagai ungkapan pengagungan dan penyucian diri sendiri di hadapan Allah yang menciptakannya. Meskipun dia mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan, nyatanya ia membangkang: menyanjung dirinya dan melupakan karunia Penciptanya. Karena sikap iblis ini, sering muncul sebuah ungkapan bahwa tidak ada seorang pun yang memuji dirinya sendiri, kecuali yang menyerupai makhluk terkutuk itu.

Demikianlah bahaya kata 'aku' yang diiringi perasaan bangga diri. Para ulama suluk sering menyebutnya sebagai salah satu penghancur (muhlikat) kehidupan manusia. Allah pun telah melarangnya dengan tegas dalam firman-Nya, "... maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa." (QS Alnajm [53]: 32).

Pada ayat lainnya, ketika menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman, "Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya, Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak teraniaya sedikit pun." (QS Annisa [4]: 49).

Dengan demikian, kata 'aku' dengan muatan keagungan, pujian, dan ketinggian tidaklah pantas jika dinisbatkan kepada diri sendiri. Kata itu hanya layak bagi Allah SWT, sang pencipta semesta alam ini.

http://www.republika.co.id/berita/104588/aku-dan-keangkuhan

Kamis, 18 Februari 2010

Keteladanan


Setiap ajaran dan prinsip2 kehidupan yang dirumuskan, diajarkan atau diperjuangkan selalu menuntut adanya keteladanan dari orang yang memperjuangkannya.


Hal ini karena sebagus dan se-ideal apapun suatu konsep bila tidak diwujudkan dalam sikap dan prilaku hidup tetap saja terasa masih diawang-awang, apalagi orang yang kita ajak untuk hidup menurut konsep itu memang amat menuntut adanya contoh. Karena itu, Islam sebagai agama tidak hanya berupa konsep ajaran yang mulia, tapi kemuliaan dan keagungan Islam bisa dilaksanakan dan diperjuangkan. Bahkan salah satu daya tarik orang untuk masuk Islam tidak hanya terletak pada ajarannya, tapi justeru setelah melihat langsung prakteknya dalam bentuk keteladanan dari para pendakwah dan pejuang Islam.

Problema terbesar kita dalam memperjuangkan Islam sejak lama bukan terletak pada konsep, tapi justeru pada contoh pelaksanaannya sehingga keindahan dan keagungan Islam dari sisi ajaran terhalang oleh prilaku kaum muslimin yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu sendiri, karena itu Syeikh Muhammad Abduh, seorang ulama pembaharu dari Mesir menyatakan: al islamu mahjubun bil muslim, keindahan Islam terhalang oleh prilaku kaum muslimin.

Akibat tidak adanya keteladanan yang baik, maka terjadi kesenjangan antara ajaran dengan kenyataan dan ini menimbulkan krisis baru, DR. Muhammad Syafi’I Antonio dalam bukunya Muhammad saw the Super Leader, Super Manager menyatakan: “Krisis terbesar dunia saat ini adalah krisis keteladanan. Krisis ini jauh lebih dahsyat dari krisis energi, kesehatan, pangan, transportasi dan air. Karena dengan absennya pemimpin yang visioner, kompeten dan memiliki integritas yang tinggi, maka masalah air, konservasi hutan, kesehatan, pendidikan, sistem peradilan, dan transportasi akan semakin parah” (hal 3).

Oleh karena itu, setiap manusia termasuk Nabi kita Muhammad saw amat membutuhkan figur-figur teladan untuk menjalani kehidupan secara Islami sehingga nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw dijadikan sebagai rujukan bagi beliau, Allah swt berfirman: Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka:

"Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja" (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Selanjutnya Nabi Muhammad saw dijadikan oleh Allah swt sebagai teladan bagi kita manakala kita memang mengharapkan ridha Allah, kebahagiaan dalam kehidupan di akhirat dan banyak berzikir dalam hidup ini, Allah swt berfirman:

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah." (QS Al Ahzab [33]:21).

Ada banyak hal yang harus kita teladani dari kehidupan Rasulullah saw, diantara yang amat penting atau relevan dalam kehidupan kita sekarang paling tidak ada tiga.

1. Teladan Dalam Istiqamah.

Salah satu tuntutan yang harus diwujudkan oleh setiap orang yang mengaku beriman adalah istiqamah atau memiliki pendirian yang kuat dalam mempertahankan dan membuktikan nilai-nilai keimanan. Karena itu, Istiqamah merupakan sesuatu yang sangat penting karena dengannya seorang muslim tidak dilanda oleh perasaan takut untuk membuktikan nilai-nilai keimanan dan tidak akan berduka cita bila mengalami resiko yang tidak menyenangkan sebagai konsekuensi dari keimanannya itu, apalagi surga merupakan janji Allah swt, hal ini terdapat dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS Fushilat [41]:30).

Perintah istiqamah untuk selalu berada pada jalan yang benar dirasakan oleh Nabi saw sebagai perintah yang sangat berat, bisa jadi bukan karena beliau tidak bisa istiqamah. Tapi beliau khawatir bila umatnya tidak bisa istiqamah, karenanya hal itu dipertegas lagi dalam firman Allah swt:

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqomah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan"(QS Hud [11]:112)

Ibnu Abbas ra, seorang sahabat yang ahli tafsir, seperti yang dikutip oleh Muhammad Ali Ash Shabuny dalam tafsirnya menyatakan: "Tidak diturunkan sebuah ayatpun dalam Al-Qur'an kepada Rasulullah saw yang lebih berat dari ayat ini hingga sahabat-sahabat berkata: "rambut engkau cepat beruban ya Rasulullah, mengapa demikian?". Rasulullah saw menjawab: "surat hud dan kawan-kawannya telah menyebabkan rambut saya cepat beruban".

Karena itu, Ibnu Athiyah seperti yang juga dikutip oleh Ash Shabuny menunjukkan kepada apa yang terjadi pada umat-umat terdahulu dan Rasulullah saw khawatir jika hal itu terjadi pada umatnya sehingga kekhawatiran itu menjadikan beliau beruban.

2. Teladan Dalam Membangun Keluarga Islami.

Setiap manusia pasti memiliki keluarga, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Manakala seseorang ingin menjadi manusia yang terbaik, maka ia harus bisa berlaku sebaik mungkin kepada keluarganya, karena itu Rasulullah saw bersabda:

Sebaik-baik kamu adalah yang yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku (HR. Ibnu Asakir).

Dalam hidupnya, Rasulullah saw menunjukkan akhlak baiknya kepada anggota keluarga, baik kepada isteri maupun anak dan cucunya. Rasa cinta, menafkahi, memberi perhatian, mendidik dan mengarahkan keluarga merupakan diantara keteladanan yang bisa kita peroleh darinya. Meskipun rumah Rasul tidak besar dan tidak bagus-bagus amat, tapi keberhasilannya membangun keluarga menjadi keluarga yang Islami membuatnya sampai mengatakan: “sesungguhnya rumahku adalah surgaku”.

Kecintaan Rasulullah saw kepada isteri-isterinya tidak perlu diragukan, meskipun dalam perasaan ada isteri yang lebih dicintai, namun tidak nampak dalam kehidupan sehari-hari sehingga semua isterinya merasa sebagai orang yang paling dicintai.

3. Teladan Dalam Disiplin.

Disiplin merupakan salah satu yang amat penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang baik. Karena itu banyak sisi kedisiplinan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Paling tidak ada tiga bentuk kedisiplinan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Pertama, disiplin dalam menunaikan kewajiban yang harus ditunaikan, sehingga meskipun dalam keadaan sulit dan lelah kewajiban tetap dilaksanakan, apalagi setiap generasi ada kewajibannya masing-masing yang membuat tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau melaksanakan segala bentuk kewajiban.

Kedua, disiplin dalam waktu, yakni menggunakan waktu sebaik mungkin dalam konteks pengabdian kepada Allah swt sehingga tidak ada bagi beliau waktu yang berlalu, kecuali dalam kerangka manfaat kebaikan. Beban pribadi, keluarga dan perjuangan yang disadari tanggungjawabnya membuat beliau begitu efektif dalam menggunakan waktu.

Ketiga, disiplin dalam mentaati hukum, hal ini karena sebagai manusia kita amat membutuhkan ketentuan-ketentuan hukum dan Allah swt paling tahu tentang hukum seperti apa yang cocok untuk kita. Karenanya Rasulullah saw taat dalam hukum sehingga apa yang diperintah Allah swt dilaksanakan meskipun perasaannya tidak senang atau terasa berat untuk melaksanakannya.

Manakala kita telah menyadari betapa penting mengambil keteladanan dari kehidupan Rasulullah saw dalam berbagai aspek, maka akan kita kaji kehidupan beliau sebagai bagian yang tidak terpisah dari makrifatur rasul (mengenal Rasul).

Drs. H. Ahmad Yani
Email: ayani_ku@yahoo.co.id 
http://www.khotbah-jumat.co.cc/2009/12/keteladanan.html

PENYAKIT MASYARAKAT

Suatu umat akan mengalami kehancuran manakala memiliki sifat-sifat buruk yang kemudian disebut dengan penyakit umat. Hal itu mungkin saja terjadi pada umat Islam dan masyarakat pada umumnya, karenanya Rasulullahn saw memperingatkannya:


سَيُصِيْبُ أُمَّتِى دَاءُ اْلأُمَمِ : اَْلأَشَرُ وَالْبَطَرُ وَالتَّكَاثُرُ وَالتَّشَاحُنُ فِى الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ

Penyakit umat-umat (lain) akan mengenai umatku, (yaitu) mengingkari nikmat, sombong, bermegah-megahan, bermusuhan dalam (perkara) dunia, saling membenci, saling mendengki hingga melampaui batas (HR. Hakim).

Hadits di atas menyebutkan tujuh penyakit umat yang harus diwaspadai oleh kaum muslimin dan masyarakat pada umumnya.

1. Mengingkari Nikmat.

Mengingkari nikmat menjadi penyakit yang berbahaya karena hal itu hanya akan mendatangkan murka Allah swt sebagaimana firman-Nya:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim [14]:7).

Sejarah telah menunjukkan bagaimana Qarun diamblaskan ke dalam bumi, diri dan hartanya yang dianggap bukan kenikmatan dari Allah swt, hal ini dinyatakan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], Maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan kami Telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya Berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS Al Qashash [28]:76)

Karun berkata: "Sesungguhnya Aku Hanya diberi harta itu, Karena ilmu yang ada padaku". dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh Telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih Kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya[1139]. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang Telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".(QS Al Qashash [28]:78-79)

Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS Al Qashash [28]:81)

2. Sombong.

Sombong adalah sebab utama mengapa syaitan dimurkai sehingga ia menjadi kafir, Allah Swt berfrirman:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabbur dan adalah ia termasuk golongan orang yang kafir (QS Al Baqarah [2]:34).

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" menjawab Iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS Al A’raf [7]:12).

3. Bermegah-Megahan.

Bermegahan membuat manusia tidak puas lalu terus memperbanyak harta dengan cara yang haram, ini amat berbahaya, Allah Swt berfirman:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). (QS 102:1-3).

4. Bermusuhan Dalam Perkara Dunia.

Mencari kenikmatan dunia bukanlah sesuatu yang terlarang, namun bila untuk memperolehnya sampai harus bermusuhan dengan sesama manusia, apalagi sampai mencari legalitas hukum atas sesuatu yang tidak halal, Allah swt berfirman:

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat makan harta sebgaian yang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS Al Baqarah [2]:188).

5. Saling Membenci.

Sesama manusia seharusnya saling mencintai, bukan saling membenci yang tercermin dalam bentuk suka mengolok-olok dan mencela, karena saling membenci akan membawa kehancuran bagi umat itu sendiri, Allah Swt memperingatkan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain lain (karena) boleh jadi wanita (yang diolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang zalim (QS Al Hujurat [49]:11).

6. Saling Mendengki.

Orang yang beramal shaleh amat mendambakan pahala dari Allah swt, dengki menjadi menjadi penyakit umat karena disamping hubungan sesama menjadi buruk, nilai pahala akan terkikis, Rasulullah saw bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ لَيَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Jauhilah hasad (iri hati, dengki), karena sesungguhnya hasad itu mengikis pahala sebagaimana api memakan kayu (HR. Abu Daud).

7. Melampaui Batas.

Melampaui batas menjadi penyakit umat yang berbahaya karena hal ini menyalahi fitrah, baik dalam sikap maupun perbuatan. Karenanya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas atau berlebihan sebagaimana firman-Nya:


Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (QS Al A;raf [7]:31).

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
http://www.khotbah-jumat.co.cc/2010/01/penyakit-masyarakat.html

Perkara Yang Sulit


Menjadi muslim memang tidak hanya sekadar pengakuan, karenanya sebagai muslim setiap kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikannya. Ketika kita akan membuktikan keislaman kita dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari, maka akan kita hadapi banyak kendala atau kesulitan-kesulitan, baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari pihak lain. Namun kesulitan dalam suatu perkara bukan berarti perkara itu tidak bisa kita laksanakan, diperlukan kesungguhan yang kuat dari diri kita untuk bisa melaksanakannya. Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad mengemukakan tentang amal yang sulit untuk dilaksanakan:

إِنَّ أَصْعَبَ اْلأَعْمَالِ أَرْبَعُ خِصَالٍ: اَلْعَفْوُ عِنْدَ الْغَضَبِ وَالْجُوْدُ فِى الْعُسْرَةِ وَالْعِفَّةُ فِى الْخُلْوَةِ وَقَوْلُ الْحَقِّ لِمَنْ يَخَافُهُ أَوْ يَرْجُوْهُ

Amalan yang paling sulit ada empat, yaitu: memberi maaf ketika marah, bermurah hati ketika sulit, iffah (memelihara diri dari yang haram) ketika sendirian dan mengatakan sesuatu yang benar, baik kepada orang yang disegani maupun orang yang mengharapkannya.

Dari ungkapan Khalifah Ali ra di atas, ada empat perkara yang meskipun sulit kita tetap harus berusaha untuk bisa melaksanakannya dalam kehidupan ini.

1. Memberi Maaf Saat Marah.


Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada kita yang membuat kita mengalami kerugian, maka muncullah kekesalan atau kemarahan kita kepada orang itu, bahkan tidak sedikit orang yang melampiaskan kemarahannya dengan sikap, ucapan dan tindakan yang lebih buruk dari kesalahan yang dilakukan orang itu. Karena itu, memaafkan merupakan sesuatu yang jauh lebih baik, apalagi pada saat kita begitu marah. Dalam hidup ini banyak orang yang bersikap dan berprilaku yang tidak menyenangkan, karenanya hal ini menuntut kelapangan dada sehingga memberi maaf dalam bentuk ucapan dan bukan sekadar memberi maaf di dalam hati merupakan hal yang amat terpuji sehingga hal itu menjadi lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan ucapan yang tidak menyenangkan bagi penerimanya, Allah swt berfirman:

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima), Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun" (QS Al Baqarah [2]:263).

Oleh karena itu, orang yang suka memberi maaf akan mencapai kedudukan yang amat mulia dalam pandangan Allah swt dan Rasul-Nya, hal ini dinyatakan dalam hadits Rasulullah saw:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

"Allah tidak menambahkan pada hamba yang memaafkan melainkan kemuliaan" (HR. Muslim).

2. Berderma Saat Miskin.

Keadaan miskin kadangkala membuat seseorang merasa pantas untuk tidak mau berderma, bahkan ia juga merasa pantas untuk mengharapkan dan meminta orang lain berderma pada dirinya. Ternyata di dalam Islam berderma itu tidak hanya pada saat seseorang memiliki kelebihan harta, tapi berderma juga pada saat ia sedang mengalami kesulitan sehingga hal ini bisa menjadi penangkal dari kemungkinan masuk neraka. Saat miskin seseorang mungkin hanya bisa berderma dalam jumlah sedikit dan hal itu wajar saja karena Allah swt tidak menilai dari sisi banyak atau sedikit, tapi yang dinilai adalah apakah berderma sudah dilakukan sesuai dengan kemampuan atau belum, Rasulullah saw bersabda:

إِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

"Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma"(HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, berderma apalagi pada saat miskin atau sempit menjadi salah satu kunci untuk bisa masuk ke dalam surga karena Allah swt amat mencintai orang yang berbuat baik seperti itu sebagaimana firman-Nya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (QS Ali Imran [3]:133-134).

3. Menjaga Diri Dari Yang Haram.


Halal dan haram merupakan ketentuan Allah swt yang harus kita taati dalam arti yang haram kita tinggalkan dan yang halal kita laksanakan. Allah swt menciptakan jin dan manusia untuk mengabdi atau berbakti kepada-Nya. Bila ketentuan Allah sudah kita taati, maka kita termasuk orang yang berbakti dan meninggalkan yang haram merupakan salah satu bentuk kebaktian kepada Allah swt, meskipun secara duniawi hal itu menyenangkan atau menguntungkan dan kesempatan melakukan hal itu sangat besa, kita tetap tidak akan melakukannya.

Ada banyak contoh tentang orang yang takut melakukan sesuatu yang haram, meskipun peluang untuk itu sangat besar, misalnya saja seorang anak gembala yang tidak mau menjual kambing gembalaannya kepada khalifah Umar bin Khattab karena dia merasa tidak berhak menjualnya. Begitu juga dengan Nabi Yusuf as yang tidak mau memenuhi ajakan seorang wanita yang cantik untuk berzina dengannya, dan berbagai contoh lain yang pernah ada dalam catatan sejarah.

4. Berkata Yang Benar.


Bagi seorang mukmin yang ingin memiliki kepribadian yang terpuji, ia akan selalu berusaha berbicara dalam kerangka kebaikan dan kebenaran. Karenanya, hal ini menjadi ukuran keimanan seseorang, dalam satu hadits Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam"(HR. Bukhari dan Muslim).

Namun harus kita sadari bahwa berbicara yang benar merupakan sesuatu yang sulit meskipun hal itu tetap bisa dilakukan. Ketika kita takut kepada seseorang kita cenderung berkata seperti yang dikehendakinya, begitu juga dengan orang yang berharap kita mengatakan sesuatu yang diinginkannya, maka kita cenderung berkata sesuai dengan apa maunya. Imam Ahmad Bin Hambal telah memberi contoh kepada kita bagaimana beliau berkata yang benar kepada penguasa yang zalim meskipun resikonya tersiksa dalam penjara, begitu juga dengan generasi sebelumnya, yakni Yasir, Sumayyah, Bilal dan sebagainya pada masa Rasulullah saw meskipun secara duniawi mereka mengalami keadaan yang sangat sulit.

Syaitan merupakan musuh utama orang yang beriman, karenanya setiap muslim harus waspada 24 jam setiap harinya dalam menghadapi godaan-godaan syaitan yang selalu menginginkan manusia melakukan kemaksiatan atau kedurhakaan kepada Allah swt. Karena sumber utama kemaksiatan adalah ucapan lisan, maka orang yang bisa mengendalikan lisannya termasuk orang yang dapat mengalahkan godaan-godaan syaitan, Rasulullah saw bersabda:

إِخْزَنْ لِسَانَكَ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّكَ بِذَالِكَ تَغْلِبُ الشَّيْطَانَ

"Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena sesungguhnya dengan demikian kamu dapat mengalahkan syaitan" (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban).

Dalam kehidupan ini, nilai pribadi dan prestasi seseorang seringkali diukur dari tingkat kesulitan yang dihadapi. Karena itu, bila perkara-perkara mulia yang amat sulit dalam hidup ini bisa dilaksanakan, maka kita akan menjadi manusia-manusia yang luar biasa.

Ahmad Yani
http://www.khotbah-jumat.co.cc/2010/02/perkara-yang-sulit.html

Hakikat Waktu


Ketika Rasulullah saw dan para sahabat berhasil menaklukkan atau menguasai Makkah yang kemudian disebut dengan futuh Makkah dari penguasaan orang-orang kafir, maka beliau menyatakan “Tidak ada hijrah sesudah futuh”, ini berarti orang yang pindah dari Makkah ke Madinah atau sebaliknya tidak bisa disebut dengan hijrah seperti yang dahulu beliau lakukan dengan para sahabatnya berhijrah ke Madinah. Sesudah futuh, Makkah dan Madinah sama-sama dalam kawasan yang haq. Meskipun demikian, hijrah yang tidak secara fisik tetap dituntut untuk dilakukan oleh setiap muslim.

“ Sesungguhnya hijrah memiliki dua macam. Yang pertama engkau meninggalkan keburukan dan yang kedua engkau berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Hijrah tidak pernah terputus selama selama taubat masih diterima dan taubat masih diterima selama matahari belum terbit dari barat” (HR. Ahmad).

Dari hadits di atas, menjadi amat jelas bagi kita bahwa hijrah itu dikelompokkan menjadi dua dan keduanya harus kita laksanakan dalam hidup ini sampai kematian menjemput kita.

1. Meninggalkan Keburukan


Dalam kehidupan ini ada kebaikan dan ada keburukan, ada haq dan ada bathil, kebaikan dan kebenaran merupakan sesuatu yang harus kita laksanakan, sedangkan kebathilan atau keburukan merupakan sesuatu yang harus kita tinggalkan. Ini merupakan konsekuensi iman yang menuntut kepada kita untuk menjalani kehidupan dengan amal shaleh sehingga kehidupan kita yang singkat ini memberi manfaat kebaikan yang seolah-olah usia kita begitu panjang karena manfaatnya dirasakan oleh orang lain meskipun kita telah wafat dalam waktu yang lama. Namun sayang sekali, tidak sedikit manusia termasuk yang menyatakan dirinya beriman tidak bisa meninggalkan keburukan dan kebathilan. Para sahabat telah mencontohkan kepada kita bagaimana mereka meninggalkan keburukan yang telah ditegaskan oleh Allah swt seperti pengharaman minuman keras bahkan minuman keras itu akhirnya dibuang ke jalan-jalan hingga jalan-jalan di kota Madinah menjadi becek,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al Maidah [5]:90).

Dalam konteks meninggalkan keburukan atau kemunkaran itulah, maka di dalam Islam disamping ada amar ma’ruf (memerintahkan yang baik), ada pula nahi munkar (mencegah manusia dari melakukan yang buruk), hal ini karena meskipun manusia tidak suka pada keburukan, namun karena hawa nafsu syaitan telah menguasai dirinya membuatnya justeru melakukan keburukan itu, copet yang melakukan kemunkaran ternyata tidak suka bila ia yang menjadi sasaran pencopetan, seorang lelaki yang memperkosa seorang wanita juga tidak suka bila wanita yang menjadi anggota keluarganya diperkosa oleh lelaki lain, begitulah seterusnya.

Dengan demikian, untuk berlangsungnya kehidupan yang baik, tidak ada pilihan lain bagi kita bersama kecuali harus berhijrah dalam arti meninggalkan segala bentuk keburukan

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ketika keburukan dan hal-hal yang dilarang tetap dikerjakan oleh manusia, maka akibat negatif akan menimpa dirinya cepat atau lambat. Sebagai sebuah contoh, ketika zina dilakukan oleh manusia, maka harga dirinya menjadi rendah, bahkan penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup manusia tidak bisa dielakkan seperti yang telah terjadi pada masa lalu dan masa sekarang, bahkan bisa jadi pada masa yang akan datang.

2. Menuju Allah dan Rasul-Nya

Dalam hidup ini begitu banyak manusia yang telah menjauh dari Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, dosa demi dosa mereka lakukan, dari mulai yang kecil sampai yang besar, bahkan amat besar karena banyak dosa besar yang telah dilakukannya. “Keasyikan” hidup dengan dosa-dosa itu membuat manusia semakin sulit meninggalkannya apalagi bisa jadi telah begitu menguntungkan secara duniawi bagi dirinya meskipun sebenarnya merugikan begitu banyak orang. Semua ini mengakibatkan tertanam perasaan di dalam jiwanya kekhawatiran yang sangat besar bila harus meninggalkan kemaksiatan yang telah “menghidupinya” itu dan berhijrah menuju Allah. Mereka berusaha mencari pembenaran dengan dosa yang dilakukannya, bahkan bisa jadi menggunakan dalil-dalil atau istilah yang biasa digunakan dalam Islam, sebagai contoh: menyogok polisi dibilang sedekah, menyogok pejabat dibilang hadiah, merampas karya orang dibilang hak paten, perzinahan dibilang memang zamannya begitu, mencari uang dengan berzina dikatakan sebagai pekerja seks dan begitulah seterusnya sampai kemudian orang merasa tidak bisa memperoleh sesuatu bila mengedepankan kehalalan sampai kemudian mereka menganggap tidak ada jalan lain kecuali harus menempuh jalan yang tidak benar.

Meskipun demikian, ternyata kita dapati begitu banyak orang yang mau berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya dalam arti kembali ke jalan yang benar, inilah yang disebut dengan taubat yang sesungguh-sungguhnya, mereka yakin ada hari esok yang lebih baik, merekapun siap meninggalkan “kenikmatan duniawi” itu meskipun orang lain dan mungkin bisa jadi mereka sendiri membayangkan kesulitan hidup yang bakal dialami, tapi mereka masih memiliki keyakinan dan keyakinan itu semakin besar dan mantap bahwa Allah swt pencipta dan pemilik bumi dengan segala isinya, Dialah yang telah menyediakan rizki untuk hamba-hamba-Nya, apalagi bila mereka mau melangkah ke berbagai belahan bumi yang luas, karenanya setelah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya dalam arti bertaubat, bisa jadi hijrah selanjutnya yang harus dilakukan adalah hijrah secara fisik dengan meninggalkan tempat tinggal atau lingkungan yang tidak mendukung bagi pengokohan iman.

"Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. An Nisaa [4]:100).

Bilal bin Rabah merupakan salah seorang sahabat yang membuktikan ayat di atas, dia adalah seorang budak yang hidupnya terkungkung di “ketiak” sang majikan. Namun dia mau berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya dan ternyata bumi ini tidak sesempit yang dibayangkannya, ia tidak hanya ditolong oleh sahabat Abu Bakar Ash Shiddik dengan dibebaskan dari status perbudakan tapi juga menjadi manusia terhormat dan tercatat dalam sejarah sehingga umat Islam sepanjang masa tidak akan pernah melupakannya.

Sahabat Abdurrahman bin Auf yang meninggalkan hartanya yang banyak di Makkah karena hijrah memperoleh lagi harta yang lebih banyak ketika sudah mengembangkan usaha di Madinah, beliau menjadi salah seorang sahabat yang sukses dalam bisnis dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran. Masih banyak lagi sahabat-sahabat dan generasi sesudahnya hingga hari ini sampai kiamat nanti yang merasakan bahwa setelah berhijrah bumi Allah ini memang luas dan rizkinya terhampar dimana-mana.

Dengan demikian, hijrah merupakan tuntutan iman yang membuat seorang muslim terangkat derajatnya dihadapan Allah swt dan memperoleh rahmat-Nya di dunia dan akhirat.

Oleh : Drs. H. Ahmad Yani
http://www.khotbah-jumat.co.cc/2009/12/hakikat-waktu.html

Hubungan Kesehatan dengan Makanan


Agama memerintahkan makan makanan yang halal dan baik. Perbedaan antara bahan-bahan makanan yang halal dan haram didasarkan pada prinsip-prinsip kebersihan. Pemakaian makanan yang haram dan susah dicerna sering membahayakan kesehatan.


Minuman keras merupakan jenis minuman yang susah dicerna sehingga tidak hanya membahayakan kesehatan badan, dan dalam banyak kasus merupakan.bibit bagi tindakan-tindakan kejahatan seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan tindakan kekerasan lainnya.

Kesederhanaan sejati mengajarkan kita supaya menjauhkan sama sekali segala hal yang membahayakan bagi jiwa dan raga kita. Kesederhanaan sejati juga mengajarkan kepada kita agar dengan bijaksana mengkonsumsi makanan dan minuman yang menyehatkan. Hanya sedikit orang yang menyadari betapa kebiasaan mereka dalam hal makan berakibat pada kesehatan mereka, tabiat/sifat mereka, manfaat diri mereka di dunia ini dan nasib mereka di akhirat. Tubuh harus menghamba kepada pikiran. Bukan pikiran yang menjadi hamba bagi tubuh.

Berjangkitnya flu burung misalnya, tidak lepas dari perilaku kita dalam industri unggas. Industri peternakan modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menentang hukum Allah. "Kanibalisme" dalam industri pakan ternak yang antara lain mengakibatkan degradasi genetic, sekaligus ikut berperan memciu terciptanya virus Avian Influence (AV) subtype baru atau virus burung.

Pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi berresiko memicu penyakit. Akibatnya adalah menurunnya tingkat kesehatan masyarakat. Padahal dari makanan inilah kita berharap tubuh kita sehat dan kuat sehingga dapat bekerja dan beribadah dengan baik.

Makanan dan minuman yang jelas kehalalannya saja belum tentu menyehatkan, apalagi makanan dan minuman yang diharamkan Allah. Sudah pasti di dalam larangan ini, Allah menghendaki agar manusia mampu mengendalikan diri dari mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram serta tidak menyehatkan. Allah SWT berfirman :
Artinya : "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu."
"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."

Dengan memahami firman Allah ini, kita menyadari bahwa masyarakat Islam seharusnya memiliki pola konsumsi yang menyehatkan.

Secara rohani, memakan makanan yang halal, berarti mendidik diri kita mengendalikan diri dan menghindari hal-hal buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Ini berarti hati kita akan sehat.

Adapun secara fisik, memakan makanan yang baik, berarti mendidik kita agar memakan makanan yang bergizi yang bermanfaat bagi tubuh. Sehingga makanan yang halal dan baik, akan menyehatkan mental dan tubuh kita. Dengan kesehatan mental dan tubuh ini, sebagai manusia kita akan dapat berpikir, merasakan dan bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain atau berbuat aniaya. Allah SWT berfirman dalam surat Al A'raf, ayat 160 yang artinya :
"Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri ".
Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya Allah telah mewajibakan segala yang wajib, karena itu janganlah kamu menyia-nyiakannya. Dan Allah membuat batasan-batasannya, maka janganlah kamu melampaui batasanya. Dan Allah telah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah kamu mengabaikannya, dan Allah mendiamkan (membolehkan) beberapa hal dikarenakan kasih sayang kepadamu bukan karena lupa, maka janganlah kamu mencari-cari)nya. " (HR. Daruquthni).

Halal dan haram sesungguhnya merupakan syari'at yang tegak diatas landasan terwujudnya kebaikan bagi seluruh ummat manusia. Dengan aturan-aturan, Allah hendak menghilangkan kesulitan dan memudahkan hidup manusia. Aturan ini tegak di atas prinsip memusnahkan kerusakan dan mewujudkan kemaslahatan; kemaslahatan baik fisik, ruhani maupun akal pikirannya. Juga kemaslahatan bagi seluruh masyarakat dimanapun ia berada; yang kaya, miskin, laki-laki, perempuan, penguasa, rakyat jelata

Segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah pasti berakibat buruk, hanya mungkin waktunya saja yang kita tidak tahu kapan akibat buruk itu terjadi.
Oleh karenanya apabila kita mengkonsumsi makanan yang halal dan baik, pasti kita akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam surat Al A'raf, ayat 156-7.

"Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami".

"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk ."

Marilah kita berusaha mengendalikan diri dari segala sesuatu yang diharamkan Allah. Sebab segala sesuatu yang dilarang Allah pada waktunya, pasti menghancurkan hidup kita dan masyarakat kita. Dan sesungguhnya kita semua mengharapkan kebaikan di dunia dan akhirat. Ketundukan manusia terhadap hawa nafsu tidak akan memiliki arti kebaikan dunia, sebaliknya tunduk kepada Allah, akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu". (Q.S. Almukminun:71)

http://menujucahayaterang.blogspot.com/search/label/Kesehatan

Bekerjalah Untuk Duniamu Seolah-olah Kau Akan Hidup Selamanya

Di dunia, kita memerlukan teman.
Demikian pula di akhirat kita memerlukan teman. Sebaik-baik teman adalah teman yang dapat membantu kita di kala sedih, susah dan kekurangan.


Kesedihan dan kesusahan di dunia dapat diatasi dengan berbagai cara. Namun kesedihan dan kesusahan di akhirat, hanya dapat diatasi manakala kita memiliki teman yang bernama "amal shaleh."

Dalam sebuah syair disebutkan :

"Carilah teman dari perilakumu. Namun sesungguhnya temanmu di dalam kubur adalah amal-amalmu."


Jika amalnya bagus, amal ini akan menjadi teman yang menyenangkan. Sebaliknya jika amalnya jelek, amal ini akan menjadi teman yang menyengsarakan. Teman yang berakhlak buruk akan menyengsarakan. Demikian pula amal-amal yang buruk hanya akan menambah beban di akhirat manakala bertemu dengan Tuhan. Allah SWT berfriman dalam surat Al An'am, ayat 31 yang artinya :

"Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu."

Amal shaleh yang kita kerjakan tidak semata-mata dalam bentuk ibadah seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Banyak hal sederhana yang dapat kita lakukan dalam hubungan sesama manusia yang bernilai ibadah. Misalnya menghormati tamu, berbuat baik kepada tetangga, menengok orang sakit, mendoakan orang yang telah meninggal dunia, dan membantu fakir miskin. Rasulullah SAW memberi petunjuk bahwa ada 7 (tujuh) amal yang bila dikerjakan pahalanya akan terus mengalir.

1. Mengajarkan ilmu pengetahuan. Amal kebaikan ini meliputi usaha meningkatkan pendidikan di dalam keluarga dan masyarakat seperti memberi beasiswa kepada anak-anak kurang mampu dan menyelenggarakan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ) dan madrasah atau menjadi guru ngaji di mushalla dan masjid.

2. Mengalirkan air sungai. Usaha memperlancar aliran air sungai atau membuat irigasi, memberikan manfaat besar kepada para petani, sehingga amal ini merupakan amal kebaikan.

3. Menggali sumur atau mengusahakan air bersih.

4. Menanam pohon kayu atau reboisasi dan penghijauan.

5. Mendirikan masjid atau berinfak untuk memakmurkan masjid.

6. Mewariskan kitab suci al Qur'an atau memasyarakatkan al Qur'an.

7. Meninggalkan anak-anak sholeh yang mendo'akan orangtua

Dengan bimbingan Rasulullah Muhammad SAW kita memahami bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan umum, untuk memajukan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat merupakan amal jariyyah yang akan diberi pahala oleh Allah SWT secara terus menerus. Sesungguhnya kita tidak mampu memikul dosa-dosa ketika menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Namun dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di dunia, maka amal shalih ini akan menjadi kendaraan yang memudahkan kita menghadap Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :

" Sesungguhnya orang yang memiliki amal shaleh akan mengendai amal shalehnya itu pada hari kiamat."

Bukan tidak mungkin semua kesenangan-kesenangan di dunia ini, justru akan menyengsarakan kita di akhirat. Yakni, manakala hidup kita tidak ditujukan untuk mengabdi kepada Allah, maka Allah akan berpaling dari kita di akhirat kelak. Kita akan memikul dosa-dosa dikarenakan kita sibuk dengan urusan dunia dan meninggalkan Allah.

Dalam sebuah syair disebutkan :

" Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmuseolah-olah kau akan mati besok."


Selagi hidup di dunia, kita harus bekerja keras agar kita dapat hidup secara layak, memberi manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara. Namun usaha kita untuk mencapai kemuliaan dunia, harus disertai dengan usaha kita untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Kemuliaan di dunia tidak akan ada artinya apapun manakala di akhirat kelak kita datang menemuai Allah seraya memikul dosa-dosa disebabkan melalaikan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surat Asy-Syura, ayat 20.

Artinya :"Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat."

Amal kebajikan merupakan cara untuk memperingan beban kita di akhirat kelak. Hal-hal sederhana pun dapat kita jadikan sebagai amal ibadah kita seperti berbuat baik kepada keluarga, tetangga, teman sekerja, masyarakat, membersihkan sampah di selokan, menanam pohon di kawasan kritis, berbagi air bersih, memperlancar aliran sungai dan memasyarakatkan Al Qur'an.

Sesungguhnya kita semua mengharap kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun kebahagiaan dunia – akhirat ini tidak akan kita peroleh tanpa usaha dan amal ibadah. Seorang pekerja tidak akan memperoleh hasil apapun tanpa pekerja, seorang petani tidak akan memperoleh apapun tanpa menanam, seorang peternak ikan tidak akan memperoleh hasil apapun tanpa menebar benih. Demikian pula seorang hamba Allah tidak akan memperoleh keuntungan akhirat, tanpa berbuat kebajikan. Semoga kita mendapat rahmat dan ampunan Allah

http://menujucahayaterang.blogspot.com/2009/06/bekerjalah-untuk-duniamu-seolah-olah.html

Maksud Seolah-olah Melihat Allah

Didalam sebuah hadits shahih dari Umar bin Khottob yang menceritakan tentang kedatangan Jibril menemui Rasulullah saw yang saat itu tengah berkumpul bersama para sahabatnya. Diantara yang ditanyakan Jibril kepada Rasulullah saw adalah tentang makna ihsan lalu beliau saw menjawab,”(ihsan) hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguh-Nya Dia melihatmu.” Dan jawaban ini pun dibenarkan oleh Jibril.

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam “Shahih” nya, kitab ‘al Iman’, hadits no. 8. Juga Imam Tirmidzi didalam “Sunan” nya, kitab ‘al Iman’, hadits no. 2738. Juga Abu Daud didalam “Sunan” nya, kitab ‘as Sunnah’ bab ‘al Qodr’ hadits no. 4695 serta Imam Nasai didalam “Sunan” nya, kitab ‘al Iman’ bab ‘Na’tul Islam’ 8/97

Tentang makna “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”, Ibnu Rajab didalam bukunya “Jami’ al Ulum wa al Hikam” mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan seorang hamba yang beribadah kepada Allah swt dengan sifat ini, yaitu menghadirkan kedekatan Allah swt dan Allah berada dihadapannya seakan-akan dirinya melihat-Nya. Hal demikian akan memunculkan perasaan takut dan pengagungan-Nya sebagaimana disebutkan didalam riwayat Abu Hurairoh,”Takutlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”

Perasaan itu juga akan memunculkan kemurnian didalam ibadah dan upaya sekeras mungkin untuk memurnikan dan menyempurnakan ibadahnya itu sebagaimana wasiat Nabi saw kepada para sahabatnya yang diriwayatkan Ibrahim al Hijriy dari Abu al Ahwash dari Abu Dzar berkata,”Kekasihku (Rasulullah saw) pernah memberikan wasiat kepadaku agar aku takut kepada Allah seakan-akan aku melihat-Nya dan jika aku tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatku.”

Kemudian Ibnu Rajab menjelaskan tentang makna “Dan jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Ada yang mengatakan bahwa bagian kedua ini merupakan penjelasan dari bagian pertama. Sesungguhnya jika seorang hamba diperintahkan untuk merasakan pengawasan Allah swt didalam ibadahnya dan menghadirkan kedekatan-Nya terhadap dirinya sehingga seakan-akan dirinya melihat Allah maka hal ini sangatlah sulit.

Untuk itu hendaklah dirinya meminta pertolongan dengan keimanannya bahwa Allah swt melihatnya, mengetahui segala yang tersembunyi dan tampak padanya, yang batin maupun yang lahir dan tak satupun dari perkaranya yang tersembunyi dari-Nya.

Ada juga yang mengatakan bahwa hadits itu mengisayaratkan bagi siapa saja yang kesulitan didalam beribadahnya kepada Allah swt seakan-akan dirinya melihat-Nya maka beribadahlah kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah melihat dirinya, memperhatikannya kemudian dirinya merasa malu atas penglihatan Allah kepadanya itu.

Sebagian orang-orang arif dari para salaf mengatakan,”Barangsiapa yang beramal karena Allah swt seakan-akan dia melihat-Nya maka ia adalah orang yang arif dan barangsiapa yang beramal dikarenakan Allah melihat-Nya maka ia adalah orang yang ikhlas.”

Dari perkataan tersebut menunjukkan adanya dua posisi :

Posisi Ikhlas; yaitu seorang hamba yang beramal dengan menghadirkan penglihatan Allah terhadap dirinya, pengamatan-Nya dan kedekatan-Nya dengan dirinya. Maka apabila seorang hamba menghadrikan seperti itu didalam amalnya dan beramal karena itu maka ia adalah seorang yang ikhlas karena Allah karena menghadirkan hal demikian didalam amalnya menghalanginya dari berpaling kepada selain Allah dan kehendak-Nya dengan amal yang dilakukannya.

Posisi Musyahadah (menyaksikan); yaitu seorang hamba yang beramal sebagai tuntutan karena dirinya menyaksikan Allah dengan hatinya dikarenakan hatinya telah diterangi oleh cahaya keimanan, mata hatinya menembus pengetahuan sehingga menjadikan sesuatu yang ghaib seakan-akan terihat, inilah hakekat ihsan yang diisyaratkan didalam hadits Jibril diatas.

Dengan demikian yang dimaksudkan kalimat “seakan-akan engkau melihat-Nya” adalah melihat dengan hatinya yang dipenuhi dengan cahaya keimanan kepada Allah swt bukan dengan matanya dan bukan pula membayangkan dzat Allah swt dengan akal fikirannya yang serba terbatas untuk bisa mencapainya. Karena dilarang bagi seorang hamba yang menghabiskan waktunya untuk merenungi atau memikirkan dzat Allah swt akan tetapi diperintahkan baginya untuk merenungi berbagai ciptaan-Nya yang ada di sekitarnya dikarenakan keterbatasan yang ada pada dirinya, sebagaimana firman Allah swt :

لاَّ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ


Artinya : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. Al An’am : 103)

Wallahu A’lam

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/seolah2-melihat-allah-swt.htm

Rabu, 17 Februari 2010

SHIRAATH AL MUSTAQIIM

Sebagai Muslim, kita diwajibkan membaca do’a dalam shalat, sedikitnya 17 kali sehari; Ihdinash shiraath al mustaqiim [Ya Allah, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus]. Shiraath al mustaqiim adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah SWT atas mereka (para nabi, para syuhada, dan shalihin), Shiraathth al ladzina anamta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhaalin [bukannya jalan orang-orang yang dimurkai Allah (al maghdhub) dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat (adh dhalliin)]. Itulah yang dinamakan Shirath al mustaqim atau jalan lurus.

Orang-orang yang dimurkai Allah (al maghdhub) adalah mereka yang sudah tahu kebenaran, tetapi enggan menerima kebenaran. Bahkan, mereka kemudian menyembunyikan kebenaran, atau berusaha mengaburkan kebenaran, dengan berbagai cara, sehingga yang haq dilihat sebagai bathil dan yang bathil dilihat sebagai haq. Kaum al maghdhub ini juga bukannya tidak tahu tentang Al Qur’an. Bahkan, bisa jadi mereka sangat pandai berhujjah (berbicara / menafsirkan) tentang Al Qur’an.

Sayyidina Umar bin Khathab pernah menyatakan, bahwa yang paling beliau khawatirkan akan menimpa ummat Islam adalah ’tergelincirnya’ orang-orang yang ’alim dan ketika orang-orang munafik sudah berhujjah tentang Al Qur’an. Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan, bahwa yang paling beliau khawatirkan menimpa ummat Islam adalah munculnya orang-orang munafik yang pandai berhujjah.
Jadi, golongan al maghdhub adalah siapa saja yang sudah mengetahui kebenaran, tetapi enggan mengikuti kebenaran dan bahkan mengubah-ubah dan menyembunyikan kebenaran. Karena itulah, kita diperintahkan untuk berdo’a, agar jangan sekali-kali kita termasuk ke dalam golongan seperti ini.

Begitu juga kita berdo’a semoga tidak termasuk ke dalam golongan ’adh dhalliin, golongan yang tersesat. Mereka tersesat karena tidak tahu dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Karena ketidaktahuan atau kebodohan inilah, golongan ini akan menyangka yang benar sebagai bathil dan yang bathil mereka sangka benar. Mereka adalah korban-korban dari tindakan golongan al maghdhub yang telah terlebih dahulu mengubah-ubah kebenaran.

Seperti halnya jalan-jalan di sekitar kita, di samping jalan lurus, ada pula jalan-jalan yang mengarah ke kanan dan ke kiri dari jalan lurus tersebut. Di jalan-jalan yang menyimpang itu kita ibaratkan ada syeitan-syeitan yang menyeru kepada orang-orang bodoh, yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya kita tidak berbelok ke ‘jalan-jalan’ syeitan itu. Begitulah seharusnya kita memaknai shiraath al mustaqim itu.

Ummat Islam dihadapkan pada pilihan;
1. ikut jalan lurus (shiraath al mustaqiim),
2. ikut jalan orang-orang yang dimurkai Allah (al-maghdhub), atau
3. ikut jalannya orang-orang yang sesat (adh dhaalliin).
Pilihan bagi orang-orang bijak yang berilmu sudah sangat jelas; seharusnyalah ikut shiraath al mustaqiim. Tetapi, tentu saja, untuk mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang iman dan mana yang kufur, tidak cukup dengan berdoa saja. Namun harus disertai dengan menggunakan ilmu. Karena itu, kita diwajibkan untuk senantiasa mencari ilmu, sepanjang hidup. Dan ilmu yang terpenting adalah ilmu untuk memahami mana yang haq dan mana yang bathil, dan hal itu sudah diturunkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya.

Di zaman modern ini, di mana berbagai gagasan yang merusak Islam sudah begitu menyebar bagai virus ganas, ummat Islam justru dihadapkan pada tantangan yang sangat berat dalam masalah keilmuan. Khususnya, ilmu untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Sebab, pada zaman seperti ini, yang memperjuangkan kebathilan pun tidak jarang berhujjah tentang ayat-ayat Al Qur’an dan Hadis. Namun cara pemahaman mereka terhadap Al Qur’an tidak sesuai dengan yang dirumuskan oleh Rasulullah SAW dan pewaris beliau, para ulama yang shalih.

Bagi kita, ummat Islam, Al Qur’an yang merupakan wahyu Allah SWT adalah pedoman hidup yang utama. Cara memahami Al Qur’an pun sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW dan para sahabat Nabi.

Para ulama pewaris nabi kemudian merumuskan metodologi tafsir dengan sangat cermat dan teliti. Karena Al Qur’an adalah kitab yang terjaga lafaz dan maknanya, maka tafsir, bukan ilmu spekulasi. Termasuk ketika menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an yang memungkinkan terjadi-nya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat itu pun ada landasannya. Tidak asal berbeda.

Berangkat dari kepastian sumber, kepastian metodologi, dan kepastian makna itulah, selama ratusan tahun ummat Islam berjaya mengarungi kehidupan di dunia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Ummat Islam memiliki pedoman yang pasti, yaitu teks Al Qur’an dan Sunnah Nabi, yang mencakup segala aspek kehidupan. Ini berbeda dengan peradaban Barat yang tidak memiliki teks wahyu sebagai pedoman hidup mereka. Karena itu, mereka tidak membangun peradaban di atas dasar Bibel. Mereka membuat sistem politik, ekonomi, sosial, hukum dan sebagainya, bukan berdasarkan pada Bibel, tetapi pada spekulasi akal semata.

Meskipun demikian, di kalagan ummat Islam, menetapi jalan lurus bukanlah hal yang mudah, karena di kiri kanan kita senantiasa terbentang jalan-jalan yang menyimpang yang seringkali dipoles dengan sangat indah dan menawan. Pada tiap jalan yang menyimpang itu, ada syeitan yang mengajak manusia untuk mengikuti jalannya. Dengan berbagai tipu muslihat, syeitan mencoba memalingkan manusia dari cahaya ilmu, lalu membiarkannya tersesat dan kebingungan dalam gelapnya kebodohan. Dari situlah syeitan kemudian memasukkan hal-hal yang secara lahiriah adalah perbuatan baik/amal shalih ke dalam agama, namun sebenarnya ia tidak pernah dituntunkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Muncullah berbagai keyakinan dan amalan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Maka lahirlah i’tiqad dan perbuatan yang tak pernah dikenal oleh generasi terbaik ummat (yaitu generasi As Salafus shalih), yang dinamakan bid’ah. Yaitu segala perkara yang dibuat-buat dalam agama yang sama sekali tidak memiliki dasar dalam syari’ah. Barang siapa yang mencoba melakukan hal ini, maka ia akan dalam ancaman Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya:
1.Barangsiapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan (agama) kami, apa-apa yang tidak ada keterangan darinya maka dia itu tertolak. [HR Bukhari dan Muslim].
2.Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dilandasi/tidak sesuai dengan keterangan kami, maka dia itu tertolak. [HR Muslim]

Hadis-hadis di atas merupakan pedoman yang harus digunakan untuk mengukur dan menilai sebuah amalan secara lahiriah, sehingga amalan apapun dikembalikan kepada pelakunya. Sehingga berdasarkan hadis ini pula perbuatan apa pun yang diada-adakan dalam Islam bila tidak diizinkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, maka tidaklah boleh dikerjakan, betapapun baik dan bergunanya menurut akal kita.

Meskipun demikian Islam juga memberikan kesempatan untuk melakukan pengembangan, sehingga para ulama, di antaranya Imam Syafi'i dan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah merumuskan bahwa hukum dasar dalam bidang muamalah adalah boleh (tidak ada larangan) hingga datangnya dalil yang melarang hal tertentu. Jadi kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan inovasi selama belum ada larangan yang tegas terhadap apa yang akan kita lakukan.

Namun kita tetap harus bijaksana, karena pada dasarnya perilaku bid’ah dan segala perilaku yang mengarah pada penambahan terhadap ajaran Islam adalah tindakan kejahatan yang amat sangat nyata. Bila kejahatan bid’ah ini dilakukan maka ‘kejahatan-kejahatan’ lain akan muncul.

Perilaku bid’ah menunjukkan bahwa pelakunya telah berprasanga buruk (suudzon) terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya yang telah menetapkan risalah Islam, karena pelaku bid’ah menganggap bahwa agama ini belumlah sempurna, sehingga perlu diberikan ajaran-ajaran tambahan agar lebih sempurna. Dampak negatif lain dari perilaku bid’ah adalah bahwa hal ini akan mengotori dan menodai keindahan syari’ah Islam yang suci dan telah disempurnakan oleh Allah SWT. Perbuatan ini akan memberikan kesan bahwa Islam tidaklah pantas menjadi pedoman hidup karena ternyata belum sempurna.

Perbuatan bid’ah juga akan mengakibatkan terhapusnya dan hilangnya syi’ar-syi’ar Sunnah dalam kehidupan ummat Islam. Hal ini disebabkan tidak ada satupun bid’ah yang muncul dan menyebar melainkan sebuah sunnah akan mati bersamanya, sebab pada dasarnya bid’ah itu tidak akan muncul kecuali bila sunnah telah ditinggalkan. Sahabat Nabi yang mulia, Ibnu Abbas pernah menyinggung hal ini dengan mengatakan:
Tidaklah datang suatu tahun kepada ummat manusia kecuali mereka membuat-buat sebuah bid’ah di dalamnya dan mematikan sunnah, hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah.
Tersebarnya bid’ah akan menghalangi kaum Muslimin memahami ajaran-ajaran agama yang shahih dan murni, karena ketika mereka melakukan bid’ah tersebut maka saat itu mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang salah, mereka justru meyakininya sebagai sesuatu yang benar dan termasuk dalam ajaran Islam.

Hal itu menjelaskan bahwa pelaku maksiat bagaimanapun dia meyakini bahwa perbuatannya adalah dosa, sedangkan pelaku bid’ah melakukannya dengan keyakinan hal itu termasuk ajaran agama (bukan dosa).
Perlu kita perhatikan dengan seksama bahwa agama Islam sudah memberikan keterangan-keterangan yang lengkap, sehingga tidak perlu penambahan atau pengurangan. Jika ada perubahan, itu disebabkan karena perbedaan situasi dan kondisi, misalnya hal-hal yang menyangkut masalah politik, ekonomi, budaya, hukum, keamanan, dan sebagainya diterangkan secara global agar dapat mengikuti kepentingan manusia, pada setiap waktu dan tempat.

Hendaknya kita banyak membaca buku-buku, termasuk tentang hadis yang shahih, mutawatir, atau paling tidak hasan, yang menjelaskan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW (mutaba’ah), agar tidak terjerumus ke dalam tata-cara beribadah yang bid’ah.

Menuntut ilmu itu tiada batasnya. Amal kebaikan kita merupakan buah dari ilmu, dan ilmu bermula dari hikmah, dan yang utama diperoleh dari membaca. Ingatlah bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca.
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan qalam (pena). Dialah yang mengajar manusia segala yang belum diketahui.
[QS Al ‘Alaq (96): 1-5]. []

Apa yang kami kemukakan menyangkut fikih pada tulisan perdana ini tidak akan kami rinci lebih lanjut, melainkan hanya sebagai penjelasan mengapa kita perlu mengikuti shiraath al mustaqiim. Dengan begitu hendaknya kaum Muslimin juga meluangkan waktu untuk membaca tulisan-tulisan yang akan kami tampilkan selanjutnya dalam blog kami ini. []

http://almustaqiim.blogspot.com/search/label/B.%20Shiraath%20al%20Mustaqiim

AKHLAK, IMPLEMENTASI IMAN DALAM KEHIDUPAN


Akhlak menempati kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik menurut pandangan Allah maupun menurut pandangan masyarakat. Seseorang dihormati dan memperoleh penghargaan tinggi yang tulus apabila akhlaknya baik, sebaliknya orang dianggap rendah dan dilecehkan bila akhlaknya buruk. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah tersebut? Ensiklopedi Islam mendefinisikan akhlak sebagai keadaan yang melekat di dalam jiwa sehingga dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan dan penelitian. Ensiklopedi Hukum Islam memaknai akhlak sebagai tingkah laku yang lahir dari manusia dengan sengaja, tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan. Pengertian yang serupa kita dapatkan dari Ibnu Maskawaih, Al Ghazali dan ulama lain.

Dari beberapa telaahan tersebut kita memperoleh pemahaman bahwa suatu perbuatan disebut akhlak bila memenuhi dua persyaratan. Pertama, disengaja, bukan sebuah kebetulan dan bukan karena keterpaksaan. Bagi orang Mukmin, perbuatan itu dilakukannya ‘karena Allah’, dia senantiasa memenuhi perintah Al Qur’an untuk merealisasikan ikrarnya: “Sesungguhnya shalatku, amal ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam”. [QS Al An’aam (6): 162]. Kedua, sudah menjadi kebiasaan sehingga untuk melakukannya orang tidak perlu berpikir panjang, tidak lagi mempertimbangkan baik dan buruknya, untung dan ruginya. Seseorang yang pada suatu ketika memberi sumbangan harta tetapi setelah berpikir panjang, atau hanya sekali-sekali, maka dia belum disebut berakhlak penderma atau dermawan. Dia baru dimasukkan oleh Allah atau masyarakat sebagai berakhlak penderma apabila perbuatan memberi itu sudah menjadi kebiasaannya.

Secara etimologis, perkataan akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluq, sedangkan khuluq satu akar kata dengan Khaliq – Yang Maha Pencipta yaitu Allah, dan makhluq – ciptaan Allah, termasuk manusia. Dengan demikian akhlak bersangkutan erat dengan hubungan antara manusia dengan Allah, baik yang berkenaan dengan niat dan tujuan perbuatan, maupun dengan nilai-nilai (values) dan norma-norma (norms) yang menjadi acuan untuk menetapkan apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk, bermanfaat atau mengandung banyak mudharat.

Inilah yang membedakan antara akhlak dengan etika atau budi pekerti rekacipta manusia. Tetapi meskipun berbeda sumber, akhlak tidak mesti bertentangan dengan etika, karena tatkala mencipta manusia, Allah telah melengkapinya dengan kecenderungan kepada yang benar dan yang baik. Kecenderungan batin ini berpangkal kepada keyakinan asasi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara metaforik Al Qur’an menuturkan bahwa tatkala janin manusia terbentuk, Allah SWT bertanya kepadanya; “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Manusia dalam wujud yang sangat awal itu menjawab: “Benar, Engkau Tuhan kami; kami menjadi saksi mengenai hal itu”. [QS Al A’raaf (7): 172].

Berkenaan dengan keterangan Al Qur’an ini Rasulullah SAW menyatakan bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci dan cenderung kepada kesucian). Maka orangtuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. [HR Bukhari]. Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa sebagian orang menjalani kehidupan yang melenceng dari fitrahnya. Keadaan itu disebabkan oleh dorongan nafsu yang tidak terkendali dengan semestinya.

Sebenarnya nafsu yang ada pada manusia itu bukan sesuatu yang buruk, tetapi justru menjadi pendorong untuk mengembangkan budayanya. Nafsu menjadikan orang bersemangat untuk berikhtiar mencapai keberhasilan dan menikmati setiap proses ikhtiarnya itu. Karena itu nafsu tidak boleh dikekang terlalu keras, karena hal itu berakibat matinya kreatifitas dan kegembiraan hidup di dunia. Tetapi nafsu cenderung berlebihan, dan kondisi yang demikian itu membawa orang melakukan berbagai keburukan. Maka orang harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk mengendalikan nafsunya, sehingga tidak terlalu kuat tetapi juga tidak terlampau lemah. [QS Al Israa’ (17): 29]. Nafsu yang terkendali dengan baik itulah yang mendapat kucuran rahmah Allah SWT. [QS Yusuf (12): 53]. Maka Allah menurunkan perintah kepada manusia: ”Makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan, karena Dia tidak suka kepada orang-orang yang berlebih-lebihan”. [QS Al A’raaf (7): 31].

Mengendalikan nafsu benar-benar bukan pekerjaan yang mudah. Syeitan selalu berusaha mengambil alih kemudi terhadap nafsu kemudian mengarahkannya untuk menerjang segala batas dan melebihi segala takaran yang diperuntukkan baginya. Iblis – pemimpin segala setan – telah membekali seluruh anak buahnya yang berupa jin maupun manusia [QS An Naas (114): 6], dengan semangat dan kecermatan untuk menggelincirkan setiap orang dari jalan lurus menuju jalan yang sesat. Yang demikian itu sudah diikrarkan iblis langsung ke Hadapan Allah SWT [QS Al A’raaf (7): 16-17]. Maka di antara manusia ada yang mampu melawan godaan dan bujuk rayu syeitan tersebut dan ada yang menyerah kalah. Karena itu ada orang yang memiliki akhlak mulia (Al akhlaqul karimah) atau akhlak terpuji (Al akhlaqul mahmudah), dan ada yang mempunyai akhlak buruk (Al akhlaqul qabihah) atau akhlak tercela (Al akhlaqul madzmumah).

Atribut berakhlak baik atau berakhlak buruk pada diri seseorang itu tidak bersifat tetap. Umar ibnu Khattab dan Khalid bin Walid dalam waktu yang cukup lama adalah pembenci kebenaran dan memusuhi Islam yang didakwahkan Rasulullah SAW. Tetapi dengan hidayah Allah mereka kemudian menikmati kehidupan yang sakinah – tenang tenteram, setelah beriman kepada Allah SWT dan menunaikan serta menegakkan syari’at-Nya, dan menjadikan Rasulullah SAW yang pernah mereka benci itu sebagai panutan hidupnya.

Tetapi sebaliknya banyak orang yang murtad – meninggalkan Islam dan berpaling kepada keyakinan lain. Tidak jarang pula kita jumpai orang-orang yang pada masa mudanya memegang teguh idealisme yang tinggi, berjuang dan berkorban untuk menegakkan keyakinannya yang baik itu, tetapi setelah menduduki jabatan tertentu dengan mapan, merubah haluannya dan mengkhianati idealismenya semula. Allah menyatakan di dalam Al Qur'an, bahwa Dia telah menunjukkan kepada manusia dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan [QS Al Balad (90): 10]. Dia mengilhamkan kepada setiap jiwa itu kefasikan dan ketakwaan [QS Asy Syams (91): 8].

Petunjuk Allah yang berupa informasi tentang jalan yang baik dan yang buruk itu tidak dengan sendirinya membawa orang masuk ke jalan yang baik dan menjauh dari jalan yang buruk. Nafsu yang berada di dalam kendali syeitan justru lebih tertarik kepada keburukan dibanding kebaikan. Jangankan tawaran surga yang baru akan didapatkan di dalam kehidupan akhirat, lulus ujian atau kenaikan jabatan yang dekat, yang ditawarkan kepada orang yang mau bekerja keras, ditolak oleh orang yang lebih suka bermalas-malasan. Jangankan ancaman neraka yang banyak orang tidak segera dapat mencernanya, kesengsaraan berat bagi orang yang mengonsumsi narkoba, yang bukti-buktinya telah nampak jelas,acap kali tidak mampu mencegah orang untuk masuk ke jalan menuju neraka dunia itu. Maka sebagaimana telah dikemukakan di atas, upaya mengendalikan nafsu sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Karena itu ketika pulang dari perang Badar yang dahsyat Rasulullah SAW bersabda: “Kita pulang dari jihad kecil untuk menuju jihad besar, yaitu jihad terhadap nafsu”.

Allah SWT yang Maha Pengasih menolong manusia di dalam usahanya itu dengan menurunkan agama, yang intinya adalah petunjuk untuk mengendalikan nafsu. Mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [HR Imam Malik]. Sesuai dengan ucapannya itu beliau senantiasa membimi\bing dan mendidik ummatnya, secara individual maupun komunal, dengan ucapan maupun contoh perbuatan, agar melakukan dan membiasakan diri kepada akhlak yang baik. Menjawab pertanyaan beberapa sahabat, isteri Nabi Muhammad SAW ‘Aisyah RA menyatakan testimoninya: “Akhlak Rasulullah adalah Al Qur'an”.

Rasul sendiri menerangkan bahwa Allah SWT adalah sumber utama bagi pembinaan akhlak. Beliau bersabda: “Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah”. Dia menyayangi tanpa berharap mendapat balasan apapun dari yang disayanginya. Dia memberi tanpa batas. Dia berbuat baik kepada yang beriman maupun yang durhaka kepada-Nya. Sudah tentu tidak ada seorangpun yang mampu memiliki akhlak seperti Allah, tetapi upaya menuju kondisi demikian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ini berarti, orang dianggap berakhlak baik bila berproses menuju keadaan yang lebih baik.


Mengenai kepada siapa orang berakhlak baik, ulama membaginya ke dalam dua golongan besar. Pertama adalah akhlak yang baik kepada Al Khaliq, sang Pencipta segala sesuatu yaitu Allah SWT. Kedua, akhlak yang baik kepada makhluk, ciptaan Allah, khususnya makhluk yang manusia dapat berinteraksi dengan mereka, yaitu sesama manusia, fauna, flora dan benda-benda lain yang mengisi alam raya ini. Akhlak kepada Allah dan akhlak kepada ciptaan Allah bukan dua hal yang terpisah, tetapi berjalin secara harmonis; yang satu akan memengaruhi yang lain. Akhlak mulia kepada Allah membentuk akhlak baik kepada sesama makhluk, dan sebaliknya akhlak baik kepada segala ciptaan akan mendekatkan dia kepada Pencipta segala sesuatu, Allah SWT. [Sakib Machmud].

http://almustaqiim.blogspot.com/

INTERPRETASI KARYA AHMAD SADALI DALAM KONTEKS MODERNITAS DAN SPIRITUALITAS ISLAM DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIK



Ahmad Sadali adalah seorang pelukis yang diakui luas memiliki reputasi di tingkat nasional, regional dan Dunia Islam. Dalam sejarah seni rupa modem Indonesia, Ahmad Sadali dikenal sebagai Bapak Seni Lukis Abstrak dan salah seorang perintis seni rupa bernafas Islam. Paduan antara seniman, akademikus, dan aktivis pergerakan Islam merupakan fenomena unik dalam dunia seni rupa modem yang berpijak pada prinsip otonomi seni dan keterpisahan seni dari bidang kehidupan lain seperti politik, moralitas, dan agama. Di pihak lain, dari sudut pandang keislaman, sosok dai dan aktivis Islam yang berpadu dengan pelukis modern sekuler merupakan hal yang tidak lazim. Kondisi yang nampak paradoksal ini menghadirkan permasalahan ilmiah yang menarik untuk diteliti: sebagai seorang seniman yang sepanjang hidupnya memegang teguh nilai-nilai keislaman, apakah karya-karyanya mencerminkan nilai-nilai itu? Bagaimanakah pengaruh kecenderungan personal dan kultural pada bentuk karyanya? Di mana letak otentisitas Ahmad Sadali dalam konteks kemodernan dan keislaman? Bagaimanakah makna dan kontribusi karyanya dikaitkan dengan masalah modernitas dan spiritualitas Islam?

Penelitian ini mencakup hubungan antara karya Ahmad Sadali dengan faktor internal dan eksternal (personal dan kultural). Kajian karya Ahmad Sadali dalam konteks modernitas dan spiritualitas Islam, dan penafsiran makna dan otentisitas karya Ahmad Sadali. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bentuk kepribadian Ahmad Sadali merepresentasikan kepribadian Muslim modernis yang berpijak pada sumber ajaran kerohanian Islam, Tauhid. Sedang dalam konteks modernitas, karya Ahmad Sadali menjangkau tiga wilayah utama: estetik, kultural, dan intelektual. Pada wilayah estetik, karya Sadali merupakan perwujudan pembaharuan berupa penemuan medium pada prada emas, teknik tekstur, tema gunungan, kaligrafi serta gaya seni abstrak meditatif. Karya Sadali juga menunjukkan kehadiran modernitas estetik yang berbeda dari modernitas estetik Barat yang menjauhkan seni dari nilai spiritualitas. Dalam karya Sadali, nilai spiritualitas menjadi nilai utama yang mampu mengembalikan nilai mitis, ibadah, dan puitis ke dalam ungkapan artistik. Pada wilayah kultural, gaya abstrak meditatif Sadali menjadi aliran seni yang melibatkan tokoh seniman lain, dan mengarus sebagai bentuk budaya keislaman. Sementara itu, secara intelektuai, pemikiran estetika Ahmad Sadali yang menyatukan antara rasa, rasio, dan iman dalam satu kesatuan integral merupakan bentuk pemikiran yang mengoreksi modernisme.

Dalam konteks spiritualitas Islam
, karya Sadali mewujudkan nilai Tauhid, karya seni sebagai pembentuk lingkungan hidup dan pemuliaan martabat benda, nilai keabstrakan, kaligrafi, dan fungsi seni sebagai pengingat hakekat ketuhanan, dzikir, tasbih, dan tahmid. Dengan demikian, baik dalam konteks modernitas maupun spiritualitas Islam, karya Sadali dapat ditafsirkan mengandung makna dan peran tazkiyah, celupan atau penyucian seni modem atau spiritualisasi modernitas. Dari sisi yang lain, is memiliki makna dan peran memodernisasi seni Islam.

Kontribusi ilmiah hasil penelitian mencakup penemuan konsep modernitas yang berbeda dari konsep modernitas yang berlaku selama ini dan teridentifikasikannya keberadaan paradigma seni dan budaya keislaman di Indonesia dengan karya Ahmad Sadali sebagai salah satu tonggak yang penting.

Lukisan Achmad Sadali, “Gunungan Emas”, 1980 ini merupakan salah satu ungkapan yang mewakili pencapaian nilai religiusitasnya. Sebagai pelukis abstrak murni Sadali memang telah lepas dari representasi bentuk-bentuk alam. Namun demikian, dalam bahasa visual semua bentuk yang dihadirkan seniman dapat dibaca dengan berbagai tingkatan penafsiran. Dalam usian peradaban yang ada, manusia telah terbangun bawah sadarnya oleh tanda-tanda yang secara universal bisa membangkitkan spirit tertentu. Warna-warna berat, noktah dan lubang, serta guratan-guratan pada bidang bisa mengingatkan pada citra misteri, arhaik, dan kefanaan. Tanda segi tiga, konstruksi piramida memberikan citra tentang religisitas. Lebih jauh lagi lelehan emas dan guratan-guratan kaligrafi Al Qur’an dapat memancarkan spiritualitas islami. Semua tanda-tanda tersebut hadir dalam lukisan-lukisan Sadali, sehingga ekspresi yang muncul adalah kristalisasi perenungan nilai-nilai religius, misteri dan kefanaan.

Pembacaan tekstual ikonografis itu, telah sampai pada interprestasi imaji dan pemaknaan bentuk. Namun demikian karena Sadali selalu menghindar dengan konsep eksplisit dalam mendeskripsikan proses kreatifnya, maka untuk menggali makna simbolis karya-karyanya perlu dirujuk pandangan hidupnya. Sebagai pelukis dengan penghayatan muslim yang kuat, menurut pengakuannya renungan kreatifitas dalam melukis sejalan dengan penghayatannya pada surat Ali Imron, 190 – 191 dalam Al Qur’an. Ia disadarkan bahwa sebenarnya manusia dianugerahi tiga potensi, yaitu kemampuan berzikir, berfikir, dan beriman untuk menuju “manusia ideal dan paripurna” (Ulul-albab). Menurut Sadali daerah seni adalah daerah zikir. Makin canggih kemampuan zikir manusia, makin peka mata batinnya. Dalam lukisan “Gunungan Emas” ini dapat dilihat bagaimana Sadali melakukan zikir, mencurahkan kepekaan mata batinnya dengan elemen-elemen visual.

http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-yustiononi-28374
http://www.galeri-nasional.or.id/Koleksi.php?subaction=showfull&id=1173960521&archive=&start_from=&ucat=12&

February

“Pass by, pass by,” someone says politely
to Time. But the cold
brings it to a halt, the city
shuts its doors.

Buildings still try to
declare their names
to the dark. But form Street 108 onwards
there is no more conversation

The moon ia as pale as margarine and
soundless.
The sky does not melt.
Traffic signs and lights

form
a hieroglyphic line,
and on Kilometer 6
there shines a final ray of light,

probably tossed
to the middle of strait:
a glow as slow as
a dancer mimicking a swan.

“Pas by, pass by,” someone says again
to Time.
But the ocean sucks it up and
minutes turn blue.

So rests eternity,
briefly, while the city
tunes in form a distance,
to the End’s footsteps,

like the horn of hunters….




Februari


Translator: Laskmi Pamuntjak


“Lewat, lewat,” seseorang berkata sopan
kepada Waktu. Tapi dingin
menyetopnya, kota
menutup pintu

Gedung-gedung masih mencoba
menyebutkan nama mereka
kepada gelap. Tapi sejak Jalan 108
tak ada lagi percakapan

Bulan sepucat margarin dan
tak bersuara.
Langit tak meleleh.
Rambu dan lampu

membentuk
deret huruf Mesir,
dan pada kilometer ke-enam
ada sinar terakhir,

mungkin terlontar
ke tengah selat:
cahaya yang sepelan
penari menirukan angsa

“Lewat, lewat,” seseorang berkata lagi
kepada Waktu.
Tapi laut menyedotnya dan
menit membiru.

Kekal pun singgah sebentar
dan kota
mendengarkan Ajal,
dari jauh,

seperti terompet pemburu


2004



—————————————————-
Dicuplik dari Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004], hal. 210-212.

http://goenawanmohamad.com/2010/02

Supremasi Hukum

Aisyah RA meriwayatkan, ada seorang perempuan bangsawan dari Bani Makhzum yang kedapatan mencuri. Kemudian, para sahabat menunjuk Usamah RA melaporkan hal ini kepada Rasulullah dan meminta keringanan hukuman dari beliau. Mendengar hal tersebut, Rasul SAW balik bertanya, ''Apakah kalian akan mengampuni apa yang seharusnya menjadi ketentuan Allah?''

Kemudian, Rasulullah bangkit dan menegaskan, ''Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu binasa disebabkan jika orang terhormat yang mencuri, mereka membiarkannya, tetapi jika orang lemah yang mencuri, mereka menetapkan hukum atasnya. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad yang mencuri, maka aku akan potong tangannya.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini memberi pelajaran yang sangat penting bagi kita. Bahwa hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Para penegak hukum tidak boleh tebang pilih dalam menjalankan amanat ini. Bahkan, Rasulullah sampai menegaskan andaikata yang melanggar hukum adalah putrinya sendiri, Fatimah, hal itu tidak menghalangi Beliau untuk memberlakukan hukum atasnya. Inilah gambaran sebuah komitmen yang kuat dari seorang pemimpin untuk menegakkan good governance.

Ada sinyalemen bahwa penegakan good governance di negeri kita melemah, bahkan berada di titik nadir. Hal itu diakibatkan telah membudayanya praktik suap-menyuap, jual beli perkara, dan beroperasinya para mafia peradilan. Belum lagi berbagai ironi dalam hukum di mana para pengemplang uang negara bebas melenggang, sementara para pencuri kelas teri harus mendekam di penjara selama beberapa bulan.

