Minggu, 04 Maret 2012

Tadabbur Dalam Membaca Al-Qur’an

Adab membaca secara batin yang paling besar ialah memperhatikan (tadabbur) makna-makna Al-Qur’an. Arti Tadabbur ialah melihat dan memperhatikan kesudahan segala urusan dan bagaimana akhirnya. Tadabbur ini dekat dengan pengertian tafakkur (memikirkan). Hanya saya tafakkur ini lebih diartikan pemusatan hati atau pikiran ke dalil. Sementara tadabbur memusatkan perhatian ke kesudahan.

Allah yang menurunkan Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita, bahwa Dia tidak menurunkannya melainkan agar ayat-ayatnya diperhatikan dan makna-maknanya dipahami. Firman-Nya,

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad : 29)

“Mau apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’ : 82)

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan di dalam Jami’ul-Ilm, dari Ali Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Ketahuilah, tidak ada kebaikan dalam ibadah yang di dalamnya tidak ada pendalaman ilmu. Tidak ada kebaikan dalam ilmu yang di dalamnya tidak ada pemahaman. Tidak ada kebaikan di dalam bacaan yang di dalamnya tidak ada perhatian.”

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Aku lebih suka membaca idza zulzilat dan al-qari’ah sembari memperhatikan dua surat ini, daripada membaca Al-Baqarah dan Ali Imran secara serampangan.”

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku lebih suka membaca Al-Qur’an selama satu bulan daripada setengah bulan. Aku lebih suka membacanya setengah bulan daripada membacanya selama sepuluh hari. Aku lebih suka membacanya selama sepuluh hari daripada membacanya selama seminggu, selagi aku bisa berhenti dan memanjatkan doa.

Sebab membaca secara berlahan-lahan lebih membuka kesempatan untuk memperhatikan, dan memperhatikan ini merupakan tujuan yang diinginkan dari membaca.

Sebagaimana yang dikatakan seorang sastrawan Arab dan Islam, Musthafa Shadiq Ar-Rafi’y, bahwa Al-Qur’an adalah kalam yang berasal dari cahaya, atau cahaya dari kalam. Hal ini seperti yang digambarkan Allah sendiri,

“(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.”( Hud :1)

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits, bahwa keajaiban-keajabannya tidak pernah habis dan tidak dicipatkan untuk ditentang banyak orang. Siapa yang berkata dengannya, maka dia benar, siapa yang mengadili dengannya, maka dia akan berbuat adil, siapa yang berdoa dengannya, maka dia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Siapa yang memperhatikan dan mendalami Al-Qur’an tentu akan mendapatkan kalimat-kalimat yang mengandung banyak makna, hikmah yang berharga, simpanan ma’rifat, hakikat wujud, rahasia kehidupan, alam gaib, simpanan-simpanan nilai, hukum-hukum yang menakjubkan, perumpamaan yang mengagumkan, ayat-ayat yang jelas, bukti keterangan yang nyata, peringatan yang keras dan lain sebagainya. Maka para ulama berkata, “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan belakangan.” Ibnu Abbas berkata, “Sekiranya aku kehilangan tali pengikat onta, tentu aku bisa mendapatkannya di dalam Kitab Allah.” Semua masalah ini dapat diketahui jika ada perhatian yang terus menerus dan mendalam terhadap Al-Qur’an, bukan dengan serampangan dan tergesa-gesa.

Jika tidak memungkinkan bagi qari’ untuk memahami satu ayat kecuali dengan mengulangnya, maka hendaklah dia mengulangnya. Begitulah yang biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para shahabat dan orang-orang yang shahih dari salah umat ini, yaitu dengan mengulang bacaan sebagian ayat, agar lebih dapat memperhatikan dan agar lebih meresap.

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengimami shalat bersama kami pada suatu malam. Beliau membaca ayat satu sayat yang diulang-ulang, yaitu,

“Jika engkau menyiksa mereka,m maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Maidah : 118)

Tamim Ad-Dary Radhiyallahu Anhu mendirikan shalat dan membaca satu ayat yang diulang-ulangnya hingga mendekati waktu subuh, yaitu firman Allah.

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Al-Jatsiyah : 21)

Kisah serupa tentang pengulangan pembacaan ayat ini juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud (bin Mas’ud) , dan dia memulai surat Thaha. Ketika sampai ayat ‘Rabbi zidni ilma’, (Thaha : 114), dia mengulangnya hingga tiga kali.” (Dirawayatkan Abu Daud dengan sanad yang shahih).

Dari Urwan bin Az-Zubair, dia berkata, “Aku masuk ke tempat Asma’ binti Abu Bakar (ibunya), yang saat itu dia sedang shalat, dan membaca ayat,

“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka.” (Ath-Thur : 27)

Aku bangkit ikut shalat. Namun ketika aku merasa dia terlalu lama shalatnya, maka aku pun pergi ke pasar. Ketika kembali lagi, ternyata dia masih tetap di tempatnya dengan mengulang-ulang bacaan ayat itu.” (Diriwayatkan Ahmad).

Diriwayatkan bahwa suatu malam Amir bin Abdul Qais membaca Al-Mukmin atau yang juga dikenal dengan surat Ghafir. Ketika sampai ke ayat, “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan.” (Al-Mukmin : 18), dia harus mengulang-ulangnya hingga waktu subuh.

Hal serupa juga diriwayatkan dari sejumlah tabi’in, seperti Sa’id bin Jubair Ar-Rabi’ bin Khutsaim dan lain-lainnya. Sebagian di antara mereka berkata, “Aku memulai suatu surat, lalu ada sebagian ayatnya yang menghentikan aku, karena aku harus mencurahkan perhatian padanya, hingga tiba waktu subuh.”

Sebagian yang lain berkata, “Setiap ayat yang belum kupahami dan hatiku tidak ada di dalamnya, maka aku tidak menghitung adanya pahala disana.”

Dari Abu Sulaiman Ad-Darany, dia berkata, “Aku benar-benar membaca satu ayat, dan aku tetap berkutat padanya selama empat malam atau lima malam. Sekiranya aku tidak memotong pemikiran yang hanya terpusat ke ayat itu, tentu aku tidak akan beralih ke ayat yang lain.”


http://alhikmah.ac.id/2012/tadabbur-dalam-membaca-al-qur%E2%80%99an/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar