Di pesawat saat perjalanan umrah,
saya membaca berita unik di surat kabar Arab News berjudul “Two held in Makkah
over ‘black magic’”. Seorang perempuan Sudan dan seorang lelaki Saudi ditangkap
karena melakukan praktek perdukunan di distrik Rusaifah Makkah.
Modelnya adalah menjampi perempuan agar sang suami menyayanginya dan tidak
melaksanakan niat untuk menikah dengan perempuan lain. Persyaratannya adalah
membayar 5.000 real dan memberikan pakaian dalam pasangannya untuk dibacakan
mantra. Berita ini menarik karena terjadi di kota suci Makkah dan tentunya
mereka ditangkap.
Praktek perdukunan nyatanya tidak saja aktual, tetapi juga mengglobal.
Kehidupan yang semakin panas dengan persaingan yang semakin keras membuat orang
menjadi mudah hilang akal dan sesak dada. Lalu panik dan berusaha untuk mencari
pegangan. Sayangnya, alternatif yang dipilih adalah jalan mistik.
Di sekitar kita kultur mistik ini juga merajalela dan terbuka. Lihat saja di
media lokal. Para dukun alias paranormal bisa dengan bebas dan terbuka
mengiklankan diri menjajakan ilmu pengasihan, disayang pasangan, laku dagangan,
dibacok tak mempan, hingga naik jabatan. Konsumen membeli sabuk, keris, atau
jimat dengan tulisan arab. Cincin-cincin bertuah juga ada. Tentu dengan
keharusan untuk membayar “mahar”.
Intinya mereka merasa butuh penolong dan pelindung serta jalan menuju harapan.
Mereka terdiri dari masyarakat jelata, artis, pengusaha, hingga pejabat tinggi.
Dukunnya bisa bergelar mbah, eyang, ki, bahkan ada juga ustaz dan kiai.
Rasulullah SAW dengan tegas melarang perbuatan yang dapat dikategorikan syirik
ini. Sabda Beliau SAW, “Barang siapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang
diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang dihukumkan Muhammad” (HR
Abu Dawud dan Ahli Sunan yang empat disahihkan oleh Hakim).
Demikian juga dengan hadis ini, “Sesungguhnya para malaikat turun dari langit,
lalu menyebut perkara yang diputuskan dari langit, kemudian jin mencuri
pendengaran dari para malaikat tadi, lalu ia mendengarkannya, kemudian ia
sampaikan berita itu kepada para dukun. Padahal, berita itu dicampur dengan
seratus kebohongan dari jin itu sendiri”. (HR Bukhari Muslim).
Berita “oplosan” seratus kebohongan inilah yang disampaikan lagi oleh para
dukun kepada orang yang berkebutuhan, tertipu, serta merasa yakin atas nasihat
dan mantra-mantranya. Dahulu wajah dukun itu menyeramkan berpakaian hitam, bau
kemenyan dari asap dupa di depannya.
Aksesori di sekitarnya mencitrakan suasana magis dan gelap. Namun, sekarang
sudah jauh berbeda. Sang dukun sudah berpakaian biasa dan tak jarang berjas
dasi, bahkan memakai peci. Berpraktek di area perkantoran dan tak aneh jika
menerima klien pun di hotel berbintang. Mobil bagus adalah kendaraannya.
Sebagai kawan jin yang gurunya adalah setan, maka pada hakikatnya ia pandai
menipu. Rayuannya sangat membuai sehingga pesakitan pun merasa benar atas apa
yang dijalankannya.
Ia merasa ini sebagai upaya untuk mencari peruntungan hidup. Padahal, itu dapat
menjadi “pentungan” hidup yang akan membawa kecelakaan di dunia dan akhirat.
Masyarakat awam yang percaya dan mendatangi dukun akan merugi sendiri.
Terlebih, jika pelaku adalah pemimpin di masyarakat atau suatu negara sehingga
akibatnya menjadi lebih luas lagi. Bencana akan diturunkan oleh Allah SWT
akibat amanah yang teracuni. Wallahu'alam.
Oleh: M
Rizal Fadillah
Untuk
mendapatkan cinta-Nya, setiap Muslim harus mencintai ajaran-ajaran-Nya yang
dibawa oleh Rasulullah Saw. Doa merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan
cinta kepada Allah Swt dengan harapan cinta tersebut dibalas dengan cinta.
Doa
merupakan salah satu cara yang digunakan para Nabi untuk memecahkan
masalah-masalah yang mereka hadapi. Doa-doa tersebut membuat mereka dapat
bertahan saat menghadapi cobaan yang maha dahsyat.
Rasulullah
Saw bersabda,”Doa adalah jantung ibadah.”
Rasulullah
Saw bersabda,”Doa adalah senjata orang beriman, pilar agama, cahaya langit dan
bumi.”(HR. Al-Hakim), dan “Maukah kutunjukkan kepada kalian apa yang bisa
menyelamatkan kalian dari musuh kalian dan mencurahkan rezeki-rezeki kepada
kalian? Berdoalah kepada Allah di malam dan siang hari, karena doa adalah
senjata orang beriman.”(HR. Abu Ya’la)
Rasulullah
Saw bersabda,”Sungguh, Allah Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu bila ada
seseorang menengadahkan dua tangan kepada-Nya dan Dia mengembalikannya dalam
keadaan hampa dan kecewa.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu
Hibban), dan “Sungguh, Allah Mahakasih lagi Mahamulia. Dia malu terhadap
hamba-Nya yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tanpa Dia letakkan suatu
kebaikan pun kepadanya.” (HR. Al-Hakim)
Rasulullah
Saw bersabda, ”Allah tidak membiarkan suatu doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya
yang beriman melainkan Dia menjelaskannya kepadanya : baik telah disegerakan di
dunia maupun ditangguhkan-Nya dalam bentuk simpanan di akhirat. Sehingga orang
beriman berkata dalam kondisi itu,’Sekiranya tidak ada sedikit pun dari doa
yang disegerakan untukku.” (HR. Al-Hakim)
Rasulullah
Saw bersabda,”Kewaspadaan tidak berguna bagi takdir, sedangkan doa bermanfaat
terhadap ketentuan yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Suatu bencana
akan turun, lalu doa menemuinya hingga keduanya bergumul sampai Hari
Kiamat.”(HR. Al-Bazzar, Thabarani, dan Al-Hakim)
Rasulullah
Saw bersabda,”Tidak ada yang dapat menolak ketentuan (qadha) selain doa, dan
tidak ada yang dapat memperpanjang umur selain bakti.”(HR. Tirmidzi)
Rasulullah
Saw bersabda, ”Orang yang doanya biasa diperkenankan Allah di kala ditimpa
berbagai kesulitan, hendaklah membanyak
doa ketika dalam kemakmuran.” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim), dan
“Tiada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah daripada doa dalam keadaan
makmur.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim);
Seorang sahabat
bertanya, ’Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku
dari sisi Allah.’ Rasulullah Saw lalu bersabda, ”Perbanyaklah mengingat kematian
maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur.
Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa.
Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR.
Ath-Thabrani)
Dari
Abu Hurairah r.a., dalam Mustadrak al-Hakim, Rasulullah saw bersabda, ”Berdoalah
kepada Allah dengan keyakinan mendapat pengabulan. Dan ketahuilah bahwa Allah
tidak menerima doa dari hati yang lalai dan lengah.”
Etika
berdoa ada sepuluh :
1.
Memilih waktu-waktu mulia untuk berdoa, seperti hari Arafah di antara hari-hari
dalam setahun, bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya, hari Jumat di
antara hari-hari dalam seminggu, waktu sahur (kala dini hari) di antara jam-jam
di malam hari. Allah Swt berfirman, ” Dan di akhir-akhir malam mereka memohon
ampunan (kepada Allah).”
(QS Adz-Dzariyat:18)
2.
Mengambil kesempatan yang mulia, seperti : saat bergeraknya barisan pada perang
di jalan Allah Ta’ala, saat turunnya hujan lebat, saat pelaksanaan shalat
fardhu, sehabis shalat fardhu, waktu antara adzan dan iqamah, saat sujud.
Rasulullah
Saw bersabda,”Dibukakanlah pintu langit, dan diterimalah doa pada empat tempat
ketika bertemunya barisan perang di jalan Allah, ketika turunnya hujan, ketika
shalat didirikan, dan ketika melihat Ka’bah.” (HR. Thabrani)
Rasulullah
saw bersabda, ”Doa yang tidak ditolak adalah doa di antara adzan dan
iqamah.” (HR. Ahmad)
3.
Menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan sekira putih ketiaknya tampak.
Lalu mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah di akhir doa. Umar r.a
berkata, ”Rasulullah Saw apabila menjulurkan kedua telapak tangannya dalam
berdoa, tidak menariknya kembali sebelum mengusap wajah dengan kedua telapak
tangannya itu.”
Ibnu Abbas r.a berkata, ”Apabila usai berdoa, Rasulullah Saw
mendempetkan kedua telapak tangannya dan menjadikan bagian dalamnya mengarah ke
wajah.”
Ini posisi kedua tangan beliau, tetapi tanpa mengarahkan tatapan
matanya ke langit.
4.
Merendahkan suara, antara berbisik dan nyaring (jahr).
“Berdoalah
kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS [7]:55); “…ia berdoa kepada
Tuhannya dengan suara yang lembut.”(QS [19]:3)
5.
Tidak membebani diri dengan ucapan yang bersajak.
6.
Merendah, khusyuk, penuh harap dan cemas.
7.
Memantapkan doa, merasa yakin akan diterima, dan benar-benar menggantungkan
harapan kepada-Nya.
Dari
Anas r.a, Rasulullah saw bersabda,”Apabila seorang di antara kamu berdoa maka
hendaklah dia berteguh hati dalam berdoa serta jangan pula dia berdoa dengan
mengucapkan : Ya Allah, Jika Engkau sudi maka berilah aku. Sesungguhnya Allah
tidak ada yang memaksanya.”(HR. Muslim no. 4837)
Dari
Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda,”Apabila seorang di antara kamu
berdoa, maka janganlah dia berkata : Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi.
Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara
yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu
pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugerahkan.” (HR. Muslim no.
4838)
8.
Terus menerus dan mengulang doa 3 kali, dan jangan berharap pengabulannya
diperlambat.
Berkata
Ibnu Mas’ud ra: Adalah Nabi saw apabila ia mendo’a , ia mendo’a tiga-tiga
kali, dan apabila ia meminta, juga meminta tiga-tiga kali. (HR. Muslim)
9.
Mengawali doa dengan dzikir dan pujian kepada-Nya (jangan langsung dengan
permintaan), lalu membaca shalawat untuk Rasulullah Saw, kemudian menutup
doanya juga dengan dzikir dan shalawat.
10.
Etika batin : yang merupakan inti dalam pengabulan doa, yaitu taubat, menebus
berbagai kedzaliman, dan menghadapkan diri kepada Allah Azza wa Jalla secara
penuh. Yang batin inilah sebetulnya yang menjadi sebab terdekat dalam
pengabulan doa.
(*
Sumber : “Doa-doa Para Nabi dan Auliya'”, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki,
dan “Doa-doa Mustajab”, Abu Qalbina)
1.
Ketika imam (khatib) naik mimbar untuk khutbah
sampai dengan selesainya sholat Jum’at.
2.
Setelah sholat Ashar sampai dengan tenggelamnya matahari (Maghrib)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ : « فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ » وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا
Dari
Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam
bersabda tentang hari Jumat, “Pada hari Jumat ada waktu yang mana seorang hamba
muslim yang tepat beribadah dan berdoa pada waktu tersebut meminta sesuatu
melainkan niscaya Allah akan memberikan permintaannya”. Beliau mengisyaratkan
dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat sedikit. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Ibnu
Qayyim Al Jauziah – setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu
itu – mengatakan: “Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat,
sebagaimana ditunjukkan
dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya
shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua
pendapat tadi (Zadul Ma’ad Jilid I/389-390).
Diantara
fiqh hadits ini :
•
Keutamaan berdoa pada hari Jumat
• Orang yang rajin beribadah adalah orang yang paling patut diterima doanya
• Anjuran untuk mencari waktu-waktu yang afdhal untuk berdoa
• Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan waktu ijabah pada hari Jumat;
Al
Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan 42 pendapat para ulama beserta dalilnya
dalam menentukan waktu tersebut. Diantara sekian banyak pendapat ada dua
pendapat yang paling kuat karena ditopang oleh hadits shohih, yaitu :
Pendapat
Pertama : Waktu antara duduknya imam di mimbar hingga selesainya shalat.
Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat
Abu Musa Al Asy’ari radhiyallohu anhu dimana beliau berkata saya telah
mendengar Rasulullah shalallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang waktu
ijabah, “Waktunya antara duduknya imam
di atas mimbar hingga selesainya pelaksanaan shalat Jumat”. Pendapat ini
dipilih oleh Imam Muslim, Baihaqi, Ibnul Arabi Al Maliki, Al Qurthubi, Imam
Nawawi dll.
Pendapat
kedua menetapkan waktu ijabah tersebut adalah ba’da ashar terutama menjelang
maghrib. Pendapat ini berdasarkan beberapa keterangan yang disebutkan dalam
hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan lainnya
dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallohu anhuma dari Rasulullah shallallohu
alaihi wasallam beliau bersabda(artinya),
“Hari
Jumat 12 jam, padanya suatu waktu yang kapan seorang hamba muslim berdoa
padanya niscaya Allah akan memberikannya, carilah waktu tersebut di penghujung
hari Jumat setelah shalat Ashar”. Hadits ini dishahihkan oleh
Imam Hakim, Adz Dzahabi, Al Mundziri dan Al Albani serta dihasankan oleh Al
Hafizh Ibnu Hajar.
Pendapat ini yang dipilih oleh banyak ulama diantaranya
sahabat yang mulia Abdullah bin Salam radhiyallohu anhu, Ishaq bin Rahuyah,Imam
Ahmad dan Ibn Abdil Barr. Imam Ahmad menjelaskan, “Kebanyakan hadits yang
menjelaskan waktu tersebut menyebutkan ba’da ashar”.
http://tausyah.wordpress.com/
Al Qur’an adalah sumber hukum dan
ilmu pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran,
di dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al Qur’an
adalah kisah perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh
dari umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW. Hikmah diceritakannya sirah
manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan
iman, sifat dan akhlaq mereka.
PADA WAKTU TENGAH MALAM
ATAU AKHIR MALAM
Rasulullaah bersabda : pada tiap malam, tuhan kita turun ke langit dunia ketika
bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman: “barangsiapa yang
berdo’a kepada-ku, pasti akan ku-kabulkan, dan siapa yang memohon kepada-ku,
pasti akan ku-beri,dan siapa yang mohon ampun kepada-ku pasti akan ku ampuni”.
(Hr.malik, bukhari, muslhm, tirmidzi ).
Bila telah lewat sebagian malam atau dua pertiganya, akan turun ke langit dunia
Allah Yang Maha Memberkati dan Maha Tinggi, lalu berfirman: “tak seorang pun
yang meminta pasti ia akan ku-beri, tak ada seorang pun yang berdoa pasti ia
akan dikabulkan, tak ada seorang pun yang mohon ampun pasti ia akan Ku-ampuni”.
Sehingga tiba waktu shubuh. (Hr. Bukhari dan Muslim)
Sedekat-dekat Allah (tuhan) dari hamba-nya ialah di tengah malam. maka dari
itu, jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu
maka kerjakanlah, (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)
SESUDAH SHALAT FARDHU
ditanyakan orang kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, manakah doa yang paling
didengar Allah? rasulullah menjawab : doa di tengah malam dan doa setelah
shalat wajib .
(Hr. Tirmidzi)
WAKTU HARI JUM’AT
Ada dua pendapat jumhur ulama dalam menentukan waktu ijabah pada hari Jum’at,
sebagian mengatakan waktu itu adalah pada saat khatib duduk hingga selesainya
pelaksanaan shalat Jum’at, pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan
oleh imam Muslim dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallohu anhu dimana
beliau berkata saya telah mendengar Rasulullah shalallallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda tentang waktu ijabah, “Waktunya antara duduknya imam di atas mimbar
hingga selesainya pelaksanaan shalat Jumat”. Pendapat ini dipilih oleh Imam
Muslim, Baihaqi, Ibnul Arabi Al Maliki, Al Qurthubi, Imam Nawawi, dll.
Sedangkan pendapat yang lain
mengatakan bahwa saat itu adalah antara waktu ‘ashar dan magrib, pendapat ini
berdasarkan beberapa keterangan yang disebutkan dalam hadits diantaranya hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Nasaai dan lainnya dari sahabat Jabir bin Abdillah
radhiyallohu anhuma dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam beliau
bersabda(artinya), “Hari Jumat 12 jam, padanya suatu waktu yang kapan seorang
hamba muslim berdoa padanya niscaya Allah akan memberikannya, carilah waktu
tersebut di penghujung hari Jumat setelah shalat Ashar”.
Hadits ini dishahihkan oleh Imam
Hakim, Adz Dzahabi, Al Mundziri dan Al Albani serta dihasankan oleh Al Hafizh
Ibnu Hajar. Pendapat ini yang dipilih oleh banyak ulama diantaranya sahabat
yang mulia Abdullah bin Salam radhiyallohu anhu, Ishaq bin Rahuyah,Imam Ahmad
dan Ibn Abdil Barr. Imam Ahmad menjelaskan, “Kebanyakan hadits yang menjelaskan
waktu tersebut menyebutkan ba’da ashar…”
DI WAKTU LAPANG
Barangsiapa yang menginginkan doanya dikabul Allah ketika ia dalam kesulitan,
maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya (Hr. Thirmidzi dan Hakim)
Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah Azza wa Jalla daripada doa
ketika dalam keadaan lapang. (Hr. Hakim)
DI WAKTU SUJUD TERAKHIR
DALAM SHALAT
Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika
sujud. Maka perbanyaklah do’a (di waktu itu). (Hr. Muslim)
DIAWALI DENGAN ASMAUL
HUSNA
serulah Allah atau serulah Arrahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru
(adalah boleh) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah merendahkannya, dan carilah
jalan tengah diantara keduanya itu. (al isra,17 : 110)
DIAWALI DENGAN ISMUL
A’ZHAM
Nabi Saw lewat di depan seorang yang bernama Abu ‘Iyasy Zaid bin Shamit az
Zuraqiy yang sedang shalat. Ia berdo’a : Ya Allah, aku memohon kepadaMu, karena
sesungguhnya bagiMu puja dan puji, tiada Tuhan selainMu, wahai yang Maha
Pemberi, yang menjadi harapan, Yang Mencipta langit dan bumi, yang Maha Luhur dan
Maha Mulia. Kemudian rasulullah bersabda engkau telah memohon kepada Allah
dengan menggunakan nama-namaNya yang Maha Agung yang bilamana dimohonkan dengan
nama-namaNya itu akan dikabulkan dan jika dimintai dengannya juga akan diberi
(Hr. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasai dan lain-lain)
DIAWALI DENGAN KALIMAT
TAUHID
Barangsiapa berdo’a dengan kalimat-kalimat yang lima, apa pun permintaannya
akan diberi. Kalimat itu ialah: laa ilaaha illallahu wallaahu akbaru, laa
ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa
‘alaa kulli syai-in qadiirun, laa ilaaha illallaahu wa laa haula wa laa quwwata
illaa billaah. (Hr. Tirmidzi)
DIAWALI DENGAN ARHAMARR
RAAHIMIIN
Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mewakili-Nya bagi barangsiapa yang
berdo’a dengan berkata: Yaa arhamarraahimiin. Maka siapa saja yang menyebutnya
3 kali, maka menjawablah malaikat itu: Sesungguhnya Allah arhamarraahimiin
telah (berkenan) mengabulkan permohonanmu. Maka mintalah kepadaNya. (Hr. Hakim)
YAKIN AKAN DIPENUHI
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Aku akan mengikuti persangkaan
hambaKu kepadaKu. dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdo’a kepadaKu.”
(Hr. Bukhari dan Muslim)
RENDAH HATI DENGAN SUARA
LEMBUT
Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah hati dan suara lembut. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melampau batas. (Q.S, al A’raf, 7:55)
DENGAN RASA TAKUT DAN
PENUH HARAP
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan
dikabulkan) dan berharap (akan diterima). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat
kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al A’raf, 7:56)
MENDOAKAN ORANG LAIN TANPA
DIKETAHUINYA
Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) dari tempat yang jauh
(tanpa diketahuinya) akan dikabulkan. (Hr. Muslim)
DOA ORANG YANG DIZHALIMI
Takutlah akan do’a orang yang dizhalimi, karena do’a itu akan diangkat ke atas
dan Allah berfirman : Demi kemuliaan dan keagunganKu, Aku pasti menolongmu,
walau sesudah beberapa saat. (Hr. Thabrani)
DOA PEMIMPIN YANG ADIL DAN
ORANG YANG BERPUASA
Tiga golongan tidak akan ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa, pemimpin
yang adil, dan orang yang teraniaya. (Hr. Tirmidzi)
DIULANG 3 KALI
Adalah Nabi as apabila ia mendo’a, ia mendo’a tiga kali, dan apabila ia
meminta, juga memintanya 3 kali. (Hr. Muslim)
DOA BUKAN UNTUK KECELAKAAN
Janganlah kau berdo’a untuk kerusakan dirimu, anakmu, pembantumu, jangan minta
kepada Allah kerusakan, karena mana tahu sewaktu kamu minta maka Allah
mengabulkannya bagimu. (Hr.uslim, Abu
Daud dan Ibnu Khuzaimah)
BUKAN UNTUK DOSA, MEMUTUSKAN
SILATURAHMI DAN JANGAN TERGESA-GESA
Senantiasa diterima do’a seorang hamba Allah apabila ia tidak berdo’a untuk
berbuat dosa atau memutuskan silaturahmi, asal saja tidak dilakukan dengan
tergesa-gesa : ‘Apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?’ Rasul menjawab:
“Seseorang berkata:”Aku telah berulangkali berdo’a tetapi tidak juga kulihat
dikabulkan’. Ia merasa rugi dan lesu sampai ia meninggalkan do’anya.” (Hr.
Muslim dan Tirmizi).
Segala puji bagi Allah SWT,
sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi
Muhammad SAW, shahabat, keluarga serta orang-orang yang masih berittiba’
(mengikuti) kepada beliau sampai hari kiamat.
Semoga Bermanfaat
Allahu A’alm.