Rabu, 21 Mei 2014

Mujaddid





Berita-berita buruk itu berseliweran, seperti anak-anak panah yang menghujam. Nafaspun tersengal karena kesal sekaligus sebal.
Astaghfirullah, ya Allah, pagi ini sangat sedikit berita baik yang terselip. Berita buruk terasa membawa pengaruh buruk, berita baik memberikan secercah asa perbaikan.

Teringat sebuah hadis. Perbuatan dosa mengakibatkan sial terhadap orang yang bukan pelakunya. Kalau dia mencelanya maka bisa terkena ujian (cobaan). Kalau menggunjingnya dia berdosa dan kalau dia menyetujuinya maka seolah-olah dia ikut melakukannya. (HR Ad-Dailami).

Kasus sodomi, korupsi, tawuran, penipuan, video mesum, aliran sesat, gas langka, listrik padam, bakso daging celeng, dan sebagainya. Susul-menyusul seperti balap motor GP.

Berita Pilpres pun tidak lagi menjadi pemuas dahaga. Sibuknya partai berkoalisi dan bersinergi seperti yang hanya untuk tujuan bagi-bagi kursi.

Banyak orang berdiskusi tentang datangnya ratu adil. Jika kita telaah ratu adil merupakan mitologi yang mengatakan, akan datang seorang pemimpin yang menjadi penyelamat.
Ia akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Ramalan tentang datangnya ratu adil ini berasal dari Prabu Jayabaya.

Pertanda kedatangan ratu adil adalah adanya kemelut sosial, malapetaka alam, dan sebagainya. Mungkin boleh jadi Prabu Jayabaya mendengar hadis tentang Imam Mahdi karena Prabu Jayabaya hidup pada masa antara tahun 1135 dan 1157 M, sedangkan jauh sebelum itu Rasulullah SAW lahir tahun 570 atau 571 M.

Rasulullah SAW bersabda, “Andai tak tersisa lagi di dunia kecuali satu hari yang Allah panjangkan hari itu sehingga akan muncul seorang laki-laki dari keturunanku atau dari ahli baitku, yang namanya sama dengan namaku, nama ayahnya sama dengan nama ayahku, (saat itu) bumi dipenuhi kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya yang diliputi kelaliman dan kezhaliman.” (HR At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Akankah sistem pemilihan negara kita melahirkan pemimpin? Ulil amri yang sebenarnya? Jika dipikir secara logis banyak yang pesimistis. Tapi untuk itulah ada iman. Dengan pendekatan iman selalu hadir rasa optimistis.

Dari Abu Hurairah, mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutus pada umat ini di setiap awal 100 tahun seorang mujaddid yang akan memperbaharui urusan (membawa kegemilangan) agama mereka. ” (HR Abu Daud).

Ah, jika negara ini sudah berumur 69 tahun, berarti dahulu bapak-bapak pendiri bangsa ini berumur sekitar 30-an. Artinya sudah saatnya sekarang siklus 100 tahunan.

Semoga hitungan ngawur sejadinya ini bisa dikabulkan Allah SWT. Ya Rabb hadirkanlah seorang pemimpin, ulil amri, ratu adil, mujaddid hari ini.

Perbaikilah kehidupan kami, kehidupan bangsa, dan negara kami. Salehkanlah presiden dan wakil presiden terpilih kami nanti, salehkan juga kami rakyatnya.
Jika mereka seseorang yang jauh dari agama-MU, dekatkanlah, tobatkanlah, dan  berilah mereka taufik serta hidayah.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.


Oleh: Erick Yusuf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar