Kamis, 03 April 2014

Saudara Fir’aun






Diceritakan oleh Ubadah bin Shamith, suatu ketika Rasulullah SAW berada di tengah-tengah para sahabatnya, dan beliau bersabda, “Jual belilah kalian kepadaku dengan tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak melakukan kebohongan yang kalian sertai dengan kaki dan tanganmu, tidak bermaksiat dalam kebaikan, siapa saja yang menepati hal ini maka Allah akan memberinya pahala. Dan, siapa saja yang tidak melakukannya maka akan diazab di dunia dan dia akan kafir. Tetapi, siapa yang telah melakukannya dan benar maka Allah akan menutupinya. Itu semua kembali kepada Allah. Beliau lebih berhak mengazab dan memaafkan.

Maraknya dekadensi moral saat ini sangat jauh dari pesan yang disampaikan Rasulullah SAW seperti bunyi hadis di atas. Yang dapat dipetik dari riwayat Ubadah adalah ada beberapa tindakan yang digarisbawahi karena dampak negatifnya sangat besar dan membahayakan.

Allah SWT juga berfirman dalam QS al-Isra 31-37. Kemudian Allah menutupnya dengan berfirman, “Dan semua kejahatan yang telah disebutkan merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah.” (QS Al-Isra 38).

Tetapi, sangat biasa bagi umat Islam menemui tragedi kejahatan sebagaimana yang telah terlarang. Semua ini mengindikasikan tindakan kotor yang sangat ditakuti umat Islam justru menjadi suatu perkara lumrah dan telah biasa dilakukan oleh orang Muslim sendiri.

Bahkan, tidak malu-malu ketika tertangkap membunuh, mencuri, atau berzina. Mereka berusaha mengelak dengan membawa nama Allah.

Tindakan tersebut tidak jauh berbeda dengan langkah Fir’aun ketika dia telah tersudut dalam kekalahannya menghadapi kebenaran yang dibawa Musa AS.

Allah SWT berfirman, “Dan kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas Bani Israil. Ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang Muslim’.” (QS Yunus 90).

Tenggelam merupakan suatu contoh cobaan berbahaya yang tak satupun orang dapat mengingkari. Namun, intisari yang dapat dijadikan pelajaran adalah bagaimana Allah tidak menerima taubat Fir’aun, padahal telah bertaubat sebanyak tiga kali dalam redaksi di atas.

Imam Fakruddin Arrazi menguraikan beberapa alasan, di antaranya karena taubat dalam keadaan terpaksa ketika ketetapan telah datang.

Fir’aun menjadi salah satu sosok yang dijadikan contoh dalam Alquran dengan membawa karakter yang senonoh dan pada akhir hayatnya ingin kembali kepada Tuhan. Namun, Allah menjadikan keinginan Fir’aun berbalik karena dampak dari perbuatannya yang ingkar dengan kebenaran.

Allah SWT berfirman, “Keadaan mereka seperti pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan ayat-ayat Kami. Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Allah sangat berat hukuman-Nya.” (QS 3:10).

Yang dapat dipetik dari tulisan di atas adalah karakter Fir’aun yang dijadikan objek dalam Alquran kini semakin tampak kentara melingkupi perilaku Muslim. Wallahu a’lam.


Oleh: Khoirul Anwar Afa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar