Jumat, 02 Agustus 2013

Pesan Akhir Ramadhan


Bergulirnya waktu tak terasa telah menghantarkan kita di pengujung bulan suci Ramadhan. Tamu agung itu kini akan berpamitan meninggalkan kita dengan sejuta pelajaran dan kebaikan sebagai hadiah terbaik bagi kita semua. Deraian air mata kerinduan karena perpisahan dengan tamu agung ini dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana para sahabat meneteskan air mata kesedihan karena takut tidak bisa bertemu kembali dengannya.

Andai Ramadhan bisa berpesan pada kita, maka inilah yang mungkin akan disampaikannya:

Pesan pertama:
Setelah aku pergi, jangan kau lupakan aku (puasa) karena aku akan datang kembali menghampirimu selama 6 hari di bulan Syawal itu tiada lain agar aku dan kamu senantiasa dekat, aku akan lebih dekat lagi ketika kau melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau puasa ayyâmul baidh (tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan qamariyah), puasa Arafah, puasa Asyura, bahkan Rasulullah SAW menganjurkan untuk melaksanakan puasa Daud (sehari berpuasa sehari berbuka). Itu semua tiada lain agar kau selalu mengingatku, sehingga aku pasti menunggumu di pintu ar Rayyân.

Pesan kedua:
Setelah aku pergi, jangan kau biarkan kitab suci Alquran bersampulkan debu, buatlah jadwal agar kamu bisa tetap membacanya seperti sediakala ketika aku ada bersamamu.

Ketahuilah bahwa Alquran itu salah satu gizi hatimu, dan Alquran merupakan salah satu yang dapat memberimu syafaat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Alquran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah SWT memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Pesan ketiga:
Setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan shalat malam walaupun kamu sanggup hanya melakukan beberapa rakaat saja, sungguh shalat malam mampu mendekatkanmu dengan Raja-ku.

Pesan keempat:
Setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan kebaikan-kebaikan yang sudah kamu lakukan di saat aku ada di sisimu, ketahuilah bahwasanya Raja-ku senantiasa mencintai satu amalan kebaikan yang dilakukan tanpa henti walaupun itu sedikit. Sebagaimana sebuah hadis dari ’Aisyah RA, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim).

Pesan kelima:
Saat aku pergi, duhai kasihku Muslimah jangan kau lepaskan kembali jilbabmu, karena di situ kehormatan dan kemuliaanmu terjaga, jangan kau memakainya karena aku, tapi pakailah ia karena Raja ku.

Pesan terakhir:
Kun Rabbâniyyan walâ takun Ramadhâniyyan, jadilah kau insan yang senantiasa beribadah kepada Allah, jangan kau beribadah hanya dibulan Ramadhan saja, karena sungguh Allah itu Tuhan di seluruh waktu.

Wallahu A’lam

Oleh : P Imron Nurtsani Lc , adalah sahabat Republika online di Kairo, Mesir.

Akhir Ramadhan




Hari-hari akhir bulan suci Ramadhan telah terasa hawanya. Kekuatan sentripetal iman bertarikan dengan kekuatan sentrifugal dunia. Masjid diisi dengan sejumlah minim orang beritikaf.  Mall dan pusat perbelanjaan diisi dengan hiruk pikuk dan sesaknya orang yang bersiap untuk lebaran. Jalan kemanapun macet.

Proyek-proyek kalau bisa diselesaikan, sekurangnya yang pokok telah disepakati. Pegawai  kantor  merapihkan dokumen dan  agenda “berat” ditunda hingga awal masuk nanti, walau prakteknya baru mulai setelah beberapa hari kemudiannya. Semua maklum akan hal itu. Bank jauh jauh hari sudah umumkan akan tutup dini.

Mudik telah digadang-gadang.  Ada yang memang benar pulang untuk bersilaturahmi di kampung, ada pula yang nyatanya hanya  mau berlibur. Kendaraan disiapkan, baik milik sendiri maupun sewaan. THR menjadi kata yang paling populer, dibahas, dituntut, bahkan ada juga yang didemo dengan garang.  Seluruhnya menjadi bagian dari dinamika akhir Ramadhan. 

Allah tentu memahami sifat insan yang mudah tersedot oleh kekuatan magnetik kepentingan pendek.  Bila tak dikendalikan maka semua ibadah yang dikerjakan akan menjadi sia sia dan berujung pada akhir yang buruk. Oleh karenanya Allah mengingatkan ada “lailatul qadr” di akhir Ramadhan dan Rosulullah menyatakan  saat ini adalah marhalah akherat “itqun minan naar” (penjagan dari api neraka), setelah dilalui fase “maghfirah”(ampunan) dan “rahmah” (kasih sayang).

Ada empat aspek penting dalam mengakhiri Ramadhan. Pertama i’tikaf yang artinya berhenti sejenak untuk mendekat kepada Allah SWT. Jika mampu kita masuk ke Masjid selama sepuluh hari terakhir tentu hal itu sangat baik, jika tak mampu maka jadikanlah tempat kita beraktivitas tetap sebagai “tempat sujud” dan “beritikaf” mendekatkan diri kepada Allah. Semoga berkah lailatul qadr tetap didapat meskipun kita tidak berada dalam ruang Masjid. 

Kedua, akhir Ramadhan adalah saat turunnya Alquran dahulu, dan kini ayat-ayat Quran itu turun ke hati-hati insan yang sedang beribadah shaum. Khatam membaca dan memahami Al Qur’an merupakan happy ending bagi fikiran yang tercerahkan.

Ketiga, berzakat khususnya membayar zakat fitrah. Harta yang ada adalah rezeki dari Allah yang kadang lupa dimaknai dengan benar, dan karenanya, harus dikoreksi terus menerus.  Zakat fitrah dalam sabda Nabi adalah upaya membersihkan  “minal laghwi” (dari kesia-sian) dan “minar rafatsi” (dari kenistaan). 

Shaum atau perilaku kita banyak cacatnya hingga perlu ditolong oleh ibadah ini. Demikian juga zakat fitrah dapat membahagiakan orang lain dengan “makanan yang mengenyangkan”. Dari suatu kewajiban ternyata terbangun budaya  peduli tinngi pada kebutuhan orang lain.

Keempat, bersiap untuk sampai pada idul fitri hari raya mengagungkan Allah dengan bertakbir, melaksanakan  shalat sunnat berjamaah, lalu bermaaf-maafan serta silaturahim. Hari kembali ke kesucian diri yang penuh dengan ampunan Ilahi.

“Akhir itu lebih baik daripada awal” menurut ayat. Karenanya akhir Ramadhan harus lebih berkualitas ketimbang sebelumnya. Bukan sebaliknya. Disinilah komitmen itu harus dicanangkan. Apakah Ramadhan saat ini ingin menjadi Ramadhan yang terbaik ? Jika ya, maka tak ada jalan lain yang harus ditempuh selain mengikuti petunjuk-Nya untuk melangkah dengan gagah di jalur akidah, syari’ah, dan semangat mashlahah dalam bermuamalah.

Perubahan karakter adalah target yang senantiasa dievaluasi setiap tahap. Shaum tidak berakhir di lapar dan dahaga, melainkan pada peningkatan jiwa yang semakin sadar dan takwa. Sedikit tawa dan canda, banyak air mata dan karya. Hanya mereka yang percaya bahwa shaum adalah sarana untuk membentuk akhlak mulia, akan memperoleh hasil yang bermakna yaitu dunia yang bahagia dan kegembiraan Surga.


Oleh HM Rizal Fadillah

Kamis, 01 Agustus 2013

Beautiful Korea

http://www.youtube.com/watch?v=1bvlkSf9gmI
http://hilmanmuchsin.blogspot.com/2013/08/beautiful-korea.html

MENJADI ORANG YANG BERMANFAAT




UKURAN kualitas seseorang adalah pada manfaat yang dia tebarkan. Semakin bermanfaat hidupnya, semakin tinggi kualitas orang itu. Sebaliknya, semakin tidak bermanfaat atau malah membawa mudharat, semakin rendahlah kualitas orang itu. Demikian Rasulullah mengajari kita, bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat buat sekitarnya.

Kalau ditelusuri lebih jauh, kemanfaatan itu bukan hanya membahagiakan orang lain, namun juga membahagiakan diri sendiri. Bagi orang yang sudah memiliki ‘jam terbang’ kehidupan yang sudah cukup tinggi pasti bisa merasakan hal ini. Yakni, mereka yang sudah makan asam garam duniawi. Termasuk, pengusaha sukses yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya.

Kawan saya yang pengusaha sukses itu merasa tidak bahagia dan gelisah dikarenakan kehilangan harapan. Kenapa kehilangan harapan? Karena harapannya sudah tercapai semua lewat kesuksesannya. Dan setelah cita-citanya tercapai semua itu, dia merasa hidupnya menjadi putus harapan dan hampa. Tak ada lagi yang dia kerjakan. Menganggur tanpa tujuan itulah yang menyebabkan dia hampa, meskipun semua kebutuhan dasarnya terpenuhi oleh kekayaan dan segala pencapaiannya selama ini.

Maka, Islam mengajari kita agar tidak menjadikan kesuksesan duniawi ini sebagai harapan final. Melainkan hanya sebagai harapan sementara, atau harapan antara. Dimanakah atau apakah harapan finalnya? Adalah kehidupan sesudah mati, dimana kita akan bertemu dengan sumber segala realitas. Dialah Allah, Sang Penguasa Sejati. Sumber segala kebahagiaan yang hakiki.

Inilah syarat pertama seseorang dalam mengejar kebahagiaan hakiki. Dia harus memiliki harapan yang tidak berhenti hanya di fase duniawi saja. Melainkan harus sampai ke ukhrawi atau kehidupan sesudah mati. Itulah ayat yang saya kutipkan di tulisan sebelumnya. QS. Al Kahfi (18): 46. ‘’Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang abadi lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu. Serta lebih baik untuk menjadi harapan.’’

Apa kaitannya dengan tema ‘Menjadi Orang yang Bermanfaat’ kali ini? Tentu saja sangat erat. Seseorang yang mematok kebahagiaannya secara individualistik pasti tidak akan bertemu dengan kebahagiaan. Melainkan akan bertemu dengan kekecewaan dan putus harapan. Persis seperti yang dialami kawan saya tersebut. Di usianya yang sudah kepala tujuh, dan dengan kesuksesan duniawi yang berlimpah ternyata dia masih merasa belum menemukan yang dia cari. Semua kesuksesan yang diperolehnya itu tak bermakna apa-apa dalam usahanya mencari kebahagiaan.

Kesalahan mendasarnya adalah dia mematok kebahagiaan dalam bentuk yang sangat individual. Dengan cara itu, dia telah membatasi kebahagiaanya hanya pada diri sendiri. Padahal, begitu banyaknya sumber kebahagiaan yang terhampar di sekitar kita, yang hanya bisa kita peroleh ketika kita menempatkan nilai kebahagiaan itu secara sosial.

Contoh kecil yang sangat sederhana adalah sebagai berikut. Jika Anda menempatkan kenikmatan makan hanya secara individual, maka kebahagiaan Anda hanya akan berhenti pada 2-3 piring saja. Karena, tentu saja, perut kita sudah tidak kuat lagi menampungnya. Dan, ketika hal itu telah tercapai maka selesailah kebahagiaan Anda. Bingung mencari kebahagiaan. Selain perut sudah kenyang, selera makan sudah menurun.

Bandingkan dengan jika kita mematok kebahagiaan makan ini secara sosial. Yakni, dengan memberi makan orang-orang yang sedang dilanda kelaparan. Semakin banyak kita memberi makan kepada mereka, semakin besar pula kebahagiaan yang kita peroleh. Tentu saja, jika kita sudah bisa menempatkan rasa kepedulian sebagai substansi kebahagiaan. Kualitasnya tidak akan berhenti pada 10-20 piring, namun bisa mencapai ratusan, ribuan, ataupun lebih banyak lagi. Tak ada batasnya. Semakin besar jiwa sosial kita, semakin bermanfaatlah kita, dan semakin besar pula rasa kebahagiaan yang kita peroleh. Kebahagiaan yang lebih besar adalah seiring dengan kemanfaatan kita bagi sekitar.

Itulah sebabnya, Rasulullah mengatakan bahwa orang yang paling baik diantara kita adalah orang yang paling banyak manfaatnya. Bukan hanya dalam artian materialistik ataupun harta benda, melainkan juga keilmuan. Semakin banyak kita memberikan pencerahan bagi kehidupan manusia, semakin besar pula manfaatnya, dan semakin bahagia karenanya.

Orang yang demikian, tidak akan pernah merasa kesepian atau hampa dalam hidupnya. Setiap saat dia ingin berbuat kebajikan, menebarkan amalan saleh untuk sekitarnya. Untuk anak-anaknya, untuk istri atau suaminya, untuk saudara-saudaranya, para sahabatnya, masyarakat, bangsa dan negaranya, serta seluruh umat manusia yang berinteraksi dengannya. Itulah konsep Islam yang kita kenal sebagai Rahmatan lil alamin. Seorang muslim sejati tidak akan pernah kehilangan kebahagiaan di dalam hidupnya. Sekaligus, selalu dalam posisi menebar kebajikan yang tercatat dalam keabadian, di dunia maupun di akhirat kelak.

QS. Fushshilat (41): 8. ‘’Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala (kebahagiaan) yang tiada putus-putusnya.’’

Lebih jauh, jika seseorang ingin meningkatkan kebahagiaannya, dia harus menambahi kemanfaatan itu secara spiritual, yakni ikhlas hanya karena Allah semata. Itulah sebabnya, kualitas kebahagiaan adalah seiring dengan orientasi hidupnya. Orientasi individual, yang paling rendah. Sosial, tengah-tengah. Dan spiritual, adalah yang tertinggi.

Sebesar-besar manfaat seseorang secara sosial, masih kalah dengan orang-orang yang telah melandasi kebajikan sosialnya itu dengan niatan ikhlas karena Allah semata. Dia tidak punya potensi kehilangan sama sekali. Karena kesuksesan dan kebahagiaannya telah disandarkan kepada Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Berkehendak. Apa pun yang menjadi hasil usahanya dia terima sebagai anugerah dan kasih sayang-Nya.

Maka, dia akan menjadi orang yang nothing to lose dalam berbuat kebajikan dan menebar manfaat untuk siapa saja yang berinteraksi dengannya, sambil sekaligus merasakan hadirnya Allah Sang Maha Pemurah dalam kehidupannya. Keikhlasannya bukan hanya untuk manusia, tetapi sebagai wujud penghambaannya kepada Sang Penguasa Jagat Semesta. Jiwa orang yang sudah sampai di tingkatan itu adalah rasa lapang, jauh dari kegelisan, kekhawatiran dan kehampaan.

QS. Yunus (10): 62-64. ‘’Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa (berbuat kebajikan dan menjauhi kemunkaran). Bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan (juga di kehidupan) akhirat. Tidak ada yang berubah pada kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.’’

Wallahu a’lam bissawab.


 (NB: Serial Tafakur Ramadan ini ditulis untuk koran Kaltim Post – Grup Jawa Pos. Dan diunggah di FB untuk memberi manfaat lebih luas.)

https://www.facebook.com/notes/agus-mustofa/tafakur-ramadan-11/10151522193931837