Senin, 31 Agustus 2009

Industri Berbasis Budaya Lindungi Produk Asli Indonesia


Mendorong pembangunan industri berbasis budaya diyakini menjadi langkah ampuh melindungi dan menegaskan identitas produk asli Indonesia di pasar internasional. Langkah tersebut harus didukung dengan berbagai upaya, seperti meningkatkan kapasitas produksi, memasyarakatkan teknologi dan inovasi, serta edukasi.

Rangkaian upaya tersebut diharapkan menjadi langkah strategis untuk mendorong masyarakat menggunakan produk Indonesia. “Membangun industri berbasis budaya berarti menegaskan kepada masyarakat baik di pasar domestik atau global bahwa itu adalah produk Indonesia. Yang harus dibangun adalah industrinya, bukan sekadar pabrik,” tutur Wakil Ketua Umum bidang Perindustrian, Riset, dan Teknologi Kadin Rachmat Gobel di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hal itu, terang dia, dimulai dengan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mensosialisasikan pentingya teknologi dan inovasi kepada produsen. Dia menekankan, teknologi tidak selalu mahal tapi harus tepat guna dan dapat diterapkan.

“Dengan meningkatkan kapasitas produksi yang berkualitas, Indonesia memperluas pangsa pasarnya di dunia. Dan, yang harus ditonjolkan adalah nilai budayanya. Itu adalah langkah sederhana melindungi hak kekayaan intelektual produk Indonesia,” tegasnya.

Dia menjelaskan, industri berbasis budaya memiliki keunggulan, yakni desain yang original. Dengan mendorong pembangunan industri tersebut, pemerintah mengupayakan proses produksi yang efisien dan berkualitas. Hal itu terkait dengan nasionalisme dan idealisme yang kemudian berujung pada upaya menarik investasi di dalam negeri.

“Masyarakat domestik juga harus menghargai produk industri berbasis budaya itu. Harus melalui edukasi berkelanjutan, yang dibeli tidak sekadar produk namun ada kandungan nilai-nilai budaya di dalamnya. Memang dibutuhkan edukasi bahwa produk idnustri berbasis budaya tidak sama dengan produk manufaktur yang dapat diproduksi massal. Di sisi lain, produsen harus menawarkan kemasan yang menarik,” papar Rachmat.

Dia menambahkan, Indonesia berpotensi meningkatkan pangsa pasar produk-produk berbasis budaya di pasar dunia. Dia mencontohkan, produk-produk yang berasal dari budaya Indonesia dengan kandungan bahan baku lokal Indonesia. “Misalnya, jamu serta mebel dan kerajinan.

Pasar dunia jamu (2008) mencapai US$ 20 miliar, sedangkan ekspor Indonesia sebesar Rp 1 triliun dan pasar domestik senilai Rp 14,5 triliun. Sedangkan pasar mebel dan kerajinan dunia mencapai US$ 104 miliar (2008), ekspor Indonesia senilai US$ 2,6 miliar dan pasar domestik US$ 3,12 miliar.

Artinya, potensi pasar global yang dapat diperluas itu masih sangat besar,” ujarnya.

Industri berbasis budaya juga mengandalkan bahan baku dari kandungan alam Indonesia serta dengan serapan tenaga kerja yang besar. Untuk itu, lanjut Rachmat Gobel, pemerintah harus melindungi pasar Indonesia dari serbuan produk-produk yang mengklaim sejenis dengan produk Indonesia. Bila perlu, ujar dia, pemerintah mesti melarang produk-produk tersebut masuk ke Indonesia.

“Misalnya, batik dari Tiongkok atau produk-produk Indonesia yang dijual ke Malaysia kemudian diklaim sebagai produksi Malaysia. Bila perlu, barang-barang itu dilarang masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Data Base


Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, salah satu upaya melindungi hak kekayaan intelektual produk Indonesia dilakukan dengan merancang data base. Data base tersebut memuat informasi detail seputar produk-produk Indonesia baik yang tergolong kekayaan intelektual individual modern maupun kekayaan ekspresi tradisional.

“Sedang dirancang sebuah data base seperti Wikipedia. Dengan itu, obligation tidak hanya ada pada pemerintah tetapi juga masyarakat,” kata Mari Elka saat jumpa pers tentang Hak Kekayaan Intelektual bersama dengan Ketua Umum Kadin MS Hidayat, Menteri Kebudayaan dan pariwisata Jero Wacik, Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta.

“Kuncinya, dengan menggunakan produk Indonesia dan juga mempromosikannya, bahkan secara internasional,” kata dia.

Sebelumnya, Mari Elka menegaskan, guna mendorong pernyataan atas produk Indonesia kepada dunia, dibutuhkan kampanye cuci otak. “Dimulai dengan kelompok masyarakat menengah atas agar tidak terpaku pada produk impor. Dan mulai mencintai serta menggunakan produk Indonesia,” kata Mari. (eme)

31/08/2009 13:38:07 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY

http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68131&Itemid=

Puasa dalam Alquran




Sudah banyak pakar membahas hikmah dan filosofi ibadah puasa. Ada yang mengaitkan puasa dengan teori-teori kedokteran, seperti dilakukan Muhammad Farid Wajdi, salah seorang murid Shekh Muhammad Abduh. Ada pula yang mengaitkannya dengan kepedulian sosial dan rasa kesetiakawanan, serta tidak sedikit pula yang mengaitkan puasa dengan pendidikan kepribadian. Berbagai hikmah yang dikemukan para pakar di atas, tentu saja memiliki alasan-alasan dan logikanya sendiri.

Dalam Alquran, menurut penyelidikan Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfadz Alquran , kata puasa ( al-shaum ) terulang sebanyak 14 kali dalam berbagai bentuknya. Khusus mengenai puasa Ramadhan, dapat dilihat keterangannya secara beruntun dalam surah al-Baqarah ayat 183 s/d 167. Berdasarkan penyelidikannya yang mendalam terhadap ayat-ayat mengenai puasa di atas, Abdul Halim Mahmud, mantan Rektor al-Azhar, dalam bukunya Asrar al-'Ibadah (Rahasia Ibadah), mengemukakan tiga hikmah penting ibadah puasa.

Pertama, puasa diwajibkan sebagai sarana mempersiapkan individu Muslim menjadi orang takwa (Q. S. 2: 183). Karena tujuan utama puasa adalah takwa, maka menurut Abdul Halim Mahmud, setiap orang yang berpuasa harus mampu mengorganisir seluruh organ tubuhnya dan mengatur semua aktivitasnya ke arah tujuan yang hendak dicapai itu (takwa).

Kedua, puasa diwajibkan sebagai syukur nikmat. Allah SWT memerintahkan puasa setelah Ia menerangkan bahwa Ramadhan yang mulia itu adalah bulan yang di dalamnya petunjuk Allah yang amat sempurna diturunkan, yaitu Alquran (Q. S. 2: 185). Karena itu, turunnya wahyu itu patut disambut dan ''dirayakan''. Namun, perayaan ini haruslah dengan kegiatan yang sesuai. Dalam kaitan ini, penyambutan dan ''perayaan'' itu hanya patut dilakukan dengan mempersiapkan diri untuk bisa menerima petunjuk itu dengan cara yang paling baik, yaitu puasa.

Ketiga, puasa membuat pelakunya dekat dengan Tuhan dan semua permohonan dan doanya didengar dan dikabulkan. Inilah makna firman Allah: ''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku'' (Q.S. 2.186).

Menyimak beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, nyatalah bahwa puasa merupakan sesuatu yang semestinya kita lakukan. Ia bukan semata kewajiban, melainkan suatu kebutuhan. Untuk itu, setiap muslim harus menyambut gembira datangnya Ramadhan ini dan melaksanakan ibadah puasa dengan penuh suka cita. Dengan begitu, setiap kita mempunyai alasan moral untuk mendapat pengampunan Tuhan dan pembebasan dari siksa-Nya. ahi

By Ilyas Ismail
Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 17:50:00

http://www.republika.co.id/berita/72542/Puasa_dalam_Alquran

Minggu, 30 Agustus 2009

Aset Bank Syariah Global Melonjak 66%


Nilai aset 100 bank syariah terbesar di dunia pada 2008 tumbuh hingga 66% dibanding tahun sebelumnya. Hal ini terjadi justru pada saat dunia dilanda gejolak keuangan dan sejumlah bank besar dunia mengalami guncangan hebat.

Tahun lalu, total aset yang dikuasai oleh 100 bank syariah terbesar di dunia mencapai US$ 580 miliar, melonjak dari US$ 350 miliar pada 2007. Demikian laporan tahunan The Asian Banker, majalah bagi kalangan profesional keuagan, yang dipublikasikan pada Jumat (28/8) .

Pada periode yang sama, majalah itu juga melaporkan bahwa 300 bank terbesar di Asia membukukan tingkat kenaikan aset jauh lebih rendah yaitu hanya 13,4%.
Gejolak keuangan global yang dipicu oleh krisis pasar perumahan di Amerika Serikat (AS) telah menjalar ke segala penjuru dunia akhir tahun lalu. Kondisi ini berdampak pada kemerosotan ekonomi secara keseluruhan dan mengantarkan sejumlah negara ke jurang resesi.

Bahkan, bank investasi utama AS Lehman Brothers jatuh ke jurang kebangkrutan, sedangkan beberapa bank besar lain di AS dan Eropa menderita kerugian dalam jumlah yang besar.

“Meskipun gejolak keuangan pada akhir 2008 melumpuhkan banyak lembaga keuangan besar di Barat, sejumlah bank syariah terus tumbuh secara menonjol dan dengan nilai yang besar," jelas majalah tersebut dalam pernyataan persnya.

“Popularitas industri keuangan syariah telah melonjak secara tak terduga. Ini terlihat dari rezim regulasi perbankan syariah yang semakin kuat serta pemahaman dunia internasional yang lebih baik. Industri keuangan syariah berjalan dinamis,” ujar Emmanuel Daniel, presiden dan chief executive The Asian Banker, menambahkan.

Perbankan syariah menggabungkan prinsip-prinsip hukum Islam dan perbankan modern. Pendanaan berbankan syariah tidak diperkenankan berasal dari invetasi perusahaan yang berkaitan dengan tembakau, alkohol, dan perjudian. Sebaliknya dana perbankan syariah juga tidak diperbolehkan untuk membiayai tiga jenis kegiatan usaha tersebut.

Iran Menguasai

Sejumlah perbankan di Iran yang menjadi pemain utama di sektor perbankan syariah global, menguasai tujuh dari 10 rangking teratas dan 12 dari 100 rangking teratas perbankan syariah dunia. Namun, perbankan di Arab Saudi tercatat lebih mampu membukukan keuntungan.

Pada 2008, Al Rajhi Bank Arab Saudi membukukan pendapatan bersih tertinggi sebesar US$ 1,74 miliar, lebih besar dari lima kali pendapatan Bank Tejarat, bank di Iran dengan keuntungan paling besar.

The Asian Banker menyebutkan, bank-bank di Iran memberi kontribusi 40% dari total aset 100 bank syariah terbesar di dunia dan persentase yang sama berasal dari gabungan aset bank Uni Emirat Arab, Malaysia, Arab Saudi, dan Kuwait. Sedangkan sisanya dikontribusi oleh bank-bank kecil di 10 negara yang lain.

Berdasarkan laparan itu, di luar kawasan Timur Tengah, dua bank syariah di Inggris berhasil masuk dalam jajaran 100 bank syariah terbesar tersebut.

Menurut The Asian Banker, nilai asetperbankan di Asia dan Afrika Utara tergolong masih kecil dibanding pemain-pemain dari Timur Tengah. “Hanya bank syariah di Malaysia dan Bangladesh yang memiliki aset cukup signifikan," ujar majalah tersebut.

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, hanya memasukkan dua bank dalam daftar 100 bank tersbesar tersebut. Pakistan memasukkan tiga bank, sementara Singapura—pusat keuangan Asia—dan Brunei Darussalam hanya memasukkan satu bank. (afp/ns)

30/08/2009 23:54:23 WIB

Oleh Nasori
SINGAPURA, INVESTOR DAILY

http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68087&Itemid=

Ekspresi Wajah Bukan Bahasa Universal


Siapa bilang bahasa wajah bersifat sama di belahan dunia manapun? Sebuah penelitian menunjukkan orang Asia Timur ternyata lebih kesulitan untuk membedakan ekspresi wajah antara takut dan kaget atau jijik dan marah dibanding orang Barat.

Ini terjadi karena umumnya orang Asia Timur lebih memberi perhatian pada mata seseorang. Sementara orang Barat lebih suka membaca seluruh wajah, demikian hasil penelitian yang dipublikasikan secara online di jurnal Current Biologi edisi Agustus 2009.

"Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi antar manusia lebih rumit dibanding yang diperkirakan sebelumnya," kata Rachael E. Jack, salah satu peneliti dari University of Glasgow, Scotland. Berarti pula bahwa ekspresi wajah yang semula dianggap universal tidak cukup bisa mewakili emosi orang yang berasal dari wilayah yang berbeda.

Jack dan koleganya merekam gerakan mata dari 13 orang Asia Timur dan 12 orang kaukasia Barat ketika diperlihatkan gambar ekspresi wajah dan diminta mengkatagorikan gambar tersebut ke dalam kelompok bahagia, sedih, kaget, takut, jijik, marah atau netral.

" Orang Barat melihat ke dalam mata dan mulut secara seimbang, sementara orang Timur lebih melihat ke mata dan tak terlalu memperdulikan mulut. Ini berarti orang Timur akan kesulitan membaca ekspresi wajah yang kelihatan sama di area mata," kata Jack. Para peneliti akan melanjutkan temuan ini dengan penelitian lebih lanjut untuk melihat seberapa besar perbedaan ideologi dan konsep serta kemampuan sosial mendasari manusia dalam memproses emosi mereka. HEATHDAY NEWS

Jum'at, 14 Agustus 2009 | 13:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/08/14/brk,20090814-192602,id.html

Modernitas


DI kesunyian Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer menonton wayang. Atau ia memperhatikan orang menonton wayang.

Saya bayangkan malam itu. Di koloni tahanan politik itu, di sepetak lapangan, layar dipasang dan batang pisang dibaringkan. Deretan wayang kulit tertancap. Sebuah blencong (atau bola lampu 100 watt?) menyala di atasnya.

Orang berkerumun. Juga prajurit yang berjaga. Dalang siap, tanpa beskap, tanpa keris. Para pangrawit mulai memainkan gamelan yang seadanya. Dan semua orang tahu, di balik kebersahajaan itu ada ambisi dan proses kerja yang luar biasa: di pengasingan itu para tahanan menatah sendiri wayang mereka dari kulit sapi yang mereka ternakkan, dengan pahat kecil yang diraut dari besi sisa peralatan. Selebihnya: imajinasi.

Saya tak tahu apa lakonnya. Tapi Pramoedya tak begitu bergembira.

Di catatan di Pulau Buru bertanggal akhir Januari 1973, yang dimuat dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid I, ia anggap wayang—juga gamelan dan tembang—”membawa orang tertelan oleh dunia ilusi yang menghentikan segala gerak….”

Bagi Pramoedya, dalam wayang, kahyangan terlampau dominan. Padahal manusia-lah yang harus mengambil peran, bukan para dewa:

Jam tujuh pagi baru selesai: tancep kayon.

Pukulan gong penghabisan. Selesai segala-galanya!

Para dewa, brahmana dan satria kembali masuk ke

kampus ki dalang. Akal dan perasaan bertambah

jenuh dengan pengalaman ulang. Dengan bersinarnya

matahari kembali terhalau para dewa, brahmana dan

satria dalam perspektif bentuknya sendiri.


Lakon memang tak layak dilanjutkan. Khayal wayang ”memukau, memesonakan, mensihir, mematikan kesadaran, mematikan akal, membebalkan”. Dan setelah itu tak ada pembebasan.

Seorang buruh tani yang ikut menonton mungkin akan masygul seandainya tahu pandangan sastrawan besar itu. Tapi Pramoedya tak sendiri; ia seperti lazimnya cendekiawan Indonesia yang tumbuh ketika gagasan kemajuan dan emansipasi sosial (dengan Marxisme) bergema keras bersama cita-cita kemerdekaan nasional.

Pada 1943, Tan Malaka juga mencemooh cerita Sri Rama. Baginya, telah tiba zaman yang mengharuskan bangsanya memasuki dunia ilmu empiris (”Ilmu Bukti”). Tan Malaka menganggap kisah anak panah Sri Rama ”yang bisa menjelma jadi Naga” hanya ”menggelikan hati”. Bahkan bisa membuat marah. Sebab,

”…kepercayaan pada kesaktian semacam itu,

yang bisa diperoleh manusia, pada urat akarnya

memadamkan semua hasrat dan minat terhadap

Ilmu Bukti.”


Tan Malaka berseru untuk teknologi. ”Ciptakan teropong 100 inci,” katanya dalam Madilog, ”yang bisa melihat kesemua penjuru alam 500.000.000 tahun sinar jauhnya…!”

Kini, 2009, kita bisa sedikit mengejek iman yang begitu kuat kepada modernitas itu. Pramoedya dan Tan Malaka begitu saja menyamakan imajinasi dengan takhayul yang meremehkan rasionalitas. Seakan-akan sejarah tak dibangun juga oleh kerja dan fantasi penatah wayang, energi dalang yang berkisah, hasrat tubuh dan kesepian, yang membuat riwayat manusia dari abad ke abad tak lurus, tak tunggal, tak konsisten—tapi juga selalu bisa tak terduga-duga, tak pernah kering.

Di Indonesia yang ingin meninggalkan ”keterbelakangan”, sikap Pramoedya dan Tan Malaka sikap yang lumrah. Mereka tak mengalami sebuah situasi ketika ”kemajuan” justru tampak sebagai gerak yang merusak dan meninggalkan unggunan puing, seperti dalam gambaran ”Malaikat Sejarah” Walter Benjamin.

Benjamin, yang bunuh diri di Eropa menjelang Perang Dunia II, menyaksikan modernitas yang muram: hidup yang melangkah dengan blueprint dan perhitungan, akal yang hanya jadi instrumen untuk menaklukkan alam & dunia kehidupan.

Dengan itu prestasi modernitas memang dahsyat. Tapi orang bisa juga melihatnya sebagai progresi ke arah hidup yang bak disekap ”kerangkeng besi”, tunduk kepada kalkulasi dan tuntutan efisiensi.

Kaum kiri menganggap semua ini akibat kapitalisme. Mereka benar. Tapi kaum Marxis-Leninis kemudian juga ikut pola ”kemajuan” itu: mereka ubah waktu jadi ruas-ruas homogen dan terukur. ”Rencana Lima Tahun” dilaksanakan dengan gemuruh. Mereka bentang ruang jadi bidang yang abstrak agar bisa diformat apa saja. Akal ditentukan oleh hasil, bahkan seni dan imajinasi harus ikut rancangan. Masyarakat sosialis dibangun bagaikan alam semesta dijadikan dalam Genesis baru—tapi bersama itu, sebuah ”kerangkeng besi” mengungkung semuanya.

Kritik kepada modernitas berangkat dari sini. Bahkan sejak dua abad sebelumnya. ”Postmodernisme” hanya memberinya tenaga baru. Tapi sementara kritik ini dimamah-biak berkali-kali, dengan kutipan dari Benjamin atau Adorno, Derrida atau Foucault, belum ada yang menjawab: bisakah kita mengalahkan dorongan yang melahirkan modernitas ala Eropa itu—yang menjanjikan kemajuan yang mempesona, meskipun gawat?

Jangan-jangan riwayat manusia tak bisa mengelakkan itu. Jangan-jangan yang bisa dilakukan hanya memulihkan kembali pengalaman sebagai sesuatu yang utuh dan berdegup—seperti ketika kita membaca puisi—dan menebusnya sejenak dari cengkeraman rasionalitas sang penakluk.

Atau kita bekerja tanpa ilusi bisa lepas dari arus keras modernitas, namun terus dengan (dalam kata-kata Benjamin) ”daya messianik yang lemah”, schwache messianische Kraft. Di sana kita sesekali menemukan harapan pembebasan, dan kita pun berjuang kembali, meskipun tak bisa selamanya kukuh….

Dan kita pun pergi menonton wayang, menemui Karna yang terbelah, Kunti yang tak setia tapi ibu yang teguh, Bhisma yang membuang Amba tapi berbuat sesuatu yang luhur: serpihan kisah penebusan, ketika Messiah tak juga datang. Meskipun Pramoedya tak menyukainya.

Goenawan Mohamad

Senin, 31 Agustus 2009

http://www.tempointeraktif.com/hg/caping//2009/08/31/mbm.20090831.CTP131282.id.html

Stasiun Televisi Islam Hadir di Mesir


Kehadiran Azhari TV untuk meluruskan citra Islam.

Stasiun televisi Islam muncul di Timur Tengah pada awal Ramadhan ini. Namanya, Azhari TV yang dapat disaksikan oleh masyarakat Mesir, dan sekaligus pendamping stasiun TV Al Jazeera. Kehadiran stasiun televisi baru tersebut untuk menampilkan wajah Islam yang moderat, dan dalam upaya mengurangi perilaku kelompok Muslim ekstremis.

Stasiun TV yang tayang perdana, Sabtu (22/8), ini dibangun atas ide dari asoasiasi pemuka agama di Al-Azhar. Universitas tersebut merupakan institusi pendidikan terbesar di kalangan Islam Sunni di Mesir. ''Tujuan stasiun TV ini ialah untuk menyebarkan ajaran Islam yang sebenarnya, Islam yang selama ini salah diinterpretasikan sebagai ajaran terorisme,'' kata Direktur Utama Azhari TV, Khalid Al-Jundy, kepada The Media Line. Azhari TV akan hadir setiap hari selama 24 jam.

''Kami ingin menjelaskan kepada dunia bahwa Islam tidak mendorong tindakan kekerasan. Islam mengajarkan untuk menghargai kehidupan orang lain, kedamaian, dan menghormati pluralisme,'' kata Al-Jundy menambahkan. Ia menjelaskan, Azhari TV akan membuat program alternatif di kala stasiun lain yang menyebarkan perilaku kekerasan dan ekstremis.

''Kami ingin memberi tahu dunia bahwa terdapat wacana di kalangan Muslim, yang menyatakan orang-orang Islam itu tidak mendiskriminasikan orang lain melalui warna kulit mereka, jenis kelamin, dan agama mereka. Atas dasar itulah Azhari TV ada,'' katanya. Azhari TV tidak hanya akan berhadapan dengan informasi-informasi yang terdistorsi dari media-media Arab, namun juga dari media Barat.

''Kami ingin menyediakan otoritas pada stasiun TV, di mana orang-orang dapat mempercayainya,'' kata Al-Jundy. ''Pembentukan Azhari TV dilatarbelakangi kekecewaan kami dengan cara media Barat melihat persoalan Muslim.'' Disebutkan siapa pun yang mendistorsikan wajah Islam dan apa pun niatnya, hal itu akan diluruskan, dan stasiun TV baru ini akan berusaha merepresentasikan Islam kepada media Barat.

Program stasiun TV ini mayoritas berbahasa Arab dan beberapa program lainnya disajikan dengan bahasa Inggris dan Prancis. Namun, tahun depan, pengelolanya berencana akan menyajikan program dengan berbagai bahasa. Sehingga, diharapkan stasiun TV ini nantinya bisa menjadi perwakilan Islam. Para pemuka agama dan pengamat agama di Mesir, menyatakan 10-15 tahun terakhir ini stasiun TV menjamur di Mesir. Fenomena ini meningkatkan keberadaan organisasi-organisasi ekstrem di negara tersebut.

Keberadaan Azhari TV diharapkan menjadi solusi untuk memerangi pesan-pesan TV lain, yang sering membingungkan pemirsa dan mengumbar kebencian tersebut.Kepala Departemen Jurnalisme dan Komunikasi Massa di Universitas Amerika di Kairo, Prof Hussein Amin, menyambut peluncuran Azhari TV. ''Saya kira Azhari akan bisa memainkan peran signifikan,'' ujarnya.

Ia mengatakan, orang-orang telah sembarangan mengeluarkan fatwa atau dekrit. Sementara itu, banyak dari fatwa tersebut tidak berdasarkan ilmu keagamaan di institusi yang dihormati. Dan, banyak pula fatwa yang tidak melihat skala luas. Akibatnya, fatwa tersebut berpengaruh bagi anak-anak muda, terutama yang berasal dari golongan miskin.

''Padahal, mereka tidak memiliki pengetahuan atau pengalaman untuk mengajarkan agama mereka. Hal tersebut menciptakan kekacauan,'' katanya. Oleh karena itu, ia berharap pesan yang dibawa Azhari akan berdampak positif, mengingat TV ini berasal dari institusi yang kredibel, yakni Universitas Al-Azhar.

Kehadiran stasiun TV ini di bulan Ramadhan diharapkan dapat diterima luas oleh masyarakat Mesir. Biasanya para keluarga Muslim menghabiskan waktu petang bersama keluarga untuk makan di waktu buka. Biasanya, rating TV selalu meningkat pada sore hari, karena anggota keluarga menikmati makanan sambil menonton acara TV.Saluran TV ini akan mengudara baik di ArabSat dan NileSat, keduanya adalah satelit pengangkut utama di Timur Tengah. Lewat kedua satelit itu pemirsa di Eropa dan Asia Tenggara bisa menikmati siaran-siaran Azhari TV.

Nilai investasi


Azhari TV dibangun dan dikembangkan dengan biaya awal sebesar 2,7 juta dolar AS. Dana tersebut merupakan investasi oleh pebisnis asal Libya, Hassan Tatanaki, yang mendukung misi saluran tersebut.Para pengelola Azhari TV berharap saluran tersebut akan bisa menguntungkan secara finansial, melalui pendapatan dari iklan di tahun-tahun mendatang.

Universitas Al-Azhar mendukung sepenuhnya keberadaan TV tersebut. Bahkan, semua presenter dan ahli yang akan tampil dalam saluran ini harus merupakan lulusan dari institusi prestisius tersebut. Menurut situsnya, ( http:azhari.tv ), pembangunan stasiun TV ini juga bertujuan untuk memfasilitasi orang-orang Islam dengan ilmu pengetahuan dan para ahli, untuk melawan ideologi Islam ekstrem.

Serta, untuk menyatukan dan meregulasi fatwa dan melakukan penyegaran pengajaran terhadap Islam.Stasiun TV ini juga mendeklarasi bahwa mereka tidak akan terlibat dalam kebijakan negara dan tidak menyerang individu maupun institusi. Saluran tersebut juga akan bersikap independen dan tidak berpihak pada Pemerintah Mesir, bahkan Azhari TV tidak akan malu-malu untuk mengkritik kebijakan pemerintah. nan

By Republika Newsroom
Senin, 31 Agustus 2009 pukul 09:32:00

http://www.republika.co.id/berita/72905/Stasiun_Televisi_Islam_Hadir_di_Mesir

Jumat, 28 Agustus 2009

Nanjing, Kota yang Menghargai Sejarah

Kompas/Robert Adhi KSP
Nanjing adalah kota di China yang memiliki banyak tempat warisan budaya (heritage). Salah satunya adalah kawasan wisata Confucius Temple. Pada malam hari, tempat ini dipenuhi lampu warna-warni dan ramai dikunjungi wisatawan.



Nanjing (dahulu disebut Nanking) sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Nanjing adalah kota tua yang masih menyimpan banyak bangunan warisan sejarah (heritage) dan memiliki sejarah panjang. Nanjing, kini ibu kota Provinsi Jiangsu, China, merupakan pusat bisnis terbesar di kawasan timur China setelah Shanghai.

Banyak tempat warisan budaya di Nanjing. Hal itu membuktikan bahwa kota ini memiliki sejarah panjang sejak berabad-abad silam. Nanjing merupakan ibu kota dari enam dinasti China. Kaisar Sun Quan dari Dinasti Wu yang kali pertama menetapkan Nanjing sebagai ibu kota pada tahun 229. Setelah itu, Dinasti Jin menjadikan Nanjing ibu kota kerajaan (sekarang daerah itu bernama Jiankang). Kemudian Dinasti Tang, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, dan Dinasti Qing menjadikan daerah Nanjing sebagai ibu kota kerajaan, pusat segala aktivitas.

Salah satu warisan Dinasti Ming di Nanjing adalah The City Wall of Nanjing (Nanjing Zhonghuamen). Kaisar pertama Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, membangun tembok kota itu selama 21 tahun dengan mengerahkan sekitar 200.000 tenaga kerja. Nanjing Zhonghuamen kini menjadi salah satu warisan budaya yang berusia lebih dari 600 tahun dan masih berdiri di kota ini. Tembok kota itu diyakini sebagai tembok kota terpanjang di dunia yang dibangun pada masanya. Ini menunjukkan pula bahwa Nanjing pada masa itu merupakan kota terpadat di dunia antara tahun 1358 dan 1425 dengan penduduk berjumlah 487.000 pada tahun 1400.

Nanjing juga menjadi bagian sejarah penting China karena pergerakan Revolusi Xinhai atau Revolusi 1911 yang menumbangkan Dinasti Qing (Manchu) dan mengakhiri kekuasaan Kaisar Puyi pada 12 Februari 1912, berawal dari kota ini. Dr Sun Yat-Sen, yang memimpin revolusi itu, menjadi presiden pertama Republik China pada tahun 1912 dan menetapkan Nanjing sebagai ibu kota negara.

Tahun 1927, partai nasionalis Kuo Min Tang pimpinan Jenderal Chiang Kai Sek menetapkan Nanjing sebagai ibu kota Republik China. Selama 10 tahun, Nanjing berperan sebagai ibu kota negara dan Presidential Palace menjadi pusat pemerintahan. Namun, simbol ibu kota berakhir bersamaan dengan datangnya serdadu Jepang yang melakukan pembantaian terhadap 300.000 warga Nanjing sejak 13 Desember 1937, selama enam pekan. Peristiwa itu disebut sebagai Nanjing Massacre. Pemerintah China membangun monumen untuk memperingati korban kejahatan perang.

Warisan budaya

Kota Nanjing seluas 6.598 kilometer persegi, 10 kali lipat luas Jakarta, memiliki banyak warisan budaya, baik peninggalan dinasti berabad-abad silam maupun peninggalan masa Revolusi Xinhai dan Republik China di Nanjing. Tempat-tempat warisan budaya itu hingga kini masih dipertahankan dan dirawat dengan baik. Situs-situs bersejarah itu menerangkan cerita masa lampau yang tetap layak dikenang. Salah satu yang dikunjungi Kompas adalah makam Dr Sun Yat-Sen, pendiri Republik China, penggerak Revolusi Xinhai yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Qing.

Bapak China Modern ini makamnya mendapat tempat terhormat di kawasan Taman Nasional Zhonghan. Zhonghan adalah nama lain dari Sun Yat-Sen. Kini ada 40-an taman dengan nama Zhonghan di seluruh China. Pemerintah China menjadikan makam Sut Yat-Sen sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Masuk ke kawasan ini, pengunjung harus membayar 80 yuan. Suasana di kawasan Zhongshan Park sejuk karena tempat ini merupakan bagian dari taman nasional. Setiap hari ribuan orang datang ke sini, termasuk wisatawan asing dan orang-orang China perantauan. Saat menggerakkan Revolusi Xinhai, Sun Yat-Sen mendapat dukungan dari orang-orang China perantauan yang ada di Malaysia dan Singapura.

China memang sangat menghargai sejarah dan masa lalu. Makam Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming merupakan warisan budaya yang berusia enam abad. Selain itu, kita juga dapat menemukan kekayaan budaya lainnya di Nanjing, yaitu Confucius Temple (Fuzimiao).

Warisan budaya peninggalan Dinasti Song ini dibangun di sepanjang tepi Sungai Qinhuai. Sekarang kawasan ini sangat hidup karena menjadi kawasan wisata. Pada malam hari, keindahan tempat ini sangat menonjol karena lampu-lampu warna-warni.

Fuzimiao, warisan budaya yang menjadi kawasan wisata, menjadi bagian dari masa kini. Nanjing juga dikenal sebagai kota pendidikan. Sejumlah universitas terkemuka, seperti Nanjing University, Southeast University, dan Nanjing Forestry University, didirikan di sini, sebagian besar dimulai tahun 1902.

Nanjing, kota tua yang memasuki masa modernisasi. Arus urbanisasi dari desa ke kota sangat deras. Gedung-gedung baru terus dibangun. Namun, Nanjing tetap menonjolkan harmonisasi, sesuai filosofi China klasik. Nanjing, kota yang tetap menghargai sejarah. Kebesaran bangsa China di masa lalu menjadi pemacu kemajuan bangsa ini di masa kini dan masa depan.

(ROBERT ADHI KSP dari Nanjing, China)

Jumat, 5 Desember 2008 | 13:28 WIB

http://www.kompas.com/readkotatua/xml/2008/12/05/1328112/nanjing.kota.yang.menghargai.sejarah

Budaya Betawi, Kapan Terangkat ?





Kompas/Riza Fathoni
Tarian Nyai Kembang, salah satu tarian khas Betawi.







BEBERAPA waktu lalu, Warta Kota sudah menyinggung beberapa kesenian yang pernah memberi warna pada Batavia. Sebut saja Keroncong Batavia, Wayang Senggol, dan Ubruk. Mempertanyakan bagaimana bisa, folklor Betawi tak pernah terangkat lagi. Tentu saja yang tersebut di atas tak seberapa, karena sebagai kota, Batavia yang berkembang hingga Jakarta ini mewariskan berbagai jenis kebudayaan. Kekayaan yang tak akan habis digali, kemudian dikelola, dipertahankan, diperkenalkan kembali pada khalayak, kepada generasi penerus.

Berbagai jenis warisan tak berwujud itu (intangible), jika disadari dengan sepenuh hati oleh pihak berwenang, merupakan kekayaan dan kekuatan Jakarta dalam rangka menemukan kembali akarnya, kemudian mengangkat kembali semua yang terlupakan, semua yang nyaris mati obor bahkan yang sudah benar-benar tertelan oleh apa yang disebut pembangunan dan perkembangan kota.

Upaya mencak kaki (mencari sesuatu yang hilang) sudah tak bisa lagi ditunda dengan alasan apapun jika warga dan pemerintah tak mau disebut sebagai warga yang "kosong", warga yang tak lagi mengenal keterikatannya dengan budaya asli Jakarta - kita menyebutnya sebagi budaya Betawi. Lantas tanggungjawab siapakah urusan keberlangsungan folklor Betawi? Biasanya, saling tunjuk hidung akan mulai terjadi begitu pihak terkait merasa tersinggung.

Tepat sekali, ini tanggungjawab pemerintah, dalam hal ini Pemprov DKI Jakarta, tentu saja bersama DPRD DKI sebagai pihak yang biasanya menentukan anggaran tanpa memahami makna sebuah program. Sehingga jika menurut mereka tidak penting buat mereka, bukan buat warga, maka dicoretlah usulan yang datang.

Di bulan peringatan dan perayaan 482 tahun yang lalu embrio Jakarta mulai terbentuk, yang jatuh pada Juni ini, agaknya Pemprov DKI masih saja tak peka akan hal ini. Dalam kegiatan HUT Jakarta pun, tipis sekali peringatan akan ke-Jakartaan- itu sendiri. Perayaaan hari jadi Jakarta hendaknya lebih memperlihatkan, mempertontonkan, memperkenalkan, merayakan berbagai warisan budaya yang menjadikan Jakarta seperti sekarang ini. Lebih semacam introspeksi, ya sebuah perayaan instrospeksi tentang arah Jakarta selanjutnya berkaca dari masa lampau.

Pameran budaya Betawi seperti sulit mendapat tempat. Seingat Warta Kota di tahun 2007 ada program dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI yang patut diacungi jempol sebagai upaya mengangkat budaya Betawi - yang seringkali dilirik sebelah mata. Sebuah pergelaran Komedi Betawi digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), sebuah tempat pergelaran yang biasanya hanya menampilkan kesenian dari kebudayaan Eropa atau pergelaran yang dinilai sebagai seni yang punya kasta tinggi (high art). Angka pergelaran yang pelit itu malah makin tak ada di tahun 2008 demikian pula di tahun ini, belum terdengar rencana pergelaran itu di GKJ.

Siapa yang bisa memberi jawab pada khalayak atas pertanyaan, bagaimana lenong terbentuk, bagaimana prosa rakyat Betawi berkembang - kisah tentang Jampang, Pitung, Singa Betina dari Marunda, Tuan Tanah Kedawung, Macan Kemayoran, dll; bagaimana Ubruk, Wayang Senggol, atau Ledek Batavia berkembang, pengaruh mana yang masuk di dalamnya, seperti apa bentuknya? Sebuah penyia-nyiaan budaya yang tak hanya bisa dijual tapi juga jadi bahan penelitian lebih lanjut.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Sabtu, 13 Juni 2009 | 15:10 WIB

http://www.kompas.com/readkotatua/xml/2009/06/13/15100716/budaya.betawi.kapan.terangkat

Pendidikan, Inti Pelestarian Warisan Budaya


SEBAGAI negara dengan tingkat keanekaragaman budaya yang sangat luas, Indonesia berkepentingan terhadap Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) di tingkat internasional. Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Intangible Cultural Heritage (ICH) melalui Peraturan Presiden No 78 Tahun 2007 tentang Pengesahan Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Di tingkat nasional, kepentingan melindungi WBTB tadi sungguh besar mengingat nilai-nilai budaya barat begitu memborgol masyarakat kita. Bicara soal perlindungan WBTB, demikian menurut Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Basuki Antariksa, tentu sangat tak menarik karena bicara perlindungan WBTB artinya bicara cost alias pengeluaran uang dan tak kecil, pula.

"Jika kebudayaan dinilai dari aspek ekonomi tentu potensi terbesar akan berasal dari Warisan Budaya Benda (Tangible Cultural Heritage) seperti candi atau benda purbakala lainnya. Banyak orang lupa, Intangible Heritage, dapat memberi kontribusi tak langsung yaitu membentuk mental bangsa," paparnya dalam "Simposium dan Workshop Mengenai Inventarisasi dalam Rangka Perlindungan WBTB" di Hotel Alila, Pecenongan, Jakpus, awal pekan lalu.

Basuki menambahkan, tugas pelestarian WBTB adalah tugas berat karena harus ditujukan untuk menjamin keberlangsungan dan perkembangannya secara mandiri melalui media pendidikan formal dan non-formal.

Sebagai informasi, UNESCO mendefinisikan WBTB sebagai "segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, ketrampilan - serta instrumen, obyek, artefak, dan lingkungan budaya yang terkait - yang oleh masyarakat, kelompok, dan dalam beberapa hal tertentu, perorangan yang diakui sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Konvensi ICH menyatakan, WBTB diwujudkan antara lain dalam bidang tradisi dan ekspresi lisan termasuk bahasa; seni pertunjukan; adat istiadat, ritus, dan perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku; dan kemahiran kerajinan tradisional.

Sayangnya, dalam simposium yang seharusnya sangat lekat dengan bidang pendidikan, tak ada satupun wakil dari Departemen Pendidikan Nasional. Padahal, jelas-jelas disebutkan Basuki, upaya pelestarian WBTB tak bisa lepas dari proses pendidikan formal dan non-formal.

Sesungguhnyalah, persoalan warisan budaya baik benda dan tak benda adalah persoalan pendidikan. Bukan hanya membentuk karakter dan mental tapi juga untuk menginformasikan kepada masyarakat hingga ke pelosok bahwa apa yang selama ini mereka jalankan sebagai ritual, kebiasaan, cara pandang, kemampuan membuat kerajinan atau mencampur bumbu sehingga membentuk rasa yang unik adalah warisan yang harus dilestarikan.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

http://www.kompas.com/readkotatua/xml/2009/08/24/12412320/Pendidikan..Inti.Pelestarian.Warisan.Budaya

Menonton Masjid Terbesar Eropa di Instituto Italiano di Cultura



MENURUT tradisi Romawi, sejarah awal kota Roma ditemukan si kembar Romulus dan Remus pada tahun 753 sebelum Masehi. Bukti arkeologi menunjukkan, Roma tumbuh dan berkembang dari kehidupan bernuansa keuskupan. Kota ini pernah menjadi ibu kota Kerajaan Romawi, Republik Romawi, dan Kekaisaran Romawi. Kota berusia lebih dari 2.500 tahun ini kini menjadi ibu kota Republik Italia di mana pemerintah Italia berkedudukan.

Di kota ini, di bawah kaki gunung Parioli, berdiri megah sebuah masjid. Masjid Roma, demikian nama masjid itu, merupakan masjid terbesar di seluruh Eropa. Berdiri di atas lahan seluas 30.000 m2, masjid karya arsitek Paolo Portoghesi, Vittorio Gigliotti, dan Sami Mousawi dibangun tahun 1984. Masjid ini berada di dalam area Pusat Kebudayaan Islam di Roma. Keberadaan masjid terbesar di Eropa ini dimulai tahun 1972. Di tahun itu inisiatif pembangunan Masjid Roma sudah mencuat.

Di tahun 1972, secara resmi Pusat Kebudayaan Islam Italia terbentuk. Tapi sebenarnya embrio Pusat Kebudayaan Islam di Italia itu sudah ada sejak 1966. Tujuannya tak hanya melayani komunitas Muslim di Italia namun juga menjadi jembatan bagi terciptanya dialog antara Islam dan dunia Barat.

Masjid yang pembuatannya kelar pada 1995 itu bisa menampung hingga 40.000 umat. Ruang utama masjid ini mencontoh model masjid berarsitektur Islam dengan perpaduan gaya klasik Romawi. Ruang ibadah berbentuk segi empat dengan halaman luas di luarnya ditambah air mancur di bagian tengah. Ruang ini bisa menampung sekitar 2.500 orang. Masjid ini dilengkapi antara lain dengan perpustakaan seluas 4.000 m2, ruang konferensi, dan pusat pendidikan bahasa Arab.

Di belakang masjid dua jalur terbentang sehingga menghasilkan sebuah latar belakang berbentuk horisontal antara masjid itu dengan gunung Parioli. Dua jalur tadi juga mengakomodasi bentuk lengkung masjid. Sekitar 100 pohon cemara Romawi juga menghiasi taman terbuka di kompleks masjid ini.

Efek pencahayaan juga merupakan hal yang secara detil diperhatikan Portoghesi. Pencahayaan pada 16 kubah pada masjid itu disaring oleh jendela yang menjadi media untuk memantulkan cahaya. Portoghesi membuat konsep penerangan pada masjid ini untuk mengekspresikan secara universal hubungan antara Allah dan manusia. Penerangan masjid ini dibuat melalui pembiasan cahaya dan penyinaran cahaya langsung ke dalam masjid.

Dalam struktur bangunan ini juga terlihat ciri khas Islam seperti dari lengkungan saling silang, pilar-pilar yang menggambarkan hutan Magribi dan dari lingkaran-lingkaran konsentris yang menggambarkan kosmologi tujuh langit. Intinya, masjid agung yang sebagian besar dibiayai oleh Kerajaan Arab Saudi ini begitu megah.

Paolo Portoghesi, sang arsitek utama, lahir tahun 1931. Ia lulus dari Universitas Roma tahun 1957. Mulai 1968 hingga 1976 ia menjadi professor Sejarah Arsitektur di Polithecnic of Milan.
Islam merupakan komunitas religious lumayan besar di Italia. Mereka berasal dari berbagai penjuru dunia dengan bahasa dan status sosial yang berbeda-beda. Saat ini ada 800.000 pemeluk agama Islam di Italia. Empatpuluh ribu di antaranya berkebangsaan Italia. Kebanyakan pemeluk Islam ini terdiri dari imigran yang tiba dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Mereka berasal dari Maroko, Albania, Tunisia, Senegal, Mesir, Aljazair, dan negara-negara afrika Utara serta Timur Tengah.

Selain di Roma, masjid besar lainnya – meski tak sebesar Masjid Roma – ada di Catania dan Milan. Sementara 200 masjid kecil lainnya yang tersebar di Piemonte, Lombardia, Emilia Romagna, dan Veneto.
Dalam bulan Ramadhan ini Kedutaan Italia menggelar pameran foto tentang Masjid Roma (La Moschea di Roma) di Pusat Kebudayaan Italia (Instituto Italiano di Cultura) Jakarta mulai 11 Agustus 2009 hingga 19 September 2009. Sementara di Surabaya, pameran foto ini juga digelar mulai 24 Agustus – 14 September.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Kamis, 27 Agustus 2009 | 13:18 WIB


http://www.kompas.com/readkotatua/xml/2009/08/27/13182427/Menonton.Masjid.Terbesar.Eropa.di.Instituto.Italiano.di.Cultura

Kebijaksanaan Guru Kuang







Guru Kuang (572-532 SM) adalah musisi yang terkenal dari Negara Jin. Saat kaisar Jinado dan Kaisar Jinping berkuasa, dia juga menjabat sebagai menteri. Dia dikenang atas kebijaksanaannya. Masyarakat mengenalnya sebagai orang yang sangat berpengalaman dan terpelajar, walau ia dilahirkan dengan kedua mata yang buta.

Menurut legenda, keahliannya menabuh drum dan memetik sitar Qin tidak ada yang menyamai. Dia juga dapat menggunakan Qin untuk melukiskan suara alam, seperti nyanyian burung. Diapun mahir memainkan musik-musik tradisional dari seluruh penjuru negeri.

Guru Kuang adalah pejabat pemerintah yang menangani kebudayaan musik. Dia percaya bahwa tujuan musik adalah untuk menyebarkan moralitas lewat lagu-lagu tradisional. Lagu-lagu tersebut mencapai seluruh pelosok. Ia berpikir bahwa dengan menyanyikan lagu dengan sajak dan mengkombinasikannya dengan ritual, akan dapat membudayakan masyarakat. Pemahamannya kepada musik juga menginspirasi metode memerintah negara. Suatu hari, Kaisar Jinping merasa iba kepada Guru Kuang karena ia tak dapat melihat. Guru Kuang berkata, “Ada 5 jenis kebutaan:

Kaisar tidak dapat melihat pejabat pemerintah korupsi

Kaisar menunjuk orang yang salah untuk melakukan pekerjaan

Kaisar gagal membedakan antara pejabat yang mampu dan tidak mampu

Kaisar hanya ingin menggunakaan kekuasaan

Kaisar tidak peduli bagaimana rakyat hidup

Guru Kuang percaya bahwa fondasi negara adalah masyarakat. Tugas pemimpin adalah untuk mengelola dan dengan layak memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Dia tidak boleh menganggap diri diatas rakyat, dan harus memiliki moral yang luhur. Gagal melakukan hal ini adalah menolak kehendak alam. Raja yang mengecewakan rakyat, tidak mengurus pemerintahan dengan baik, harus digantikan. Kaisar Jindao mengagumi pandangan Guru Kuang dan bertanya padanya apa cara terbaik untuk memerintah. Guru Kuang menjawab, “Memegang teguh kebenaran yang lurus dan mengembangkan welas kasih.”

Dalam hal politik, Guru Kuang menganut pemerintahan yang terbuka dan transparan. Undang-undang dan peraturan dibuat kaisar untuk mengawasi pemerintahan yang jujur dan mempunyai kinerja yang baik. Tanpa hukum, pejabat maupun masyarakat tidak punya tuntunan. Guru Kuang berkata bahwa hanya orang yang bermoral tinggi dan mempunyai keahlian baru bisa diberi tanggung jawab besar menjadi pejabat publik. Guru Kuang juga berkata, “Saat menteri yang baik diturunkan dan orang yang tak berkemampuan diangkat, pergolakan akan pecah. Situasi yang sama juga akan muncul apabila posisi tinggi di pemerintahan diberikan kepada orang yang tak melakukan apa-apa.” Terkait dengan ekonomi, Guru Kuang percaya bahwa masyarakat harus disejahterakan dan hidup dengan damai. Pejabat pemerintah harus dekat dengan kenyataan hidup masyarakat, terjun ke masyarakat untuk membantu, memastikan tidak ada masyarakat yang ditinggalkan oleh negara.

Bagi pemimpin negara, dia merekomendasikan, “Jangan terjebak pada kondisi stagnan tanpa perkembangan. Jangan biarkan orang menghentikanmu dari terus melangkah maju. Sebagai pemimpin, seseorang haruslah mempunyai pandangan jauh ke depan, independen dan mandiri.” Pada zaman Kaisar Jindao dan Jinping, negara bisa makmur karena nasihat-nasihat dari Guru Kuang.

Pada masa itu, pemerintahan Qi memiliki teritori yang kuat, dan kaisarnya berkonsultasi pada Guru Kuang dalam hal memerintah negara. Untuk menjawab pertanyaan ini, dia bekata, “Kaisar yang baik dalah kaisar yang mampu mensejahterakan rakyatnya.

Guru Kuang sangat berwibawa dan enggan menjilat penguasa. Saat Kaisar Jinping berubah menjadi arogan dan berfoya-foya di usia tuanya, Guru Kuang menasihatinya berulang kali agar ia kembali ke sifat dasarnya yang baik.

Suatu hari, didepan semua menterinya, Jinping berkata, “Kaisar adalah orang yang paling berbahagia, karena tak ada orang yang berani melawan perintahnya.” Guru Kuang berpikir, seorang kaisar tidak seharusnya mengucapkan hal tersebut, dan melemparkan sitar Qin-nya ke arah Jinping. Apabila Guru Kuang takut mati, ia tentu tak akan berani berbuat demikian.

Karena Jinping telah menjadi sangat boros, Dinasti Jin merosot. Saat kaisar mengeluarkan perintah, masyarakat bereaksi negatif seakan-akan ada pencuri yang datang merampas hasil jerih payah mereka. Saat sedang berburu, Jinping berperilaku seolah-olah ia adalah kaisar dari jagat raya. Guru Kuang berkata, “Itu adalah khayalan pribadi Anda”. Jinping jadi emosi. Pulang ke istana, ia menyuruh pembantunya menaruh tanaman berduri di tangga. Guru Kuang yang tidak bisa melihat menaiki tangga tanpa alas kaki, seperti biasanya. Saat ia merasa menginjak tanaman duri tersebut, ia mengetahui maksud buruk Jinping dan berkata, “Ketika seseorang melorotkan tingkah laku dirinya sampai ke titik paling rendah, ia tinggal menghitung hari. Istana kaisar bukanlah tempat dimana tanaman berduri bisa tumbuh. Saya melihat hari akhir Anda sudah dekat.”

Karena karakternya yang lurus dan perhatiannya yang besar kepada rakyat, Guru Kuang diteladani sebagai tokoh berpengaruh yang mulia dan terhormat.
(Erabaru/ch)

Oleh: Rongxin (Minghui)

Jumat, 28 Agustus 2009

COPYRIGHT © 2009 ERA BARU NEWS

http://erabaru.net/featured-news/48-hot-update/4290-kebijaksanaan-guru-kuang

Kamis, 27 Agustus 2009

Geliat Ilmu Pengetahuan di Era Dinasti Seljuk



Pada abad ke-11 hingga 14 M, kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah dikuasai sebuah dinasti Islam bernama Seljuk. Pada masa itu, ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Di zaman itu, madrasah dan rumah sakit tumbuh bak cendawan di musim hujan. Dinasti Seljuk pun tercatat telah turut mengibarkan bendera kejayaan Islam pada abad pertengahan.

Dinasti Seljuk dipimpin oleh suku Oguz Turki yang berasal dari Asia Tengah. Bangsa Seljuk mulai bermigrasi ke Anatolia sejak abad ke-11 M dan membentuk basis kekuatan yang hebat dalam dunia Islam. Migrasi bangsa Seljuk ke Anatolia yang begitu cepat dari timur menuju barat telah mengubah wajah dan karakter Anatolia yang sebelumnya memiliki karakter seperti negara Eropa.

Seiring pesatnya migrasi bangsa Seljuk, telah membuat Anatolia lebih berkarakter Turki dibandingkan Eropa, sejak abad ke-12 M. Seiring bergulirnya waktu, bangsa Seljuk pun berhasil membangun Kekaisaran Seljuk Agung yang wilayah kekuasaannya terbentang dari Anatolia hingga Asia Selatan.

Tak heran, jika sejarah menuliskan kebesaran dan keagungan Kekaisaran Seljuk Agung dengan tinta emas. Pada masa Pemerintahan Sultan Meliksah I, wilayah kekuasaan Dinasti Seljuk begitu luas, terbentang dari Kashgor sebuah daerah di ujung daerah Turki, sampai ke Yerussalem.

Wilayah yang luas itu dibagi menjadi lima bagian: Pertama, Seljuk Besar. Wilayahnya meliputi Khurasan, Rayy, Jabal, Irak, Persia, dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang. Kedua, Seljuk Kirman. Wilayah kekuasaannya berada di bawah keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Seljuk. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang.

Ketiga, Seljuk Irak dan Kurdistan. Pemimpin pertamanya adalah Mughirs al-Din Mahmud. Seljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh sembilan syekh. Keempat Seljuk Suriah. Diperintah oleh keluarga Tutush ibnu Alp Arselan ibnu Daud ibnu Mikail ibnu Seljuk, jumlah syekh yang memerintah lima orang.

Kelima Seljuk Ruum. Diperintah oleh keluarga Qutlumish ibnu Israil ibnu Seljuk dengan jumlah syeikh yang memerintah seluruhnya 17 orang. Pada era kekuasaan Seljuk terdapat sejumlah penelitian mengenai kemajuan ilmu pengetahuan. Ada sejumlah peneliti yang menyebutkan bahwa pada masa ini terjadi stagnasi dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra, seni, juga ilmu filsafat di Dunia Islam.

Namun, berbagai macam peningggalan baik berupa buku-buku pengetahuan karya ilmuwan Muslim serta peninggalan budaya Islam pada era kekuasaan Dinasti Seljuk telah mematahkan dugaan itu. Megahnya sejumlah monumen dan masjid membuktikan bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk justru ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat di Dunia Islam.

Ada dua institusi penting yang berkembang pesat pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk, yakni madrasah dan rumah sakit. Pada masa itu, madrasah dan rumah sakit dibangun di mana-mana. Madrasah, perpustakaan dan rumah sakit bermunculan di wilayah-wilayah yang dikuasai Dinasti Seljuk, seperti kota Baghdad, Merv, Isfahan, Nishapur, Mosul, Damaskus, Kairo, Aleppo, Amid (Diyarbakir), Konya, Kayseri dan Malatya.

Insititusi itu berkembang menjadi pusat-pusat kebudayaan Seljuk Islam. Pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk, arsitektur bangunan banyak yang terbuat dari batu-batuan yang tahan lama. Sehingga berbagai macam bangunan yang dibangun bangsa Seljuk kebanyakan masih bertahan selama beberapa abad. Salah satu bukti bahwa ilmu pengetahuan dan sastra tidak padam pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk adalah banyaknya para ilmuwan dan intelektual Muslim yang terus mengembangkan ilmunya.

Beberapa ilmuwan dan budayawan terkemuka yang lahir pada masa itu antara lain; el-Juvayni, Ebu Ishak al-Shirazi, Omer al-Hayyam, al-Bedi' al-Usturlabi, Ebu'l-Berekat Hibetullah bin Malka el-Bagdadi, Samav'el al-Magribi, Serefeddin al-Tusa, Kamal al-din bin Yunus, Shahabeddin Yahya bin Habes al-Suhrawardi, Fahr al-din al-Razi, Ibnu al-Razzaz al-Jezeri, Ibnu al-Esir, serta Seyfeddin el-Amidi.

Pada era kepemimpinan Sultan Dinasti Seljuk Meliksah I (1072 -1092) di dunia islam pernah berdiri observatorium besar di kota Isfahan. Sedangkan seorang ilmuwan bernama Omer el-Hayyam dan teman-temannya memanfaatkan observatorium tersebut untuk melakukan penelitian hingga akhirnya menghasilkan karya berjudul Zic-i Melikshahi atau (Buku Tabel Astronomi) dan Takvim-i Jalali (Kelender Jalalaean).

Pada masa itu, seorang ilmuwan bernama El-Bed' al-Usturlabi menuliskan bukunya yang berjudul al-Zij al-Mahmudi (Buku Tabel Astronomi Mahmudi). Sedangkan, seorang ilmuwan yang bernama Ebu Mansur membuat karya berjudul el-Zij al-Senceri ( Buku Tabel Astronomi Senceri). Istana para Sultan Seljuk baik di Baghdad, Isfahan serta Merv selalu dipenuhi para pelajar, ilmuwan, juga para penulis. Mereka menuliskan karya-karyanya baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Persia. Bahkan Literatur Islam Persia mulai mendunia di bawah Dinasti Seljuk.

Beberapa penulis besar yang karyanya masih bisa dinikmati pada saat ini antara lain karya Jalaladdin-i Rumi Hakani, Senayi, Nizami, Attar, Mevlan, dan Sa'di. Para penulis besar tersebut hidup dan mempersembahkan karya-karyanya kepada para sultan Dinasti Seljuk. Kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat yang membaik di bawah kekuasaaan Dinasti Seljuk berhasil meningkatkan aktivitas dan prestasi masyarakatnya dalam bidang literatur, seni dan ilmu pengetahuan. Peningkatan aktivitas masyarakat dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan ini mendapat dorongan yang signifikan dari pemerintah Dinasti Seljuk.

Sejak abad-ke 14 M, ratusan madrasah ditemukan tersebar luas di Anatolia. Hampir setiap wilayah Anatolia terdapat madrasah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Dinasti Seljuk sangat memperhatikan dunia pendidikan bagi rakyatnya. Gambaran berbeda terlihat di pusat Kekuasaan Islam di wilayah yang dikuasai bangsa lain seperti di Mesir, Syuriah, dan Palestina di mana madrasah hanya ditemukan di kota-kota besar saja, tidak seperti di Anatolia, baik di desa dan di kota pemerintah membangun madrasah. Madrasah-madrasah yang dibangun Dinasti Seljuk tersebut masih banyak yang berdiri dengan tegak hingga saat ini dan dapat ditemukan di berbagai kota besar, kota kecil, juga desa yang berada di Anatolia.

Saksi Kemajuan Sains Dinasti Seljuk

Berbagai macam peninggalan yang diwariskan Dinasti Seljuk telah menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan berkembang dengan baik, seperti ilmu fisika dan geometri. Hal itu tampakdari bangunan-bangunan peninggalan Dinasti Seljuk yang hingga kini masih berdiri kokoh dan megah.

* Masjid

Kehebatan para arsitektur Dinasti Seljuk terlihat pada arsitektur dan teknik bangunan masjid-masjidnya. Masjid Seljuk sering disebut Masjid Kiosque. Bangunan masjid ini biasanya lebih kecil yang terdiri dari sebuah kubah, berdiri melengkung dengan tiga sisi yang terbuka. Itulah ciri khas masjid Kiosque. Model masjid khas Seljuk ini seringkali dihubungkan dengan kompleks bangunan yang luas seperti karavanserai serta madrasah.

* Karavanserai


Para sultan Dinasti Seljuk banyak membangun karavanserai sebagi tempat singgah bagi para musafir. Selain itu, karavanserai juga dibangun untuk kepentingan perdagangan dan bisnis. Para musafir maupun pedagang dari berbagai negeri akan dijamu di karavanserai selama beberapa hari secara gratis.

Bangunan karavanserai sendiri terdiri dari halaman, dan ruang utama di mana terdapat banyak kamar untuk menginap. Karavanserai pertama kali dibangun pada 1078 M oleh Sultan Nasr di antara rute Bukhara hingga Samarkand. Struktur bangunan karavanserai Seljuk meniru istana padang pasir Dinasti Abbasiyah yang berbentuk segi empat.

* Madrasah

Bangunan madrasah Dinasti Seljuk pertama kali muncul di Khurasan pada awal abad ke-10 M, sebagai sebuah adaptasi dari rumah para guru untuk menerima murid. Pada pertengahan abad ke-11 M, bangunan madrasah diadopsi oleh penguasa Seljuk Emir Nizham Al-Mulk menjadi bangunan publik.

Emir Nizham Al-Mulk sendiri terispirasi oleh penguasa Ghaznawiyyah dari Persia. Di Persia, madrasah dijadikan tempat pembelajaran teknologi. Madrasah tertua yang dibangun Nizham Al-Mulk terdapat di Baghdad pada 1067 M.

Madrasah yang dibangun Dinasti Seljuk terdiri dari halaman gedung yang dikelilingi tembok dan dilengkapi dengan asrama untuk menginap para pelajar. Selain itu, di dalam madrasah juga terdapat banyak ruang belajar. Bangunan madrasah Seljuk sesuai dengan arsitektur Iran.

* Menara

Bentuk menara masjid yang dibangun oleh Dinasti Seljuk cenderung mengadopsi menara silinder sebagai ganti menara berbentuk segi empat.

* Mausoleum

Bangunan mausoleum (makam yang indah dan megah) warisan Dinasti Seljuk menampilkan beragam bentuk termasuk oktagonal (persegi delapan), berbentuk silinder dan bentuk-bentuk segi empat ditutupi dengan kubah (terutama di Iran). Selain itu ada pula yang atapnya berbentuk kerucut terutama yang berada di Anatolia.

Bangunan mausoleum biasanya dibangun di sekitar tempat tinggal tokoh atau bisa pula letaknya dekat masjid atau madrasah. Dinasti seljuk membangun mausoleum untuk memakamkan dan menghormati kebesaran para penguasa dinasti tersebut. dya

By Republika Newsroom
Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 09:10:00

http://www.republika.co.id/berita/72439/Geliat_Ilmu_Pengetahuan_di_Era_Dinasti_Seljuk

Cinta dan Keakraban Ilahi




Keakraban adalah kebersamaan yang dicapai dengan cinta. Begitu banyaknya kesamaan diri kita dengan Allah sehingga kita akan merasakan begitu dekat dengan-Nya. Diri kita memang tidak bisa dipisahkan dengan-Nya karena kita semua berasal dari-Nya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya; berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Allah dan makhluk-Nya, berbeda tetapi tak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa laut sama dengan gelombang, lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan bara, demikian pula kita tidak bisa mengatakan bahwa makhluk sama dengan Khaliq.

Lautan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita maka vibrasinya akan menghapus semua kebencian. Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyumm, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.

Nikmat sekali bermesraan dengan Allah SWT. Kadang tidak terasa air mata meleleh. Air mata kerinduan dan air mata tobat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka. Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci.

Cinta tidak bisa diterangkan, hanya bisa dirasakan. Terkadang terasa tidak cukup kosakata yang tersedia untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya cinta. Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup.

Terminologi dan kota kata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik materi, tetapi terlalu sedikit kosa kata cinta secara spiritual. Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah Swt memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur'an karena kosa kata spiritualnya lebih kaya. Kosa kata cinta dalam Al-Qur'an menurut ulama tafsir ada 14 kosa kata, mulai dari cinta monyet sampai kepada cinta Ilahi.

Cinta Allah bersifat primer, sementara cinta hamba sekunder. Primer itu inti, substansi. Yang sekunder itu tidak substansial. Pemilik cinta sesungguhnya hanya Allah SWT. Hakikat cinta yang sesungguhnya adalah unconditional love (cinta tanpa syarat). Tanpa pamrih ini cinta primer. Ini berbeda dengan cinta kita yang memiliki kepentingan.

Ketika sebelum kawin, masya Allah, kita sampai kehabisan kata-kata melukiskan kebaikan pujaan kita. Akan tetapi sesudah kawin, kata-kata paling kasar pun tak jarang kita lontarkan.

Unconditional love pernah ditunjukan Rasulullah Muhammad SAW ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh orang Thaif. Rasul hanya tersenyum. "Aduh umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa, engkau pasti tidak akan melakukan ini", demikian bisiknya,.

Bahkan ketika datang malaikat penjaga gunung Thaif menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan orang Thaif itu, Nabi berucap, "Terima kasih. Allah lebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu. Kelak kalau mereka sadar, mereka akan mencintai saya".

Nabi Nuh AS pernah menyesal sejadi-jadinya kenapa ia pernah mendoakan umatnya binasa. 950 tahun ia berdakwah mengajak kaumnya ke jalan Allah, namun hanya segelintir yang mengikuti ajakannya. Yang lainnya ingkar sehingga Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikirimkan bencana kepada kaumnya yang ingkar itu. Maka datanglah banjir besar yang menenggelamkan mereka, sedangkan Nuh dan para pengikutnya sudah mempersiapkan diri dengan membuat perahu.

Ada sebuah ungkapan dari ahli hakekat: "Kalau cinta sudah meliputi, maka tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang. Sejelek apapun dan kasarnya orang lain, ia tak akan membalas dengan kejelekan."

Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu. Imam Syafi'i pernah "dikerjai" oleh seorang tukang jahit saat memesan pembuatan baju. Lengan kanan baju itu lebih besar/longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit. Imam Syafi'i bukannya komplain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih.

Kata Imam Syafi'i, "Kebetulan, saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak".

Indah hidup ini kalau tidak ada benci. Ini bukan berarti kita harus menahan marah. Yang kita lakukan adalah bagaimana menjadikan diri ini penuh cinta sehingga potensi kemarahan kita berkurang. Kita punya hak untuk marah, dan itu harus diungkapkan dengan proporsional.

Jangan karena makanan sedikit kurang enak lalu marah. Istri salah sedikit marah. Banyak hal yang membuat kita marah. Akan tetapi, selesaikah persoalan dengan marah?

Semakin meningkat kadar cinta maka semakin mesra pula belaian Allah SWT. Bagaimanakah nikmatnya belaian Allah SWT? Bayangkanlah seorang bayi yang dibelai ibunya. Tersenyum, dan sekelilingnya menggoda. Itu baru belaian makhluk. Apalagi belaian Sang Pencipta.

Kita pun akan semakin akrab dengan Allah, dan semakin tipis garis pembatas alam gaib di hadapan kita sehingga semua rahasia akan terkuak dan semakin banyak keajaiban yang kita lihat. Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, masih adakah rahasia antara keduanya?

Ruh sifatnya tinggi dan cenderung dekat dengan Allah. Raga sifatnya rendah dan jauh dari Allah. Ruh itu terang, sedangkan raga gelap. Para sufi mengungkapkan, "Wahai raga, sibukkan dirimu dengan shalat dan puasa. Wahai kalbu, sibukkan dirimu dengan bisikan munajat kepada Allah. Wahai raga, ungkapkan iyyâka na'budu. Wahai kalbu, ungkapkan iyyâka nasta'în."

Ta'abbud mendaki ke atas, sedangkan isti'ânah turun ke bawah. Yang melakukan ta'abbud adalah hamba, sedangkan isti'ânah adalah Tuhan. Siapa yang naik akan memancing yang di atas untuk turun menyambut. Kalau tidak pernah naik, jangan harap akan ada yang turun.
Indah perjumpaan itu.

Ada ketakutan dan ada harapan. Kadang kita takut kepada Allah, tetapi juga kita berharap. Ada al-khasya dan ada al-raja'. Di balik ketakutan sehabis berdosa ada harapan bahwa kita akan diampuni, ada keinginan bersama Allah kembali. Maka lahirlah tobat. Seperti pendaki gunung yang tak pernah bosan, naik ke atas, terperosok ke bawah, naik lagi, terperosok, dan naik lagi. Semakin tinggi pendakian itu semakin licin dan sulit. Begitulah cobaan bagi manusia. Semakin tinggi kedudukan seseorang maka cobaannya semakin berat. Namun, cobaan itu jangan membuat kita putus asa. Jika kita terus mendaki, pasti kita akan sampai ke puncak.

Ada ketakjuban dan ada keakraban. Ketakjuban itu ada jarak. Untuk mengagumi suatu objek, kita harus mengambil jarak dari objek itu. Indahnya sebuah lukisan hanya akan terasa jika kita agak jauh dari lukisan itu. Keakraban itu tidak ada jarak, atau sangat dekat sekali. Inilah kita dengan Tuhan. Akrab tetapi takjub.

Ada pemusatan dan ada penyebaran. Allah Maha Esa. Kita fokus ke situ. Akan tetapi, apa yang dilihat pancaindera itu beragam dan beraneka. Namun, semuanya terhubungkan dengan Allah. Warna-warni yang kita lihat di alam semesta ini sumbernya satu, Allah Yang Esa.

Ada kehadiran dan ada ketiadaan. Ini lebih menukik. Satu sisi kita merasakan Allah hadir dalam diri kita, di sisi lain hampa. Kadang kita kosong, kadang penuh. Kadang Dia muncul, kadang tiada. Dia adalah Mahaada, meski tak terlihat. Dan yang terlihat ini sebetulnya adalah manifestasi dari Yang Ada. Ketiadaan di sini bukan berarti menafikan.

Ada kemabukan dan ada kewarasan. Yang bisa memabukkan bukan hanya alkohol dan narkoba. Ada mabuk positif dan ada mabuk negatif. Mabuk bagi seorang sufi adalah supersadar (di atas kesadaran). Kesadaran seperti ini susah dijelaskan. Ketika kita sedang bermesraan dengan Allah, menangis di atas sajadah, terisak-isak, orang lain mungkin melihat kita sedang tidak sadar. Akan tetapi, sebenarnya kita sangat sadar, bahkan kita sedang berada di puncak bersama Allah.

Ketika mencintai seseorang saja kita bisa mabuk, begadang semalaman, membuat surat, dan lain-lain. Berkhayal, berimajinasi, membayangkan si dia hadir bersama kita. Bagaimana mabuknya kalau kita mencintai Allah?

Seorang sufi yang sedang mabuk kepada Allah, suka mengungkapkan ucapan-ucapan yang terdengar aneh di mata orang lain (syathahat). Misalnya "tak ada di dalam jubahku ini selain Allah". Berarti dalam jubah itu ada dua sosok yang bergumul menjadi satu, hamba dan Tuhan. Atau ungkapan subhânî subhânî (Maha Suci aku). Aku adalah Allah, Allah adalah aku.

Aku ini siapa? Tak ada. Yang ada hanyalah Allah. Hanya Allahlah yang wujud. Selain itu hanya efek dari yang wujud.

Ada penafian dan ada penetapan. Kadang kita ragu, benarkah yang datang di dalam kalbu ini Allah? Jangan-jangan bukan, tetapi hanya imajinasi saja. Di sini terjadi pertentangan antara rasio dan rasa. Maka untuk meyakinkannya, kecilkan rasio dan besarkan rasa. Yakinilah bahwa kita telah mendaki, dan kita sudah sampai puncak. Maka yang kita jumpai pastilah Allah. Maka akan ada penampakan. Dan segala rahasia gaib pun tersibak./taq

By Republika Newsroom
Rabu, 22 April 2009 pukul 17:02:00

http://www.republika.co.id/berita/45691/Cinta_dan_Keakraban_Ilahi

Muslim Inggris Bangun Peradaban


Jumlah umat Islam di Kerajaan Inggris dari tahun ke tahun terus bertambah meskipun banyak berita miring soal agama itu yang selalu dikaitkan dengan teroris.

Berita miring tentang Islam itu ternyata justru membuat masyarakat di negeri Ratu Elizabeth ingin mengetahui lebih jauh mengenai agama tersebut.

Bahkan, sejumlah pihak menyatakan, muslim di Inggris sebenarnya telah berhasil memasukkan nilai-nilai tradisi Islam dalam budaya masyarakat lokal.

Berdirinya berbagai masjid di London, Birmingham, Bristol, Nottingham, Leeds, Bradford, Manchester, hingga Glasgow di Skotlandia mengubah wajah geografi kota-kota di Inggris.

Bukanlah sesuatu yang aneh jika kini perempuan muslim berjilbab dengan berbagai mode terlihat di ruang publik, di pusat pertokoan, atau di pusat berbelanjaan seperti Oxford Street.

Penampilan mereka akan berbanding terbalik dengan keberadaan busana musim panas yang buka-bukaan.

Di negeri itu juga berdiri berbagai lembaga sosial Islam, seperti "Shariah Council" yang berperan sebagai pengadilan agama untuk masalah pernikahan-perceraian dan warisan, Bank Syariah dan lembaga pendidikan, baik tingkat dasar dan menengah maupun perguruan tinggi.

Sekolah Islam seperti Karimia di Nottingham dan Muslim College di London yang didirikan Yusuf Islam, penyayi pop asli Inggris yang bernama asli Cat Steven, memberikan pilihan bagi orang tua muslim untuk pendidikan putra-putrinya.

Perguruan tinggi Islam juga mulai berdiri, seperti Aga Khan yang didirikan keluarga Shiah Ismailis di London serta "Markfield Institute of Islamic Studies" di Leicester.

Menurut Amika Wardana, mahasiswa doktoral bidang sosiologi tentang masyarakat muslim di University of Essex, komunitas muslim di Eropa telah berkembang dan berhasil mewarnai kehidupan sosial-budaya dan bahkan politik serta ekonomi.

"Sudah tidak tepat membicarakan hubungan antara muslim dan Barat, karena muslim sendiri sudah ada di Barat," ujar anggota Muslim Britain Research Network (MBRN) itu.

Saat ini jumlah muslim di Eropa Barat mencapai 12 juta dengan perincian, kurang lebih 4,5 juta di Prancis, tiga juta di Jerman, 1,6 juta di Inggris, dan sisanya tersebar di berbagai negara lain termasuk Belanda, Spanyol, dan Italia.

Kebanyakan umat Muslim di Eropa adalah imigran atau pendatang dari Asia Selatan; Pakistan, India, dan Bangladesh. Sebagian lain dari Afrika yang pada mulanya datang sebagai pekerja musiman setelah perang dunia kedua.

Jumlah muslim kulit putih atau penduduk asli yang menjadi mualaf memang tidak terlalu dominan, namun dengan pemberitaan yang terus tersebar mengenai Islam, mulai banyak di antar warga asli yang ingin mengetahui mengenai Islam.

Lembaga "Step to Allah" yang dibentuk M Hilal, pria lajang asal Singapura, setiap minggu mengadakan pengajian bagi kaum mualaf yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai Islam.

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2001, Islam merupakan agama terbesar kedua yang dianut penduduk Inggris atau sekitar 2,7 persen berbanding 71 persen Kristen-Katolik, 15,5 persen tidak beragama, dan sisanya beragama Yahudi, Hindu, Budha, Sikh.

Amika Wardhana, yang melakukan pengamatan mengenai umat muslim di Inggris, menyebutkan, dari 1,2 juta muslim di Inggris, sebagian besar berasal dari Asia Selatan.

Tidak heran nuansa Islam di Inggris sangat kental dengan tradisi dan budaya India-Pakistan-Bangladesh, ujar lulusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada tahun 2003 itu.
Hal itu terlihat dengan banyaknya khutbah Jumat dan kajian Islam disampaikan dalam bahasa Urdu, sebagian kecil dalam bahasa Arab, dan hanya beberapa dalam bahasa Inggris.

Muslim kulit putih

Komunitas muslim sebenarnya sudah ada di Inggris sejak abad ke-16 Masehi. Hubungan diplomatik antara Kerajaan Inggris dan Turki Utsmani memberikan jalan bagi pengusaha muslim mengembangkan jaringan bisnisnya di London. Salah satunya mengenalkan kopi ke publik Inggris.

Selama masa penjajahan Inggris atas negeri berpenduduk muslim, seperti India termasuk Pakistan dan Bangladesh, Tunisia, Yaman dan Malaysia, banyak pelaut-pelaut muslim yang bekerja pada perusahaan pelayaran Inggris dan beberapa dari mereka akhirnya menetap di kota pelabuhan seperti London, Cardiff, dan Liverpool.

Selain ini, terdapat pula komunitas muslim kulit putih, salah seorang figur utamanya Abdullah Quilliam. Bernama asli William Henry Quilliam, ia lahir di Liverpool tahun 1856 dan meninggal 1932.
Quilliam tertarik dan akhirnya memeluk Islam dalam kunjungannya ke Aljajair, Tunisia, dan Maroko.

Sekembalinya ke Inggris, ia aktif menyebarkan Islam dan mendirikan masjid di Liverpool. Peran dan kontribusi Abdullah Quilliam sangat penting dalam meletakkan fondasi bagi berdirinya masyarakat muslim di Inggris.

Amika Wardana menyatakan, perkembangan pesat komunitas muslim di Inggris dan di negara-negara Eropa Barat terjadi pada 1970-an. Kedatangan para pekerja migran dari Asia Selatan dan diikuti dengan reuni keluarga, kedatangan istri dan anak mengawali proses itu.

Satu ciri khas dari komunitas Muslim Asia Selatan, khususnya Pakistan ini, yaitu mereka tinggal berkelompok dalam sistem keluarga besar dan sangat kuat ikatan keluarga, klan, dan etnisnya.

Muslim mulai mendirikan masjid dengan cara mengubah gudang-gudang tak terpakai atau gereja yang dijual karena tidak mempunyai jamaah lagi dan juga mulai menjalankan berbagai lembaga pendidikan agama informal.

Survei yang dilakukan lembaga kajian agama University of Derby 1996 mencatat terdapat 960 lebih organisasi muslim ada di Inggris Raya.

Komunitas muslim berasal dari Asia Selatan seperti Arab atau Timur Tengah, Iran, Irak, Turki, serta Siprus serta komunitas muslim dari Eropa Timur seperti Bosnia-Herzegovina, Albania, dan Kosovo.

Komunitas muslim dari berbagai negara hadir di Inggris dengan sejarah migrasi yang berbeda, akibatnya interaksi dan kerjasama antar komunitas itu masih sangat lemah.

Seperti juga di berbagai negara, komunitas muslim di Inggris bukanlah komunitas tunggal, melainkan komunitas kecil-kecil yang meskipun beragama sama namun terpisah-pisah dalam sekat ras, etnis, bahasa, etnis, asal negara, dan juga afiliasi madzhabnya.

Tradisi perjodohan antarkeluarga masih dominan hingga sekarang.

Diskriminasi dan Islamophobia


Pada dasarnya, masyarakat Eropa khususnya Inggris, merupakan masyarakat homogen yang komposisinya relatif seragam.

Kehadiran pendatang yang memiliki perbedaan sangat mencolok seperti warna kulit, bahasa, dan juga budaya, merupakan fenomena sosial baru.

Hubungan kurang baik antara Barat dan Islam serta sejarah kolonialisme yang panjang masih menyisakan sisa-sisanya.

Pandangan dan sikap umum masyarakat Inggris sendiri terhadap kelompok minoritas di dalam negerinya mengalami perubahan sejak 1950-an. Sikap diskriminatif ini berubah dari `perbedaan warna kulit, ras, etnis, dan agama di era sekarang.

Situasi ini diperparah dengan internasionalisasi isu yang berkaitan dengan Islam dalam beberapa dekade terakhir, bangkitnya radikalisme Islam dan berbagai serangan teroris atas nama atau diakui dilakukan muslim.

Isu Islamophobia, atau ketakutan terhadap semua hal yang berkaitan dengan Islam, menjadi diskusi utama publik Inggris.

Salah satu peristiwa yang sangat penting dalam isu diskriminasi ini adalah publikasi novel Salman Rushdie berjudul "Satanic Verses" (Ayat-ayat Setan) tahun 1989.

Pada 1996, terbentuklah Muslim Council of Britain atau Asosiasi Muslim di Inggris (MCB) yang berperan sebagai organisasi payung yang membawahi seluruh organisasi muslim di Inggris, khususnya untuk menegosiasikan kebijakan publik dengan pemerintah.

Sedangkan bagi masyarakat dan pemerintah Inggris, mereka mulai menyadari keberadaan komunitas muslim yang memiliki budaya dan tradisi yang berbeda.

Dari sisi positifnya, muslim kemudian mendapatkan berbagai kemudahan seperti penyediaan makanan halal, libur khusus hari besar keagamaan, dan sebagainya.

Sementara sisi negatifnya, muncul sikap penolakan dari beberapa kelompok di Inggris yang merasa terancam dengan perkembangan kemunitas mslim, yang dianggap merusak tatanan kehidupan yang sudah mapan.

Akhirnya, kehidupan muslim di negeri Pangeran Charles itu memberikan gambaran perjuangan untuk mempertahankan identitas Islam di seluruh belahan bumi.

Meskipun menghadapi berbagai rintangan, umat muslim di Inggris berhasil bertahan dan mampu mewarnai kehidupan sosial-budaya di Eropa khususnya Inggris. Peradaban Islam berkembang di negeri itu. ant/taq

By Republika Newsroom
Kamis, 27 Agustus 2009 pukul 10:16:00

http://www.republika.co.id/berita/72172/Muslim_Inggris_Bangun_Peradaban

Waktu Puasa yang Lebih dari Normal


KAIRO--Umat Muslim yang hidup di Barat biasa menghadapi shaum dalam waktu yang sangat lama, bisa lebih dari 18 jam. Di sejumlah negara, waktu siang memang terkadang lebih panjang dibanding malam hari. Fenomena itu mulai mendapat perhatian serius dari kalangan ulama fikih di Mesir.

Mufti Pemerintah Mesir, Syekh Ali Jumah, menetapkan fatwa tentang pelaksanaan shaum di negara-negara Barat yang lebih dari 18 jam. Menurut Syekh Jumah, umat Muslim yang menunaikan shaum di negara yang waktu siangnya melebihi 18 jam, boleh berbuka, mengikuti waktu Makkah Almukarramah, kota suci pertama bagi umat Muslim.

Fatwa tersebut mendapatkan respons beragam dari ulama di negeri berjuluk seribu menara itu. Syekh Mahmud 'Asyur, anggota Majma' Buhust Al-Islami (Badan Penelitian Pengetahuan Islam) dan guru Besar Universitas Al-Azhar, mengatakan, jika waktu siang di Barat lebih panjang dari waktu normal, umat Muslim boleh berbuka sesuai dengan waktu Makkah.

''Dengan catatan, apabila jarak negara tersebut dekat Makkah. Namun, apabila jaraknya jauh dari Makkah, panjang waktu puasa disesuaikan dengan negara Muslim terdekat,'' ungkap Syekh 'Asyur seperti dilaporkan Syarq al-Awsath.Pendapat senada juga ditegaskan Syekh Yusuf Badri, anggota Majelis A'la Li as-Syu'un al-Islamiyah (Lembaga Tinggi Urusan Agama Islam), yang bermarkas di Kairo. Menurutnya, para ahli fikih sudah bersepakat bahwa pada dasarnya waktu awal dan akhir puasa, disesuaikan dengan waktu tempat seorang Muslim berada.

''Adapun bagi umat Islam yang hidup di suatu negara yang waktu siangnya mencapai 16 jam, dibolehkan baginya untuk mengkiaskan waktunya dengan waktu normal dalam puasa,'' papar Syekh Badri. Menurutnya, para ahli fikih bersepakat, panjang waktu normal yang dijadikan patokan adalah waktu Makkah Al-Mukarramah.Syekh Badri menuturkan, apabila panjang waktu siang di suatu negara mencapai hingga 20 jam, diperbolehkan bagi umat Muslim untuk memulai waktu berpuasa dan berbuka sesuai dengan waktu puasa di Makkah al-Mukarramah.

Sebaliknya, ujar dia, apabila waktu malam di suatu negara lebih panjang dari waktu siangnya, umat Muslim menjalankan puasanya sesuai dengan waktu setempat. Hal itu, tutur dia, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Albaqarah 185, ''Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.''

Dr Ahmad Abdur Rahim Samih, pengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, pun memiliki pendapat sendiri. Menurut dia, sesungguhnya syariat telah menentukan waktu berpuasa secara jelas. Yakni, dimulai sebelum terbit matahari hingga terbenamnya sang surya. Dalam pandangan Samih, tidak mungkin mengkiaskan waktu puasa di negara-negara Barat dengan waktu Makkah. ''Yang lebih tepat adalah mengikuti waktu negara Muslim terdekat. Demikian pendapat yang banyak diikuti oleh ulama fikih,'' tuturnya menegaskan.

Samih menambahkan, apabila negara Muslim terdekat juga mengalami waktu siang yang panjang, dapat mengkiaskan dengan waktu negara Muslim lain yang jaraknya dekat dengan negara Muslim yang mengalami waktu siang yang panjang itu. Demikian dan seterusnya. rid/taq/awsat

By Republika Newsroom
Rabu, 26 Agustus 2009 pukul 08:03:00

http://www.republika.co.id/berita/71927/Waktu_Puasa_yang_Lebih_dari_Normal

Puasa di Qatar, Suhu Mencapai 50 Derajat Celsius



Karena panasnya, aktivitas perkantoran baru dimulai sore hari.

Berpuasa di negeri orang selalu meninggalkan kesan tersediri. Pasalnya, masing-masing negara mempunya tradisi Ramadhan, yang mungkin tidak kita temukan di Tanah Air. Di Qatar, misalnya, hal yang membuat kita sulit melupakan suasana puasa di sana adalah teriknya matahari. Bayangkan, jika waktu musim panas, suhu udara bisa mencapai 50 derajat celsius. Suhu udara yang tidak pernah kita alami di Tanah Air.

Panasnya suhu udara di Qatar ketika Ramadhan dialami oleh Dita Nury Vanessa (23 tahun). Inez, panggilan akrab Dita Nury, bermukim di kota Doha, Qatar, bersama suaminya yang bekerja di perusahaan migas, Qatar Petrolium.

Qatar adalah negara yang terletak di bawah pesisir barat teluk Arab. Karena letaknya yang berdekatan dengan pantai, saat puncak musim panas (Juli-Agustus) suhu udara bisa mencapai 50 derajat celsius, serta turun drastis di bawah 7 derajat celsius ketika musim dingin. ''Panas dan terik, itulah godaan terbesar dalam menjalankan puasa pada bulan suci Ramadhan di Qatar,'' ujar ibu satu anak itu.

Menurut Inez, iklim puasa tahun ini dan tahun lalu di Qatar tidak jauh berbeda karena Ramadhan jatuh di saat musim panas. Saat musim panas, matahari bersinar lebih lama sehingga menambah waktu berpuasa. Hal tersebut berbeda jika Ramadhan jatuh pada musim dingin, di mana matahari terbit pada pukul 06.30 dan terbenam pada pukul 16.30 waktu setempat. Pada siang hari di bulan Ramadhan, kata dia, suasana kota jauh lebih sepi dibandingkan dengan di Indonesia. ''Di sini, juga ada istilah siang jadi malam dan malam jadi siang.''

Pada siang hari, karena udaranya begitu panas, orang-orang di Qatar lebih banyak berada di dalam rumah, sementara aktivitas di kantor biasa dimulai sore atau bahkan malam hari. Di bulan Ramadhan, Pemerintah Qatar memang mengurangi waktu kerja di kantor menjadi enam jam per hari.

Tidak seperti di Indonesia, semua toko di Qatar tutup sebelum waktu berbuka untuk menghormati orang-orang yang puasa. Yang unik, kata Inez, adalah adanya restoran atau hotel yang menyediakan tenda-tenda ala Arab untuk tempat berkumpul sembari menunggu waktu sahur tiba. ''Di sini, memang ada tradisi untuk berkumpul dan merayakan sesuatu di dalam tenda,'' katanya.

Seperti di negara-negara Arab lainnya, peraturan dalam menjalani ibadah puasa sangat ketat. Saat bulan puasa, menurut Inez, orang-orang yang tidak puasa tidak boleh makan-minum di sembarang tempat. Jika nekat, yang bersangkutan bisa dianggap tidak menghormati orang yang puasa dan akan dikenakan sanksi.

Pengalaman yang tidak mengenakkan itu dialami oleh Shanti Eka (28 tahun), warga Indonesia yang tinggal di Doha. Pada Ramadhan tiga tahun lalu, ia dengan santainya makan di sebuah pusat perbelanjaan karena sedang berhalangan puasa. Karena ulahnya itu, ia harus berurusan dengan polisi dan diinterogasi.

Di masjid-masjid Qatar, selama bulan puasa, banyak kegiatan, seperti pengajian, pengkajian Alquran, dan bedah buku. Bahkan, di beberapa masjid, terdapat imam yang berasal dari Indonesia yang terkadang juga mengadakan pengajian dalam bahasa Indonesia. Warga Indonesia di Qatar jumlahnya cukup banyak, sekitar 25 ribu orang. Dari jumlah tersebut, 3.000 di antaranya tenaga profesional dan rata-rata bekerja pada sektor migas.

Tembakan berbuka
Jika di Indonesia, waktu berbuka ditandai dengan sirene atau suara beduk, tidak demikian halnya di Qatar. Di negeri ini, waktu berbuka ditandai dengan tembakan meriam canon. Tembakan meriam tersebut berasal dari QatarPost, sebuah gedung pemerintah dekat cornice (sebutan untuk pesisir pantai dekat kota).Inez mengaku memperoleh banyak hal positif selama di Qatar. ''Di sini kita jauh dari ingar-bingar duniawi, sehingga saya bisa lebih khusyuk dalam meningkatkan ibadah pada bulan Ramadhan,'' katanya. nan/taq

By Republika Newsroom
Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 11:33:00

http://www.republika.co.id/berita/72460/Puasa_di_Qatar_Suhu_Mencapai_50_Derajat_Celsius

Satu Perut


Sesungguhnya orang mukmin itu makan dengan satu perut, sedang orang kafir makan dengan tujuh perut -- Nabi Muhammad SAW

Seperti kendaraan bermotor, dalam bulan Puasa kita di-tune-up, di-spooring, di-balancing, supaya lancar dalam pengembaraan kehidupan sehari-hari kita selanjutnya. Begitu besar perhatian Tuhan kepada diri kita, hal itu terasa di bulan-bulan kemudian kita berada dalam keadaan stabil. Sampai kemudian kita dipertemukan dengan bulan Puasa lagi. Alhamdulillah. Seberapa besar keperluan yang kita butuhkan, rasanya selalu dicukupi Allah. Kadang terasa kita begitu dimanjakan-Nya. Ya, kita juga lupa bahwa kita sebenarnya sudah lahir kembali, menjadi fitri untuk menjalani hidup ini. Mengapa lalu di bulan-bulan kemudian kita kadang hidup lebih mewah lagi. Mengapa kita lupa gemblengan rohani dan jasmani yang baru saja kita jalani.

Mengapa kemudian kita tidak khusus, misalnya, melakukan pemberdayaan kekuatan keadilan sosial untuk menanggulangi kesenjangan sosial yang semakin tajam. Sebenarnya seberapa besar kekuatan yang kita miliki punya pengaruh terhadap rasa keadilan sosial orang-perorang. Sayyid Qutub menyatakan bahwa Islam membenci keadaan masyarakat yang terbagi dalam kelompok kaya dan miskin. Di dalam masyarakat seperti itu terkandung rasa sakit hati dan kedengkian yang bisa mengancam keutuhan masyarakat serta merusak jiwa dan hati manusia. Juga tekanan hidup atas orang-orang miskin, bisa mendorong mereka kepada tindakan-tindakan yang haram dan terlarang, misalnya mencuri, merampok, menjual harga diri dan kehormatan, merasa benar sendiri. Tindakan-tindakan semacam ini sangat bertentangan dengan fitrah manusia dan dimusuhi Islam.

Hadis riwayat Bukhari di atas mengingatkan kita bahwa kebutuhan asal cukup dan kebutuhan asal rakus mendudukkan orang-perorang dalam kondisi ketakwaan yang saling bertentangan. Seorang yang baik juga nampak dalam ketakwaan ketika menghimpun kekayaan. Juga diperhitungkan bagaimana kekayaan itu bisa didapat, dari mana, lalu untuk apa. Sampai pada akhirnya kekayaan itu wajib ''dipertemukan'' dengan Allah Azza wa Jalla. Bisakah kekayaan kita dipertanggungjawabkan? Apakah ada kelompok masyarakat yang kita rugikan ketika kita menumpuk kekayaan. Masa-masa ibadah tak akan pernah berakhir. Kesucian menyertai langkah kita dan tindakan-tindakan kita di kantor. Itulah karunia Allah terbesar. Pikiran kita, ucapan kita, dan perilaku kita sehari-harinya mencerminkan keagungan manusia. Kita adalah wakil Tuhan di bumi, sehingga napas keadilan sosial yang kita hembuskan merupakan kewajiban yang utama karena kita seorang mukmin. Subhanallah. -ahi

By Danarto
Rabu, 26 Agustus 2009 pukul 14:25:00

http://www.republika.co.id/berita/71963/Satu_Perut

Tingkat Spiritual Ayah Bentuk Pribadi Anak


Ingatkah anda kisah kerelaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail, atas perintah Allah s.w.t? Ketika Ibrahim berkata kepada putranya ia memiliki ilham bahwa Allah ingin ia menyembelih Ismail, sang putra patuh tanpa keengganan sedikit pun. Hal yang paling luar biasa dari kisah itu adalah, bagaimana Ismail begitu percaya sepenuhnya pada kebenaran ilham sang ayah.

Beberapa anak lelaki saat ini yang akan bereaksi serupa Ismail ketika orang tua berkata pada mereka, "Tuhan menginginkan aku mengorbankan dirimu?. Mungkin sebagian akan menjawab, "Apa Bapak sudah gila? Mereka mungkin bisa menerima gagasan berkorban untuk Allah, namun sulit meyakini ada hubungan kuat antara ayah dengan Allah, seperti yang dialami Ismail.

Inilah letak peran penting seorang ayah dalam keluarga. Kepercayaan mendalam hanya dapat dihasilkan dari hubungan sangat dekat.

Pun, Sang ayah, Nabi Ibrahim sama sekali tidak was-was dan bingung terhadap rencana masa depan putranya. Ismail pun tak memiliki tujuan besar lain selain mematuhi sang ayah, dan bersedia melakukan apa pun perintah Allah. Tentu saja mereka berdua nabi dan dari segi keutamaan dan kedudukan jauh dari manusia biasa.

Namun ada hal-hal besar yang dapat dipelajari oleh keluarga Muslim saat ini. Pemaparan dari ahli psikologi keluarga, Marria Husain, dari situs keluarga Zawaj berikut layak untuk dijadikan acuan.

Menghormati Kepercayaan Keluarga

Orang tua harus terus menjaga nilai kelayakan dan kepercayaan dalam keluarga dengan selalu mengarahkan tujuan rumah tangga untuk beribadah kepada Allah. Faktor pemimpin keluarga sangat besar di sini, yakni ayah. Kini berapa keluarga yang benar-benar membesarkan anak sebagai semata-mata ibadah dan ikhlas kepada Allah.

Sebaliknya berapa banyak keluarga Musim yang mengguyur anak-anak mereka dengan kencang dalam hal keuangan dan material, atau mendorong mereka untuk meraih sebanyak mungkin gaji, jabatan, kedudukan, ketenaran dan materi lain.

Banyak orang tua yang cenderung mengambil alih mimpi anak. Tentu orang tua ingin melihat anak mereka berhasil, sekolah di tempat baik, mendapat jodoh yang baik, tapi itu bukan segalanya dan belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak.

Anak-anak saat ini dikorbankan untuk jadwal yang padat, bahkan saat mereka di usia kanak-kanak. Orang tua pun tak bisa melepaskan diri dari harapan tinggi pada anak-anak sekaligus melupakan bahwa anak-anak pun berhak menuntut dari orang tua, yakni waktu, kebersamaan, dan kasih sayang. Dalam tradisi para nabi, bila pria menghabiskan waktu bersama keluarga akan dinilai sebagai ibadah.

Keluarga Butuh Cinta Ayah

Cukup memprihatinkan saat ini, banyak keluarga Muslim dikorbankan karena selip pemahaman sang ayah. Pemahaman itu membuat lelaki berkeluarga meninggalkan keluarga demi aktif di komunitas luar.

Saat ini, menurut Maria Hussein, para lelaki kadang berpikir berlebihan dengan menganggap keluarga akan menghalangi kecintaan terhadap Allah, sehingga mereka berjarak dengan istri dan anak-anak. Yang terjadi, para lelaki tipe ini memang kerap terlibat dalam pelayanan komunitas, berlama-lama dalam masjd, menolong orang lain, sementara di rumah hanya berbincang sekedarnya, melakukan aktifitas seperlunya karena energi telah terkuras di luar sebelum akhirnya tidur kecapaian.

Namun, itu masih lebih baik. Maria menuliskan ada lagi tipe yang lebih parah, yakni tipe yang berjarak dari keluarga karena mengejar material. Persamaan kedua tipe ayah itu, sama-sama tidak memandang keluarga sebagai alat untuk beribadah dan mendapat keikhlasan Allah. Kedua tipe ayah di atas menurut Maria, dapat memberi dampak buruk bagi anggota keluarga lain.

Sang istri mungkin, yang awalnya sukarela mendampingi suami dalam pernikahan dan membebaskan suami melakukan 'hal lebih penting' untuk Allah, akan mengubah pandangan. Istri bisa jadi merasa diabaikan dan ditolak. Itu pun sangat mungkin terjadi pada anak. Apalagi bila anak mulai merasakan tanda-tanda bila ibu jengkel terhadap ayah.

Dampak kemudian akan lebih buruk. Bila beberapa bulan atau tahun, anak-anak terbiasa tinggal tanpa ayah itu sangat beresiko. Akan muncul perasaan tidak lagi butuh sosok ayah dan akhirnya hilang perasaan kedekatan. Artinya si ayah sebenarnya telah 'kehilangan' anak mereka. Dalam kehidupan saat ini, tidak cukup bagi seorang ayah hanya datang dan membawa uang lalu merasa pekerjaan sudah beres.

Baik anak lelaki dan perempuan membutuhkan waktu bersama ayah. Anak lelaki yang terabaikan oleh ayah secara psikologi cenderung mengembangkan perilaku kasar, melanggar norma dan hukum dan selip secara seksual saat remaja.

Sementara anak perempuan yang tak mendapat cukup penghargaan, perhatian dan cinta kasih ayah akan lebih rentan dari serangan predator seksual. Hal itu karena, menurut Maria, dibawah sadar, mereka mencari kasih sayang atau peran pengganti ayah. Kebutuhan didorong perasaan putus asa untuk cinta kasih dan pengakuan kerap membuat remaja melakukan perilaku terlarang dan merusak.

Sementara anak-anak berbahagia yang mendapat kesempatan bersama sang ayah untuk bersenang-senang, beraktivitas bersama cenderung sedikit memiliki masalah sosial. Mereka bahkan akan mengembangkan pribadi lebih sehat, stabil dan memenuhi kewajiban pernikahan dengan baik pada tahun-tahun kemudian. itz

By Republika Newsroom
Kamis, 27 Agustus 2009 pukul 17:22:00

http://www.republika.co.id/berita/72267/Tingkat_Spiritual_Ayah_Bentuk_Pribadi_Anak

Puasa Mendorong Lahirnya Peradaban

Terbentuknya peradaban dalam sejarah umat manusia ditentukan, paling tidak, oleh tiga hal. Yaitu stabilitas sosial, kesejahteraan ekonomi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ini ditegaskan Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam perbincangan dengan Republika di Jakarta, Rabu (26/8).

''Stabilitas sosial adalah kondisi di mana masyarakat memiliki komitmen bersama terhadap pemenuhan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Bahkan dalam kondisi yang lebih ideal lagi manusia rela menunda kepentingan pribadinya karena mendahulukan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan masyarakat secara bersama (Q.S. Al Hasyr [59]:9),'' papar kiai Ridwan.

Karena menurutnya, dengan menolong masyarakat berarti seseorang telah membuat investasi untuk menolong masa depannya. Persoalan abadi yang dihadapi dalam sejarah umat manusia adalah pilihan antara berpikir hanya untuk dirinya sendiri atau hanya untuk masyarakatnya. Kepercayaan dan agama-agama kuno telah memberikan jawaban masing-masing terhadap hal ini.

Dikatakan kiai Ridwan, ada agama yang hanya menekankan aspek spritualitas (spritual enrichment) dengan meniadakan tuntutan kebutuhan fisik ragawi. Sementara itu ada pula kepercayaan yang mengatasnamakan agama namun hanya menonjolkan kebutuhan fisik semata. Dua pendekatan uang sama-sama ekstrim ini ternyata gagal yang mengakibatkan manusia mengabaikan agama yang tidak siap untuk berjalan bersama kemoderenan. Keunggulan Islam ialah jawabannya yang komprehensif tentang keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan masyarakat.

''Kesejahteraan ekonomi adalah kebutuhan nyata dimana setiap orang memiliki kecenderungan untuk memiliki secara pribadi sebagaimana hal ini menjadi idiom kapitalisme. Pendekatan lain, secara teoritis ingin melihat kepentingan masyarakat dengan menafikan kepentingan pemilikan pribadi sebagaimana yang menjadi jargon sosialisme. Namun dua pandangan yang sama-sama ekstrim ini akan gagal karena tidak sesuai dengan bakat (malakah) manusia,'' paparnya.

Ditambahkan kiai Ridwan, kepemilikan pribadi harus di dalam kesadaran sosial dan kesadaran sosial juga di dalam kepentingan pribadi. Oleh karena itu, kepemilikan manusia terhadap harta tidak pernah mencapai milik paripurna (milk al taam) namun tetap dalam kepemilikan sementara (milk al naqish).

''Sejarah keilmuan yang menghasilkan peradaban ideal adalah keilmuan yang bersumber dari dua pendekatan yaitu dari ide dan hasil pengalaman. Akan tetapi dua pendekatan ini juga tidak mampu mengantarkan manusia kepada ilmu yang membahagiakan dan bermanfaat sebelum manusia menyadari bahwa fungsi ilmu itu adalah untuk menikmati kesyahduan dalam hubungan yang abadi (al ittisal) dengan Maha Pencipta,'' tegasnya.

Ketika taraf keilmuan telah mencapai peringkat ilmuwan paripurna (ulul albab), menurut Kiai Ridwan, maka pada saat itulah seluruh wacana keilmuan membawa maslahat bagi alam semesta karena telah mampu menangkap arti-arti (quwwat al mustafad) dari realitas hasil pengalaman manusia (Q.S. Ali ‘Imran [3]:190-191).

Sejarah Islam telah menorehkan dalam catatan kehidupan umat manusia sebuah peradaban paripurna selama lebih kurang 600 tahun yang belum ada taranya sampai kepada masa kita sekarang ini. ''Semangat yang melandasinya adalah berakar dari ibadah puasa dengan berdasar kepada keyakinan tauhid dimana setiap orang rela menunda untuk meraih kenikmatan sementara untuk meraih kenikmatan yang abadi karena mengharap ridla Allah SWT. Oleh karena itu, selayaknya umat Islam dapat memaknai ibadah puasa tidak hanya sekedar motivasi pekerjaan rutinitas tahunan akan tetapi didasari sebuah cita-cita membangun peradaban baru umat manusia,'' tutur Kiai Ridwan. osa/taq

By Republika Newsroom
Rabu, 26 Agustus 2009 pukul 08:30:00

http://www.republika.co.id/berita/71930/Puasa_Mendorong_Lahirnya_Peradaban