Selasa, 30 April 2013

Uje, Kembalilah dengan Senyummu




Jelang ajal menjemput, engkau pun masih tak segan meminta maaf, lewat pesan berantai di perangkat ponsel pintarmu. Engkau sadar betul, jika permintaan maaf, ada atau tidak ada salah itu teramat sakral. Kutipan itu tersurat tegas dalam  risalah ringkasmu: "Sekali lagi maaf lahir batin. Pasti banyak salahnya." Sekalipun, kalimat itu, kini, terbukti bagi kebanyakan orang menjadi firasat kepergianmu. Tanpa harus engkau menyadarinya. " Mulai hari ini saya nggak lagi pake nomor HP dan bbm ini,"tulismu di pesan pendekmu.

Uje, iktikad maaf yang engkau gulirkan tak sekadar basa-basi. Di hadapan Ka'bah, beberapa tahun yang lalu, engkau bersimpuh dan memohon ampun, atas segala kesalahanmu. Saat narkoba dan dunia keartisan lewat profesi penari bahkan artis di sinetron monumentalmu "Sayap Patah", membuat khawatir kedua orangtuamu, Ustaz H Ismail Modal dan Ustazah Tatu Mulyana, air mata pertobatanmu di Tanah Haram Makkah, mengantarkanmu kembali ke jalan Allah SWT.


Detik itu, ketika sendi-sendimu bergetar dan hatimu terketuk, penyesalanmu telah menjasad dan berbekas. Engkau tahu betul, bahwa Tuhanmu Mahapengampun, ghafur. Sentuhaorin-Nya, membawa kembali ke jati dirimu yang dulu. Pribadi yang dikenal taat dan aktif di pengajian atau di rahis, dan tentunya menghadirkan lagi sosok Uje yang gemar melantunkan Alquran dengan tilawah merdumu, lewat pita suara yang sama, kala engkau menjuarai MTQ tingkat provinsi sewaktu engkau duduk di bangku sekolah dasar.

Uje, sebagian orang memang mengritik bacaan Alquranmu yang terkadang salah, tapi begitulah dakwah. Tak selalu mudah. Jika engkau menyerah di depan kritik positif tersebut, denyut dakwah bisa melemah.  Dengan gaya ceramahmu yang khas, engkau digandrungi semua lapisan. Keramahnmu itu pula yang masih membekas di ingatanku pada sebuah acara amal yang digelar Dompet Dhuafa, dua tahun lalu.

Engkau membalas sapaanku dengan senyummu, lagi-lagi tak ada basa-basi. Senyum ketulusan darimu yang sarat dengan pundi-pundi pahala. Uje, ajal memang tak bersinyal. Tetapi, amalmu akan tetap kekal.

Wahai, jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan senyummu, damai di sisi-Nya penuh dengan keridhaan.


Oleh Nashih Nashrullah
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/04/26/mlusg5-uje-kembalilah-dengan-senyummu

Memaknai Rezeki




Sekiranya ada kata yang begitu akrab di telinga semua orang, itulah rezeki. Tidak ada orang yang tidak mengharapkan rezeki. Bahkan, muara dari hampir setiap usaha manusia adalah mencari rezeki. Pendidikan, kedudukan, dan pekerjaan kerap dimaknai sebagai wasilah menuju rezeki. Sayang, makna rezeki pada sebagian orang telah mengalami penyempitan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rezeki adalah segala sesuatu pemberian Tuhan yang dipakai untuk memelihara kehidupan. Dengan demikian, rezeki bukan melulu makanan dan uang. Masih banyak rezeki yang kita terima bukan berwujud materi atau benda. Bahkan, menurut Rasulullah, “dua nikmat (rezeki) yang sering dilupakan kebanyakan orang adalah kesehatan dan kesempatan” (HR Bukhari).

Dalam hidup ini, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia: rizqi kasbi (bersifat usaha) dan rizqi wahbi (hadiah). Rizqi kasbi diperoleh lewat jalur usaha dan kerja. Terutama jika menyangkut kekayaan dunia, rezeki jenis ini tidak mensyaratkan kualitas keimanan penerimanya. Tidak jarang kita jumpai orang yang ingkar kepada Allah tetapi hidupnya sukses.

Selain sebagai hasil kerja, karena rizqi kasbi memang berasal dari sifat rahman atau pemberian Allah. Rumusnya, siapa mau berusaha, dia akan dapat. Karena itu, rezeki berupa kekayaan dunia tidak selalu mencerminkan cinta Allah kepada pemiliknya. Juga karena kekayaan harta memang tidak bernilai di hadapan Allah. “Sekiranya bobot kenikmatan dunia di sisi Allah seberat sayap nyamuk, maka Dia tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya seteguk air” (HR Tirmidzi).

Lain dari itu adalah rizqi wahbi. Rezeki ini datangnya di luar prediksi pikiran manusia. Kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Pegawai rendahan bisa saja memiliki harta melimpah. Kiai desa yang miskin papa mendadak mendapatkan biaya haji dari pemerintah. Itulah rizqi wahbi. Perolehannya lebih karena sifat rahim atau kasih sayang Allah.

Itulah kenapa yang paling berpeluang mendapatkan rizqi wahbi adalah hamba yang bertakwa. Kesuksesan orang bertakwa itu lebih ditentukan oleh kualitas keimanannya daripada profesinya. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS At-Thalaq: 2-3).

Seolah mengonfirmasi ayat di atas, Rasulullah bahkan menyatakan, istighfar secara rutin dapat mengundang rezeki dari arah yang tidak kita duga. “Barangsiapa melanggengkan istighfar, Allah akan melapangkan kegalauannya, memberikan solusi atas kerumitannya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka sebelumnya” (HR Ibnu Majah).

Tetapi, sekali lagi, rezeki bukan melulu harta. Hidup dijauhkan dari kemaksiatan adalah rezeki. Juga gairah untuk beribadah. Kemudahan menyerap ilmu jelas rezeki. Kesempatan beraktualisasi diri juga rezeki. Dan termasuk rezeki adalah ketika kita dihidupkan dalam lingkungan yang baik. Apalagi memiliki keluarga sakinah. Banyak orang stress akibat ditimpa problem keluarga. Seperti diingatkan Allah, “Wahai orang-orang beriman, sungguh di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka” (QS At-Taghabun: 14).

Ayat di atas jelas menegaskan bahwa istri dan anak potensial membuat hidup manusia merana. Harta yang melimpah tidak mampu menghapus duka ketika badai rumah tangga melanda. Begitu juga ketika penyakit mendera. Hidup kehilangan gairah. Berpenampilan serba mewah tetapi hati selalu berselimut duka.  

Mari meluruskan cara pandang. Alangkah meruah rezeki yang telah kita terima. Limpahan rezeki materi itu memang wajib disyukuri. Tetapi sungguh naif ketika bermacam rezeki nonmateri justru kita ingkari. Hanya kepada Allah, senantiasa kita langitkan doa agar diberikan limpahan rezeki berupa harta yang halal, pasangan yang baik, anak-anak yang berbakti, rumah atau lingkungan yang nyaman, dan kehidupan yang bertabur berkah.



Oleh M Husnaini, Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/05/01/mm3pz0-memaknai-rezeki

Mengenang Ustadz Jeffry Al Buchory




 Dua Hal yang Patut Ditiru dari Sosok Uje

Ustaz Jeffry Al Buchori telah pergi selamanya meninggalkan dunia. Kepergian ustaz yang akrab disapa Uje ini pun mengundang komentar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Komisi Fatwa Ma'ruf Amin. 

Ada dua hal yang sudah sepatutnya ditiru oleh kaum muda dari sosok almarhum Uje. 

Pertama, di masa mudanya almarhum pernah terperangkap dan terpengaruh oleh hal yang tak baik dan dia bisa menyelamatkan diri dari hal tersebut menuju arah kebaikan.
Ma'ruf mengatakan Uje bisa keluar dari hal yang tak baik menuju perubahan menjadi pribadi yang baik itu merupakan hal yang suli. Namun, ustaz gaul itu mampu dan bisa melakukannya. Menurut Ma'ruf, kaum muda sepatutnya meniru almarhum Uje, jangan hanya mengedepankan gaul tapi tak mampu mengubah diri ke arah yang lebih baik.

Kedua, yang harus dicontoh kaum muda dari sepak terjang almarhum Uje semasa hayatnya adalah menjadi inspirator bagi dai muda lainnya.
"Bayangkan almarhum menjadi pemberi inspirasi bagi dai muda untuk dapat berdakwah dengan penyampaian materi yang mudah di terima,"
Hal ini tidak mudah, menjadi inspirator dan pendorong dai muda agar dapat memberikan dakwah dengan cara yang mudah dipahami. Ma'ruf menambahkan coba bayangkan bagaimana dakwah almarhum Uje mudah diterima selama ini. 

Dakwah Uje Sentuh Banyak Lapisan

Aktris dan penulis buku Oki Setiana Dewi menuturkan sosok Uje menginspirasi anak muda karena luwes dalam pergaulan, "Uje itu mampu menyentuh banyak lapisan,"
Bintang film 'Ketika Cinta Bertasbih' ini menambahkan pendekatan yang tidak kaku lebih mengena untuk generasi muda. Terlebih Uje tidak hanya berkata namun punya perjalanan hidup dari terkungkung narkoba menjadi dai yang ditunggu tausiyahnya. 
"Dakwahnya mudah diterima di berbagai kalangan," imbuh dara berusia 24 tahun ini. 
 Wafatnya dai muda Ustaz Jefry Al Buchory menjadi pelajaran bagi generasi muda.

Beberapa Hal yang Layak Ditiru dari Almarhum Uje

Tiga hari sudah almarhum Ustaz Jefry Al Buchori meninggalkan bangsa ini. Gema takbir dan tahlil terus menggema di makam ustaz Uje.
Tidak hanya para santri pengajian yang pernah di ajar oleh almarhum Uje yang datang melayat, kalangan muda mudi pun ikut menyuarakan suara tahlil di pusaran ustaz kelahiran 12 April 1973 ini.

Di Tempat Pemakaman Umum Karet Tengsin, Jakarta Pusat, banyak kalangan muda mudi yang turut berziarah ke makam ustaz gaul ini. Mereka ada yang datang sendiri dan ada pula yang berpasang-pasangan. Warga mengatakan, sengaja datang jauh-jauh ke makam guna membacakan Yasin dan mendoakan almarhum Uje. 

Banyak hal yang tak bisa dilupakan oleh Warga bila mengingat perjalanan hidup almarhum ustaz gaul ini, diantaranya gaya penyampaian materi dakwah yang dikemas secara baik oleh almarhum sehingga banyak kaum muda yang cepat paham dalam belajar Islam.
Ketika ditanyakan apa yang dapat ditiru kaum muda dari sosok almarhum Uje, Warga  menyampaikan, sikap perubahan total ke arah yang lebih baik merupakan satu sikap yang patut di contoh oleh kaum muda.

Di dekat pusara anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Alm. H. Ismail Modal dan Ustz Dra. Hj. Tatu Mulyana ini, Warga mengajak anak muda Indonesia untuk dapat merubah sifat buruk menjadi suatu sifat baik yang bermanfaat. 

Uje Tinggalkan Pesan Bagi Dai Muda

Penyayi Religi, Aunur Rofiq Lil Firdaus atau lebih dikenal dengan Opick mengatakan Uje telah memberi pesan jelas bagaimana dakwah itu tidak didominasi para Ulama dan orang tua. 

"Satu hal yang perlu diingat dari pesan Uje, bahwa dakwah itu tidak kaku," kata Opick kepada Republika. Bahkan, kata dia, Uje telah mengajarkan kepada para Dai muda sahabat-sahabatnya bagaimana mengajarkan kemampuan ceramah agama.
Opick menyampaikan, setidaknya ada puluhan sahabat-sahabat Uje yang kerap diajak keliling ke setiap pengajian dan majelis taklim. Diantaranya, Ustaz Soleh Mahmud (Solmed), Ustaz Ahmad Al Habsyi, Ustaz Zacky Mirza, Ustaz Albar dan Ustaz Zailani.  

Mereka itu, ustaz muda yang kerap berkumpul dalam pengajian dan Majelis Taklim bersama. Ketika berkumpul itu di Majelis Taklim itu, Uje dengan seketika mempersilahkan sahabat Dai mudanya untuk menjadi penceramah. 

Ia tidak pernah mau mendominasi dan mengambil jatah ceramah hanya untuk dirinya. Padahal, mereka para sahabat ini ada yang memang sudah memiliki kemampuan dakwah yang cukup dan ada yang masih perlu keterampilan. 
"Uje, itu sengaja. Mungkin inilah cara didikan dakwah Uje ke para sahabat dan Dai muda," ujar Opick. 

Yang ia pesankan, bahwa dakwah itu tidak harus kaku. Sampaikan saja seperti apa adanya. Itu pula yang ia ajarkan kepada istrinya, Pipik Dian Irawati Popon  dan keempat anaknya. Bahkan, apa yang disampaikan Uje kepada sang istri untuk meneruskan dakwahnya pun sudah terlihat ke anaknya yang paling sulung.


 Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/

Tiga Langkah Menjadi Orang yang Bertakwa



Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiun. Pada Jumat tanggal 26 April 2013 Indonesia bahkan mungkin dunia dikejutkan dengan meninggalnya seorang ustaz yang sangat kharismatik, Ustaz Jefri Al-Buchori.

Bisa dipastikan begitu banyak orang yang merasa kehilangan sosok ulama “gaul” yang dekat dengan kalangan masyarakat manapun. Terlalu banyak kenangan manis nan indah tentang Ustaz Jefri  yang melekat dalam benak publik.

Tidak ada yag menyangka bahwa “Uje” yang kita cintai akan meninggalkan kita dengan begitu cepat. Kematian adalah rahasia Ilahi. Asro Kamal Rokan dalam artikelnya pernah menuliskan bahwa maut tidak datang mengetuk pintu. Ya, memang begitulah adanya. Maka alangkah meruginya kita jika tidak mengambil pelajaran berharga dari kematian.

Jelaslah bahwa kehidupan dunia ini tidaklah abadi. Kehidupan kita di dunia ini hanyalah sebuah mimpi. Lalu dimanakah kehidupan kita yang sesungguhnya? Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata “Annaasu niyaamun wa idzaa maatuu intabahuu”. Manusia ini semuanya tidur, dan ketika mati (maka) terbangunlah (manusia) dari tidurnya. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Yaitu ketika kita menutupkan mata meninggalkan dunia ini, maka terbukalah gerbang kehidupan yang sebenarnya.

Selama ini kita hanya memperjuangkan kenikmatan fana yang hanya ada di alam mimpi. Namun jarang sekali kita memikirkan bekal yang akan kita bawa untuk kehidupan hakiki. Kehidupan setelah mati.
               
Tidak ada satupun kebanggaan dunia yang akan kita bawa nanti. Bukan harta, tahta bukan pula sanjungan dan pujian orang. Hanyalah takwa sebaik-baik bekal menghadap Allah tuhan semesta alam. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqoroh : 197 “Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Maka setiap manusia haruslah menyadari bahwa taqwa adalah kebutuhan wajib yang harus diraih. Bukan hanya bekal akhirat. Namun juga bekal dunia akhirat.
               
Takwa di dalam kamus Ilmu Alquran dapat diartikan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tingkah laku orang yang bertaqwa selalu mencerminkan perilaku mulia dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah murka.
Allah memberikan beberapa rambu-rambu untuk menjadi orang yang bertaqwa.

Pertama, bertanya kepada Orang yang mengetahui. Atau dalam hal ini adalah bertanya kepada alim ulama tentang bagaimana menjadi orang yang bertakwa (QS. An-Nahl : 43).

Kedua adalah selalu bersama-sama para shidiiqiin (orang yang benar) (QS. At-Taubah). Dalam bahasa Jawa yang terkenal “wong kang shaleh kumpulono”. Lalu siapakah orang-orang yang benar? Al-Qur’an menjelaskan pada QS.  Bahwasanya Shiddiiquun adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.

Ketiga adalah selalu berkata dengan perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab : 70). Allah menjelaskan dalam QS. Fusshilat : 30 bahwa sebenar-benar perkataan adalah orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.”

Demikianlah, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang mengejutkan kita hari ini. Dan beliau guru kita, Ustaz Jefri Al-Buchori mendapatkan sebaik-baik tempat di sisi Allah. Aamiin.
 


Oleh Soraya Khoirunnisa

Catatan: Pesan Terakhir Uje Buat Putri Sulungnya


Berita meninggalnya Ustaz Jefri Al Buchori pada Jumat (26/4) dini hari WIB menggemparkan Indonesia. Hampir seluruh masyarakat Muslim Indonesia menyangsikan kabar kepergian ustaz yang kerap dipanggil Uje ini.
Bahkan kalangan keluarga dan kerabat terdekat almarhum Uje mengira berita ini tidak benar alias hoax. Hal ini pun di rasakan putri sulung almarhum Uje yang bernama Adiba Khanza Az-Zahra.

Saat Uje di kabarkan meninggal, Adiba langsung dijemput dari pondok. Menurut pengakuan Adiba kepada Republika, awalnya ia tidak percaya dengan kabar abinya meninggal.

Begitu jenazah abinya tiba di rumah duka, sontak isak tangis Adiba pun pecah melihat almarhum Uje telah menutup mata untuk selamanya. 

Ada beberapa firasat yang dialami Adiba menjelang kepergian abinya. Ia mengakui sempat mengalami peristiwa yang tak biasa dan dirasa sedikit aneh. 
Remaja yang masih duduk di bangku SMP ini bilang terakhir bertemu dengan abinya pada Ahad (21/4) lalu. Saat itu, almarhum Uje seperti berpamitan padanya. 
"Kan Abi (panggilan untuk ayahnya) lagi sakit. Pusing. Tiba-tiba aku disuruh ke toilet (karena) katanya ada temannya. Aku masuk ke dalam, tapi enggak ada apa-apa," ceritanya saat ditemui di TPU Karet Tengsin.

Ia pun menyampaikan pada sang abi, tidak menemui siapa pun, kecuali pantulan cahaya. Namun, almarhum Uje tetap memaksanya masuk ke toilet lagi.
"Abi bilang, 'Kenalin, itu Om yang suka jaga Abi'. Akhirnya aku kenalan saja, tapi nggak ada siapa-siapa," lanjut Adiba yang mulai tegar mengikhlaskan kepergian abinya.
Yang paling teringat oleh Adiba yakni pesan Abi nya. Almarhum Uje mewanti-wanti putri sulungnya inu agar jangan pernah meninggalkan shalat lima waktu. "Kata abi, selalu ingatkan aku jangan lupa shalat supaya nanti masuk surga," katanya. 

 http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/26/mluvmk-pesan-terakhir-uje-buat-putri-sulungnya

Musuh Berwajah Ramah, Racun Otak dan Seribu Pedang



Bismillahirrahmaanirrahiim,

Apa yang dapat meracuni otak secara instan dan lebih menghancurkan dari seribu pedang, namun dia berwajah  ramah dan disenangi banyak orang?

Media informasi, na’am lebih tepatnya adalah internet, film, program televisi, jejaring sosial media dan sebangsanya.

Saat ini, dunia tengah mengalami ancaman krisis moral secara global. Bukan terjadi di kalangan kaum muda, tapi juga kaum dewasa bahkan merangsek kepada anak-anak. Dan ini seakan-akan tidak disadari, semakin banyak informasi-informasi dan tayangan-tanyangan yang bukan hanya tidak mendidik tetapi sudah melanggar batas-batas syar’i.

Melanggar batas-batas etika dan norma-norma yang ada. Mulai dari narkoba, tawuran, minuman keras, arisan seks remaja, korupsi, pemerkosaan, penculikan anak, genk motor yang menjelma sebagai “pembunuh-pembunuh muda”, lalu aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan bukan hanya liberal kebebasan namun juga kebablasan berpikir dan banyak lagi kehancuran yang bias kita lihat.

Hal ini dipicu dengan bantuan “si Musuh Berwajah Ramah” tersebut. Tak heran jika banyak orang saat ini tergiur dengan dunia fatamorgana yang disajikan oleh salah satunya televisi . Antrian panjangpun tak terelakkan ketika kontes artis dibuka. Mereka rela berdesak-desakkan sampai mengorbankan banyak hal asalkan ia menjadi selebritis. Bahkan banyak juga yang menempuh jalan pintas dengan mengorbankan harga diri.

Gosip, ghibah dan gunjing menjadi program wajib di televisi. Layar kaca itu telah mengubah akal sehat penontonnya. Lihatlah hari ini, industri aurat menjadi kebanggaan. Mereka telah berani menentang perintah Allah untuk menutup aurat dalam firman-Nya; “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS. Al A’raf, 7 : 25).

Dalam ayat yang lain; "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya." (QS. Al A’raf, 7 : 27)

Kaum muslimin pada hari ini bagaikan buih yang berada di tengah lautan. Mereka terombang-ambing oleh derasnya gelombang syahwat dan syubhat. Mereka musuh-musuh Allah menyatakan, “Gelas (khamr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad dari pada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka kedalam gelora syahwat”.

Lalu kemanakah badan sensor yang bertugas menjaga informasi yang masuk? Sensor film, sensor tayangan-tayangan televisi, sensor internet, sensor hosting seks, games dan sebagainya? Sulit memang. Apalagi di negara kita yang kita cintai ini. Bisa babak belur, patah berulang, borok bertambah jika kita berharap mereka-meraka mengatasi ini semua.

Dahulu kita berharap pada satu kumpulan ulama yang kompeten, yang duduk di badan-badan sensor yang komprehensif. Mulai dari film, televisi dan sebagainya. Tetapi sejak merebaknya internet dan media informasi lainnya dengan tools-tools yang semakin canggih. Badan sensor pun menjadi basi.

Departemen kominfo dan badan-badan sensor mestilah sudah berupaya keras, namun semuanya akan basi. Berapa banyak yang disensor dan berapa banyak yang baru lahir. Mati satu tumbuh seribu. Dunia pun sudah tidak lagi mempunyai batas-batas.

Informasi melayang di hadapan mata kita, berbisik di sisi telinga kita. Di antara mainan anak-anak kita, di antara PR-PR anak sekolah, di sisi tugas akhir mahasiswa, di antara spatula ibu rumah tangga, di antara agenda meeting para direktur, di antara “ehem” rapat wakil rakyat.

Di mana-mana tersebar, kita tinggal menangkapnya, melihatnya dan menikmati informas itersebut tanpa harus ada orang tua yang galak, ustadz yang cerewet apalagi badan sensor yang melotot. Karenanya benar dalam sebuah hadis dinyatakan; “Sesungguhnya kalian wahai manusia, melakukan amalan-amalan yang di mata kalian, kalian anggap lebih halus dari pada rambut (sangat remeh dan ringan). Namun kami di masa Nabi SAW, menganggap amalan tersebut sebagaihal yang membinasakan.” (HR. Bukhari)

Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah -rahimahullah- berkata, "Di antara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukandosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah."

Oleh karena itu, inilah zaman ketika Allah membuka ladang amal untuk kita semua. Untuk saling mengingatkan, saling menasehati. Sebagaimana makna yang tercantum dalam surah Al Ashr. Mungkin sudah seharusnya paraulama “turun gunung”, ustadz-ustadz keluar pesantren, da’i-da’i terjun berdakwah dalam bahasa yang sama, bahasa kreatif, bahasa informasi.

Bahasa yang ada di televisi, yang ada di internet, jejaring sosial dan sebagainya. Di zaman musuh-musuh yang “berwajah ramah”, tetapi meracun otak dan lebih dahsyat menghancurkannya lebih dari seribu pedang. Jika perlu buatlah“Hollywood islami”, agar masyarakat tidak dicekoki tapi dapat memilih tayangannya sendiri. Sudah saatnya para suami mengingatkan istrinya untuk kembali pada Alquran dan As Sunnah, sudah saatnya ibu-ibu tidak hanya menitipkan anak kepada sekolahnya, sudah saatnya kita semua memperbaiki diri, kembali kepada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Mulai dari kita sendiri, keluarga kita, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar. Yang pada akhirnya sensor-sensor itu muncul dari dalam diri kita sendiri. Yak jadikan hati, pikiran, lisan, tubuh, perilaku ini sebagai sensor dari gencarnya kemaksiatan yang tersebar. “wasta’iinuu bi shobri wash sholah”, mohonkanlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat (berdoa). Insya Allah. Mari!

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: penggagas iHAQi
@erickyusuf