Kamis, 01 Januari 2015

Doa dan Etika Berdoa | Suluk




Untuk mendapatkan cinta-Nya, setiap Muslim harus mencintai ajaran-ajaran-Nya yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Doa merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan cinta kepada Allah Swt dengan harapan cinta tersebut dibalas dengan cinta.

Doa merupakan salah satu cara yang digunakan para Nabi untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi. Doa-doa tersebut membuat mereka dapat bertahan saat menghadapi cobaan yang maha dahsyat.

Rasulullah Saw bersabda,”Doa adalah jantung ibadah.”
Rasulullah Saw bersabda,”Doa adalah senjata orang beriman, pilar agama, cahaya langit dan bumi.”(HR. Al-Hakim), dan “Maukah kutunjukkan kepada kalian apa yang bisa menyelamatkan kalian dari musuh kalian dan mencurahkan rezeki-rezeki kepada kalian? Berdoalah kepada Allah di malam dan siang hari, karena doa adalah senjata orang beriman.”(HR. Abu Ya’la)

Rasulullah Saw bersabda,”Sungguh, Allah Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu bila ada seseorang menengadahkan dua tangan kepada-Nya dan Dia mengembalikannya dalam keadaan hampa dan kecewa.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban), dan “Sungguh, Allah Mahakasih lagi Mahamulia. Dia malu terhadap hamba-Nya yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tanpa Dia letakkan suatu kebaikan pun kepadanya.” (HR. Al-Hakim)

Rasulullah Saw bersabda, ”Allah tidak membiarkan suatu doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya yang beriman melainkan Dia menjelaskannya kepadanya : baik telah disegerakan di dunia maupun ditangguhkan-Nya dalam bentuk simpanan di akhirat. Sehingga orang beriman berkata dalam kondisi itu,’Sekiranya tidak ada sedikit pun dari doa yang disegerakan untukku.” (HR. Al-Hakim)

Rasulullah Saw bersabda,”Kewaspadaan tidak berguna bagi takdir, sedangkan doa bermanfaat terhadap ketentuan yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Suatu bencana akan turun, lalu doa menemuinya hingga keduanya bergumul sampai Hari Kiamat.”(HR. Al-Bazzar, Thabarani, dan Al-Hakim)

Rasulullah Saw bersabda,”Tidak ada yang dapat menolak ketentuan (qadha) selain doa, dan tidak ada yang dapat memperpanjang umur selain bakti.”(HR. Tirmidzi)

Rasulullah Saw bersabda, ”Orang yang doanya biasa diperkenankan Allah di kala ditimpa berbagai kesulitan, hendaklah membanyak doa ketika dalam kemakmuran.” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim), dan  “Tiada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah daripada doa dalam keadaan makmur.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim); 

Seorang sahabat bertanya, ’Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.’ Rasulullah Saw lalu bersabda, ”Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

Dari Abu Hurairah r.a., dalam Mustadrak al-Hakim, Rasulullah saw bersabda, ”Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan mendapat pengabulan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan lengah.”

Etika berdoa ada sepuluh :

1. Memilih waktu-waktu mulia untuk berdoa, seperti hari Arafah di antara hari-hari dalam setahun, bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya, hari Jumat di antara hari-hari dalam seminggu, waktu sahur (kala dini hari) di antara jam-jam di malam hari. Allah Swt berfirman, ” Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).”
(QS Adz-Dzariyat:18)

2. Mengambil kesempatan yang mulia, seperti : saat bergeraknya barisan pada perang di jalan Allah Ta’ala, saat turunnya hujan lebat, saat pelaksanaan shalat fardhu, sehabis shalat fardhu, waktu antara adzan dan iqamah, saat sujud.

Rasulullah Saw bersabda,”Dibukakanlah pintu langit, dan diterimalah doa pada empat tempat ketika bertemunya barisan perang di jalan Allah, ketika turunnya hujan, ketika shalat didirikan, dan ketika melihat Ka’bah.” (HR. Thabrani)

Rasulullah saw bersabda, ”Doa yang tidak ditolak adalah doa di antara adzan dan iqamah.” (HR. Ahmad)

3. Menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan sekira putih ketiaknya tampak. Lalu mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah di akhir doa. Umar r.a berkata, ”Rasulullah Saw apabila menjulurkan kedua telapak tangannya dalam berdoa, tidak menariknya kembali sebelum mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya itu.”
 Ibnu Abbas r.a berkata, ”Apabila usai berdoa, Rasulullah Saw mendempetkan kedua telapak tangannya dan menjadikan bagian dalamnya mengarah ke wajah.” 
Ini posisi kedua tangan beliau, tetapi tanpa mengarahkan tatapan matanya ke langit.

4. Merendahkan suara, antara berbisik dan nyaring (jahr).

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS [7]:55); “…ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.”(QS [19]:3)

5. Tidak membebani diri dengan ucapan yang bersajak.

6. Merendah, khusyuk, penuh harap dan cemas.

7. Memantapkan doa, merasa yakin akan diterima, dan benar-benar menggantungkan harapan kepada-Nya.

Dari Anas r.a, Rasulullah saw bersabda,”Apabila seorang di antara kamu berdoa maka hendaklah dia berteguh hati dalam berdoa serta jangan pula dia berdoa dengan mengucapkan : Ya Allah, Jika Engkau sudi maka berilah aku. Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksanya.”(HR. Muslim no. 4837)

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda,”Apabila seorang di antara kamu berdoa, maka janganlah dia berkata : Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi. Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugerahkan.” (HR. Muslim no. 4838)

8. Terus menerus dan mengulang doa 3 kali, dan jangan berharap pengabulannya diperlambat.

Berkata Ibnu Mas’ud ra: Adalah Nabi saw apabila ia mendo’a , ia mendo’a tiga-tiga kali, dan apabila ia meminta, juga meminta tiga-tiga kali. (HR. Muslim)

9. Mengawali doa dengan dzikir dan pujian kepada-Nya (jangan langsung dengan permintaan), lalu membaca shalawat untuk Rasulullah Saw, kemudian menutup doanya juga dengan dzikir dan shalawat.

10. Etika batin : yang merupakan inti dalam pengabulan doa, yaitu taubat, menebus berbagai kedzaliman, dan menghadapkan diri kepada Allah Azza wa Jalla secara penuh. Yang batin inilah sebetulnya yang menjadi sebab terdekat dalam pengabulan doa.


(* Sumber : “Doa-doa Para Nabi dan Auliya'”, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan “Doa-doa Mustajab”, Abu Qalbina)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar