Jumat, 19 September 2014

Jaga Kesimbangan Jiwa dengan Ibadah



Segala perbuatan baik yang didasarkan kepada Allah semata adalah ibadah. Perilaku manusia dalam kesehariannya tidak lepas dari nilai ibadah. Kualitas dan intensitas ibadah menjadi ukuran akan keseimbangan jiwa manusia.


Manusia makhluk yang multidimensi. Semua dimensi yang ada dalam diri membutuhkan keseimbangan, seperti dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Setiap dimensi membutuhkan perlakuan dan perawatan yang sesuai. Setiap dimensi bukan hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang berjalin dan menjadi sempurna.
Manusia mahluk biologis, bukan saja membutuhkan makan dan minum, melainkan juga kebutuhan penyaluran biologis yang tepat. Kesalahan apa yang kita makan, minum, dan penyaluran biologis akan menjadi penyakit bagi diri dan merusak dimensi lain yang ada. Berhati-hati dengan apa yang kita makan membantu merawat biologis dan memengaruhi jiwa.

Manusia memiliki sifat keluh kesah jika ditimpa kesulitan. Sombong dan lupa diri jika jika diberi kelebihan. Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (al-Ma’arij 70: 19-21)

Sekarang, kita dengan mudahnya mendengar kegalauan dan keluhan. Lihat saja status di media sosial, mudah sekali orang mengeluh dengan apa pun yang dihadapinya. Panas matahari dikeluhkan, hujan turun dikeluhkan, dalam interaksi dengan orang lain pun jika tidak berkenan muncul kata keluhan.

Padahal, jika hendak menahan sedikit dengan memikirkan nikmat lainnya dan melihat sisi positif, tentu kita akan mudah bersyukur dengan keadaan apa pun. Tidak ada manusia yang hidup sendiri. Meskipun saat ini manusia cenderung individualis, sesungghnya manusia juga mahluk sosialis. Manusia membutuhkan pertemanan, persaudaraan yang dibangun dengan penuh rasa saling menghormati, menghargai, dan memercayai.

Hubungan yang terjalin dengan baik adalah hubungan yang menyehatkan. Bukan sebuah interaksi yang saling menuntut keuntungan pribadi atau golongan. Tetapi, interaksi yang dibangun untuk kebaikan bersama.

Ketika kita berbaik kepada diri dengan segala dimensinya dan mendasarkan apa yang kita lakukan hanya karena Allah maka dimensi spiritual dalm diri pun terawat dan terpelihara. Kanan, kiri, depan, dan belakang kita penuh dengan godaan setan. menjalin hubungan vertikal degan memohon pertolongan menjadi kekuatan spiritual.

Membebaskan manusia dari kepentingan yang semu karena telah tertanam dalam diri bahawa segala baik dan buruk akan kembali kepada diri. Allah yang Maha mengetahui dan tidak sedikit pun akan menzalimi kita.

"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya". (QS Fushilat 41:46). Wallahu’alam Bishawab.



 Oleh: Santi Lisnawati


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar