Jumat, 26 November 2010

Indahnya Menahan Diri dan Bersabar

Di ceritakan bahwa pada suatu masa terdapat seorang anak dengan perangai yang begitu buruk. Maka sang ayahnya memberikan sekantung yang penuh paku, lalu menyuruhnya memaku satu batang paku pada pagar di pekarangan rumahnya setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih pendapat dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang pada pagar itu. Pada minggu-minggu berikutnya ia mencoba untuk belajar menahan diri dan jumlah paku yang di gunakannya semakin berkurang dari hari ke hari. Lalu dia mendapatkan bahwa menahan diri itu lebih mudah daripada harus memaku di pagar itu.

Akhirnya tibalah di waktunya di mana dia tidak memerlukan lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembiranya di sampaikanlah berita itu pada ayahnya.

Kemudian ayahnya menyuruh mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri dan bersabar atas ujian yang menimpanya.

Hari-hari pun berlalu, maka tibalah waktunya di mana dia bisa menyampaikan berita kepada ayahnya bahwa semua paku telah berhasil dia cabut dari pagar.

Sang ayah tersenyum mendengar berita itu, lalu sang ayah membawa anaknya itu medekati pagar yang telah berhasil ia bersihkan dari semua paku yang pernah ia pakukan dan berkata :

“Wahai anakku engkau telah berbuat baik”

“Tetapi lihatlah begitu banyak lubang yang tertinggal pada pagar itu”

“Pagar ini tak mungkin kembali seperti keadaan semula”

“Wahai anakku ingatlah ketika kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain”

“Maka hal itu akan meninggalkan banyak luka seperti yang terjadi pada pagar ini”

Engkau bisa menusukan sebuah pisau pada punggung orang lain dan mencabutnya kembali, tetapi hal itu tetap akan meninggalkan luka setidaknya bekas lukanya. Tak peduli berapa kali engkau meminta maaf dan menyesali perbuatanmu itu kepadanya, lukanya tetap tertinggal dan menempel di tubuhnya. Anakku melukai dengan ucapan sama perihnya dengan melukai fisik bahkan bisa lebih menyakitkan karena rasa sakitnya bisa bertahan lebih lama dan yang pasti setiap luka fisik itu di sebakan oleh setiap ucapan yang keluar dari lisan kita, maka jagalah lisanmu wahai anakku jika engkau ingin merasakan ketentraman dan kenyamanan hidup bersama teman-temanmu.

Wahai anakku teman-teman adalah perhiasan yang sangat langka dan tak ternilai harganya. Mereka membuatmu tertawa di saat kegundahan menyertaimu, mereka memberikanmu semangat ketika engkau berada dalam keadaan bersedih, mereka bersedia mendengarkanmu setiap kali engkau membutuhkannya, mereka adalah penunjang yang selalu membukakan hatinya untukmu.

“Wahai anakku maka tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa engkau menyukai, mencintai dan menyayangi mereka niscaya engkau akan mendapatkan kebaikan yang begitu banyak dari semua itu”.

Sang anak pun terisak menangis sendu mendengar semua nasehat ayahnya itu !!!

Wahai kawan apakah yang kita rasakan bila kita menjadi sosok anak dalam cerita tersebut ???

http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/11/indahnya-menahan-diri-dan-bersabar/

Mengasah Ketajaman Mata Hati


"Katakanlah, 'Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah (argumentasi) yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'". (QS Yusuf [12]: 108).

Ayat di atas merupakan ajakan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan berbasis hujah, atau argumentasi. Sebuah ayat untuk menegaskan bahwa kehidupan keberagamaan seseorang harus dibangun berdasarkan argumentasi yang kuat, melalui ketajaman mata hati, atau basirah.

Semakin luas dan tajam basirah seseorang, semakin serius pula amaliah dan praktik keberagamaannya. Keikhlasan dan keistikamahan akan lahir dengan sendirinya. Dalam ayat di atas, Allah mendampingkan proses kewajiban dakwah dengan basirah sebagai sebuah kewajiban syari yang dituntut oleh Islam.

Ibnu Katsir mengidentifikasi basirah sebagai sebuah keyakinan yang berlandaskan argumentasi syari dan aqli yang kokoh, serta tidak taklid buta. Menurut Syaukani, basirah adalah pengetahuan yang mampu memilah yang hak dari yang batil, benar dari salah, dan begitu seterusnya.

Untuk mendapati ketajaman basirah, banyak amaliah yang harus dipenuhi,

Pertama, adanya sebuah kesadaran niat yang benar. Karena, niat yang salah akan turut mempengaruhi kinerja dan mengakibatkan kerja yang asal-asalan. Terlebih, ibadah dan amaliah ketaatan cenderung naik turun. Inilah rahasianya mengapa setiap amal dalam Islam harus didasari niat yang benar dan tulus karena Allah.

Kedua, untuk menajamkan basirah, mutlak seseorang harus tobat secara sungguh-sungguh. (QS At-Tahrim [66]: 8).

Ketiga, menyisihkan hasrat dunia dengan tak tebersit untuk menabung banyak dosa dan maksiat. (QS Al-Hujurat [49]: 11).

Keempat, serius menjaga amalan wajib dan menghidupkan yang sunah (QS Thoha [20]: 90).

Kelima, menghidupkan waktu terutama di malam hari dengan banyak berzikir dan bermuhasabah. Siang banyak berbuat kebajikan dan malam tidak dihabiskan dengan tidur. "Sesungguhnya, mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat dengan ihsan. Di dunia, mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan, selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar". (QS Adz-Dzariyat [51]: 16-18).

Hal lain adalah menumbuhkan rasa takut terhadap hisab akhirat. Selain itu, perlu melatih ketekunan, kesabaran, dan kokoh terhadap gempuran godaan. Dari titik inilah, seseorang secara perlahan akan memiliki ketajaman mata hati (basirah) sehingga amaliah dakwahnya akan senantiasa dinamis dan cerdas mencari kreativitas baru dalam berdakwah.

Contoh sosok yang memiliki basirah mengagumkan adalah Nabi Nuh AS. Di tengah penolakan kaumnya, ia tetap mencari terobosan baru dalam berdakwah. Ia tetap komit dan tegar, bahkan mencari alternatif sarana dakwah yang beragam sesuai dengan kondisi dan tuntutan kaumnya.

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/11/26/149047-mengasah-ketajaman-mata-hati

Ketua PGRI: Satu Juta Guru Honorer Dizalimi Pemerintah


Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, Dr. H. Sulistiyo, M.Pd, mengatakan satu juta guru honorer di Indonesia dizalimi pemerintah karena penghasilan tidak sesuai dengan beban kerjanya. "Dalam bahasa agama mereka itu dizalimi. Bayangkan mereka bekerja satu bulan penuh, dengan beban kerja melebihi guru pegawai negeri sipil (PNS) tetapi dibayar hanya dua ratus ribu per bulan," katanya usai menggelar seminar terkait Hari Guru ke-17 dan Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-65, di Mataram, Jumat petang.

Pernyataan tersebut mengomentari berbagai pandangan miring terhadap guru-guru yang memperoleh tunjangan sertifikasi, sehingga tingkat kesejahteraanya meningkat, namun belum menunjukkan profesionalitas sebagai tenaga pendidik. Ia mengakui memang para guru berstatus PNS yang sudah disertifikasi belum memiliki profesionalitas sesuai dengan harapan meskipun sudah memperoleh tunjangan. Namun, jumlah guru yang memperoleh tunjangan masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah guru termasuk guru honorer di Indonesia.

Menurut Sulistiyo, profesionalitas guru yang belum mengalami perubahan meskipun kesejahteraan meningkat, sebagai akibat dari potret pembinaan guru di masa lalu. "Jadi hari ini dapat tunjangan. Tapi jangan harap besok guru sudah profesional," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya telah meminta kepada Lembaga Pendidikan dan Tenaga Pendidik (LPTK) melakukan reposisi atau perubahan pembinaan kepada para guru dengan meningkatkan empat kompetensi para guru, yaitu kompetensi profesi, pedagogik, sosial dan kepribadian. "Kompetensi para guru ibarat skala yang memiliki dua angka berbeda yakni angka 100 dan 0. Ada guru yang mampu mencapai skala 100, ada juga yang berada di posisi 0. Perlu ada tahapan untuk melakukan perubahan," katanya.

Pada kesempatan itu juga Sulistiyo menanggapi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 28/2010 tentang Mutasi Kepala Sekolah, menjadi kewenangan Kementerian Pendidikan Nasional, hanya khusus berlaku bagi kepala sekolah. Padahal para guru juga rentan menjadi korban politik terutama pascapemilihan kepala daerah.

Menurut dia, mutasi para guru jangan lagi bernuansa hukuman. Kepala daerah seyogyanya melakukan mutasi sebagai sebuah pembinaan kepada para guru untuk meningkatkan profesionalitas.
"Makanya kemarin saya sempat menggugat Wali Kota Bima, karena melakukan mutasi terhadap kepala sekolah dan guru yang nuansanya politis," kata Sulistiyo menambahkan.


http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/26/149193-ketua-pgri-satu-juta-guru-honorer-dizalimi-pemerintah

Kamis, 25 November 2010

Asal Usul Bekam


Bekam merupakan istilah yang dikenal dalam bahasa melayu, bahasa arab mengenalnya sebagai Hijamah, dalam bahasa inggris dikenal sebagai cupping, orang cina mengenalnya sebagai gua-sha, sedangkan orang Indonesia mengenalnya sebagai cantuk atau kop.

Bekam mulai dikenal dan dilakukan sejak jaman Mesir kuno, bangsa Mesir kuno pada saat itu dikenal sebagai bangsa yang banyak mengadakan perjalanan jauh untuk berdagang yang tentunya perjalanan tersebut banyak menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman di tubuh. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman di tubuh tersebut, mereka berupaya untuk mengeluarkan cairan-cairan darah kotor yang mereka anggap mempengaruhi keseimbangan metabolisme di tubuh.

Pada perkembangannya, Bekam kemudian menyebar dan berkembang ke berbagai negara di dunia sebagai salah satu bentuk pengobatan yang ampuh.

Berobat adalah perintah agama, dan banyak hadits Rasulullah saw yang menganjurkannya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Usamah bin Syuraik oleh Ahmad ”Aku datang menemui Nabi saw. Dan aku melihat sahabat-sahabatnya seolah-olah di atas kepala mereka ada burung bertengger karena hormat dan takzim mereka kepada Nabi. Akupun memberi salam, lalu duduk. Kemudian datanglaj orang-orang Badui dari sana-sini. Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah kami boleh berobat ?”. Nabi saw bersabda, ”Berobatlah engkau karena Allah ta’ala tidak menaruh sesuatu penyakit, melainkan menyediakan obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua”.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud oleh an-Nasa’i, Ibnu Maajah dan Hakim bahwa Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit melainkan juga menurunkan obatnya. Karena itu, berobatlah engkau !”.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda,”Setiap penyakit ada obatnya. Jika sakit telah diobati, ia akan sembuh dengan izin Allah”.

Bekam merupakan salah satu bentuk pengobatan dalam Islam yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad saw. Sebagaimana diriwayatkan Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda,
”Kesembuhan dapat diperoleh dengan tiga cara :
Pertama, minum madu.
Kedua, dengan pembekaman.
Ketiga, dengan besi panas, dan aku tidak menganjurkan umatku melakukan pengobatan dengan besi panas”.


Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya cara pengobatan paling ideal yang kalian pergunakan adalah hijamah (bekam)”.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
“Jika pada sesuatu yang kalian pergunakan untuk berobat itu terdapat kebaikan, maka hal itu adalah bekam”. Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita memakai bekam sebagai salah satu terapi pengobatan dalam upaya untuk mencari kesembuhan atas penyakit yang kita derita karena cara pengobatan tersebut (bekam) telah Allah tunjukkan kepada umat manusia melalui Rasulullah saw dan para sahabatnya, sebagaimana Allah berfirman,
”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab:36)

http://pijatbagus.wordpress.com/2009/08/14/asal-usul-bekam/


****************************

“Dan Allah akan melegakan hati orang-orang yang beriman” ( 9 : 14 )
( wa yansurkum ‘alayhim wa yashfi suduura qawmin muminiina )

“Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” ( 10 : 57 )
( Yaa ayyuha an-naasu qad ja’atkum maw’ithatun min rabbikum wa shifaun limaa fee as-sudoori wa hudan wa rahmatun lil muminiin)

“Dari perut lebah itu keluar minuman ( madu ) yang bermacam-macam warnanya di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” ( 16 : 69 )
( yakhruju min butuuniha sharaabun mukhtalifun alwaanuhu fiihi shifaun lin-naas )

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” ( 17 : 82 )
(wa nunazzilu mina al-qurani ma huwa shifaun wa rahmatun lil-muminiin)

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.”( 26 : 80 )
(Waitha maridtu fahuwa yashfeeni)

Doa Nabi Ibrahim

“Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) bahwa (Quran) itu
adalah petunjuk dan menyembuhkan bagi orang-orang yang
beriman.” ( 41:44 )
(qul huwa lil-ladhiina amanuu hudan wa shifaun)