Jumat, 04 April 2014

Mengenali Kesesatan Ahmadiyah


Semua ulama di dunia sepakat, Ahmadiyah adalah suatu kelompok di luar Islam. Keputusan ini semakin diperkuat dengan fatwa Rabithah Alam al-Islami (Liga Dunia Muslim).

Setidaknya, ada dua hal yang membuat ajaran Ahmadiyah menyimpang dari akidah Islam. Pertama, kelompok ini meyakini adanya nabi setelah Muhammad SAW, yakni Mirza Ghulam Ahmad.

Padahal, Allah telah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah nabi terakhir. Ada banyak dalil yang menegaskan hal ini. Salah satunya adalah Alquran surah al-Ahzab ayat 40. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Selanjutnya, Ahmadiyah juga mempunyai kitab suci selain Alquran yang disebut Tadzkirah. Padahal, Allah juga telah menyatakan, Islam adalah agama yang sempurna, sehingga tidak ada lagi kitab suci sesudah Alquran.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah: 3)

Berdasarkan dua catatan di atas, maka Ahmadiyah telah menyalahi hal-hal yang sangat prinsip dalam akidah Islam. Mereka sebenarnya telah memiliki agama baru, yakni agama Ahmadiyah.

Namun, yang membuat umat Muslim keberatan, termasuk di Indonesia, kelompok ini masih saja menggunakan atau membawa-bawa nama Islam dalam berbagai pergerakannya. Ini jelas sesat dan menyesatkan.

Bila ditelusuri dari fakta sejarahnya, kita bisa memahami bahwa agama Ahmadiyah memang sengaja diciptakan oleh imperialis Inggris untuk dijadikan sebagai alat pemecah belah umat Islam di India. Kepentingan kaum penjajah tersebut kala itu sudah jelas, yakni untuk meredam perlawanan pejuang Muslim dan melanggengkan kekuasaan mereka di anak benua Asia tersebut.

Sampai sekarang, kekuatan politik imperialis Inggris terus menjaga kelangsungan Ahmadiyah, sehingga ajaran sesat ini menyebar sampai ke Indonesia.

Beberapa tahun lalu, sempat ada desakan yang luar biasa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga umat Islam di Tanah Air, agar pemerintah segera membubarkan Ahmadiyah.

Namun, saat itu pemerintah kita sepertinya kesulitan untuk mengambil sikap tegas. Belakangan, terungkap bahwa  ternyata ada kekuatan asing yang menginginkan Ahmadiyah tetap eksis di Indonesia.

Salah seorang pejabat tinggi di Kementerian Agama yang kini menjabat sebagai Wakil Menag mengatakan, ada empat negara yang saat itu sengaja mengintervensi pemerintah RI terkait masalah ini. Mereka tidak ingin Ahmadiyah di Indonesia dibubarkan. Di antara negara-negara itu adalah Inggris, AS, dan Kanada. Sementara, negara yang satunya lagi dia tidak ingat namanya.

Jadi, semakin jelas bahwa berbagai kelompok atau aliran sesat yang sampai hari ini masih eksis di Indonesia, bisa bertahan karena memang ada kekuatan politik yang mendukung mereka. Baik itu kekuatan politik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Apalagi jika penyokong kelompok-kelompok tersebut juga punya pengaruh besar di pentas dunia, maka itu akan semakin mempersulit pemerintah kita untuk mengambil sikap.

Melihat kondisi riil di atas, maka apa yang bisa dilakukan umat Islam agar tidak disesatkan oleh paham Ahmadiyah? Hal pertama tentu kita harus memperdalam ilmu-ilmu Islam untuk mempertebal akidah. Kedua, para ulama dan dai juga punya kewajiban untuk menjelaskan kepada umat tentang prinsip-prinsip ajaran Ahmadiyah yang menyimpang.

Ahmadiyah awalnya memang didirikan di India pada abad ke-19. Namun, keyakinan tersebut kini sudah merambah hingga ke berbagai penjuru dunia. Beberapa kalangan ada yang membagi kelompok menjadi dua aliran, yakni Ahmadiyah Qadian dan Lahore.

Apa pun nama mereka, keduanya tetap sama-sama menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Isa yang turun di akhir zaman.



Pembentengan Akidah Butuh Kerja Keras

Kelompok-kelompok aliran sesat yang masih eksis bisa bertahan lama, karena memang mendapat sokongan dari kekuatan politik yang besar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Sebut saja NII KW 9 yang segaja diciptakan pemerintah pada masa orde baru, atau Ahmadiyah yang memang mendapatkan support dari pemerintah kolonial Inggris.

Termasuk juga pemikiran seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Di belakang para penggiat paham-paham ini juga terdapat kekuatan besar yang mendanai kegiatan mereka. Melihat kondisi ini, maka perlu adanya upaya untuk membentengi akidah umat, baik secara internal maupun eksternal.

Secara internal, penyelamatan akidah umat dapat dilakukan oleh para ulama lewat kegiatan dakwah yang lebih aktif lagi.

Jika kita belajar dari sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW, 13 tahun pertama dari periode risalah yang dia jalani itu benar-benar hanya fokus untuk membenahi akidah umat. Sementara, sepuluh tahun sisanya baru Beliau gunakan untuk membenahi urusan-urusan lainnya.

Ini menunjukkan, masalah akidah umat adalah persoalan utama yang harus dibenahi terlebih dulu. Jadi, dakwah yang dilakukan oleh para ulama dan pendakwah kita mestinya juga dimulai dari sini dulu.

Bila 'akar pohon' ini sudah diperkuat, maka godaan sekuat apa pun tidak akan mampu merusaknya. Sebaliknya, jika akar ini yang lemah, jangankan badai, embusan angin sepoi-sepoi pun akan begitu mudah menggoyahkannya.

Selanjutnya, pembentengan akidah umat juga dapat dilakukan dengan cara mengantisipasi keberadaan kelompok-kelompok yang dapat menyesatkan pemahaman mereka. Ini jelas membutuhkan kerja keras, tidak saja dari para ulama, melainkan juga dari segenap kaum Muslimin.

Namun, fakta yang kita lihat sekarang ini masih jauh dari harapan. Mohon maaf, saya menilai peran ormas-ormas Islam besar yang ada di negeri ini dalam membentengi akidah umat masih sangat minim.

Umat Islam di negeri ini sudah terlalu lama 'tertidur', sehingga membiarkan diri diombang-ambing oleh berbagai pemikiran yang secara nyata sesat dan menyesatkan. Maka dari itu, sudah saatnya kita bangun!

Dakwah Bermula dari Pembentengan Akidah

Masalah akidah umat masih menjadi persoalan utama yang perlu dibenahi saat ini. Untuk itu, kita perlu mengetahui seperti apa posisi akidah dalam keyakinan kita sebagai umat Islam.

Jika kita merujuk kepada Surah Ibrahim ayat 24-25, maka akidah itu diibaratkan akar dari sebuah pohon. Hubungan dengan Allah (hablum minallah) ditamsilkan sebagai batang pohon yang menjulang tinggi ke atas, sedangkan hubungan sesama manusia (hablum minannas) digambarkan sebagai buah-buahnya.

Jika mempunyai akar yang kokoh, maka pohon itu bisa tumbuh dengan baik, bahkan menghasilkan buah-buah yang baik pula. Sebaliknya, jika akarnya rusak, maka mustahil pohon itu bisa tumbuh dengan baik, apalagi berbuah.

Begitu pula halnya dengan kehidupan seorang Muslim. Bila akidahnya bagus, maka hubungannya dengan Allah dan sesama manusia juga akan baik. Namun, jika akidahnya rusak, maka rusak pulalah hubungannya dengan Allah dan sesama manusia. Jadi, kualitas seorang Muslim itu sangat ditentukan oleh kekokohan fondasi awalnya, yakni akidah.

Karena itulah, kita patut merasa prihatin yang luar biasa ketika melihat adanya kegiatan penyesatan akidah umat oleh kelompok-kelompok tertentu di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia ini. Mereka berusaha dengan segala cara untuk menghancurkan fondasi atau akar keimanan tersebut dari kehidupan umat.

Di antara kelompok-kelompok tersebut ada yang terang-terangan menggunakan baju non-Islam. Contoh kasusnya seperti yang terjadi di Jawa Barat—yang menjadi salah satu sasaran utama program Kristenisasi di Indonesia.

Berdasarkan temuan Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), di wilayah provinsi ini memang terdapat beberapa titik yang rawan menjadi sasaran pemurtadan. Bahkan, kini ada satu desa yang penduduknya sudah beralih menjadi Kristen semua. Desa ini berada di daerah Ciranjang, Kabupaten Cianjur, dan di sana sudah berdiri 11 gereja.

Selain pemurtadan yang dilakukan oleh kaum Nasrani tersebut, ada pula penyesatan akidah umat yang dilakukan oleh orang-orang yang memakai baju Islam. Mereka ini biasa kita sebut sebagai kelompok penganut paham atau aliran sesat.

Jumlahnya sangat banyak. Beberapa di antara mereka ada yang masih eksis sampai sekarang, ada pula yang sudah mati. Namun, ada juga yang 'bereinkarnasi' dengan nama baru.



KH Athian Ali Dai
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/benteng-akidah/14/04/04/n3gc01-mengenali-kesesatan-ahmadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar