Kamis, 01 Januari 2015

Bencana Diturunkan Akibat Amanah yang Diracuni




Di pesawat saat perjalanan umrah, saya membaca berita unik di surat kabar Arab News berjudul “Two held in Makkah over ‘black magic’”. Seorang perempuan Sudan dan seorang lelaki Saudi ditangkap karena melakukan praktek perdukunan di distrik Rusaifah Makkah.

Modelnya adalah menjampi perempuan agar sang suami menyayanginya dan tidak melaksanakan niat untuk menikah dengan perempuan lain. Persyaratannya adalah membayar 5.000 real dan memberikan pakaian dalam pasangannya untuk dibacakan mantra. Berita ini menarik karena terjadi di kota suci Makkah dan tentunya mereka ditangkap.

Praktek perdukunan nyatanya tidak saja aktual, tetapi juga mengglobal. Kehidupan yang semakin panas dengan persaingan yang semakin keras membuat orang menjadi mudah hilang akal dan sesak dada. Lalu panik dan berusaha untuk mencari pegangan. Sayangnya, alternatif yang dipilih adalah jalan mistik.

Di sekitar kita kultur mistik ini juga merajalela dan terbuka. Lihat saja di media lokal. Para dukun alias paranormal bisa dengan bebas dan terbuka mengiklankan diri menjajakan ilmu pengasihan, disayang pasangan, laku dagangan, dibacok tak mempan, hingga naik jabatan. Konsumen membeli sabuk, keris, atau jimat dengan tulisan arab. Cincin-cincin bertuah juga ada. Tentu dengan keharusan  untuk membayar “mahar”.

Intinya mereka merasa butuh penolong dan pelindung serta jalan menuju harapan. Mereka terdiri dari masyarakat jelata, artis, pengusaha, hingga pejabat tinggi. Dukunnya bisa bergelar mbah, eyang, ki, bahkan ada juga ustaz dan kiai.

Rasulullah SAW dengan tegas melarang perbuatan yang dapat dikategorikan syirik ini. Sabda Beliau SAW, “Barang siapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang dihukumkan Muhammad” (HR Abu Dawud dan Ahli Sunan yang empat disahihkan oleh Hakim).

Demikian juga dengan hadis ini, “Sesungguhnya para malaikat turun dari langit, lalu menyebut perkara yang diputuskan dari langit, kemudian jin mencuri pendengaran dari para malaikat tadi, lalu ia mendengarkannya, kemudian ia sampaikan berita itu kepada para dukun. Padahal, berita itu dicampur dengan seratus kebohongan dari jin itu sendiri”. (HR Bukhari Muslim).

Berita “oplosan” seratus kebohongan inilah yang disampaikan lagi oleh para dukun kepada orang yang berkebutuhan, tertipu, serta merasa yakin atas nasihat dan mantra-mantranya. Dahulu wajah dukun itu menyeramkan berpakaian hitam, bau kemenyan dari asap dupa di depannya.

Aksesori di sekitarnya mencitrakan suasana magis dan gelap. Namun, sekarang sudah jauh berbeda. Sang dukun sudah berpakaian biasa dan tak jarang berjas dasi, bahkan memakai peci. Berpraktek di area perkantoran dan tak aneh jika menerima klien pun di hotel berbintang. Mobil bagus adalah kendaraannya. Sebagai kawan jin yang gurunya adalah setan, maka pada hakikatnya ia pandai menipu. Rayuannya sangat membuai sehingga pesakitan pun merasa benar atas apa yang dijalankannya.

Ia merasa ini sebagai upaya untuk mencari peruntungan hidup. Padahal, itu dapat menjadi “pentungan” hidup yang akan membawa kecelakaan di dunia dan akhirat. Masyarakat awam yang percaya dan mendatangi dukun akan merugi sendiri. Terlebih, jika pelaku adalah pemimpin di masyarakat atau suatu negara sehingga akibatnya menjadi lebih luas lagi. Bencana akan diturunkan oleh Allah SWT akibat amanah yang teracuni. Wallahu'alam.


Oleh: M Rizal Fadillah

Doa dan Etika Berdoa | Suluk




Untuk mendapatkan cinta-Nya, setiap Muslim harus mencintai ajaran-ajaran-Nya yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Doa merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan cinta kepada Allah Swt dengan harapan cinta tersebut dibalas dengan cinta.

Doa merupakan salah satu cara yang digunakan para Nabi untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi. Doa-doa tersebut membuat mereka dapat bertahan saat menghadapi cobaan yang maha dahsyat.

Rasulullah Saw bersabda,”Doa adalah jantung ibadah.”
Rasulullah Saw bersabda,”Doa adalah senjata orang beriman, pilar agama, cahaya langit dan bumi.”(HR. Al-Hakim), dan “Maukah kutunjukkan kepada kalian apa yang bisa menyelamatkan kalian dari musuh kalian dan mencurahkan rezeki-rezeki kepada kalian? Berdoalah kepada Allah di malam dan siang hari, karena doa adalah senjata orang beriman.”(HR. Abu Ya’la)

Rasulullah Saw bersabda,”Sungguh, Allah Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu bila ada seseorang menengadahkan dua tangan kepada-Nya dan Dia mengembalikannya dalam keadaan hampa dan kecewa.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban), dan “Sungguh, Allah Mahakasih lagi Mahamulia. Dia malu terhadap hamba-Nya yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tanpa Dia letakkan suatu kebaikan pun kepadanya.” (HR. Al-Hakim)

Rasulullah Saw bersabda, ”Allah tidak membiarkan suatu doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya yang beriman melainkan Dia menjelaskannya kepadanya : baik telah disegerakan di dunia maupun ditangguhkan-Nya dalam bentuk simpanan di akhirat. Sehingga orang beriman berkata dalam kondisi itu,’Sekiranya tidak ada sedikit pun dari doa yang disegerakan untukku.” (HR. Al-Hakim)

Rasulullah Saw bersabda,”Kewaspadaan tidak berguna bagi takdir, sedangkan doa bermanfaat terhadap ketentuan yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Suatu bencana akan turun, lalu doa menemuinya hingga keduanya bergumul sampai Hari Kiamat.”(HR. Al-Bazzar, Thabarani, dan Al-Hakim)

Rasulullah Saw bersabda,”Tidak ada yang dapat menolak ketentuan (qadha) selain doa, dan tidak ada yang dapat memperpanjang umur selain bakti.”(HR. Tirmidzi)

Rasulullah Saw bersabda, ”Orang yang doanya biasa diperkenankan Allah di kala ditimpa berbagai kesulitan, hendaklah membanyak doa ketika dalam kemakmuran.” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim), dan  “Tiada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah daripada doa dalam keadaan makmur.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim); 

Seorang sahabat bertanya, ’Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.’ Rasulullah Saw lalu bersabda, ”Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

Dari Abu Hurairah r.a., dalam Mustadrak al-Hakim, Rasulullah saw bersabda, ”Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan mendapat pengabulan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan lengah.”

Etika berdoa ada sepuluh :

1. Memilih waktu-waktu mulia untuk berdoa, seperti hari Arafah di antara hari-hari dalam setahun, bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya, hari Jumat di antara hari-hari dalam seminggu, waktu sahur (kala dini hari) di antara jam-jam di malam hari. Allah Swt berfirman, ” Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).”
(QS Adz-Dzariyat:18)

2. Mengambil kesempatan yang mulia, seperti : saat bergeraknya barisan pada perang di jalan Allah Ta’ala, saat turunnya hujan lebat, saat pelaksanaan shalat fardhu, sehabis shalat fardhu, waktu antara adzan dan iqamah, saat sujud.

Rasulullah Saw bersabda,”Dibukakanlah pintu langit, dan diterimalah doa pada empat tempat ketika bertemunya barisan perang di jalan Allah, ketika turunnya hujan, ketika shalat didirikan, dan ketika melihat Ka’bah.” (HR. Thabrani)

Rasulullah saw bersabda, ”Doa yang tidak ditolak adalah doa di antara adzan dan iqamah.” (HR. Ahmad)

3. Menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan sekira putih ketiaknya tampak. Lalu mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah di akhir doa. Umar r.a berkata, ”Rasulullah Saw apabila menjulurkan kedua telapak tangannya dalam berdoa, tidak menariknya kembali sebelum mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya itu.”
 Ibnu Abbas r.a berkata, ”Apabila usai berdoa, Rasulullah Saw mendempetkan kedua telapak tangannya dan menjadikan bagian dalamnya mengarah ke wajah.” 
Ini posisi kedua tangan beliau, tetapi tanpa mengarahkan tatapan matanya ke langit.

4. Merendahkan suara, antara berbisik dan nyaring (jahr).

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS [7]:55); “…ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.”(QS [19]:3)

5. Tidak membebani diri dengan ucapan yang bersajak.

6. Merendah, khusyuk, penuh harap dan cemas.

7. Memantapkan doa, merasa yakin akan diterima, dan benar-benar menggantungkan harapan kepada-Nya.

Dari Anas r.a, Rasulullah saw bersabda,”Apabila seorang di antara kamu berdoa maka hendaklah dia berteguh hati dalam berdoa serta jangan pula dia berdoa dengan mengucapkan : Ya Allah, Jika Engkau sudi maka berilah aku. Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksanya.”(HR. Muslim no. 4837)

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda,”Apabila seorang di antara kamu berdoa, maka janganlah dia berkata : Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi. Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugerahkan.” (HR. Muslim no. 4838)

8. Terus menerus dan mengulang doa 3 kali, dan jangan berharap pengabulannya diperlambat.

Berkata Ibnu Mas’ud ra: Adalah Nabi saw apabila ia mendo’a , ia mendo’a tiga-tiga kali, dan apabila ia meminta, juga meminta tiga-tiga kali. (HR. Muslim)

9. Mengawali doa dengan dzikir dan pujian kepada-Nya (jangan langsung dengan permintaan), lalu membaca shalawat untuk Rasulullah Saw, kemudian menutup doanya juga dengan dzikir dan shalawat.

10. Etika batin : yang merupakan inti dalam pengabulan doa, yaitu taubat, menebus berbagai kedzaliman, dan menghadapkan diri kepada Allah Azza wa Jalla secara penuh. Yang batin inilah sebetulnya yang menjadi sebab terdekat dalam pengabulan doa.


(* Sumber : “Doa-doa Para Nabi dan Auliya'”, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan “Doa-doa Mustajab”, Abu Qalbina)

Waktu Mustajab Pada Hari Jum’at Perihal Terkabulnya Do’a




1. Ketika imam (khatib) naik mimbar untuk khutbah sampai dengan selesainya sholat Jum’at.

2. Setelah sholat Ashar sampai dengan tenggelamnya matahari (Maghrib)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ : « فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ » وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda tentang hari Jumat, “Pada hari Jumat ada waktu yang mana seorang hamba muslim yang tepat beribadah dan berdoa pada waktu tersebut meminta sesuatu melainkan niscaya Allah akan memberikan permintaannya”. Beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qayyim Al Jauziah – setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu – mengatakan: “Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma’ad Jilid I/389-390).

Diantara fiqh hadits ini :
• Keutamaan berdoa pada hari Jumat
• Orang yang rajin beribadah adalah orang yang paling patut diterima doanya
• Anjuran untuk mencari waktu-waktu yang afdhal untuk berdoa
• Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan waktu ijabah pada hari Jumat; Al 


Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan 42 pendapat para ulama beserta dalilnya dalam menentukan waktu tersebut. Diantara sekian banyak pendapat ada dua pendapat yang paling kuat karena ditopang oleh hadits shohih, yaitu :

Pendapat Pertama : Waktu antara duduknya imam di mimbar hingga selesainya shalat. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallohu anhu dimana beliau berkata saya telah mendengar Rasulullah shalallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang waktu ijabah, “Waktunya antara duduknya imam di atas mimbar hingga selesainya pelaksanaan shalat Jumat”. Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, Baihaqi, Ibnul Arabi Al Maliki, Al Qurthubi, Imam Nawawi dll.

Pendapat kedua menetapkan waktu ijabah tersebut adalah ba’da ashar terutama menjelang maghrib. Pendapat ini berdasarkan beberapa keterangan yang disebutkan dalam hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam  Nasa’i dan lainnya dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallohu anhuma dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam beliau bersabda(artinya),

“Hari Jumat 12 jam, padanya suatu waktu yang kapan seorang hamba muslim berdoa padanya niscaya Allah akan memberikannya, carilah waktu tersebut di penghujung hari Jumat setelah shalat Ashar”. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, Al Mundziri dan Al Albani serta dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. 

Pendapat ini yang dipilih oleh banyak ulama diantaranya sahabat yang mulia Abdullah bin Salam radhiyallohu anhu, Ishaq bin Rahuyah,Imam Ahmad dan Ibn Abdil Barr. Imam Ahmad menjelaskan, “Kebanyakan hadits yang menjelaskan waktu tersebut menyebutkan ba’da ashar”.

http://tausyah.wordpress.com/

” STRATEGI AGAR DOA DOA KITA MUSTAJAB “




Al Qur’an adalah sumber hukum dan ilmu pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al Qur’an adalah kisah perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh dari umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW. Hikmah diceritakannya sirah manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan iman, sifat dan akhlaq mereka.

PADA WAKTU TENGAH MALAM ATAU AKHIR MALAM

Rasulullaah bersabda : pada tiap malam, tuhan kita turun ke langit dunia ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman: “barangsiapa yang berdo’a kepada-ku, pasti akan ku-kabulkan, dan siapa yang memohon kepada-ku, pasti akan ku-beri,dan siapa yang mohon ampun kepada-ku pasti akan ku ampuni”.

 (Hr.malik, bukhari, muslhm, tirmidzi ). 

Bila telah lewat sebagian malam atau dua pertiganya, akan turun ke langit dunia Allah Yang Maha Memberkati dan Maha Tinggi, lalu berfirman: “tak seorang pun yang meminta pasti ia akan ku-beri, tak ada seorang pun yang berdoa pasti ia akan dikabulkan, tak ada seorang pun yang mohon ampun pasti ia akan Ku-ampuni”. Sehingga tiba waktu shubuh. (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sedekat-dekat Allah (tuhan) dari hamba-nya ialah di tengah malam. maka dari itu, jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu maka kerjakanlah, (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)


SESUDAH SHALAT FARDHU

ditanyakan orang kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, manakah doa yang paling didengar Allah? rasulullah menjawab : doa di tengah malam dan doa setelah shalat wajib . 

(Hr. Tirmidzi)

WAKTU HARI JUM’AT

Ada dua pendapat jumhur ulama dalam menentukan waktu ijabah pada hari Jum’at, sebagian mengatakan waktu itu adalah pada saat khatib duduk hingga selesainya pelaksanaan shalat Jum’at, pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallohu anhu dimana beliau berkata saya telah mendengar Rasulullah shalallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang waktu ijabah, “Waktunya antara duduknya imam di atas mimbar hingga selesainya pelaksanaan shalat Jumat”. Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, Baihaqi, Ibnul Arabi Al Maliki, Al Qurthubi, Imam Nawawi, dll.


Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa saat itu adalah antara waktu ‘ashar dan magrib, pendapat ini berdasarkan beberapa keterangan yang disebutkan dalam hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaai dan lainnya dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallohu anhuma dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam beliau bersabda(artinya), “Hari Jumat 12 jam, padanya suatu waktu yang kapan seorang hamba muslim berdoa padanya niscaya Allah akan memberikannya, carilah waktu tersebut di penghujung hari Jumat setelah shalat Ashar”.

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, Al Mundziri dan Al Albani serta dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. Pendapat ini yang dipilih oleh banyak ulama diantaranya sahabat yang mulia Abdullah bin Salam radhiyallohu anhu, Ishaq bin Rahuyah,Imam Ahmad dan Ibn Abdil Barr. Imam Ahmad menjelaskan, “Kebanyakan hadits yang menjelaskan waktu tersebut menyebutkan ba’da ashar…”

DI WAKTU LAPANG

Barangsiapa yang menginginkan doanya dikabul Allah ketika ia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya (Hr. Thirmidzi dan Hakim) Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah Azza wa Jalla daripada doa ketika dalam keadaan lapang. (Hr. Hakim)


DI WAKTU SUJUD TERAKHIR DALAM SHALAT

Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika sujud. Maka perbanyaklah do’a (di waktu itu). (Hr. Muslim)


DIAWALI DENGAN ASMAUL HUSNA

serulah Allah atau serulah Arrahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru (adalah boleh) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya itu. (al isra,17 : 110)


DIAWALI DENGAN ISMUL A’ZHAM

Nabi Saw lewat di depan seorang yang bernama Abu ‘Iyasy Zaid bin Shamit az Zuraqiy yang sedang shalat. Ia berdo’a : Ya Allah, aku memohon kepadaMu, karena sesungguhnya bagiMu puja dan puji, tiada Tuhan selainMu, wahai yang Maha Pemberi, yang menjadi harapan, Yang Mencipta langit dan bumi, yang Maha Luhur dan Maha Mulia. Kemudian rasulullah bersabda engkau telah memohon kepada Allah dengan menggunakan nama-namaNya yang Maha Agung yang bilamana dimohonkan dengan nama-namaNya itu akan dikabulkan dan jika dimintai dengannya juga akan diberi 

(Hr. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasai dan lain-lain)

DIAWALI DENGAN KALIMAT TAUHID

Barangsiapa berdo’a dengan kalimat-kalimat yang lima, apa pun permintaannya akan diberi. Kalimat itu ialah: laa ilaaha illallahu wallaahu akbaru, laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun, laa ilaaha illallaahu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah. (Hr. Tirmidzi)

DIAWALI DENGAN ARHAMARR RAAHIMIIN

 
Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mewakili-Nya bagi barangsiapa yang berdo’a dengan berkata: Yaa arhamarraahimiin. Maka siapa saja yang menyebutnya 3 kali, maka menjawablah malaikat itu: Sesungguhnya Allah arhamarraahimiin telah (berkenan) mengabulkan permohonanmu. Maka mintalah kepadaNya. (Hr. Hakim)


YAKIN AKAN DIPENUHI

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Aku akan mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdo’a kepadaKu.” (Hr. Bukhari dan Muslim)


RENDAH HATI DENGAN SUARA LEMBUT

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah hati dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampau batas. (Q.S, al A’raf, 7:55)


DENGAN RASA TAKUT DAN PENUH HARAP

dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan dikabulkan) dan berharap (akan diterima). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al A’raf, 7:56)


MENDOAKAN ORANG LAIN TANPA DIKETAHUINYA

Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) dari tempat yang jauh (tanpa diketahuinya) akan dikabulkan. (Hr. Muslim)


DOA ORANG YANG DIZHALIMI

Takutlah akan do’a orang yang dizhalimi, karena do’a itu akan diangkat ke atas dan Allah berfirman : Demi kemuliaan dan keagunganKu, Aku pasti menolongmu, walau sesudah beberapa saat. (Hr. Thabrani)


DOA PEMIMPIN YANG ADIL DAN ORANG YANG BERPUASA

Tiga golongan tidak akan ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya. (Hr. Tirmidzi)


DIULANG 3 KALI

Adalah Nabi as apabila ia mendo’a, ia mendo’a tiga kali, dan apabila ia meminta, juga memintanya 3 kali. (Hr. Muslim)


DOA BUKAN UNTUK KECELAKAAN

Janganlah kau berdo’a untuk kerusakan dirimu, anakmu, pembantumu, jangan minta kepada Allah kerusakan, karena mana tahu sewaktu kamu minta maka Allah mengabulkannya bagimu. (Hr.uslim, Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah)

BUKAN UNTUK DOSA, MEMUTUSKAN SILATURAHMI DAN JANGAN TERGESA-GESA

 
Senantiasa diterima do’a seorang hamba Allah apabila ia tidak berdo’a untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturahmi, asal saja tidak dilakukan dengan tergesa-gesa : ‘Apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?’ Rasul menjawab: “Seseorang berkata:”Aku telah berulangkali berdo’a tetapi tidak juga kulihat dikabulkan’. Ia merasa rugi dan lesu sampai ia meninggalkan do’anya.” (Hr. Muslim dan Tirmizi).


Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, shahabat, keluarga serta orang-orang yang masih berittiba’ (mengikuti) kepada beliau sampai hari kiamat.

Semoga Bermanfaat
Allahu A’alm.