Mafia peradilan dan praktik jual beli perkara yang dipertunjukkan kepada publik secara terang benderang itu, jelas mengindikasikan secara kuat bahwa di negeri ini banyak sekali tindakan kejahatan yang berlangsung dalam lindungan hukum. Ini bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban. Masyarakat yang tidak menjadikan hukum sebagai panglima, lawless society, adalah masyarakat yang tidak berkeadaban, dan sebagaimana diingatkan Nabi, akan menuju pada kehancuran.

Oleh karenanya, pemerintah harus memiliki kemauan yang kuat untuk menjunjung tinggi supremasi hukum tanpa pandang bulu agar kita tidak di ambang kehancuran. ''Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, dan menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa ....'' (QS Al-Maidah [5]: 8).

Rabu, 17 February 2010, 12:45 WIB

Oleh Anang Rikza Masyhadi
http://www.republika.co.id/berita/104251/supremasi-hukum

Pengendalian Hawa Nafsu

Cinta kita kepada Allah SWT dan keyakinan bahwa kehidupan di dunia ini suatu saat akan berakhir dan di akhirat nanti masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan setiap detik perjalanan hidup di dunia, memiliki andil yang sangat besar dalam mengendalikan kecenderungan hawa nafsu.

Suatu saat terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ra. Rasulullah Saw bertanya kepada Hudzaifah. Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu saat ini?
Jawab Hudzaifah: “Saat ini saya sudah benar-benar beriman, ya Rasulullah”. Rasul kemudian mengatakan, “Setiap kebenaran itu ada hakikatnya, maka apa hakikat keimananmu, wahai Hudzaifah?”
Jawab Hudzaifah: Ada "dua", ya Rasulullah.
Pertama, saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya, sehingga bagi saya debu dan mas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan cari kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan menikmatinya dan bersyukur kepada Allah SWT. Tapi, kalau suatu saat kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya tinggal bersabar sebab dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka Alhamdulillah, dan bila ia pergi maka, Innalillaahi wa inna ilaihi raji'un.
Yang kedua, Hudzaifah mengatakan, “setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan seakan-akan surga dan neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan bagaimana ahli surga itu me-nikmati kenikmatan surga, dan sebaliknya bagaimana pula ahli neraka itu merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah saya untuk melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang-Nya”.

Mendengar jawaban Hudzaifah ini, Rasul langsung saja memeluk Hudzaifah dan menepuk punggungnya sambil berkata, "pegang erat-erat prinsip keimananmu itu, ya Hudzaifah, kamu pasti akan selamat dunia akhirat". Bila kita cermati dialog tersebut, paling tidak, ada "dua" hikmah yang bisa kita petik. Pertama, iman kepada Allah, dengan mencintai Allah itu di atas cinta kepada selain Allah. Dan yang kedua, selalu membayangkan akibat dari setiap perbuatan yang dilakukan di dunia bagi kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Di dalam beberapa ayat, Allah SWT menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang muttaqin, mereka di antaranya adalah yang meyakini akan adanya kehidupan akhirat. Orang yang beriman akan adanya kehidupan akhirat, akan membuat dia mampu mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak meyakini akan adanya kehidupan akhirat, "Mereka tidak pernah takut dengan hisab Kami, dan mereka telah mendustai ayat-ayat Allah dengan dusta yang nyata." (An Naba', 78 : 27-28)

Di dalam Alquran, Allah SWT mengisahkan dialog sesama Muslim di akhirat yakni antara Muslim yang ahli surga dengan Muslim berdosa yang masuk dalam neraka jahanam. Muslim yang langsung masuk surga bertanya kepada Muslim berdosa yang masuk ke dalam neraka. “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka ? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian.” (Al Muddatstsir, 74 : 42-46)

Menurut Alquran, kebanyakan orang-orang yang kufur adalah mereka yang akhir hidupnya penuh dengan kemaksiatan. Ini terjadi karena mereka tidak mengimani bahwa kehidupan mereka akan berakhir di alam akhirat dan mereka harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan mereka selama di dunia. Demikian pula, Allah SWT mengisahkan kesombongan Fir'aun dan orang-orang yang menyembahnya, "Sombonglah Fir'aun itu dengan seluruh pengikutnya di muka bumi tentu dengan alasan yang tidak benar. Dan mereka mengira, bahwa mereka tidak akan pernah kembali kepada Kami."
(Al Qashash, 28 : 39)

Kesombongan Fir'aun berakhir saat sakaratul maut. Saat dia menyadari bahwa dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Ketika rombongan malaikat yang bengis-bengis itu mendatanginya saat dia sedang berada di tengah laut, yang dikisahkan para malaikat itu langsung memukul wajah dan punggung mereka. Allah SWT berfirman: “..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al An'aam, 6 : 93)

Pada saat sakaratul maut itu, Fir'aun menyatakan: “Sekarang saya benar-benar beriman dengan Tuhannya Nabi Musa dan Harun”. Namun saat sakaratul maut pintu taubat sudah ditutup. Karena sudah tidak ada lagi ujian keimanan, sebab yang ghaib termasuk alam dan makhluk ghaib sudah terlihat nyata. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Qaaf, 50 : 22)

Orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari pembalasan/akhirat, yang diharapkan dapat mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya untuk hanya mencintai yang dicintai Allah dan membenci yang dibenci Allah, yang hanya mencintai sesuatu di dunia jika yang dicintainya itu dicintai Allah SWT.

Dalam sebuah hadis dikisahkan, suatu ketika pada siang hari, Sayidana Umar ra. berkunjung ke rumah Rasulullah SAW di mana saat itu Rasul sedang tidut beristirahat, dengan dada telanjang. Ketika beliau bangun tampaklah pada punggungnya garis-garis merah karena kasarnya alas tidur beliau yang dibuat dari pelepah kurma. Melihat pemandangan ini, Sayidina Umar menangis. Beliau yang terkenal keras saat itu luluh hatinya ketika melihat Rasulullah dalam kondisi seperti itu. Rasul bertanya: “Apa yang membuat kamu menangis wahai Sayidina Umar ? “Umar berkata:” saya malu ya Rasulullah, engkau adalah pemimpin kami, engkau adalah Rasul Allah, manusia pilihan, manusia yang dimuliakan-Nya. Engkau adalah pemimpin ummat, namun engkau tidur di atas alas yang kasar seperti ini, sementara kami yang engkau pimpin tidur di atas alas yang empuk. Saya malu ya Rasusulullah, selayaknya engkau mengambil alas tidur yang lebih dari ini”. Rasul menjawab: “Apa urusan saya dengan dunia ini? Tidak ada! Urusan diri saya dengan dunia ini kecuali seperti orang yang sedang mengembara dalam musim panas menempuh sebuah perjalanan yang cukup panjang, lalu sekejap mencoba bernaung di bawah sebuah pohon yang rindang untuk sekejap melepas lelah. Setelah itu dia pun kemudian pergi meninggalkan tempat peristirahatannya”. Kata Rasul: haruskah saya korbankan kehidupan yang abadi hanya untuk bernaung sejenak menikmati itu? (HR. Ahmad, Ibnu Habban, Baihaqi)

Selain kisah di atas, ada kisah lain yang layak kita renungkan di mana suatu ketika Khalifah Umar kedatangan putranya, Abdullah, yang meminta dibelikan baju baru. Secara spontan saja Sayidina Umar langsung marah sambil mengatakan: “Apakah karena kamu seorang anak Amirul Mu’minin lantas kamu ingin bajumu selalu lebih baik dari anak-anak yang lain ? Jawab Abdullah: Tidak! Saya khawatir malah kondisi saya ini akan menjadi fitnah, menjadi bahan cemoohan orang lain di mana anak Amirul mu’minin pakaiannya tidak pernah ganti-ganti, sebab dia hanya memiliki dua baju, di mana bila yang satu dipakai maka yang satu dicuci dan seterusnya. Sayidina Umar berkata: “Baiklah Nak, saya ingin belikan kamu baju baru hanya saja ayah saat ini tidak punya uang. Untuk itu kamu saya utus menemui “Khoolin Baitul Maal’ (bendahara negara), sampaikan kepada beliau salam dari ayah dan katakan pula bahwa ayah bermaksud mengambil gajinya bulan depan untuk membelikan kamu baju baru. Abdullah langsung menemui bendaharawan negara dengan mengatakan: “Ada salam dari ayah. Dan, ayah minta supaya gaji bulan depan bisa diserahkan saat ini untuk membelikan saya baju baru”. Bendaharawan tersebut mengatakan: “Nak, sampaikan kembali salamku kepada ayahmu, dan katakan bahwa aku tidak bersedia mengeluarkan uang itu”. Tanyakan kepada ayahmu, apakah ayahmu yakin sampai bulan depan beliau masih menjabat Amirul Mu’minin, sehingga berani mengambil uang gajinya bulan depan sekarang ? Andaikata dia yakin sampai bulan depan dia masih Amirul Mu’inin, yakinkah sampai besok dia masih hidup, bagaimana kalau besok ia meninggal dunia padahal gajinya bulan depan sudah dikeluarkan. Mendengar jawaban bendahara negara yang demikian itu, pulanglah Abudullah segera menemui ayahnya sambil menyampaikan pesan dari bendaharawan tersebut.

Mendengar penuturan anaknya, Umar langsung menggandeng tangan anaknya sambil mengatakan, antarkan saya menemui bendaharawan tadi. Begitu sampai di hadapan bendaharawan tersebut, Sayidina Umar langsung memeluknya, sambil mengatakan, terima kasih, saudara telah mengingatkan saya terhadap satu keputusan yang nyaris saja salah. Demikianlah kisah Sayidina Umar dan masih banyak lagi kisah lain dari perjalanan hidup para sahabat yang patut kita teladani untuk menghadapi dinamika kehidupan yang terus berkembang mengikuti perputaran zaman.

Allah SWT telah mengingatkan tentang bahayanya manusia-manusia yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (An Naazi’aat, 79 : 39) “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nyadan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (An Najm, 53 : 29-30)

Akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang sedemikian mulianya bisa terwujud tiada lain karena adanya benteng keimanan yang sangat kuat dan kokoh. Semoga kita bisa meneladani apa yang menjadi perilaku Rasul dan para sahabatnya. Amin!

Wallahu a’lam bish-shawab


http://www.republika.co.id/berita/84360/pengendalian-hawa-nafsu