Selasa, 26 November 2013

Dokter Bisa Salah



DALAM praktik, dokter beretika pun bisa salah. Apalagi bila kegiatan profesinya tidak dibekali etika medis. Bukan sedikit, kalau tak patut dikatakan banyak, kasus tak elok hubungan dokter dengan pasien terjadi di Indonesia, sering hanya karena persoalan etika. Judes dan ketus di depan pasien, tentu bukan malpraktik, melainkan misconduct.

Setiap dokter membutuhkan etika melebihi profesi lain. Bukan hanya buat kepentingan diri sendiri sehubungan dengan sumpahnya (janji kepada Tuhan), namun terlebih tanggung jawab profesi bagi masyarakat luas.
Etika medis tersebut, selain menyangkut hubungan dokter dengan sesama individu, juga dengan masyarakat berdasarkan keahlian yang dimiliki. Itu sebabnya pendidikan kedokteran tak lengkap tanpa pembekalan etika. Dokter tak beretika merugikan pasien.

Pekerjaan dokter bergumul di wilayah humaniter. Dokter tak boleh melakukan hal yang bertentangan dengan perikemanusiaan. Profesi dokter bukan pula bisnis ekonomi, melainkan bisnis moral. Tak cukup hanya tahu tentang hal yang baik dan yang buruk, melakukan apa yang harus dilakukan, atau tidak melakukan yang seharusnya dilakukan. Berbuat baik saja tak cukup bila merugikan pasien. Beretika bagi seorang dokter berarti meringankan dan sebisa mungkin menghilangkan penderitaan pasien, bukannya malah sebaliknya.

Dokter Beretika

Selain etika umum, setiap dokter membutuhkan etika medis (kemudian akan kita sebut Etika Biomedis) sebagai salah satu etika terapan. Sejatinya dasar-dasar etika perlu dokter kuasai. Prinsip beretika menolong dokter dalam pengambilan keputusan yang bisa melebihi domain ilmu yang dimiliknya.

Menjadi dokter yang luhur tak cukup hanya cerdas. Dokter akan ditinggalkan pasien dan dicibir masyarakat kalau dalam berpraktik memperlakukan pasien sebagai nomor. Dokter bukan hanya insinyur tubuh manusia, maka tak patut bersikap seperti montir mobil. Siapa pun dokter, perlu menghormati otonomi pasien, dan sudi bersikap egaliter. Selain berbuat baik, apa pun yang dikerjakan dokter tak boleh merugikan pasien. Dokter juga wajib punya sikap berkeadilan.

Dokter yang tak mau menjawab ketika ditanya pasien hanya karena pasiennya berjubel, tak profesional sebagai dokter. Tak elok dokter yang memeriksa pasien di kamar praktik sekaligus lebih dari satu, atau yang tak menepati janji, yang tak menjelaskan apa yang akan dikerjakan sebelum suatu tindakan medis akan ia lakukan. Hal ini masih dilumrahkan di negeri kita.

Kasus malpraktik di sini terjadi lebih karena, sengaja atau tak sengaja, dokter telah merugikan pasien. Tanpa dokter sadari, boleh jadi tidak diberi tahu, bahwa berbuat baik saja tak cukup bila nyatanya merugikan pasien. Terlebih bila dokter tidak berbuat baik.

Tidak semua kasus pelanggaran profesi maupun pelanggaran etis, pasien di pihak yang dibela. Pasien yang belum sepenuhnya memahami haknya sebagai pasien, sering diposisikan sebagai pihak yang tak berdaya. Sementara itu, belum semua pasien kita berkompetensi sebagai pasien. Itulah sebabnya dalam banyak kasus, pihak pasien pun belum tentu selalu benar.

Adanya jurang kompetensi antara dokter dengan pasien, memberi celah kepada dokter untuk berkelit dan mencari alasan yang melebihi kompetensi medis yang pasien miliki. Sikap tak etis dokter masih dilematis bila sekolah dokter mengabaikan perlunya setiap dokter punya integritas seelok itu.

Profesi dokter memiliki otonomi tinggi, sementara ada jurang kompetensi antara dokter dengan pasien. Dokter yang baik tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk memperdaya pasien. Misalnya, ada obat yang lebih murah, malah memilih yang lebih mahal. Menganjurkan pasien dirawat di rumah sakit, padahal sebenarnya tak perlu. Memeriksa dengan peralatan canggih berbiaya tinggi, hanya untuk tujuan profit. Kebohongan profesi itu hanya dokter dan Tuhan yang tahu. Dokter beretika tidak akan pernah melakukannya.

Etika Biomedis

Tantangan profesi dokter ke depan bakal lebih kompleks dan rumit. Etika medis lalu tak lagi sebatas memiliki sikap humaniter, namun lebih menjunjung tinggi kesucian kehidupan (sanctity of life). Bakal seperti itu persoalan medis ke depan ketika harus memasuki ranah penelitian, ketika muncul sisi moral terkait dengan kehidupan, dan perlunya menjaga martabat manusia. Lebih tepat menjadi beretika biomedis.

Ke depan profesi dokter akan menghadapi masalah etis baru, pertanyaan etis baru, selain dilema moral, sehingga tak cukup berbekal prinsip moral yang sudah dianut. Etika biomedis bukan perluasan etika medis. Etika biomedis lahir karena semakin kompleksnya persoalan medis bersifat interdisipliner, pluralistis, dan mengglobal, yang bermanfaat bagi akademisi dan praktisi medis. Etika biomedis menjadi kebutuhan tak terelakkan buat dokter masa kini. Tak cukup dokter beretika medis saja.

Menjadi dokter yang baik itu urusan hati nurani. Bukan asal sembarang hati, melainkan nurani yang dididik secara benar. Memahami etika biomedis berarti mengisi hati nurani setiap calon dokter. Namun satu kelemahan dalam pemahaman ini, kemungkinan kurang begitu dilirik dan diindahkan selama orientasi sekolah dokter masih puas mencetak dokter sebatas cerdas saja.

Calon dokter yang nuraninya terdidik akan tampil luhur di segala tempat dan di segala waktu, Termasuk sebagai dokter yang dikejar pasien. Bahwa bersikap etis berarti senantiasa membela pasien, selain menyelamatkan profesi dokter. Tanpa itu dokter bisa salah, dan pasien juga tidak selalu benar.

Dokter yang dijuluki bertangan dingin, misalnya, bukan semata karena ia cerdas, namun terlebih karena melakoni profesinya dengan hati. Ia tahu kebutuhan pasien untuk didengar, diperiksa, ditangani, dan diberi resep, yang keluar dari hati.


Dr. Handrawan Nadesul

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar