Jumat, 09 Juni 2017

Cahaya Al-Qur'an

Kita semua merindukan sebuah negeri yang teduh.
Sebuah negeri yang sejuk
karena pohon tauhid menumbuhkan
daun-daunan yang rindang,
sehingga di bawahnya
orang menerima aliran udara yang nyaman.

Di atas negeri kita tergenang udara,
tegak lurus seratus juta hasta,
penuh dengan molekul zat asam,

yang rapi dianyam
oleh lima milyar divisi malaikat yang bertugas taat,
sehingga menyebabkan
paru paru makhluk dan kulit bumi
bernafas secara semestinya.

Di antara lapisan itu,
kemudian di atasnya,
ada cahaya.
cahaya itu datang sebagai garis lurus,
dan karena banyak jumlahnya
mereka sejajar bagai berkas,
secara teratur,
jelas arahnya serta berkilau kilau keadaannya.

Di atas cahaya itu ada cahaya lagi,
dan kita semua diberitahu
lewat sebuah maklumat,
Mengenai cahaya berkilau yang berlapis lapis itu,
yang menerangi kampung kita.

Ketika matahari masuk ke dalam laut,
ketika layar malam telah menyelimuti bumi,
kabarnya cahaya itu masih menerangi negeri kita.
Siapa yang pernah memikirkan dan melihatnya?

Ketika matahari memecah lazuardi
dan layar malam yang hitam telah digulung kembali,
cahaya itu tetap menerangi negeri kita.
Siapa yang pernah memikirkan dan melihatnya?

Kita semua merindukan cahaya itu.

Rumah,
yang pintu depannya disinggahi cahaya itu,
jadilah rumah itu rumah yang teduh.
Lihatlah pencari nafkah

yang keluar seharian dari itu rumah,
setelah bekerja keras dan payah,
pulang membawa rezeki yang bersih dan berkah,
selamat dari percikan lumpur kotoran
yang menodai zaman.

Kita semua merindukan cahaya itu
singgah di pintu depan rumah kita.

Rumah,
Yang tingkap jendelanya disinggahi cahaya itu,
penghuninya tidak suka bergunjing,
hemat dengan kata kata,
tidak mendengki pada tetangga,
bila bersedekah tanpa perhitungan
apalagi mengharapkan penghargaan,
dan senyumnya sepanjang hari jadi perhiasan.

Kita semua merindukan cahaya itu
Memandikan seluruh atap dan bubungan rumah,
Semua desa dan kota,
Setiap sungai dan gunung di negeri kita.

Orang bercerita
bahwa rumah yang pekarangannya dicurahi cahaya itu,
anak anaknya di malam hari rajin membaca buku
sambil membelakangi televisi,
mereka tidak merokok apalagi menyentuh madat,
bersama ibu dan ayah mereka bersujud,
berdoa dan menyanyikan wahyu Tuhan,
ensiklopedia di ruang tamunya adalah 30 jilid tafsir Quran,
referensi budi pekerti digali dari teladan
kehidupan Rasul kecintaan.

Kita semua merindukan cahaya itu
mencurahi bumi kita seluruhnya.

Cahaya yang datang dari Quran,
yaitu Quran yang bukan cuma perhiasan
tapi Quran bacaan,
Quran yang bukan cuma bacaan
tapi Quran yang maknanya diresapkan
Quran yang bukan cuma maknanya diresapkan
tapi Quran yang isinya deras mengalir
memasuki dan menyuburkan
seluruh jalur kehidupan.

Kita semua merindukan cahaya Quran
selalu turun ke bumi kita,
sehingga kalbu kita semua
senantiasa cerah karenanya,
sehingga dunia terang-benderang jadinya.

Janganlah kiranya
ditutupkan cahaya itu bagi kita semua.

Kami mengaku
kami zalim terhadap diri sendiri,
kami banyak cacat
itu dan ini,
tapi janganlah ditutupkan
cahaya Quran bagi kami semua.
Kami mengaku kami jahil,
jauh dari sempurna,
hati kami banyak penyakitnya,
amal kami tak sedikit cacatnya,
tapi janganlah karena itu ditutupkan
cahaya Quran
bagi kami sekalian.

Wahai Yang Maha Pemberi Cahaya,
wahai Yang Maha Pemurah dan Bijaksana.

Jangan biarkan Quran
di rumah kami cuma jadi pelengkap perabotan,
tapi jadikanlah Quran
pelengkap kehidupan.

Jangan pula biarkan Quran
hanya merdu di lidah dinyanyikan,
tapi jadikanlah Quran
indah dalam penerapan keseharian.

Jangan biarkan Quran Cuma
dibacakan dalam acara kematian,
tapi jadikanlah dia panduan
sepanjang kehidupan.

Kami tak habis habis merindukan
cahaya Quran.


1980 , Karya Taufiq Ismail


http://puisi-terbaik-islami.blogspot.co.id/2013/02/cahaya-al-quran.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar