Sabtu, 16 November 2013

Perkembangan Islam di Jalur Sutra




Hubungan dagang Jalur Sutra telah melibatkan banyak pedagang Arab. Mereka pun membawa dakwah Islam sembari berdagang. Bahkan, waktu periode Jalur Sutra pun sangat pas dengan kelahiran Islam di Timur Tengah, yang merupakan lalu lintas penghubung Asia dan Eropa.
Sebagaimana menurut Hugh Kennedy dalam "The Great Arab Conquests", terdapat dua periode bersejarah yang utama manakala Jalur Sutra menjadi fokus utama bagi perdagangan dunia. Salah satunya, yakni periode tepat sebelum dan selama penaklukan Muslim. 

Maka, Islam pun ikut serta dikenalkan melalui jalur perdagangan Sutra. Sebagaimana menurut Frances Wood, terdapat sebuah masjid tertua di Cina, yang posisinya tepat berada di lingkaran Jalur Sutra. Setiap Jumat tiba, sekitar dua ribu Muslim memadati masjid yang berlokasi di jantung Kota Guangzhow tersebut.

Jalur Sutra disebut-sebut sebagai  jalur yang dilalui para sahabat Rasulullah dalam mendakwahkan Islam. Geliat dakwah itu terjadi bermula sejak era kekhalifahan Usman bin Affan. Dia mengirim utusan pertama ke Cina pada 651 Masehi. Sang utusan pun menghadap Kaisar dari Dinasti Tang, Yong Hui kemudian menyebarkan Islam di negeri Cina. Sejak itulah, Islam mulai dikenal di daratan Cina.

Tan Ta Sen dalam bukunya, Cheng Ho; Penyebar Islam dari Cina ke Nusantara, menyebutkan banyaknya saudagar Arab yang singgah, bahkan bermukin di Cina. Tak sedikit yang kemudian menikah dengan perempuan setempat dan membentuk komunitas Muslim. Komunitas-komunitas Muslim tersebut banyak terbentuk di pusat perdagangan. 

Disebutkan oleh Tan, pada masa puncak perdagangan di era Dinasti Tang dan Song pada abad ke-7 hingga abad ke-13, cukup banyak bermunculan komunitas dan permukiman Arab di beberapa daerah perdagangan Cina. Di antaranya, yakni di Chang-An (Xi-An), Yangzhou, Ningpo, dan kota-kota pelabuhan Guangzhou dan Quanzhou di Cina dan Champa di semenanjung Indocina.

Tak berhenti di China, para saudagar Muslim juga mengenalkan Islam ke kawasan Asia lain, hingga ujung dunia Timur, yakni Asia Tenggara. Malaka-lah yang menjadi gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian tersebar ke seluruh kawasan regional. 

Prof A Hasymi dalam bukunya, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, menyatakan, Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama nusantara yang berdiri pada abad ke-3 Hijriah. Buktinya, pada 173 Hijriah atau 800 Masehi sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak membawa para saudagar di bawah pimpinan nakhoda Khalifah dari Teluk Kambay Gujarat. Pada 1 Muharram 225 Hijriah (840 Masehi), Kerajaan Islam Perlak resmi berdiri dengan Sayid Abdul Aziz sebagai sultan pertama. 
 
Dari Malaka itulah, Islam kemudian menyebar ke Asia Tenggara melalui perdagangan. Namun, kawasan tersebut tak termasuk Thailand. Pasalnya, kawasan Pattani, Thailand, telah mengenal Islam bersamaan dengan masuknya Islam ke Malaka.
 
Datang ke nusantara

 
Perdagangan rempah-rempah juga melintasi Jalur Sutra. Inilah mengapa Islam juga sampai ke nusantara karena nusantara-lah gudang penghasil rempah-rempah yang sangat disukai Eropa. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia IV: Nusantara di abad ke-18 dan ke-19 menuturkan, pelabuhan-pelabuhan rempah-rempah nusantara, seperti di Sumatra, Ternate, Tidore, dan Banda menjadi terkenal pertama-tama karena para pedagang Cina. Kemudian, para pedagang dari Jawa dan Melayu juga menjadi penting dalam Jalur Sutra. Semuanya bermuara di Cina dan diteruskan melalui Jalur Sutra.

Karena berada pada jalur perdagangan laut dari Timur Tengah ke Cina, kata Marwati, tidak mengherankan jika agama Islam telah dianut di nusantara. Hanya saja, sumber agama Islam di nusantara tidak saja langsung dari Timur Tengah, tetapi bersamaan dengan terbentuknya emporium-emporium (pasar-pasar) sepanjang jalur perdagangan itu sejak abad ke-10. Kota-kota pelabuhan di India, seperti Kalikut, menjadi sumber agama Islam di nusantara. 

Dengan demikian, muncullah di nusantara sejumlah kota pelabuhan yang penduduknya beragama Islam. Selain kedua sumber, yakni Timur Tengah dan India, terdapat pula sumber ketiga, yakni Cina (khususnya dari Mazhab Syafi'i), yang mendapat pengaruh Islam dari Timur Tengah dan India. "Agama Islam dari Cina itu makin menyebar setelah Cheng Ho mendapat izin dari sultan-sultan Malaka sejak Parameshwara untuk membangun pusat perdagangannya di kota pelabuhan itu dan menjadikannya sebuah emporium," tulis keduanya.

Hal tersebut sesuai dengan beragamnya teori masuknya Islam ke nusantara. Namun, jika melihat Jalur Sutra, teori Cina juga tak dapat luput begitu saja. Teori tersebut menyatakan, perantau Cina-lah yang membawa Islam ke Indonesia. Para perantau ini telah mendapat pengaruh dari Arab. Sebagaimana disebutkan bahwa banyak permukiman Muslim yang bermunculan di Cina. 

Menurut Tan Ta Sen, sejarah Islam di Indonesia sangat berkaitan erat, bahkan berasal dari Champa. Berlokasi di Semenanjung Indocina, Champa merupakan salah satu wilayah taklukkan Cina sejak era Dinasti Tang. Di tengah pengaruh konfusian dan Hindu,  Champa disinyalir mendapat pengaruh Islam dari pedagang Arab. Dugaan tersebut datang setelah ditemukannya dua batu nisan Muslim di wilayah Phan-rang, Champa selatan. 

M Ikhsan Tanggo dkk dalam “Menghidupkan kembali Jalur Sutra Baru" menuturkan, agama Islam telah masuk Cina sejak abad ketujuh melalui Jalur Sutra. Demikian pula, masuknya Cina ke Indonesia telah terjadi sejak abad ke-7 Masehi dengan banyaknya bukti arkeologis. Dengan demikian, penyebaran Islam di Indonesia tak hanya dilakukan oleh orang-orang Arab dan Persia melalui Laut India, tapi juga dilakukan Muslimin dari daratan Cina. 

Menelusuri Jalur Sutra

Jalur Sutra, menjadi nama jalur perdagangan yang amat ramai pada masa lalu. Jalur yang menghubungkan Timur dan Barat dunia ini baru disebut "Jalur Sutra" (The Silk Road) setelah seorang Jerman bernama Von Richthofen menyebutnya pada abad ke-18 Masehi. Namun sebetulnya, Jalur Sutra tersebut telah eksis jauh sebelum penyebutan namanya.
Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia IV: Nusantara di abad ke-18 dan ke-19, pada dasarnya di Asia dan Timur Tengah, sebelum masa modern awal, terdapat dua jalur perdagangan utama, yaitu jalur darat dan jalur laut. Pelayaran niaga melalui darat pada umumnya, terutama digunakan oleh para pedagang Cina dan dikenal dengan nama Jalur Sutra karena banyak menyalurkan sutra dari Cina. 

Jalur dagang itu, kata Marwati dan Nugroho, berawal di Chang An, yang menjadi ibu kota Cina antara abad ke-7 hingga abad ke-13, kemudian melintasi stepa-stepa dan gurun-gurun di Asia Tengah dan Laut Kaspia yang pada suatu ketika dikendalikan oleh bangsa Mongol, lalu ke Mesopotamia dan Parsi. Jalur dagang yang melintasi pedalaman Asia itu juga bercabang-cabang ke wilayah pantai, seperti India, Arab, dan lainnya. 

Menurut keduanya, alat angkut utama perdagangan darat tersebut adalah unta yang bergerak berkelompok (karavan). Jalur Sutra berakhir di pelabuhan-pelabuhan di pantai barat Laut Tengah, antara lain Antiochia. Dari pelabuhan-pelabuhan itulah komoditas dari Asia, seperti sutra dan rempah-rempah, diteruskan dengan kapal-kapal dagang ke kota-kota pelabuhan di Laut Tengah, seperti Genoa dan Venesia. Kemudian, perdagangan itu dilanjutkan oleh pedagang Barat ke seluruh Eropa.

Senada, Frances Wood dalam The Silk Road: Two Thousand Years in the Heart of Asia menyebutkan, ujung Jalur Sutra ada di Chang An atau Xian, yang kala itu menjadi ibu kota kerajaan. Sutra memang menjadi komoditas utama jalur perdagangan tersebut. Meski barang yang didagangkan tak hanya Sutra, terdapat pula rempah-rempah, wewangian, dan komoditas berharga lain.

Namun, menurut Wood, jalur Sutra sebetulnya telah dibuka resmi pada abad ke-3 SM. Saat itu, Cina yang dipimpin Dinasti Han mengirim banyak utusan ke negara-negara Asia dan Timur Tengah. Pun sebetulnya, jalur itu telah ada jauh sebelum utusan itu dikirim. Adanya Jalur Sutra kuno ini terbukti dengan penemuan-penemuan arkeologi, di antaranya penggunaan Sutra oleh raja-raja Mesir pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar abad ketiga), termasuk Cleopatra.

Kemudian pada abad ke-4 SM, orang-orang Roma dan Yunani telah membicarakan mengenai Seres, Kerajaan Sutra. Disebutkan dalam rentang satu dasawarsa, sutra Cina menjadi pakaian elite Roma. Harganya sangat mahal. Sepotong sutra dihargai 3 ribu denaari, yakni gaji setahun prajurit Romawi. Bahkan disebutkan, impor sutra telah mengguncang perekonomian Roma. 

Adapun trek Jalur Sutra, menurut Wood, memiliki banyak cabang. Secara garis besar, ada tiga cabang, yakni utara, tengah, dan selatan. Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati. Jalur ini melalui Urumqi dan Lembah Fergana. Adapun jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrerania, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia. Sedangkan, jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. 

Jalan Sutra yang lazim disebut orang, kata Wood, merupakan jalur darat dari ibu kota Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibu kota Italia di barat. Jalur tersebut dibuka oleh seorang jenderal bernama Zhang Qian dari Dinasti Han. Menelusuri jalan itu akan melewati Afghanistan, Uzbekistan, Iran, dan sampai Alexandaria Mesir. Terdapat pula cabang lain yang akan melewati Pakistan; Kabul, Afganistan; hingga Teluk Persia.

Selain alan Sutra di darat, terdapat pula jalan Sutra via laut. Jalur laut tersebut, yakni dari Guangzhou, Tiongkok Selatan, ke Selat Malaka, dan terus sampai ke Sri Lanka, India, dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai Jalan Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika Timur, dapat diketahui bahwa jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa Dinasti Song Tiongkok.


Oleh Afriza Hanifa



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar